• Tidak ada hasil yang ditemukan

Toleransi dalam Agama Islam

GENEALOGI PENDIDIKAN TOLERANSI BERAGAMA

A. Konsep Dasar Pendidikan Toleransi

1. Toleransi dalam Agama Islam

Term toleransi, dalam bahasa Arab disebut al-tasamuh merupakan salah satu inti ajaran Islam yang sejajar dengan ajaran Islam yang lain, seperti misalnya kasih (rakmat), kebijaksanaan (hikmah), kemaslahatan (maslahaht), dan keadilan (‘adl).17 Secara etimologi, toleransi berasal dari kata tolerance, yang berarti willingness or ability to tolerate somebody or something. Sedangkan kata tolerate berarti; allow (Something that somebody dislike or disagree with) without interfering, endure (somebody or something) without protesting.18

Menurut Syech Muhammad al-Ghazali, sesungguhnya toleransi dalam agama merupakan ide murni dari ajaran Islam, dalam upaya membangun toleransi dibutuhkan dua modal sebagai nilai (value) kebaikan yakni: Pertama, toleransi membutuhkan interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang

15 Untuk lebih jelasnya lihat: John Harwood Hick, Problems of Religious

Pluralism (Springer, 1985), 46; John Hick, God And The Universe Of Faiths: Essays In The Philosophy Of Religion (Springer, 1988); Hick, Problems of Religious Pluralism.

16 M. Din Samsuddin, “Islamic Political Thought and Cultural Revival in Modern Indonesia,” Studia Islamika 2, no. 4 (2014): 50–68.

17 Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi

Berbasis Al-Qur’an (Jakarta: Gramedia, 2009), 215.

18 Albert Sydney Hornby dkk., Oxford Advanced Learner’s Dictionary of

Current English, vol. 1428 (Oxford university press Oxford, 1989), 1350; Lihat juga: Ali

Maksum, Pluralisme dan Multikulturalisme: Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam

intensif. Kedua membangun kepercayaan di antara berbagai kelompok atau aliran.19

Yusuf al-Qardawi dalam Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami yang mengatakan bahwa dalam bertasammuh, Islam harus tetap mengedepankan tauhid. Sebab pada dasarnya, konsep bertasamuh dalam Islam mengandung konsep-konsep yang rahmatan lil ‘alamin. Di antaranya konsep yang mengikat makna tasammuh yaitu ar-Rahmah (Kasih Sayang), Firman Allah dalam Al-Qur’an: (QS. Al-Balad [90]: 17).

ِةَمَح ْرَمْلاِب ا ْوَصا َوَت َو ِرْبَّصلاِب ا ْوَصا َوَت َو اوُنَمآ َنيِذَّلا َنِم َناَك َّمُث

“Kemudian dia juga termasuk orang yang beriman kepada Allah, saling berwasiat satu sama lain untuk sabar melakukan ketaatan, sabar tidak melakukan maksiat dan sabar menghadapi musibah, serta saling berwasiat satu sama lain agar berkasih sayang di antara sesama hamba Allah.”

Dalam ayat lain Allah menjelaskan pula kata al-Salam (keselamatan), (QS. Al-Furqan [25]: 63), Adl (keadilan) dan Ihsan (kebaikan), (QS al-Nahl [16]: 90).:

ِرَكْنُمْلا َو ِءاَشْحَفْلا ِنَع ىَهْنَي َو ىَب ْرُقْلا يِذ ِءاَتيِإ َو ِناَسْحِ ْلْا َو ِلْدَعْلاِب ُرُمْأَي َ َّاللَّ َّنِإ

ُكُظِعَي ِيْغَبْلا َو

وُرَّكَذَت ْمُكَّلَعَل ْم

َن

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan bebuat kebajikan, memberi kerabat, dan Allah melarang berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pengajaran.”

