• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Dalam dokumen Ilmu Pengetahuan Sosial (Halaman 87-0)

BAB II AKTIVITAS MANUSIA PADA MASA PENJAJAHAN,

A. Kondisi masyarakat akibat penjajahan bangsa Barat

3. Kehidupan Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia berada di bawah pemerintah pendudukan Jepang. Jepang menguasai Indonesia setelah panglima tentara Hindia Belanda menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942. Maka hari itu mulailah masa pendudukan Jepang bagi rakyat Indonesia.

Sebelum kalian memahami tentang bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia menjelang proklamasi kemerdekaan, kalian ingat kembali tentang kondisi masyarakat akibat penjajahan bangsa Barat. Kehidupan masyarakat Indonesia menjelang proklamasi kemerdekaan dilihat dari kehidupan pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya.

Kehidupan menjelang proklamasi kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dengan pendudukan Jepang. Pendudukan Jepang di Indonesia khususnya ketika menduduki Pulau Jawa tahun 1942-1945 telah membawa banyak perubahan yang sangat berarti bagi perkembangan Jawa di masa berikutnya. Masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan satu periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia.

Jepang memberi sumbangan bengitu banyak perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya Revolusi Indonesia.

Masa ini telah terjadi berbagai perubahan yang mendasar pada alam sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

Di seluruh Nusantara mereka mengeksploitasikan bangsa Indonesia sampai pada tingkat desa.

1) Kehidupan pemerintahan

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah. Jepang melakukan pembagian tiga daerah pemerintahan militer di Indonesia, yakni:

a) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusatnya di Bukittinggi.

b) Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusatnya di Jakarta.

c) Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku dengan pusatnya di Makassar.

Agar dapat menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang melakukan berbagai cara. Langkah yang dilakukan oleh Jepang adalah membubarkan semua organisasi yang dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kecuali MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang pada masa pendudukan Jepang diganti dengan Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi dipimpin oleh K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Mas Mansyur. Sebagai gantinya, Jepang mendirikan organisasi-organisasi bentukannya.

Jepang menggunakan gerakan “Tiga A” dengan semboyan (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) sebagai gerakan untuk memperoleh simpati rakyat Indonesia. Gerakan “Tiga A” dipimpin oleh Mr.

Syamsuddin yang bertujuan untuk meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Namun, organisasi ini kurang berhasil meraih simpati rakyat.

Jepang kemudian mendirikan Gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin oleh empat serangkai yang terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, KH Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Empat serangkai lebih banyak menggunakan Gerakan Putera sebagai sarana untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh perjuangan. Pada akhirnya organisasi

Putera dibubarkan oleh Jepang. Pada tahun 1944 dibentuk Jawa Hokokai (Gerakan Kebaktian Jawa). Gerakan ini langsung di bawah pengawasan Jepang. Tujuan pokoknya adalah memperoleh dukungan untuk rela berkorban demi pemerintah Jepang.

Jepang juga membentuk organisasi-organisasi yang sifatnya semi militer, seperti Seinendan, Fujinkai, Keibodan, Heiho dan Pembela Tanah Air (Peta). Organisasi Barisan Pemuda (Seinendan) dibentuk 9 Maret 1943. Seinendan adalah sebuah organisasi barisan pemuda yang dibentuk tanggal 9 Maret 1943 oleh tentara Jepang di Indonesia.

Seinendan bertujuan untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Selain itu juga untuk mempersiapkan pemuda Indonesia untuk membantu militer Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Organisasi ini bercorak militer dan semi militer. Organisasi ini dibawah kepemimpinan Gunseikan. Persyaratan untuk menjadi anggota Seinendan tidak begitu sulit, semula anggotanya tercatat sebanyak 35.500 orang pemuda dari seluruh Jawa. Jumlah ini berkembang menjadi kira-kira 500.000 orang pemuda pada akhir masa pendudukan Jepang.

