• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah KPI dalam Menindaklanjuti Pelanggaran

BAB III GAMBARAN UMUM

D. Langkah KPI dalam Menindaklanjuti Pelanggaran

Tayangan Infotainmen yang semakin marak dan tidak terkontrol membuat KPI bertindak untuk memberikan himbauan, teguran dan bahkan peringatan kepada stasiun-stasiun TV tersebut. Pada tahun 2010, KPI telah mengeluarkan 14 surat teguran kepada stasiun-stasiun TV seperti RCTI, Trans 7, Global TV, Indosiar, ANTV, SCTV, dan Trans TV khusus untuk program infotainmen.18

Saat KPI melakukan Rakornas di Bandung tanggal 5-8 Juli 2010 dalam kepengurusan baru periode 2010-2013, terdapat tiga rekomendasi yang salah satunya adalah meninjau ulang status infotainmen apakah akan masuk ke dalam tayangan faktual atau non-faktual. Infotainmen banyak melanggar privasi, mencampuradukan fakta dan opini. 19 Pertimbangan lainnya Infotainmen banyak melanggar norma agama, sosial, etika moral, kode etik jurnalistik, maupun peraturan KPI tentang P3SPS. Apabila memasukkan Infotainmen ke dalam tayangan non-faktual maka konsekuensinya adalah

18

Data Rekap Teguran & Himbauan 2010 KPI Pusat 19

tayangan tersebut akan melewati gunting lembaga sensor sebelum ditayangkan.

Dewan Pers sependapat dengan usulan yang berkembang di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang akan memasukkan tayangan Infotainmen kedalam golongan non-faktual. 20 Infotainmen mungkin saja masuk pada golongan faktual dengan ketentuan mematuhi kode etik.

Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada tanggal 14 Juli 2010 di Gedung DPR RI , Komisi I DPR, bersama Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyepakati perubahan status Infotainmen menjadi tayangan non-faktual.

Komisi I DPR mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang dilakukan KPI untuk merevisi P3SPS terutama kategorisasi program siaran Infotainmen dari faktual menjadi non-faktual. DPR mendesak Infotainmen harus mulai jaga etika dalam setiap penayangan senelum sensor diterapkan. Jika Infotainmen tidak memperhatikan etika, sanksi yang paling berat yaitu dilarang tayang.21 Keputusan diambil karena ketiga lembaga menilai kerap kali siaran Infotainmen melakukan pelanggaran terhadap norma agama, etika moral, norma social, Kode Etik Jurnalistik dan P3SPS KPI. Pada saat bersamaan Dewan Pers meyakinkan status kategori program menjadi kewenangan KPI.22

20

http://bataviase.co.id/node/30558 21

Penjelasan Pimpinan Rapat, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hassanudin saat RDP bersama KPI dan Dewan Pers, di TV One

22

Sementara Ketua KPI Dadang Hidayat menegaskan bahwa KPI akan segera mengubah pedoman penyiaran. Dengan demikian maka akan ada sejumlah aturan tambahan untuk memperketat Infotainmen dan kemudian akan disosialisasikan kepada Infotainmen. KPI berwenang memberhentikan tayangan Infotainmen yang tidak lolos sensor dan dibicarakan kembali dengan Lembaga Sensor Film (LSF). 23

Adapun 4 (empat) poin kesepakatan antara DPR, Dewan Pers dan KPI terkait status dan konsekuensi Infotainmen setelah ditetapkan sebagai tayangan non-faktual, yaitu:

1. Komisi I DPR bersama KPI dan Dewan Pers bersepakat bahwa program siaran infotainmen dan reality show dan sejenisnya banyak melakukan pelanggaran terhadap norma agama, etika moral, norma social, kode etik jurnalistik, dan P3SPS KPI;

2. Komisi I DPR mendukung sepenuhnya upaya langkah-langkah yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia untuk merevisi P3SPS terutama pengkategorisasian program siaran infotainmen, reality show dan program sejenisnya dari program tayangan faktual menjadi non-faktual;

3. Komisi I DPR menghargai dan menyambut baik sikap Dewan Pers yang menyatakan bahwa kewenangan KPI untuk memutuskan status program infotainmen, reality show, dan sejenisnya sesuai dengan UU No 32 tahun 2002 tentang penyiaran;

23

http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/14764/DPR-sepakati-sensor- infotainment.jp

4. Komisi I DPR menegaskan bahwa KPI mempunyai kewenangan untuk menjatuhkan sanksi administratif terhadap lembaga penyiaran yang melanggar UU No 32 tahun 2002 tentang penyiaran dan peraturan pemerintah terkait serta P3SPS.

