BAB III : AKIBAT HUKUM TERHADAP MINUTA AKTA YANG TIDAK
B. Akibat Hukum Terhadap Minuta Akta Yang Tidak Ditandatangani
1. Sanksi Terhadap Notaris Yang Tidak Melekatkan Sidik Jari
Melekatkan sidik jari pada minuta akta berarti membubuhkan sidik jari pada suatu lembar kertas terpisah yang dilekatkan pada minuta akta, yang merupakan suatu kewajiban hukum yang tidak menentukan keabsahan atau otentisitas suatu akta dan hanya berfungsi untuk menjamin kebenaran identitas penghadap. Sehingga terhadap pelanggarnya hanya dikenakan sanksi disiplinair yang tercantum di dalam Pasal 16 Ayat (11) undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
Undang-139Ibid.
140Ibid,. h.24.
Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN).
Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf a sampai dengan huruf l dapat dikenai sanksi berupa :
a.Peringatan tertulis;
b.Pemberhentian sementara;
c.Pemberhentian dengan hormat; atau d.Pemberhentian dengan tidak hormat.
Seorang notaris dapat dibebaskan dari sanksi disiplinair dalam Pasal 16 Ayat (11) UUJN, apabila dalam hal penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dan sidik jari pada minuta akta notaris, wajib menyebutkan alasannya secara tegas pada akhir minuta akta, sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 44 Ayat (1) dan (2) UUJN.
Dapat disimpulkan bahwa sanksi yang terdapat dalam Pasal 16 Ayat (11) Undang-Undang Jabatan Notaris, atas pelanggaran Pasal 16 Ayat (1) huruf c tersebut dapat dikategorikan sebagai sanksi administratif. Sanksi ini merupakan sanksi terhadap Notaris yang berkaitan dengan akta yang dibuat Notaris. Ada persyaratan tertentu atau tindakan tertentu yang tidak dilakukan atau tidak dipenuhi Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berupa kewajiban yang tercantum dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.141
Pada Pasal 16 ayat (11) Undang- Undang Jabatan Notaris menempatkan peringatan tertulis pada urutan pertama dalam pemberian sanksi. Hal ini merupakan
141Ibid., h. 1123.
suatu peringatan kepada Notaris yang jika tidak dipenuhi atau terjadi pelanggaran ditindaklanjuti dengan sanksi teguran tertulis.
Apabila sanksi seperti ini tidak dipatuhi juga oleh Notaris yang bersangkutan, maka dapat dijatuhi sanksi yang berikutnya secara berjenjang. Penempatan sanksi berupa teguran tertulis sebagai awal untuk menjatuhkan sanksi selanjutnya bukan termasuk sanksi administratif.
Di dalam sanksi administratif berupa paksaan pemerintah, sebelum dijatuhkan sanksi harus didahului dengan teguran tertulis, hal ini dimasukkan sebagai aspek prosedur paksaan nyata.
Menurut Habib Adjie, sanksi pemberhentian sementara Notaris dari jabatannya, dimaksudkan agar Notaris tidak melaksanakan tugas jabatannya untuk sementara waktu, sebelum sanksi berupa pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan tidak hormat dijatuhkan kepada Notaris.
Pemberian sanksi pemberhentian sementara ini dapat berakhir dalam bentuk pemulihan kepada Notaris untuk menjalankan tugas dan jabatannya kembali atau ditindaklanjuti dengan sanksi pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan tidak hormat.142
Di dalam menegakkan sanksi administratif terhadap Notaris yang menjadi instrumen pengawas yaitu Majelis Pengawas yang mengambil langkah-langkah preventif yang bertujuan mencegah terjadinya kesalahan dan penyimpangan pada
142 Defina Anggriani simangunsong, Analisis Yuridis Pelanggaran Notaris Terkait Dengan Tempat Kedudukan Dan Wilayah Jabatan Notaris DiKabupaten Simalungun, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, h.43.
suatu perbuatan hukum. Hal ini dilakukan untuk memaksakan kepatuhan, dan untuk menerapkan sanksi yang represif yang bertujuan guna memulihkan suatu perbuatan hukum yang dipandang salah, menyimpang serta merugikan pihak lain.
