• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Dampak Kualitatif PNPM Generasi dan PKH terhadap Ketersediaan dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dan Pendidikan Dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Studi Dampak Kualitatif PNPM Generasi dan PKH terhadap Ketersediaan dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dan Pendidikan Dasar"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

Studi Dampak Kualitatif PNPM Generasi

dan PKH terhadap Ketersediaan dan

Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Ibu dan Anak dan Pendidikan Dasar

Vita Febriany

Nina Toyamah

Justin Sodo

Sri Budiyati

(2)

LAPORAN PENELITIAN

Studi Dampak Kualitatif PNPM Generasi dan PKH

Terhadap Ketersediaan dan Pemanfaatan

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dan

Pendidikan Dasar

Vita Febriany Nina Toyamah

Justin Sodo Sri Budiyati

Lembaga Penelitian SMERU Jakarta

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada Susan Wong, G. Kelik Agus Endarso, dan Lina Marliani dari Bank Dunia yang telah berinisiatif dan mendukung penelitian ini, atas petunjuk teknis, komentar dan saran berharga yang telah diberikan selama studi ini berlangsung.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada semua anggota masyarakat yang telah bersedia menjadi responden dan informan di seluruh wilayah sampel dan telah ikut ambil bagian dalam menyediakan informasi yang sangat berharga dalam penelitian ini. Kami juga sangat menghargai peran camat, pimpinan puskesmas, aparat desa, dan kader posyandu yang telah membantu penuh para peneliti dan menyisihkan waktu mereka yang berharga sehingga memungkinkan kami untuk bertemu dan berdiskusi dengan masyarakat. Penghargaan juga kami berikan kepada aparat pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan di wilayah studi yang telah berkenan memberikan izin kegiatan penelitian ini. Penghargaan yang tinggi diberikan kepada para peneliti lokal atas dedikasi selama penelitian berlangsung dengan bekerja keras dan bersedia tinggal di desa dengan segala keterbatasan yang ada.

(4)

ABSTRAK

Studi Dampak Kualitatif PNPM Generasi dan PKH

terhadap Ketersediaan dan Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan Ibu dan Anak dan Pendidikan Dasar

Vita Febriany; Nina Toyamah; Justin Sodo; Sri Budiyati

Studi ini bertujuan melihat dampak PNPM Generasi dan PKH terhadap ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar. Studi dilakukan di 24 desa di dua provinsi yaitu Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan membagi wilayah penelitian menjadi perlakuan dan kontrol. Metode yang digunakan adalah panel kualitatif dengan membandingkan hasil studi dampak dan studi baseline ketersedian dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar pada 2007. Secara umum studi menemukan peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar di sebagian besar wilayah sampel, terutama di wilayah perlakuan PNPM Generasi. Kontribusi PNPM Generasi terhadap ketersediaan pelayanan adalah melalui pembangunan fasililitas fisik atau penunjang KIA dan pendidikan dasar serta insentif bagi penyedia layanan, sedangkan terhadap peningkatan pemanfaatannya pelayanan peran PNPM Generasi terwujud melalui bantuan langsung ke rumah tangga seperti dana melahirkan, dana transport ke posyandu/sekolah, dan perlengkapan sekolah. Kontribusi PKH terhadap peningkatan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar hanya ditemui di NTT berupa peningkatan kehadiran ibu di posyandu dan kehadiran murid di kelas. Peningkatan tersebut didorong oleh peran pendamping PKH dalam memotivasi penerima dan adanya ancaman pemotongan atau pencabutan dana PKH bagi penerima, serta proporsi penerima perdesa yang relatif banyak. Meski demikian, secara umum masih dijumpai sejumlah persoalan terkait ketersediaan dan pemanfaatan layanan KIA dan pendidikan dasar, terutama di NTT yakni kendala geografis dan akses fisik, akses ekonomi, ketidaktersediaan pelayanan (bidan desa dan guru), dan kepercayaan terhadap layanan tradisional.

(5)

DAFTAR ISI

UCAPAN TERIMA KASIH i

ABSTRAK ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR TABEL iv DAFTAR LAMPIRAN iv RINGKASAN EKSEKUTIF v I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Tujuan Penelitian 1

1.3 Sekilas PNPM Generasi Sehat dan Cerdas dan Program Keluarga Harapan (PKH) 2

1.4 Metodologi Penelitian 3

1.5 Wilayah Penelitian 5

1.6 Struktur Penulisan Laporan 6

1.7 Jadwal Penelitian 6

II KARAKTERISTIK WILAYAH PENELITIAN 7

2.1 Lokasi dan Akses 7

2.2 Penduduk 7

2.3 Kondisi Rumah dan Fasilitas Pendukung 8

2.4 Sumber Daya Alam dan Ekonomi 8

III PNPM GENERASI 10

3.1 Pelaksanaan PNPM Generasi 10

3.2 Ketersediaan Pelayanan KIA 13

3.3 Pemanfaatan Pelayanan KIA 20

3.4 Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar 25

3.5 Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar 29

IV PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) 38

4.1 Pelaksanaan PKH 38

4.2 Ketersediaan Pelayanan KIA 41

4.3 Pemanfaatan Pelayanan KIA 46

4.4 Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar 51

4.5 Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar 55

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pertanyaan Penelitian 1

Tabel 2. Perhitungan Besarnya Nilai Bantuan PKH/RTSM 3

Tabel 3. Daftar Informan Kunci, Kelompok FGD, dan Pengamatan 4

Tabel 4. Wilayah Penelitian 5

Tabel 5. Alokasi Dana PNPM Generasi Tahun 2009 11

Tabel 6. Kontribusi Masyarakat terhadap PNPM Generasi Tahun 2009 12 Tabel 7. Jenis Fasilitas yang Tersedia di Desa Perlakuan dan Kontrol PNPM Generasi 14 Tabel 8. Jumlah Fasilitas Pelayanan KIA yang Dibangun selama 2008-2010 15 Tabel 9. Jumlah Dukun Beranak di Desa Perlakuan dan Kontrol PNPM Generasi 18 Tabel 10. Biaya Bersalin dan Subsidi Melahirkan dari PNPM Generasi 22 Tabel 11. Aktor yang Mendorong Pemanfaatan Layanan KIA di Desa Perlakuan dan Kontrol

PNPM Generasi 23

Tabel 12. Jumlah SD dan SMP yang Diakses 26

Tabel 13. Gambaran Jenis dan Jumlah Pengeluaran Untuk SMP*) 32

Tabel 14. Penerapan Denda Uang Bagi Murid SD/SMP yang Absen di Desa Perlakuan PNPM

Generasi 34

Tabel 15. Aktor-Aktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar di Desa

Perlakuan dan Kontrol PNPM Generasi 36

Tabel 16. Jumlah dan Proporsi Penerima PKH 39

Tabel 17. Jenis Fasilitas yang Tersedia di Desa Perlakuan dan Kontrol PKH 42 Tabel 18. Jumlah Dukun Beranak di Desa Perlakuan dan Kontrol PKH 44 Tabel 19. Perbandingan Biaya Bersalin di Bidan dan Dukun Beranak 49 Tabel 20. Aktor yang Mendorong Pemanfaatan Layanan KIA di Desa Perlakuan dan Kontrol

PKH-Perdesaan 50

Tabel 21. Aktor yang Mendorong Pemanfaatan Layanan KIA di Desa/Kelurahan Perlakuan dan

Kontrol PKH Perkotaan 50

Tabel 22. Jumlah SD dan SMP yang Diakses 52

Tabel 23. Jenis dan Jumlah Pengeluaran Murid SMP*) (dalam rupiah) 57 Tabel 24. Aktor-Aktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar di Desa

Perlakuan dan Kontrol PNPM PKH 60

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel A1. Daftar Peneliti 71

Tabel A2. Akses ke Desa/Kelurahan Sampel 72

Tabel A3. Luas, Jumlah Penduduk, dan KK Desa/Kelurahan Sampel 73 Tabel A4. Perubahan Kondisi Fasilitas SD dan SMP Sampel di Desa Perlakuan dan Kontrol

PNPM Generasi 74

Tabel A5. Perubahan Kondisi Fasilitas Pendukung Sekolah Sampel di Desa Perlakuan dan

Kontrol PNPM Generasi 75

Tabel A6. Perubahan Kondisi Fasilitas SD dan SMP Sampel di Desa Perlakuan dan Kontrol PKH

Perdesaan dan Perkotaan Jawa Barat 76

Tabel A7. Perubahan Kondisi Fasilitas SD dan SMP Sampel di Desa Perlakuan dan Kontrol PKH

Perdesaan dan Perkotaan NTT 77

Tabel A8. Perubahan Kondisi Fasilitas Pendukung Sekolah Sampel di Desa Perlakuan dan

Kontrol PKH Perdesaan dan Perkotaan Jawa Barat 78

Tabel A9. Perubahan Kondisi Fasilitas Pendukung Sekolah Sampel di Desa Perlakuan dan

(7)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Pendahuluan

Dalam rangka mengurangi kemiskinan, kematian ibu melahirkan dan balita, dan memastikan pencapaian pendidikan dasar untuk semua, Pemerintah Indonesia pada 2007 meluncurkan PNPM Generasi dan PKH. Meskipun tujuan sama, pendekatan yang digunakan kedua program berbeda. Penentuan jenis penggunaan bantuan PNPM Generasi ada di tingkat masyarakat desa, sebaliknya PKH dikelola langsung oleh rumah tangga penerima.

Lembaga Penelitian SMERU bekerja sama dengan Bank Dunia melakukan studi kualitatif untuk melihat kondisi terkini, kecenderungan dan dinamika perubahan ketersediaan (supply) dan pemanfaatan (demand) pelayanaan kesehatan ibu dan anak (KIA) dan pendidikan dasar selama 2007 hingga 2010, serta melihat pengaruh PNPM Generasi dan PKH terhadap perubahan tersebut. Studi ini menggunakan metode panel kualitatif dengan membandingkan hasil studi dampak dengan hasil studi

baseline pada 2007. Metode yang digunakan meliputi tiga pendekatan, yaitu 1) wawancara terstruktur; 2)

FGD; 3) Pengamatan desa/kelurahan, sekolah, dan posyandu. Wilayah penelitian studi dampak sama dengan wilayah studi baseline, meliputi 24 desa/kelurahan sampel dan dilakukan sejak Januari sampai Agustus 2010.

