SITUASI UPAYA KESEHATAN
B. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
Akses dan mutu pelayanan kesehatan merupakan kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Saat ini akses dan mutu pelayanan kesehatan diidentifikasi melalui proses perencanaan yang berbasis kesetaraan gender, hal ini dilakukan dalam upaya memenuhi sumber daya dan memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ada 2 (dua) faktor utama yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan yakni pelayanan kesehatan yang di harapkan (expected services) dan pelayanan yang dirasakan (perceived services). Selain peningkatan sarana pelayanan dan mutu pelayanan kesehatan, akses terhadap pelayanan kesehatan juga dapat melalui program Jaminan Pelayanan Kesehatan secara menyeluruh (Universal Coverage).
Untuk mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat, pemerintah telah mengupayakan melalui Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2011 tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN) untuk menjamin seluruh rakyat agar mampu memenuhi kebutuhan dasar yang layak, termasuk didalamnya kesehatan. Hal ini diperkuat dengan di syahkannya UU BPJS II pada bulan Oktober 2011.
Prioritas pembangunan daerah di bidang kesehatan yakni dengan pemberian jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, peningkatan pelayanan pos pelayanan terpadu, pusat kesehatan masyarakat pembantu (Pustu) dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) ditingkat Kabupaten / Kota serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam peningkatan pelayanan pos kesehatan ditingkat desa. Di Provinsi Gorontalo telah di kembangkan program Jaminan Kesehatan Semesta (JAMKESTA) yang terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Latarbelakang adanya Jamkesta ini yakni dari banyaknya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan terutama masyarakat miskin yang dilihat dari banyaknya penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Desa / Kelurahan, hal ini
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 68 menandakan masih banyaknya masyarakat miskin yang belum tercover dengan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang merupakan program pemerintah pusat ke daerah. Hingga saat ini sebanyak 235.058 penduduk yang telah dicover dan dilayani di tahun 2014 dari 1.144.586 jumlah penduduk ditahun tersebut, sedangkan sebanyak 504.292 penduduk telah tercover Jamkesmas. Berikut data kepesertaan Jaminan Kesehatan di Provinsi Gorontalo selengkapnya :
Tabel :4.1
Kondisi Kepesertaan Jaminan Kesehatan di Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Seksi Promkes dan JPKM Dinkes Prov. Gorontalo Tahun 2014
Dari tabel diatas dapat dilihat penduduk dengan kepesertaan jaminan kesehatan beserta realisasinya ditahun 2014. Begitupun dengan penduduk mampu yang saat ini keseluruhan jaminan kesehatan baik penduduk miskin dan penduduk mampu telah dicober dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan yang bertujuan agar seluruh masyarakat dapat memiliki jaminan kesehatan yang adil dan merata. Program ini juga didukung oleh Dinas kesehatan dan RSUD Kabupaten / Kota dalam hal pendataan peserta dan pelayanan peserta. Pelaksanaan jaminan kesehatan ini juga diupayakan dalam rangka membangun kesadaran hidup sehat untuk mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional.
Akses dan mutu pelayanan kesehatan di Provinsi Gorontalo juga dapat dilihat dari pelayanan kesehatan penduduk miskin, pelayanan kesehatan usia lanjut, pelayanan kesehatan gigi dan mulut dan jaminan pemeliharaan kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 69 Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut dengan jumlah penduduk usia lanjut 77.737 (Laki – laki 35.149 jiwa, Perempuan 42.588 jiwa) yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebagai berikut:
Gambar :4.8
Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (Usila) 60 Tahun ke Atas Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Tahun 2014
Upaya pelayanan kesehatanusia lanjut adalah suatu upaya yang menyeluruh pada usia lanjut meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Kegiatan upaya kesehatan usia lanjut ditingkat puskesmas secara khusus yakni penyuluhan, deteksi dan diagnosa dini usia lanjut, diagnosa kelainan usia lanjut, proteksi dan tindakan khusus pada usia lanjut dan pemulihan. Sedangkan secara umum dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pokok puskesmas lainnya yang terkait.Peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan usia lanjut ialah peran serta masyarakat baik sebagai pemberi pelayanan maupun penerima pelayanan yang berkaitan dengan mobilisasi sumber daya, dalam pemecahan masalah usia lanjut, dalam bentuk pelaksanaan, pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan usia lanjut.