Menurut Quraish Shihab, dalam ayat ini Allah berfirman sambil mengukuhkan dan menunjuk langsung dirinya dengan nama yang teragung guna menekankan pentingnya pesan-pesannya: bahwa sesungguhnya Allah secara terus menerus memerintahkan siapapun diantara hamba-hambanya untuk berlaku adil dalam sikap, ucapan dan tindakan walau terhadap dirinya sendiri dan menganjurkan berbuat ikhsan yang lebih utama dari keadilan, dan juga pemberian apapun yang dibutuhkan dan sepanjang kemampuan lagi dengan tulus kepada kaum kerabat, dan dia yakin Allah melarang segala macam dosa, lebih-lebih perbuatan keji.20 dan al-Tauhid (Menuhankan Allah Swt.), QS. Al-Ikhlas : [112];1-4. Inilah yang sedang dipraktekkan oleh masyarakat Islam dalam

19 Yusuf Qardhawi, Kebangkitan Islam dalam Perbincangan Para Pakar (Jakarta: Gema Insani, 1998), 95–98.

20 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, vol. 1 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 326.

kehidupan sehari-hari.21 Namun perkembangan zaman mereduksi pesan-pesan yang di sampaikan oleh Allah, akibat keterbatasan pemahaman dalam kajian pesan-pesan agama menimbulkan pengetahuan agama yang serba instan. Karya tersebut juga menjelaskan empat faktor perilaku umat Islam terhadap non muslim yakni: Pertama, keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agama, kebangsaan dan kerukunannya. Kedua, perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki oleh Allah Swt. yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih beriman atau kufur. Ketiga, seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seseorang atau menghakimi sesatnya orang lain. Allah sajalah yang akan menghakiminya nanti, dan Keempat, keyakinan bahwa Allah swt. memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah juga mencela perbuatan dzalim meskipun terhadap kafir.

Lima belas abad yang lalu sebelum banyak masyarakat dunia mengenal konstitusi tertulis, bersamaan tahun pertama hijriah pada tahun 622 M. Rasulullah Muhammad telah membuat “Piagam Madinah” yang dikenal konstitusi pertama di dunia dan sangat luar biasa. Penyebutan konstitusi tertulis pertama di dunia ini bukan tanpa dasar. Sebab konstitusi Aristoteles Athena yang ditulis pada papirus, ditemukan oleh seorang misionaris Amerika di Mesir baru pada tahun 1890 dan diterbitkan pada tahun 1891, itupun tidak dianggap sebuah konstitusi. Tulisan-tulisan hukum lainnya pada perilaku masyarakat kuno telah ditemukan, tetapi tidak dapat digambarkan sebagai konstitusi.22

Piagam Madinah (Dustar al-Madinah), dapat dikaitkan dengan Perlembagaan Madinah karena kandungannya membentuk paraturan-paraturan yang berasaskan syariat Islam untuk membentuk sebuah negara (Daulah Islamiyah), yang menempatkan penduduk berbagai suku, ras dan agama, yang tinggal di Madinah (Yasrib) memiliki kewajiban dan hak yang sama diantara mereka. Dalam piagam tersebut juga menyebutkan perlindung terhadap kaum minoritas. terdiri dari 47 pasal yang inti dari pasal-pasal tersebut adalah persamaan hak dan kewajiban dan perlindungan diantara sesama, tanpa membedakan dari kaum Muhajirin, Ansor maupun Yahudi, serta suku-suku agama lainnya. pasal 14 juga menyebutkan: Seorang mukmin tidak boleh

21 Yusuf Al-Qaradhawi, Ghayr al-Muslimin fi al-Mujtama al-Islami (Mesir: Cairo, 1992), 53–54; Lihat juga: Kate Zebiri, Maḥmūd Shaltūt and Islamic Modernism (Clarendon Press, 1993); Mark Purcell, “A place for the Copts: imagined territory and spatial conflict in Egypt,” Ecumene 5, no. 4 (1998): 432–451; Uriah Furman, “Minorities in contemporary Islamist discourse,” Middle Eastern Studies 36, no. 4 (2000): 1–20; Meir Hatina, “The ‘Other Islam’: The Egyptian Wasat Party,” Critique: Critical Middle

Eastern Studies 14, no. 2 (2005): 171–184; Yvonne Yazbeck Haddad, “Islamist

Depictions of Christianity in the Twentieth Century: the Pluralism debate and the depiction of the other,” Islam and Christian-Muslim Relations 7, no. 1 (1996): 75–93.