Langkah yang akan dijalankan oleh KPI terkait perubahan status infotainmen menjadi program non-faktual adalah merevisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2009 terutama kategorisasi program siaran infotainmen.

Program infotainmen diharapakan tetap dapat menyampaikan inti berita dengan tetap mengindahkan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Jika memang infotainmen merasa perlu menyertakan adegan atau gambar yang mengandung sensualitas dan seksualitas untuk mendukung pemberitaan, akan lebih baik jika dilakukan teknik blur dan memindahkan jam tayangnya menjadi di atas pukul 22:00 hingga 03:00 seperti tertera dalam SPS 2009.

A. Kesimpulan

Dalam bab ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yaitu:

1. Kegiatan yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia dalam mengawasi tayangan infotainmen di televisi adalah menampung aduan dari masyarakat. Kemudian KPI khususnya komisioner bidang infotainmen melakukan kajian. Kajian tersebut bertujuan memantau pelanggaran yang dilakukan stasiun TV yang bersiaran nasional terhadap Undang-undang No 32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh KPI. Selain melakukan kajian, KPI juga memiliki wewenang untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan P3SPS. Sanksi yang diberikan adalah sanksi administratif berupa teguran dan penghentian tayangan. 2. Apabila terjadi pelanggaran tayangan khususnya infotainmen, KPI telah

memberikan sanksi berupa teguran. Teguran diberikan kepada stasiun TV yang melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti perilaku tak patut ditiru, kategori sensualitas dan seksualitas, serta pengabaian atas hak-hak narasumber. Pergantian pengurus dalam KPI periode 2010-2013 saat melakukan Rakornas di Bandung, menghasilkan tiga rekomendasi salah satunya adalah memasukkan tayangan infotainmen ke dalam program non-

faktual dengan konsekuensi tayangan akan melewati guntingan lembaga sensor sebelum tayang. Rekomendasi tersebut telah sepakati oleh Komisi I DPR RI, dan menjadikan infotainmen ke dalam kategori program non- faktual. KPI juga akan melakukan revisi terhadap P3SPS 2009 terutama kategorisasi program siaran infotainmen.

B. Saran-saran

1. KPI perlu meningkatkan kapasitas pemantauan agar lebih maksimal dalam memantau siaran-siaran di televisi.

2. KPI diharapkan lebih konsisten dan tegas dalam menegakkan rambu- rambu dalam P3SPS yang telah direvisi.

3. Media televisi mesti lebih mengetatkan penegakan etika penyiaran agar lebih profesional dalam menyajikan tayangan di stasiun-stasiun televisi. 4. Tayangan infotainmen diharapkan menjadi semacam jurnalisme alternatif

yang tidak semata berisi kehidupan seorang selebriti, tetapi juga berdampak positif dan menyajikan berita untuk kepentingan penegak hukum, menyampaikan pengaduan serta tidak mengabaikan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan peraturan yang ditetapkan oleh KPI. 5. Masyarakat diharapkan lebih bersikap selektif dalam memilih tayangan di

televisi karena berkaitan dengan jumlah rating suatu tayangan.

Abbas, Bakri. Komunikasi Internasional: Peran dan Permasalahannya. 2003. Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta IISIP

Ardianto, Elvinaro, dkk. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. 2007. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media

---. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. 2007. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Bungin, Burhan. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. 2006. Jakarta: Kencana

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1996. Jakarta: Balai Pustaka

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. 2006. Bandung: Remaja Rosdakarya

---. Kamus Komunikasi. 1989. Bandung: Mandar Maju Gerungan, WA. Psikologi Sosial. 1998. Bandung: PT. Eresso

Hiryawan, Hari. Dasar-dasar Hukum Media. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Kuswandi, Wawan. Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. 2005.

Jakarta: PT. Rineka Cipta

Komisi Penyiaran Indonesia. Undang-Undang tentang Penyiaran No 32/20002 Lilweri, Alo. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyrakat. 1991.

