• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penangguhan penahanan

Dalam dokumen memetakan situasi penahanan (Halaman 96-108)

BAB II NORMA DAN STANDAR HAM INTERNASIONAL

8. Penangguhan penahanan

Penangguhan penahanan diatur dalam Pasal 31 KUHAP. Berdasarkan KUHAP penangguhan penahanan diartikan sebagai kegiatan

mengeluarkan tersangka atau terdakwa dari penahanan sebelum batas waktu penahanannya berakhir. Tahanan yang resmi dan sah pada dasarnya masih ada dan belum habis, namun pelaksanaan penahanannya ditangguhkan, sekalipun masa penahanan yang diperintahkan kepadanya belum habis. Dengan penangguhan penahanan ini maka seorang tersangka atau terdakwa dikeluarkan dari tahanan pada saat masa tahanan yang sah dan resmi sedang berjalan. Pasal 31 KUHAP belum secara keseluruhan mengatur bagaimana tata cara pelaksanaan penangguhan penahanan, serta bagaimana syarat dan jaminan yang dapat dikenakan kepada tahanan atau kepada orang yang menjamin. Oleh karena itu, Pasal 31 KUHAP tersebut masih memerlukan peraturan pelaksana, yaitu:

Mengenai jaminan penangguhan penahanan diatur dalam Bab X, Pasal 35 dan Pasal 36 PP No. 27/1983.

Pelaksanaan penangguhan penahanan diatur dalam Bab IV, Pasal 25 Peraturan Menteri Kehakiman No. M.04.UM.01.06/1983.

Dengan adanya berbagai peraturan tersebut, maka terjadi penyempurnaan terhadap pengaturan penangguhan penahanan, karena penjelasan Pasal 31 KUHAP tidak memberi petunjuk mengenai jaminan. Yang dibicarakan dalam penjelasan pasal tersebut hanya mengenai syarat penangguhan yakni wajib lapor, tidak keluar rumah, atau kota. Alinea kedua penjelasan Pasal 31 hanya menyinggung “status” tahanan yang ditangguhkan penahanannya dimana tidak termasuk masa status tahanan.

Oleh karena penjelasan Pasal 31 KUHAP itu sendiri tidak memberi petunjuk tentang jaminan dan pelaksanaan penangguhan, dua tahun kemudian Pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksanaannya yakni PP No. 27 Tahun 1983 yang dikeluarkan pada 1 Agustus 1983, disusul Peraturan Menteri Kehakiman No. M.04.UM.01.06/1983, ditetapkan pada 16 Desember 1983. Masalah serupa disinggung pula pada angka 8 Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983, tanggal 10 Desember 1983.

8.1. Syarat–syarat penangguhan penahanan

Berdasarkan Pasal 31 ayat (1) KUHAP penangguhan penahanan terjadi atas dasar:

Karena permintaan tersangka atau terdakwa;

Permintaan itu disetujui oleh instansi yang menahan atau yang bertanggung jawab secara yuridis atas penahanan dengan syarat dan jaminan yang ditetapkan; dan

Ada persetujuan dari orang tahanan untuk mematuhi syarat yang ditetapkan serta memenuhi jaminan yang ditentukan.

Dalam konteks penangguhan penahanan, orang yang menjalani tahanan berjanji akan melaksanakan dan memenuhi syarat dan jaminan yang ditetapkan instansi yang menahan. Sebaliknya, pihak yang menahan mengeluarkan orang tersebut dari tahanan dengan menangguhkan penahanannya.

Seluruh instansi yang memiliki kewenangan untuk menahan berhak memberikan penangguhan penahanan selama tahanan yang bersangkutan masih berada dalam lingkup tanggung jawab yuridis instansi yang menahan. Kewenangan ini dengan sendirinya tidak berlaku apabila tahanan sudah beralih menjadi tanggung jawab instansi lain.

