DESAIN ABORSI
A.
Pengertian Aborsi
Kata aborsi berasal dari bahasa Inggris yaitu abortion dan bahasa Latin abortus. secara etimologis berarti, gugur kandungan atau keguguran.70 Dalam bahasa Arab, aborsi disebut dengan al-ijhâdh atau isqâth al-haml .71
Adapun aborsi [isqâth al-haml] dalam pengertian terminologis sebagaimana yang didefinisikan oleh para adalah pengguguran janin yang dikandung perempuan dengan tindakan tertentu sebelum sempurna masa kehamilannya, baik dalam keadaan hidup atau mati
70M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Haditsah pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam , [Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998], h. 44
71Banyak f uqaha kontemporer yang menggunakan istilah al-ijhadh. Misalnya Dr. Wahbah Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islamy wa adillatuhu, Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Mas’alah Tahd î d Nasl , Wiqâyatan wa ‘Ilâjan, Syaikh al-Azhar [mantan] Jaad al-Haq ‘Ali Jaad al-Haq dalam Ahkâm as-Syarî’ah al-Islâmiyyah fî Mâsa’il Thibbiyyah ‘an al-Amrâdh an- Nisâ’iyyah wa Shihhah al-Injâbiyah. Namun demikian, beberapa fuqaha juga membedakan kedua istilah ini. Isqâth al-Haml , misalnya,digunakan oleh dokter Arab untuk pengguguran
kandungan yang sudah tua, sementara al-Ijhâdh digunakan untuk pengguguran kandungan yang masih muda. Lihat KH.A.Aziz Masyhuri, Abortus Menurut Hukum Islam, [Makalah pada acara Bathsul Masail NU Wilayah Jawa Timur, Oktober 1992, tidak diterbitkan]
sebelum si janin bisa hidup di luar kandungan namun telah terbentuk sebagian anggota tubuhnya.72
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aborsi adalah:
1.
Terpancarnya embrio yang tidak mungkin lagi hidup [sebelum hasil bulan keem- pat dari kehamilan]; keguguran atau keluron;2.
Keadaan terhentinya pertumbuhan yang normal [untuk makhluk hidup];3.
Guguran [janin].73Dalam istilah kedokteran, aborsi adalah pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi [kehamilan] 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram.74
Sardikin Ginaputra dari Fakultas Kedokteran UI mendefinisikan aborsi sebagai pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
Sedangkan Maryono Reksodipura dari Fakultas Hukum UI mendefinisikan aborsi dengan pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya [sebelum dapat lahir secara
alamiyah].75
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa aborsi adalah tindakan yang dimaksudkan secara sengaja untuk menggugurkan kandungan yang belum cukup waktu untuk hidup
B. Macam-macam Aborsi
Selaras dengan definisi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka dikenal dua macam bentuk aborsi yakni:
1.
Abortus Spontaneous [aborsi spontan] yakni aborsi yang terjadi dengan sendirinya, tidak disengaja dan tanpa pengaruh dari luar atau tanpa tindakan. Abortus spontan bisa terjadi karena kecelakaan, penyakit syphilis, dan sebagainya.2.
Abortus Provocatus atau abortus arteficiallis, yakni aborsi yang dilakukan dengan sengaja. Tindakan semacam ini dibagi dua:3.
Abortus provocatus thorapeuticus, yakni yang dilakukan atas dasar pertimbangan medis yang sungguh-sungguh dan pada umumnya untuk menyelamatkan jiwa si ibu.4.
Abortus provocatus criminalis, yakni yang dilakukan tanpa indikasi medis apapun, dan dianggap sebagai tindak pidana.76Aborsi yang tersebut terakhir inilah yang sering disebut dengan aborsi illegal dan diancam hukuman, baik pidana maupun hukum Islam. Sedangkan untuk dua macam aborsi yang lain [abortus spontaneous dan abortus provocatus therapeuticus ] hukum pidana dan
72Jaad Haqq ‘Ali Jaad Haq, Ahkâm Syarî’ah Islâmiyyah fî Masâ’il Thibbiyah ‘an Amrâdh al- Nisâiyyah wa Shihhah al-Injâbiyyah, [Kairo, Universitas al-Azhar, 1997], h. 135
73Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, [Jakarta: Balai Pustaka, 1995], CET. 2, h. 2
74Ensiklopedi Islam [Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1994], h. 33
75Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, [Jakarta: CV. Haji Masagung, 1989], CET. 3, h. 77
76Harkristuti Harkrisnowo, Aborsi ditinjau dari Perspektif Hukum, [Makalah Seminar dan Lokakarya Aborsi Ditinjau dari Perspektif Fiqh yang diselenggarakan oleh PP Fatayat NU, Jakarta, 2000], h. 4. Lihat juga Masyfuk Zuhdi, Islam dan Keluarga Berencana di Indonesia, [Surabaya: Bina Ilmu, 1986], h. 38-39
hukum Islam memberikan kualifikasi dan ketentuan yang berbeda-beda menurut faktor penyebabnya, ringan dan beratnya serta jenis dan sifatnya.