Bandung: PT. Citra Aditya Bakti

Masson, N. Gross WS and AW Mc. Eachem. Exploration in Role Analysis. 1995. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Moleong, Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2001. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Mufid, Muhammad. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. 2007. Jakarta: Kencana Nasuhi, Hamid, dkk,. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2007. Jakarta: CeQDA Nasution, Zulkarnaen. Sosiologi Komunikasi Massa. 1993. Jakarta: Universitas

Terbuka

Nugroho, Bimo dan Teguh Imawan, dkk. 2005. Infotainmen. Jakarta: Komisi Penyiaran Indonesia

Nurudin. Komunikasi Massa. 2003. Malang: Cespur

Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran 2009

Sarwono, Sarlito Wirawan. Teori- teori Psikologi Sosial. 2005. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Soenarto, RM. Programa Televisi dari Penyusunan sampai Pengaruh Siaran. 2007. Jakarta: FFTV-IKJ Press

Soejono, Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. 2003. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sutisno, PCS. Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Radio. 1993. Jakarta: Grafindo

Syafe’I, Rachmat. Al-Hadist: Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum. 2003. Bandung: CV.Pustaka Setia

Syahputra, Iswandi. Jurnalistik Infotainmen: Kancah Baru Jurnalistik dalam Industri Televisi. 2006. Yogyakarta: Pilar Media

Website: http://artikeljurnalinfotainmen.pdf http://bataviase.co.id http://communicareinstitute.com http://www.detiknews.com http://www.google.com/pengertianperan http://gunheryanto.blogspot.com http://jktpress.com http://kpi.go.id http://petrachristianuniversitylibrary.ak.id/ikom.pdf http://tempointeraktif.com

1. 1 Tabel Teguran/ Himbauan tahun 2009:

No Program Acara Jumlah

Teguran/ Himbauan

1. Talk Show 5

2. Sinet ron/ Film 40

3. Variet y Show 8 4. Iklan 20 5. Program Anak 2 6. Realit y Show 11 7. Komedi 8 8. Inf ot ainment 4 9. Feat ures 1

10 Musik / Klip Musik 7

11 Blocking Time Pemilu 8

12 Quick Count 1

13 Berit a 5

14 Lain-Lain 8

JUMLAH 128

2. Kapan KPI berdiri? 3. Apa visi dan misi KPI?

4. Apa tugas dan kewajiban KPI?

5. Apa saja aturan-aturan yang terdapat dalam tubuh KPI? 6. Berapa lama masa jabatan di KPI?

7. Apa upaya yang dilakukan KPI dalam menjalankan programnya? 8. Bagaimana tanggapan anda tentang infotainment di televisi?

9. Masalah infotainment yang diputar setiap pagi, siang dan sore secara terus- menerus akan berdampak terhadap masyarakat, sehingga perlu ada regulasi KPI, seperti apa?

10. Apa yang sudah dilakukan KPI terhadap tayangan infotainment di televisi? 11. Apakah seluruh infotainment saat ini banyak melakukan pelanggaran kode

etik?

12. Apa saja stasiun televisi yang melakukan pelanggaran khususnya saat program tayangan infotainment?

13. Bagaimana dengan infotainment yang mengklaim mereka sebagai jurnalisme dan diakui oleh salah satu organisasi profesi wartawan?

14. Bagaimana KPI mengetahui ada atau tidaknya tayangan yang layak atau tidak layak di televisi?

15. Siapa yang mendapat teguran bila ada penyimpangan dengan peraturan KPI dalam suatu tayangan, PH atau stasiun tv?

17. Sudah ada standar baku yang ditetapkan, yaitu P3SPS, Bagaimana menurut Anda dengan hal ini? Dan bagaimana KPI seharusnya berperan? 18. Bagaimana harapan Anda terhadap apa yang telah dilakukan oleh KPI

sendiri?

19. Bagaimana harapan KPI terhadap tayangan-tayangan infotainment di televisi?

20. Apakah peran KPI sudah sesuai dengan kapasitasnya, bagaimana tanggapan Anda?

Selasa, 3 Mei 2010

1. Apa yang melatar belakangi berdirinya KPI?

Jawab : Undang-undang Penyiaran Nomor 32 tahun 2002 merupakan dasar utama bagi pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Semangatnya adalah pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan.

