IV PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)
4.1 Pelaksanaan PKH
4.5.2 Hambatan dalam Pemanfaatan Pelayan Pendidikan Dasar dan Alasan Anak Tidak Mendaftar atau Putus Sekolah
Secara umum tidak ada hambatan yang berarti bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tingkat SD. Jarak SD relatif sudah dekat dan sekolah umumnya tidak memungut banyak biaya rutin dan biaya penunjang sekolah. Namun demikian, masih ditemukan beberapa kasus
anak usia SD yang putus sekolah dengan alasan anak tidak mampu mengikuti pelajaran sehingga sering tidak naik kelas dan akhirnya putus sekolah (terutama untuk kasus di NTT). Kurangnya asupan gizi, anak sering tidak sarapan sebelum ke sekolah, dan anak yang
kelelahan karena harus berjalan jauh menyebabkan mereka sulit berkonsetrasi menerima pelajaran. Selain itu, terdapat juga beberapa kasus anak SD (terutama kelas 5 atau 6 dan umumnya laki-laki) terpengaruh negatif lingkungan menyebabkan mereka menjadi malas sekolah dan akhirnya putus sekolah. Adanya ancaman pemotongan dana PKH bisa mencegah anak dari keluarga
penerima PKH putus sekolah, karena perhatian orang tua terhadap pendidikan anak menjadi meningkat.
Untuk tingkat SMP alasan anak yang tidak didaftarkan dan putus sekolah di Jawa Barat dan NTT
umumnya masih sama dibandingkan 2007 baik di wilayah perlakuan maupun kontrol yaitu karena faktor ekonomi, faktor kenakalan dan kemalasan anak, serta di NTT karena jauhnya jarak dan
akses ke SMP. Jika dibandingkan 2007, hambatan ekonomi dan jarak relatif sama intensitasnya
(dengan kecenderungan menurun), sedangkan hambatan kenakalan dan kemalasan anak justru meningkat.
Hambatan ekonomi yang menyebabkan anak tidak didaftarkan atau putus dari SMP adalah tingginya biaya yang harus dikeluarkan orang tua, meliputi biaya rutin, biaya penunjang sekolah, serta uang jajan anak ke sekolah. Sebagian SMP terutama SMP swasta (beberapa diakses di desa sampel di NTT) masih memungut biaya rutin bulanan. Selain itu, tingginya biaya penunjang sekolah seperti biaya fotokopi buku pelajaran, seragam, perlengkapan sekolah, ekstrakulikuler, serta biaya lainnya sangat dirasakan memberatkan bagi orang tua (lihat Tabel 22). Di Jawa Barat, orang tua juga terbebani biaya jajan dan ongkos anak ke sekolah. Anak sering mogok sekolah jika tidak diberi uang jajan. Beban orangtua murid miskin kian bertambah dengan adanya diskriminasi perhatian guru terhadap murid miskin. Guru dinilai lebih memperhatikan murid dari golongan mampu
melalui kunjungan dan komunikasi intens tentang perkembangan anak dengan orang tua dari keluarga mampu, tetapi hal yang sama tidak pernah dialami oleh para orangtua miskin.
Tabel 23. Jenis dan Jumlah Pengeluaran Murid SMP*) (dalam rupiah)
Jenis Pengeluaran Sampel 1 SMP Sampel 2 SMP Sampel 3 SMP
Pendaftaran 10.000 100.000 45.000
Iuran perbulan 20.000 15.000
Uang komputer/tahun 25.000 100.000
Uang les kelas tiga/bulan 50.000
Uang ujian 25.000 75.000
Uang pamit/Izajah 50.000 100.000
Photo copy/mata pelajaran 50.000 35.000 25.000 Seragam
-Putih Biru 75.000
-Olah raga 60.000 55.000
Sepatu 40.000 Tas 25.000 Buku & alat tulis/semester 40.000
Keterangan: Hanya sebagai ilustrasi, jenis pengeluaran yang disebutkan peserta FGD mungkin tidak lengkap.
