• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : AKIBAT HUKUM TERHADAP MINUTA AKTA YANG TIDAK

A. Tinjauan Umum Tentang Akta

1. Akta Otentik

Akta otentik adalah akta yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu oleh penguasa, menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, baik dengan maupun tanpa bantuan dari yang berkepentingan, yang mencatat apa yang dimintakan untuk dimuat di dalamnya oleh yang berkepentingan.118 Akta otentik terutama memuat keterangan seorang pejabat, yang menerangkan apa yang dilakukannya dan dilihat di hadapannya.

Dalam pasal 165 HIR dan 285 Rbg, akta otentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu, merupakan bukti yang lengkap antara para pihak dan para ahli warisnya dan mereka yang mendapat hak daripadanya tentang yang tercantum di dalamnya dan bahkan sebagai pemberitahuan belaka, akan tetapi yang terakhir ini hanya diberitahukan itu berhubungan dengan perihal pada akta itu. Pejabat yang dimaksudkan antara lain ialah Notaris, Panitera, Jurusita, Pegawai Pencatat Sipil, Hakim dan sebagainya.

Dalam Pasal 101 ayat (a) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyatakan bahwa akta otentik adalah surat yang diuat

118 Nurul Alida Hanum Siregar, Tanggung Jawab Notaris Terhadap Akta Autentik yang Dibuat Dihadapannya, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, h.50.

oleh atau di hadapan seorang pejabat umum, yang menurut peraturan perundang-undangan berwenang membuat surat itu dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum di dalamnya.

Kewenangan utama dari Notaris adalah untuk membuat akta otentik, untuk dapat suatu akta memiliki otensitasnya sebagai akta otentik maka harus memenuhi ketentuan sebagai akta otentik yang diatur dalam Pasal 1868 KUHPerdata, yaitu:

a) Akta itu harus dibuat oleh (door) atau dihadapan (tenberstaan) seorang pejabat umum, yang berarti akta-akta Notaris yang isinya mengenai perbuatan, perjanjian dan ketetapan harus menjadikan Notaris sebagai pejabat umum.

b) Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang, maka dalam hal suatu akta dibuat tetapi tidak memenuhi syarat ini maka akta tersebut kehilangan otensitasnya dan hanya mempunyai kekuatan sebagai akta di bawah tangan apabila akta tersebut ditandatangani oleh para penghadap (comparanten) c. Pejabat umum oleh atau di hadapan siapa akta tersebut dibuat, harus mempunyai

wewenang untuk membuat akta tersebut, sebab seorang Notaris hanya dapat melakukan atau menjalankan jabatannya di dalam daerah hukum yang telah ditentukan baginya. Jika Notaris membuat akta yang berada di luar daerah hukum jabatannya maka akta yang dibuatnya menjadi tidak sah.119

Menurut C.A.Kraan, akta otentik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a) Suatu tulisan dengan sengaja dibuat semata-mata untuk dijadikan bukti atau suatu bukti dari keadaan sebagaimana disebutkan di dalam tulisan dibuat dan dinyatakan

119Ibid.

oleh pejabat yang berwenang. Tulisan tersebut turut ditandatangani oleh atau hanya ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan saja.

b) Suatu tulisan sampai ada bukti sebaliknya, dianggap berasal dari pejabat yang berwenang.

c) Ketentuan peraturan perundang-undangan yang harus dipenuhi; ketentuan tersebut mengatur tata cara pembuatannya (sekurang-kurangnya memuat ketentuan-ketentuan mengenai tanggal, tempat dibuatnya akta suatu tulisan, nama dan kedudukan atau jabatan pejabat yang membuatnya)

d) Seorang pejabat yang diangkat oleh negara dan mempunyai sifat dan pekerjaan yang mandiri serta tidak memihak dalam menjalankan jabatannya.

e) Pernyataan atau fakta dari tindakan yang disebut oleh pejabat adalah hubungan hukum di dalam bidang hukum privat.120

2. Akta di Bawah Tangan

Akta dibawah tangan adalah akta yang dibuat serta ditandatangani oleh para pihak yang bersepakat dalam perikatan atau antara para pihak yang berkepentingan saja.

Menurut Sudikno Mertokusumo, akta dibawah tangan adalah akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak tanpa bantuan dari seorang pejabat.

