IV PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)
4.1 Pelaksanaan PKH
4.5.4 Aktor-Aktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar
Terdapat keragaman aktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan pendidikan dasar baik di Jawa Barat maupun di NTT. Keragaman tidak hanya pada jenis aktor, tetapi juga intensitas dan jenis peran dari masing-masing aktor dalam mempengaruhi pemanfaatan pelayanan pendidikan. Peran dan jumlah aktor di wilayah perdesaan relatif lebih tinggi dibandingkan di perkotaan, berlaku untuk Jawa Barat dan NTT. Khusus di wilayah perlakuan perdesaan di NTT
terdapat aktor baru, yaitu pendamping PKH, yang turut berperan dalam mendorong orang tua (penerima PKH) untuk lebih memperhatikan sekolah anak mereka.
Tabel 24. Aktor-Aktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar di Desa Perlakuan dan Kontrol PNPM PKH
Kategori Wilayah Desa Aktor yang Mendorong Pemanfaatan Pendidikan Jawa Barat
Perlakuan Perdesaan Gregesik Kulon Guru
Jagapura Kidul Guru, aparat desa, kepala sekolah
Kontrol Perdesaan Susukan Guru, aparat desa
Tangkil Kepala desa, kepala dusun, Ketua RT Perlakuan Perkotaan Mertasinga Tetangga
Kontrol Perkotaan Mundu Pesisir Teman, tetangga
NTT
Perlakuan Perdesaan
Oenai Kepala desa, Kadus, Ketua RT, tokoh agama & masyarakat, pihak sekolah, ornop (Plan) Falas
Aparat desa, tokoh masayarakat, komite sekolah, kepala sekolah, guru, ornop (Pidra, WFP, CWS & Plan)
Kontrol Perdesaan Bisene Kepala desa, komite sekolah, tokoh masyarakat, guru, tokoh agama/gereja Biloto Kepala Desa, kadus, komite sekolah, tokoh agama/gereja Perlakuan Perkotaan Fatufeto Tokoh agama, ketuan RT
Kontrol Perkotaan Tode Kisar Tetangga dekat, tokoh masyarakat, pihak kelurahan
Di wilayah perdesaan di Jawa Barat, baik di perlakuan maupun kontrol, aktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan pendidikan dasar adalah kepala sekolah, guru, ketua komite, aparat desa (terutama kepala dusun), serta tetangga. Peran pihak sekolah misalnya menetapkan kebijakan menahan izajah murid jika murid bersangkutan tidak melanjutkan ke tingkat SMP. “..kalo tidak
melanjutkan ijazahnya ditahan oleh sekolah supaya melanjutkan” (FGD Bapak_Jawa Barat). Peran aparat
desa cenderung menurun, perannya lebih sebatas memberikan pengarahan kepada orang tua pada rapat di tingkat desa atau pertemuan di sekolah. Menurunnya peran aparat desa salah satunya disebabkan karena kesadaran masyarakat yang dianggap sudah meningkat.
”Untuk menjaring anak yang putus sekolah dengan kerjasama lebe dan RT setiap tahun ajaran baru
akan tetapi hal ini sudah lama tidak dilakukan lagi, terakhir dilakukan saat sekolah ini masih gabung atau yang disebut lebe sering dilakukan, namun kini sudah tidak pernah lagi dilakukan”
(FGD Bapak-Jawa Barat).
Di wilayah perkotaan di Jawa Barat, baik di desa perlakuan maupun kontrol, aktor yang berperan dalam mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak adalah komite dan aparat desa. Peran keduanya hanya sebatas mendorong dan menasehati anak dan orang tua. Aparat desa di sebuah desa sampel juga berperan membantu pembuatan surat keterangan miskin (SKM) yang dapat digunakan orang tua murid untuk mendapatkan beasiswa dari sekolah. Selain itu, tetangga dekat juga berperan dalam mengingatkan dan ikut menasehati orang tua jika anaknya tidak rajin ke sekolah.
Di wilayah perdesaan di NTT, kepala desa dan aparat desa lainnya (kepala dusun, RW dan RT) menjadi aktor yang paling sering disebut, baik di desa perlakuan maupun kontrol. Dibandingkan di perdesaan di Jawa Barat, peran aparat desa di NTT lebih menonjol, tidak hanya mendorong tapi juga mengawasi orang tua agar memperhatikan pendidikan anaknya. Aparat desa juga sering dilibatkan sekolah untuk menangani permasalahan kenakalan murid dan murid yang sering absen. Tokoh lain yang berperan adalah pendeta di gereja. Mereka umumnya mengingatkan orang tua dan murid akan pentingnya pendidikan pada saat kebaktian di gereja. Komite sekolah (terutama ketua) juga aktif memberikan motivasi terhadap orang tua, baik secara individu maupun melalui pertemuan-pertemuan di sekolah. Di perdesaan NTT, peran lembaga ornop juga cukup besar dalam memotivasi orang tua. Selain memberikan bantuan ke sekolah, ornop juga memberikan beasiswa bagi siswa miskin, juga dukungan dan pengarahan agar orang tua menyekolahkan anak mereka. Selain itu, pendamping PKH juga cukup aktif dalam memotivasi orang tua
penerima agar tetap menyekolahkan anaknya dan memperhatikan kehadiran anak di sekolah.