Sumber: Rekapitulasi hasi FGD
Keberadaan dana PKH cukup membantu meringankan hambatan ekonomi orantua dalam menyekolahkan anaknya, terutama jika turunnya dana PKH bersamaan dengan dibutuhkannya biaya untuk sekolah. Selain itu, di kedua desa perlakuan dan satu desa kontrol di
NTT, Plan International juga banyak memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan uang transpor/komite untuk beberapa murid miskin. Di Jawa Barat program beasiswa untuk murid miskin yang didanai oleh pemda dan swasta (seperti dari Yayasan Sampoerna dan bantuan amal zakat (BAZ) juga cukup membantu, hanya saja jumlah penerimanya masih terbatas.
Hambatan ekonomi lainnya adalah anak yang diharuskan bekerja atau memilih untuk bekerja karena harus membantu orang tua memenuhi kebutuan ekonomi keluarga. Di
wilayah nelayan (di Jawa Barat dan NTT) alasan anak tidak melanjutkan atau putus SMP adalah karena anak dilibatkan orang tua mencari ikan di laut atau bekerja sebagai anak buah kapal milik orang lain. Di Jawa Barat beberapa anak perempuan terpaksa menjadi TKW. Meskipun persyaratan TKW minimal harus tamat SMP, tapi untuk keperluan tersebut izajah SMP
kadang-kadang dipalsukan. Di wilayah perkotaan (Jawa Barat dan NTT) juga banyak anak usia sekolah yang menjadi tukang ojek, kondektur bis, atau buruh di pasar. Pada awalnya mereka hanya bekerja sepulang sekolah, namun kemudian terlena dan akhirnya putus sekolah.
Alasan lain anak tidak mau melanjutkan sekolah atau putus sekolah adalah karena faktor
kenakalan atau kemalasan anak yang salah satunya disebabkan karena pengaruh buruk lingkungan. Faktor ini umumnya lebih sering terjadi pada anak laki-laki dan di wilayah
perkotaan. Terdapat juga beberapa kasus anak yang tidak melanjutkan ke SMP karena orang tuanya bercerai atau anak tidak diperhatikan karena ditinggal orang tua menjadi TKI/TKW. Alasan lain untuk anak perempuan adalah karena dipaksa menikah oleh orang tua atau anak yang hamil di luar nikah. Selain karena malu memiliki anak di luar nikah, peraturan sekolah juga tidak memperbolehkan anak perempuan yang sedang hamil atau sudah memiliki anak untuk bersekolah.
Khusus di wilayah perdesaan di NTT, hambatan lain yang kerap membuat orangtua kurang
bersemangat menyekolahkan anaknya adalah jauhnya jarak ke sekolah. Meskipun di tiga
desa (dua perlakuan dan satu kontrol) sudah tersedia SMP, luasnya wilayah serta tempat tinggal penduduknya yang tersebar menyebabkan murid dari dusun terpencil harus berjalan sampai dua jam ke sekolah. Jauhnya jarak dan lamanya waktu yang ditempuh membuat anak kelelahan dan sering absen. Pada akhirnya beberapa anak terpaksa putus sekolah. Khusus di satu desa kontrol, hambatan yang dihadapi jauh lebih berat karena tidak adanya SMP di dalam desa dan SMP terdekat berjarak 9 km dari pusat desa. Selain itu, di desa ini juga tidak ada bantuan ornop yang khusus untuk pendidikan sehingga tingkat kesadaran orang tua masih relatif rendah dan anak usia sekolah masih banyak dilibatkan orangtua untuk membantu bekerja di kebun.
Tingginya biaya penunjang sekolah
“Masih ada anak yang tidak mau sekolah dan alasan ekonomi karena tidak semua biaya digratiskan/ditanggung dana BOS” (FGD Ibu-Jawa Barat).
”Ada juga yang tidak ada biaya,... sekarang cari duit juga sulit!” (FGD Ibu-Jawa Barat).
“Dengan adanya BOS, SPP di sekolah gratis. Tapi tetap aja berat untuk ongkos anak dan terutama buku LKS harus beli, kalo tidak beli LKS nilai anak tidak dikeluarkan katanya ga bisa dinilai..”
(FGD Ibu-Jawa Barat).