Jadi semata-mata dibuat antara pihak yang berkepentingan.121

120 Herlien Soerojo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, Arkola, Surabaya, 2003, h.148.

121 Sudikno Mertokusumo, Op.Cit., h.125.

Dalam Pasal 101 ayat (b) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyatakan bahwa akta dibawah tangan adalah surat yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum di dalamnya.

Dalam Pasal 1874 KUHPerdata, menyatakan bahwa yang dianggap sebagai tulisan di bawah tangan adalah akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulisan-tulisan yang lain yang dibuat tanpa perantara seorang pejabat umum.

Adapun yang termasuk akta di bawah tangan adalah:

a) Legalisasi

Yaitu akta dibawah tangan yang belum ditandatangani, diberikan pada Notaris dan dihadapan Notaris ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan, setelah isi akta dijelaskan oleh Notaris kepada mereka. Pada legalisasi, tanda tangannya dilakukan dihadapan yang melegalisasi.

b) Waarmerken

Yaitu akta dibawah tangan yang didaftarkan untuk memberikan tanggal yang pasti.

Akta yang sudah ditandatangani diberikan kepada Notaris untuk didaftarkan dan beri tanggal yang pasti. Pada waarmerken tidakmenjelaskan mengenai siapa yang

menandatangani dan apakah penandatangan memahami isi akta. Hanya mempunyai kepastian tanggal saja dan tidak ada kepastian tanda tangan.122

Perbedaan antara akta otentik dengan akta di bawah tangan adalah sebagai berikut:

a) Akta Otentik – Pasal 1868 KUHPerdata

1) Akta otentik dibuat dalam bentuk sesuai dengan yang ditentukan oleh Undang-Undang

2) Akta otentik mempunyai tanggal yang pasti (perhatikan Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris yang mengatakan “menjamin kepastian tanggalnya dan seterusnya)

3) Harus dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang

4) Grosse dari akta otentik dalam beberapa hal mempunyai kekuatan eksekutorial seperti putusan hakim. Terutama mengenai waktu, tanggal pembuatan, isi perjanjian, penandatanganan, tempat pembuatan dan dasar hukumnya.

5) Kemungkinan akan hilangnya akta otentik sangat kecil.

b) Akta di Bawah Tangan

1) Akta di bawah tangan tidak terikat bentuk formal, melainkan bebas.

2) Dapat dibuat bebas oleh setiap subjek hukum yang berkepentingan.

3) Tanggal dari akta yang dibuat di bawah tangan tidak selalu pasti.

4) Akta yang dibuat di bawah tangan tidak pernah mempunyai kekuatan eksekutorial.

122 A. Kohar, Notaris Berkomunikasi, Aumni, Bandung, 1984, h.34.

5) Kemungkinan akan hilangnya akta yang dibuat di bawah tangan lebih besar.

6) Apabila penandatanganan di akui oleh pihak yang menandatangani akta atau tidak disangkal kebenarannya, akta tersebut sama halnya seperti akta otentik.

3. Bentuk-Bentuk Akta Otentik

Dari pengertian yang terdapat dalam Pasal 1868 KUHPerdata maka bentuk akta otentik ada dua, yaitu:

a) Akta Partij atau akta pihak

Yaitu akta yang dibuat di hadapan Notaris. Artinya, akta yang dibuat berdasar keterangan atau perbuatan pihak yang menghadap Notaris, dan keterangan atau perbuatan itu agar dikonstatir oleh Notaris untuk dibuatkan akta.

b) Akta Relaas atau akta pejabat

Yaitu akta yang dibuat oleh Notaris sebagai pejabat umum yang memuat uraian secara otentik tentang semua peristiwa atau kejadian yang dilihat, dialami, dan disaksikan oleh Notaris sendiri. Misalnya berita acaraRUPS.123

Perbedaan antara akta partij dengan akta relaas adalah;

a) Akta partij atau akta pihak

Undang-Undang mengharuskan adanya penandatanganan oleh para pihak, dengan ancaman kehilangan otensitasnya atau hanya mempunyai kekuatan

123 F. Eka. Sumarningsih, Peraturan Jabatan Notaris, Semarang: Diktat Kuliah Program Studi Notariat, Fakultas Hukum, Universitas Dipenogoro,2001 h.7.

pembuktian sebagai akta di bawah setidak-tidaknya Notaris mencantumkan keterangan alasan tidak ditandatanganinya akta oleh salah satu pihak pada akhir akta, misalnya salah satu pihak mengalami cedera tangan sehingga tidak bisa menandatangani akta, sebagai ganti nya maka menggunakan cap jempol dan alasan tersebut harus dicantumkan dalam akta Notaris dengan jelas oleh Notaris yang bersangkutan.

