• Tidak ada hasil yang ditemukan

III PNPM GENERASI

3.4 Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar

Secara umum studi menemukan berbagai perubahan ketersediaan layanan pendidikan dasar di semua wilayah sampel dengan sumber dana beragam baik dari pemerintah daerah dan pusat maupun dari nonpemerintah. Perubahan ketersediaan tidak hanya terjadi di wilayah perlakuan, tapi juga di wilayah kontrol. Perubahan ketersediaan yang dimaksud adalah penambahan satu SMP baru dan perbaikan kondisi sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar pada SD/SMP yang ada di wilayah sampel.

Kehadiran PNPM Generasi membuat perubahan ketersediaan di wilayah perlakuan secara umum lebih tinggi dibandingkan di wilayah kontrol. Kecuali di satu sekolah yang

mengalami penambahan ruang kelas, sebagian besar perubahan ketersediaan yang bersumber dari dana PNPM Generasi adalah berupa penambahan mebelair di ruang kelas.

Namun demikian, seluruh perubahan ketersediaan yang terjadi sejak 2007 belum sepenuhnya mengatasi sejumlah hambatan yang dihadapi sekolah, di antaranya masih terbatasnya jumlah dan kualitas guru, masih minimnya sarana/prasarana KBM, menurunnya dukungan dan partisipasi masyarakat dan orangtua setelah hadirnya program BOS, dan khusus di NTT hambatan geografis serta ketidaktersediaan listrik dan air bersih di sekolah.

3.4.1 Kondisi dan Perubahan Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar

Jumlah SD yang ada di desa sampel, baik di Jawa Barat maupun di NTT, sudah memadai sejak 2007. Di setiap desa terdapat minimal satu SD, dan SD yang tersedia bisa menampung semua murid yang ingin mendaftar. Khusus di NTT ketersediaan SD banyak terbantu melalui penyelenggaraan SD kecil atau tambahan ruang kelas (TRK) yang menginduk pada SD mandiri di desa bersangkutan. Pendirian TRK adalah atas usul masyarakat, desa, dan sekolah dengan tujuan

untuk menjangkau murid yang tinggal di wilayah terpencil. Ketika jumlah murid sudah relatif mencukupi dan jumlah kelas mencapai kelas enam, TRK meningkat statusnya menjadi SD mandiri setelah disetujui Dinas Pendidikan setempat. Dibandingkan 2007, tidak ada penambahan SD di desa sampel, tetapi terjadi perubahan satu TRK menjadi SD mandiri di NTT.

Ketersediaan SMP berbeda antara di Jawa Barat dan di NTT. Di Jawa Barat, ketersediaan

SMP relatif memadai karena jumlah dan penyebaran SMP cukup merata serta aksesibilitasnya relatif mudah dijangkau. Kehadiran SMP terbuka yang menyediakan layanan

pendidikan gratis, bantuan perlengkapan sekolah, dan jadwal yang lebih longgar meningkatkan aksesibilitas layanan pendidikan terutama bagi masyarakat miskin. Sebaliknya di NTT

ketersediaan SMP di sebagian desa masih menjadi persoalan karena jauhnya jarak sekolah, SMP umumnya terletak di ibu kota kecamatan, dan mahalnya biaya transportasi karena hanya tersedia ojek. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan

ketersediaan SMP di NTT adalah dengan didirikannya SMP satu atap (Satap). Dikatakan satu atap karena pada awal berdirinya SMP tersebut menempel dan menggunakan ruang, fasilitas penunjang sekolah, serta guru milik SD setempat.

Tabel 12. Jumlah SD dan SMP yang Diakses

Sumber: Rekapitulasi hasil FGD

Dibandingkan 2007, di desa sampel terdapat penambahan satu SMP Satap di desa kontrol (SMP Satap Oenenu) pada 2008. Pendirian SMP Satap ini dilatarbelakangi jauhnya jarak desa ke SMP, akses jalan yang buruk, dan tidak tersedianya transportasi umum, serta banyaknya anak yang tidak melanjutkan dan putus SMP. Pendirian SMP tersebut sepenuhnya atas inisiatif masyarakat dan dengan bantuan pemda. Ruang SMP Satap ini masih menggunakan tiga ruang milik SD yang sudah tidak digunakan. Namun demikian, untuk menyediakan SMP (Satap) di setiap desa di NTT terkendala oleh jumlah penduduk per desa yang relatif sedikit dan keterbatasan guru dan sarana prasarana penunjang sekolah.