Karakteristik Wilayah Penelitian

Wilayah penelitian di Jawa Barat relatif mudah diakses karena umumnya dilalui angkutan umum. Di NTT hanya dua kelurahan sampel yang mudah diakses, wilayah sampel lainnya relatif sulit dan sangat sulit diakses karena jaraknya jauh dari ibu kota kecamatan, kondisi jalan yang rusak, medan yang naik turun, dan terbatasnya sarana transportasi. Sebagian besar luas desa sampel di Jawa Barat kurang dari 500 ha, sedangkan di NTT lebih dari 1.000 ha sehingga jarak antardusun berjauhan dan saat musim hujan sebagian dusun tidak bisa dijangkau. Dibandingkan 2007, terjadi beberapa perbaikan kondisi jalan di dalam desa dengan dana dari pemda, PNPM Mandiri Perdesaan, dan P2KP.

Mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah studi adalah di sektor pertanian. Kecuali di empat wilayah sampel PKH perkotaan yang bermata pencaharian utama sebagai pedagang, buruh, serta sebagian kecil PNS. Dibandingkan 2007, terdapat penambahan jenis mata pencaharian dan peningkatan partisipasi di beberapa jenis pekerjaan nonpertanian, seperti berdagang, tukang ojek, dan mata pencaharian baru (mencari batu mangan di NTT). Di Jawa Barat sumber air bersih diperoleh dari PDAM dan sumber penerangan dari PLN. Di NTT sumber air bersih berasal dari sungai dan sumur yang pada musim kemarau mengering, dan untuk penerangan sebagian besar warga masih menggunakan lampu minyak tanah, kondisi tersebut tidak banyak berubah dibandingkan 2007.

Temuan Studi PNPM Generasi

Pelaksanaan PNPM Generasi

PNPM Generasi dinilai oleh masyarakat, elit desa dan pelaksana program lebih bermanfaat dibandingkan program KIA/pendidikan lainnya karena jenis bantuan banyak, diterima hampir

semua warga, dan menjadi pelengkap program KIA/pendidikan yang sudah ada. Program juga dianggap lebih aspiratif dibandingkan program lainnya karena jenis bantuan dan penerima ditentukan di tingkat desa.

Pemanfaatan dana PNPM Generasi sudah sesuai ketentuan program, semua terkait langsung KIA

dan pendidikan dasar. Dana untuk bidang pendidikan cenderung lebih banyak dialokasikan dalam bentuk bantuan langsung ke murid, sedangkan untuk KIA lebih banyak untuk insentif pemberi layanan

(8)

dan pengadaan sarana pendukung di posyandu/polindes. Pengalokasian dana tersebut menciptakan persepsi masyarakat yang menganggap manfaat PNPM Generasi untuk bidang pendidikan lebih besar daripada untuk KIA. Ditenggarai salah satu faktor rendahnya pengalokasian dana PNPM

Generasi untuk peningkatan fasilitas fisik dan penunjang sekolah adalah karena tidak adanya pengelola program di tingkat desa yang berasal dari lingkungan sekolah (guru/kepala sekolah). Sebaliknya untuk bidang KIA, pengelola program banyak yang merupakan kader posyandu.

Kontribusi masyarakat terhadap pelaksanaan PNPM Generasi beragam. Di Jawa Barat

masyarakat memberikan kontribusi berupa uang, makanan, dan jasa. Sebaliknya, di NTT hanya satu desa yang warganya memberikan kontribusi dalam bentuk barang. Masyarakat di desa lain enggan memberikan kontribusi, karena beranggapan program bantuan berarti mereka menerima bukan memberi dan ada kekhawatiran kontribusi masyarakat akan lebih banyak dinikmati oleh pengelola program.

Monitoring rutin 12 indikator keberhasilan program di setiap desa menjadi tugas fasilitator desa (FD). FD yang diwancarai mengatakan bahwa mereka sudah melakukannya secara rutin baik ke

sekolah, posyandu/kader dan bidan desa. Namun, pada saat pelaksanaan posyandu peneliti tidak melihat buku kupon yang seharusnya dibawa oleh penerima manfaat dan distempel oleh pemberi layanan setiap kali penerima manfaat melakukan pemeriksaan. Di salah satu desa di NTT, buku ini menumpuk di rumah ketua kader posyandu yang sekaligus sebagai FD. Untuk pengawasan kehadiran murid SMP cenderung sulit dilakukan, karena murid dari satu desa bersekolah di beberapa SMP yang sebagian besar berlokasi di luar desa.

Ketersediaan Pelayanan KIA

Jenis dan jumlah penyedia pelayanan KIA yang ada di desa sampel tidak mengalami perubahan sejak 2007. Akan tetapi, PNPM Generasi meningkatkan kondisi pelayanan KIA yang

sudah ada melalui pembangunan rumah posyandu/polindes, penambahan perlengkapan di posyandu/polindes, dan pemberian insentif bagi kader posyandu. Pada studi baseline, tidak adanya insentif menjadi salah satu faktor ketidakaktifan kader serta sulitnya merekrut kader baru.

Hambatan pelayanan KIA, khususnya bagi kelompok masyarakat di wilayah terpencil di NTT, masih sama seperti 2007 dengan intensitas yang menurun. Hambatan tersebut adalah

bidan tidak tinggal di desa atau sering tidak ada ditempat, keterbatasan persediaan obat, luasnya wilayah dan penduduk yang tersebar, buruknya kondisi jalan, minimnya sarana transportasi, dan hambatan kepercayaan/adat naketi (pengobatan tradisional), adat sei (memanggang badan), tatobi (mengompres badan) setelah melahirkan, dan warga yang masih lebih mempercayai dukun. Luasnya wilayah dan tersebarnya penduduk menyebabkan mereka yang tinggal di lokasi terpencil tidak dapat terlayani posyandu dan bidan desa. Pendirian posyandu baru atau penambahan bidan desa di setiap

wilayah terpencil terkendala oleh jumlah sasaran KIA per wilayah yang sangat sedikit dan terbatasnya jumlah kader dan tenaga bidan.

Peran dukun beranak semakin berkurang terutama dalam membantu persalinan. Di NTT

perannya berkurang karena intervensi berupa insentif dana melahirkan dengan bidan dari PNPM

Generasi dan pemberlakuan sanksi oleh aparat desa/kecamatan bagi ibu melahirkan dengan bantuan

dukun beranak. Di Jawa Barat penurunan peran dukun lebih disebabkan tidak adanya regenerasi dan adanya himbauan pemda untuk tidak menggunakan dukun saat melahirkan. Akan tetapi, peran dukun untuk pelayanan selama hamil dan setelah melahirkan tidak berubah sejak 2007, dukun masih memberi pelayanan pijat untuk membetulkan letak janin dan mengurangi kelelahan atau membantu mengurus bayi/ibu sesudah melahirkan.

Persyaratan pelibatan masyarakat melalui musyawarah dan diskusi dalam perumusan program pada PNPM Generasi, Desa Siaga dan bantuan ornop secara formal telah meningkatkan

peran masyarakat dalam perumusan pelayanan KIA. Akan tetapi, pengambil keputusan akhir masih lebih banyak dari kalangan elite desa. Perbedaan tingkat pendidikan dan status ekonomi antara elit desa

(9)

dan masyarakt biasa, terutama di NTT, ditenggarai menjadi salah satu penyebab masih dominannya peran elit dalam pengambilan keputusan.

Pemanfaatan Pelayanan KIA

PNPM Generasi berkontribusi pada peningkatan pemanfaatan pelayanan KIA (posyandu dan bidan desa) karena tersedia subsidi melahirkan, biaya transpor pemeriksaan selama hamil dan pasca

melahirkan, serta PMT dan biaya transpor ke posyandu. Faktor pendorong lain peningkatan pemanfaatan pelayanan KIA di wilayah perlakuan dan kontrol adalah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya KIA dan adanya program pendukung KIA seperti Desa Siaga di Jawa Barat, program revolusi KIA, berbagai bantuan dari LSM serta pengintesifan sanksi denda di NTT.

Hambatan utama sebagian ibu tidak memanfaatkan layanan persalinan di bidan adalah karena mahalnya biaya persalinan dengan bidan. Di desa perlakuan hambatan ini terbantu dengan adanya subsidi melahirkan dari PNPM Generasi. Faktor penghambat lain adalah bidan

tidak ditempat pada saat dibutuhkan serta adanya rasa malu pada sekelompok masyarakat karena memiliki banyak anak, hamil di luar nikah dan khusus di NTT malu memperlihatkan alat kelamin kepada bidan.

Aktor yang mempengaruhi pemanfaatan layanan KIA adalah aparat desa, bidan desa, kader

posyandu, tetangga, dan khusus di NTT tokoh agama serta staf ornop. Peran aparat desa antara lain hadir pada saat pelaksanaan posyandu, mengingatkan para ibu untuk hadir di posyandu, dan di Jawa Barat aparat juga menjemput ibu/bayi balita yang belum hadir di posyandu. Di NTT tokoh agama ikut mengingatkan jadwal posyandu pada saat warga berkumpul di gereja. Pihak ornop berperan memberikan pengarahan dan penyadaran tentang pentingnya pelayanan KIA.

Secara umum pengetahuan dan kesadaran sebagian besar masyarakat tentang pentingnya KIA semakin membaik karena didorong oleh Program Revolusi KIA dan program Desa Siaga,

berbagai penyuluhan dari ornop, dan bantuan dari PNPM Generasi. Peningkatan juga didorong oleh kemudahan mengakses informasi tentang KIA melalui media cetak dan elektronik. Peningkatan kesadaran perempuan diindikasikan dari peningkatan rutinitas ibu ke posyandu dan pengetahuan peserta FGD tentang KIA. Indikasi lain juga terlihat dari alasan peserta FGD memilih bidan desa. Karena perempuan menjadi sasaran utama layanan KIA, hal ini membuat kesadaran perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki.

Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar

Secara kuantitas ketersedian SD di setiap desa/kelurahan sampel sudah memadai sejak 2007.

