BAB II NORMA DAN STANDAR HAM INTERNASIONAL
4. Jenis–jenis penahanan
Dalam masa HIR tidak dikenal berbagai jenis penahanan. Yang terdapat dalam HIR adalah penahanan di rumah tahanan kepolisian atau penyebutan jenis penahanan berdasarkan instansi yang menahan. Sehingga jenis tahanan yang dikenal dalam HIR adalah tahanan
polisi, tahanan jaksa atau tahanan hakim. Walaupun HIR hanya mengenal tahanan di rumah tahanan, namun dalam praktik hukum dan jurisprudensi telah mengakui dan mengesahkan jenis tahanan rumah. Hal itu dapat dilihat dalam putusan MA No. 29 K/Kr/1969 tanggal 20 Juni 1970. Tahanan sementara yang dij alankan dalam LPC Glodok diubah menjadi tahanan sementara yang dij alankan di rumah terdakwa sendiri. Alasan Mahkamah Agung mengubah tahanan dari LPC Glodok menjadi tahanan rumah di tempat kediaman terdakwa disebabkan terdakwa menderita penyakit tekanan darah tinggi sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh dokter. Di samping itu ternyata terdakwa menderita penyakit mental. Mengingat keadaan yang meliputi diri terdakwa sebagaimana yang dibuktikan oleh surat- surat keterangan dokter tersebut, Mahkamah Agung berpendapat cukup alasan untuk memberi ketentuan lain mengenai tempat di mana terdakwa harus menjalani masa tahanan, yang disesuaikan dengan keadaan kesehatan terdakwa.
Putusan Mahkamah Agung tersebut merupakan perkembangan yang mengakui jenis tahanan rumah dan peralihan jenis penahanan. Walaupun putusan Mahkamah Agung tersebut mempergunakan istilah tahanan sementara yang dij alankan di rumah, namun putusan itu telah mengakui eksistensi tahanan rumah.
Jenis-jenis tahanan diatur dalam Pasal 22 ayat (1) KUHAP. Menurut ketentuan ini, jenis penahanan dapat berupa:
penahanan rumah tahanan negara (Rutan); Penahanan rumah; dan
Penahanan kota.
4.1. Penahanan rumah tahanan
Diantara ketiga jenis penahanan, penahanan Rutan-lah yang paling banyak menimbulkan masalah sejak KUHAP resmi berlaku. Pemerintah dihadapkan pada problem mendirikan banyak Rutan, dan tentu saja memerlukan biaya besar. Maka untuk sementara
agar kesulitan itu bisa di atasi, penjelasan Pasal 22 ayat (1) KUHAP telah menggariskan kebij aksanaan berupa pedoman: selama Rutan belum ada pada suatu tempat, penahanan dapat dilakukan di kantor kepolisian negara, kantor Kejaksaan negeri, di lembaga pemasyarakatan, di rumah sakit, atau dalam keadaan mendesak di tempat lain. Keadaan ini sebetulnya tidak boleh dipertahankan berlarut-larut. Pemerintah melalui Departemen Kehakiman harus berlomba dengan waktu untuk memenuhi ketentuan Pasal 22 ayat (1) huruf a KUHAP.
Untuk merespon perkembangan tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan KUHAP. Pasal 18 peraturan ini menegaskan bahwa pada setiap ibukota kabupaten/kota dibentuk Rutan. Jika dianggap perlu dapat didirikan cabang rutan di luar ibukota kabupaten seperti pada suatu kecamatan tertentu.
Namun praktiknya, membangun Rutan di setiap kabupaten/kota tidak segampang membalik telapak tangan karena butuh biaya besar dan waktu yang tak sedikit. Lalu, pemerintah menempuh kebij akan sesuai dengan kemampuan yang ada. Misalnya, mengalihkan beberapa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ada menjadi Rutan. Pada 16 Desember 1983, keluar Surat Keputusan Menteri Kehakiman No. M.04 UM.01.06 Tahun 1983 tentang Penetapan Lembaga Pemasyarakatan Tertentu sebagai Rutan. Keputusan Menteri Kehakiman dimaksud mempunyai dua lampiran.
Lampiran I, berisi datar Lembaga Pemasyarakatan yang ditetapkan sebagai Rutan.
Lampiran II, berupa datar Lapas yang disamping tetap dipergunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan, beberapa ruangannya ditetapkan sebagai Rutan.
Dengan Keputusan tersebut, maka amanat Pasal 18 PP No. 27 Tahun 1983 tidak ditempuh dengan jalan membangun Rutan baru, melainkan dengan jalan mengalihkan beberapa Lapas menjadi Rutan. Sebagian Lapas tadi diubah dan dialihkan menjadi Rutan seperti yang terdapat dalam Lampiran I. Sedangkan yang sebagian lagi hanya beberapa ruangan saja yang dialihkan menjadi Rutan seperti yang ditetapkan dalam Lampiran II.
Siapa saja yang ditempatkan dalam Rutan dij elaskan lebih lanjut dalam Pasal 19 PP No. 27 Tahun 1983 jo. Pasal 1 Peraturan Menteri kehakiman No. M.04.UM.01.06 Tahun 1983.
Di dalam Rutan ditempatkan tahanan yang masih dalam proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung dan;
Semua tahanan berada dan ditempatkan dalam Rutan tanpa kecuali, tetapi tempat tahanan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan tingkat pemeriksaan.
Demikian penegasan Pasal 19 ayat (1) dan (2) PP No. 27 Tahun 1983 serta Pasal 1 ayat (1) dan (2) Putusan Menteri dimaksud. Rutan adalah tempat tahanan tersangka atau terdakwa yang masih sedang dalam proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan pengadilan.
4.2. Penahanan rumah
Penahanan rumah dilakukan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dan terhadap tersangka atau terdakwa diadakan pengawasan. Namun KUHAP tidak menentukan cara pengawasan seseorang dalam tahanan rumah. Oleh karena itu pengaturan pengawasan penahanan rumah bergantung pada kebij akan pejabat yang melakukan penahanan.
Tujuan utama pengawasan adalah untuk menghindari terjadinya sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan. Seorang tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan rumah hanya dapat meninggalkan rumahnya berdasarkan izin dari pejabat yang menahan. Ini sesuai dengan penjelasan Pasal 22 ayat (2) dan ayat (3) KUHAP. 4.3. Penahanan kota
Pelaksanaan penahanan kota dilakukan di kota tempat kediaman tersangka atau terdakwa. Pengertian penahanan kota meliputi penahanan desa atau kampung maupun dusun. Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan kota tidak dilakukan pengawasan. Meski demikian KUHAP mewajibkan tersangka/terdakwa untuk melaporkan diri pada waktu-waktu yang ditentukan, sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (3) KUHAP.
Tentang penjadwalan kewajiban melaporkan diri tidak ditentukan oleh undang-undang dan diserahkan sepenuhnya kepada pejabat yang mengeluarkan perintah penahanan kota.
Seorang tersangka atau terdakwa yang menjalani penahanan kota dilarang untuk keluar kota tanpa izin dari pejabat yang mengeluarkan perintah/penetapan penahanan kota. Hal ini sesuai dengan yang ditentukan penjelasan Pasal 22 ayat (2) dan (3) KUHAP.