2. Kapan KPI berdiri?

Jawab: KPI berdiri pada tanggal 26 Desember 2003, KPI berdiri 1 tahun setelah undang-undang disepakati. Sesuai dengan UU no 32 pasal 61 yang bebrbunyi, KPI harus segera berdiri selambat-lambatnya 1 tahun setelah diundang-undangkannya hal tersebut. KPI telah berjalan dua periode, periode pertama yakni 2003-2006 dan periode kedua tahun 2007-2010. 3. Apa Visi dan Misi KPI?

Jawab : Visi dari KPI yaitu terwujudnya sistem penyiaran nasional yang berkeadilan dan bermartabat untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahtaraan masyarakat. Sedangkan Misi KPI yaitu antara lain membangun dan memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata dan seimbang. Bisa dilihat di website KPI.

4. Apa wewenang ,tugas dan kewajiban KPI?

Jawab: Sesuai dengan Undang-undang no 32/2002 pasal 8 ayat (2) dan (3) yakni wewenang KPI adalah menetapkan standar program penyiaran,

peraturan dan P3SPS, dan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah, lembaga penyiaran dan masyarakat.

Tugas dan kewajiban KPI adalah diantaranya menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia, menampung, meneliti dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik masyarakat terhadap penyelenggaran penyiaran, dan selengkapnya lihat dalam UU no 32/2002 pasal 8 ayat (3).

5. Apa saja aturan-aturan yang terdapat dalam tubuh KPI?

Jawab : Dapat dilihat dalam Undang-Undang No 32 tahun 2002 Bab III bagian kesebelas tentang perizinan.

6. Berapa lama masa jabatan di KPI?

Jawab :Masa jabatan dalam kelembagaan di KPI adalah 3 tahun. 7. Apa upaya yang dilakukan KPI dalam menjalankan programnya?

Jawab :KPI melakukan beberapa upaya dalam mengawasi tayangan layar Indonesia di televisi. Upaya yang dilakukan KPI diantaranya dengan melakukan kajian, menerima aduan masyarakat, menindaklanjuti keluhan akan isi siaran, memberikan sanksi, dan melakukan kegiatan monitoring. Selain itu juga KPI mengawasi pelaksanaan pedoman perilaku penyiaran. Secara berkala juga menyempurnakan atau merevisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pedoman perilaku penyiaran harus menjadi pedoman lembaga penyiran dalam memproduksi suatu program siaran. Pedoman perilaku penyiaran wajib dipatuhi oleh semua lembaga penyiaran.

masih terhitung kontroversi. Keberadaan infotainment yang mungkin pada awalnya bertujuan untuk menyajikan berita-berita seputar perkembangan dunia entertainment Indonesia, saat ini lebih cenderung untuk menampilkan gosip-gosip yang sensasional. Bahkan, berita yang belum jelas kebenarannya pun sudah dipublikasikan secara besar-besaran. Sementara kita sendiri bisa menilai berita yang disajikan infotainment sebagian besar lebih bersifat sensasional ketimbang fakta. Apalagi belakangan muncul kasus perseteruan antara seorang artis dengan para pekerja infotainment di jejaring sosial.

9. Masalah infotainment yang diputar pagi, siang, dan sore secara terus- menerus berdampak terhadap masyarakat. Menurut saya perlu ada regulasi KPI, seperti apa?

Jawab :Sesuai amanat UU no 32/2002 KPI menyusun P3SPS yang berisi apa yang boleh dan tidak boleh disiarkan oleh lembaga penyiaran. KPI melakukan penyaringan pada semua program termasuk infotainment. 10. Apa yang sudah dilakukan KPI terhadap tayangan infotainment di televisi?

Jawab :Tahun 2009 KPI telah menerima 163 aduan mengenai infotainment. Setelah itu dilakukan kajian tayangan infotainment dengan metode analisis isi. Kajian terhadap tayangan infotainment dilakukan sejak bulan Maret hingga Desember 2009 dengan total 195 sampel tayangan infotainment. Pengamatan dilakukan kepada Sembilan stasiun televisi yaitu: SCTV, RCTI, Trans TV, Global TV, Trans 7, Indosiar, TPI, ANTV, dan TV One. KPI memberikan sanksi berupa teguran dan himbauan kepada lembaga penyiaran yang melakukan pelanggaran.