Di semua desa sampel tidak tersedia sarana pendidikan nonformal setara SD (kejar paket A), SMP (kejar paket B) dan SMA (kejar paket C). Pendidikan jenis ini umumnya berada di ibu kota kecamatan. Mereka yang mengakses pendidikan informal tersebut sebagian besar adalah yang bukan berusia pendidikan dasar, seperti aparat desa atau kecamatan yang memerlukan ijazah SMP/SMA untuk kepetingan jabatannya. Khusus di Jawa Barat hampir di setiap desa tersedia pendidikan nonformal keagamaan, yaitu madrasah diniyah (MD). MD umumnya diakses oleh murid SD dan SMP setelah jam sekolah. Selain itu, di semua desa perlakuan dan kontrol di Jawa Barat dan NTT diselenggarakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang didanai antara lain oleh

PNPM Generasi, PNPM Mandiri Perdesaan, lembaga nonpemerintah, dan swadaya masyarakat.

Ketersediaan guru di semua sekolah sampel di desa perlakuan dan kontrol relatif tidak mengalami perubahan. Meski demikian, tingkat pendidikan guru mengalami peningkatan terutama termotivasi program sertifikasi guru. Di Jawa Barat sebagian besar guru SD minimal lulusan D2

Kategori Nama Desa

SD atau sederajat SMP atau sederajat Di dalam

desa Di luar desa

Di dalam

desa Di luar desa

Jabar-Perlakuan PNPM

Nagarawangi 3 - 2 2

Pamekaran 3 1 1 7

Buahdua 3 1 5

Bojongloa 2 1 - 5

Jabar-Kontrol PNPM Sukaratu 3 1 Neglasari 2 - 1 - 4 3

NTT-Perlakuan PNPM

Taunbaen 2 - 1 (satap) -

Hauteas 2 2 - 4

Sekon 1 - - 4 ( 1 Satap)

Susulaku 1 - - 4

sedangkan guru SMP sudah banyak yang bergelar sarjana. Status sebagian besar guru di Jawa Barat adalah PNS, hanya 1-3 guru saja di setiap sekolah yang masih berstatus honorer. Di NTT masih banyak guru SD dan SMP yang hanya lulusan SMA dan di sebagian sekolah masih banyak guru yang berstatus honorer atau kontrak. Di dua desa perlakuan di NTT, PNPM Generasi

berkontribusi terhadap ketersediaan guru melalui pengalokasian dana program tersebut untuk pembayaran insentif guru honor di tingkat SMP.

Meskipun hanya terdapat penambahan satu SMP, di sebagian besar SD dan SMP yang sudah ada terjadi perbaikan kondisi fisik dan penambahan fasilitas penunjang sekolah, baik di wilayah perlakuan maupun kontrol. Perbaikan kondisi fisik tersebut berupa penambahan atau renovasi ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, pagar sekolah, UKS dan WC sekolah (lihat lampiran 4). Dana pembangunan fisik bersumber dari APBD, dana alokasi khusus (DAK), khusus di NTT dari bantuan Belanda (DBEP) dan Plan International.

Pengalokasian dana PNPM Generasi untuk pembangunan fisik sekolah hanya terjadi di satu desa sampel di NTT, yaitu berupa pembangunan dua ruang kelas SD pada 2009. Selain itu, di satu desa di Jawa Barat meskipun PNPM Generasi tidak meningkatkan kondisi fisik sekolah, kondisi jalan (gang) menuju sekolah meningkat. Di desa tersebut dua gang menuju sekolah disemen dengan dana PNPM Generasi pada 2009. Kondisi jalan sebelumnya adalah tanah sehingga becek dan licin pada saat hujan.

Penambahan fasilitas penunjang sekolah antara lain berupa buku pelajaran/bacaan, mebeler, alat bantu mengajar, peralatan laboratorium, komputer dan audio visual, sarana air bersih, serta perlengkapan olah raga dan kesenian (lihat lampiran 5). Sumber dana peningkatan fasilitas penunjang sekolah adalah dari BOS (baik pusat maupun provinsi), Dana SDSN Dekon Provinsi, DAK, dan PNPM Generasi, khusus di NTT ditambah dari Plan International dan bantuan Belanda (DBEP). Penambahan fasilitas penunjang yang sifatnya berteknologi tinggi, seperti alat bantu mengajar berupa CD player atau alat audiovisual, di sebagian sekolah belum optimal karena tidak tersedia guru pengampu dan khusus di NTT pemanfaatan fasilitas penunjang bertenaga listrik di beberapa sekolah seperti komputer, laptop, dan alat musik terkendala karena belum ada listrik.