22 Arifin Ismail, bahan diambil dari Kitab Shirah Ibnu Hisyam, Darul Qutub, Beirut, 2001. Lihat juga: Muhammad Burhanuddin, Conflict Mapping Piagam Madinah (Analisis Latar Belakang Sosiokultural Piagam Madinah), Jurnal Al-Ijtimaiyyyah: Media

membunuh orang beriman lainnya untuk membantu orang kafir, tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk membunuh orang beriman. 23

Pluralisme menekankan kepada pengakuan akan adanya perbedaan dan kesediaannya mengakui kebenaran agama lain maka toleransi menekankan pada sikap saling menghormati dan menghargai antar umat beragama sehingga tercipta adat dan tata cara pergaulan yang harmonis antara berbagai kelompok yang berbeda-beda dalam kehidupan sehari-hari. Senada pula diungkapkan oleh KH. Hasyim As’ari, menurutnya seorang muslim harus berinteraksi dengan anggota masyarakat yang lain, mengingat manusia adalah homo social yang pasti membutuhkan bantuan pihak lain, tidak bisa hidup dengan diri sendiri. Manusia merupakan anggota masyarakat yang memiliki peran dan kontribusi besar dalam menjaga eksistensi interaksinya dengan anggota masyarakat lain, yang dengan itu semua dapat mewujud menjadi sebuah kesatuan kuat. Dengan itu semua, maka yang menjadi tujuan bersama suatu masyarakat akan dengan mudah tercapai, berbagai halangan dan rintangan dapat diatasi dengan mudah jika persatuan dan kesatuan dapat terjaga dengan baik.24

Rasulullah saw. pernah mengadakan dialog dengan utusan Bani Najran yang beragama Kristen di Masjid Nabawi Madinah.25 Rombongan ini dipimpin oleh Uskup Abu Haris bin al-qamah. Mereka masuk masjid di mana Nabi Muhammad saw. berada, pada waktu itu Nabi bersama sahabat hendak menjalankan sahalat Ashar. Karenanya mereka lalu bermaksud melakukan kebaktian di masjid dengan menghadap Timur. Melihat kejadian tersebut para sahabat bermaksud melarangnya, namun Nabi justru minta agar mereka dibiarkan melakukan kebaktiannya, kemudian mereka berdiskusi dengan Nabi saw. tentang masalah-masalah keimanan. Selanjutnya mereka pulang ke Najran, dan tidak ada satupun dari mereka yang masuk agama Islam.26

23 Abdul Basit Abdul Razzaq Badr, Al-Madinah History and Monuments, (Riyadh: Homaidah Printing Press, n.d), 11

24 Mukani, “Toleransi Perspektif. KH. Hasyim Asy’ari dan Peran dalam Pendidikan Islam,” Al-Murabbi 4 (2018): 136.

25 Spirit Piagam Madinah (Watsiqah al-Madinah) juga dapat dijadikan inspirasi bagi pendidikan Islam yang toleran dan inklusif yang mengajarkan anak didiknya menghargai prinsip Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI. Bhineka Tunggal Ika sebagaimana Piagam Madinah, adalah bentuk komitmen koeksistensi di tengah-tengah perbedaan dan keberagaman. Perbedaan agama, kebebasan individu, dan kaum minoritas dilindungi sehingga memungkinkan semua pemeluk agama hidup berdampingan dengan harmonis. Lihat : Irwan Masduqi, “Deradikalisasi Pendidikan Islam Berbasis Khazanah Pesantren,” Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2013): 14, https://doi .org/10 .14421 /jpi. 2013.21.1-20.

26 Ali Mustafa Yaqub, Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1999), 36-37.

Dengan demikian, bahwa konteks dialog antar umat beragama Islam memiliki satu kelebihan, yaitu pengakuan Islam akan kebenaran agama-agama Samawi yang telah diturunkan sebelumnya. Pengakuan semacam ini, secara eksplisit membuat Islam terbebas dari sentimen dan subjektivitas yang sering kali terbukti menodai kemurnian untuk melakukan sebuah dialog.27 Keragaman beragama merupakan kehendak sang pencipta yang tidak bisa dihindari, sesuatu yang sifatnya pemberian.

Manusia diciptakan Tuhan bukan dalam keseragaman, melainkan dalam keragaman dan perbedaan, baik berupa berbeda dalam hal suku, bangsa, warna kulit, agama keyakinan dan lain sebagainya. Perbedaan itulah Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengenal dan mengasihi, bukan untuk saling memusuhi, sebagaimana halnya juga keragaman dalam bahasa, suku dan budaya, sebagaimana dalam al-Qur’an (QS. Al-Hujaraat [49]; 13), memberikan petunjuk kepada umatnya dalam menyikapi keragaman beragama dalam wujud dua sikap yang jelas dan tegas. Yaitu sikap ekslusif dalam hal-hal yang bersifat akidah dan ‘ubudiyah dan sikap inklusif dalam ranah sosial interaktif.28