Tahun 2013 persentase pelayanan terhadap usia lanjut mencapai 59,37% yang terdiri dari capaian pelayanan penduduk usila laki – laki sebanyak 56,93% dan pelayanan terhadap usila perempuan sebanyak 61,48%. Dibandingka dengan tahun 2014 capain ini mengalami penurunan yakni dengan capaian 57,77% yang terdiri dari Laki – laki 56,50% dan perempuan 58,83%.Pelayanan
92.58 70.09 5.34 15.00 67.51 28.16 56.50 93.95 77.84 6.38 9.97 38.41 28.05 58.83 0 20 40 60 80 100 KOTA GTLO KAB. GTLO KAB. BOALEMO KAB. POHUWATO KAB. BONBOL KAB. GORUT PROV
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 70 kesehatan usia lanjut sudah terprogram dan dilaksanakan baik di tingkat posyandu, pustu, poskesdes maupun puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar di daerah, namun permasalahan rendahnya cakupan yang timbul karena proses pencatatan dan pelaporan yang tidak dilaksanakan.
2. Pelayanan Kesehatan Jiwa
Untuk mewujudkan program Indonesia Bebas Pasung, yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada tahun 2010 di Jakarta, maka pada tahun 2011 Provinsi Gorontalo menindak lanjuti program tersebut, sampai dengan saat ini. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatkan mutu dan akses pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat yaitu berupa pelayanan kesehatan langsung kepada penderita gangguan jiwa berat yang ada di rumah. Kegiatan ini dilaksanakan bersama pemegang program jiwa di Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas setempat. Selain itu dilaksanakan penyuluhan kesehatan terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya, dimana dukungan sangat diperlukan dalam penyembuhan penderita yaitu dalam hal kepatuhan minum obat. Penyuluhan lainnya yang disampaikan adalah bahwa gangguan jiwa dapat disembuhkan, serta menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderiata gangguan jiwa.
Untuk peningkatan keterampilan petugas kesehatan dokter dan perawat dalam hal menangani penderita gangguan jiwa telah dilaksanakan di Provinsi Gorontalo melalui Dana Dekonsentrasi. Namun belum semua petugas program kesehatan jiwa di puskesmas yang dilatih.
Yang menjadi kendala besar sampai dengan saat ini, belum adanya dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) di Provinsi Gorontalo. Selama ini yang dilakukan adalah berkonsultasi langsung dengan psikiater dari Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Selain itu kendala lainnya yang dihadapi yakni tidak adanya dukungan keluarga dari beberapa keluarga penderita. Dan yang paling utama belum ada Rumah Sakit Jiwa untuk Provinsi Gorontalo
Tingginya kasus penderita gangguan jiwa, tentunya penyebabnya selain faktor keturunan juga antara lain karena masalah ekonomi, masalah keluarga dan masalah sosial lainnya.
Berikut data jumlah penderita gangguan jiwa berat di Kabupaten Kota se- Provinsi Gorontalo keadaan sampai dengan Desember 2014.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 71
Jumlah Penderita Gangguan Jiwa Berat, Yang di Pasung dan Bebas Pasung Di Provinsi Gorontalo sampai dengan Tahun 2014
DATA PASIEN GANGGUAN JIWA BERAT, YANG DI PASUNG DAN BEBAS PASUNG
DI PROVINSI GORONTALO TAHUN 2011 s/d 2014 NO KAB/KOTA Ggn Jiwa Berat Yang di Pasung Bebas Pasung 1. Kota Gorontalo 118 5 3 2. Kabupaten Gorontalo 118 18 15 3. Kabupaten Boalemo 45 4 4 4. Kabupaten Pohuwato 36 8 4
5. Kabupaten Bone Bolango 67 11 10
6. Kabupaten Gorontalo Utara
69 37 33
T O T A L 453 83 69
Tabel diatas menunjukkan jumlah pasien gangguan jiwa berat di Provinsi Gorontalo sebanyak 453 orang dan 83 orang diantaranya mengalami tindakan pemasungan, dengan pemberian terapi obat antipsikotik baik injeksi maupun oral secara berkala di Puskesmas melalui bantuan obat yang di peroleh dari Kementerian Kesehatan RI, serta tidak kalah pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat sehingga 69 orang berhasil dibebaskan dari pemasungan sampai dengan tahun 2014. Sedangkan 14 orang diantaranya yang belum bebas pasung walaupun sudah mendapatkan pengobatan namun keluarga penderita belum bersedia untuk melepaskan pasungnya karena trauma waktu yang lalu berupa tindak kekerasan.