b) Akta relaas atau akta pejabat

Tidak menjadi persoalan terhadap orang-orang yang hadir menandatangani akta atau tidak, akta tersebut masih sah sebagai alat pembuktian. Misalnya para pemegang saham telah pulang sebelum akta ditandatangani, Notaris cukup haya menerangkannya dalam akta.124

Perbedaan di atas sangat penting dalam kaitannya dengan pembuktian sebaliknya terhadap isi akta, dengan demikian terhadap kebenaran isi akta pejabat atau akta relaas tidak dapat digugat, kecuali dengan menuduh bahwa akta tersebut palsu, sedangkan pada akta partij atau pihak kebenaran, isi akta partij dapat digugat tanpa menuduh kepalsuannya dengan menyatakan bahwa keterangan dari pihak tidak benar.

Pembuatan akta, baik akta relaas maupun akta pihak, yang menjadi dasar utama atau inti dalam pembuatan akta otentik, yaitu harus ada keinginan atau kehendak (wilsvorming) dan permintaan dari para pihak, jika keinginandan

124 G.H.S. Lumban Tobing, S.H, Peraturan Jabatan Notaris, Op. Cit. h.52.

permintaan para pihak tidak ada, maka Pejabat Umum tidak akan membuat akta yang dimaksud.

4. Komparisi Merupakan Bagian Dari Akta Otentik

Kata ”komparisi” diambil dari kata Belanda ”comparitie,” yang ditiru dari perkataan Perancis “comparution” yang berarti ” tindakan menghadap dalam hukum atau didepan seorang notaris atau pejabat umum lain. Dalam dunia notariat perkataan

”komparisi” mengandung arti yang lebih luas. Komparisi tidak hanya persoalan apakah orang yang menghadap itu mempunyai kecakapan bertindak (rechtsbekwaam), tetapi juga apakah dia mempunyai hak untuk melakukan tindakan (rechtsbevoegd) mengenai soal yang dinyatakan (geconstateerd) dalam surat akta.125

Komparisi (comparitie: verschijning van partijen, menghadap) merupakan bagian suatu akta yang menyebutkan nama-nama para pihak yang membuat perjanjian, lengkap dengan penyebutan pekerjaan dan identitas serta tempat tinggal yang bersangkutan.

Perjanjian merupakan persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih baik tertulis maupun tidak tertulis, dimana masing-masing pihak sepakat untuk taat kepada persetujuan yang telah dibuat bersama.126

Identitas di sini bukan dalam arti jati diri yang menyebutkan ciri-ciri khusus seseorang, melainkan mengenai pekerjaan, tempat tinggal dan biasanya juga

125Tan Thong Kie, Op.Cit, h. 50.

126 Rudy Haposan Siahaan, Hukum Perikatan Indonesia Teori dan Perkembangannya, Intelegensia Media, Malang, 2017, h.37.

mencakup kewenangan para pihak sehingga yang bersangkutan berhak melakukan tindakan hukum sebagaimana dinyatakan dalam akta.127

Komparisi adalah uraian tentang posisi (kedudukan) seseorang yang menghadap seorang notaris, apakah dia bertindak untuk diri sendiri atau sebagai wakil orang lain ataupun dalam suatu kedudukan tertentu.Kemudian Lumban Tobing mendefinisikan komparisi adalah keterangan- keterangan dari notaris mengenai para penghadap atau atas permintaan siapa dibuat berita-acara.128

Para Penghadap harus dikenal atau diperkenalkan kepada notaris, hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 39 ayat (2) UUJN yang menyebutkan sebagai berikut:

”Penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang sanksi pengenal yang berumur paling sedikit 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukan perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2 (dua) penghadap lainnya.”

Yang dimaksud dengan Penghadap adalah mereka yang datang menghadap kepada notaris untuk membuat akta itu, bukan mereka yang diwakili dalam akta itu atau bukan mereka yang memberi kuasa, baik lisan maupun secara tertulis. Ketentuan ini tidak boleh diartikan terlalu luas, jadi tidak termasuk didalamnya orang-orang dengan siapa notaris berbicara pada pembuatan protes, para ahli yang melakukan penaksiran pada pembuatan surat pencatatan inpentaris, juga tidak termasuk mereka yang hadir dalam rapat, di mana dari apa yang dibicarakan dalam rapat itu oleh notaris dibuat berita acara.