Kontribusi PNPM Generasi dalam peningkatan fasilitas penunjang sekolah hampir semuanya dalam bentuk mebeler, terutama kursi dan meja murid di kelas. Ditenggarai

mebeler merupakan fasilitas penunjang yang paling dibutuhkan di SD dan SMP sehingga pengadaannya banyak diusulkan orang tua dan sekolah untuk dibiayai melalui PNPM Generasi. Selain itu, di salah satu desa sampel terdapat pengurus PNPM Generasi yang sekaligus pemilik usaha mebeler. Tidak diketahui secara pasti apakah perusahaan mebeler tersebut berdiri karena keberadaan PNPM Generasi atau tidak. Hanya di satu desa di NTT dana PNPM Generasi juga dialokasikan untuk fasilitas penunjang lain, yaitu berupa buku bacaan untuk murid SD. Buku bacaan disediakan untuk mengisi perpustakaan yang baru dibangun di SD tersebut dengan dana dari bantuan hibah Belanda pada 2009. “Sejak sekolah ini berdiri, baru tahun ini kami memiliki

perpustakaan langsung dengan buku, ruangan, lemari dan meja kursinya”(Guru SD-NTT).

3.4.2 Hambatan Penyediaan Pelayanan Pendidikan Dasar

Meningkatnya fasilitas fisik dan penunjang sekolah bukan berarti bisa menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi sekolah. Terbatasnya alokasi dana peningkatan yang diterima setiap sekolah menyebabkan sekolah masih menghadapi sebagian permasalahan yang sama seperti pada 2007. Sekolah (terutama di NTT) juga masih menghadapi hambatan lain yang disebabkan kondisi geografis, ketersediaan infrastruktur dasar, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat tempat di mana sekolah tersebut berada.

Di Jawa Barat, baik di wilayah perlakuan maupun kontrol, hambatan yang dihadapi SD dan SMP umumnya terkait masih kurangnya fasilitas penunjang sekolah seperti buku paket, buku

SMP terbatasnya komputer dan perlengkapan multimedia. Selain itu, sekolah juga

menghadapi masalah rendahnya partisipasi orang tua dalam pembiayaan sekolah akibat adanya anggapan masyarakat bahwa BOS telah mengganti seluruh biaya sekolah. “Ungkapan “Sekarang

mah sudah ada program BOS” sering terlontar dari anggota masyarakat” (Kepala sekolah-Jawa Barat).

Salah satu SMP sampel juga menghadapi permasalahan terkait rencana pembangunan waduk yang wilayahnya mencakup area sekolah. Rencana pembangunan waduk tersebut menyebabkan ketidakpastian keberlanjutan lokasi sekolah.

Di NTT, hambatan yang dihadapi SD dan SMP meliputi permasalahan guru, masih minimnya fasilitas fisik dan sarana penunjang sekolah, serta luasnya cakupan sekolah. Permasalahan guru meliputi masih kurangnya tenaga guru, rendahnya pendidikan dan pelatihan guru, serta guru yang sering terlambat. Keterlambatan guru terutama disebabkan rumah guru jauh dari sekolah, terbatasnya sarana transportasi umum, dan sebagian guru disibukan kuliah. Sekolah juga mengeluhkan terbatasnya buku pelajaran yang tersedia sehingga satu buku harus berbagi untuk lima murid. Sebagian SMP (terutama di wilayah kontrol) juga masih kekurangan meja dan kursi. Di dua SMP sampel masih menghadapi keterbatasan ruang karena harus berbagi dengan sekolah lain. Satu SMP harus berbagi dengan SD Satapnya, sedangkan SMP lainnya berbagi dengan SMK. ”Distribusi guru di sini pincang. Di kota guru PNS berlimpah, satu rombongan belajar bisa diajar oleh 7-8 guru

dengan sistim bidang studi. Sementara kami di sini satu kelas satu orang saja tidak bisa” (Guru SD-NTT).

Keterjangkauan sekolah juga masih menjadi permasalahan di sebagian desa di NTT.

Untuk SD, meskipun sudah tersedia di setiap desa, namun luasnya cakupan sekolah menyebabkan kelompok masyarakat miskin yang tinggal di tempat terpencil dan jauh dari pemukiman umum sulit mengakses fasilitas pendidikan. Lokasi SMP yang umumnya terletak di pusat kecamatan menyebabkan sulit menjangkau murid yang tinggal di perdesaan dan dusun terpencil. Di sebagian SMP tersedia asrama dengan kondisi yang sangat minim, daya tampung yang terbatas, dan adanya iuran bulanan yang bagi sebagian orang tua dirasakan memberatkan. Beberapa orangtua murid mengatasi masalah jarak dengan menitipkan anaknya di kerabat yang tinggal di sekitar SMP terdekat. Di salah satu desa, pada 2006 pernah diupayakan pembentukan SMP Terbuka, namun gagal karena tidak tersedia guru dan minimnya fasilitas penunjang. Sekolah ini hanya berlangsung selama setahun. Pendirian SMP (terbuka) di setiap desa juga terkendala sedikitnya jumlah anak usia SMP per desa, akibat rendahnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah desa.

