• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PENGGANTI TANDA TANGAN DAN SIDIK JARI TERHADAP

A. Tinjauan Umum Kekuatan Pembuktian Menurut Hukum Perdata 89

2. Tata Cara Penggunaan Surrogate Dalam Minuta Akta

Pasal 44 ayat (1) dan ayat (2) UUJN telah mengakomodir seseorang yang tidak mampu membubuhkan tanda tangan untuk membuat akta partij di hadapan Notaris.Penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dalam akta bisa disebabkan oleh 3 (tiga)kemungkinan, yaitu :

a) Penghadap tidak bisa baca tulis meskipun secara fisik mempunyai tangan dan jari lengkap.

b) Penghadap bisa baca tulis tetapi secara fisik tidak bisa tanda tangan karenatangannya sakit atau bahkan tidak memiliki jari atau tangan.

c) Penghadap memiliki keterbatasan dalam pengelihatan (tuna netra).

Dari kemungkinan - kemungkinan yang tersebut di atas, terhadap masing-masing kemungkinan tidak dapatnya penghadap membubuhkan tanda tangan terdapat cara yang berbeda untuk menggantikan kedudukan dari tanda tangan tersebut.

Menurut Habib Adjie, untuk penghadap yang bisa baca – tulis namun secara fisik tidak bisa tanda tangan karena tangannya sakit (misalnya stroke, tremor, parkinson) atau tidak punya jari tangan atau tidak punya tangan maka jika terjadi seperti ini gunakanlah Surrogate.

Mengenai penggunaan Surrogate yang terjadi karena kondisi penghadap yang mengalami keterbatasan fisik tersebut, penghadap melampirkan pula surat keterangan dokter yang menyatakan bahwa penghadap pada saat itu benar-benar sakit dan tidak dapat memfungsikan tangan sebagai mana mestinya. Surat keterangan dari dokter tersebut nantinya dilekatkan pula pada minuta akta.

Secara normatif memang tidak diatur mengenai kewajiban untuk melampirkan surat dokter dalam penggunaan Surrogate pada akta Notaris, namun hal tersebut semata-mata adalah sebagai bentuk asaskehati-hatian dari Notaris guna melindungi kepentingan para penghadap dan Notaris itu sendiri.

Untuk pengahadap yang secara fisik mempunyai tangan dan jari lengkap, tapi tidak bisa baca tulis harus membubuhkan sidik jarinya pada lembaran yang telah disediakan untuk keperluan tersebut. Dalam hal ini, pembubuhan sidik jari tertentu tersebut dipersamakan dengan tanda tangan. Hal ini dapat disebut “keterangan tidak dapat menulis”.178

Pasal 16 angka (1) huruf c UUJN menyebutkan salah satu kewajiban Notaris adalah melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap kedalam minuta akta. Ketentuan tersebut memberi ruang-tempat kepada Penghadap yang tidak mampu membubuhkan tanda tangannya dan sebagai bukti yang bersangkutan datang menghadap Notaris dan setuju dengan akta yang dibuat di hadapan Notaris dengan Membubuhkan sidik jarinya pada lembaran yang telah disediakan untuk keperluan tersebut. Dan bisa dianggap tidak menghadap dan tidak setuju kalau tidak ada sidik jarinya, yang akan membuat sulit Notaris jika ada pengingkaran oleh para penghadap tersebut.179

Dalam praktekkenotariatan masihsering dijumpai kesalahan dalam penggunaan pengganti tanda tangan dalam akta Notaris. Masih banyak ditemukan kebiasaan yang dilakukan dari Notaris yaitu, ketika datang penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan karena tangannya sakit atau ada keterbatasan dalam fungsi tangannya, maka tangan dari penghadap tersebut diangkat oleh Notaris atau saksi atau karyawan kantor Notaris tersebut untuk diambil sidik jarinya.

178Ibid, h. 29-30.

179Ibid.

Hal tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk pemaksaan atau bukan merupakan kehendak bebas dari penghadap.Berdasarkan rumusan Pasal 1321 BW maka apabila suatu kesepakatan dilakukan karena kekhilafan atau paksaan dan bukan merupakan kehendak bebas maka kesepakatan tersebut tidaklah sah.

Dengan demikian jika penghadap tersebut kemudian menggugat ke pengadilan dan bisa membuktikan telah terjadi pemaksaan seperti tersebut diatas maka berdasarkan putusan hakim akta tersebut dapat dibatalkan.

Dari apa yang telah diuraikan diatas maka terhadap penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dalam akta Notaris karena :

a) Penghadap tidak bisa baca tulis meskipun secara fisik mempunyai tangan dan jari lengkap.