Secara resmi disebutkan bahwa pembentukan organisasi militer maupun semi militer bertujuan untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri, maksudnya yang disembunyikan ialah agar dengan demikian memperoleh tenaga cadangan untuk memperkuat usaha mencapai kemenangan akhir dalam perang saat itu, yaitu perang terhadap sekutu. Saat pelatihan organisasi

ini diberikan pelatihan-pelatihan militer baik untuk mempertahankan diri maupun untuk penyerangan, mereka ini adalah pemuda-pemuda Asia yang berusia antara 15-25 tahun (kemudian diubah menjadi 14-22 tahun).

Fujinkai merupakan himpunan kaum wanita di atas 15 tahun untuk latihan semi militer. Fujinkai adalah barisan tenaga perempuan yang dibentuk oleh Jepang pada bulan Agustus 1943. Organisasi ini bertugas untuk mengerahkan perempuan turut serta dalam memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib. Dana wajib dapat berupa perhiasan, bahan makanan, hewan ternak ataupun keperluan-keperluan lainnya yang digunakan untuk perang.

Keibodan merupakan barisan pembantu polisi, untuk laki-laki berumur 20-25 tahun. Barisan Pembantu Polisi dibentuk pada 29 April 1943. Tujuan pembentukan Keibodan adalah untuk membantu polisi Jepang pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Keibodan di Sumatra dikenal dengan nama Bogodan, sedangkan di Kalimantan lebih dikenal dengan nama Sameo Konen Hokokudan. Di kalangan penduduk Cina dibentuk semacam Keibodan dengan nama Kayo Keibotai.

Pembina Keibodan disebut dengan Keimumbu.

Heiho didirikan tahun 1943, merupakan organisasi prajurit pembantu tentara Jepang. Peta didirikan 3 Oktober 1943, merupakan pasukan bersenjata yang memperoleh pendidikan militer secara khusus dari Jepang. Peta ini yang kemudian menjadi kekuatan dalam melakukan perlawanan terhadap Jepang.

2) Kehidupan ekonomi

Jepang menduduki Indonesia dilatarbelakangi oleh kebutuhan bahan-bahan mentah yang mendukung

perkembangan industrialisasi di negaranya. Jepang juga membutuhkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia untuk keperluan perang.

Oleh karena itu, ekonomi uang dilaksanakan di Indonesia adalah ekonomi perang. Pada masa pendudukan Jepang terdapat tiga tanaman utama, yakni padi, jarak, dan kina.

Kehidupan rakyat sangat menderita bahkan rakyat kesulitan dalam memenuhi pangan dan sandang. Politik bumi hangus yang dilancarkan oleh Belanda ketika meninggalkan Indonesia menyebabkan Jepang lebih mengutamakan rehabilitasi prasarana ekonomi seperti jembatan, alat-alat transportasi dan komunikasi.

Sementara itu, pemerintahan militer membanjiri Indonesia dengan mata uang pendudukan Jepang, yang mendorong meningkatnya inflasi terutama pada tahun 1943 dan seterusnya. Pengerahan pangan dan tenaga kerja secara paksa serta terjadinya kekacauan umum mengakibatkan timbulnya kelaparan, terutama pada tahun 1944 dan 1945.

Rakyat harus memberikan bahan makan untuk persediaan prajurit Jepang. Beberapa tindakan Jepang dalam memeras sumber daya alam dengan cara-cara berikut ini: wajib menyerahkan hasil panen untuk kepentingan perang, menebang pohon-pohon di hutan untuk keperluan industri alat-alat perang, petani wajib menanam pohon jarak untuk dibuat minyak pelumas, perkebunan yang tidak ada kaitannya dengan perang tidak dikembangkan, serta penyerahan ternak sapi, kerbau dan lain-lain bagi pemilik ternak.

3) Kehidupan sosial

Pada masa pendudukan Jepang, rakyat Indonesia juga mengalami politik diskriminasi. Stratifikasi sosial pada masa ini terdiri dari: Timur Asing (Jepang) pada lapisan ke-1, Pribumi di lapisan ke-2, dan Kulit Putih/Eropa di lapisan ke-3. Hal ini dilakukan karena Jepang ingin mengambil hati dan simpati rakyat Indonesia.