Hanya terjadi perubahan status satu SD di NTT (dari SD kecil1 menjadi SD mandiri). Di semua desa sampel di Jawa Barat dan NTT juga sudah diselenggarakan minimal satu pendidikan anak usia dini (PAUD) yang didanai antara lain oleh pemda, PNPM Generasi, PNPM Mandiri Perdesaan, ornop dan swadaya masyarakat

Ketersediaan SMP di semua wilayah sampel di Jawa Barat sudah memadai dan relatif mudah

dijangkau. Di NTT ketersediaan SMP masih menjadi kendala karena jauhnya jarak dan mahalnya biaya transportasi. Dibandingkan 2007, terjadi penambahan satu SMP negeri di salah satu desa kontrol di NTT pada 2008.

Dibandingkan 2007, terjadi perbaikan kondisi fisik sekolah (berupa penambahan dan renovasi

ruang kelas, perpustakaan, UKS, laboratorium dan aula) serta penambahan fasilitas pendukung belajar mengajar (berupa mebelair, buku, alat bantu audio visual, dan perlengkapan ekstrakulikuler). Sebagian besar dana perbaikan bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK), bantuan Belanda (DBEP), dan

1SD kecil atau TRK (tambahan ruang kelas) adalah SD yang berinduk pada SD yang sudah lama berdiri. TRK

didirikan di dusun terpencil bertujuan untuk menampung murid dari dusun tersebut, terutama murid kelas 1-3 yang kelelahan jika harus berjalan jauh.

(10)

Plan International khususnya di NTT. Peran PNPM Generasi lebih banyak berupa penyediaan

fasilitas pendukung sekolah, terutama meja dan kursi.

Masih terdapat sejumlah hambatan penyediaan layanan pendidikan dasar. Di Jawa Barat

hambatan meliputi kurangnya guru bidang studi di SMP, terbatasnya alat bantu, dan tidak meratanya jumlah murid karena preferensi orang tua pada sekolah tertentu. Di NTT hambatan yang dihadapi sekolah lebih berat, yakni rendahnya pendidikan dan kehadiran guru, masih banyak guru berstatus honorer, kurangnya alat bantu mengajar, serta tidak tersedianya listrik dan air bersih di sekolah. Hambatan tersebut, baik di Jawa Barat maupun NTT, diperburuk oleh rendahnya partisipasi orang tua setelah adanya BOS.

Di NTT, peran komite terhadap keberadaan PNPM Generasi adalah aktif menyuarakan kebutuhan sekolah agar mendapat pendanaan dari PNPM Generasi. Kehadiran PNPM Generasi juga memberikan alasan dan motivasi bagi komite, aparat desa dan masyarakat untuk

mendorong kehadiran murid di sekolah dengan mengintensifkan kembali pemberlakuan sanksi bagi murid yang absen. Sebaliknya di Jawa Barat, karena kesibukan ketua komite, peran komite dalam pelaksanaan PNPM Generasi hanya sebatas mengetahui dan dilibatkan pada saat pendistribusian bantuan.

Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar

Tingkat partisipasi anak usia SD di Jawa Barat dan NTT sudah tinggi dan tidak banyak berubah

dibandingkan 2007. Tingginya semangat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke SD berimbas ke semangat mereka untuk menyekolahkan anaknya di PAUD/TK. Bahkan, sekolah mulai mensyaratkan kelulusan PAUD/TK untuk mendaftar ke SD. Pemanfaatan PAUD ini berpengaruh terhadap peningkatan kualitas murid SD sehingga menurunkan tingkat putus SD, terutama di NTT.

Partisipasi anak usia SMP meningkat karena peningkatan kesadaran orang tua akan manfaat

pendidikan dan sejalan dengan tuntutan lapangan kerja yang mensyaratkan minimal tamat SMP (menjadi TKI/TKW, kepala dusun/RT/RW, pekerja pabrik dan supir). Alasan lain adalah karena rasa malu bila tidak sekolah, tersedianya program SMP Terbuka, serta peran aktif guru, komite, dan aparat desa.

Peran PNPM Generasi tidak secara langsung meningkatkan partisipasi murid SD/SMP karena

bantuan hanya ditujukan bagi anak yang terdaftar di sekolah dan tidak menyentuh anak yang sudah putus sekolah atau tidak mendaftar. Ditenggarai hal ini disebabkan adanya persepsi pelaksana

program dan aparat desa yang menganggap bantuan PNPM Generasi untuk pendidikan hanya ditujukan bagi murid yang terdaftar di sekolah, tidak termasuk anak usia SD/SMP yang tidak mendaftar ataupun yang putus sekolah. Pada saat pendataan awal jumlah sasaran

perdesa, data yang digunakan adalah jumlah murid yang bersekolah, bukan jumlah anak usia sekolah di desa tersebut

Meskipun tidak berperan secara langsung, namun PNPM Generasi meningkatkan semangat dan mendorong murid rajin ke sekolah serta mencegah murid putus sekolah. Bantuan PNPM Generasi berupa baju, sepatu, alat tulis, dapat mengurangi rasa minder, bantuan payung dapat

mengatasi hambatan musim hujan, serta bantuan dana transport, asrama dan subsidi dapat mengatasi sebagian beban biaya penunjang sekolah.

Alasan utama beberapa anak usia SMP tidak mendaftar atau putus sekolah adalah masalah ekonomi, yaitu tingginya biaya transpor, jajan anak, dan desakan pemenuhan ekonomi keluarga. Alasan

lain bagi anak perempuan adalah karena dipaksa menikah, hamil di luar nikah, atau menjadi TKW, sedangkan untuk anak laki-laki karena pengaruh negatif lingkungan. Di NTT jauhnya lokasi SMP bahkan hingga 7 km dan mahalnya biaya transportasi dan asrama membuat beberapa anak tidak didaftarkan atau putus sekolah. Pada beberapa kasus karena berbagai faktor (lingkungan, media informasi, dll) terdapat kecenderungan meningkatnya peran anak dalam memutuskan melanjutkan atau memilih SMP tanpa bisa dipengaruhi orang tua.

(11)

PNPM Generasi turut menurunkan tingkat absen murid SD/SMP karena bantuan langsung ke

murid meningkatkan semangat dan motivasi murid ke sekolah dan di NTT PNPM Generasi juga mendorong pemberlakuan kembali sanksi denda bagi murid absen. Penurunan absen di NTT juga didorong oleh bantuan dan penyuluhan pendidikan dari ornop. Di Jawa Barat, penurunan absen lebih disebabkan meningkatnya pemantauan dan fasilitas penunjang seperti adanya pagar dan tenaga keamanan di sekolah.

Aktor yang berperan dalam pemanfaatan pelayanan pendidikan masih sama dengan 2007,

yaitu aparat desa, guru, komite, dan tokoh agama, dan khusus di NTT ada staf ornop dan aparat kecamatan. Namun, peran sebagian besar aktor masih sebatas memberi himbauan formal. Peran

pengurus PNPM Generasi dalam mempengaruhi pemanfaatan pelayanan pendidikan dasar hanya

terlihat di satu desa perlakuan di Jawa Barat. Di desa lain, peran pengurus hanya sebatas mengurusi bantuan saja.

Temuan Studi PKH

Pelaksanaan PKH

Aparat desa, pemberi layanan, dan masyarakat umumnya tidak terlalu mengenal PKH. Elit

desa cenderung tidak perduli karena merasa tidak dilibatkan dalam pelaksanaan PKH. Di tingkat masyarakat, karena jumlah penerima PKH sedikit dan kuatir PKH menimbulkan kecemburuan/konflik, keberadaan PKH seolah-olah seperti dirahasiakan, termasuk dalam proses penentuan penerima. Beberapa peserta FGD dan informan kunci mengeluhkan kekurangtercakupan (undercoverage) dan ketidaktepatan sasaran (misstargeting).

Secara umum keputusan pengelolaan dana PKH ada di tangan ibu atau perempuan dalam keluarga. Sebagian besar dana PKH dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan

untuk pendidikan dilakukan jika waktu pencairan bersamaan dengan tahun ajaran baru. Pemanfaatan dana PKH untuk keperluan KIA jarang dilakukan, sebagian besar penerima PKH tidak memiliki persiapan untuk biaya persalinan. Selain itu, banyak penerima PKH di NTT menggunakan dana PKH untuk membeli aset berupa ternak dengan alasan jika ada keperluan untuk pendidikan atau kesehatan, ternak tersebut dapat dijual.

Monitoring kepatuhan penerima PKH terhadap 12 indikator keberhasilan program tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengisian formulir verifikasi yang dikirim dan diambil oleh kantor

pos tidak dipahami oleh pihak sekolah, bidan dan puskesmas. Sebagian pendamping mengakui mengisi sendiri formulir verifikasi setelah mendapatkan informasi dari sekolah, bidan atau puskesmas. Namun, pemberi layanan KIA dan pendidikan dasar umumnya mengaku tidak pernah dimintai data oleh pendamping.

Kepatuhan terhadap persyaratan penerimaan PKH sangat dipengaruhi keaktifan pendamping PKH dan banyaknya jumlah penerima perdesa. Di Jawa Barat dan perkotaan di NTT, pendamping

umumnya tidak aktif karena wilayah jangkauannya relatif lebih banyak (beberapa desa/kelurahan) dan lokasi penerima tersebar di beberapa desa/kelurahan2.

Ketersediaan Pelayanan KIA

Ketersediaan pelayanan KIA di sebagian desa/kelurahan perlakuan dan kontrol meningkat

melalui penambahan tenaga bidan, penambahan tempat layanan posyandu dan polindes serta penambahan ruang dan perlengkapan di poskesdes/pustu/polindes, dengan sumber dana dan inisitatif

2Buku Saku Pendamping PKH menyebutkan bahwa satu pendamping PKH mendampingi kurang lebih 375

(12)

umumnya dari pemda. Kecuali di satu desa perlakuan dan satu desa kontrol di NTT, ketersediaan pelayanan KIA tidak mengalami perubahan.

Hambatan yang masih dihadapi sebagian besar penyedia layanan KIA adalah tidak adanya

insentif bagi kader, terbatasnya fasilitas pendukung, ketidaktersediaan bidan desa, penduduk yang tersebar, kondisi jalan yang buruk dan minimnya sarana transportasi, serta pengaruh musim hujan. Ketidaktersediaan tenaga bidan di dua desa di NTT selain karena kekurangan tenaga bidan juga karena bidan tidak mau tinggal di desa terpencil.

