BAB III GAMBARAN UMUM
E. Gambaran Tayangan Infotainmen di Indonesia
1. Infotainmen dalam Jurnalisme
Infotainmen merupakan jenis tayangan televisi yang popular dewasa ini. Tingginya popularitas jenis tayangan ini bisa dibuktikan dengan semakin beragamnya nama tayangan infotainmen yang menemui pemirsa. Walaupun semakin beragamnya nama tayangan infotainmen, namun keberagaman nama ini tidak diikuti oleh keberagaman format acara infotainmen. Anehnya ditengah kualitas infotainmen yang begitu-begitu saja, infotainmen tetap
digandrungi para pemirsa. Pada waktu prime-time2 infotainmen juga tidak terlewat ikut meramaikan kompetisi perebutan rating tinggi.
Arti sesungguhnya dari infotainmen, yaitu informasi yang dikemas dalam balutan entertainment, maka seharusnya porsi informasi lebih banyak daripada porsi hiburan. Faktanya, kini infotainmen lebih mengutamakan unsur hiburan daripada unsur informasi. Ini terkait dengan kandungan informasi misalnya bobot informasi atau penting tidaknya informasi tersebut disampaikan kepada publik.
Mengacu pada theory agenda setting, maka sebenarnya medialah
yang telah mengonstruksi pikiran publik sehingga informasi yang sebenarnya tidak penting menjadi penting. Dalam teori yang dikemukan oleh M.E.Mc.Combs and D.L. Shaw tersebut dikatakan bahwa jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Mereka menjelaskan bahwa ada korelasi positif yang cukup signifikan antara penekanan berita dan penilaian berita oleh khalayak.3
Dengan kata lain, media membuat sesuatu yang tidak penting menjadi penting, misalnya penekanan dengan porsi penayangan berita yang besar. Seperti wartawan infotainmen mencari berita mengenai perceraian artis , cara berpacaran artis, gaya hedonisme mereka, pernikahan terselubung, pisah ranjang hingga perselingkuhan mereka. Kenapa kehidupan “ranjang” artis
2
Prime-time adalah waktu terbaik untuk menyuguhkan program siaran yang top, mengingat waktu tersebut ditonton oleh sebagian besar penonton.Lihat RM Soenarto. Programa Televisi Dari Penyusunan Sampai Pengaruh Siaran. ( Jakarta:FFTV-IKJ Press,2007), h.66
3
Burhan Bungin,.Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. (Jakarta: Kencana, 2006) cet ke- 1,h. 280
mesti dipublikasikan? Yang membuatnya menjadi penting adalah penekanan pada unsur artis/figure yang ditampilkan serta frekuensi penayangan informasi tersebut. Terlepas dari unsur pentingnya informasi, hal yang demikian juga telah melanggar ruang privasi artis.
Diffusion of Innovation theory semakin mempercepat persebaran informasi. Teori ini menunjukan bahwa media massa semakin mempercepat jalannya arus informasi hingga mencapai khalayak dalam jumlah yang besar. Pada tayangan infotainmen, adopsi inovasi dari gaya hidup para selebritas akan berpengaruh pada khalayak karena diperolehnya pengetahuan tersebut akan dipengaruhi pula oleh karakteristik sosial.
Menurut Val E. Limburg dalam bukunya Electronic Media Ethics
(1994: 125), gambar (visual) lebih mampu berbicara banyak daripada bahasa lisan maupun tertulis, karena itu persoalan etika menjadi semakin penting. Dalam tayangan berita di televisi, termasuk juga infotainmen, menurutnya ada dua gatekeepers yang berperan dalam persoalan etika yang berkaiatan dengan visualisasi di layar televisi, yaitu kamerawan yang mengarahkan kameranya pada sumber berita dan editor yang berkuasa untuk memilih visualisasi yang layak disiarkan atau tidak.4
Dilihat dari kaidah jurnalistik, infotainmen dapat dikategorikan sebuah karya jurnalistik. Para wartawan infotainmen melakukan reportase di lapangan, mewawancarai narasumber, mengedit, kemudian menyiarkannya untuk khalayak ramai. Namun dilihat dari standar dan prosedur jurnalistik
4
tersebut, infotainmen yang ada secara umum merupakan produk jurnalistik yang buruk kualitasnya.