Hujjatul Islam Imam al-Gazali memaparkan contoh pendidikan toleran inklusif dan humansi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Pada suatu hari ada seseorang dari Arab pedalaman yang mngencingi masjid Nabawi di hadapan Nabi. Spontan para sahabat terlihat emosi tetapi Nabi malah melarang para sahabatnya menggunakan kekerasan untuk menghalangi kencing. Para sahabat memperotes, “Tetapi ini adalah masjid yang tidak layak dikotori dan dikencingi” Nabi bersabda “ Dekatilah dia secara baik-baik dan jangan dengan kekerasan agar tidak lari dari Islam (qarribu wa la tunaffiru).29 Bagaimanapun juga nabi tidak menyukai perbuatan amoral tersebut, tetapi nabi bijaksana mengajarkan kontrol emosi untuk tidak menggunakan kekerasan atas nama kesakralan simbol agama, dalam konteks ini adalah kesucian masjid. Karakter Nabi inilah yang saat ini diabaikan oleh sebagian kelompok umat Islam sehingga melakukan kekerasan atas nama kesakralan simbol agama yang ternodai.

Tataran aplikatif, ajaran Islam yang bersumber Al-Qur’an dan as-Sunnah telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana hidup berdampingan dengan anggota masyarakat yang berbeda keyakinan. Piagam Madinah adalah bukti sejarah bagaimana Islam sejak awal menginginkan terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Dalam konteks Indonesia nilai-nilai luhur Al-Qur’an tersebut dapat dikembangkan dalam rangka menegakkan berbagai pilar

27 Saidurrahman dan Arifinsyah, Nalar Kerukunan: Merawat Keragaman

Bangsa Mengawal NKRI, (Jakarta Prenada Media, 2018), 5.

28 Saidurrahman dan Arifinsyah, Nalar Kerukunan,…20-21.

29 Muslim, Shahih Muslim, hadis no. 2269. (Beirut: Dar al-Jayl, Maktabah Syamilah, 2005), juz. III, 59

kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah disepakati bersama, diantara pilar tersebut adalah meningkatkan sikap toleran yang benar, saling hormat menghormati dengan penuh kedewasaan dalam beragama, meningkatkan kerja sama dalam hal-hal yang menjadi tujuan bersama, tanpa harus saling mencurigai dan memperkokoh empat konsensus nasional (Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika).

Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya mengemukakan sebagaimana dikutif oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya A-Misbah, bahwa non-muslim dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, adalah mereka yang tinggal bersama dengan kaum muslimin, dan hidup damai bersama mereka, tidak melakukan kegiatan untuk kepentingan lawan Islam serta tidak juga nampak dari mereka tanda-tanda yang mengantar kepada prasangka buruk terhadap mereka. Kelompok ini mempunyai hak dan kewajiban sosial yang sama dengan kaum muslimin. Tidak ada larangan untuk bersahabat dan berbuat baik kepada mereka, sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8).30

َّلٱ ِنَع ُ َّللَّٱ ُمُكٰىَهۡنَي َّلَّ

نَأ ۡمُك ِرَٰيِد نِ م مُكوُج ِر ۡخُي ۡمَل َو ِنيِ دلٱ يِف ۡمُكوُلِتَٰقُي ۡمَل َنيِذ

ْا ٓوُطِسۡقُت َو ۡمُهوُّرَبَت

َني ِطِسۡقُمۡلٱ ُّب ِحُي َ َّللَّٱ َّنِإ ۡۚۡمِهۡيَلِإ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik/memberikan sebagian dari harta kamu dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”

Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, ia berkata: Ibuku mendatangiku saat ia masih musrik pada zaman Rasulullah. Maka aku bertanya kepada Rasulullah mengenai perkara ini: “ibuku datang kepadaku dengan penuh perdamaian, apakah aku harus menjaga hubungan dengan ibuku?” Maka beliau menjawab “Ya, jagalah hubungan dengan ibumu.”31

Kedua, kelompok yang memerangi atau merugikan kaum muslimin dengan berbagai cara. Terhadap mereka kita boleh menjalin hubungan harmonis, tidak boleh didekati. Merekalah yang dimaksud oleh ayat ini, demikian juga dengan ayat lain seperti (Q.S. Al-Mumtahanah [60]: 9).32

30 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Jilid 3, Pesan, Kesan dan Keserasian

