• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PENGGANTI TANDA TANGAN DAN SIDIK JARI TERHADAP

A. Tinjauan Umum Kekuatan Pembuktian Menurut Hukum Perdata 89

7. Keunggulan Dan Kelemahan Beberapa Metode Pengambilan dan

Untuk kepentingan identifikasi sidik bibir harus dapat ditampilkan dan didokumentasikan dengan baik sehingga mudah dianalisis. Hasil dokumentasi dan analisis sidik bibir yang baik, akan dapat menjadi alat bukti di persidangan. Dari beberapa metode pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir masing-masing terdapat keunggulan dan kelemahan.

a) Keunggulan dan kelemahan Metode Pengambilan Sidik Bibir Menggun akan Lipstik

Keunggulan dari metode lipstik adalah alat dan bahan yang digunakan sederhana, tidak mahal, mudah dan praktis dalam aplikasinya karena tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Kelemahan dari metode lipstik ini adalah

belum terdapat standar warna baku dari lipstik yang digunakan dan tidak semua subjek mau diaplikasikan lipstik terutama laki-laki.193

b) Keunggulan dan kelemahan metode pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir dengan menggunakan fotografi

Dalam metode fotografi ini diperlukan skill dari fotografer, dan juga beberapa aspek dalam fotografi seperti cahaya, fokus, dan jarak. Metode ini direkomendasikan pertama kali oleh Tsucihasi. Keunggulan dari metode ini antara lain hasil dokumentasi sidik bibir tahan lama sehingga dapatdigunakan untuk second opinion di kemudian hari, proses pengambilan yang praktis dan tidak membutuhkan waktu yang lama, dan dapat diaplikasikan pada subjek masal.194

Beberapa kelemahan dalam metode ini antara lain, masih belum adanya standard baku SOP dari tehnik fotografi, jika hasil foto kurang maksimal akan menyulitkan dalam proses analisa, alat dan bahan yang digunakan mahal.

c) Keunggulan dan kelemahan metode pengambilan cetakaan sidik bibir dengan menggunakan bubuk sidik jari dan reagen pewarna

Pengambilan sidik bibir laten dapat dilakukan dengan menggunakan bahan bubuk, seperti bubuk sidik jari, bubuk aluminum, cobalt oxide, dan bubuk magnetic.195 Penelitian mengenai efektifitas bubuk sidik jari dan lysocrome dye pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Neeti Kapor melaporkan bahwa reagen

193Ibid, h.24.

194Ibid, h.25.

195Ibid, h.25.

lysocrome dye lebih efektif dari pada bubuk sidik jari dalam memvisualisasikan sidik bibir latent.

Pada penelitian yang dilakukan Castelo pada sebuah kertas tisu melaporkan bahwa perbedaan antara penggunaan bahan bubuk dan reagen pada pengambilan sidik bibir laten pada suatu benda, dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain porositas dan ketahanan dari sidik bibir yang diambil dan hasil yang didapatkan dengan menggunakan reagen lysocrome lebih efektif dan lebih tahan lama, daripada penggunaan bubuk sidik jari.

Keunggulan metode ini adalah dapat memvisualisasikan sidik bibir laten, sehingga dapat didokumeentasikan dan dianalisis, namun kekurangan metode ini, bahan yang digunakan baik bubuk sidik jari maupun lysocrome dye relatif mahal, dan kurang praktis.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. fungsi tanda tangan yang dibubuhkan dalam minuta akta notaris sebagai identifikasi diri atau tanda diri dari yang bersangkutan dan bukti bahwa yang bersangkutan telah mengahadap notaris Persetujuan bahwa pengahdap setuju dengan segala sesuatu yang tersebut atau tercantum di dalam sebuah akta.

Fungsi dan kewajiban notaris untuk melekatkan sidik jari penghadap dengan dibubuhkan sidik jari penghadap/para penghadap/para pihak pada minuta akta notaris yaitu akan memberikan kepastian hukum yang lebih karena setiap orang memiliki sidik jari yang berbeda-beda, sehingga apabila dikemudian hari terjadi sengketa maka pihak yang bersangkutan tidak dapat menyangkalnya. Adanya pembubuhan sidik jari juga akan memberikan kekuatan hukum yang lebih terhadap produk akta Notaris, sehingga akan berdampak terhadap perlindungan hukum yang lebih kepada para pihak yang bersangkutan, Notaris maupun pihak ketiga, serta dapat dan menjaga tertib administrasi.