Dibentuknya organisasi semi militer yang melibatkan kaum perempuan, seperti Fujinkai, menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran dalam posisi antar laki-laki dan perempuan. Sebelumnya tenaga kerja didominasi oleh kaum laki-laki, namun pada masa pendudukan Jepang, perempuan juga sudah mulai dilibatkan dalam segala bidang pekerjaan.

Rakyat pada masa pendudukan Jepang dieksploitasi tenaganya untuk keperluan di medan perang maupun untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan umum. Tenaga ini yang disebut dengan tenaga Romusha. Untuk menarik simpati penduduk, Jepang mengatakan bahwa Romusha adalah pahlawan pekerja yang dihormati atau prajurit ekonomi.

pengerahan tenaga Romusha dilaksanakan oleh satu panitia pengerah Romusha yang disebut Romukyokai.

Bagi para pamong praja dan pegawai rendahan diadakan kerja bakti sukarela yang disebut Kinrohoshi. Akibat dari Romusha ini tenaga-tenaga yang produktif di desa semain sedikit jumlahnya, desa tidak berkembang. Jepang juga membentuk Tonarigumi (Rukun Tetangga) sampai ke pelosok pelosok pedesaan.

Pada masa pendudukan Jepang ini, angka kematian meningkat dan kesuburan menurun. Pendudukan Jepang adalah satu-satunya periode selama dua abad yang tidak

berhasil meningkatkan jumlah penduduk secara berarti.

Seperti wilayah pendudukan lainnya, Indonesia menjadi suatu negeri yang tingkat penderitaan, inflasi, ketekoran, pencatutan, korupsi, pasar gelap, dan kematiannya paling tinggi.

4) Kehidupan pendidikan

Pendidikan pada masa pendudukan Jepang dapat dikatakan lebih memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk mengikuti pendidikan pada sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Bahasa Indonesia mulai digunakan sebagai bahasa perantara pada sekolah-sekolah.

Berdasarkan pendapat Prof. Dr. A. Teeuw (pakar sastra dan budaya Indonesia berkebangsaan Belanda) menyatakan bahwa tahun 1942 merupakan tahun bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, bahasa Belanda dilarang penggunaannya dan mulai penggunaan bahasa Indonesia. Kebijakan ini juga dalam rangka untuk memusnahkan pengaruh Barat. Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris dilarang pemakaiannya serta memajukan bahasa Jepang. Pelarangan terhadap buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris membuat pendidikan yang lebih tinggi benar-benar mustahil selama masa perang.

Bahkan sejak awal tahun 1943 seluruh tulisan yang berbahasa Belanda dihapuskan dan harus diganti dengan tulisan berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mulai digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

5) Kehidupan budaya

Penjajahan merupakan sarana yang paling efektif untuk menyebarkan suatu kebudayaan. Pada masa ini kebudayaan yang diberlakukan adalah kebudayaan Jepang. Jepang

menerapkan kebiasaan menghormat ke arah matahari terbit (seikeirei). Kebiasaan tersebut dilakukan untuk menghormati kaisar Jepang yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari. Kebiasaan lain yang ditanamkan pada masa pendudukan Jepang yakni menyanyikan lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo), menghormat kepada bendera Jepang (Hinomaru), dan merayakan upacara untuk memperingati kelahiran kaisar (Tencosetsu). Anak-anak sekolah diberikan latihan-latihan olahraga yang dinamai Taiso.

Hasil kebudayaan yang berupa sastra juga berkembang pada masa pendudukan Jepang. Sastrawan pada masa ini yang terkenal yakni Chairil Anwar yang mendapat gelar tokoh sastrawan Angkatan 45. Karya-karya Chairil Anwar diantaranya yang berjudul: Aku, Karawang-Bekasi dan sebagainya.

C. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

Pada sub-bab ini, kalian akan mempelajari masalah pokok Peristiwa Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada pembahasan sub-bab ini akan diawali dengan uraian materi tentang inti dari kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, peristiwa Rengasdengklok, perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pembentukan pemerintahan Republik Indonesia, sambutan rakyat terhadap proklamasi kemerdekaan, dan arti kemerdekaan bagi kehidupan berbangsa serta bernegara pada masa kini. Untuk memahami materi di atas, berikut diuraikan materi sebagai berikut:

1. Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II

Perang Dunia II terjadi setelah Jepang membombardir Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Hancurnya Pearl Harbour, ternyata memudahkan Jepang untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu membentuk Persekemakmuran Asia Timur Raya.

