BAB III AKTIVITAS MANUSIA DALAM KELEMBAGAAN
B. Perubahan Aktivitas Manusia dalam Lembaga Sosial,
3. Aktivitas Manusia dalam Lembaga Pendidikan
Pada masa prasejarah pendidikan hanya dilakukan di keluarga karena saat itu belum dikenal tulisan. Keluarga yang terdiri atas bapak dan ibu memberikan ketrampilan untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa pra sejarah belum mengenal sistem pendidikan dan segala pengetahuan yang diperoleh masih berasal dari pengalaman hidup di alam bebas.
Pada masa praaksara, keluarga sudah dianggap mencukupi untuk pendidikan. Yang menjadi pendidik adalah ayah dan ibu. Ayah mengajarkan kepandaian dan pengetahuan yang dimiliknya kepada anak laki-laki dan ibu mengajarkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padanya kepada anak perempuan. Tujuan pendidikan pada masa ini adalah supaya anak-anak itu kelak dapat memegang kekuasaan dalam masyarakat sebagai manusia yang mempunyai kecakapan istimewa, yakni manusia yang mempunyai semangat gotong royong; manusia yang menghormati para empu; dan manusia yang taat akan adat. Pada masa ini belum ada sekolah.
Pendidikan berlangsung di dalam keluarga.
b. Masa Hindu-Buddha
Bidang pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu
bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Pada masa pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha lembaga pendidikan menggunakan sistem guru-kula. Sistem ini sama dengan sistem asrama. Murid-murid tinggal serumah dengan guru. Istri guru dianggap sebagai ibu. Murid harus melayani gurunya. Guru dianggap seorang yang sakti yang mula-mula menjadi guru ialah kaum Brahmana.
Lembaga pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah:
1) Asrama
Prasasti Nalanda yang dibuat pada sekitar pertengahan abad ke-9, dan ditemukan di India. Pada prasasti ini disebutkan bahwa raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (Sriwijaya) meminta pada Raja Dewapaladewa agar memberikan sebidang tanah untuk pembangunan asrama yang digunakan sebagai tempat bagi para pelajar agama Buddha yang berasal dari Sriwijaya. Berdasarkan prasasti tersebut, kita bisa melihat begitu besarnya perhatian raja Sriwijaya terhadap pendidikan dan pengajaran agama Buddha di kerajaannya. Hal ini terlihat oleh dikirimkannya beberapa pelajar dari Sriwijaya untuk belajar agama Buddha langsung ke daerah kelahirannya yaitu India.
Tidak mustahil bahwa sekembalinya para pelajar ini ke Sriwijaya maka mereka akan menyebarluaskan hasil pendidikannya tersebut kepada masyarakat Sriwijaya dengan jalan membentuk asrama-asrama sebagai pusat pengajaran dan pendidikan agama Buddha.
Pada prasasti Turun Hyang, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga menyebutkan tentang pembuatan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga.
Sriwijaya Asrama merupakan suatu tempat yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan.
Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Raja Airlangga terhadap pendidikan keagamaan bagi rakyatnya dengan memberikan fasilitas berupa pembuatan bangunan yang akan digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran.
2) Surau
Surau merupakan tempat yang dibangun sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha pada masa Raja Adityawarman. Pada masa itu, surau digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda untuk belajar ilmu agama.
Pada masa Islam kebiasaan ini terus dilanjutkan dengan mengganti fokus kajian dari Hindu-Buddha pada ajaran Islam. Istilah surau yang digunakan oleh orang Islam untuk menunjuk lembaga pendidikan Islam tradisional di Minangkabau sebenarnya berasal dari pengaruh Hindu-Buddha.
3) Padepokan
Merupakan tempat berkumpulnya murid-murid yang belajar kepada guru di suatu tempat. Murid-murid biasanya keturunan Brahmana utnuk mempelajari segala macam pengetahuan yang bersumber dari kitab suci (Veda dan Upanishad bagi Hindu serta Tripitaka bagi Buddha). Di Candi Borobudur terlihat suatu lukisan yang menggambarkan suatu proses pendidikan seperti yang berlaku sekarang ini. Ditengah-tengah pendopo besar
seorang Brahmana atau pendeta duduk dilingkari oleh murid-muridnya, semuanya membawa buku, dan mereka belajar membaca dan menulis. Guru tidak menerima gaji namun dijamin oleh murid-muridnya untuk hidup. Yang menjadi dasar pendidikan adalah agama Buddha dan Hindu, seperti dapat kita lihat relief-relief yang tertulis dicandi Borobudur (Buddha) dan candi Prambanan (Hindu).
c. Masa Islam
Pada masa pengaruh Islam, dua lembaga pendidikan yang memegang peranan penting pada masa penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, yaitu: Langgar dan Pesantren. Islam memiliki prinsip demokrasi, maka pengajarannya merupakan pengajaran rakyat. Tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama, bukan untuk memberikan pengetahuan umum.