C. Faktisitas Aborsi di Indonesia
Sebagaimana tersebut di atas bahwa aborsi di lapangan benar-benar merupakan fakta sosial. Dan bahwa angka-angka aborsi belum cukup merepresentasi angka praktek aborsi yang faktual dan karena itu, data tersebut sulit untuk dijadikan pedoman karena penelitian yang akurat terbentur kendala hukum dan norma-norma sosial.
Lebih lanjut, data menyebutkan bahwa pada tahun 1994 diperkirakan terjadi 1.000.000 aborsi setiap tahun di Indonesia. 50% diantaranya dilakukan oleh mereka yang belum menikah, dan dari jumlah ini kurang lebih 10-25% adalah remaja [Jayakarta, 3/10/1994]. Tahun berikutnya, Bali setiap hari ada 100 remaja di Denpasar dan Bandung yang ingin dipulihkan dari kehamilan yang tidak mereka inginkan [Matra, November 1995].77
Sedangkan angka yang disodorkan oleh Prof. Sudraji Sumapraja, sebagaimana yang tersebut dalam catatannya bahwa 99,7% perempuan yang melakukan aborsi adalah ibu-ibu yang sudah menikah [Kompas, 30/11/1997]. Penelitian lapangan yang dilakukan oleh Indraswari dari FISIP Unpad tahun 1997 menyimpulkan 85% pelaku aborsi berstatus menikah. Penelitian ini juga mengungkapkan abortus spontan karena kelelahan, beban kerja berlebihan dan kondisi kesehatan mencapai angka 20%. Selebihnya, 10% responden
melakukan abortus provokatus terapikus [APT] , dan 65% responden melakukan abortus provokatus kriminalis [APK].78 Sementara itu, Held dan Adriananz yang melakukan meta analisis tentang kelompok resiko tinggi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan mengemukakan bahwa ada 4 kelompok resiko: 1] kelompok kegagalan kontrasepsi [48%]; 2] kelompok remaja [27%]; 3] kelompok praktisi seks komersial [14%]; dan 4] kelompok korban perkosaan, incest, perbudakan seksual [9%].79
Sedangkan menurut penelitian tahun 2001 jumlah aborsi sekitar 2.3 juta, dan 15-20% dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara [Majalah Gemari September 2001]
Angka-angka di atas, sekali lagi belum menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Apalagi pada umumnya penelitian dilakukan dengan responden yang tidak banyak dan tidak luas sebaran wilayahnya. Responden juga kurang jujur dalam menjawab pertanyaan karena ada stigma-stigma tertentu mengenai aborsi.
Dari alasan-alasan yang dikemukakan, tampak bahwa sebagian besar aborsi bukan hanya disebabkan oleh kemauan murni perempuan. Aborsi dapat dilakukan akibat kekhawatiran dengan resiko sosial, ketakutan kepada orang lain [suami atau orang tua dan keluarga], adanya paksaan dari keluarga, adanya kondisi keluarga yang membuatnya tidak berani mempunyai anak lagi. Namun demikian, aborsi yang semata-mata dilakukan karena perempuan tidak mau punya anak, tampaknya sulit ditemukan datanya, Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, dari perspektif agama, apakah kondisi-kondisi seperti itu bisa
77Adrina, dkk, Hak-hak Reproduksi Perempuan yang Terpasung , [Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998], h. 117-118
78Syafiq Hasyim, ed., Menakar “Harga” Perempuan, [Bandung: Mizan, 1999], CET. 1, h. 152-154
79 Attashendartini Habsjah, Fakta-fakta Aborsi, [Makalah Semi-Loka Aborsi Dalam Perspektif Fiqh Kontemporer, PPFNU, 2001], H. 4
disebut “ikrâh” yang konsekuensinya menempatkan perempuan pada posisi “ghairu mukallaf”?