2. Akibat hukum terhadap minuta akta notaris yang dibuat apabila penghadap penyandang disabilitas fisik tidak dapat menandatangani akta dengan tangannya atau tidak dapat membubuhkan sidik jarinya pada minuta akta belum tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Atas

Perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Tetapi akibat hukum dari tidak dibubuhkanya sidik jari penghadap pada lampiran Minuta Akta maka Notaris tidak mempunyai bukti permulaan untuk dapat mengarahkan ke alat bukti pada saat dilakukan pembuktian secara materiil terhadap kebenaran formil keadaan berhadapan sebagaimana yang tertuang di dalam minuta akta tersebut.

3. Pengganti tanda tangan dan sidik untuk penghadap penyandang disabilitas fisik yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan karena tangannya sakit atau bahkan tidak memiliki jari atau tangan dalam hal ini menggunakan Surrogate. Dalamkondisi ini adalah berdasarkan keterangan dari pengahadap dan bukan keterangan dari Notaris.

Alternatif lain dalam pengganti sidik jari untuk penghadap penyandang disabilitas fisik yaitu menggunakan sidik bibir, dimana Sidik bibir merupakan suatu pola berupa celah atau fisur yang terdapat pada permukaan mukosa bibir.bahwa sidik bibir dapat dijadikan alat bantu identifikasi individu.

Metode pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir ada dua macam yaitu :

a. Metode pengambilan sidik bibir dengan menggunakan lipstick

b. Metode pengambilan sidik bibir dengan menggunakan fotografi kamera medical Nikon F200.

c. Metode pengambilan sidik bibir dengan menggunakan bahan bubuk sidik jari

B. Saran

1. Terkait fungsi tanda tangan dan sidik jari sebagai tanda identifikasi seorang serta tanda memberikan persetujuan atas diri penghadap di dalam minuta akta diharapkan ketika seorang penghadap yang datang berhadapan dengan notaris yang memiliki disabilitas fisik sehingga tidak dapat membubuhkan tanda tangan dan sidik jari, notaris diharapkan memberi advokasi hukum untuk memberi pemahaman terkait tindakan-tindakan khusus yang harus dijalani sebagai prosedur yang di atur dalam peraturan perundang-undangan.

2. Meskipun pembubuhan tanda tangan dan sidik jari para pihak tidak berakibat pada akta yang membuat terdegradasinya akta, namun demikian disarankan agar Notaris tetap menjalankan amanat Undang-Undang Jabatan Notaris karena Notaris merupakan pejabat umum yang telah disumpah untuk tunduk pada ketentuan dalam Undang-Undang Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris.

3. Diperlukan adanya suatu aturan tambahan yang menyatakan dengan jelas mengenai ketentuan penggunaan Surrogate atau sidik jari bagi penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda tangan dan sidik jari terkhusus bagi kaum disabilitasyaitu menurut penulis terhadap adanya aturan mengenai pembubuhan sidik bibir sebagai pengganti tanda tangan dan sidik jari bagi penghadap penyandang disabilitas fisik dalam minuta akta karena sidik bibir

memiliki sifat unik dan stabil sehingga dapat digunakan sebagai metode identifikasi personal seseorangsehingga kepastian hukum dapat tercapai dan dapat menjadi pedoman bagi Notaris dalam melaksanakan tugas jabatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Ashshofa Burhan, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta , 1996.

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2004.

Amiruddin dkk, Pengantar Metode Penlitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, jakarta, 2004.

Anonimus, Penuntun Daktiloskopi, Pusat Identifikasi Polri Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1993.

Andasasmita Komar, Notaris II, Sumur, bandung, 1983.

Andi Prajitno,Pengetahuan Praktis Tentang Apa dan Siapa Notaris di Indonesia, CV.putra Media Nusantara, Surabaya, 2010.

Ali Achmad, Menguak Teori Hukum (Legal theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence), termasuk interprestasi Undang-Undang (legalprudence), kencana, Jakarta, 2012.

Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia persfektif Hukum dan Etika, UII Press, Yogyakarta, 2009.

Bahtiar Effendie, Masdari Tasmin, dan A.Chodari, Surat Gugat Dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.

Banurusman Astrosemitro, Kedudukan Akte Notaris Sebagai alat Bukti Menurut Pandangan Penyidik, Media Notariat, Ikatan Notaris Indonesia, 1995.

Budi Agus Riswandi dan Sabhi Mahmashani, Dinamika Hak Kekayaan Intelektual Dalam Masyarakat Kreatif, Total Media, Yogyakarta, 2009.

Djuhad Mahja, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Jakarta, Durat Bahagia, 2005.

Edmon Makarim, Notaris dan Tanda Tangan Elektronik, Cetakan Pertama. PT.