Selama ini yang menjadi keluhan para selebritis terhadap infotainmen adalah dimasukinya wilayah privat mereka oleh para kru infotainmen. Berbagai perseteruan selebritis dengan kru infotainmen seperti tersebut di atas menjadi penanda dari pereseturuan ini. Walaupun demikian konsep wilayah privat sendiri perlu dirumuskan kembali karena bukankan selebritis adalah
public figure yang kemanapun melangkah pasti selalu menarik minat khalayak
untuk mengetahuinya (public right to know). Yang lebih mendesak untuk
segera diperhatikan adalah kesadaran penerapan etika jurnalisme saat meliput berita yang akan dijadikan konsumsi infotainmen.
Pada kenyataannya, kondisi yang terjadi berkebalikan dan semakin ironis karena etika jurnalisme yang semakin tidak dipedulikan dalam infotainmen, sehingga wajar saja jika kemudian berkembang wacana bahwa infotainmen sekedar “berita sampah” yang hanya berorientasi kepada segi entertainment untuk mereguk keuntungan dengan mengorbankan hak-hak dan kepentingan sumber berita.
Yons Achmad, seorang pemerhati media dan aktivis Communicare Institute (CoIn) Jakarta memiliki beberapa catatan tentang kelemahan dari produksi sampai program terkait tayangan infotainmen yang ditayangkan ke publik yaitu: Pertama, di dalam dunia jurnalistik pertama kali yang harus dibangun adalah sumber berita berdasarkan fakta. Sementara di dalam acara infotainmen kerap sekali berita hanya berdasarkan gosip dan informasi yang
simpang siur. Kedua, dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya, wartawan infotainmen kerap memaksa nara sumber (artis) untuk angkat bicara. Bahkan, sampai menginap di sekitar rumah para artis. Fenomena ini kerap menjadikan trauma tersendiri di kalangan artis. Maka wajar jika ada penilaian bahwa pekerja infotainmen itu bukan wartawan. Ketiga, wartawan infotainmen kerap berdalih bahwa apa yang mereka lakukan itu sah-sah saja. Mencegat nara sumber dan seenaknya memaksa nara sumber untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Ketika tidak berhasil sering terjadi pemaksaan disertai ancaman bahwa menghalang-halangi kerja peliputan bisa berurusan dengan hukum atas
nama UU Pers No 40 1999. Keempat, berkenaan dengan status kewartawanan
banyak yang masih mempertanyakan apakah awak infotainmen layak disebut wartawan. Karena, mereka tidak semua bekerja pada stasiun televisi tetapi
karyawan sebuah production house. Kelima, terkait dengan muatan berita
yang buruk dan layak dikategorikan sebagai berita sampah (junk news), misalnya terkesan asal tayang dan menyiarkan wawancara nara sumber yang tidak kompeten untuk berbicara di ranah publik.5
Program infotainmen di stasiun-stasiun televisi bukan merupakan karya jurnalistik, demikian menurut disertasi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Mulharnetti Syas yang berjudul Relasi Kekuasaan dalam Budaya Industrti Televisi di Indonesia (Studi Budaya Televisi pada Program Infotainmen).
5
Beliau mengatakan, hasil disertasinya menyimpulkan bahwa tayangan infotainmen banyak melanggar kode etik jurnalistik, karena menampilkan gossip atau isu bukan fakta yang ada. Tayangan infotainmen hanya sebagai hiburan semata bagi pemirsa televisi, sehingga kurang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga menilai bahwa pekerja infotainmen bukan wartawan, karena hasil kerjanya bukan produk jurnalistik.6
Lain halnya dengan pandangan Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Dr. Effendy Ghozali, MA menilai, karakter infotainmen di
Indonesia adalah over explosive, over simplified dan over claim. Over
explosive karena tayangan infotainmen sudah terlalu banyak, semua stasiun televisi di Indonesia memiliki program acara serupa. Akibatnya, infotainmen justru menjadi sarana sinisme bukannya menjadi media informasi yang
mencerdaskan masyarakat. Sementara over simplified, ditunjukkan dengan
cara kerja para jurnalis infotainmen yang terlalu mudah menyederhanakan dan
menyimpulkan sebuah persoalan. Sedangkan over claim, media infotainmen
selalu mengklaim demi kepentingan publik. seolah-olah publik harus mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada artis.7
Antropolog Universitas Negeri Semarang, Nugroho Trisnu Brata menilai tayangan infotainmen berakar pada budaya masyarakat yang bermula dari kebiasaan “ngerumpi”. Kebiasaan tersebut ternyata mengikuti perkembangan zaman yang mulai mengenal media komunikasi yang lebih canggih, yakni televisi hingga akhirnya ada tayangan infotainmen. Ia
6
Depok (Antara News), Selasa 13 Juli 2010
7
mengatakan kebiasaan “ngerumpi” sudah menjadi budaya sebagian masyrakat sehingga menjadi bebas nilai dan tidak dapat dinilai salah atau benar, sebab kebudayaan adalah sesuatu yang bebas nilai. Tayangan infotainmen tak akan pernah sepi dari iklan yang mengindikasikan hal itu merupakan peluang untuk meraih pendapatan besar di dunia pertelevisian.8
Pihak yang mengkritik tayangan infotainmen umumnya berkeberatan terhadap isi yang melulu pada gossip ataupun fakta yang tidak berbobot dan tidak sehat. Tayangan-tayangan di televisi seyogyanya berisi informasi yang membawa masyarakat kepada proses pembelajaran yang mendidik dan bertumpu pada nilai etika, kesopanan, maupun kecakapan dalam ilmu dan teknologi.