Daerah-daerah di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia berhasil diduduki oleh Jepang. Pembentukan Persekemakmuran Asia Timur Raya berhasil diwujudkan, meskipun hanya untuk sementara. Dalam perkembangannya, Jepang mulai mengalami kesulitan, terutama setelah Amerika Serikat menarik sebagian pasukannya dari Eropa. Pada bulan Mei 1942, serangan Jepang terhadap Australia dapat dihentikan karena tentara Jepang menderita kekalahan dalam pertempuran Laut Koral (Karang).

Serangan Jepang terhadap Hawai juga dapat digagalkan oleh tentara Amerika Serikat dalam pertempuran di Midway pada bulan Juni 1942. Kejadian itu juga diikuti dengan kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Kemudian, apakah yang dilakukan Indonesia atas kekalahan Jepang tersebut? Akhirnya kekalahan Jepang terhadap Sekutu dengan ditandatanganinya perjanjian Postdam, maka secara resmi Jepang menyerahkan kekuasaan kepada Sekutu. Dengan demikian, di Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan. Kesempatan ini oleh Bangsa Indonesia dimanfaatkan untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Demikianlah yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang terbebas dari penjajahan hingga saat ini. Untuk itu, sebagai masyarakat Indonesia kita harus bangga dengan perjuangan para pahlawan yang telah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Nah, menurut kalian bagaimana cara Bangsa Indonesia dalam memanfaatkan peluang jatuhnya

Jepang? Rumuskan dalam bentuk pertanyaan!

Siapakah tokoh yang mempelopori kemerdekaan Indonesia?

Apa saja upaya yang dilakukan oleh Indonesia dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia? Nah, kedua pertanyaan yang sudah kalian rumuskan itu merupakan peristiwa kekalahan Jepang pada Perang Dunia II.

Kekalahan Jepang terhadap Sekutu, dengan ditanda tanganinya perjanjian Postdam, maka secara resmi Jepang menyerahkan kekuasaan pada Sekutu. Dengan demikian di Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan. Kesempatan ini oleh bangsa Indonesia dimanfaatkan untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Diawali dengan peristiwa pada tanggal 9 Agustus 1945, ketika Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, dan Drs. Radjiman Widiodiningrat berangkat ke Saigon untuk memenuhi panggilan Panglima Terauchi Hisaichi. Dilanjutkan dengan berlangsungnya pertemuan antara kedua belah pihak di Dalat pada tanggal 11 Agustus 1945. Jenderal Terauchi menyampaikan keputusan pemerintah Kerajaan Jepang. Keputusan tersebut berkaitan dengan: Jepang menjanjikan kemerdekaan Indonesia;

pembentukan Dokuritzu Junbi Inkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI); dan penentuan wilayah Indonesia adalah bekas jajahan Hindia Belanda.

Dijatuhkannya bom di kota Hirosima dan Nagasaki oleh Sekutu menyebabkan pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Momentum ini digunakan para pemuda di bawah pimpinan Khaerul Shaleh mendesak Soekarno dan Hatta untuk memutuskan hubungan dengan Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945. Keesokan harinya pada tanggal 16 Agustus 1945 Soekarno-Hatta dibawa

pada pemuda ke Rengasdengklok dengan maksud menjauhkan kedua tokoh tersebut dari pengaruh Jepang. Atas jaminan Ahmad Subardjo, Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.

2. Peristiwa Rengasdengklok

Setelah kalian mengetahui peristiwa kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, kalian diminta untuk menjelaskan bagaimana peristiwa Rengasdengklok. Tentu saja, kalian telah mengetahui peristiwa di atas. Apakah kalian masih ingat? Jika masih ingat, apa sajakah rangkaian lanjutan dari peristiwa kekalahan Jepang pada Perang Dunia II? Tokoh, tempat kejadian dan lain sebagainya.