1) Masjid
Pada masa kerajaan Mataram Islam masjid berfungsi dibidang pendidikan dan tempat ibadah. Pendidikan dimulai dari musola atau langgar. Dengan semakin banyaknya warga yang memeluk agama Islam, kemudian muncul lembaga pendidikan yang lebih besar, yaitu pondok pesantren.
2) Pondok Pesantren/Asrama
Lembaga-lembaga pendidikan semacam asrama merupakan salah satu bukti pengaruh dari kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan.
Pendidikan Islam berkembang di pesantren-pesanten Islam. Pesantren telah berkembang sebelum Islam
masuk ke Indonesia. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, mata pelajaran dan proses pendidikan pesantren berubah menjadi pendidikan Islam
Pondok pesantren yang dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia merupakan lembaga pendidikan Islam yang penting dalam penyebaran agama Islam pada waktu itu. Pesantren inilah yang akhirnya menampung anak-anak bangsa yang tidak diperbolehkan oleh penjajah untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan pemerintah.
Para santri yang telah keluar dari pesantren ini, kemudian akan menjadi tokoh agama, menjadi kyai dan mendirikan pesantren lagi. Sehingga dengan adanya pesantren ini, penyebaran pendidikan Islam tidak akan terputus. Demikian seterusnya sehingga semakin lama Islam semakin berkembang.
3) Kerajaan
Kerajaan Islam sangat memperhatikan pendidikan di wilayahnya, diantaranya adalah kerajaan Perlak yang memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan perguruan tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Kerajaan Aceh Darussalam yang juga melaksanakan pendidikan Islam yang diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain:
a) Sebagai tempat belajar Alquran.
b) Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam, tidak hanya itu, hampir di semua daerah mempunyai lembaga pendidikan sendiri baik milik negara/kerajaan ataupun pondok pesantren yang dimiliki perseorangan.
d. Masa Penjajahan
Pada masa pengaruh orang Eropa seperti Portugis di Indonesia, sekolah-sekolah mulai didirikan. Orang-orang Portugis menyerbu Indonesia dibarengi dengan para misionaris yang diberi tugas untuk menyebarkan agama Nasrani. Untuk memperluas penyebaran agama Nasrani maka diperlukan sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah banyak didirikan di Ternate, Solor, dan Ambon. Kemudian pada masa VOC, sekolah juga mulai banyak didirikan, diantaranya di Jakarta. Mulai dibangun pula pendidikan kejuruan.
Setelah diberlakukannya politik etis oleh pemerintah Hindia Belanda, maka sekolah-sekolah mulai banyak didirikan, misalnya Sekolah Bumiputera. Lama belajar yang pasti mulai ditetapkan pada tahun 1893, yakni 3 tahun untuk sekolah-sekolah kelas II dan 5 tahun untuk sekolah-sekolah kelas I. Lembaga pendidikan pada masa pengaruh kolonial Belanda, seperti: HIS, MULO, AMS, Sekolah Guru, Sekolah Pertukangan dan Sekolah Teknik. Pada masa kemerdekaan, sekolah-sekolah juga mengalami perubahan. Jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, dan PT.
1) Masa Penjajahan Belanda
Secara umum sistem pendidikan khususnya sistem persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas) sosial yang ada
dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu, yaitu:
a) Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs)
Pada hakikatnya pendidikan dasar untuk tingkatan sekolah dasar mempergunakan sistem pokok yaitu:
(1) Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
(a) Sekolah Rendah Eropa, yaitu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan Eropa.
(b) Sekolah Cina Belanda, yaitu HCS (Hollands Chinese school), suatu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan timur asing.
(c) Sekolah Bumi Putra Belanda HIS (Hollands Inlandse School), yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk Indonesia asli.
(2) Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah
(a) Sekolah Bumi Putra kelas II (Tweede Klasee).
Sekolah ini disediakan untuk golongan bumiputera.
Lamanya sekolah tujuh tahun, pertama didirikan tahun 1892.
(b)Sekolah Desa (Volksschool). Disediakan bagi anak-anak golongan bumiputra. Lamanya sekolah tiga tahun yang pertama kali didirikan pada tahun 1907.