Dalam hal ini digunakan sidik jari yang dibubuhkan pada lembaran

yang tersedia untuk keperluan tersebut dannantinya lembaran tersebut dilekatkan pada minuta akta dan memberikan keterangan pada bagian akhir akta.Selanjutnya mengenai penggunaan sidik jari sebagaipengganti tanda tangan tersebut dinyatakan dalam akhir aktadengan menyebutkan :

“ – Setelah saya, Notaris, membacakan akta ini kepada para penghadap dan para saksi, kemudian para pengahadap menyatakan telah mengerti segala yang tertulis dalam akta ini, pada saat itu juga pengahadap Tuan/Nyonya...membubuhkan sidik jari tangannya pada lembaran tersendiri yang dilekatkan pada Minuta Akta ini, sedangkan pengahadap lainnya, parasaksi dan saya Notaris menandatangani akta ini ”

b) Penghadap bisa baca tulis tetapi secara fisik tidak bisa tanda tangan karena tangannya sakit atau bahkan tidak memiliki jari atau tangan.

Dalam hal ini digunakan Surrogate. Mengenai penggunaan Surrogate dalamkondisi ini adalah berdasarkan keterangan dari pengahadap dan bukan keterangan dari Notaris. Untuk lebih menjamin kebenaran terkait kondisipenghadap yang mengalami keterbatasan fisik yang mengakibatkan tidak dapat membubuhkan tanda tangan maka dilampirkan surat keterangan dokter. Selanjutnya mengenai jenispenyakit yang menjadi sebab terhalang untuk menulis atau membubuhkan tanda tangan dinyatakan dalam akhirakta dengan menyebutkan :

“ – Setelah saya, Notaris, membacakan akta ini kepada para penghadap dan para saksi, kemudian para pengahadap menyatakan telah mengerti segala yang tertulis dalam akta ini, menurut keterangan penghadap Tuan/Nyonya... tidak bisa membubuhkan tanda tangannya karena sakit..., demikianberdasarkan surat keterangan dokter tanggal..., sedangkan pengahadaplainnya, para saksi dan saya Notaris menandatangani akta ini ”

c) Penghadap memiliki keterbatasan dalam pengelihatan (tuna netra). Dalam hal ini juga digunakan surrogate. Mengenai surrogate dalam kondisi ini adalah berdasarkan keterangan dari penghadap dan bukan keterangan notaris.

Untuk lebih menjamin kebenaran terkait kondisi penghadap yang memiliki keterbatasan dalam pengelihatan sehingga mengakibatkan tidak dapat membubukan tanda tangan maka juga melampirkan surat keterangan dokter yang

menyatakan penghadap tidak dapat melihat. Selanjutnya mengenai hal tersebut dinyatakan dalam akhir akta dengan menyebutkan :

“Setelah saya, Notaris, membacakan akta ini kepada para penghadap dan para saksi, kemudian para pengahadap menyatakan telah mengerti segala yang tertulis dalam akta ini, menurut keterangan penghadap Tuan/Nyonya... tidak bisa membubuhkan tanda tangannyakarena keterbatasan dalam penglihatan, demikian berdasarkan surat keterangan dokter tanggal..., sedangkan pengahadap lainnya, parasaksi dan saya Notaris menandatangani akta ini ”

Digantikannyakedudukan Tanda Tangan pada akta Notaris dengan Surrogate atau sidik jari tersebut harus dinyatakan dengan tegas pada akhir akta.

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 44 ayat (2)apabila penghadap tidak dapat membubuhkan tanda tangan dalam akta maka alasannya harus disebutkan pada akhir akta.

Pelanggaran terhadap ketentuantersebut membuat kedudukan akta Notaris hanya mempunyai kekuatan pembuktiansebagai akta di bawah tangan.Penggunaan Surrogate jugadimungkinkan digunakan dalam pembuatan akta PPAT meskipun padabagian akhir Akta PPAT mengenai uraian penandatanganan aktadisebutkan bahwaakta ditandatangani atau cap ibu jari.Pada umumnya di dalam akta PPATdigunakan cap jempol sebagai penggantidari tanda tangan apabila ada penghadapyang tidak bisa membubuhkan tandatangan.

Jika penghadap tersebut tidak bisabaca tulis maka cap ibu jari dapat digunakan namun jika penghadap tersebut mempunyai keterbatasan fisik akibat sakit

sehingga tidak dapat membubuhkan tanda tangan lalu kemudian tangannya diangkat dan diarahkan untuk membubuhkan cap jempol maka hal tersebut dapat dikatakan bukan kehendak bebas dari penghadap.

Secara Das Sollen, jika mengacu pada ketentuan mengenai akta otentik adalah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan oleh Undang maka Undang-Undang yang digunakan adalah UUJN. Bentuk dan ketentuan-ketentuan

dalam pembuatan akta otentik harus mengikuti UUJN termasuk mengenai penggunaan Surrogate pada akta PPAT.