”Kalo ke SD, semua daftar tapi kalo SMP tergantung orangtua dan anak. Kadang-kadang anaknya
mau tapi orang tua tidak mampu, atau sebaliknya” (FGD Bapak-Jawa Barat).
Anak harus bekerja
“Mereka tetap mendaftar ke sekolah namun ditengah perjalanan mereka putus sekolah, biasanya
karena faktor ekonomi. Pada akhirnya mereka memilih bekerja (FGD Bapak-Jawa Barat).
Perempuan banyak yang ‘menunggu usia’ untuk menjadi TKI di Arab Saudi. Atau bahkan jika badan mereka besar, ijazah bisa SMP dipalsukan” (FGD Ibu-Jawa Barat).
“Walaupun ada karena faktor ekonomi. Biasanya kalau ada anak yang tidak didaftarkan sekolah,
anak tersebut membantu orang tua bekerja” (FGD Ibu-Jawa Barat).
“..sudahlah bu anak saya ke Arab saja karena ga ada yang membiayai” (Guru SMP-Jawa Barat) “Mereka tidak sekolah tapi menjadi alang-alang, ikut jadi orang laut” (FGD Ibu-Jawa Barat). Kenakalan dan kemalasan anak
“laki-laki lebih malas, sementara perempuan yang putus sekolah dikarenakan alasan bekerja di luar
negeri (TKI) dan kawin” (FGDIbu-Jawa Barat).
Sebelum ada BOS, banyak anak putus sekolah karena faktor miskin atau ekonomi. Pada saat ini, kalo putus sekolah umumnya karena anaknya malas, bandel dan tidak mau diatur (FGD
“Mereka sebenarnya 100% didaftar di sekolah, kalo orangtuanya benar mendidik anak, pasti
anaknya tidak akan mbolos atau putus sekolah” (FGD Bapak-Jawa Barat).
“Kalo perempuan rata-rata tidak bermasalah. Bila terjadi pada anak perempuan, hal itu karena
hamil atau dipaksa ke Arab oleh orangtuanya” (FGD Ibu-Jawa Barat).
4.5.3 Perubahan Tingkat Absen dan Penyebab Murid Absen
Secara umum, tingkat absensi murid di SD dan SMP baik di wilayan perlakuan maupun kontrol di Jawa Barat dan NTT menurun. Meskipun demikian, masih ada 1-2 murid yang absen dengan rata-rata lama hari absen 1-3 hari dan anak laki-laki lebih sering absen dibandingkan anak perempuan. PKH berperan dalam menurunkan tingkat absen murid, terutama bagi
penerima di wilayah perdesaan di NTT.
Di Jawa Barat (perlakuan dan kontrol) penurunan tingkat absensi murid SD dan SMP terutama disebabkan semakin ketatnya aturan sekolah. Beberapa sekolah, misalnya,
membuat pagar di sekeliling sekolah dan menguncinya selama jam pelajaran. Terdapat juga sekolah yang merekrut tenaga keamanan yang tugas utamanya adalah mengawasi absen murid. Namun demikian, masih ada saja murid yang absen (terutama tingkat SMP) dengan penyebab utama adalah karena kenakalan, kemalasan dan pengaruh buruk lingkungan. Kehadiran tempat penyewaan playstation di sekitar sekolah banyak dikeluhkan guru dan orang tua murid, karena murid absen umumnya menghabiskan waktu dengan bermain playstation atau hanya ‘nongkrong’ di warung. Seorang bapak peserta FGD mengungkapkan “Anak-anak itu dari rumah sebenarnya
sudah memakai seragam dan ijin berangkat ke sekolah, tapi kenyataannya mereka tidak sampai ke sekolah. Biasanya mereka bermain di tempat rental playstation” (FGD Bapak-Jawa Barat).