Lebih lanjut, Notaris Endang Soelianti menyatakan bahwa : “Selain sanksi terhadap Notaris itu berjenjang, pemeriksaan terhadap Notaris mengenai pelanggaran yang dilanggarnya juga berjenjang, yaitu memalui MPD, MPW hingga ke MPP”.143
Sehingga dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah preventif dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD) dengan melakukan pemeriksan secara berkala 1 (satu) kali dalam satu tahun atau setiap waktu yang dianggap perlu untuk memeriksa ketaatan Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya yang dilihat dari pemeriksaan protokolnya.
Kemudian MPD dapat memberitahukan kepada Majelis Pengawas Wilayah (MPW), jika atas laporan yang diterima MPD menemukan adanya unsur pidana.
Selanjutnya dapat diselenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris. Jika hasil pemeriksaan MPD menemukan pelanggaran, maka MPD tidak dapat menjatuhkan sanksi yang represif kepada Notaris, tetapi MPD hanya dapat melaporkan kepada MPW.
MPW dapat melakukan langkah preventif, yaitu menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil keputusan atas laporan masyarakat yang
143 Nurhapifah Asri Lubis, Penerapan Asas Keadilan Dalam Pelaksanaan Sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Jabatan Notaris Dan Etika Notaris, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, h. 27.
disampaikan melalui MPW dan memanggil Notaris sebagai terlapor untuk dilakukan pemeriksaan dan memutuskan hasil pemeriksaan MPD.
MPW dapat melakukan langkah refresif, yaitu menjatuhkan sanksi berupa teguran lisan atau tertulis dan sanksi ini bersifat final. Mengusulkan pemberian sanksi terhadap Notaris kepada Majelis Pengawas Pusat (MPP) berupa:
a.Pemberhentian sementara 3 (tiga) bulan sampai dengan 6 (enam) bulan, atau b.Pemberhentian dengan tidak hormat.
MPP tidak melakukan tindakan preventif, yaitu menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil keputusan dalam tingkat banding terhadap penjatuhan sanksi dan penolakan cuti, tetapi tindakan represif berupa menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara, dan mengusulkan pemberian sanksi berupa pemberhentian Notaris dengan tidak hormat kepada Menteri.
Jika dikaitkan dengan teori Cita Hukum, terlihat nilai kepastian mendominasi penegakan hukum yang membuat keadilan menjadi tidak berdaya dan nilai kegunaan tidak mampu menjadi sarana bagi hukum untuk melahirkan kemakmuran.
2. Otentisitas Minuta Akta Apabila Penghadap Penyandang Disabilitas Fisik Suatu akta otentik yang dalam pembuatannya dibubuhkan suatu tanda tangan pada akhir aktanya mengakibatkan akta itu menjadi sah dimata hukum dan dapat dijadikan alat bukti yang sempurna, selama dalam proses pembuatannya telah memenuhi ketentuan pasal 1320 KUHPerdata sebagai syarat sahnya perjanjian, Pasal
1868 KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang jabatan Notaris.144
Akta notaris memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna sebagai alat bukti dimata hukum sehingga hakim tidak perlu lagi menguji keotentikan akta tersebut, selama tidak ada pihak lain yang menyangkal isi akta tersebut.145 demikian pula halnya apabila suatu tanda tangan dibubuhkan dalam suatu akta dibawah tangan maka akta tersebut tetap sah dimata hukum dan memiliki kekuatan pembuktian sempurna, selama pihak yang menandatanganinnya tersebut menyangkal bahwa memang benar ia yang memiliki tanda tangan pada akta dibawah tangan tersebut.146
Apabila penghadap tidak dapat menandatangani akta dengan tangannya maka pada bagian akhir akta dijelaskan mengenai suatu keadaan dimana penghadap tidak dapat menandatangani akta dan oleh karenanya mengunakan tanda pengesahan dirinya yang lain yaitu penulisan dengan menggunakan mulut atau kakinya yang dapat di buat dengan komparisi sebagai berikut :
“ Segera akta ini saya, Notaris bacakan kepada para pihak dan saksi-saksi, maka akta ini ditandatangani oleh penghadap tuan X, saksi-saksi dan saya, Notaris sedangkan penghadap tuan Xy menuliskan tanda persetujuan dirinya dengan menggunakan kaki/mulutnya oleh karena tidak memiliki tangan atau jari tangan.”
144 Ida Ayu Putu Swandewi, Op.Cit., h. 35.
145 Widya Sujud Nadia, Kekuatan Hukum Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary Menurut Sistem Hukum di Indonesia, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018, h. 80.
