BAB III GAMBARAN UMUM
C. Aktivitas KPI Terhadap Tayangan Infotainmen
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) khususnya bidang kelembagaan tayangan infotainmen melakukan beberapa kegiatan yakni telah menerima aduan dari masyarakat (163 aduan) untuk tayangan infotainmen di tahun 2009 dan 31,98% dari total aduan yang masuk di tahun 2010, mengadakan kajian, dan memberikan sanksi berupa sanksi administratif yaitu teguran.
1. Kajian Tayangan Infotainmen Sepanjang Tahun 2009
Seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2009, kembali dilakukan kajian terhadap program infotainmen. Kegiatan ini bertujuan memantau pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan stasiun-stasiun televisi yang bersiaran nasional terhadap Undang-undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang ditetapkan KPI pada tahun 2009. Kajian terhadap tayangan ini dilakukan secara rutin setiap bulan sejak Maret 2009 hingga Desember 2009 dengan total 195 sampel tayangan infotainmen.
Pengamatan dilakukan terhadap sembilan stasiun televisi swasta bersiaran nasional yang menayangkan program tersebut, yakni SCTV, RCTI, Trans TV, Global TV, Trans 7, Indosiar, TPI, ANTV, dan TV One.
2. Metode Kajian Infotainmen 2009
Metode analisis tayangan infotainmen ini adalah metode analisis isi, dimana bentuk-bentuk pelanggaran dalam program tersebut diidentifikasi berdasarkan pasal-pasal dalam UU Penyiaran dan SPS 2009 yang telah ditetapkan oleh KPI.
Dari pasal-pasal dalam SPS 2009 tersebut, jenis pelanggaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar.
Kelompok pertama adalah pelanggaran yang terkait dengan penayangan muatan seksualitas dan sensualitas. Termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah penyajian tayangan close-up bagian-bagian tubuh yang berpotensi membangkitkan birahi (Pasal 27 ayat 3), adegan yang menggambarkan atau diasosiasikan dengan aktivitas seks (Pasal 19 ayat 1), serta adegan yang secara jelas didasarkan atas hasrat seksual, seperti berciuman (Pasal 18).
Kelompok kedua adalah pelanggaran yang disebabkan oleh aktivitas peliputan yang mengabaikan hak-hak narasumber. Pengabaian hak-hak ini antara lain dapat berupa pelanggaran privasi (Pasal 50), tidak mengindahkan hak narasumber untuk tidak menjawab pertanyaan (Pasal 44 ayat 2), menyiarkan materi siaran tanpa persetujuan dan konfirmasi narasumber (Pasal 45), menyorot luka korban kekerasan secara close-up (Pasal 30 ayat b), serta
mewawancarai anak dan remaja di bawah 18 tahun tentang hal-hal yang berada di luar kapasitas mereka (Pasal 46). Sedangkan kelompok ketiga adalah pelanggaran yang disebabkan oleh muatan perilaku yang tak patut ditiru, misalnya melecehkan golongan tertentu (Pasal 12), melontarkan kata-kata kasar dan makian (Pasal 13), serta menggunakan alkohol, rokok (Pasal 16), dan NAPZA (Pasal 15).
Beberapa catatan penting mengenai kategori pelanggaran serta contoh- contoh pelanggarannya yang ditemukan selama melakukan kajian terhadap program infotainmen sepanjang tahun 2009 :
a. Eksploitasi Bagian Tubuh Perempuan
Salah satu bentuk pelanggaran kategori Seksualitas dan Sensualitas yang selalu ada dalam setiap periode pengamatan adalah tayangan yang mengeksploitasi bagian tubuh perempuan. Penayangan adegan ini melanggar Pasal 27 ayat 2 SPS yang secara jelas melarang lembaga penyiaran menyajikan tayangan yang mengeksploitasi, antara lain dengan menyorot secara close up bagian-bagian tubuh perempuan yang lazim dianggap membangkitkan birahi, seperti bagian payudara, paha, dan pantat.
Kerap kali adegan close up bagian tubuh perempuan ini sengaja ditampilkan dalam durasi cukup lama, maupun dimainkan zoom-in dan zoom-out gambarnya agar pandangan tertuju pada bagian tubuh tersebut. Pada contoh kali ini ditampilkan satu adegan dari tayangan Kasak-Kusuk di SCTV pada tanggal 11 Mei 2009.
b. Mendorong Hasrat Seksual
Selain bagian tubuh perempuan, adegan-adegan yang secara jelas didasarkan atas hasrat seksual juga dikategorikan sebagai pelanggaran. Adegan ini dapat berupa foto maupun cuplikan video orang berciuman, berpelukan, bermesraan, dan sejenisnya. Foto maupun cuplikan video jenis ini kerap ditampilkan berulang-ulang dalam pemberitaan infotainmen, sehingga jika diakumulasi, total durasinya akan menjadi cukup panjang.