Jawab :Selama tahun 2009, terdapat pelanggaran dengan kategori perilaku tak patut ditiru, kategori seksualitas dan sensualitas serta yang paling banyak dilakukan adalah pelanggaran dengan kategori pengabaian hak-hak nara sumber.

12. Apa saja stasiun TV yang melakukan pelanggaran khususnya saat program tayangan infotainment?

Jawab :Tahun 2009, yang melakukan pelanggaran adalah SCTV, Trans 7, RCTI, dan Global TV. Tahun 2010, yaitu SCTV, Trans TV, Indosiar, Trans 7, RCTI, ANTV, dan Global TV.

13. Bagaimana dengan infotainment yang mengkliam sebagai jurnalisme dan diakui oleh salah satu organisasi profesi wartawan?

Jawab :Dalam P3SPS memang saat ini infotainment masih tergolong dalam kategori tayangan faktual. Apabila termasuk dalam bagian dari tayangan faktual maka harus mengikuti Kode Etik Jurnalistik yang disepakati oleh Dewan Pers. Ada kemungkinan untuk nantinya mengganti status infotainment dilihat dari isi siaran tayangan infotainment sekarang yang malanggar norma-norma, etika moral, Kode Etik Jurnalistik, maupun P3SPS.

14. Bagaimana KPI mengetahui ada atau tidaknya tayangan yang layak atau tidak layak di televisi?

Jawab :Kontent tentang layak dan tidak layak tidak hanya terkait dengan masalah kekerasan, seks, pornografi namun konten siaran itu harus memuat isi yang cerdas, sehat, dan berkualitas. Cerdas disini maksudnya sesuai proporsi waktu penayangannya. KPI mengetahui adanya tindak pelanggaran melalui kegiatan pengkajian yang dilakukan terhadap tayangan. Selain itu KPI juga menerima aduan dari masyarakat. Dari

15. Siapa yang mendapat teguran bila ada penyimpangan dengan peraturan KPI dari suatu tayangan, PH atau stasiun TV?

Jawab :Yang mendapatkan teguran atas adanya dugaan pelanggaran adalah lembaga penyiaran atau stasiun televisinya. Karena mereka adalah yang menentukan tayangan apa saja yang akan disiarkan pada stasiunnya, sedangkan PH hanya menawarkan saja.

16. Jika ditemukan hal-hal yang menyimpang dengan peraturan KPI dalam suatu tayangan, apa sanksi yang diberikan kepada PH atau stasiun TV tersebut?

Jawab :Langkah pertama yang dilakukan KPI adalah memberikan sanksi administrative berupa teguran tertulis. KPI memberikan hak jawab terhadap pelaku. Namun apabila tidak ada perbaikan maka akan dilanjutkan dengan sanksi yang selanjutnya, yang sudah ditentukan oleh undang-undang no 32/2002.

17. Sudah ada standar baku yang ditetapkan, yaitu P3SPS, Bagaimana menurut Anda dengan hal itu dan Bagaimana KPI harusnya berperan?

Jawab: Sesuai Undang-undang No 32 tahun 2002, KPI menyusun P3SPS. P3SPS yang berlaku adalah peraturan KPI no.2/2009 tentang pedoman perilaku penyiaran dan no.3/2009 tentang Standar Program Siaran. Menurut pasal 48 dan 53 UU no 32/2002 jelas P3SPS melibatkan peran serta masyarakat melalui Permendagri juga menguatkan peran KPI.

18. Bagaimana harapan Anda terhadap apa yang telah dilakukan KPI sendiri?

Jawab :Saya hanya berharap masyrakat puas dengan apa yang telah dilakukan oleh KPI, KPI juga berharap agar lembaga penyiaran

19. Bagaimana harapan Anda terhadap tayangan-tayangan infotainment di televisi?

Jawab :Program infotainment diharapakan tetap dapat menyampaikan inti berita dengan tetap mengindahkan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Jika memang infotainment merasa perlu menyertakan adegan atau gambar yang mengandung sensualitas dan seksualitas untuk mendukung pemberitaan, akan lebih baik jika dilakukan teknik blur dan memindahkan jam tayangnya menjadi di atas pukul 22:00 hingga 03:00 seperti tertera dalam SPS.