(c) Sekolah Lanjutan (Vorvolgschool). Lamanya dua tahun merupakan kelanjutan dari sekolah desa, juga diperuntukkan bagi anak-anak golongan bumiputera. Pertama kali didirikan pada tahun 1914.
(d)Sekolah Peralihan (Schakelschool) merupakan sekolah peralihan dari sekolah desa (tiga tahun) ke sekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra. Di samping sekolah dasar tersebut di atas masih terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari golongan bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut Sekolah Raja (Hoofdensschool). Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi kemudian diintegrasi ke ELS atau HIS.
(3) Pendidikan lanjutan = Pendidikan Menengah
(a) MULO (Meer Uit gebreid Lager School), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang pertama didirikan pada tahun 1914.
(b) AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumiputera dan Timur Asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915.
(c) HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara Tinggi adalah Sekolah Menengah kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, didirikan pada tahun 1860.
(4) Pendidikan Kejuruan (Vokonderwijs )
Sebagai pelaksanaan politik etika pemerintah belanda banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan kejuruan. Jenis sekolah kejuruan yang ada adalah sebagai berikut:
(a) Sekolah Pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah.
(b)Sekolah Pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda.
(c) Sekolah Teknik (Technish Onderwijs).
(d) Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs).
(e) Pendidikan Pertanian (Landbouw Onderwijs).
(f) Pendidikan kejuruan kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs).
(g) Pendidikan Rumah Tangga (Huishoudschool).
(h)Pendidikan Keguruan (Kweekschool).
(5) Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
Karena terdesak oleh tenaga ahli, maka didirikanlah:
(a) Sekolah Teknik Tinggi (Technische Hoge School).
(b)Sekolah Hakim Tinggi (Rechskundige Hoge school).
(c) Pendidikan Tinggi Kedokteran.
2) Masa Penjajahan Jepang
Sistem persekolahan pada masa penjajahan Jepang banyak mengalami perubahan karena sestem penggolongan baik menurut golongan bangsa maupun status sosial dihapus. Dengan demikian terdapat integrasi terhadap macam-macam sekolah yang sejenis. Sejak masa Jepang bahasa dan istilah-istilah mulai dipergunakan di
sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan. Sekolah Dasar, waktu itu dipergunakan istilah Sekolah Rakyat (Kokumin Gakko), terbuka untuk semua golongan penduduk. Lama pendidikannya enam tahun.
Sebagai kelanjutannya adalah Sekolah Menengah Pertama (Shoto Chu Gakko) dan selanjutnya Sekolah Menengah Tinggi (Koto Chu Gakko). Lama pendidikannya tiga tahun untuk SMP dan tiga tahun untuk SMT.
Sekolah Kejuruan Menengah yang ada ialah Sekolah Pertukaran (Kogyo Gakko) dan Sekolah Teknik Menengah (Kogyo Semmon Gakko). Sedangkan Sekolah Hukum dan MOSVIA ditiadakan. Sebaliknya pada masa Jepang didirikan Sekolah Pelayaran dan Sekolah Pelayaran Tinggi.
Untuk mendidik guru terdapat tiga jenis sekolah yaitu:
(a) Sekolah Guru 2 tahun (Syoto Sihan Gakko) (b) Sekolah Guru 4 tahun (Gotu Sihan Gakko) (c) Sekolah Guru 6 tahun (Koto Sihan Gakko)
Di samping itu terdapat sekolah Pertanian (Nogyo Gakko) di Tasikmalaya dan Malang. Lama belajarnya 3 tahun sesudah sekolah rakyat.
Hampir semua perguruan tinggi ditutup, tetapi yang masih ada ialah Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta dan Sekolah Teknik Tinggi (Kogyo Dai Gakko) di Bandung. Kalau MOSVIA ditutup, sebaliknya Jepang membuka sekolah Tinggi Pamongpraja (Kenkoku Gakuin) di Jakarta dan Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan di Bogor.
3) Masa Kemerdekaan
Sejalan dengan perkembangan kebijakan demokratisasi
pendidikan, pemerintah mengembangkan pula kebijakan tentang sistem persekolahan. Perubahan pertama terjadi pada Sekolah Rendah. Ketetapan dalam UU No. 4 tahun 1950 dan UU No.12 Tahun 1954 persekolahan di Indonesia dibagi menjadi tiga jenjang pendidikan, yaitu rendah, menengah dan tinggi. Perubahan nama jenjang pendidikan rendah terjadi pada tahun 1989, yaitu diubah menjadi jenjang pendidikan dasar.
