IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.5 Aktivitas Penyuling Akar Wangi
Penyuling akar Samarang, Bayongbong, dalam kelompok dan 25 persen merupakan tahun 2010
diharapkan mampu meningkatkan indust Bentuk
hukum, Persekutuan Komanditer penyuling sesuai
penyuling menjalankan persen penyuling
penyuling menjalankan usaha kurang dari 10 tahun.
Gambar 10. Jumlah Penyuling petani/penyuling. memenuhi kebutuhan petani/kelompok diberi pinjaman syarat mereka Pengiriman min dengan jumlah bulan Juli
banyak dengan jumlah 50 kg selama satu minggu. Aktivitas Penyuling Akar Wangi
Produk minyak akar wangi berupa minyak akar Penyuling akar wangi tersebar di empat kecamatan ya Samarang, Bayongbong, Cilawu, dan Leles. Penyuling ya
kelompok penyuling Usaha Rakyat (USAR) sebanyak 25 persen merupakan penyuling individu. Usaha Rakyat merupakan koperasi penyuling akar wangi Garut yang
2010 yang berlokasi di Kecamatan Samarang. Koperasi diharapkan mampu meningkatkan industri minyak akar wangi.
Bentuk usaha penyuling akar wangi adalah tidak hukum, Persekutuan Komanditer (CV), dan koperasi. Presentase penyuling sesuai bentuk usaha dapat dilihat pada Gambar penyuling menjalankan usaha lebih 20 tahun sebesar 75 persen penyuling menjalankan usaha 10 – 20 tahun, dan penyuling menjalankan usaha kurang dari 10 tahun.
10. Jumlah penyuling sesuai bentuk usaha (S Primer, diolah)
Penyuling ada yang bertindak sebagai petani petani/penyuling. Penyuling yang tidak menanam memenuhi kebutuhan akar wangi dengan membeli petani/kelompok tani dan pengumpul akar wangi. Rata
pinjaman modal oleh eksportir atau pengumpul minyak syarat mereka harus membayar pinjaman modal dengan Pengiriman minyak dilakukan setelah minyak terkumpul
dengan jumlah rata-rata sebanyak 40 kg. Saat musim kemarau, – September penyuling dapat memproduksi
banyak dengan jumlah 50 kg selama satu minggu.
66,70%
8,30%25,00% Tidak Berbadan Hukum Persekutuan Komanditer Koperasi
k akar wangi kasar. kecamatan yaitu Kecamatan Penyuling yang tergabung ebanyak 75 persen Usaha Rakyat (USAR) Garut yang baru berdiri Samarang. Koperasi USAR ri minyak akar wangi.
adalah tidak berbadan koperasi. Presentase jumlah pada Gambar 10. Lama besar 75 persen, 16,67 tahun, dan 8,3 persen
usaha (Sumber: Data
petani yang disebut menanam akar wangi membeli langsung dari wangi. Rata-rata penyuling pengumpul minyak dengan modal dengan minyak. erkumpul selama 10 hari musim kemarau, sekitar memproduksi minyak lebih
Tidak Berbadan Hukum Persekutuan Komanditer
Penyulingan dilakukan menggunakan ketel stainless steel dengan sistem kukus atau uap langsung sebesar 50 persen. Penyulingan yang menggunakan sistem boiler atau sistem uap terpisah sebesar 33,4 persen dan 8,3 persen menggunakan sistem rebus, dan 8,3 yang lain menggunaknan sistem uap langsung dan sistem boiler. Bahan bakar yang digunakan saat ini didominasi oleh minyak solar dan oli bekas. Walaupun demikian masih ada yang menggunakan kayu bakar.
Pemakaian solar lebih ramah lingkungan daripada pemakaian oli, namun harga beli solar lebih mahal. Harga solar Rp 4.500 per liter, sedangkan oli bekas sekitar Rp 2.200 – Rp 2.500 per liter. Sebelumnya, penyuling menggunakan minyak tanah untuk proses penyulingan, namun kenaikan harga minyak tanah membuat biaya operasional meningkat dan mereka beralih ke bahan bakar lain. Keadaan lebih diperburuk lagi karena kelangkaan bahan bakar, sehingga banyak usaha penyulingan yang tidak berproduksi.
Tahun 2011 sedang dilakukan perijinan untuk menggunakan oli bekas sebagai bahan bakar minyak akar wangi. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya operasional terkait dengan penggunaan solar yang lebih mahal. Walupun demikian, mutu minyak akar wangi yang dihasilkan dengan pembakaran solar lebih baik daripada penggunaan oli bekas. Pasokan bahan bakar berasal dari dalam Garut dan luar Garut. Pemasok tersebut merupakan pemasok dengan skala usaha kecil (58,3 persen), skala menengah (16,7 persen), dan skala besar (25 persen).
