• Tidak ada hasil yang ditemukan

Al-Sunnah Dan Qaidah Ushul Fiqih

Dalam dokumen buku-pornografi (Halaman 35-39)

b. Surat an-Nur 31

C. Al-Sunnah Dan Qaidah Ushul Fiqih

Pornografi dan pornoaksi yang terkait dengan aurat ada beberapa hadits Rasulullah yang melarang memakai pakaian yang tembus pandang, erotis, sensual, dan sejenisnya

larangan bagi laki-laki berkhalawat berdua dua-an ditempat yang sunyi tampa orang ke tiga dengan perempuan yang bukan muhrimnya40, ataupun antara laki-laki dengan laki-laki homoseksual , perempuan dengan perempuan lesbian.

Tidak diragukan lagi secara psikologis bahwa menguatnya perasaan wanita melalui kebebasan memilih pakaian yang sesuai dengan standar syariat, menumbuhkan perasaan  positif berupa persamaan perempuan ditengah masyarakat Muslim dengan corak tertentu

dalam menutup aurat dan semakin dalamnya perasaan terhadap kemuliaan. Sementara itu, mengenai hukum tabarruj atau pakaian dan gerak tubuh yang menimbulkan rangsangan seksual , ini adalah jelas haram.

Menurut Syekh Abu 'Ala Al-Maududi kata tabarruj bila dikaitkan dengan wanita

memiliki arti sebagai berikut; Pertama, menampakkan keelokan wajah dan bagian tubuh yang dapat membangkitkan birahi dihadapan kaum laki-laki yang bukan muhrimnya.41 Kedua, memamerkan pakaian dan perhisan yang indah serta memamerkan diri didepan laki-laki yang  bukan muhrimnya.  Ketiga, bersolek dan menggunakan parfum secara berlebihan ketika keluar 

rumah. Ke-empat , melantunkan suara-suara yang menggoda.42

Rasulullah saw bersabda;

40Fatwa Majelis Ulama Indonesia no 287 tahun 2001 , Ibid ., h. 10.

41Abu al-Ghifari , Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravaganza, [Jakarta; Mujtahid, 2002], h. 28.

42Abu al-Ghifari , Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravaganza, [Jakarta; Mujtahid, 2002], h. 29. Lih. Luqman Haqani, Musuh Yang Menjadi Idola, [Jakarta; Mujahid, 2003], h. 69.

الاهضبلاذأايهمق ارل رالنماف 

نخدةئالبلةأنهوءرئاميماراعاياءاسو

سمورويسم نم دجيل اهرإو اهردو ةل

" Ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah aku lihat sebelumnya  pertama adalah kaum yang membawa ekor cambuk seperti ekor sapi yang digunakan

memukul orang. ialah pengusa yang dzalim. Kedua adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta, mereka tidak akan masuk  surga, bahkan tidak akan mencium wanginya padahal bau surga itu tercium sejauh

 perjalanan yang amat panjangnya."

HR. Muslim

Dalam Fiqh pembahasan mengenai aurat didasarkan pada wacana tubuh dengan

 berbagai dimensi sensualnya. Fiqh menganggap ada beberpa tubuh yang tidak pantas untuk  diperlihatkan, tidak layak bahkan memalukan. Pada awal inilah difinisi aurat. Orang

menyebut aurat untuk hal-hal yang tidak pantas untuk diperlihatkan, tidak layak bahkan memalukan. Kemudian sesuatu yang memalukan itu justru bisa membangkitkan gairah orang lain yang melihatnya untuk melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Memalukan dan menggairahkan adalah sesuatu yang kontekstual, karena itu fiqh membedakan antara aurat laki-laki dan perempuan.43

Dari dua kata kunci tentang aurat, yaitu 'memalukan' dan 'menggairahkan', fiqh memnbangun wacana tentang tubuh dan norma-norma yang terkait dengannya. Dalam

disiplin ilmu fiqih lafal aurat diartikan sebagai yang memiliki muatan arti dalam ayat an-Nûr  ayat 31 dan 58 yaitu yang berarti sebahagian anggota tubuh manusia yang didalam pandangan umum buruk atau malu bila diperlihatkan dan bila dibiarkan terbuka mungkin bisa

menimbulkan fitnah seksual.44 Oleh karena itu, kesepakatan pendapat ulama' fiqih

menyatakan bahwa harus ditutup dari pandangan orang dengan pakaian yang tidak tembus  pandang dan tidak membentuk lekukan tubuh.

