• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akses kepada Advokat

Dalam dokumen memetakan situasi penahanan (Halaman 110-114)

BAB II NORMA DAN STANDAR HAM INTERNASIONAL

10. Akses kepada Advokat

Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu perlu ada jaminan kuat terhadap persamaan kedudukan di muka hukum.88 Jaminan itu tidak boleh dilanggar atas dasar perbedaan status sosial ekonomi, kedudukan, pandangan politik, perbedaan keyakinan, perbedaan jenis kelamin dan lain–lain. Untuk itu suatu proses hukum yang adil diperlukan guna menjamin kesetaraan hak dari setiap orang yang berada di suatu wilayah negara. Untuk itu penyediaan akses dan mekanisme pemenuhan hak atas bantuan hukum yang tersedia secara nasional dipandang penting dalam suatu negara hukum yang demokratis. Dalam sistem peradilan pidana, kehadiran advokat menjadi titik penting untuk melindungi hak tersangka dan terdakwa untuk mendapatkan peradilan yang adil. Oleh karena itu bantuan hukum dinyatakan sebagai hak konstitusional warga negara untuk mendapatkan akses terhadap keadilan dimana warga negara secara umum dianggap tidak mampu menghadapi kekuatan negara.

Hak atas bantuan hukum pertama kali diatur di Indonesia melalui UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Pasal 35 UU No. 14 Tahun 1970 menyatakan bahwa bantuan hukum adalah hak bagi setiap orang yang tersangkut perkara. Dalam konteks sistem peradilan pidana, Pasal 36 UU No. 14 Tahun 1970 secara tegas menyatakan bahwa bantuan hukum terhadap tersangka diberikan sejak saat penangkapan dan penahanan.

Pengaturan hak atas bantuan hukum dalam sistem peradilan pidana diperkenalkan pertama kali melalui diundangkannya UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Di sini, dinyatakan bahwa guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum di setiap tingkat pemeriksaan. Secara khusus bantuan hukum ini diatur dalam Bab XVII tentang Bantuan Hukum dalam UU No. 8 Tahun 1981 tersebut, namun hak tersangka dan terdakwa

mengenai bantuan hukum diatur sejak Pasal 54-57, dan Pasal 59-62 KUHAP.

Khusus untuk masyarakat miskin atau yang diancam dengan pidana penjara 15 tahun atau lebih atau yang diancam dengan pidana mati, KUHAP telah mengatur secara khusus hak atas bantuan hukum ini dalam Pasal 56. Pada 1985 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan Instruksi Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.24- UM.06.02 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Golongan Masyarakat yang Kurang Mampu. Instruksi ini menjadi landasan dimana pos bantuan hukum atas inisiatif masyarakat yang ada di pengadilan mendapat dana dari Negara dan pengelolaan dana tersebut dilakukan oleh pengadilan negeri setempat.

Khusus untuk anak yang terlibat tindak pidana, Indonesia mengundangkan UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Pasal 51 dan Pasal 52 UU No. 3 Tahun 1997 telah menjamin hak dari setiap anak yang diduga terlibat dalam tindak pidana untuk mendapatkan bantuan hukum sejak ditangkap atau ditahan dan di setiap tingkat pemeriksaan.

Selepas masa reformasi, Indonesia kemudian mengundangkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dimana dalam Pasal 18 ayat (1) UU tersebut dinyatakan bahwa setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Untuk melengkapi perlindungan terhadap anak, Indonesia kemudian mengundangkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 17 UU No. 23 Tahun 2002 menyatakan bahwa setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum

yang berlaku dengan tujuan membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

Untuk melengkapi hak atas bantuan hukum ini, UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat khususnya Pasal 22 ayat (1) menekankan bahwa setiap advokat wajib memberikan bantuan hukum kepada masyarakat miskin. Sebagai implementasi UU No. 18 Tahun 2003 ini kemudian Pemerintah membuat PP No 83 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma- Cuma. Menindaklanjuti kedua peraturan ini, pada 2010 Perhimpunan Advokat Indonesia kemudian mengeluarkan Peraturan PERADI No. 1 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma.

Pada 2005, Indonesia kemudian meratifi kasi Kovenan Hak Sipil dan Politik melalui UU No. 12 Tahun 2005 dimana dalam Pasal 16 dan Pasal 26 Kovenan ini dinyatakan bahwa setiap orang dij amin haknya atas persamaan di hadapan hukum. Semua orang berhak atas perlindungan hukum tanpa adanya diskriminasi.

Namun, bagaimana dan cara serta mekanisme pemberian bantuan hukum belum diatur dalam undang-undang di atas, mekanisme yang tersedia dari 1981 hingga 2009 masih diatur menggunakan Instruksi Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.24-UM.06.02 Tahun 1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Program Bantuan Hukum Bagi Golongan Masyarakat Yang Kurang Mampu.

Mekanisme yang lebih kuat kemudian diundangkan oleh pemerintah melalui disahkannya UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,89 UU No. 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas

UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum,90 UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama,91 dan UU No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.92 Semua peraturan perundang-undangan yang terkait dengan peradilan ini mencantumkan hak atas bantuan hukum kepada orang yang terlibat perkara hukum dan merupakan kewajiban dari setiap pengadilan untuk membuat pos bantuan hukum.

Munculnya peraturan perundang-undangan ini kemudian membuat Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 10 Tahun 2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum. Melalui SEMA tersebut di setiap pengadilan umum, agama dan tata usaha negara akan diaktik an kembali pos bantuan hukum.

Sejak kemerdekaan hingga 2011, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki sistem dan mekanisme pemberian bantuan hukum yang tersedia secara nasional melalui disahkannya UU No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Dalam UU ini diatur tentang siapa saja yang dapat menerima bantuan hukum, pemberi bantuan hukum, dan juga pengelola bantuan hukum. Meski terdapat banyak tantangan, namun pemerintah bertekad untuk tetap melaksanakan amanat UU ini.93

90 Lihat Pasal 68B dan Pasal 68C UU No. 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

91 Lihat Pasal 60B dan Pasal 60C UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

92 Lihat Pasal 144C dan Pasal 144 D UU No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

93 Lihat http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4eb66ae12eb0d/tantangan-dan- peluang-undangundang-bantuan-hukum. diakses pada 5 Januari 2012.

11. Pengaturan mengenai tempat penahanan

Dalam dokumen memetakan situasi penahanan (Halaman 110-114)