Mutu minyak akar wangi ditentukan oleh temperatur dan tekanan yang digunakan. Tekanan yang rendah membuat mutu minyak lebih bagus dibanding tekanan tinggi yang dapat membuat minyak gosong. Kasus IKM akar wangi di Garut yang terjadi adalah penyuling menaikkan tekanan pada 5 bar yang sebelumnya dijaga pada 3 bar dengan suhu sekitar 140°C-160°C pada sistem kukus. Hal tersebut dilakukan untuk menghemat waktu pengukusan sekitar 5 jam, sehingga bahan bakar dapat dihemat. Namun, mutu minyak akar wangi yang dihasilkan tidak sesuai standar. Sistem yang mampu menjaga mutu
adalah sistem uap terpisah atau boiler. Sistem uap terpisah menggunakan suhu dan tekanan yang relatif lebih rendah daripada sistem kukus yaitu 120°C dengan tekanan 2-3 bar selama 20 jam. Proses penyulingan yang sesuai standar menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Tahapan penyulingan sesuai standar GMP (Balitbang Deptan, 2011)
Sistem boiler memerlukan waktu lebih lama, sehingga kebutuhan biaya operasionalnya juga lebih besar. Harga jual minyaknya pun lebih tinggi dibandingkan sistem kukus. Sebagian besar penyuling tetap melakukan proses suling dengan sistem kukus karena margin minyak premium (sistem boiler) dan minyak reguler (sistem kukus) tidak berbeda jauh tetapi biaya operasionalnya berbeda jauh.Penyuling membutuhkan waktu 12 jam dalam satu kali proses penyulingan yaitu
Penyulingan uap
Akar wangi (panen)
Pencucian akar
Penyulingan
Pemisahan minyak dengan “oil separator”
Pengisian Ketel (Kepadatan: 0,09-0,1) Perajangan (15-20 cm) Pengeringan (2 hari) Ka: 25-30%
Penampungan minyak
Pengemasan
Dibersihkan dari tanah dan kotoran lainnya
Laju dest: 0,6-0,7 kg uap/jam. kg bahan
Jirigen atau botol gelas berwarna gelap
10 jam untuk pengukusan dan 2 jam untuk memasukkan dan membongkar akar wangi dalam tungku. Sehingga, satu alat suling mampu menyuling maksimal sebanyak dua kali sehari. Kapasitas tungku per penyulingan sebesar 1,2-2 ton. Minyak akar wangi yang dihasilkan sebesar 4-8 kg per satu suling dalam kondisi akar wangi yang bagus. Pada saat penelitian rendemen rata-rata yang dihasilkan adalah 0,4 - 0,5 persen.
Penyuling akar wangi tidak mempunyai kesulitan dalam memasarkan minyak akar wangi. Pemasaran dilakukan dalam wilayah Garut, yaitu 75 persen penyuling menjual minyak di wilayah Garut dan 25 persen menjual kepada eksportir di Jakarta atau Bogor. Penyuling yang menjual ke agen pengumpul sebesar 50 persen, sedangkan 50 persen yang lain menjual ke eksportir dan kadang-kadang menjual ke pengumpul. Penyuling melakukan penjualan minyak secara individu ke pengumpul atau eksportir. Pengumpul biasanya mendatangi tempat penyulingan atau penyuling mengirim langsung minyak ke pengumpul atau eksportir tersebut.
Modal awal penyulingan minyak akar wangi yang dibutuhkan adalah lebih dari Rp 100.000.000. Permodalan yang besar tersebut membuat beberapa penyuling tidak mampu untuk memenuhi permodalan awal penyulingan. Presentase penggunaan modal adalah 50 persen penyuling menggunakan modal sendiri untuk penyulingan. Lima puluh persen penyuling yang lain menggunakan modal dari eksportir, pengumpul minyak, atau gabungan modal pengumpul dan modal sendiri. Hanya sedikit penyuling yang menggunakan jasa kredit lembaga keuangan untuk pemenuhan modal. Penyuling yang menggunakan jasa kredit Bank Umum sebesar 8,33 persen, 16,67 persen jasa kredit dari Kementrian UKM dan 75 persen tidak menggunkan jasa kredit. Permasalahan kredit yang dirasakan penyuling sama dengan permasalahan kredit para petani akar wangi, yaitu persyaratan bunga pinjaman yang berat dan administrasi yang rumit.
Kerjasama terbentuk antara petani, penyuling, dan pengumpul atau eksportir. Kerjasama yang lain adalah antara penyuling dan pemasok bahan bakar serta penyuling dan pemasok alat atau mesin penyulingan. Kerjasama yang dibentuk antara penyuling dan pemasok bahan bakar berupa dagang umum dengan hubungan jangka pendek. Sedangkan kerjasama antara penyuling, petani, dan pengumpul atau eksportir merupakan hubungan sub kontrak jangka panjang. Kerjasama yang dibentuk memudahkan penyuling untuk melakukan usaha penyulingan.
Penyuling yang bermitra akan mempunyai informasi yang lebih efektif. Informasi tersebut berupa proses penyulingan, harga dan mutu minyak akar wangi atau bahan bakar, dan pemasok atau agen pengumpul akar wangi dan minyak akar wangi. Selain dengan bermitra informasi dapat diperoleh melalui internet, buku dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi.
Permasalahan yang dihadapi oleh penyuling adalah ketersediaan bahan baku yang tidak konsisten, mutu bahan baku yang tidak sesuai standar, alat suling yang tidak sesuai standar dan modal yang tidak mencukupi. Alat pemisah air dan minyak yang masih sederhana, sehingga membuat rendahnya rendemen akibat tingginya penyusutan. Kasus penjualan produk minyak akar wangi mempunyai beberapa keragaman. Penyuling dengan modal besar dapat menjual minyak akar wangi kepada pengumpul atau eksportir yang memberi harga yang lebih menguntungkan. Hal tersebut tidak berlaku bagi sebagian besar penyuling yang kesulitan modal. Mereka bergantung pada pinjaman modal dari pengumpul atau eksportir sehingga harus mengembalikan pinjaman modal tersebut berupa minyak. Minyak akar wangi di Garut mempunyai kasus yaitu terdapat satu pengumpul yang dominan sehingga hampir seluruh penyuling memiliki hubungan keterkaitan dengan pedagang pengumpul tersebut. Konsekuensi dari hal tersebut adalah harga minyak akar wangi dibeli oleh pedagang yang bersangkutan dengan harga relatif lebih murah dari harga yang berlaku.