Pelayanan KIA masih sulit menjangkau beberapa kelompok kecil warga karena jauhnya lokasi

tempat tinggal dan masih tingginya kepercayaan pada dukun dan adat di NTT, serta kelompok nelayan di Jawa Barat. Meski demikian, dibandingkan dengan keadaan 2007, jumlahnya sudah berkurang.

Peran dukun dalam membantu persalinan cenderung menurun. Di Jawa Barat penurunan

disebabkan tidak ada regenerasi dan adanya himbauan pemda kepada dukun untuk tidak memberikan layanan persalinan. Di NTT penurunan lebih disebabkan adanya Program Revolusi KIA yang melarang dukun beranak memberi layanan KIA. Namun demikian, di dua desa di NTT yang tidak memiliki bidan desa, peran dukun dalam membantu persalinan masih tinggi. Selain itu, di semua desa sampel dukun beranak masih berperan memberikan pelayanan selama hamil seperti pijat (untuk membetulkan letak janin dan mengurangi kelelahan saat hamil), pasca melahirkan (mengurus bayi dan ibu setelah melahirkan), serta penyelenggaraan upacara adat.

Proses pengambilan keputusan menyangkut penyediaan layanan KIA masih sepenuhnya

dilakukan pemerintah (daerah) dan pemberi layanan KIA. Meski demikian, dibandingkan 2007 keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan terkait layanan KIA cenderung meningkat, khususnya di wilayah perdesaan. Di perdesaan NTT, peningkatan didorong keberadaan program Revolusi KIA, sedangkan di Jawa Barat peningkatan hanya terjadi di desa sampel yang sudah aktif melaksanakan program Desa Siaga, karena pelaksanaan program ini banyak melibatkan partisipasi dan swadaya masyarakat.

Pemanfaatan Pelayanan KIA

Pengaruh PKH terhadap peningkatan pemanfaatan pelayanan KIA adalah berupa peningkatan kehadiran ibu di posyandu di wilayah perdesaan di NTT. Peningkatan ini karena

adanya ancaman sanksi pemotongan dana PKH oleh pendamping jika ibu tidak ke posyandu. Di Jawa Barat dan perkotaan NTT PKH tidak berpengaruh terhadap kehadiran ibu di posyandu. Di Jawa Barat, pemanfaatan posyandu tidak banyak berubah karena di sebagian desa/kelurahan kehadiran ibu di posyandu masih dipengaruhi oleh banyaknya ibu yang menjadi TKW atau merantau ke luar desa. Sebagian warga di wilayah perkotaan, baik di Jawa Barat maupun NTT, tidak memanfaatkan posyandu karena lebih memilih alternatif pelayanan KIA lain yang tersedia.

Hambatan pemanfaatan pelayanan bidan adalah karena keterpencilan, hambatan infrastruktrur

desa, ketidaktersediaan bidan desa atau bidan sering tidak ada di tempat, serta kepercayaan terhadap dukun beranak dan rasa malu kepada bidan terutama di NTT. Secara umum semua hambatan tersebut masih sama dengan kondisi 2007.

Pendamping PKH dan ketua kelompok PKH menjadi aktor baru dalam pemanfaatan pelayanan KIA. Di dua desa perlakuan di NTT, peran pendamping cukup membantu peningkatan

pemanfaatan layanan KIA melalui pengarahan kepada penerima dan ancaman sanksi pemotongan dana

PKH. Akan halnya dengan ketua kelompok, perannya baru sebatas menyampaikan informasi tanggal

pencairan ke anggotanya. Aktor lain yang berperan dalam meningkatkan pamanfaatan pelayanan KIA adalah aparat desa, bidan, kader posyandu, tokoh masyarakat, tetangga serta khusus di NTT tokoh agama dan staf ornop.

(13)

Keberadaan PKH turut mempengaruhi kesadaran perempuan dan laki-laki mengenai isu KIA terutama di perdesaan NTT karena penyuluhan pendamping PKH dan ancaman sanksi. Faktor

lain yang meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya KIA adalah program Desa Siaga dan Revolusi KIA, informasi KIA melalui media cetak/elektronik, saling mengingatkan sesama tetangga dan warga, dan khusus di NTT penyuluhan dari ornop.

Ketersediaan Pelayanan Pendidikan Dasar

Ketersediaan dan ketercakupan SD di setiap desa/kelurahan sampel sudah memadai.

Dibandingkan 2007 hanya terjadi perubahan status satu SD di NTT (dari SD kecil menjadi SD mandiri) atas inisiatif masyarakat dan guru. Di hampir seluruh desa perlakuan dan kontrol di Jawa Barat dan NTT telah diselenggarakan pendidikan PAUD. Pendidikan pra sekolah ini didanai antara lain oleh swadaya masyarakat, LSM, pemda, danPNPM Mandiri Perdesaan.

Ketersediaan SMP di desa sampel tidak berubah dibandingkan 2007. Ketersediaannya masih menjadi masalah terutama di sebagian desa di NTT karena SMP umumnya berada di ibu kota

kecamatan dan tidak tersedia transportasi umum sehingga sulit dijangkau dari sebagian desa.

Fasilitas pendukung SD dan SMP di semua desa sampel mengalami perbaikan. Jenis perbaikan

di NTT meliputi penambahan dan renovasi ruang kelas dan WC dan di Jawa Barat berupa perbaikan ruang perpustakaan, laboratorium, UKS serta fasilitas pendukung seperti buku, mebelair, komputer dan alat bantu mengajar. Sumber dana perbaikan berasal dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten serta khususnya di NTT juga dari ornop.

Program bantuan yang tersedia belum bisa memecahkan dan menyentuh semua hambatan penyediaan pelayanan pendidikan dasar yang juga dihadapi pada 2007. Di Jawa Barat dan

perkotaan NTT hambatan yang dihadapi SD dan SMP adalah keterbatasan ruang belajar karena

overcapacity di beberapa sekolah yang dianggap favorit, serta menurunnya partisipasi orang tua setelah

adanya BOS. Di perdesaaan di NTT hambatan lebih berat yakni rendahnya pendidikan guru, sebagian besar guru masih berstatus honorer, tidak adanya perpustakaan dan laboratorium, kurangnya alat bantu mengajar, tidak adanya listrik dan air bersih, serta jauhnya lokasi sekolah.

Peran komite sekolah dalam membuat keputusan menyangkut pelayanan pendidikan dasar berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Di perdesaan peran komite lebih aktif melalui

pemantauan dana BOS, terlibat dalam pembangunan fasilitas sekolah, serta di NTT ikut mengawasi kehadiran murid dan guru. Di perkotaan, komite hanya menghadiri rapat di sekolah dan umumnya tidak mengetahui keberadaan penerima PKH di sekolahnya.

Pemanfaatan Pelayanan Pendidikan Dasar

Pelaksanaan PKH tidak meningkatkan partisipasi SD karena sudah tingginya tingkat partisipasi SD sejak 2007. Tingkat partisipasi SMP meningkat karena peningkatan kesadaran orang

tua, persyaratan untuk menjadi TKI/TKW dan pekerja pabrik minimal lulusan SMP serta di NTT karena adanya bantuan/bimbingan dari ornop.

Peran PKH terhadap peningkatan partisipasi SMP hanya terlihat di perdesaan NTT karena jumlah penerima PKH relatif banyak, aktifnya peran pendamping, dan adanya sanksi jika anak tidak didaftarkan atau putus sekolah. Di satu desa sampel di NTT, pada awal pelaksanaan

PKH beberapa anak yang tidak melajutkan ke SMP diminta kembali melanjutkan jika keluarganya ingin mendapatkan PKH

Alasan utama anak yang tidak mendaftar dan putus sekolah di tingkat SMP umumnya masih sama dibandingkan 2007 yaitu hambatan ekonomi. Alasan lain adalah dipaksa menikah, hamil di luar

(14)

negatif lingkungan. Di NTT jauhnya lokasi SMP membuat murid sering tidak masuk sekolah dan akhirnya terpaksa putus sekolah.

PKH berkontribusi pada peningkatan kehadiran murid SD dan SMP terutama di perdesaan NTT karena adanya ancaman sanksi pemotongan dana PKH jika murid dibiarkan absen. Di wilayah

perlakuan PKH perkotaan dan di wilayah kontrol tingkat absen juga turun karena aturan sekolah yang lebih ketat, pemagaran di sekeliling sekolah, dan tersedianya tenaga keamanan sekolah.

Alasan beberapa murid absen, baik SD maupun SMP di perdesaan NTT, adalah karena hujan,

waktu panen dan hari pasar, serta karena murid kelelahan dan malas. Di perkotaan NTT dan Jawa Barat alasan absen adalah karena pengaruh negatif pergaulan, malas atau tidak diberi uang jajan, murid takut dimarahi guru bila datang terlambat atau tidak mengerjakan pekerjaa rumah, serta beberapa murid absen karena harus ikut orang tua bekerja (seperti pergi melaut). Anak laki-laki lebih banyak yang absen karena pengaruh pergaulan dan kenakalan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.

Pendamping PKH menjadi salah satu aktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan pendidikan dasar di wilayah perdesaan NTT, karena pendamping aktif memberikan pengarahan

dan tekanan tentang pentingnya pendidikan dan satu pendamping hanya fokus menangani satu desa. Aktor lain di desa yang berperan dalam mendorong orang tua untuk menyekolahkan anaknya adalah kepala sekolah, guru, ketua komite, aparat desa (terutama kepala dusun), dan tetangga. Di NTT, tokoh agama serta staf ornop juga banyak berperan memotivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Peran aparat desa antara lain menerbitkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) agar murid miskin bisa mendapatkan beasiaswa atau pembebasan/keringanan uang komite.

Kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan meningkat baik di Jawa Barat maupun di NTT. Lapangan pekerjaan yang mensyaratkan minimal lulus SMP serta pengarahan dari aparat desa,

tokoh masyarakat dan ornop turut berperan dalam peningkatan tersebut. Indikasi peningkatan kesadaran tercermin dari tanggapan peserta FGD yang mengungkapkan harapan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan, dan kesungguhan orang tua untuk tetap menyekolahkan anak sekalipun bantuan dihentikan. Pada studi baseline umumnya peserta FGD masih melihat manfaat pendidikan hanya sebatas peningkatan kemampuan dasar anak.