Rajawali Grafindo Persada, Jakarta, 2011.

Eddy O.S Hiariej, Teori Hukum dan Pembuktian, Jakarta, Erlangga, 2012.

Eka. Sumarningsih, Peraturan Jabatan Notaris, Diktat Kuliah Program Studi Notariat, Fakultas Hukum, Universitas Dipenogoro, Semarang, 2001.

E Ikhsan, M Siregar, Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009.

Hamzah Andi, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008.

Hamitijo Ronny, Metodologi Penlitian Hukum dan Jurumetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990.

Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 2009.

Habib Adjie, Hukum Notariat Di Indonesia-Tafsiran Tematik Terhadap UU Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, 2008.

Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Bandung: Refika Aditama, 2009.

Habib Adjie, Menjalin Pemikiran –Pendapat Tentang Kenotariatan, Surabaya, IKAPI, 2013.

Herlien Budiono & Albertus Sutjipto, Bebarapa Catatan Mengenai Undang- Undang Jabatan Notaris, Ikatan Notaris Indonesia, Bandung, 2005.

Huda Ni’Matul, Hukum Tata Negara Indonesia, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.

HS H. Salim, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010.

Kie Tan Thong, Studi Notariat, Serba-Serbi Praktek Notaris, Edisi Baru, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000.

Kohar A, Notariat Berkomunikasi, Bandung, Alumni, 1984.

Kansil C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989.

Lubis M. Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994.

Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana, Biagraf Publishing, Yogyakarta, 1994.

M.Hadjon Philipus, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1987.

Marzuki Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Pradana Media Group, Jakarta, 2008.

Marzuki Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana, 2006.

N.G. Yudara, Notaris dan Permasalahannya Pokok-Pokok Pemikiran di Seputar Kedudukan dan Fungsi Notaris serta Akta Notaris Menurut Sistem Hukum Indonesia, Jakarta: Kongres INI, 2005.

Nico, Tanggung Jawab Notaris Selaku pejabat Umum, Center for Documentation and Studies of Business Law (CDSBL), Yogyakarta, 2003.

Putri A.R, Perlindungan Hukum Terhadap Notaris, Indikator Tugas-Tugas Jabatan Notaris yang Berimplikasi Perbuatan Pidana, Jakarta, Sofmedia, 2011.

Pitlo A , Pembuktian dan Daluwarsa, Jakarta, Internusa, 1986.

Riduan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bina Cipta, Bandung, 2004.

Raharjo Satjipto, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.

R. Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat Di ndonesia Suatu Penjelasan, Rajawali, Jakarta, 1982.

R. Soesanto, Tugas, Kewajiban Dan Hak-Hak Notaris, Wakil Notaris (Sementara), Pradnya Paramita, Jakarta, 1978.

Rudy Haposan Siahaan, Hukum Perikatan Indonesia Teori dan Perkembangannya, Intelegensia Media, Malang, 2017.

Salman HR Otje, Teori hukum, Refika Aditama, Jakarta, 2002.

Sunggono Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003.

Syahrani Riduan, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung,

Sjaifurrachman, Aspek Pertanggung Jawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011.

Soekanto Soerjono dkk, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, cetakan ke-11, PT. Raja Grafindo Persada, 2009.

Soekanto Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1981.

Silsilah Ulber , Metode Penelitian Sosial, Bandung, PT. Refika Aditama, 2009.

Said Sampara dkk, Pengantar Ilmu Hukum, Total Media, Yogyakarta, 2011.

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi Kedelapan Liberty, Yogyakarta, 2009.

Soerjono Soekanto dan Sri Madmuji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta, Rajawali Press, 1995.

Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Aspek Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011.

Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993.

Supriadi, Etika dan Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia. Jakarta, Sinar Grafik, 2006.

Tedjosaputro, Lilian, Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana, Yogyakarta: Bigraf Publishing, 1994.

Tutik Titik Triwulan, Kontruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011.

Wuisman J.J.J.M., Dengan Pentingnya M. Hisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid 1 Asas-Asas. Jakarta : FE.UI,1996.

Yuwono Ismantoro Dwi, Memahami Berbagai Etika Profesi dan Pekerjaan, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2011.

Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009.

Peraturan Perundang-Undangan :

Undang –Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 20114 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3).

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

Tesis/Jurnal :

Agus Pandoman, Perturan Primer Perikatan Akta-Akta Pubishitas-Non Publisitas, Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta:UII, 2016.

Agustinus Danan Suka Dharma, Pelekatan Sidik Jari Penghadap Pada Minuta Akta Notaris Dalam Kaitannya Dengan Kekuatan Pembuktian Akta Otentik, Tesis Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, 2015.