146 Ibid., h.36.
Apabila penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan maka harus menyebutkan alasannya serta dinyatakan secara tegas dalam akta tersebut, sebagaimana di atur dalam ketentuan Pasal 44 ayat 1 dan 2 UUJN “ suatu akta tidak akan kehilangan otensitasnya apabila para penghadap tidak membubuhkan tanda tangannya, sepanjang keadaan tersebut dijelaskan dalam akta, sehingga apabila cap jempol atau ibu jari sebagai pengganti tanda tangan dalam pembuatan akta otentik tidak akan membawa akibat hukum yang mengakibatkan sebuah akta tersebut kehilangan keotentikannya.
Akta tersebut tetap sah secara hukum dan tetap memiliki nilai sebagai akta otentik walaupun tidak dibubuhkan cap jempol atau sidik jari sebagai pengganti tanda tangan karena keterangannya sebagai penghadap tersebutlah yang oleh notaris dijadikan sebagai dasar pengesahan akta dan keterangannya inilah yang diakui sebagai pengganti tanda tangan.
BAB IV
PENGGANTI TANDA TANGAN DAN SIDIK JARI TERHADAP PENGHADAP PENYANDANG DISABILITAS FISIK DALAM MENANDATANGANI DAN MEMBUBUHI SIDIK JARI PADA MINUTA
AKTA
A. Tinjauan Umum Kekuatan Pembuktian Menurut Hukum Perdata
Pembuktian adalah tahap terpenting dalam menyelesaikan perkara di pengadilan, karena bertujuan untuk membuktikan telah terjadinya suatu peristiwaatau hubungan hukum tertentu yang dijadikan dasar mengajukan gugatan ke pengadilan.
Melalui tahap pembuktianlah hakim akan memperoleh dasar-dasar untuk menjatuhkan putusan dalam menyelesaikan suatu perkara.
Acara pembuktian dilakukan baik oleh pihak penggugat maupun tergugat dalam persidangan untuk membuktikan adanya kejadian-kejadian atau peristiwa- peristiwa, juga untuk membuktikan adanya suatu hak.147
Proses pembuktian ini merupakan suatu susunan kesatuan untuk mencapai suatu tujuan, yaitu membuktikan kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan oleh para pihak, baik itu peristiwa, kejadian, maupun hak.148 Pembuktian itu sendiri diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatu sengketa di muka pengadilan (juridicto
147Efa Laela Fakhriah, Bukti Elektronik Dalam Sistem Pembuktian Perdata, Alumni, Bandung, 2009, h. 110.
148Ibid.
contentiosa) maupun dalam perkara-perkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan (juridicto voluntair).
Pembuktian yang dilakukan hakim dalam mengadili perkara untuk menentukan hubungan hukum yang sebenarnya terhadap pihak-pihak yang berperkara. Tidak hanya kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dapat dibuktikan tetapi adanya suatu hak juga dapat dibuktikan. Segala peristiwa yang menimbulkan sesuatu hak harus dibuktikan oleh yang menuntut hak tersebut, sedangkan peristiwa yang menghapuskan hak harus dibuktikan oleh pihak yang menyangkal hak tersebut.149
Munir Fuady dalam bukunya mengungkapkan sejarah mengenai hukum pembuktian. Dipaparkan bahwa hukum pembuktian merupakan salah satu bidang hukum yang cukup tua umurnya. Hal ini karena manusia dan masyarakat seprimitif apapun dia pada hakikatnya memiliki rasa keadilan dimana rasa keadilan tersebut akan tersentuh jika ada putusan hakim yang menghukum orang yang tidak bersalah atau membebaskan orang yang bersalah ataupun memenangkan orang yang tidak berhak dalam suatu persengketaan. Agar tidak sampai diputuskan secara keliru maka dalam suatu proses peradilan diperlukan pembuktian-pembuktian.150
1. Pengertian Pembuktian
149 Teguh Samudera, Hukum Pembuktian Dalam Acara Perdata, Alumni, Bandung, 1992, h.
9.
150 Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata, cet. 1., Citra Aditya Bakti, Bandung 2006), h. 9.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembuktian adalah “suatu proses, cara, perbuatan membuktikan, usaha menunjukkan benar atau salahnya terdakwa dalam sidang pengadilan.151 Berikut ini akan diuraikan definisi pembuktian menurut beberapa ahli.