Kesimpulan dan Rekomendasi

PNPM Generasi

Masyarakat desa secara umum menilai PNPM Generasi bermanfaat bagi mereka karena banyaknya jenis bantuan dan besarnya cakupan penerima: program dapat dinikmati oleh hampir semua warga desa (baik laki-laki maupun perempuan). Meskipun masyarakat miskin juga menerima manfaat dari program, peningkatan pemanfaatan KIA dan pendidikan dasar masih terkendala oleh faktor ekonomi rumah tangga, adat istiadat, pendidikan orang tua serta pengaruh negatif lingkungan terhadap kemauan anak untuk bersekolah. Oleh karena itu, agar pemanfaatan KIA dan pendidikan dasar di kalangan masyarakat miskin lebih tinggi, diperlukan bimbingan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran orang tua dan anak serta upaya peningkatan kemampuan ekonomi keluarga.

Pemahaman pelaksana program dan aparat desa yang kurang tepat tentang PNPM Generasi menyebabkan pelaksanaan program kurang optimal. Pertama, pemahaman bahwa bantuan PNPM

Generasi di bidang pendidikan ditujukan hanya bagi murid yang terdaftar di SD atau SMP

menyebabkan bantuan tidak menyentuh anak usia SD/SMP yang tidak mendaftar atau putus sekolah. Kedua, bantuan PNPM Generasi di desa sampel seluruhnya dalam bentuk fisik, baik berupa uang ataupun barang, dan tidak ditemukan bantuan yang sifatnya non-fisik, yang ditujukan untuk peningkatan kesadaran. Kenyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran pemberi layanan dan aparat desa bahwa jika bantuan fisik tersebut dihentikan masyarakat akan kembali ke kondisi sebelum adanya program, karena kesadaran yang terjadi hanya berlandaskan untuk mendapatkan bantuan fisik semata.

(15)

Berdasarkan kedua kondisi tersebut, direkomendasikan untuk melakukan sosialisasi tambahan bagi pelaksana program dan aparat desa menyangkut sasaran program dan jenis alokasi bantuan.

Manfaat PNPM Generasi perlu dioptimalkan melalui upaya pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan:

- Ketersediaan dan kualitas infrastruktur desa berupa jalan, jembatan, listrik dan air bersih agar masyarakat lebih mudah mengakses pelayanan KIA dan pendidikan dasar.

- Ketersediaan dan kualitas pelayanan KIA dan pendidikan dasar meliputi keberadaan bidan desa, ketersediaan obat di polindes, pendidikan guru dan status guru honor.

Kedua hal tersebut tidak dapat disediakan melalui PNPM Generasi.

PKH

PKH kurang berpengaruh terhadap peningkatan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar

karena: (i) kurang tersedianya pelayanan KIA dan pendidikan dasar (khususnya SMP); (ii) buruknya atau tidak tersedianya infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, listrik, dan air bersih, khususnya di daerah terpencil. (iii) kurangnya dukungan dari sekolah, bidan dan kader terhadap PKH; (iv) lemahnya peran pendamping dalam membimbing dan mengawasi kepatuhan penerima program; (v) adanya potensi kecemburuan dan konflik dari nonpenerima terutama di desa/kelurahan dengan jumlah penerima PKH relatif sedikit; Agar manfaat program dapat ditingkatkan maka perlu:

i. Peningkatan ketersediaan pelayanan KIA dan SMP yang memadai dan dapat dengan mudah diakses oleh semua warga.

ii. Peningkatan infrastruktur desa meliputi jalan, jembatan, listrik, dan air bersih.

iii. Resosialisasi PKH terhadap aparat desa, pemberi layanan dan rumah tangga penerima dan nonpenerima. Serta pelibatan sekolah, bidan dan kader dalam pemantauan penerima program. iv. Mendekatkan pendamping dengan penerima program antara lain dengan menetapkan wilayah kerja

pendamping tidak hanya berdasarkan jumlah penerima program tetapi juga mempertimbangkan luas wilayah serta jumlah desa/kelurahan dampingan.

(16)
(17)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam rangka mencapai target MDGs 2015, Pemerintah Indonesia pada pertengahan 2007 memulai dua program conditional cash transfers (bantuan tunai bersyarat). Dua program tersebut adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Generasi Sehat dan Cerdas (PNPM GSC/PNPM Generasi), atau yang juga dikenal sebagai Community Conditional Cash Transfer dan Program Keluarga Harapan (PKH) atau dikenal sebagai Household Conditional Cash Transfer. Kedua program didisain untuk mencapai tujuan yang sama yaitu: 1) Mengurangi kemiskinan; 2) Mengurangi kematian ibu melahirkan; 3) Mengurangi kematian bayi dan anak balita; dan 4)Memastikan pencapaian pendidikan dasar untuk semua.

Setelah PNPM Generasi dan PKH dilaksanakan selama dua setengah tahun, Lembaga Penelitian SMERU bekerja sama dengan Bank Dunia melakukan studi kualitatif untuk melihat kondisi terkini dan perubahan ketersediaan dan penggunaan pelayanaan KIA dan pendidikan dasar selama 2007 hingga 2010. Pada 2007, Lembaga Penelitian SMERU bekerja sama dengan Bank Dunia juga melakukan studi kualitatif baseline ketersediaan dan penggunaan pelayanan KIA dan pendidikan dasar. Hasil kedua studi ini kemudian dibandingkan untuk melihat dampak PNPM Generasi dan PKH terhadap ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari studi ini adalah untuk melihat dampak PNPM Generasi dan PKH terhadap perubahan ketersediaan dan penggunaan pelayanan KIA dan pendidikan dasar. Secara khusus penelitian ini menjawab pertanyaan besar yaitu: bagaimana akses terhadap fasilitas KIA dan fasilitas pendidikan dasar (SD dan SMP) berubah sejak dilaksanakannya PNPM Generasi dan PKH pada 2007. Perubahan akses dilihat dari dua pendekatan yaitu sisi penyediaan (supply) dan pemanfaatan (demand). Pertanyaan turunan dari kedua pertanyaan besar yang ingin dijawab pada studi ini, disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pertanyaan Penelitian

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Pelayanan Pendidikan SD dan SMP Sisi Penyediaan

 Bagaimana perubahan ketersediaan pelayanan KIA dibandingkan 2007?

 Apa saja hambatan dalam menyediakan pelayanan KIA?

 Bagaimana dampak PNPM Generasi dan PKH terhadap perubahan ketersediaan pelayanan KIA?

Sisi Penyediaan

 Bagaimana perubahan ketersediaan pelayanan pendidikan SD dan SMP?

 Apa saja hambatan dalam menyediakan pelayanan pendidikan SD dan SMP?

 Bagaimana dampak PNPM Generasi dan PKH terhadap perubahan ketersediaan pelayanan pendidikan SD dan SMP?

Sisi Permintaan

 Bagaimana perubahan akses perempuan terhadap pelayanan KIA dibandingkan 2007?

 Apa alasan perempuan untuk menggunakan atau tidak menggunakan pelayanan KIA ?  Faktor apa saja yang masih menghambat

perempuan dalam menggunakan pelayanan KIA?  Bagaimana dampak PNPM Generasi dan PKH

terhadap pemanfaatan pelayanan KIA?

Sisi Permintaan

 Bagaimana perubahan partisipasi terhadap pendidikan dasar dibandingkan 2007?  Apa alasan anak tidak didaftarkan atau putus

sekolah dari SD dan SMP?

 Bagaimana perubahan tingkat kehadiran murid di sekolah dibandingkan 2007? Apakah ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan?  Bagaimana dampak PNPM Generasi dan PKH

terhadap pemanfaatan pelayanan SD dan SMP?

Keterlibatan Aktor Lainnya (Pemerintah Desa, NGOs, dsb)

 Bagaimana peran aktor lain dalam mempengaruhi perempuan mengakses pelayanan KIA?

Keterlibatan Aktor Lainnya (Pemerintah Desa, NGOs, dsb)

 Bagaimana peran aktor lain dalam mempengaruhi orang tua untuk mengirim anaknya ke sekolah dan tidak membiarkan anaknya absen dari sekolah?

(18)

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Pelayanan Pendidikan SD dan SMP Interaksi antara Pengguna dan Pemberi

Pelayanan

 Bagaimana perubahan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan menyangkut penyediaan pelayanan KIA?

Interaksi antara Pengguna dan Pemberi Pelayanan

 Bagaimana perubahan keterlibatan komite sekolah dalam mengelola sekolah baik untuk SD maupun SMP?

1.3 Sekilas PNPM Generasi Sehat dan Cerdas dan Program Keluarga

Harapan

PNPM Generasi dan PKH merupakan dua program bantuan tunai bersyarat dengan sasaran rumah tangga sangat miskin (RTSM). Kedua program menargetkan 12 indikator KIA dan pendidikan dasar sebagai syarat penerimaan rutin program.

Indikator KIA meliputi:

1. Ibu hamil melakukan empat kali pemeriksaan ke fasilitas kesehatan 2. Ibu hamil mendapatkan serta mengkonsumsi suplemen tablet Fe 3. Persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan

4. Ibu nifas melakukan dua kali pemeriksaan kesehatan (ibu dan bayinya) 5. Bayi diimunisasi lengkap

6. Berat badan bayi bertambah setiap bulan 7. Anak usia 0-59 bulan ditimbang sebulan sekali

8. Mengkonsumsi vitamin A dua kali setahun untuk anak 6-59 bulan Indikator pendidikan meliputi:

9. Semua anak usia 7-12 terdaftar di SD

10. Tingkat kehadiran murid SD di sekolah minimal 85% dari jumlah hari sekolah 11. Semua anak usia 13-15 terdaftar di SMP

12. Tingkat kehadiran murid SMP di sekolah minimal 85% dari jumlah hari sekolah

Perbedaan antara PNPM Generasi dan PKH terletak pada pendekatan dalam pelaksanaan program dan lembaga pelaksana. PNPM Generasi merupakan bantuan tunai bersyarat bagi kelompok masyarakat. Pada dasarnya, PNPM Generasi mengadopsi bentuk kegiatan dan kapasitas yang telah terbangun dari program pengembangan kecamatan (PPK). Setiap desa penerima program mendapat bantuan langsung kepada masyarakat (BLM) yang besarnya tergantung dari jumlah sasaran di desa: jumlah ibu hamil, balita serta anak usia SD dan SMP. Jenis penggunaan BLM diputuskan berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat desa dengan ketentuan penggunaannya harus bertujuan untuk peningkatan ketersediaan dan penggunaan fasilitas KIA dan pendidikan dasar dalam rangka pencapaian 12 indikator keberhasilan program. BLM disalurkan ke rekening bank kolektif di tingkat kecamatan.