Penyerahan Jepang kepada Sekutu menghadapkan para pemimpin Indonesia pada masalah yang cukup berat. Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Jepang masih tetap berkuasa atas Indonesia meskipun telah menyerah, sementara pasukan Sekutu yang akan menggantikan mereka belum datang. Gunseikan telah mendapat perintah-perintah khusus agar mempertahankan status quo sampai kedatangan pasukan Sekutu.

Adanya kekosongan kekuasaan tersebut menyebabkan munculnya konflik antara golongan muda dan golongan tua mengenai masalah kemerdekaan Indonesia. Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan. Mereka itu antara lain Sukarni, B.M. Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, dan Chaerul Saleh. Sedangkan golongan tua menginginkan proklamasi kemerdekaan harus dirapatkan dulu dengan anggota PPKI.

Mereka adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. Moh. Yamin, Dr. Buntaran, Dr. Syamsi dan Mr.

Iwa Kusumasumantri.

Golongan muda kemudian mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB. Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh yang menghasilkan keputusan tuntutan-tuntutan golongan muda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan dan janji kemerdekaan harus diputus, dan sebaliknya perlu mengadakan perundingan dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar kelompok pemuda diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi.

Langkah selanjutnya malam itu juga sekitar jam 22.00 WIB Wikana dan Darwis mewakili kelompok muda mendesak Soekarno agar bersedia melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya lepas dari Jepang. Ternyata usaha tersebut gagal. Soekarno tetap tidak mau memproklamasikan kemerdekaan.

Kuatnya pendirian Ir. Soekarno untuk tidak memproklamasikan kemerdekaan sebelum rapat PPKI menyebabkan golongan muda berpikir bahwa golongan tua mendapat pengaruh dari Jepang. Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di Jalan Cikini 71 Jakarta pada pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945. Mereka membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa Ir. Soekarno dan Drs. Moh.

Hatta harus diamankan dari pengaruh Jepang.

Tujuan para pemuda mengamankan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok antara lain:

a. Agar kedua tokoh tersebut tidak terpengaruh Jepang

b. Mendesak keduanya supaya segera memproklamasikan

kemerdekaan Indonesia terlepas dari segala ikatan dengan Jepang.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 pagi, Soekarno dan Hatta tidak dapat ditemukan di Jakarta. Mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, di antaranya Sukarni, Yusuf Kunto, dan Syudanco Singgih, pada malam harinya ke garnisun PETA (Pembela Tanah Air) di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak sebelah Utara Karawang. Pemilihan Rengasdengklok sebagai tempat pengamanan Soekarno Hatta, didasarkan pada perhitungan militer. Antara anggota PETA Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan erat sejak keduanya melakukan latihan bersama. Secara geografis, Rengasdengklok letaknya terpencil, sehingga dapat dilakukan deteksi dengan mudah setiap gerakan tentara Jepang yang menuju Rengasdengklok, baik dari arah Jakarta, Bandung, atau Jawa Tengah. Mr. Ahmad Subardjo, seorang tokoh golongan tua merasa prihatin atas kondisi bangsanya dan terpanggil untuk mengusahakan agar proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan secepat mungkin. Untuk tercapainya maksud tersebut, Soekarno Hatta harus segera dibawa ke Jakarta.

3. Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Setelah kalian mengetahui peristiwa Rengasdengklok, kalian harus mengetahui lebih lanjut mengenai bagian dari peristiwa Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelah kalian membaca uraian materi tentang peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 yang ketiga, yaitu perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia tentu

kalian memahami bahwa peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 yang kedua terkait dengan peristiwa yang ketiga yaitu peristiwa Rengasdengklok dan perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelah sampai di Jakarta, malam itu juga Soekarno-Hatta mengumpulkan para anggota PPKI dan golongan pemuda.