127Widjaya, Op. Cit., h. 105.

128Lumban Tobing, Op. Cit., h. 215.

Seorang suami yang turut hadir pada pembuatan akta untuk membantu isterinya adalah penghadap dalam arti kata undang-undang.Notaris harus menjamin bahwa nama, pekerjaan, tempat tinggal yang disebutkan dalam akta itu adalah nama, pekerjaan, tempat tinggal yang dimaksudkan, bukan nama, pekerjaan, tempat tinggal dari orang lain atau sama sekali tidak ada, dipakai oleh seseorang.

Bagaimana caranya notaris memperoleh keterangan-keterangan tentang pengenalan itu, adalah urusan notaris sendiri. Notaris dapat memperoleh keterangan-keterangan itu dari orang-orang yang dikenalnya dan yang dipercayainya; notaris dapat melihat Kartu Tanda Penduduk (KTP), Paspor dan surat-surat lain dari orang-orang yang bersangkutan, meminta informasi dan masih banyak cara lain bagi notaris untuk meyakinkan dirinya, bahwa orang yang datang menghadap kepadanya adalah benar-benar adalah sama dengan orang yangnamanya dicantumkan dalam aktanya itu sebagaimana orang itu dikenal dalam masyarakat.

Pengenalan yang diharuskan oleh Undang-Undang ialah pengenalan (bekenheid) daripada penghadap (verschijnende personen) dan bukan dari para pihak (partijen), jadi bukan daripara pihak yang tidak hadir, yakni pihak melalui kuasa (partij door gemachtigde). Hal ini adalah logis, oleh karena dalam hal sedemikian, yang diberi kuasa itulah yang menerangkan kepada notaris, untuk dan atas nama siapa dia bertindak dan yang diberi kuasa itulah yang memberikan penjelasan-penjelasan/keterangan-keterangan mengenai orang yang memberi kuasa itu.

Jika dia memberikan keterangan-keterangan itu tidak secara lengkap ataupun keterangan yang diberikannya itu tidak benar, maka hal itu adalah urusannya sendiri

dan notaris yang bersangkutan tidak mempunyai tanggung jawab mengenai itu.

Notaris tidak mungkin mengenal setiap orang yang datang kepadanya, akan tetapi hal tidak boleh menyebabkan, bahwa seseorang yang tidak dikenal oleh notaris, tidak dapat membuat akta (otentik) dihadapan notaris. Untuk kepentingan masyarakat umum harus diciptakan kemungkinan, bahwa notaris, sekalipun dia tidak mengenal orang yang datang menghadap kepadanya untuk membuat suatu akta, dapat membuat akta otentik.

Apabila kemungkinan sedemikian tidak ada, maka sudah barang tentu notaris akan menolak permintaan seseorang yang tidak dikenalnya untuk membuat suatu akta. Itu pulalah sebabnya pembuat undag-undang memberikan jalan dengan cara memperkenalkan (bekendmaking) para penghadap oleh 2 (dua) orang saksi, yang mana dapat dikatakan sebagai pengganti (surrogaat) dari pengenalan (bekendheid).

Penghadap yang tidak dikenal oleh notaris dapat diperkenalkan kepadanya oleh dua orang saksi yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang- undang (KUH Perdata) untuk memberikan kesaksian di muka pengadilan.

Bila kita melihat uraian di atas, maka ada beberapa cara notaris mengenal penghadap, yaitu:

a) Notaris mengenal atau mengetahui dengan pengetahuannya sendiri penghadap;

b) Diperkenalkan atau diberitahukan oleh 2 (dua) orang saksi pengenal mengenai para pihak kepada notaris dalam arti bahwa notaris sebelumnya tidak

mengenal para pihak, namun setelah diperkenalkan atau diberitahukan oleh 2 (dua) orang saksi pengenal, maka notaris jadi mengenal para pihak;

c) Diperkenalkan atau diberitahukan oleh 2 (dua) orang penghadap lainnya mengenai para pihak kepada notaris, hal inipun sama dengan poin 2 (dua) di atas, dimana bahwa notaris sebelumnya tidak mengenal para pihak, namun setelah diperkenalkan atau diberitahukan oleh 2 (dua) orang penghadap lainnya, maka notaris jadi mengenal para pihak.