Mengenai batas anggota tubuh yang dianggab aurat , pandangan fiqih membedakan antara perempuan dan laki-laki. Untuk aurat laki-laki walaupun ada perbedaan, tetapi secara umum mayoritas ulama' berpendapat bahwa laki-laki seharusnya menutup anggota tubuh antara pusar dan kedua lutut kaki.45 Sementara aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.46

Perintah menutup aurat adalah dari agama teks syara' , tetapi batasan mengenai aurat  adalah ditentukan pertimbangan pertimbangan kemanusiaan segala aspek. Untuk itu, dalam menentukan batasan aurat , baik laki-laki maupun perempuan dibutuhkan mekanisme yang

43Faqihuddin Abdul Kadir,  Bergerak Menuju Keadilan….., hal.219

44Lihat,  An-Nawawi, Al-Majmu, juz III, h. 168.

45Mengenai batas aurat laki-laki. Ibnu Rushd dan Asy-Syaukani mengatakan bahwa ulama' Fiqih  berada dalam tiga pendapat. Pendapat pertama adalah yang dinyatakan oleh Imam Asy-Syafi'I, Malik, dan Abu

Hanifah, bahwa aurat laki-laki adalah antara pusat dan kedua lutut. Pendapat kedua menyatakan bahwa aurat laki-laki adalah alat kelamin [qubul], sekitar lubang anus dan paha saja. Pendapat ketiga yang dinyatakan oleh adh-Dhahiri, Ibnu Jarir, al-Isthakhiri, salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ibnu Hambal adalah bahwa aurat laki-laki hanya qubul dan dubur saja, selebihnya bukan aurat. Lih. Ibnu Rushd, Bidâyah al-Mujtahid , Juz I h. 83, Asy-Syaukani , Nail al-Authar , Juz II, h. 49.

46Abu Muhammad Ali bin Muhammad ibn Hazm, Al-Muhalla, [Bairut; Dar al-Afaq al-Jadidah, tt], Juz III.210.

akomodatif dan responsif terhadap gejala nilai yang berkembang di masyarakat sehingga dalam tingkat tertentu nilai dan batasan tersebut dapat diterima oleh masyarakat.

Dalam hal ini pertimbangan khsuf al-fitnsh yang sudah dikembangkan oleh ulama' fiqih  juga harus menjadi salah satu penentu pertimbangan, agar tubuh manusia tidak dieksploitasi

terutama tindak pornografi dan pornoaksi yang dapat merusak tatanan kehidupan

masyarakat.47 Tentu saja, dalam konteks pornografi dan pornoaksi yang mengumbar  aurat , yang dimaksud adalah aurat menurut syariat Islam. Aurat adalah bagian-bagian tubuh yang  berpotensi menimbulkan rangsangan-rangsangan seksual bila terlihat .48 Seorang wanita yang

memperlihatkan sekadar rambut atau bagian bawah kakinya, misalnya, jelas termasuk orang yang mengumbar aurat. Sebab, aurat wanita dalam pandangan Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.49

Secara fiqih, menyaksikan secara langsung aurat seseorang yang bukan haknya

 pornoaksi, pornografi dan pornoaksi adalah haram, kecuali untuk tujuan yang dibolehkan oleh syara', misalnya memberi pertolongan medis. Ini akan berlaku juga pada para pembuat

 pornografi dan pornoaksi kamerawan, pengarah gaya, sutradara, dan lain sebagainya. Sedangkan menurut definisi agama Islam, segala sesuatu yang mengakibatkan seseorang cenderung melakukan perbuatan asusila fakhisyah adalah berdosa. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra' 32:

ايبءاو ة شحااإ ا¡لت الو

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan  yang keji. dan suatu jalan yang buruk" .50

Pornografi dan pornoaksi dianggap mendekati perbuatan zina sehingga harus dilarang, dan jika dilakukan maka pelakunya harus bertobat karena dianggap berdosa. Apalagi sampai  berbuat zina maka dianggap telah melakukan dosa besar. Jika pelakunya masih bujangan

maka harus dicambuk sebanyak seratus kali mi'ata jaldah, dan jika pelakunya dalam status sudah menikah maka harus dihukum dengan dilempar batu sampai meninggal rajam.51

Sementara itu menurut hukum Islam seperti yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia no 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi tanggal 22 Agustus 2001, yaitu berdasarkan surah Âl-Isra' kita dilarang mendekati zina dan an-Nûr 30-31 yang

mengatur tentang cara bergaul52, memelihara kehormatan, dan batas aurat al-Ahzâb ayat 59 yang mengatur tentang aurat kaum perempuan Mu'minah53, dan al-Maidah ayat 2 tentang kewajiban saling tolong menolong dalam mengerjakan kebaikan dan takwa dan larangan melakukan tolong menolong dalam melakukan dosa dan pelanggaran, maka batasan  pornografi dan pornoaksi menurut hukum Islam telah jelas54.