20. Apakan peran KPI sudah sesuai dengan kapasitasnya, bagaimana menurut Anda?

Jawab :KPI Pusat memegang peran penting untuk meminimalisasi dampak yang tidak pas dari media penyiaran yang melenakan khususnya terhadap anak, remaja dan masyarakat. Disinilah tugas utama KPI untuk mendorong pengelola media menciptakan media sebagai ruang publik. Sesuai UU no 32/2002 pasal 53 KPI bertanggung jawab kepada Presiden dan menyampaikan laporan kepada DPR. Hanya saja kapasitas pemantauan KPI sebenarnya tergolong rendah, karena hanya mampu memantau 20% dari total siaran-siaran stasiun televisi.

Jakarta, 3 Mei 2010

Dadang Rahmat Hidayat (Ketua)

Dipercaya menjabat ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Jawa Barat sejak 2004, Dadang memotori gerakan Gerakan Media Sehat dna Pemirsa Cerdas (GEMAS PEDAS) sebagai gerakan unggulan KPI Daerah Jawa Barat. Popularitas dan kapasitasnya yang tidak diragukan lagi oleh kalangan rekan-rekan KPI Daerah membawa ayah dua anak ini dipilih oleh DPR sebagai Anggota KPI Pusat periode 2010-2013. Pengalamannya yang mumpuni sebagai pengajar di Universitas Padjajaran membuatnya dipilih sejawatnya sebagai Ketua KPI Pusat periode 2010-2013.

Nina Mutmainnah (Wakil Ketua)

Pengajar tetap Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI ini memang sudah tidak asing lagi di dunia media dan penyiaran. Akademisi yang aktif menulis di berbagai kolom ini sejak lama memiliki perhatian terhadap isu-isu media dan anak, dampak media., dan literasi media. Untuk itu, DPR tidak ragu memilih pendiri dan aktivis Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) ini sebagai Anggota KPI Pusat periode 2010-2013. Ibu dua anak yang juga kandidat doktor dari Universitas Indonesia ini juga dikenal sebagai salah satu penggagas pendidikan media di sekolah. Karena rekam jejaknya yang sangat baik tersebut, Nina dipercaya rekan-rekannya menjadi Wakil Ketua KPI Pusat periode 2010-2013.

Mochamad Riyanto

Dosen tetap fakultas hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang ini, terbilang sangat aktif di beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk pengawasan beberapa program sektor pertanian dan perkebunan di lingkup wilayah Jawa Tengah. Khusus dibidang penyiaran, suami dari Retno Winarni ini pernah menjabat sebagai ketua KPID Jawa Tengah dan pembina student media watch (SMW). Ayah dua anak ini juga aktif menerbitkan beberapa karya ilmiah tentang penyiaran seperti peran media dalam politik lokal, urgensi radio komunitas, spektrum hukum lembaga penyiaran dan karya-karya ilmiah lainnya. Selain itu, Riyanto juga merupakan salahsatu anggota KPI Pusat dari periode sebelumnya yang terpilih kembali menjabat di periode 2010-2013.

dianggap sebagai aktivis media yang mumpuni. Peraih Master International Develepmont Studies dari Ohio State University, AS ini telah menekuni dunia jurnalistik sejak 1990 dan bekerja di berbagai media cetak maupun elektronik. Selain itu, pengalamannya juga dipenuhi aktivitas penelitian dan pelatihan baik di yang diselenggarakan berbagai organisasi lokal dan internasional baik di dalam maupun luar negeri.

Azimah

Aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat, ibu tiga anak ini kritis menyuarakan agar tayangan TV di Indonesia menjadi sehat. Ketua Masyarakat Tolak Pornografi ini juga aktif melakukan penyuluhan literasi media kapada masyarakat. Karena aktivitasnya ini, Azima yang juga pernah menjadi Analis di The Habibie Center dan KPI Pusat ini dipercaya DPR menjadi salahsatu dari tiga perempuan yang menjadi anggota KPI Pusat periode 2010-2013.

Idy Muzayyad

Mengawali karir di dunia pers dan mulai bersentuhan dengan dunia komunikasi dengan menjadi wartawan Surat Kabar Harian Bernas Yogyakarta (2000-2003). Sebelumnya aktif di pers kampus di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mendalami ilmu komunikasi di Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (2004-2007), dan menjadi pengajar pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta (2009- sekarang). Aktif berorganisasi semenjak mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus. Menapaki karir organisasi di lingkungan NU dari bawah sebelum akhirnya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar

Dokumen terkait