Sekolah yang termasuk kelompok pendidikan rendah dan pendidikan dasarpun berbeda. Pendidikan rendah terdiri atas sekolah rakyat, sedangkan pendidikan dasar meliputi SD dan SMP. Jenjang pendidikan dasar tidak mengalami perubahan nama, sama dengan yang digunakan dalam UU No. 4 Tahun 1950, yaitu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Sekolah Dasar (SD) mengalami perubahan dari sekolah rakyat menjadi sekolah dasar. Nama SD lebih tepat dibandingkan SR karena nama SD tidak mengindikasikan adanya perbedaan antara sekolah dasar dengan menengah dari aspek sosial, kecuali di tingkat kesulitan pendidikan.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami perubahan nama beberapa kali. Pada masa Belanda dikenal adanya sekolah yang bernama MULO yang merupakan kelanjutan dari HIS, HCS dan ELS.
Ada 3 jenis lembaga pendidikan di Indonesia sejak kemerdekaan yaitu:
a) Pendidikan Formal
Pendidikan formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas 3 jenjang
yaitu: pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar, bagi anak usia 0-6 tahun diselenggarakan pendidikan anak usia dini, tetapi bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal (TK, atau Raudatul Athfal), sedangkan dalam nonformal bisa dalam bentuk (TPQ, kelompok bermain, taman/
panti penitipan anak) dan/atau informal (pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan
Pendidikan dasar yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah berbentuk lembaga Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
Sedangkan Pendidikan menengah yang merupakan kelanjutan pendidikan dasar terdiri atas, pendidikan umum dan pendidikan kejuruan yang berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajad.
Yang terakhir adalah pendidikan tinggi yang merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah, pendidikan ini mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor.
Lembaga-lembaga pendidikan tinggi dibentuk dan diformat untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, serta menyelenggarakan program akademik, profesi dan advokasi. Lembaga pendidikan tinggi memiliki beberapa bentuk, seperti: Akademi, Politeknik, Sekolah tinggi, dan Institut atau Universitas.
b) Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar jalur formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal diselenggarakan untuk kepentingan warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan, pendidikan nonformal berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau menjadi pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Satuan pendidikannya terdiri atas lembaga kursus, kelompok belajar, lembaga pelatihan, pusat kegiatan belajar, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Hasil dari pendidikan nonformal ini dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal, tapi setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemda dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
c) Pendidikan Informal
Lembaga pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang ditemui karena
dalam keluarga inilah seorang anak pertama kali mendapatkan didikan dan bimbingan. Pendidikan keluarga juga dikatakan sebagai lingkungan yang utama karena sebagian besar kehidupan anak berada dalam lingkungan keluarga.
4. Aktivitas Manusia dalam Lembaga Pendidikan
Budaya merupakan istilah untuk menyebut semua hasil budi dan daya manusia yang dapat berupa sistem kepercayaan, sistem bahasa, sistem kesenian, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem sosial kemasyarakatan, dan sistem peralatan hidup atau teknologi. Semua hasil budaya yang diciptakan oleh masyarakat itu perlu untuk dilestarikan.
Proses pewarisan budaya ini dapat dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satu dapat berupa lembaga budaya.
Lembaga budaya adalah lembaga publik dalam suatu negara yang berperan dalam pengembangan budaya, ilmu pengetahuan, seni, lingkungan, dan pendidikan pada masyarakat yang ada pada suatu daerah atau negara. Lembaga-lembaga kebudayaan baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), sanggar, atau paguyuban merupakan elemen lain yang dapat berperan serta dalam pelestarian seni dan budaya. Berikut ini beberapa lembaga budaya yang ada di Indonesia.
a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Lembaga Swadaya Masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk
memperoleh keuntungan dari kegiatannya. Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai organisasi non pemerintah (disingkat ornop atau ONP (Bahasa Inggris: non-governmental organization;
NGO). Salah satu contoh LSM adalah Perkumpulan Kaligrafi dan Seni (Kaligrafi dan Seni Indonesia).
b. Sanggar
Sanggar adalah suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk melakukan suatu kegiatan. Sanggar seni adalah suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk berkegiatan seni seperti seni tari, seni lukis, seni kerajinan atau kriya, seni peran dan lain-lain. Kegiatan yang ada dalam sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua proses hampir sebagian besar dilakukan di dalam sanggar (tergantung ada tidaknya fasilitas dalam sanggar). Sanggar Tari merupakan sarana, wadah, untuk berkreatifitas dan mengenal tari-tarian yang ada di Indonesia.
c. Paguyuban
Paguyuban adalah kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Ciri-ciri kelompok paguyuban: terdapat ikatan batin yang kuat antar anggota, dan hubungan antar anggota bersifat informal. Paguyuban biasanya anggotanya terdiri dari orang yang memiliki latar belakang yang sama.