Hambatan lain yang juga cukup memengaruhi ketersediaan layanan pendidikan baik di Jawa Barat maupun di NTT adalah keterlambatan dana BOS. Sebagai sumber pembiayaan utama sekolah, keberadaan BOS menjadi penting. Kepala sekolah mengeluhkan keterlambatan dana BOS saat mereka harus membiayai kegiatan operasional sekolah. Tidak jarang kepala sekolah akhirnya memanfaatkan dana kas atau tabungan murid untuk sementara, sambil menunggu pencairan dana BOS. Selain masalah keterlambatan, ketatnya peraturan pemanfaatan BOS juga menyulitkan pihak sekolah dalam mengatur pemanfaatan BOS.

Baik di Jawa Barat maupun di NTT, PNPM Generasi tidak banyak memecahkan masalah keterbatasan fasilitas fisik dan penunjang sekolah, kecuali untuk mebelair (meja

dan kursi di kelas). Hal tersebut disebabkan dana PNPM Generasi bidang pendidikan lebih banyak difokuskan untuk bantuan langsung ke murid.

3.4.3 Peran Komite Sekolah dalam Pelayanan Pendidikan Dasar

Secara umum tingkat keaktifan komite sangat bergantung pada kapasitas individu ketua komite dan kepala sekolah serta kondisi sosial ekonomi masyarakat di mana sekolah tersebut berada. Di Jawa Barat, baik di wilayah perlakuan maupun kontrol, peran

komite relatif kurang aktif. Komite umumnya hanya sebagai penghubung antara orang tua dan sekolah atau sekedar hadir pada pertemuan rutin yang diselenggarakan sekolah. “Kalo ada

sekolah lainnya, karena peran ketua yang aktif, komite di salah satu SMP sampel sangat aktif. Komite di SMP tersebut membuat usulan ke Dinas Pendidikan Kabupaten untuk penambahan ruang kelas dan perbaikan fasilitas olah raga di sekolah. Komite juga terlibat dalam pembiayaan kegiatan try out ujian nasional.

Di NTT komite umumnya cukup berperan dalam mengawasi kehadiran murid dan pembangunan di sekolah. Salah satu SD sampel di desa kontrol pernah mendapat

penghargaan sebagai komite terbaik se-kabupaten, karena komite dinilai berhasil meningkatkan mutu sekolah dan mengawasi kehadiran murid. Komite di beberapa sekolah menggalang kerja sama dengan lembaga ornop untuk membangun fasilitas di sekolah, seperti asrama dan aula sekolah. Meski demikian, seperti telah dijelaskan sebelumnya, keaktifan komite sangat bergatung pada individu ketua. Di salah satu SD sampel di NTT komite sama sekali tidak berperan karena ketuanya tidak aktif. Ketidakatifan komite tersebut dikeluhkan oleh kepala sekolah dan para guru. “Jangankan mencari anak yang alpa, datang ke sekolah saja untuk lihat kami tidak pernah” ungkap seorang guru SD.

Peran komite terhadap keberadaan PNPM Generasi di NTT adalah aktif menyuarakan kebutuhan sekolah agar dapat dibiayai dana PNPM Generasi. Kehadiran PNPM Generasi juga memberikan alasan dan motivasi bagi aparat desa, masyarakat, dan komite untuk

mendorong kehadiran murid di sekolah dengan mengintensifkan kembali pemberlakuan sanksi bagi murid yang absen. Mereka beralasan jika sudah mendapat bantuan dari PNPM Generasi, sudah tidak ada alasan lagi bagi murid untuk tidak masuk sekolah kecuali karena sakit atau atas izin sekolah. Pengintensifan sanksi dilakukan melalui peningkatan jumlah denda dan penguatan dasar hukum sanksi dengan membuat rancangan peraturan desa (perdes) tetang sanksi absen. Sebaliknya, di Jawa Barat karena kesibukan ketua komite, peran komite dalam pelaksanaan

PNPM Generasi hanya sebatas mengetahui dan dilibatkan pada saat pendistribusian bantuan.

Menurut beberapa ketua komite, pengelolaan PNPM Generasi sepenuhnya dilakukan oleh pengelola dan aparat desa, sedangkan sekolah dan komite tidak banyak dilibatkan.