Dibandingkan wilayah perdesaan, di wilayah perkotaan di NTT aktor yang peduli dengan pendidikan, baik di perlakuan maupun kontrol, tidak banyak. Aktor di wilayah perkotaan antara lain pihak gereja, ketua RT, tetangga, dan tokoh masyarakat. Selain karena tingkat kesadaran orang tua yang relatif sudah tinggi, budaya urban, serta tidak adanya ornop yang bergerak di bidang pendidikan, di wilyah perkotaan isu pendidikan lebih sering menjadi urusan internal masing masing rumah tangga.
4.5.5 Perubahan Kesadaran Ibu dan Bapak dalam Menyekolahkan Anak
Baik di Jawa Barat maupun NTT, lapangan pekerjaan yang mensyaratkan minimal lulus SMP serta pengarahan dari aparat desa dan tokoh masyarakat serta ornop turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Indikasi peningkatan kesadaran tercermin dari tanggapan peserta FGD yang mengungkapkan harapan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan anak mereka. Sebagai perbandingan, pada studi baseline peserta FGD umumnya masih melihat manfaat pendidikan hanya sebatas peningkatan kemampuan dasar anak yaitu hanya cukup bisa membaca, menulis dan berhitung. Kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anak juga tercermin dari kesungguhan mereka untuk tetap menyekolahkan anak sekalipun bantuan dihentikan. Kesadaran orang tua yang relatif tinggi ini juga menyebabkan mereka tidak membedakan pendidikan dasar antara anak perempuan dan laki-laki. Untuk pendidikan SMA atau yang lebih tinggi, sebagian
orang tua masih memprioritaskan anak laki-laki, hal ini terutama disebabkan terbatasnya sumber daya ekonomi orang tua.
Peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan
”Harusnya sekolah agar tidak buta hurup, bisa kerja lebih baik, tidak lagi bekerja sebagai tukang
macul.. sekarang kan banyak PT …perusahaan. Banyak yang kerja di perusahaan di Cakung, Cileunyi, Bandung…, minimal harus lulus SMP (FGD SMP-perlakuan-Jawa Barat).”
“..kadang-kadang anak saya bisa kasih tau saya karena dia lebih ngerti, kalo hitung-hitungan dia
lebih tahu dan cepat (FGD Ibu-Jawa Barat).
”Saya amati, orang tua mau banting tulang bekerja keras asal anak mau sekolah baik-baik. Mereka
menaruh harapan besar pada anak-anak mereka Laki-laki maupun perempuan diberi kesempatan sama, tergantung kemampuan otak anak” (Kepala Sekolah SD-N TT).
Tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan
Tidak ada perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan untuk bersekolah, semua sekolah. Orang tua saat ini maupun 3 tahun lalu memiliki keseriusan yang sama untuk menyekolahkan anak, baik laki-laki maupun perempuan (Kepala sekolah SD-NTT).
“Siapa saja mau laki-laki atau perempuan tidak ada bedanya, semuanya boleh menjadi pintar (FGD Ibu-Jawa Barat).
Namun demikian, masih ditemukan orang tua yang belum mementingkan pendidikan anaknya. Di wilayah nelayan di Jawa Barat, tingkat kesadaran sebagian orang tua belum banyak berubah. Sekolah masih mengeluhkan rendahnya dukungan sebagian orangtua terhadap pendidikan anaknya. Latar belakang pekerjaan orangtua sebagai nelayan dengan pendidikan yang terbatas membuat rendahnya perhatian mereka terhadap pendidikan anak. Keterbatasan ekonomi orang tua menyebabkan mereka tidak melarang anak ikut melaut dan cenderung mengabaikan sekolah. Selain itu, di satu desa kontrol di NTT kesadaran orang tua akan manfaat pendidikan, terutama ibu, masih rendah. Di desa ini orang tua cenderung masih memprioritaskan anak laki-laki untuk bersekolah di SMP. Di desa ini, jarak ke lokasi SMP 9 km, tidak ada bantuan ornop khusus pendidikan, serta masyarakat masih memprioritaskan kebutuhan adat dan menggangap anak laki-laki yang harus sekolah untuk melanjutkan marga. “Mereka lebih memilih anak laki-laki-laki-laki, karena
mereka takut anak perempuan mudah hamil jadi rugi-rugi saja kalau kasih sekolah anak perempuan, anak laki-laki haru sekolah untuk melanjutkan marga” (Guru SD-NTT)
Kesadaran di masyarakat pesisir yang masih rendah
“...masyarakat pesisir lebih bersikap acuh, dukungan masyarakat kurang akan hal ini. Meskipun
pihak guru terus menekan dan memberikan pengarahan serta menghimbau agar anak terdaftar ke sekolah dan rajin ke sekolah mereka tetap cuek” (Guru SD-Jawa Barat).
“Mereka ngga ngerti mau diajak kerjasama untuk kebaikan anaknya… yang ada bukan itu, mereka
melindungi anaknya meskipun salah. Akhirnya tidak ada solusi karena mereka tidak mau open…”
(Kepala Sekolah SD-Jawa Barat).
PKH, terutama di perdesaan di NTT, berkontribusi meningkatkan kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anakya. Di perdesaan di NTT pendamping PKH turut memberikan
pengarahan atau anjuran kepada orang tua tentang pentingnya sekolah. Meskipun PKH lebih melibatkan istri, informasi yang diperoleh disampaikan juga kepada suami sehingga tidak hanya pengetahuan dan kesadaran istri yang meningkat tapi juga suami.