2. Pandangan Ormas Islam Terhadap Infotainmen
Di selenggarakannya Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli 2006 lalu akhirnya merekomendasikan bahwa NU mengeluarkan fatwa haram tentang infotainmen karena memasuki wilayah ghibah alias gunjingan bahkan fitnah yang tak terbukti kebenarannya atas persoalan-persolan pribadi yang diberitakannya.
Ketua PBNU Prof Dr. KH Said Aqil Siradj menyatakan, langkah NU mengeluarkan fatwa haram bagi infotainmen yang cenderung membuka aib seseorang semata untuk mengajak umat pada kebaikan dan meninggalkan keburukan, namun NU tak akan memaksa masyarakat untuk mengikuti fatwa
8
tersebut. Beliau menjamin fatwa yang dihasilkan dari proses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli lalu itu tidak akan diikuti dengan aksi sweeping terhadap orang-orang yang tidak mengikuti fatwa tersebut.9
Pada Juli 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram untuk tayangan infotainmen, baik bagi televisi yang menayangkannya maupun masyarakat yang menontonnya. Fatwa tersebut disahkan dalam rapat pleno Komisi C Bidang Fatwa Musyawarah Nasional (Munas) VIII MUI di Jakarta. Rapat dipimpin oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH. Ma’ruf Amin.
Bagi pihak yang menayangkan dan menyiarkan atau mengambil keuntungan dari berita yang berisi tentang aib, kejelekan, gossip dan hal-hal lain sejenis terkait juga dinyatakan haram oleh MUI. Sementara status haram itu bisa batal dengan beberapa alasan yang dibenarka secara syar’i, yakni tayangan infotainmen tersebut untuk kepentingan penegak hokum, memberantas kemungkaran, memberi peringatan, menyampaikan pengaduan, meminta pertolongan atau meminta fatwa hukum.
MUI merekomendasikan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk meregulasi tayangan infotainmen untuk menjamin hak masyarakat memperoleh tayangan yang bermutu serta melindungi dari hak-hak negatif. Lembaga Sensor Film (LSF) juga diminta mengambil langkah proaktif untuk
9
menyensor tayangan infotainmen guna menjamin terpenuhinya hak-hak publik dalam menikmati tayangan bermutu.10
Dalam Firman Allah SWT:
“
ْإ
ﻈ ا
ﺾْﻌ
نإ
ﻈ ا
اﺮ آ
اﻮ ْ ا
اﻮ
ﺬ ا
ﺎﻬ أ
ﺎ
ْ
آْﺄ
ْنأ
ْ آﺪ أ
أ
ﺎﻀْﻌ
ْ ﻜﻀْﻌ
ْ ْﻐ
ﺎ و
اﻮ
ﺎ و
ﻓ
ﺎ ْ
ﺧأ
ر
باﻮ
ا
نإ
ا
اﻮ او
ﻮ ْهﺮﻜ
”
.
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing-kan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging sau-daranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertak-walah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hujuraat: 12)
Hadits Nabi s.a.w yang diriwayatkan Imam al-Bukhori:11
ْ ذأ
ﻓ
ﺻ
نﻮهرﺎآ ْ هو
مْﻮ
ﺪ
ﻰ إ
ﻊ ْ ا
ْ و
ﻚ ْا
.