Uji coba PNPM Generasi dilakukan dengan dua pendekatan yaitu: dengan sistem insentif dan tanpa insentif. Bagi desa penerima PNPM Generasi dengan insentif ada penghargaan berupa tambahan BLM bagi desa yang berhasil memenuhi 12 indikator keberhasilan program. Sampai 2010 PNPM Generasi telah diujicobakan di lima provinsi yang meliputi 20 kabupaten, 129 kecamatan dan 1.625 desa. Di tingkat pusat program ini dikelola oleh Departemern Dalam Negeri di bawah Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat Desa (Ditjen PMD). Pengelola program di tingkat desa terdiri dari fasilitator desa/kader pemberdayaan masyarakat desa (FD/KPMD) dan tim pertimbangan musyawarah desa (TPMD)3.

PKH merupakan bantuan tunai bersyarat bagi rumah tangga sangat miskin (RTSM). PKH mengadopsi program serupa yang sudah lebih dari sepuluh tahun dilaksanakan dan sudah dianggap berhasil di negara-negara Amerika Latin, seperti program ‘Oportunidades’ di Mexico atau ‘Bolsa Familia’ di Brasil.

3FD adalah warga masyarakat yang bersedia dipilih dan ditetapkan oleh masyarakat desa untuk mendampingi

PNPM Generasi. TPMD adalah tim yang dibentuk dan dipercaya masyarakat untuk menyusun kegiatan-kegiatan program..

(19)

Pemilihan rumah tangga penerima PKH dilakukan dua tahap. Pertama, penentuan RTSM melalui survei rumah tangga di desa penerima program dengan menggunakan indikator kemiskinan multidimensi. Data RTSM tersebut kemudian disaring kembali berdasarkan syarat kepersetaan PKH, yaitu rumah tangga yang memiliki anak usia 0-15 tahun atau anak 15-18 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilah tahun, dan atau ibu hamil. Rumah tangga penerima PKH wajib memenuhi indikator keberhasilan program sesuai dengan syarat kepersetaan masing masing rumah tangga. Rumah tangga yang memiliki anak usia pendidikan dasar, misalnya, harus mendaftarkan anaknya di SD/SMP dengan tingkat kehadiran di sekolah lebih dari 85%. Besarnya dana PKH yang diterima RTSM bergantung pada komposisi anggota rumah tangga, dengan nilai bantuan minimum Rp600.000 dan maksimum Rp2.200.000 pertahun, (lihat tabel 2). Pembayaran dana PKH dilakukan tiga kali dalam setahun, melalui kantor pos terdekat.

Di tingkat pusat PKH dikelola oleh Departemen Sosial di bawah Direktorat Jaminan Kesejahteraan Sosial. Di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan dibentuk Unit Pelaksana PKH (UPPKH). Untuk meningkatkan efektifitas program, penerima PKH didampingi oleh pendamping yang maksimal mendampingi 375 penerima. Guna menjamin pelaksanaan dan koordinasi antara pendamping dan penerima, pada setiap 25 atau lebih penerima PKH dibentuk sebuah kelompok yang ketuanya dipilih diantara anggota. Sampai awal 2010 PKH sudah dilaksanakan di 20 provinsi meliputi 90 kabupaten/kota, 781 kecamatan dan mencakup kurang lebih 816.000 RTSM.

Tabel 2. Perhitungan Besarnya Nilai Bantuan PKH/RTSM

Skenario Bantuan Bantuan per RTSM per Tahun*)

Bantuan tetap Rp200.000

Bantuan RTSM yang memiliki:

a. Anak usia dibawah 6 tahun Rp800.000

b. Ibu hamil/ibu menyusui Rp800.000

c. Anak Usia SD/MI Rp400.000

d. Anak Usia SMP/MTs Rp800.000

Rata-rata bantuan/RTSM Rp1.390.000

Bantuan minimum per RTSM Rp600.000

Bantuan maksimum per RTSM Rp2.200.000

Keterangan: *) dibayarkan setiap empat bulan Sumber: Pedoman Umum PKH, 2008

1.4 Metodologi Penelitian

Penelitian dampak PNPM Generasi dan PKH menggunakan metode panel kualitatif dengan cara membandingkan perubahan yang terjadi di wilayah perlakuan (penerima PNPM Generasi atau PKH) dengan wilayah kontrol (bukan penerima PNPM Generasi maupun PKH ). Analisis perubahan dilakukan dengan membandingkan kondisi pada 2007 (hasil studi baseline) dengan kondisi pada 2010 (hasil studi dampak). Penelitian ini juga menganalisis bagaimana dan mengapa dinamika perubahan terjadi, serta bagaimana kontribusi PNPM Generasi dan PKH terhadap perubahan tersebut.

Metode pengumpulan informasi yang digunakan dalam studi dampak (dan baseline) meliputi tiga pendekatan yaitu: 1) Wawancara terstruktur dengan informan kunci di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan; 2) FGD dengan masyarakat miskin penerima dan nonpenerima program; 3) Pengamatan kondisi desa/kelurahan, sekolah (SD dan SMP), serta posyandu. Wawancara mendalam, FGD, serta pengamatan fasilitas dilakukan dengan menggunakan instrumen terstruktur yang telah disiapkan untuk masing-masing informan kunci/FGD/fasilitas. Informan kunci yang diwawancarai meliputi aparat kecamatan dan desa/kelurahan, penyedia pelayanan KIA dan pendidikan dasar, serta komite sekolah, dan tokoh masyarakat di tingkat desa/kelurahan. Pada survei dampak juga dilakukan wawancara terhadap pelaksana program PKH dan PNPM Generasi di tingkat kecamatan dan

(20)

desa/kelurahan. Jumlah keseluruhan informan kunci yang diwawancarai perdesa adalah antara 16 sampai 18 informan.

Di setiap desa dilakukan FGD dengan delapan kelompok yang berbeda: empat FGD terkait pelayanan KIA dan empat lainnya terkait pelayanan pendidikan dasar. Satu kelompok FGD terdiri dari delapan sampai sepuluh ibu/bapak penerima dan nonpenerima program dari rumah tangga miskin yang dipilih secara acak. FGD dilakukan dengan memisahkan kelompok ibu dan bapak dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap serta menangkap persepsi dari sudut pandang laki-laki dan perempuan. Aktivitas pengamatan dilakukan terhadap kondisi desa, fasilitas dan kegiatan posyandu, serta fasilitas dan pelaksanaan belajar mengajar di satu SD dan satu SMP yang paling banyak diakses. Pengamatan terhadap posyandu tidak dapat dilaksanaan di setiap desa/kelurahan karena jadwal penyelenggaraan posyandu, yang dilakukan sebulan sekali, tidak bertepatan dengan tanggal pelaksaaan studi lapangan. Daftar informan kunci/FGD/dan pengamatan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Daftar Informan Kunci, Kelompok FGD, dan Pengamatan

Wawancara informan kunci

Tingkat kecamatan: Camat

Kepala cabang Dinas Pendidikan Kepala puskesmas

Kepala sekolah SMP/MTs Guru SMP/MTs

Ketua komite sekolah SMP/MTs

Pendamping PKH/fasilitator PNPM Generasi Tingkat desa/kelurahan: Kepala desa/lurah Tokoh masyarakat Bidan Dukun beranak Kader posyandu Kepala sekolah SD/MI Guru SD/MI

Ketua komite SD/MI

Ketua Kelompok PKH/PK PNPM Generasi

Total: 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 Diskusi kelompok

terarah (FGD) Ibu dari anak usia sekolah dasar (8 orang) Bapak dari anak usia sekolah dasar (8 orang)

Ibu dari anak usia sekolah menengah pertama (8 orang) Bapak dari anak usia sekolah menengah pertama (8 orang) Wilayah dengan posyandu:

Ibu dari anak usia bawah lima tahun (8 orang) Bapak dari anak usia bawah lima tahun (8 orang) Wilayah tanpa posyandu (dusun jauh):

Ibu dari anak usia bawah lima tahun (8 orang) Bapak dari anak usia bawah lima tahun (8 orang)

Total: 1 1 1 1 1 1 1 1 8 Observasi/

pengamatan Posyandu SD/MI SMP/MTs Kondisi desa Total: 1 1 1 1 4

Pada studi dampak diupayakan untuk mewawancarai informan yang sama serta mengamati fasilitas yang juga dikunjungi pada studi baseline. Namun demikian, saat di lapangan hampir separuh dari informan lama tidak bisa ditemui, karena sudah pensiun, mutasi, atau sedang tidak ditempat, sehingga peneliti mewawancarai informan lain dengan posisi/jabatan yang sama. Selain itu, sebagian fasilitas yang dikunjungi juga berubah, seperti perubahan lokasi pengamatan posyandu karena menyesuaikan dengan jadwal posyandu dan penyesuaian dan/atau penambahan SD dan SMP yang diamati karena beberapa sekolah yang diamati pada studi baseline dinilai kurang tepat atau tidak banyak diakses warga

(21)

desa sampel. Secara keseluruhan studi lapangan di setiap desa/kelurahan dilakukan selama 8-9 hari dan melibatkan tiga orang peneliti (satu koordinator dan dua peneliti lokal), nama seluruh peneliti yang terlibat dapat dilihat pada lampiran 1.

Agar informan kunci dan peserta FGD tidak bias dalam menjawab pertanyaan, maka selama melakukan pengumpulan informasi di lapangan, tim peneliti tidak menyebutkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak PNPM Generasi dan PKH, tetapi untuk melihat perubahan ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar. Pertanyaan yang diajukan baik dalam wawancara mendalam maupun FGD juga tidak ada yang secara langsung menyinggung pelaksanaan dan dampak kedua program tersebut, kecuali wawancara terhadap pelaksana program yang dilakukan pada hari terakhir studi lapangan.