Al-Qur’an (Jakarta, Penerbit Lentera Hati, 2002), 125

31 Bukhori, Shahih Bukhori, 5/275, kitab pemberian, bab hadiah untuk orang-orang musyrik, dan firman Allah ۡمُكوُلِتٰ َقُي ۡم َل َنيِلَّٱ ِنَع ُ اللَّٱ ُمُكٰىَهۡنَي ا لَّا hadis no. 2620. Dan Shahih Muslim 2/696, kitab zakat, bab keutamaan nafkah dan sedekah kepada kerabat, pasangan, anak, dan orangtua, meskipun mereka masih musyrik, hadis no. 1003 (Beirut: Dar al-Jayl, Maktabah Syamilah 2005).

ُك ِرَٰيِد نِ م مُكوُجَر ۡخَأ َو ِنيِ دلٱ يِف ۡمُكوُلَتَٰق َنيِذَّلٱ ِنَع ُ َّللَّٱ ُمُكٰىَهۡنَي اَمَّنِإ

ٰٓىَلَع ْاوُرَه َٰظ َو ۡم

َنوُمِلَّٰظلٱ ُمُه َكِئَٰٓلْوُأَف ۡمُهَّلَوَتَي نَمَو ۡۚۡمُه ۡوَّلَوَت نَأ ۡمُكِجاَر ۡخِإ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagian teman-teman dekat kamu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka kawan, maka mereka itulah orang-orang zalim.”

Ketiga, kelompok yang tidak secara terang-terangan memusuhi kaum muslimin tetapi ditemukan pada mereka sekian indikator yang menunjukkan bahwa mereka tidak bersimpati kepada kaum muslimin tetapi mereka bersimpati kepada musuh-musuh Islam. Terhadap mereka Allah memerintahkan kaum beriman agar bersikap hati-hati tanpa memusuhi mereka.

FimanNya: barang siapa di antara kamu menjadikan mereka auliya’ maka sesungguhnya dia termasuk sebagian mereka, mengisyaratkan bahwa keimanan bertingkat-tingkat. Ada di antara orang-orang yang hidup Bersama Rasul ketika itu yang keimanannya masih belum mantap, masih diselubungi oleh kekeruhan atau semacam keraguan. Mereka tidak harus merupakan orang-orang munafik yang menampakkan keimanan tetapi menyembunyikan kekufuran. Mereka tetap dinamai orang-orang yang beriman. Kendati demikian, keraguan yang masih terdapat dalam hati mereka, dan yang merupakan salah satu bentuk penyakit jiwa, itulah yang mengantarkan mereka mengambil sikap bersahabat sangat erat dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Keraguan itulah yang menjadikan mereka khawatir mendapat bencana, mereka adalah sebagian dari yang dimaksud oleh ayat di atas dengan orang-orang yang ada penyakit dalam batinnya.33

Dalam konteks global hari toleransi sedunia didasari karena banyaknya kasus diskriminasi kekerasan fisik maupun non fisik, hingga ketidakadilan di berbagai belahan dunia, sehingga deklarasi ini dibuat sebagai wujud penghormatan terhadap bentuk ekspresi serta beragam budaya yang ada. Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dunia yang beragam, bentuk ekspresi dan cara kita menjadi manusia, demikian pernyataan dari deklarasi 1995 tentang toleransi. Kemudian timbul pertanyaan: Bagaimanakah rasa toleransi itu dipupuk? Sebagaimana situs “United Nation Association UK”, ada tiga cara yang dilakukan yakni dengan cara: Pendidikan, regulasi penegakan hukum, dan hentikan stereotip negatif.34

33 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Jilid 3…126.

34 Yang pertama: Ketidaktahuan tentang perbedaan budaya, agama dan etnis yang ada di sekitar dapat menyebabkan ketidak nyamanan. Yang kedua: Dengan pendidikan, diharapkan adanya pemahaman yang lebih baik tentang tradisi dan keyakinan yang berbeda dan penerimaan yang lebih besar dari mereka. Yang ketiga: Perlu adanya Undang-Undnag yang menindak tegas tindakan-tindakan intoleransi seperti