Artinya: “Barang siapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum, sedangkan
mereka membeci pembicaraan itu, maka akan dicurahkan timah yang meleleh pada telinga orang tersebut (di akherat).”
Dalil-dalil diatas mengandung kesimpulan bahwa seseorang dilarang untuk melakukan tujuh perkara:
1. Dzon (dugaan buruk atau buruk sangka pada orang lain). 2. Tajassus (mengintai atau mengejar berita).
3. Ghibah (ngerasani) yang diharamkan seperti mengungkap aib seseorang dengan segala macam bentuknya (dengan li-san, tulisan, isyarah dan lain- lain atau dengan hati).
10
http://www.detiknews.com/2010/07/27/04513/1396755/mui:gossip-haram
11
4. Buhtan (mendustakan orang lain)
5. Ifkun (membicarakan sesuatu yang didengar yang belum ada kejelasan). 6. Tasmi’ (memperdengarkan perbuatannya untuk mendapat popularitas) dan
Riya’ (pamer untuk dipuji).
7. Membuka aib sendiri atau orang lain tanpa ada tujuan yang dibenarkan.12
Hukum penayangan dan proses infotainmen :
1. Jika ada unsur-unsur perkara di atas, maka hukum penayangannya adalah
haram.
2. Jika tidak ada unsur-unsur tersebut, seperti tahadduts binni’mah
(membicarakan kenikmatan yang diberikan Allah), sebagai panutan agar diikuti amal kebaikannya dan agar dimanfaatkan karya Ilmiahnya, maka
hukum penayangnya diperbolehkan.
Hukum menontonnya:
1. Haram, jika panayangannya hukumnya haram (karena setuju dengan
kemungkaran), kecuali ada tujuan taghyirul mungkar (mengubah
kemungkaran) atau meninggalkan.
2. Tidak haram, jika penanyangannya hukumnya tidak haram.
12
Rachmat Syafe’I. Al-Hadist: Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum. 2003, (Bandung: CV. Pustaka Setia,)cet ke2 h.188
A. Peranan KPI Pusat terhadap Tayangan Infotainmen
Komisi penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga independen yang mengatur hal-hal mengenai penyiaran yang tugas, fungsi dan wewenangnya diatur dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran.
Komisi Penyiaran Indonesia adalah suatu lembaga yang bergerak dalam bidang penyiaran. Semua tugas serta fungsi KPI bertujuan untuk memperbaiki semua siaran yang ada di Indonesia. Tugas lain dari KPI adalah mengawasi kegiatan penyiaran dan memberikan sanksi kepada stasiun televisi yang melakukan tindakan pelanggaran. Hal tersebut merupakan wujud peran KPI dalam mengawasi tayangan-tayangan yang ada di televisi.
Kegiatan komisi penyiaran Indonesia dalam mengawasi isi siaran ini masuk kepada yang ketiga yaitu pengawasan isi siaran karena pada dasarnya KPI dibagi menjadi tiga bidang yaitu bidang kelembagaan, bidang struktur penyiaran dan bidang pengawasan isi siaran.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat memiki beberapa kegiatan dalam mengawasi tayangan-tayangan di televisi yaitu menampung, meneliti dan menindaklanjuti keluhan akan isi siaran, pemantauan langsung, dan memberikan sanksi.
1. KPI melakukan kajian dalam bidang masing-masing
Pada dasarnya setiap komisioner memiliki tim kajian masing-masing. Kajian dilakukan setiap satu bulan sekali oleh para tim pengkaji. Kajian ini bertujuan memantau pelanggaran yang dilakukan stasiun-stasiun TV yang bersiaran nasional terhadap UU no 32/2002 tentang Penyiaran serta P3SPS yang ditetapkan KPI. Kegiatan pengkajian ini berguna untuk mengoreksi serta meneliti suatu tayangan yang melakukan pelanggaran. Kegiatan pengkajian sangat penting dilakukan sebab, secara tidak langsung kegiatan ini bisa dijadikan tolok ukur seberapa jauh suatu tayangan melakukan tindakan pelanggaran.