1.5 Wilayah Penelitian

Wilayah penelitian studi dampak adalah sama dengan wilayah studi baseline, yaitu di Provinsi Jawa Barat dan NTT. Di Jawa Barat studi dilakukan di Kabupaten Sumedang sebagai wilayah penerima PNPM Generasi dan Kabupaten Cirebon sebagai wilayah penerima PKH perdesaan/perkotaan. Di NTT studi dilakukan di Kabupaten Timor Tengah Utara/TTU sebagai wilayah penerima PNPM Generasi dan Kabupaten Timor Tengah Selatan/TTS sebagian wilayah penerima PKH perdesaan serta Kota Kupang sebagai wilayah penerima PKH perkotaan. Di setiap kabupaten/kota penelitian dilakukan di dua sampai tiga kecamatan yang terbagi menjadi kecamatan perlakuan dan kontrol. Di setiap kecamatan studi dilakukan terhadap satu sampai dua desa/kelurahan. Secara total studi dilakukan di dua provinsi, lima kabupaten/kota, 14 kecamatan dan 24 desa/kelurahan (lihat tabel 4).

Tabel 4. Wilayah Penelitian

No. Provinsi –

Kabupaten/Kota Kecamatan Kategori Desa/Kelurahan

Jawa Barat

1

Sumedang

Rancakalong PNPM Generasi -Perlakuan Tanpa Insentif

Nagarawangi

2 Pamekaran

3

Buahdua PNPM Generasi- Perlakuan Mendapat insentif Buahdua

4 Bojongloa

5 Darmaraja PNPM Generasi-Kontrol Sukaratu

6 Neglasari

7

Cirebon

Gegesik PKH-Perlakuan Perdesaan Gegesik Kulon

8 Jagapura Kidul

9

Susukan PKH-Kontrol Perdesaan Susukan

10 Tangkil

11 Gunung Jati PKH-Perlakuan Perkotaan Mertasinga

12 Mundu PKH-Kontrol Perkotaan Mundu Pesisir

Nusa Tenggara Timur (NTT) 13

Timor Tengah Utara (TTU)

Biboki Utara PNPM Generasi- Perlakuan Tanpa Insentif

Taunbaen

14 Hauteas

15

Insana PNPM Generasi- Perlakuan Mendapat Insentif Sekon

16 Susulaku A

17

Bikomi Tengah PNPM-Kontrol Oenenu Induk

18 Kuanek

19

Timor Tengah Selatan (TTS)

Kie PKH-Perlakuan Perdesaan Oenai

20 Falas

21

Molo Selatan PKH-Kontrol Perdesaan Bisene

22 Biloto

23 Kota Kupang Alak PKH-Perlakuan Pekotaan Fetufeto

24 Kelapa Lima PKH-Kontrol Perkotaan Tode Kisar

(22)

Dalam pelaksanaan penelitian lapangan terjadi perubahan tiga desa/kelurahan kontrol PKH di NTT. Penggantian desa/kelurahan dilakukan karena ketiganya menerima PKH sehingga tidak layak lagi sebagai wilayah kontrol PKH. Ketiga wilayah tersebut adalah Kelurahan Naikolan Kecamatan Maulaffa Kota Kupang sebagai kontrol PKH perkotaan, serta Desa Boentuka dan Desa Oehela di Kecamatan Batu Putih Kabupaten TTS sebagai kontrol PKH perdesaan. Untuk mengganti Kelurahan Naikolan, tim peneliti mengalami kesulitan karena di Kota Kupang hanya tersisa dua kelurahan yang tidak mendapat PKH, yaitu Kelurahan LLBK dan Kelurahan Tode Kisar (keduanya berada di Kecamatan Kelapa Lima). Secara karakteristik (jumlah penduduk, jumlah RTSM serta luas wilayah) kedua kelurahan tersebut tidak terlalu mirip dengan karakteristik Kelurahan Fatufeto sebagai kelurahan perlakuan PKH di Kota Kupang. Akhirnya, tim memutuskan memilih Kelurahan Tode Kisar dengan pertimbangan memiliki relatif lebih banyak RTSM dibandingkan Kelurahan LLBK.

Sebaliknya pemilihan desa pengganti untuk kontrol PKH perdesaan relatif lebih mudah. Dari 32 kecamatan yang ada di Kabupaten TTS, baru 13 yang menerima PKH sehingga masih tersedia 19 alternatif kecamatan pengganti. Dengan mempertimbangkan proporsi penduduk miskin, jenis mata pencaharian serta akses ke lokasi yang relatif mirip dengan desa perlakuan, kecamatan yang terpilih sebagai pengganti adalah Kecamatan Molo Selatan. Di kecamatan ini kemudian dipilih dua desa, satu desa dengan akses mudah yaitu Desa Biloto, dan satu desa dengan akses sulit, yaitu Desa Bisene. Di samping terjadi penggantian tiga desa/kelurahan, adanya pemekaran desa/kecamatan menyebabkan berubahnya wilayah administratif satu kecamatan/desa penelitian. Desa Oenenu dan Kuanek (wilayah kotrol PNPM Generasi) di Kabupaten TTU yang pada studi baseline adalah bagian dari Kecamatan Miomafo Timur, setelah kecamatan ini dimekarkan pada 2007 menjadi bagian dari Kecamatan Bikomi Tengah. Selain itu Desa Taunbaen di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten TTU juga sedang persiapan untuk dimekarkan menjadi dua desa. Salah satu dusun di desa ini, dengan penduduk 136 KK, akan menjadi satu desa baru. Desain pengaturan wilayah penelitian juga sedikit terdistorsi karena dua desa yang masuk kategori perlakuan PNPM Generasi ternyata sejak 2007 juga menerima PKH. Kedua desa tersebut adalah Desa Nagarawangi dan Desa Pamekaran di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Kedua desa tersebut tetap diperlakukan sebagai desa perlakuan PNPM Generasi, tetapi dengan mempertimbangkan keberadaan PKH.

1.6 Struktur Penulisan Laporan

Laporan ini terbagi menjadi lima bab. Bab I menyajikan pendahuluan yang berisi latar belakang penelitian, tujuan yang ingin dicapai, metodologi yang digunakan, serta penentuan wilayah dan jadwal penelitian. Bab II membahas karakteristik wilayah penelitian meliputi aspek lokasi dan akses, penduduk, kondisi rumah dan fasilitas pendukung, serta sumber daya alam dan ekonomi. Bab III membahas PNPM Generasi meliputi aspek pelaksanaan, ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar di wilayah perlakuan dan kontrol PNPM Generasi. Bab IV membahas PKH meliputi aspek pelaksanaan, ketersediaan dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar di wilayah perlakuan dan kontrol PKH. Analisis pada bab III dan IV difokuskan pada perubahan, penyebab perubahan, serta dampak PNPM Generasi atau PKH terhadap perubahan. Bab V berisi kesimpulan dan rekomendasi.

1.7 Jadwal Penelitian

Secara keseluruhan penelitian dilakukan selama tujuh bulan mulai Januari sampai Juli 2010. Pada bulan Januari dilakukan persiapan studi, meliputi persiapan instrumen penelitian lapangan, rekruitmen peneliti lokal, serta pengurusan perizinan lapangan. Penelitian lapangan di Jawa Barat dilaksanakan pada 2-21 Februari 2010, dilanjutkan di NTT pada 9-28 Maret 2010. Penyusunan draft laporan dilaksanakan selama April sampai pertengahan Juni, dilanjutkan dengan finalisasi draft sampai akhir Juli 2010.

(23)

II KARAKTERISTIK WILAYAH PENELITIAN

2.1 Lokasi dan Akses

Lokasi penelitian dibedakan berdasarkan aksesibilitas yaitu jarak dan keterjangkauan desa/kelurahan dari pusat kecamatan (lihat lampiran 2). Pusat kecamatan menjadi acuan karena di pusat kecamatan inilah umumnya sarana kesehatan (puskesmas) dan sarana pendidikan lanjutan (SMP dan SMA) berada. Enam desa yang masuk kategori mudah diakses di Jawa Barat berada atau berbatasan langsung dengan ibu kota kecamatan. Sarana transportasi umum dari dan menuju enam desa ini sangat mudah karena semua desa dilintasi jalan provinsi atau kabupaten. Enam desa lainnya di Jawa Barat yang masuk kategori sulit diakses berjarak terjauh tujuh kilometer dari ibu kota kecamatan. Kondisi jalan menuju keenam desa ini relatif baik karena sudah diaspal. Hanya beberapa dusun di dalam desa yang masih agak sulit diakses. Angkutan dalam kota merupakan sarana transportasi yang paling banyak digunakan karena biayanya relatif murah. Alternatif angkutan lainnya adalah ojek terutama untuk transportasi antardusun. Dibandingkan 2007, perubahan yang terjadi adalah perbaikan dan peningkatan kondisi jalan terutama dibiayai oleh PNPM Mandiri Perdesaan. Program tersebut diterima di beberapa desa baik perlakuan maupun kontrol PNPM Generasi/PKH. Sementara di NTT, dari enam desa/kelurahan yang masuk kategori mudah diakses, hanya dua kelurahan di Kota Kupang yang benar-benar mudah diakses. Empat desa lainnya (di Kabupaten TTU dan TTS), meskipun jarak desa ke ibukota kecamatan kurang dari dua kilometer, akan tetapi karena kondisi jalan yang sebagian rusak serta masih jarang dilalui angkutan umum membuat akses menuju empat desa tersebut menjadi sulit. Enam desa yang masuk kategori sulit diakses berjarak minimal enam kilometer dari ibu kota kecamatan. Kondisi ini diperparah dengan jalan yang rusak, medan yang naik turun, dan terbatasnya sarana transportasi menuju ke desa. Di empat desa sudah ada angkutan yang masuk meskipun baru 1-2 trayek per hari. Dua desa lainnya yaitu Falas dan Bisene di Kabupaten TTS masih belum diakses oleh angkutan umum, sehingga warga harus berjalan kaki sejauh 7-9 km (1,5 jam) untuk mencapai ibu kota kecamatan. Luasnya desa (umumnya lebih dari 1.000 ha) menyebabkan jarak antardusun berjauhan. Beberapa desa bahkan dilalui sungai besar, memiliki wilayah hutan, serta topografi yang naik turun sehingga lebih menyulitkan akses ke dusun-dusun terpencil. Pada saat musim hujan sebagian dusun tidak bisa dijangkau sekalipun oleh kendaraan roda dua. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap akses warga ke fasilitas KIA dan sekolah.