47Husain Muhammad, Fiqih Perempuan Refleksi Kyai Atas Wacana Agama dan Gender , [Yokyakarta; Rahima, 2001], h. 64.

48Hasan Hathaut , Panduan Seks Islami, [Jakarta; Pustaka Zahra, 2004], h. 25.

49Husain Muhamad, Fiqih Perempuan Refleksi Kiyai Atas Wacana Agama dan Gender, Ibid ., h. 62.

50QS. Al-Isra' 32

51Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, [Bandung; Sinar Baru, 1990], h. 402

52 Fatwa Majelis Ulama Indonesia no 287 tahun 2001 Tentang Pornografi dan Pornoaksi tanggal 22 Agustus 2001 atau Jumadil Akhir 1422 Hijriyah, h. 2.

Sementara itu, sebuah benda dengan muatan pornografi dan pornoaksi dihukumi sebagai benda yaitu mubah.55 Namun demikian, kemubahan ini bisa berubah menjadi haram ketika benda wasilah itu dipastikan dapat menjerumuskan pada tindakan keharaman. Sebab, kaidah "ushul fiqih" yang mu'tabar menyebutkan: "Sarana yang menjerumuskan pada

tindakan keharaman adalah haram". Karena itu, kemubahan ini juga tidak berlaku untuk   penyebarluasan dan propaganda pornografi dan pornoaksi atau pornoaksi yang akan memiliki

dampak serius di masyarakat. Seseorang yang dihadapkan pada suatu media porno, misalnya, memang dipandang belum melakukan aktivitas haram karena media sebagai benda adalah mubah. Akan tetapi, bila orang itu ikut dalam usaha membuat dan atau menyebarluaskan media porno, maka menurut syariat, dia dianggap telah melakukan aktivitas yang haram. Mengenai batasan aurat menurut pandangan ulama' Fiqh dapat disimpulkan pada:  Pertama, Bahwa perempuan hanya diperkenankan membuka wajah dan kedua

 pergelangan tangan, kecuali dalam keadaan diperlukan Abu Hanifah memperkenankan kedua lengan tangan dan kedua setengah betis kaki dibiarkan terbuka.

 Kedua, alasan utama penutupan tubuh perempuan adalah untuk menghindari gangguan fitnah dan malapetaka dharar yang menempa diri perempuan, dan alasan utama  beberapa anggota tubuh dibiarkan terbuka adalah alasan keterpaksaan darurah atau keperluan

hujjah.

Dengan demikian, berdasarkan berbagai nas dan dan kaidah ushul fiqih Secara umum Majelis Ulama indonesia MUI pada tahun 2001 mengeluarkan fatwa tentang pornografi dan  pornoaksi menetapkan beberapa hal sebagai berikut;

Menggabarkan secara langsung atau tidak langsung, tingkah laku secara erotis, baik  dengan lukisan gambar, tulisan reklame, suara, maupun ucapan baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram. Membiarkan aurat terbuka dan atau berpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.

Melakukan pengambilan gambar sebagaimna angka 2 adalah haram.

Melakukan hubungan sksual atau adegan seksual didepan orang, melakukan gambar  hubungan seksual, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain dan melihat hubungan seksual ataupun adegan seksual adalah haram.

Menperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau memperlihatkan gambar orang, baik cetak atau visual, yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat atau tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan

seksual atau adegan seksual adalah haram.

Berbuat intim atau berdua-duaan khalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram-nya dan perbuatan sejenis lainhya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual diluar pernikahan adalah haram.

Memperlihatkan aurat, yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan  bagian tubuh selain muka, telapak tangan dan telapak kaki bagi perempuan adalah

haram kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar'i.

54Fatwa Majelis Ulama Indonesia no 287 tahun 2001, Ibid., h. 5.

Memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.

Melakukan suatu perbuatan dan atau suatu ucapan yang dapat mendorong terjadinya hubungan seksual diluar pernikahan atau perbuatan sebagaimana dimaksud angka 6 adalah haram.

Membantu dengan segala bentuknya dan atau membiarkan tampa pengingkaran  perbuatan-perbuatan yang diharamkan diatas adalah haram.

Memperoleh uang, manfaat, dan atau fasilitas dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan diatas adalah haram.[]

BAGIAN KE-TIGA

Dalam dokumen buku-pornografi (Halaman 35-39)