The World Summit on Education for All di Jomtien pada tahun 1990 yang diprakarsai oleh UNESCO menghasilkan deklarasi dunia tentang Education for All (Pendidikan untuk semua). Tujuan akhirnya adalah memenuhi kebutuhan belajar anak-anak, pemuda, dan orang dewasa. Bahkan World Education Forum yang diadakan kembali di Dakar, Senegal, pada tanggal 26-28 April 2000 mengesahkan Education for all sebagai kerangka program aksi untuk diterjemahkan oleh negara masing-masing yang memuat enam komitmen, dalam hal kesenjangan ekonomi, pemanfaatan sumberdaya negeri yang tidak merata, tingkat pengangguran tinggi, konflik antar etnis.35

Sedangkan yang terjadi di Indonesia justru lebih kompleks yakni tawuran antar pelajar, demo yang berujung anarkis yang di awali dari informasi media sosial, hoaks dari grup, pertikaian antar kontestasi pendukung dalam pilpres maupun pemilu, baik di tingkat pusat maupun daerah.

A Malik Fadjar mengungkapkan bahwa penistaan dan simbol-simbol agama dan kepercayaan, serta beberapa fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sering kali berimplikasi terhadap masyarakat Indonesia yang plural, semuanya memiliki potensi kebersamaan dan potensi konflik jika tidak dilandasi dengan sebuah pemahaman yang benar akan perbedaan tersebut, sehingga menghadirkan pendidikan yang berbasis multikultural adalah sebuah keniscayaan, bahkan sebuah kebutuhan mutlak yang harus di implementasikan dalam bentuk kurikulum dalam setiap jenjang pendidikan.36

Berbagai macam disiplin ilmu yang menyelidiki fenomena keagamaan (fenomenologi histori) agama bersifat empiris dan tidak normatif, dalam arti bahwa dengan membandingkan berbagai macam agama, tidak mencoba memperlihatkan seolah satu agama lebih baik atau lebih unggul dari yang lain. Meskipun berbeda dalam jangkauan dari disiplin ilmu yang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, yang mempelajari fenomena-fenomena religius yang sama, sejarah agama telah memperoleh manfaat dari penyelidikan ilmu-ilmu tersebut. Dengan demikian Ilmu-ilmu-ilmu ini telah dan masih terus ujaran kebencian, diskriminasi, SARA. Serta adanya penegakkan hukum dan peradilan yang menjamin hak-hak para korban intoleransi. Orang yang memiliki stereotip negatif biasanya memiliki prasangka buruk terhadap seseorang atau kelompok yang mendapat “label” negatif tersebut. Jadi, orang atau kelompok yang memiliki stereotip negatif didorong tidak menghakimi orang lain dengan cara generalisasi. Andhika Prasetia, “Dunia Peringati Hari Toleransi Internasional, Begini Sejarahnya,” detiknews, 1, diakses 24 Januari 2019, https://news.detik .com/read/2018/11/ 16/104208/4304391 /10/dunia-peringati-hari-toleransi-internasional-begini-sejarahnya; Lihat juga: “Declar ation of Principles on Tolerance: UNESCO,” 1, diakses 24 Januari 2019, http:// portal.unesco.org/en/ev.; “International Day for Tolerance,” UNESCO, 2 Oktober 2018, 1, https://en.unesco. org/commemorations/toleranceday.

35 Peppler Barry, “World Education Forum, Dakar, Senegal, 26-28 April 2000: Final Report; 2000” (Dakar, Sinegal: UNESCO, 2000), 7–8.

36Efendi, Pendidikan Islam Transformatif ala KH.Abdurrahman Wahid (Guepedia, 2016), 32; Lihat juga: A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), 29.

dikembangkan untuk membawa sumbangan pemikiran yang bisa di implementasikan yang berarti untuk studi agama untuk sekarang dan masa yang akan datang.37

Yasmina Jacobs hasil risetnya tentang guru program pendidikan Islam tahun 2012-2014. Hasilnya bahwa pendidikan agama berkontribusi untuk pengetahuan yang memvalidasi transformasi perspektif mempertimbangkan konteks budaya dan sosial dalam paradigma pendidikan orang dewasa, formal, non-formal dalam komunitas Muslim, hanya sedikit yang mempelajari atau mengakui nilai kedalaman lapisan pendidikan Islam sebagai pengalaman non pendidikan dengan tampilan formal artikulasi dan pengakuan. Penelitian ini menambah wawasan dalam memahami ruang lingkup kepercayaan, validasi dan akreditasi atas program non-formal untuk pribumi dan non-pribumi di Barat sangat penting, diprakarsai oleh Ntseane Singh, Michelson dan lain-lain.38