Menurut Riduan Syahrani, yang dimaksud dengan pembuktian adalah
“penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang dikemukakan.152
Kemudian menurut Bachtiar Effendi, S.H. dkk menyebutkan bahwa pengertian pembuktian adalah
“penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh pihak berperkara kepada hakim dalam persidangan dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa, sehingga hakim memperoleh kepastian untuk dijadikan dasar putusannya.153
Sedangkan menurut pandangan praktisi (para hakim) dalam beberapa Penataran Hakim menyebutkan bahwa :
a) Pembuktian adalah memperkuat kesimpulan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan.
151 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 4, Balai Pustaka, Jakarta , 2005, h. 172.
152 Riduan Syahrani (b), Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,2004, h. 83.
153 Bachtiar Effendi, Masdari Tasmin, A. Chodari, Surat Gugat dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,1991, h. 50.
b) Pembuktian adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil yang dikemukakan dalam suatu proses sengketa, dengan mempergunakan alat-alat bukti menurut undang-undang.
c) Pembuktian adalah semua perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh para pihak dalam persidangan perkara perdata yang bertujuan untuk membuat atau memberi keyakinan kepada hakim tentang kebenaran atas dalil, peristiwa-peristiwa serta fakta-fakta yang diajukan di dalam proses perdata dengan cara mempergunakan alat-alat bukti sebagaimana yang ditentukan menurut undang-undang.
d) Pembuktian adalah memberi suatu kepastian yang layak menurut akal, apakah perbuatan itu sungguh atau benar terjadi dan apa motif dari perbuatan tersebut.
e) Pembuktian berarti meyakinkan hakim dengan mempergunakan alat- alat bukti tertentu menurut undang-undang akan kebenaran dalil-dalil yang diketengahkan dalam suatu persengketaan oleh para pihak dalam proses pengadilan.154
Menurut Sudikno Mertokusumo, dengan menyebutkan kata “membuktikan”
maka ada beberapa pengertian :
a) Kata membuktikan dikenal dalam arti logis. Membuktikan di sini berarti memberi kepastian yang bersifat mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan adanya bukti lawan.
154Penataran Hakim 1976/1977 di Jakarta Jilid II,Jakarta:PenerbitDirektoratJenderal Pembinaan Badan Peradilan Umum Departemen Kehakiman, 1978, h.122. Dikutip juga oleh Lilik Mulyadi, op. cit., h. 155.
Berdasarkan suatu axioma, yaitu asas-asas umum yang dikenal dalam ilmu pengetahuan, dimungkinkan adanya pembuktian yang bersifat mutlak. Terhadap pembuktian ini tidak dimungkinkan adanya bukti lawan, kecuali pembuktian itu berlaku bagi setiap orang. Di sini axioma dihubungkan menurut ketentuan-ketentuan logika dengan pengamatan-pengamatan yang diperoleh dari pengalaman, sehingga diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang memberi kepastian yang bersifat mutlak.
b) Kata membuktikan dikenal juga dalam arti konvensionil. Di sini pun membuktikan berarti juga memberi kepastian, hanya saja bukan kepastian mutlak, melainkan kepastian yang nisbi atau relatif sifatnya yang mempunyai tingkatan-tingkatan :
- kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka. Karena didasarkan atas perasaan maka kepastian ini bersifat intuitif dan disebut conviction intime.
- Kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal, maka oleh karena itu disebut conviction raisone.
c) Membuktikan dalam hukum acara mempunyai arti yuridis. Di dalam ilmu hukum tidak dimungkinkan adanya pembuktian yang logis dan mutlak yang berlaku bagi setiap orang serta menutup segala kemungkinan akan bukti lawan, akan tetapi merupakan pembuktian yang konvensionil yang bersifat khusus. Pembuktian dalam arti yuridis ini hanya berlaku bagi pihak-pihak yang berperkara atau yang memperoleh hak dari mereka. Dengan demikian pembuktian dalam arti yuridis tidak menuju kepada kebenaran mutlak. Ada kemungkinannya bahwa
pengakuan, kesaksian atau surat-surat itu tidak benar atau palsu atau dipalsukan.