2. KPI menerima aduan dari masyarakat.
Setiap orang atau sekelompok orang yang mengetahui adanya pelanggaran terhadap standar program siaran dapat mengadukan pelanggaran tersebut kepada Komisi Penyiaran Indonesia, KPI juga menerima aduan melalui media internet yakni dengan membuka situs web www.kpi.go.id. Dan jejaring sosial Facebook dengan akun komisi penyiaran indonesia. Selain itu KPI menerima aduan dalam bentuk lainnya seperti melalui call centre dan SMS, dari sanalah KPI mengetahui aduan yang masuk dari masyarakat untuk KPI. KPI menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaran penyiaran. Pengaduan dari masyarakat merupakan inti yang sangat penting mengingat masyrakat merupakan orang yang paling sering mengonsumsi tayangan televisi
sehari-hari. Sehingga masyarakat paling banyak mengetahui serta merasakan tayangan apa yang memberikan dampak negatif serta melanggar aturan penyiaran. Pada tahun 2009 ada 163 aduan (khusus untuk tayangan infotainmen saja) yang masuk ke KPI dan pada tahun 2010 jumlah aduan yang masuk tidak berbeda jauh sekitar 31.98% dari total aduan yang masuk. Dengan demikian masyarakat merupakan sumber yang cukup diperhitungkan
3. KPI melakukan pengawasan langsung.
Pengawasan secara langsung yaitu dengan mengawasi melalui fasilitas monitoring selama 24 jam penuh, pengawasan ini berlaku untuk semua stasiun televisi, dan fasilitas monitoring dapat merekam semua siaran yang ada di seluruh stasiun televisi. Kegiatan monitoring sangatlah penting, karena kegiatan tersebut ditujukan untuk mengawasi kegiatan penyiaran, sekaligus dapat megoreksi tayangan yang melakukan pelanggaran. Kegiatan monitoring dilakukan oleh 9 tim dan dibantu 11 tim ahli dan ditambah dengan beberapa panel dari beberapa universitas terkemuka yakni UI dan universitas lainnya.
Komisioner melakukan kajian serupa agar tayangan konsen memberikan pemberdayaan khususnya memberikan edukasi untuk masyarakat. Selain itu KPI juga mengadakan pengawasan yakni dengan:
2. Pedoman perilaku penyiaran harus menjadi pedoman lembaga penyiaran dalam memproduksi suatu program siaran,
3. Pedoman perilaku penyiaran wajib dipatuhi oleh semua lembaga penyiaran.
Beberapa kegiatan KPI dalam mengawasi tayangan-tayangan televisi di atas merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh KPI. KPI memiliki peran yang sangat penting dalam dunia penyiaran, KPI ibarat sebuah rem yang dapat mengendalikan sebuah mobil, sebab semua kegiatan yang dilakukan oleh KPI adalah kegiatan yang dapat mengontrol semua kegiatan yang terdapat dalam bidang penyiaran. Bukan tidak mungkin jika KPI tidak ada maka tayangan-tayangan menjadi tidak terkontrol, dan layar televisi dipenuhi dengan tayangan yang kurang baik, serta mengkhawatirkan. Karena tidak adanya kontrol serta pengawasan langsung terhadap dunia penyiaran.
Sesuai amanat Undang-undang No 32 Tahun 2002 KPI menyusun Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang berisi apa yang boleh dan tidak disiarkan oleh lembaga penyiaran. P3SPS yang berlaku adalah peraturan KPI no 2/2009 tentang P3 dan no.3/2009 tentang SPS.
Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang dikenal dengan P3SPS merupakan peraturan KPI yang senantiasa mengalami penyempurnaan sesuai dengan dinamika yang ada. Di tengah persaingan antar industri yang begitu ketat, ide-ide kreatif yang muncul tak jarang mengesampingkan norma-norma dan aturan yang berlaku di dalam
masyarakat yang berujung pada penyuguhan tayangan yang merugikan kepentingan masyarakat khususnya anak dan remaja.
KPI menetapkan standar program siaran, hal ini tentunya sangatlah berguna, karena jika KPI tidak menetapkan standar program siaran maka lembaga penyiaran akan menyiarkan tayangan secara semena-mena dan memberikan tayangan yang tidak bertanggung jawab, sebab tidak ada standar serta ketentuan yang harus dipatuhi oleh lembaga penyiaran, jadi dengan adanya standar pedoman perilaku penyiaran, lembaga penyiaran tidak bisa semena-mana dalam memberikan tayangan kepada pemirsanya.
Fungsi KPI sebagai lembaga penyiaran sangat bermanfaat bagi kegiatan penyiaran di negeri kita ini. Sebagai warga Negara yang baik hendaknya para pembuat acara ikut membantu KPI dalam menjalankan fungsinya, yakni dengan menyajikan tayangan yang bermanfaat untuk masyarakat.