Contohya paguyuban pasundan anggotanya berasal dari suku Sunda.
d. Lembaga Adat
Lembaga adat adalah sebuah organisasi kemasyarakatan baik yang sengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan atau dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam wilayah hukum adat tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur, mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Salah satu contoh lembaga adat LKAAM (singkatan dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) adalah sebuah organisasi yang dibuat oleh pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat yang bertujuan untuk melestarikan adat dan budaya Minangkabau di Sumatera Barat. Tujuan organisasi ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur adat Minangkabau serta mengembangkan falsafat adat Minangkabau yaitu: Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah.
Rangkuman
1. Lembaga sosial merupakan sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan dan kegiatan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Lembaga sosial berfungsi sebagai pedoman bagi manusia dalam bersikap dan bertingkah laku.
3. Norma sosial memiliki kemampuan mengikat yang berbeda-beda tingkatannya, dari yang paling ringan yaitu: cara, kebiasaan, tata kelakuan dan adat istiadat.
4. Lembaga sosial dapat berwujud lembaga sosial, lembaga ekonomi, lembaga pendidikan, lembaga budaya, dan lain sebagainya.
5. Lembaga sosial telah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Dalam masyarakat Indonesia, perubahan dapat dirunut mulai zaman praaksara, zaman pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha, pengaruh Islam, zaman kolonialisme Belanda, masa pendudukan Jepang, maupun masa setelah kemerdekaan.
Perubahan aktivitas manusia dalam lembaga sosial merupakan bukti kemampuan manusia dalam menghadapi dinamika tantangan zaman.
A. Pilihan Ganda
Pilihlah satu jawaban yang benar!
1. Secara sosiologis perbedaan pranata dengan institut adalah ….
a. Pranata merupakan sistem norma tentang aktivitas masyarakat, sedangkan institut adalah suatu kelompok terorganisir untuk menjalankan aktivitas tersebut.
b. Pranata adalah suatu rangkaian proses sosial, sedangkan institut adalah wadah perubahan sosial.
c. Pranata merupakan satu kesatuan dari beberapa institute sedangkan institut adalah unsur terkecil dari pranata.
d. Pranata dan institut tidak memiliki perbedaan karena keduanya sama.
2. Salah satu contoh dari pranata adalah ….
a. Universitas Indonesia
b. Lembaga Persahabatan Indonesia-Amerika c. Pendidikan Teknologi
d. Institut Agama Islam
3. Salah satu fungsi pranata sosial dari pernyataan-pernyataan di bawah ini adalah ….
a. Memicu disintegrasi dalam masyarakat.
b. Membangun komunikasi antara Tuhan dan manusia.
c. Membantu manusia untuk mencapai tujuan dan kebutuhan pokoknya.
d. Melindungi masyarakat dari bahaya dan bencana.
Uji Kompetensi
4. Contoh enacted institution yang berfungsi untuk mengembangkan cakrawala intelektual dan kemampuan berpikir bagi seorang individu adalah ….
a. Lembaga perkawinan b. Lembaga pendidikan c. Lembaga sosial d. Lembaga hukum
5. Farrel adalah remaja aktif dan kreatif. Ia memelopori berdirinya organisasi yang bertujuan untuk menyalurkan kreativitas anak-anak putus sekolah melalui pengolahan barang-barang bekas agar bernilai ekonomis. Bila ditinjau dari fungsinya, organisasi yang didirikan Farrel tersebut termasuk lembaga sosial ….
a. Operative institutions b. Restricted institutions c. General institutions d. Basic institutions
6. Suatu pranata sosial yang terbentuk karena adanya ikatan perkawinan adalah ….
a. Pranata ekonomi b. Pranata agama c. Pranata keluarga d. Pranata perkawinan
7. Fungsi paling alamiah dari pranata keluarga adalah ….
a. Menanamkan dasar-dasar pendidikan yang baik dan benar.
b. Mewariskan adat istiadat.
c. Meneruskan keturunan atau reproduksi.
d. Melindungi anggota keluarga dari bahaya.
8. Di bawah ini merupakan bentuk-bentuk kegiatan produksi dalam pranata ekonomi, kecuali ….
a. Bercocok tanam b. Redistribusi c. Beternak d. Berburu
9. Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Batak adalah
….
a. Patrilineal b. Matrilineal
a. Patrilineal b. Matrilineal