Alasan penangguhan penahanan sendiri tidak diatur dalam Pasal 31 KUHAP maupun dalam penjelasan pasal tersebut. Namun dalam praktik, alasan yang umum dikemukakan untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan adalah alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (4) huruf a KUHAP.

Syarat yang menjadi dasar hukum penangguhan penahanan dapat dibaca dalam kalimat terakhir Pasal 31 ayat (1) KUHAP yang berbunyi: “berdasarkan syarat yang ditentukan”. Dari kalimat ini dapat disimpulkan bahwa penetapan syarat oleh instansi yang memberi penangguhan adalah faktor yang menjadi dasar dalam pemberian

penangguhan penahanan. Tanpa adanya syarat yang ditetapkan lebih dulu dan tahanan yang bersangkutan tidak menyatakan kesediaan untuk menaati, penangguhan penahanan tidak boleh diberikan. Dengan demikian, penetapan syarat dan kesediaan untuk menaati syarat tersebut merupakan prinsip dasar dalam pemberian penangguhan penahanan.

Penegasan dan rincian syarat yang harus ditetapkan dalam penangguhan penahanan, dinyatakan dalam penjelasan Pasal 31 KUHAP tersebut. Syarat yang dapat ditetapkan oleh instansi yang menahan adalah wajib lapor, tidak keluar rumah, atau tidak keluar kota. Pada dasarnya dari ketiga syarat tersebut, instansi yang menahan dapat memilih salah satu syarat atau dua syarat. Yang paling mendasar adalah syarat wajib lapor ditambah dengan salah satu syarat yang lain.

Perlu dipaparkan bahwa di tingkat Kejaksaan, telah dikeluarkan Surat Edaran Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) No. 98/E/Ejp/05/2002, tanggal 15 Mei 2002, mengenai penahanan dan penangguhan. Surat Edaran ini terbit karena berdasarkan pengamatan Jampidum selama ini sering ditemukan tahanan yang ditangguhkan penahanannya atau dialihkan menjadi tahanan rumah atau tahanan kota hanya karena tekanan massa pendukung tersangka, baik berupa ancaman fi sik maupun psikis. Bahkan tidak jarang secara konkrit telah dilakukan dalam bentuk serangan fi sik kepada aparat atau aset kejaksaan. Oleh karena Surat Edaran Jampidum mendorong untuk mengutamakan pemenuhan aspek yuridis melalui pemberian petunjuk-petunjuk yang akurat dan tepat sasaran.

Agar dalam setiap perkara, terutama yang dianggap penting dan sensitif, penyidik dan jajaran intelij en harus berkoordinasi dengan mempertimbangankan segala kemungkinan yang terjadi jika tersangka ditahan. Jika kebij akan menahan yang ditempuh, maka dibutuhkan sikap konsisten dan tidak mudah goyah sekalipun ada tekanan massa.

Apabila ada permohonan penangguhan penahanan, aparat kejaksaan harus tetap mempedomani Surat Jampidum No. B-675/E/Epoll2/1994 tanggal 1 Desember 1994 perihal permohonan penangguhan penahanan/tahanan luar dan wajib lapor. Berdasarkan Surat Jampidum ini, untuk mencegah ekses akibat permohonan penangguhan penahan/ tahanan luar dan wajib lapor, diminta perhatian aparat bahwa tidak dibenarkan ada surat permohonan penangguhan penahanan atau permohonan untuk ditahan luar/tidak ditahan dalam hal tersangka tidak dalam status tahanan tidak ditahan. Selain itu, perubahan status tersangka yang diserahkan Penyidik kepada Kejaksaan hanya dapat dilakukan apabila benar-benar beralasan.