Komparisi terletak pada bagian badan akta, hal ini dapat dilihat dari Pasal 38 ayat (3) Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN), yang dimuat setelah judul dan awal akta, yang mengandung identitas para pihak atau pembuat perjanjian, termasuk uraian yang dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kecakapan (rechtsbekwaamheid) serta kewenangan (rechtshandelingen) sebagaimana dinyatakan dalam akta.

Jadi, komparisi mengandung beberapa fungsi, yaitu:

a) menjelaskan identitas para pihak yang membuat perjanjian/akta;

b) dalam kedudukan apa dan berdasarkan apa kedudukan yang bersangkutan bertindak;

c) bahwa ia cakap dan berwenang melakukan tindakan hukum yang disebutkan di dalam akta; dan ia mempunyai hak untuk melakukan tindakan yang dinyatakan dalam akta.129

129Widjaya, Op. Cit., h. 107.

Pembuat akta adalah orang atau para pihak yang menyatakan/berjanji tentang sesuatu di dalam akta. Paling tidak komparisinya mencakup identitas, wewenang dan dasar hukum dari wewenang tersebut.

a) Identitas

Identitas para penghadap dan/atau orang yang mereka wakili harus memuat:

1) Nama Lengkap;

2) Tempat dan Tanggal Lahir;

3) Kewarganegaraan;

4) Pekerjaan;

5) Jabatan;

6) Kedudukan;

7) Tempat Tinggal.

b) Kedudukan

Pembuat akta atau yang bersangkutan dapat bertindak:

1) Bertindak untuk dirinya sendiri;

Bertindak untuk diri sendiri yakni apabila ia dalam akta yang bersangkutan dengan jalan menandatanganinya, memberikan suatu keterangan atau apabila dalam akta itu dinyatakan adanya suatu perbuatan hukum yang dilakukannya untuk diri sendiri dan untuk mana ia telah menghendaki akta itu menjadi buktinya atau apabila dalam akta itu dinyatakan, bahwa ia ada meminta untuk dibuatkan akta itu bagi kepentingannya sendiri.

2) Sebagai kuasa atau penerima kuasa berdasarkan surat kuasa. Jadi, ia bertindak untuk dan atas nama orang ataupun badan hukum;

Untuk menjadi pihak (partij) dalam suatu akta tidak diharuskan, bahwa yang bersangkutan harus hadir sendiri dihadapan notaris, akan tetapi untuk itu seorang dapat mewakilkan dirinya dengan perantaraan orang lain, baik dengan kuasa tertulis maupun dengan kuasa lisan. Dalam hal yang demikian, maka yang mewakili (gemachtigde) itu adalah pihak (partij) dalam kedudukan selaku kuasa (in hoedanigheid), sedang orang yang diwakilinya itu adalah pihak (partij) melalui atau dengan perantaraan kuasa (door gemachtigde).130

3) Sebagai wakil atau mewakili, yaitu bertindak untuk dan atas nama yang diwakili berdasarkan peraturan atau perundang-undangan, misalnya:

(1) Wali mewakili anak di bawah umur atau pengampu bagi orang yang dibawah pengampuan

(2) Direktur mewakili Perseroan Terbatas atau diwakili komisaris.

(3) Menteri mewakili negara dalam keadaan khusus

4) Dengan bantuan atau persetujuan , karena memang memerlukan persyaratan khusus, misalnya:

(1) Suami/isteri, yang hendak menjual harta bersama. Untuk itu diperlukan bantuan atau persetujuan si suami atau si isteri.

(2) Anak di bawah umur, dapat membuat perjanjian kawin. Untuk itu perlu dibantu oleh orang yang seharusnya memberi ijin kawin.

130Lumban Tobing, Op. Cit., h. 149.

(3) Direktur Perseroan Terbatas yang dalam melakukan tindakan hukum tertentu memerlukan bantuan atau persetujuan seorang atau dua orang Komisaris Perseroan. Tentunya hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan tersebut.

5) Lebih dari satu status/peran ganda, misalnya disamping bertindak:

(1) Untuk diri sendiri, juga

(2) Sebagai pemegang kuasa atau lainnya, misalnya selaku pemegang saham.