Adegan-adegan ini biasanya muncul berkaitan dengan percintaan pasangan selebriti, film terbaru yang dibintangi yang juga mengandung adegan berhasrat seksual, maupun foto-foto sejenis yang kerap ditemukan di dunia maya maupun beredar lewat media komunikasi lainnya. Beberapa ada yang disensor, namun ada pula yang tidak disensor sama sekali sehingga terlihat dengan jelas. Dalam P3 dan SPS, adegan semacam ini dikenai Pasal 18 ayat 1.
c. Berita seksualitas
Tayangan infotainmen kerap menyisipkan berita tentang selebriti dari beberapa surat kabar untuk memperkuat kesan heboh pada liputannya. Berita yang diambil sebagian besar dari judul berita, dan cuplikan dari sebagian isinya yang dianggap dapat memperbesar kehebohan terse-but. Sebagian besar berkisar soal seksualitas, seperti selebriti yang dicekal karena sensualitasnya, maupun kasus lain seperti detil-detil perselingkuhan seperti ditunjukkan tayangan I Gosip News” di Trans7 tanggal 24 Agustus 2009.
d. Wawancara Anak di bawah 18 tahun
Terutama dalam kasus konflik keluarga, peliput infotainmen be- berapa kali ditemukan mewawancarai anggota keluarganya, termasuk anak. Padahal, mewawancarai anak di bawah 18 tahun tentang konflik keluarga yang dialaminya adalah hal yang tidak sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak. Tim peliput infotainmen seharusnya memperhatikan dampak yang diakibatkan terhadap anak tersebut. Contohnya wawancara anak pasangan selebriti tentang perselingkuhan yang dilakukan salah satu orangtuanya pada tayangan Obsesi” di Global TV tanggal 1 September 2009.
e. Menampilkan Adegan Merokok
Banyak selebriti maupun narasumber lain yang tertangkap kamera tengah merokok, namun adegan itu justru tidak dihilang-kan. Menampilkan adegan penggunaan rokok dilarang dalam Pasal 16 P3 dan SPS. Contohnya adegan merokok dari tayangan Silet” di RCTI tanggal 11 April 2009.
f. Pemberitaan Seks di luar nikah
Ditemukan beberapa potongan judul berita dan artikel di surat kabar yang juga ikut diliput infotainmen demi mengumbar kehebohan berita. Biasanya potongan judul dan artikel yang diambil berupa kata-kata yang mengumbar sensasi, sebagaimana ditunjukkan tayangan I Gosip Pagi di Trans7 tanggal 24 April 2009 . Potongan berita tersebut mengemukakan perilaku tak terpuji dari suami seorang selebriti yang diklaim kerap membeli jasa penjaja seks.
g. Stereotipe Negatif
Dalam satu episode tayangan Kasak-Kusuk” di SCTV tanggal 13 April 2009 topik yang dibahas adalah para selebriti yang menjanda. Banyak ade-gan di dalamnya yang menggunakan kata-kata berhuruf dan berukuran besar di atas foto seorang selebriti yang berstatus janda. Tulisannya terasa provokatif dan ingin memperkuat stereotipe negatif yang telah ada di masyarakat tentang para janda, seperti Kisah Lain Para Janda, Kontroversi Para Janda, Asmara Janda-Janda, Para Janda Doyan Brondong, Citra Penggoda Para Janda, Gosip Miring Janda Kembang, Menguak Tabir Sisi Lain Kehidupan Para Janda, Sisi Lain Seorang Janda, dan Stigma Para Janda. Terkadang para pem-bawa acara juga kerap melontarkan narasi yang bernada stereotipe. Semua kata-kata bernada stereotipe negatif seperti ini melanggar Pasal 12 ayat 2 P3 dan SPS.
3. Hasil kajian infotainmen pada tahun 2009:
Pertama, stasiun televisi belum menampilkan klasifikasi program sesuai dengan jam tayang, terutama untuk melindungi anak dan remaja dari tontonan yang bukan diperuntukkan bagi usia mereka.
Kedua, kategori pelanggaran yang layak mendapat perhatian adalah kategori perilaku tak patut ditiru, kategori sensualitas dan seksualitas. Tampilan perilaku tersebut secara berulang-ulang dapat menimbulkan kesan biasa dan lazim dilakukan sehingga memicu orang untuk melakukannya.
Ketiga, Pelanggaran yang kerap terjadi adalah pengabaian atas hak-hak narasumber. Tayangan infotainmen harus lebih menghormati hak-hak narasumber, serta bersikap adil. Dalam meliput konflik keluarga, infotainmen juga perlu dihimbau untuk melindungi kepentingan anak-anak yang berusia di bawah 17 tahun agar tidak terimbas pemberitaan yang kurang baik terhadap keluarga mereka.