Dengan demikian akan dapat dicegah terjadinya rekayasa penahanan dimana disangkakan/didakwakan pasal-pasal yang memungkinkan tersangka/terdakwa dapat ditahan padahal sebenarnya perbuatan yang disangkakan tidak dapat dilakukan penahanan. Sedangkan kewajiban melapor hanya dapat dibebankan kepada tersangka yang dalam status tahanan rumah, tahanan kota, dan yang ditangguhkan penahanannya. 8.2. Jaminan penangguhan penahanan

Pasal 31 ayat (1) KUHAP telah menentukan bentuk “jaminan uang” atau “jaminan orang” dalam penangguhan penahanan. Namun ketentuan tersebut tidak menentukan cara pelaksanaannya. Pelaksanaan unsur jaminan dalam Pasal 31 ayat (1) KUHAP diatur lebih lanjut dalam Bab X, Pasal 35 dan Pasal 36 PP No. 27 Tahun 1983. Penetapan jaminan dalam penangguhan penahanan bersifat “fakultatif”, sesuai dengan ketentuan Pasal 31 ayat (1) KUHAP. Oleh karena itu jaminan uang atau jaminan orang “dapat” ditetapkan oleh instansi yang menahan. Tanpa jaminan, tindakan penangguhan penahanan tetap sah menurut hukum. Unsur jaminan pada dasarnya dapat dikesampingkan. Tetapi agar syarat penangguhan penahanan benar-benar ditaati, maka penangguhan penahanan dibarengi dengan jaminan. Pemberian jaminan ini merupakan upaya untuk memperkecil kemungkinan tersangka/terdakwa melarikan diri.

Tata cara pelaksanaan jaminan itu diatur kemudian dalam Bab X, Pasal 35 dan Pasal 36 PP No. 27 Tahun 1983. Sedangkan mengenai petunjuk pelaksanaan jaminan tersebut diatur dalam angka 8 Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983, tanggal 10 Desember 1983.

8.2.1. Jaminan uang

Berdasarkan ketentuan KUHAP, penangguhan penahanan dengan jaminan atau tanpa jaminan diadakan dan dilaksanakan dalam bentuk “perjanjian” antara tersangka/terdakwa atau penasihat hukunya dengan instansi yang bertanggung jawab secara yuridis atas penahanan. 8.2.1.1. Ditetapkan oleh pejabat atau instansi yang menahan

Apabila jaminan penangguhan berbentuk uang, instansi atau pejabat yang bersangkutan menetapkan besarnya uang jaminan. Besaran uang jaminan secara “jelas” disebutkan dalam surat perjanjian penangguhan. Dalam hal ini ada beberapa aturan yang harus dipahami.

a) Uang jaminan disimpan di kepaniteraan Pengadilan Negeri. Instansi manapun yang memberi penangguhan penahanan, uang jaminan disimpan di kepaniteraan Pengadilan Negeri. Panitera yang berwenang menyimpan uang jaminan sekalipun yang memberi penangguhan penahanan instansi penyidik, penuntut umum, Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.

b) Penyetoran uang jaminan dilakukan sendiri oleh pemohon atau penasihat hukumnya atau keluarganya. Berdasarkan penetapan besarnya jaminan yang dicantumkan secara jelas dalam surat perjanjian, uang tersebut disetor ke kepaniteraan Pengadilan Negeri oleh pemohon atau penasihat hukumnya atau keluarganya. Penyetoran dilakukan berdasar formulir penyetoran yang dikeluarkan instansi bersangkutan. Jika penyidik yang memberikan penangguhan penahanan, instansi itu yang mengeluarkan formulir penyetoran uang jaminan, untuk selanjutnya dibawa pemohon kepada panitera Pengadilan Negeri.

c) Bukti setoran dibuat dalam rangkap tiga. Hal ini ditentukan dalam angka 8 huruf a Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983. Bukti penyetoran dibuat dalam rangkap tiga, dengan perincian:

- Selembar sebagai arsip penitera Pengadilan Negeri,

- Selembar diberikan kepada yang menyetor untuk digunakan bukti kepada instansi yang menahan bahwa dia telah melaksanakan isi perjanjian yang berhubungan dengan pembayaran uang jaminan,

- Selembar lagi dikirim panitera kepada pejabat atau instansi yang menahan melalui kurir untuk digunakan sebagai alat kontrol.

d) Berdasar tanda bukti penyetoran, pejabat yang menahan mengeluarkan surat perintah atau surat penetapan penangguhan penahanan.