Maka dalam hal ini dimungkinkan adanya bukti lawan. Pembuktian secara yuridis tidak lain merupakan pembuktian
“historis”. Pembuktian yang bersifat historis ini mencoba menetapkan apa yang telah terjadi secara konkreto. Baik dalam pembuktian yang yuridis maupun ilmiah, maka membuktikan pada hakekatnya berarti mempertimbangkan secara logis mengapa peristiwa-peristiwa tertentu dianggap benar.155
Dari beberapa pandangan teoritis dan praktisi hukum sebagaimana tersebut di atas, Lilik Mulyadi menarik suatu kesimpulan bahwa dalam pengertian
“pembuktian” terkandung elemen-elemen sebagai berikut : -merupakan bagian dari hukum acara perdata;
-merupakan suatu proses prosesuil untuk meyakinkan hakim terhadap kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan para pihak berperkara perdata di sidang pengadilan. 156
2. Prinsip-Prinsip Umum Pembuktian
Yang dimaksud prinsip umum pembuktian adalah landasan penerapan pembuktian. Semua pihak, termasuk hakim harus berpegang pada patokan yang digariskan prinsip yang dimaksud. Memang di samping itu masih terdapat lagi prinsip-prinsip khusus yang berlaku untuk setiap jenis alat bukti, sehingga harus juga dijadikan patokan dalam penerapan sistem pembuktian.
155 Ibid.
156 Lilik Mulyadi, op. cit., hal. 156-157.
a) Pembuktian Mencari dan Mewujudkan Kebenaran Formil
Sistem pembuktian yang dianut hukum acara perdata, tidak bersifat stelsel negatif menurut undang-undang (negatief wettelijk stelsel), seperti dalam proses pemeriksaan pidana yang menuntut pencarian kebenaran materiil, dimana selain harus dibuktikan berdasarkan alat bukti yang sah dan mencapai batas minimal pembuktian, juga harus didukung oleh keyakinan hakim. Prinsip inilah yang disebut beyond reasonable doubt. Sistem pembuktian ini yang dianut Pasal 183 KUHAP.
Kebenaran yang diwujudkan benar-benar berdasarkan bukti-bukti yang tidak meragukan, sehingga kebenaran itu dianggap bernilai sebagai kebenaran hakiki (materiele waarheid, ultimate truth).157
Namun, tidak demikian dalam proses peradilan perdata. Kebenaran yang dicari dan diwujudkan hakim, cukup kebenaran formil (formeel waarheid) sehingga tidak dituntut adanya keyakinan hakim. Para pihak yang berperkara dapat mengajukan pembuktian berdasarkan kebohongan dan kepalsuan, namun fakta yang demikian secara teoritis harus diterima hakim untuk melindungi atau mempertahankan hak perorangan atau hak perdata pihak yang bersangkutan.158 Dalam kerangka sistem pembuktian yang demikian, sekiranya tergugat mengakui dalil penggugat, meskipun itu bohong atau palsu, hakim harus menerima kebenaran
157Subekti , Hukum Pembuktian, Cet. Kedelapan, Pradnya Paramita, Jakarta, 1987, h.9.
158 M. Yahya Harahap, op. cit., h. 498.
itu dengan kesimpulan bahwa berdasarkan pengakuan itu, tergugat dianggap dan dinyatakan melepaskan hak perdatanya atas hal yang diperkarakan.159
Dalam rangka mencari kebenaran formil, perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai pegangan bagi hakim maupun para pihak yang berperkara, yaitu sebagai berikut :
1) Tugas dan Peran Hakim Bersifat Pasif
Hakim hanya terbatas menerima dan memeriksa sepanjang mengenai hal-hal yang diajukan penggugat dan tergugat. Oleh karena itu, fungsi dan peran hakim dalam proses perkara perdata hanya terbatas pada mencari dan menemukan kebenaran formil, dimana kebenaran itu diwujudkan sesuai dengan dasar alasan dan fakta-fakta yang diajukan oleh para pihak selama proses persidangan berlangsung. Sehubungan dengan sikap pasif tersebut, sekiranya hakim yakin bahwa apa yang digugat dan diminta penggugat adalah benar, tetapi penggugat tidak mampu mengajukan bukti tentang kebenaran yang diyakininya, maka hakim harus menyingkirkan keyakinan itu dengan menolak kebenaran dalil gugatan karena tidak didukung dengan bukti dalam persidangan.
Makna pasif bukan hanya sekadar menerima dan memeriksa apa-apa yang diajukan para pihak, tetapi tetap berperan dan berwenang menilai kebenaran fakta yang diajukan ke persidangan, dengan ketentuan sebagai berikut :
159Subekti , op. cit., h. 107.