Tugas dan kewajiban KPI adalah menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia, adalah tugas yang tidak mudah apalagi ditambah tugas-tugas yang lain. Dari penjelasan diatas dapat diasumsikan bahwasannya KPI memiliki peran yang sangat penting dalam dunia penyiaran. Kendala yang dihadapi antara lain beragamnya program televisi dengan kualitas dan kuantitas yang beragam pula.
Memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata dan seimbang merupakan tugas yang cukup sulit. Disini KPI harus mensosialisasikan kepada
lembaga penyiaran agar lembaga penyiaran dapat memberikan informasi yang adil, merata dan seimbang. Sesuai pasal 36 ayat (4) isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mementingkan kepentingan golongan tertentu.1
Lembaga penyiaran wajib mensosialisasikan isi pedoman perilaku penyiaran kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses produksi, pembelian, penayangan, dan pendanaan program siaran, baik asing maupun lokal dari lembaga penyiaran yang bersangkutan.
Bila terjadi pelanggaran atas pedoman perilaku penyiaran, maka yang bertanggung jawab adalah lembaga penyiaran yang menyiarkan program yang mengandung dugaan pelanggaran tersebut. Seperti halnya pada tayangan infotainmen yang diduga melakukan pelanggaran terhadap standar program siaran, tayangan ini juga dianggap memberikan dampak negatif serta dapat meresahkan, maka pemberian sanksi dijatuhkan kepada lembaga penyiarannya, bukan pada pihak PH-nya. Hal ini karena setiap lembaga penyiaran berhak memilih tayangan mana saja yang akan tayang di lembaga penyiaran tersebut.
Kemudian ketentuan dalam ayat (1) di atas berlaku untuk seluruh jenis program, baik factual maupun non-faktual, program yang diproduksi sendiri maupun yang dibeli dari pihak lain atau asing. Program yang dihasilkan dari suatu kerjasama produksi maupun yang di sponsori oleh pihak asing.2
Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran akan dicatat dan direkam oleh KPI dan akan
1
Undang-undang Nomor 32/2002 Bab IV bagian Pertama mengenai Pelaksanaan Penyiaran
2
menjadi bahan pertimbangan bagi KPI dalam memberikan keputusan- keputusan yang menyangkut lembaga penyiaran, termasuk keputusan dalam hal perpanjangan izin siaran.3
Penetapan yang dilakukan oleh KPI sangatlah bermanfaat serta memberikan implikasi yang baik terhadap dunia penyiaran, hal ini sangat perlu dilakukan mengingat lembaga penyiaran di Indonesia masih banyak melakukan pelanggaran dalam memberikan tayangan kepada masyarakat, yakni dengan memberikan tayangan yang berdampak negatif.
KPI wajib menerbitkan dan mensosialisasikan pedoman perilaku penyiran kepada lembaga penyiaran dan masyrakat umum. Hal ini bertujuan agar lembaga penyiaran dan masyrakat tahu mengenai batasan-batasan yang diberlakukan KPI dalam dunia penyiaran. Dengan begitu masyarakat bisa memberikan aduan kepada KPI apabila lembaga penyiaran tertentu melakukan tindak pelanggaran. Sebagai warga Negara yang baik hendaknya kita harus mengadukan tayangan- tayangan yang diduga melakukan tindakan pelanggaran kepada KPI. Dengan begitu kita memiliki dua keuntungan, selain membantu tugas KPI juga ikut mengurangi tayangan yang kurang bermutu.
Selain itu, KPI juga melakukan kegiatan sosialisasi hasil pemantauan. Kegiatan sosialisasi hasil pemantauan berupaya membuat masyarakat paham akan fungsi dan tugas KPI, utamanya dalam mengawasi isi siaran. Sementara pemantauan yang dilakukan KPI terhadap isi siaran mencakup materi yang mengandung: kekerasan, pornografi, mistik, etika jurnalistik dan infotainmen.
3
Harapannya, jika masyarakat paham/melek media, maka masyarakat dapat lebih aktif dan kritis untuk dapat memilah atau mengindikasikan tayangan mana saja yang sehat untuk dikonsumsi dan mana yang tidak sehat. Sehingga masyarakat juga dapat menjadi kontrol sosial terhadap media. Program sebulan sekali yang dilakukan di beberapa daerah ini biasanya