Terdapat dua cara yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kebenaran penyetoran, yaitu:

Tanda bukti penyetoran tersebut diperlihatkan oleh pemohon atau penasihat hukum atau keluarganya, atau

Berdasarkan penerimaan tanda bukti penyetoran yang dikirim panitera kepada instansi yang menahan.

Melalui salah satu cara ini, instansi yang menahan kemudian mengeluarkan surat perintah/penetapan penangguhan penahanan. 8.2.1.2. Saat uang jaminan jatuh menjadi milik negara

Pada dasarnya uang jaminan secara hukum masih merupakan hak milik Pemohon. Cuma, untuk sementara dipisahkan dari penguasaan pemohon dengan jalan dititipkan di kepaniteraan Pengadilan Negeri. Uang jaminan tersebut harus dikembalikan ke pemohon setelah perjanjian penangguhan penahanan berakhir dan semua syarat yang ditetapkan dalam perjanjian dipenuhi. Jika pemohon melanggar syarat- syarat yang ditentukan dalam perjanjian berupa tindakan “melarikan

diri”, uang jaminan yang dititipkan di kepaniteraan dengan sendirinya berubah menjadi milik negara dan disetorkan ke kas negara oleh panitera. Hal ini diatur dalam Pasal 35 ayat (2) PP No. 27 Tahun 1983 dan angka 8 huruf i Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14- PW.07.03/1983. Dalam ketentuan-ketentuan ini diatur landasan dan tata cara peralihan uang jaminan menjadi milik negara, yakni:

a) Landasan pemilikan, tersangka atau terdakwa melarikan diri dan setelah lewat waktu tiga bulan tidak ditemukan.

Berdasarkan Pasal 35 ayat (2) PP No. 27 Tahun 1983, dasar peralihan uang jaminan menjadi milik negara, apabila yang bersangkutan “melarikan diri” selama 3 bulan dan sejak dari tanggal melarikan diri tersebut yang bersangkutan “tidak ditemukan”, maka sejak saat dilewatinya masa 3 bulan tersebut, uang jaminan beralih menjadi milik negara.

b) Tata cara peralihan dilakukan dengan penetapan Pengadilan Negeri. Tata cara peralihan diatur dalam angka 8 huruf i Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman dimaksud. Jika tersangka atau terdakwa yang sedang ditangguhkan penahanannya melarikan diri dan dalam tempo tiga bulan tidak ditemukan, Pengadilan Negeri mengeluarkan atau menerbitkan “penetapan” yang berisi: (i) Pengambilan uang jaminan menjadi milik negara; (ii) Sekaligus memerintahkan panitera untuk menyetorkan uang tersebut ke kas negara.

8.2.1.3. Pengembalian uang jaminan

Pengembalian uang jaminan ternyata tidak diatur lebih lanjut dalam PP No. 27 Tahun 1983 dan pada angka 8 Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983. M. Yahya Harahap87 berpendapat pengembalian uang jaminan dari penitipan dapat diminta dan harus dikembalikan apabila:

87 Lihat Yahya Harahap, Pembahasan dan Permasalahan KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan, Edisi Kedua, Jakarta: Sinar Grafi ka, 2007, hal. 221.

a) Penangguhan penahanan telah dicabut kembali oleh instansi yang menahan.

Prosedur permintaan kembali uang jaminan dapat didasarkan atas surat pencabutan penangguhan penahanan. Atas dasar surat inilah yang bersangkutan atau penasihat hukumnya maupun keluarganya mengajukan permintaan pengembalian uang jaminan dari panitera Pengadilan Negeri.

b) Berdasar putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Untuk mengakhiri perjanjian penangguhan penahanan, bila terdakwa telah mendapatkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Apapun putusan dari pengadilan, dengan sendirinya telah mengubah status terdakwa dan secara otomatis mengakiri perjanjian penangguhan penahanan.