5. Kekuatan Pembuktian Akta Otentik

Hal terpenting dalam masalah kekuatan pembuktian suatu akta otentik ialah kekuatan pembuktiannya yang lengkap. Bukti lengkap ialah bukti yang dapat menghasilkan kepastian yang cukup untuk mengabulkan akibat hukum yangdituntut oleh penggugat, tanpa mengurangi adanya kemungkinan bukti tentang kebalikannya.131

Menurut Pasal 1870 KUHPerdata, suatu akta otentik memberikan di antara para pihak beserta ahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat didalamnya. Akta otentik merupakan suatu bukti yang sempurna, dalam arti bahwa ia sudah tidak memerlukan

131 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Perdata: Menurut Teori Dan Praktik Peradilan Indonesia, Djambatan, jakarta, 1999, h.56.

suatu penambahan pembuktian. Ia merupakan suatu alat bukti yang mengikat dan sempurna.132

Akta Notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan nilai pembuktian sebagai berikut:

a) Lahiriah (Uitwendige Bewijskracht)

Kemampuan lahiriah akta Notaris merupakan akta itu sendiri untuk membuktikan kebasahannya sebagai akta otentik. Jika dilihat dari lahirnya sebagai akta otentik serta sesuai dengan aturan hukum yang sudah ditentukan mengenai syarat akta otentik, maka akta tersebut berlaku.

sebagai akta otentik, sampai terbukti sebaliknya, artinya sampai ada yang membuktikan bahwa akta tersebut bukan akta otentik secara lahiriah. Dalam hal ini beban pembuktian ada pada pihak yang menyangkal keontetikan akta Notaris yang bersangkutan, baik yang ada pada minuta dan salinan serta adanya awal akta sampai dengan akhir akta.133

b) Formal (Formale Bewisjskracht)

Akta Notaris harus memberikan kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta benar dilakukan oleh Notaris atau diterangkan oleh pihak-pihak yang menghadap pada saat yang tercantum dalam akta sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan dalam pembuatan akta. Secara formal untuk membuktikan kebenaran dan kepastian tentang hari, tanggal bulan, tahun, waktu menghadap, dan

132 Subekti, Hukum Pembuktian, PT. Pradnya Paramitha, Jakarta, 2005, h.27.

133 Habib Adjie, Op. Ci,t. h.72-74.

para pihak yang menghadap, saksi dan Notaris, serta membuktikan apa yang dilihat, disaksikan, didengar oleh Notaris (pada akta berita acara), dan mencatatkan keterangan atau pernyataan para pihak atau penghadap (pada akta pihak).134

Aspek formal dipermasalahkan oleh para pihak, maka harus dibuktikan formalitas dari akta, yaitu harus dapat membuktikan ketidakbenaran hari, tanggal, bulan, tahun, dan waktu menghadap, membuktikan ketidakbenaran apa yang dilihat, disaksikan, dan didengar oleh Notaris.135 Selain itu juga harus dapat membuktikan ketidakbenaran pernyataan atau kpeterangan para pihak yang diberikan atau disampaikan dihadapan Notaris, dan ketidakbenaran tanda tangan para pihak saksi, dan Notaris ataupun ada prosedur pembuatan akta yang tidak dilakukan.

Dengan kata lain,pihak yang mempermasalahkan akta tersebut harus melakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek formal dari akta Notaris.

Jika tidak mampu membuktikan ketidakbenaran tersebut, maka akta tersebut harus diterima oleh siapapun.

c) Materill (Materile Bewijskracht)

Kepastian tentang materi suatu akta sangat penting, bahwa apa yang tersebut dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum, kecuali ada pembuktian sebaliknya.136

134Ibid.

135Ibid.

136Ibid.

Keterangan atau pernyataan yang dituangkan atau dimuat dalam akta pejabat (atau berita acara), atau keterangan para pihak yang diberikan atau disampaikan di hadapan Notaris dan para pihak harus dinilai benar. Perkataan yang kemudian dituangkan atau dimuat dalam akta harus dinilai telah benar berkata demikian. Jika ternyata pernyataan atau keterangan para penghadap tersebut menjadi tidak benar, maka hal tersebut tanggungjawab para pihak sendiri. Dengan demikian isi akta Notaris mempunyai kepastian sebagai yang sebenarnya, menjadi bukti yang sah di

Keterangan atau pernyataan yang dituangkan atau dimuat dalam akta pejabat (atau berita acara), atau keterangan para pihak yang diberikan atau disampaikan di hadapan Notaris dan para pihak harus dinilai benar. Perkataan yang kemudian dituangkan atau dimuat dalam akta harus dinilai telah benar berkata demikian. Jika ternyata pernyataan atau keterangan para penghadap tersebut menjadi tidak benar, maka hal tersebut tanggungjawab para pihak sendiri. Dengan demikian isi akta Notaris mempunyai kepastian sebagai yang sebenarnya, menjadi bukti yang sah di