3. Pelayanan Kesehatan Tradisional
Pelayanan kesehatan tradisional berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 103 tahun 2014 adalah penerapan kesehatan tradisional yang menfaat dan keamanannya terbukti secara empiris dengan memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural dalam penjelasan manfaat dan keamanannya terbukti secara ilmiah.Di Provinsi Gorontalo program kesehatan tradisional, alternative, komplementer dan kesehatan kerja merupakan rangkaian kegiatan penunjang untuk pencapaian program MDG’s dalam menurunkan angka kematian ibu dan
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 72 anak serta pencegahan penyakit. Berikut bentukpembinaan pelayanan kesehatan tradisional, alternative dan komlementer Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Tabel :4.3
Pembinaan Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Seksi Kestrad Alkom dan Kesker Dinkes Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Berdasarkan data diatas bahwa jumlah pengobatan tradisional di Provinsi Gorontalo sebanyak 3215, jumlah ketrampilan tradisional ini lebih rendah dibandingkan ditahun 2013 yakni sejumlah 3320 jenis pengobatan dan yang paling banyak adalah Batra Pijat Urut sebanyak 1220. Dari keseluruhan pengobatan tradisional baru satu orang pengobat yang memiliki Surat Terdaftar Pengobatan Tradisional (STPT) yaitu batra yang ada di Kabupaten Bone Bolango. Disamping itu upaya peningkatan kapasitas petugas pengelola kestrad terus dilaksanakan melalui pelatihan-pelatihan baik yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan RI maupun Dinas Kesehatan Provinsi dan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), sebanyak 27 orang petugas yang dilatih keterampilan battra dan pembinaan tanaman obat keluarga sebanyak 34 Toga. Berikut data penyehatan tradisional menurut jenis selengkapnya dapat dilihat sebagai berikut : JENIS KETRAMPILAN JENIS RAMUAN TOTAL BATTRA ASING BATTRA DG SIPT BATTRA DG STPT BATTRA LAINNYA TOTAL JLH KUNJUNGAN PASIEN DIRUJUK KE RS/PKM PETUGAS DILATIH KADER DILATIH BATTRA DILATIH TOGA DIBINA 1 KOTA GORONTALO 10 50 413 29 442 0 0 0 0 0 31 0 445 8 0 0 2 2 KAB. GORONTALO 21 87 726 32 758 0 0 0 0 0 8 0 667 5 0 0 12 3 KAB. BOALEMO 11 82 327 0 327 0 0 0 0 0 0 0 169 3 0 0 0 4 KAB. POHUWATO 16 88 661 107 768 0 0 0 0 0 0 0 540 3 0 0 1 5 KAB. BONBOL 21 165 559 79 638 0 0 1 0 1 0 0 663 4 0 0 1 6 KAB. GORUT 15 114 529 166 695 0 0 0 0 0 2 0 565 4 0 0 18 PROV. GORONTALO 93 586 3215 413 3628 0 0 1 0 1 41 0 3049 27 0 0 34 KUNJUNGAN PASIEN JLH FASILITAS KESTRAD PENGEMBANGAN NO KAB/KOTA JLH PKM JLH DESA / KEL
BATTRA YANG DA METODE YANG
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 73 B A T T R A P IJ A T U R U T B A T T R A P A T A H T U L A N G B A T T R A S U N A T B A T T R A D U K U N B A Y I B A T T R A P IJ A T R E P L E K S I A K U P R E S U R IS A K U P U N T U R IS