Alasan lain yang juga menjadi penyebab murid SD dan SMP absen adalah anak harus menjaga adik (yang masih bayi) di rumah pada saat orang tua ke sawah. Di desa nelayan, terdapat juga anak yang membantu orang tua melaut. Anak yang ikut orang tua melaut umumnya laki-laki dan tingkat SMP atau akhir SD. Pengaruh PKH terhadap tingkat absen murid di Jawa Barat
tidak terlalu terlihat dalam studi. Pertama karena jumlah penerima PKH yang relatif sedikit
dan tersebar di sekolah yang berbeda sehingga sebagian guru tidak mengetahui siapa penerima
PKH di sekolahnya, alih alih mengawasi kehadiran murid tersebut. Selain itu, kurangnya
pengawasan pendamping PKH juga meyebabkan tidak berpengaruhnya PKH terhadap tingkat absen murid dari keluarga penerima PKH.
Di NTT, hampir di seluruh wilayah sampel tingkat absensi murid menurun, hanya di satu desa (kontrol) tingkat kehadiran murid tetap rendah. Penyebab penurunan absen murid adalah meningkatnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan sehingga orang tua lebih peduli terhadap tingkat kehadiran anaknya di sekolah. Penurunan absensi juga disebabkan meningkatnya kontrol dari sekolah dan aparat desa. Aparat desa, kepala dusun dan ketua RW sering dilibatkan oleh sekolah dalam memecahkan masalah murid yang sering absen. Aparat desa yang kemudian memanggil dan menegur orang tua agar lebih mengawasi anaknya. Peningkatan kesadaran orang tua dan peningkatan peran aparat desa juga disebabkan adanya bantuan dan penyuluhan terkait pendidikan dari ornop. Bantuan PKH turut berpengaruh terhadap peningkatan kehadiran
murid di sekolah. Penekanan dari pendamping bahwa dana PKH yang diterima akan dipotong
Rp 50.000 per hari absen meningkatkan kepedulian dan pengawasan orang tua penerima. Seorang Bapak mengungkapkan: “Ada upaya agar anak masuk sekolah, PKH kalau alpha potong Rp.50.000 jaga
anak supaya sekolah jangan alpha. Setia sekolah takut denda” (FGD Bapak-NTT).
Penjelasan tidak berubahanya tingkat absensi murid (terutama SMP) di satu desa kontrol adalah karena kondisi desa yang relatif lebih terisolasi dan tertinggal dibandingkan desa sampel lainnya di NTT. Dari desa ini murid harus berjalan lebih dari 9 km ke SMP terdekat, dan tidak tersedia transportasi umum. Selain itu, di desa ini juga tidak ada bantuan ornop yang terkait pendidikan sehingga kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan umumnya tidak banyak berubah. Sangat disayangkan PKH juga tidak ada di desa ini.
Tidak berbeda dengan di Jawa Barat, di NTT juga masih ada murid SD dan SMP yang absen dengan alasan sedikit berbeda dibandingkan di Jawa Barat terutama karena perbedaan kondisi geografis dan sosial ekonomi. Di wilayah perdesaan NTT alasan utama murid absen adalah karena musim hujan, musim panen, dan hari pasar. Musim hujan masih menjadi kendala kehadiran murid, karena kondisi jalan yang becek, permukaan sungai yang naik sehingga tidak bisa diseberangi (karena tidak ada jembatan), ataupun karena pakaian seragam, sepatu, dan alat tulis yang basah terkena hujan. Pada musim hujan murid bisa absen hingga seminggu karena menunggu surutnya permukaan sungai. Pada saat musim panen dan tanam, terdapat murid (terutama SMP) yang masih harus membantu orang tua di ladang. Pada hari pasar beberapa murid harus membantu orang tua membawa hasil pertanian ke pasar, beberapa murid lainnya absen dari sekolah karena ingin bermain-main dan menikmati keramaian pasar. Jauhnya lokasi sekolah dari tempat tinggal juga menyebabkan murid absen. Untuk tingkat SD, meskipun sekolah sudah ada di tingkat desa, mereka yang tinggal di dusun terpencil masih harus berjalan sampai satu jam sehingga murid sering kelelahan dan tidak masuk sekolah. Di beberapa sekolah juga ditemui murid absen karena guru yang sering absen dan tidak datang ke sekolah. Di wilayah perkotaan di NTT, alasan murid absen tidak berbeda dengan di Jawa Barat, yaitu karena kenakalan dan kemalasan murid, karena murid main playstation, tidak mengerjakan PR atau datang ke sekolah telat sehingga takut dimarahi guru.