2) Hakim tidak dibenarkan mengambil prakarsa aktif meminta para pihak mengajukan atau menambah pembuktian yang diperlukan. Semuanya itu menjadi hak dan kewajiban para pihak. Cukup atau tidak alat bukti yang diajukan terserah sepenuhnya kepada kehendak para pihak. Hakim tidak dibenarkan membantu pihak manapun untuk melakukan sesuatu, kecuali sepanjang hal yang ditentukan undang-undang. Misalnya berdasarkan Pasal 165 RBg/139 HIR, salah satu pihak dapat meminta bantuan kepada hakim untuk memanggil dan menghadirkan seorang saksi melalui pejabat yang berwenang agar saksi tersebut menghadap pada hari sidang yang telah ditentukan, apabila saksi yang bersangkutan relevan akan tetapi pihak tersebut tidak dapat menghadirkan sendiri saksi tersebut secara sukarela.
3) Menerima setiap pengakuan dan pengingkaran yang diajukan para pihak di persidangan, untuk selanjutnya dinilai kebenarannya oleh hakim.
4) Pemeriksaan dan putusan hakim, terbatas pada tuntutan yang diajukan penggugat dalam gugatan.160
b) Putusan Berdasarkan Pembuktian Fakta
Hakim tidak dibenarkan mengambil putusan tanpa pembuktian. Kunci ditolak atau dikabulkannya gugatan, mesti berdasarkan pembuktian yang bersumber dari fakta-fakta yang diajukan para pihak. Pembuktian hanya dapat ditegakkan berdasarkan dukungan fakta-fakta.
160M. Yahya Harahap, op. cit., h. 500.
1) Fakta yang dinilai dan dan diperhitungkan, terbatas yang diajukan dalam persidangan
Selama proses berlangsung, terutama pada saat persidangan memasuki tahap pembuktian, para pihak diberi kesempatan menyampaikan bahan atau alat bukti, kemudian bahan atau alat bukti itu diserahkan kepada hakim. Bahan atau alat bukti yang dinilai membuktikan kebenaran yang didalilkan pihak manapun, hanya fakta langsung dengan perkara yang disengketakan. Kalau bahan atau alat bukti yang disampaikan di persidangan tidak mampu membenarkan fakta yang berkaitan dengan perkara yang disengketakan, maka tidak bernilai sebagai alat bukti.161
2) Fakta yang terungkap di luar persidangan
Hanya fakta-fakta yang diajukan di persidangan yang boleh dinilai dan diperhitungkan menentukan kebenaran dalam mengambil putusan. Sehubungan dengan itu, fakta yang boleh dinilai dan diperhitungkan hanya yang disampaikan para pihak kepada hakim dalam persidangan. Hakim tidak dibenarkan menilai dan memperhitungkan fakta-fakta yang tidak diajukan pihak yang berperkara. Misalnya, fakta yang ditemukan hakim dari surat kabar atau majalah adalah fakta yang diperoleh hakim dari sumber luar, bukan dalam persidangan maka tidak dapat dijadikan fakta untuk membuktikan kebenaran yang didalilkan oleh salah satu pihak.
Walaupun sedemikian banyak fakta yang diperoleh dari berbagai sumber, selama fakta tersebut bukan diajukan dan diperoleh dalam persidangan maka fakta tersebut tidak dapat dinilai dalam mengambil putusan. Meskipun banyak orang yang
161Ibid , h. 500-501.
memberitahukan dan menunjukkan fakta kepada hakim tentang kebenaran perkara yang disengketakan, fakta tersebut harus ditolak dan disingkirkan dalam mencari kebenaran atas perkara dimaksud. Fakta yang demikian disebut out of court, oleh karena itu tidak dapat dijadikan dasar mencari dan menemukan kebenaran.162
3) Hanya fakta berdasar kenyataan yang bernilai pembuktian
Selain fakta harus diajukan dan ditemukan dalam proses persidangan, fakta yang bernilai sebagai pembuktian hanya :
(a) Terbatas pada fakta yang konkret dan relevan, yakni jelas dan nyata membuktikan suatu keadaan atau peristiwa yang berkaitan langsung dengan perkara yang disengketakan. Artinya, alat bukti yang diajukan mengandung fakta konkret dan relevan atau bersifat prima facie, yaitu membuktikan suatu keadaan atau peristiwa yang langsung berkaitan erat dengan perkara yang sedang diperiksa.
(b) Fakta yang abstrak dalam hukum pembuktian, dikategorikan sebagai hal yang
(b) Fakta yang abstrak dalam hukum pembuktian, dikategorikan sebagai hal yang