Mereka berkumpul di Jalan Imam Bonjol No.1, di rumah Laksamana Muda Maeda, kepala perwakilan angkatan laut Jepang di Jakarta

Dalam pertemuan di rumah Maeda, disepakati agar Soekarno-Hatta menemui Mayjen Nishimura yang menjabat sebagai kepala pemerintahan Umum Angkatan Darat Jepang untuk menjajagi sikap resmi Jepang terhadap rencana proklamasi kemerekaan Indonesia. Ternyata Nishimura tetap memegang teguh tugasnya menjaga status quo di Indonesia, dengan pengertian bahwa tidak boleh ada perubahan apapun di Indonesia sampai pasukan sekutu datang, dan Jepang hanya akan menyerahkan kekuasaan kepada Sekutu. Akhirnya Soekarno-Hatta kembali ke rumah Maeda dan mengadakan pertemuan dengan hasil keputusan Proklamasi kemerdekaan akan tetap dilaksanakan dengan atau tanpa persetujuan Jepang. Melalui berbagai pembicaraan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia, diputuskan dua hal sebagai berikut:

a. Diputuskan untuk segera merumuskan teks/naskah proklamasi, adapun yang merumuskan adalah Soekarno-Hatta dan Ahmad Subardjo, setelah naskah selesai dirumuskan dan disetujui isinya, terjadilah perdebatan tentang siapa yang akan menandatangani naskah proklamasi, yang akhirnya atas usul pemuda Sukarni, teks proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas

nama bangsa Indonesia, naskah kemudian diketik oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan dari hasil tulisan tangan Soekarno sebagai konsep, yaitu:

1) Kata "tempoh" diubah menjadi "tempo"

2) "Djakarta 17-8-’05" diubah menjadi "Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen ‘05"

3) "Wakil wakil bangsa Indonesia" diubah menjadi "atas nama bangsa Indonesia".

b. Diputuskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibacakan oleh Ir. Soekarno di kediamannya Jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta.

Perumus teks proklamasi yakni: Ir. Soekarno sebagai penulis, dan Drs. M. Hatta serta Ahmad Subardjo sebagai penyumbang pikiran secara lisan. Hal-hal lain yang terjadi saat perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia antara lain: Soekarno menyarankan agar para saksi turut menandatangani naskah proklamasi, selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Sukarni sebagai wakil dari golongan muda menolaknya dan mengusulkan agar naskah tersebut hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskan proklamasi yang sudah disetujui.

Sukarni mengusulkan agar naskah proklamasi dibacakan di Lapangan Ikada (Monas, sekarang), namun Soekarno menolaknya karena menganggap bahwa di lokasi tersebut bisa menimbulkan bentrokan rakyat Indonesia dengan tentara Jepang. Akhirnya diputuskan pembacaan proklamasi dilaksanakan di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.

4. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan bagi suatu negara dan bangsa merupakan pernyataan bahwa negara dan bangsa lain tidak berhak untuk mencampuri urusan di dalam negara tersebut.

Proklamasi kemerdekaan mempunyai makna bahwa proklamasi tersebut merupakan puncak perjuangan bangsa dan sebagai tonggak lahirnya nagara dan bangsa Indonesia yang merdeka.

Proklamasi kemerdekaan masih dilanjutkan dengan upaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang diraihnya, dimulailah revolusi Indonesia. Dengan proklamasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia terlepas dari janji-janji Jepang.

Menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan diperoleh dari hadiah Jepang, melainkan sebagai rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Tepat hari Jumat jam 10.00 WIB, naskah proklamasi dibacakan, ini merupakan peristiwa sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan teks proklamasi dilakukan oleh Soekarno dan didampingi oleh Hatta, serta seluruh hadirin yang berdiri dengan khidmat di belakangnya. Sesudah naskah proklamasi selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan pengibaran Sang Saka merah putih oleh Pemuda Suhud dan eks Sudanco, Latif Hendraningrat dengan disaksikan segenap yang hadir, upacara diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam suasana

Tepat hari Jumat jam 10.00 WIB, naskah proklamasi dibacakan, ini merupakan peristiwa sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan teks proklamasi dilakukan oleh Soekarno dan didampingi oleh Hatta, serta seluruh hadirin yang berdiri dengan khidmat di belakangnya. Sesudah naskah proklamasi selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan pengibaran Sang Saka merah putih oleh Pemuda Suhud dan eks Sudanco, Latif Hendraningrat dengan disaksikan segenap yang hadir, upacara diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam suasana

Dalam dokumen Ilmu Pengetahuan Sosial (Halaman 87-0)