Dengan berakhirnya perjanjian penangguhan penahanan, uang jaminan dikembalikan menjadi milik yang bersangkutan dan yang bersangkutan atau penasihat hukum atau keluarganya mengajukan permintaan pengembalian uang titipan dari panitera Pengadilan Negeri.

8.2.2. Jaminan orang

Jaminan penangguhan penahanan berupa orang diatur dalam Pasal 36 PP No. 27 Tahun 1983 dan angka 8 huruf c, f dan j Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983. Pada dasarnya tata cara pelaksanaan jaminan orang hampir sama dengan tata cara jaminan uang. Pengertian jaminan dengan orang, yakni berupa perjanjian penangguhan dimana seseorang bertindak dan menyediakan diri secara sukarela sebagai jaminan. Penjamin sendiri bisa penasihat hukumnya, keluarganya atau orang lain yang tidak mempunyai hubungan hukum apapun dengan tahanan. Penjamin bersedia memberi pernyataan dan kepastian kepada instansi yang menahan bahwa dia akan bertanggung jawab memikul segala risiko dan akibat yang timbul apabila tahanan melarikan diri. Tata cara pelaksanaannya dapat diuraikan seperti di bawah ini:

1) Menyebut secara jelas identitas orang yang menjamin. Identitas penjamin dicantumkan secara jelas dalam perjanjian penangguhan. 2) Instansi yang menahan menetapkan besarnya jumlah uang yang harus

ditanggung oleh penjamin, yang disebut “uang tanggungan”. Surat perjanjian penangguhan penahanan juga harus memuat besarnya “uang yang harus ditanggung” oleh orang yang menjamin apabila tersangka atau terdakwa melarikan diri. Besarnya uang tanggungan itu ditetapkan oleh instansi yang menahan. Dalam jaminan orang, uang tanggungan tidak segera disetor. Penyetoran masih harus tersedianya keadaan atau peristiwa lain yaitu apabila tersangka atau terdakwa melarikan diri. Uang tanggungan disetorkan apabila tersangka atau terdakwa melarikan diri dan sudah lewat tiga bulan tidak juga ditemukan.

3) Pengeluaran surat perintah/penetapan penangguhan didasarkan atas surat jaminan dari si penjamin. Pengeluaran surat perintah/ penetapan penangguhan didasarkan atas bukti “surat jaminan” dari penjamin yang disampaikan kepada instansi yang menahan. Dengan diserahkannya surat jaminan dari penjamin, instansi yang menahan dapat mengeluarkan surat perintah penangguhan penahanan. 4) Uang tanggungan wajib disetor oleh penjamin ke kas negara

melalui panitera pengadilan. Orang yang menjamin wajib menyetor uang tanggungan yang ditetapkan dalam perjanjian penangguhan penahanan:

a) Apabila tersangka atau terdakwa melarikan diri, b) Setelah lewat tiga bulan tidak ditemukan,

c) Penyetoran uang tanggungan ke kas negara dilakukan oleh orang yang menjamin melalui panitera Pengadilan Negeri. Dalam Pasal 36 ayat (3) PP No. 27 Tahun 1983 jo angka 8 huruf j Lampiran Keputusan Menteri Kehakiman No. M. 14-PW. 07.03/1983, pelaksanaan penyetoran uang tanggungan tidak diperlukan penetapan Pengadilan Negeri apabila yang menjamin secara sukarela melaksanakan penyetoran uang tanggungan kepada kepaniteraan Pengadilan Negeri yang untuk selanjutnya diserahkan kepada kas Negara sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam perjanjian penangguhan penahanan.