Aprilina Pawestri, Hak Penyandang Disabilitas Dalam Perspektif HAM Internasional dan HAM Nasional, Volume 2, No.1, Juni 2017/167.

Defina Anggriani simangunsong, Analisis Yuridis Pelanggaran Notaris Terkait Dengan Tempat Kedudukan Dan Wilayah Jabatan Notaris DiKabupaten Simalungun, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Endra Agus Etiawan, Konsep dan Kriteria Kecakapan Bertindak Bagi Penyandang Disabilitas Autisme Menurut Perspektif Hukum Perdata Indonesia,Volume. 5 Nomor. 2, Mei 2018. p - 2354-8649 I e - 2579-5767.

Fitri , Analisis Yuridis Terhadap Penyangkalan Tanda Tangan Dalam Akta Jual Beli Dihadapan Pejabat Pembuat Akta tanah (PPAT), Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2019.

Ida Ayu Putu Swandewi, Pengesahan Akta Notaris Bagi Penghadap yang Mengalami Cacat Fisik, Acta Comitas (2016) 1:26-41 ISSN : 8960 I e-ISSN : 2502-7573.

Jusuf Patrisnto, Arti dan Kedudukan Tanda Tangan Dalam sebuah dokumen, http://notarissby.blogspot.com/2008/05/arti-dan-kedudukan-tanda-tangan-dalam.html.

Jusmar, Peran Majelis Kehormatan Notaris Sumatera Utara Dalam Memberikan Perlindungan dan Penegakan Hukum Sesuai Undang-Undang Jabatan Notaris, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Kristina Siahaan, Kewajiban Notaris Dalam Merahasiakan Isi Akta Dikaitkan Dengan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2016.

Kajian Yuridis dan Praktek terhadap UU No.2 Tahun 2014 Tentang Perubahan UU No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris Terkait Sidik Jari, Aspek Pidana Notaris dan Perlindungan Notaris, Serta Degredasi Akta, Renvoi, Nomor 11.131.XI.

Nurul Alida Hanum Siregar, Tanggung Jawab Notaris Terhadap Akta Autentik yang Dibuat Dihadapannya, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Nesia Zara Ferina, Telaah Penggunaan Sidik Jari Penghadap yang Dilekatkan pada Minuta Akta Pasca Revisi Undang-Undang Jabatan Notaris, Tesis Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2014.

Nurhapifah Asri Lubis, Penerapan Asas Keadilan Dalam Pelaksanaan Sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Jabatan Notaris Dan Etika Notaris, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Mariane Magda Ketaren, Keabsahan Tanda Tangan Secara Elektronik Dalam Proses Pendirian Perseroan Terbatas Berdsarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, 2008.

Risma Ernawati sinaga, Analisis Yuridis Terhadap Notaris yang Bertindak Sebagai Perantara Berkaitan Dengan Jual Beli Tanah, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Suprayitno, Pemeriksaan Sertifikat Hak Atas Tanah Oleh Notaris/PPAT Pada Kantor Pertanahan Kota Medan Berkaitan Dengan Pembuatan Akta, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, 2004.

Tjong Thean Tek/Tony, Pemberdayaan Notaris Sebagai Mediator Dalam Alternatif Penyelesaian Sengketa, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, 2004.

Sajadi, I., Saptanti, Supanto S. Tanggung Jawab Notaris Terhadap Keabsahan Akta Notaris Yang Dibuatnya Atas Penghadap Yang Tidak Dapat Membaca dan Menulis. Repertorium, 2015.

Velika Mustika, Analisis Yuridis Pencantuman Klausula Proteksi Diri Dalam Akta Notaris, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Widya Sujud Nadia, Kekuatan Hukum Akta Notaris Berdasarkan Cyber Notary Menurut Sistem Hukum di Indonesia, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.

Wawan Setiawan, Kedudukan dan Keberadaan Pejabat Umum serta PPAT dibandingkan dengan Kedudukan Pejabat Tata Usaha Negara menurut Sistem Hukum Nasional, Pengurus Pusat Pejabat Pembuat Akta Tanah, Jakarta, 2001.

Yosril A., Aspek Hukum Pembubuhan Cap Ibu Jari/Cap Jempol Dalam Pembuatan Akta Otentik, Tesis Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2015.

Yoseph Arthur Lumbanaraja, Penerapan Prinsip Satu Perbuatan Hukum Atas Satu Akta Dalam Akta Otentik yang Dibuat Oleh Atau Dihadapan Notaris, Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2017.