Perdarahan Hipertensi InfeksiLain - Lain
10. Cakupan Desa / Kelurahan terkena KLB di tangani < 24 jam
Kejadian Luar Biasa (KLB) menurut Departemen Kesehatan RI dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004 dijelaskan sebagaitimbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 49 Frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular
Provinsi GorontaloTahun 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kab / Kota Tahun 2014
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa penyakit menular yang paling banyak meneyebabkan KLB (kejadian Luar Biasa) selama Tahun 2014 di Provinsi Gorontalo adalah DBD, Chikungunyah, Diare, rabies. Berdasarkan data ini maka dapat dilakukan intervensi berdasarkan prioritas masalah khususnya dalam penanggulangan penyakit menular. Target Nasional Kejadian Luar Biasa (KLB) ditangani < 24 jam adalah 90% pada Tahun 2013, KLB yang paling sering terjadi pada tahun 2014 adalah DBD dengan frekuensi sebanyak 46 kasus, kemuadian Chikungunyah sebanyak 26 kasus. Selain KLB DBD dan Chikungunya terdapat pula Diare, Rabies, AFP, Keracunan Makanan, Hepatitis A dan Malaria.Jumlah KLB selengkapnya dapat dilihat di lampiran profil ini.
C. Status Gizi Masyarakat
Status gizi dan kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, semakin jelas dengan adanya bukti bahwa status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilannya dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis. Periode seribu hari, yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 50 Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variable pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan panjang tungkai (Gibson, 1990). Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang yang memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin (Almatsir, 2001). Gambaran status gizi masyarakat di Provinsi Gorontalo dapat dilihat dari indikator sebagai berikut :
1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants atau Berat Bada Lahir Rendah (BBLR).
Keadaan BBLR di Provinsi Gorontalo pada tahun 2012 berjumlah 560 bayi atau 2,9% dan meningkat pada tahun 2013 yakni 721 bayi atau 3,5% dan meningkat pada tahun 2014 yakni 829 bayi atau 4,2%. Penyebab adanya BBLR ini diakibatkan oleh faktor kesehatan ibu pada saat hamil antara lain penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, Diabetes Melitus, Toksemia Gravidarum dan Nefritis Akut. Selain itu, faktor usia ibu hamil juga sangat mempengaruhi terjadinya BBLR, usia yang masih muda pada ibu hamil banyak mengakibatkan kejadian prematuritas tertinggi di masyarakat. Data BBLR Kabupaten / Kota selengkapnya dapat dilihat dari gambar berikut :
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 51 Jumlah dan Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Tahun 2014
Gambar diatas menunjukkan jumlah kejadian bayi BBLR tertinggi di Kabupaten Gorontalo yakni 250 bayi dengan BBLR dan jumlah kejadian bayi BBLR terendah di Kabupaten Pohuwato yakni 68 bayi dengan BBLR. Persentase kejadian BBLR tertinggi di Kabupaten Boalemo yakni 8,0% dan terendah di Kota Gorontalo yakni 1,9%. Kejadian BBLR diakibatkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah kesehatan ibu selama hamil dan pemeriksaan ibu hamil pada sarana kesehatan serta yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku kesehatan ibu hamil. Faktor lain yang berpengaruh yakni kualitas dari pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu dan terintegrasi yang kurang maksimal. Jika kualitas ANC baik maka penemuan / deteksi dini faktor resiko ibu hamil dapat diatasi sejak dini pula. Saat ini intervensi yang sering dilakukan cenderung setelah bayi dilahirkan bukan pada saat ibu hamil melalui pengawasan pada ibu yang mempunyai faktor resiko tertentu.
Upaya jangka pendek yang dilakukan melalui perencanaan terpadu untuk pelayanan ANC sesuai waktu pelaksanaan ANC yang harus dilakukan, misalnya pada saat ibu hamil trimester pertama sampai ketiga dilakukan pengawasan bagi ibu yang beresiko sehingga kasus BBLR dapat diatasi sejak dini dengan membuat program konsumsi makanan dan vitamin bagi ibu hamil.
Upaya jangka panjang yang dilakukan yakni peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan kepada masyarakat, yang saat ini telah dilakukan dan merupakan program inovasi Dinas
93% 94% 95% 96% 97% 98% 99% 100% 73 250 205 68 120 113 829 1.9 3.9 8.0 2.8 4.7 5.2 4.2 Jlh %
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 52 Kesehatan Provinsi Gorontalo yang telah dilakukan sejak tahun 2008 melalui pembelajaran Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo baik pembelajaran formal di SD, SMP, dan SMA, non formal dalam bentuk pelatihan dan sosialisasi serta in formal di tingkat rumah tangga. Upaya jangka panjang ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi baru lahir, serta lahir mati sebagai akibat dari penyebab yang dapat dicegah dan menurunkan prevalensi kekurangan gizi.
Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa kondisi kejadian BBLR di Provinsi Gorontalo secara nasional berada pada peringkat ke-6 yakni 13,2% di atas rata-rata nasional yakni 10,2%, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar :3.29
Kecenderungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada balita Indonesia Tahun 2010 dan 2013
Sumber : Riskesdas Tahun 2010, 2013
Hasil Riskesdas tahun 2013 se Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa kejadian BBLR tertinggi di Kabupaten Pohuwato yakni 22,4% dan terendah di Kabupaten Gorontalo Utara yakni 4,8%, hal ini dapat dilihat pada gambar berikut :
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 53 Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada balita
Di Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Riskesdas 2013
2. Kasus Gizi Buruk
Guna mengukur tingkat status gizi masyarakat di Provinsi Gorontalo pemerintah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melaksanakan kegiatan Surveilans Gizi dan Pemantauan Status Gizi (PSG) yang merupakan tindakan dan perhatian terhadap kasus gizi buruk yang terjadi. Gizi buruk merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus, serta perlu penanganan yang cermat dan sistematik, hingga diketahui akar penyebabnya dan selanjutnya disiapkan program strategik untuk mencegah agar kasus gizi buruk tidak terjadi, dan kasus gizi kurangyang ada tidak jatuh ke kasus gizi buruk. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah antara lain melalui revitalisasi Posyandu dalam meningkatkan kapasitasnya mendukung pelaksanaan surveilans gizi atau Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)-Gizi.
Pemantauan Status Gizi (PSG) adalah salah satu metode penilaian status gizi penduduk, khususnya anak balita, dan merupakan bagian dari Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Sedangkan KADARZI adalah keluarga yang mampu mengenali masalah gizi anggota keluarganya dan mampu mengatasi masalah tersebut baik sendiri maupun dengan bantuan pihak lain. Melalui pelaksanaan PSG-KADARZI diharapkan tersedia informasi status gizi balita dan perilaku keluarga sadar gizi yang terintegrasi secara berkala. Hal ini bermanfaat untuk keperluan perencanaan, penetapan kebijakan dan evaluasi program perbaikan gizi, (Laporan PSG Provinsi
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 54 Gorontalo, 2013). Persentase status gizi di Provinsi Gorontalo dapat dilihat dari gambar berikut :
Gambar : 3.31
Jumlah Kasus Gizi Buruk di temukan Kabupaten / Kota Provinsi Gorontalo Tahun 2014
Sumber : Profil Dinas kesehatan Kab/Kota tahun 2014
Gambar :3.32
Persentase Gizi Kurang, Gizi Buruk dan Prevalensi Kurang Gizi Tahun 2013
Sumber : Laporan PSG Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Tahun 2013
Gambar diatas menunjukkan gambaran status gizi yang dilihat dari indikator Prevalensi kekurangan gizi yakni gizi buruk dan gizi kurang. Dari hasil pemantauan status gizi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo diperoleh hasil capaian gizi kurang di Provinsi Gorontalo mencapai 8,1%, kontribusi terbesar ada pada Kabupaten Pohuwato yakni 10,9%
-100 200 300 400 500 600 700 32 321 111 59 35 50 608 47 324 92 65 47 17 592 2013 2014
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 55 tertinggi ada pada Kabupaten Gorontalo sejumlah 3,4%. Angka ini terus mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hasil survey PSG di tahun 2012 dimana prevalensi gizi kurang mencapai 14,44% menurun di tahun 2013 hingga mencapai 10,3%.
Upaya perbaikan gizi di Provinsi Gorontalo dilakukan dengan 2 (dua) strategi yakni strategi jangka pendek dan strategi jangka panjang.
1. Strategi jangka pendek penanganan masalah gizi pada balita gizi buruk dan ibu hamil KEK dan Anemiamelalui Pusat Pemulihan Gizi (PPG) atau
Theurapeutic Feeding Center (TFC). Sampai saat ini seluruh
Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo telah memiliki PPG/TFC dan 2 (dua) diantaranya sudah menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan yakni Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Bone Bolango.
2. Strategi jagka penjang pencegahan masalah gizi dan kesehatan melalui pembelajaran Ilmu Gizi Berbasis Makanan Khas Daerah Gorontalo baik pembelajaran formal di SD, SMP, dan SMA, non formal dalam bentuk pelatihan dan sosialisasi serta in formal di tingkat rumah tangga. Upaya jangka panjang ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi baru lahir, serta lahir mati sebagai akibat dari penyebab yang dapat dicegah dan menurunkan prevalensi kekurangan gizi.
Selain itu, program nasional yang saat dilaksanakan di Provinsi Gorontalo, yakni Gerakan Nasional Sadar Gizi. Intervensi gizi dalam upaya Gerakan Nasional Sadar Gizi melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek merupakan tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh Sektor Kesehatan dalam bentuk imunisasi, pemberian PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Eksklusif, MP-ASI dan sebagainya. Sedangkan intervensi sensitive adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sector kesehatan yang sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 56