Apabila orang yang menjamin tidak melaksanakan kewajiban penyetoran uang tanggungan maka untuk memaksakan pemenuhan penyetoran orang yang menjamin, diperlukan “penetapan” Pengadilan Negeri. Penetapan itu berisi perintah kepada jurusita pengadilan untuk melakukan “sita eksekusi” terhadap barang milik orang yang menjamin. Pelaksanaan sita eksekusi atau executorial beslag dan pelelangan dilakukan jurusita sesuai dengan hukum acara perdata. Oleh karena itu proses pelaksanaan penyetoran dan pelelangan dilakukan sesuai ketentuan Pasal 197 HIR atau Pasal 208 RBG. Dengan demikian, sita eksekusi terhadap harta orang yang menjamin, oleh Pasal 35 ayat (3) PP No. 27 Tahun 1983 dipersamakan dengan executorial beslag terhadap harta debitur berdasar putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap guna memenuhi pembayaran utang kepada pihak kreditur.

Ketua Pengadilan Negeri dapat memerintahkan untuk meletakkan sita eksekusi atas harta orang yang menjamin dengan ketentuan didahulukan penyitaan terhadap harta yang bergerak sesuai dengan ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata jo. Pasal 197 ayat (1) HIR. Jika harta yang bergerak belum memenuhi jumlah pelunasan uang tanggungan yang ditetapkan dalam perjanjian penangguhan, barulah penyitaan dilanjutkan terhadap harta yang tidak bergerak sampai dianggap cukup untuk melunasi jumlah uang tanggungan. Penjualan lelang atas sita eksekusi dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum acara perdata yang diatur dalam Pasal 220 HIR atau Pasal 215 RBG.

Setelah jurusita selesai melaksanakan peletakan sita eksekusi atas harta kekayaan orang yang menjamin, disusul dengan pelaksanaan penjualan lelang sesuai dengan apa yang diatur dalam hukum acara perdata. Hasil penjualan lelang tersebut disetor ke kas negara melalui panitera sesuai dengan jumlah uang tanggungan yang ditetapkan dalam perjanjian penangguhan. Jika hasil penjualan lelang masih kurang,

Ketua Pengadilan Negeri dapat lagi mengeluarkan surat penetapan kepada jurusita untuk meletakkan sita eksekusi lanjutan terhadap harta milik orang yang menjamin, sampai terpenuhi pelunasan penyetoran uang tanggungan yang ditetapkan.

8.3. Mekanisme pengeluaran tahanan karena penangguhan penahanan

Tata cara pengeluaran tahanan karena penangguhan penahanan diatur dalam Pasal 25 Peraturan Menteri kehakiman No. M.04.UM.01.06/1983. Mekanismenya sebagai berikut:

a. Pengeluaran tahanan karena penangguhan penahanan harus berdasarkan surat perintah/penetapan pengeluaran tahanan dari instansi yang menahan.

b. Dalam pembebasan tahanan dimaksud Petugas Rutan harus: (i) Meneliti surat perintah/penetapan pengeluaran tahanan dari instansi yang menahan; (ii) Membuat berita acara pengeluaran tahanan dari Rutan, dan menyampaikan tembusan kepada instansi yang menahan; (iii) Mencatat surat-surat penangguhan penahanan dan mengambil cap sidik jari tengah dari tangan kiri tahanan yang bersangkutan ke dalam register yang disediakan; (iv) Memeriksa kesehatan tahanan ke dokter Rutan, dan menyampaikan hasilnya kepada instansi yang menahan dan kepada tahanan; dan (v) Menyerahkan barang-barang milik tahanan yang ada dan dititipkan kepada Rutan dengan berita acara dan mencatat dalam register yang disediakan.

8.4. Pencabutan penangguhan penahanan

Berdasarkan Pasal 31 ayat (2) KUHAP, penyidik, penuntut umum dan hakim berwenang untuk sewaktu-waktu mencabut kembali penangguhan penahanan apabila tersangka atau terdakwa “melanggar” syarat-syarat yang ditentukan.

Dalam dokumen memetakan situasi penahanan (Halaman 96-108)