“Masalahnya ialah bagaimana bidan bisa langgar (menyeberangi) sungai yang sedang banjir, atau kalaupun bisa, bayi tidak bisa tunggu untuk ke luar...ini masalahnya” (FGD Bapak-NTT).

“Kalau banjir kami bantu kasih langgar, kami pikul anak, nanti pas jam pulang sekolah kami tunggu

mereka di kali dan kami kasih langgar anak dong lagi baru kita pulang sama-sama” (FGD Bapak-NTT).

Dibandingkan 2007 kondisi jalan menuju desa umumnya tidak banyak berubah. Namun, telah ada beberapa perbaikan jalan di dalam desa yang didanai oleh APBD II dan swadaya masyarakat. Beberapa ojek sudah mulai masuk ke desa sejak 2009, tetapi ongkosnya masih relatif mahal (Rp25.000 sekali jalan). Sarana komunikasi seluler juga sudah mulai dapat digunakan di beberapa desa. “Tahun 2007 kami

tidak bisa jemput ibu bidan karena belum ada ojek dan belum ada HP” (FGD Ibu-NTT).

2.2 Penduduk

Secara umum, dibandingkan 2007, terjadi pertambahan jumlah penduduk di hampir semua wilayah studi dengan tingkat pertumbuhan di NTT relatih lebih tinggi dibandingkan di Jawa Barat (lihat lampiran 3). Di semua desa/kelurahan sampel tidak terjadi perpindahan penduduk yang signifikan (baik penduduk yang pindah ke dalam maupun ke luar desa). Di beberapa desa di Jawa Barat banyak warga (umumnya laki-laki) yang pergi merantau ke Jakarta atau perempuan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi dan Malaysia. Fenomena ini sudah terjadi sejak 2007.

(24)

Dilihat dari jenis kelamin, tidak ada perbedaan proporsi yang signifikan antara jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di semua wilayah penelitian. Jumlah anggota keluarga di Jawa Barat rata-rata 3-4 orang sedangkan di NTT 4-5 orang. Proporsi rata-rata kepala rumah tangga perempuan per desa adalah sekitar 15%, yang sebagian besar berstatus janda ditinggal mati. Berdasarkan tingkat pendidikan, baik di Jawa Barat maupun di NTT, sebagian besar penduduk hanya tamat SD, sebagian lainnya tamat SMP atau SMA, dan sebagian kecil penduduk putus sekolah SD (kelas 4 atau 5 SD). Kondisi terseubut tidak banyak berubah dibandingkan 2007.

2.3 Kondisi Rumah dan Fasilitas Pendukung

Di Jawa Barat kondisi rumah warga di desa sampel relatif baik, sebagian besar rumah beratap genting, berdinding tembok, dan berlantai ubin, semen atau keramik. Kondisi ini tidak banyak berubah dibandingkan 2007. Di NTT, rumah penduduk di desa penelitian sebagian besar beratap alang-alang atau seng, berdinding bebak atau bambu, dan berlantai tanah. Dibandingkan 2007, kondisi rumah di NTT sebagian kecil mengalami peningkatan, jumlah rumah yang berdinding tembok dan belantai semen sudah bertambah.

Sumber air bersih sebagian besar rumah di Jawa Barat adalah PDAM, sebagian lain dari sumur gali, sumur pompa atau mata air. Pada musim kemarau warga di sebagian desa di Kabupaten Cirebon terpaksa harus membeli air dengan harga Rp1.500/jerigen, karena sumur mereka kering dan sudah terintrusi air laut. Sebagian besar rumah sudah memiliki MCK dan sebagian kecil lainnya memanfaatkan MCK umum atau memanfaatkan sungai. Untuk sumber penerangan seluruh rumah sudah menggunakan listrik dari PLN. Perubahan yang terjadi dibandingkan 2007 adalah lebih banyaknya rumah yang terlayani PDAM dan memiliki MCK. Bertambahnya kepemilikan MCK selain karena usaha warga juga karena adanya bantuan seperti dari program WSSLIC (Water Supply and

Sanitation for Low Income Communities).

Di NTT, kecuali di dua kelurahan sampel di Kota Kupang, kondisi sarana air bersih, MCK, dan listrik masih menjadi persoalan. Sumber air bersih warga umumnya adalah sumur, baik pribadi maupun umum, serta dari sungai. Pada musim kemarau sebagian besar warga mengalami kesulitan air dan harus berjalan 3-4 km untuk mengambil air di mata air atau sungai. Sebagian warga sudah memiliki MCK di pekarangan rumah. Penyediaan sarana air bersih dan MCK di NTT banyak dibantu lembaga internasional seperti Plan International, WVI dan CWS, sehingga dibandingkan 2007 kondisi sarana air bersih dan MCK sudah sedikit lebih baik. Sumber penerangan utama sebagian besar warga masih menggunakan pelita dari minyak tanah. Tiga desa penelitian di Kabupaten TTS sama sekali belum tersentuh listrik, sedangkan di tujuh desa lainnya sebagian kecil warga sudah memiliki listrik (dari PLN dan genset). Bantuan genset di dua desa kontrol diperoleh dari PNPM Mandiri Perdesaan pada 2009. Keterbatasan fasilitas pendukung sangat berpengaruh terhadap kondisi ketersedian dan pemanfaatan pelayanan KIA dan pendidikan dasar.

“Ibu bidan tidak mau tinggal di desa Falas karena disini tidak ada listrik dan tidak ada air” (FGD

Ibu-NTT).

“Tidak ada air di sekolah, jadi anak-anak harus bawa air ke sekolah. Setiap minggu ada dua kelas yang selalu bawa air untuk WC sekolah” (Kepala Sekolah-NTT).

2.4 Sumber Daya Alam dan Ekonomi

Mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah studi, baik di Jawa Barat maupun di NTT adalah di bidang pertanian. Di wilayah perdesaan di Jawa Barat jenis tanaman yang banyak diusahakan warga adalah padi, palawija, dan sayuran. Hasil panen umumnya dijual ke pasar (bukan sebagai petani subsisten). Luas lahan garapan umumnya kurang dari 1 ha dengan perbandingan jumlah petani sebagai pemilik dan penggarap (buruh tani) hampir sama. Keterlibatan perempuan (istri) dalam pertanian adalah membantu laki-laki (suami) saat musim tanam dan panen. Di perdesaan NTT, jenis tanaman

(25)

yang paling banyak ditanam warga adalah jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian dengan luas lahan rata-rata 5 ha. Sebagian warga juga mengumpulkan hasil hutan seperti asam dan kemiri. Hasil panen sebagian untuk dikonsumsi dan sisanya dijual ke pasar. Dalam mengusahakan pertanian, perempuan memiliki beban kerja yang sama dengan laki-laki. Di luar pertanian perempuan juga bekerja sebagai penenun, hasil tenun dipakai keluarga maupun dijual ke pasar.

Selain pertanian, sebagian penduduk di wilayah pesisir Kabupaten Cirebon dan Kota Kupang juga bekerja sebagai nelayan. Di wilayah ini laki-laki pergi mencari ikan, kerang, dan kepiting ke laut, sedangkan perempuan membantu mengupas kerang, membersihkan ikan, dan menjual hasil tangkapan suami ke pasar. Pekerjaan nelayan ini banyak melibatkan anak usia sekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Di beberapa desa di Jawa Barat (terutama di Kabupaten Cirebon) banyak perempuan yang bekerja menjadi TKW dengan tujuan utama Arab Saudi dan Malaysia. Penduduk laki-laki banyak yang merantau ke Jakarta bekerja sebagai buruh bangunan, sopir, pembantu, atau berdagang. Khusus di dua kelurahan sampel PKH perkotaan di NTT, mata pencaharian utama warga adalah sebagai pedagang, buruh, serta sebagian PNS terutama guru dan pegawai pemerintah daerah (pemda).

Dibandingkan 2007, terdapat penambahan jenis mata pencaharian dan peningkatan partisipasi di beberapa jenis pekerjaan nonpertanian. Di Jawa Barat, warga yang bekerja sebagai pengojek, buruh dan pemilik warung jumlahnya meningkat, sedangkan jumlah petani (terutama petani pemilik) semakin menurun. Di beberapa desa di NTT, ojek dan menggali batu Mangan4 menjadi mata pencaharian baru sejak 2008/2009. Penggalian batu Mangan tidak hanya melibatkan orang tua tetapi juga anak-anak usia sekolah.

4Penggalian batu Mangan mulai diperkenalkan oleh pengusaha Korea Selatan. Batu Mangan yang dikumpulkan dijual

warga ke pengumpul dengan harga sekita Rp1,000/kg. Dalam satu hari satu keluarga (istri, suami dan anak) bisa mengumpulkan 25-60 Kg.

Gambar

Tabel 2. Perhitungan Besarnya Nilai Bantuan PKH/RTSM
Tabel 3. Daftar Informan Kunci, Kelompok FGD, dan Pengamatan
Tabel 4. Wilayah Penelitian
Tabel 5. Alokasi Dana PNPM Generasi Tahun 2009
+7

Referensi

Dokumen terkait

Isilah identitas berkas/dokumen ini dengan lengkap, kemudian TEMPELKAN DENGAN KUAT PADA STOPMAP FOLIO bagian depan:. - Stopmap warna hijau

Ketidak-berdayaaan warga masyarakat sukubangsa setempat dalam melawan pemerintah atau sistem nasional, kecuali di Aceh, mungkin dikarenakan bahwa:

Penganggaran dalam organisasi sektor publik merupakan aktivitas yang penting karena berkaitan dengan proses penentuan alokasi dana untuk setiap program maupun

Griya Batik Tjokro untuk mebedakan produknya juga memiliki keunikan atau karakteristik pada produk batiknya agar menjadi daya tarik para konsumen dan pembeda dengan produk

Selanjutnya, pada kelompok masyara- kat dengan tingkat pendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan berwawasan lingkungan yang lebih baik bilamana diberi penyuluhan dengan

Ilham Arisaputra, SH., M.Kn.. Achmad Ruslan,

Permasalahan dalam penelitian ini adalah belum maksimalnya keaktifan mahasiswa yang memanfaatkan tuton sebagai bantuan belajar, sehingga perlu diusahakan suatu cara

Perbandingan Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I - 2015 Provinsi Sumatera Barat dengan Provinsi Lain di Pulau Sumatera. Pada triwulan I-2015 nilai ITK Provinsi Sumatera