• Tidak ada hasil yang ditemukan

buku-pornografi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "buku-pornografi"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

MENIMBANG HUKUM

MENIMBANG HUKUM

PORNOGRAFI, PORNOAKSI DAN

PORNOGRAFI, PORNOAKSI DAN

ABORSI DALAM PERSPEKTIF

ABORSI DALAM PERSPEKTIF

ISLAM

ISLAM

OLEH

OLEH

 PROF.DR. HJ. ISTIBSJAROH, SH, MAg 

 PROF.DR. HJ. ISTIBSJAROH, SH, MAg 

(2)
(3)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

MENIMBANG HUKUM PORNOGRAFI, PORNOAKSI DAN

MENIMBANG HUKUM PORNOGRAFI, PORNOAKSI DAN ABORSI

ABORSI

PERSPEKTIF ISLAM

PERSPEKTIF ISLAM

Kata Pengantar

Kata Pengantar

Paradigma Por

Paradigma Pornografi,

nografi, Pornoaksi dan

Pornoaksi dan Aborsi di Indones

Aborsi di Indonesia

ia

Prof. Dr. H. Ridlwan Natsir, Mag

Prof. Dr. H. Ridlwan Natsir, Mag

II

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

Bagian Pertama Bagian Pertama

Ruang Lingkup Pornografi dan Pornoaksi

Ruang Lingkup Pornografi dan Pornoaksi

A. Hakekat Pornografi

A. Hakekat Pornografi dan Ponoaksidan Ponoaksi B.

B. SejaSejarah rah PornPornografografi dai dan Pn Pornoaornoaksiksi C.

C. KreKreterteria dan Baia dan Batastasan Poan Pornornogragrafifi D.

D. Media Media dan Akdan Akses Poses Pornogrrnografi daafi dan Pornn Pornoaksoaksii Bagian Ke-Dua

Bagian Ke-Dua

Pornografi dan Pornoaksi dalam Perspektif Hukum Islam

Pornografi dan Pornoaksi dalam Perspektif Hukum Islam

A.

A. TeTeks ks alal-Q-Qurur’a’ann B.

B. TinjaTinjauan uan dari dari BerbaBerbagai Tgai Tafsir afsir al-Qual-Qur'anr'an 1.

1. TaTafsfsir ir alal-M-Mununir ir  2.

2. TaTafsfsir ir alal-T-Thahababaryry 3.

3. TaTafsfsir air al-l-MaMararaghghii 4.

4. TafTafsisir alr al-Ta-Tahrhrir ir wa awa al-Tl-Tanwanwir ir  5.

5. TafTafsisir ar al-Al-Aluslusi Si Sururat at al-al-Nur Nur  C.

C. TinjaTinjauan uan As-SuAs-Sunnah nnah dan dan KaidaKaidah h Ishul Ishul FiqhFiqh.. Bagian Ke-Tiga

Bagian Ke-Tiga

Pornografi dan Pornoaksi dalam Kehidupan Sosial

Pornografi dan Pornoaksi dalam Kehidupan Sosial Masyarakat

Masyarakat

A.

A. PornoPornografi grafi dan dan PornoPornoaksi aksi dalam dalam MasyMasyaraarakat Gkat Globaloball B.

B. PornoPornografi dagrafi dan pornn pornoaksoaksi dalam Mai dalam Masyarsyarakat Loakat Lokalkal C.

C. Kontraversi Kontraversi Undang-Undang Undang-Undang Pornografi Pornografi dan Pornodan Pornoaksi Dalaaksi Dalam Sosial m Sosial KemasyarakKemasyarakatanatan

Lampiran

Lampiran

Fatwa MUI Tentang

Fatwa MUI Tentang Pornografi dan Pornoaksi

Pornografi dan Pornoaksi

II

II

ABORSI

ABORSI

Bagian Pertama Bagian Pertama

Fenomena Aborsi

Fenomena Aborsi

Bagian Ke-Dua Bagian Ke-Dua

Desain Aborsi

Desain Aborsi

 A.

 A.Definisi dan Hakekat AborsiDefinisi dan Hakekat Aborsi

B.

B. MaMacacam-m-MaMacacam Abom Aborsrsii C.

(4)

Bagian Ke-Tiga Bagian Ke-Tiga

Aborsi Dalam Hukum Islam

Aborsi Dalam Hukum Islam

A.

A. HukHukum Aum Aborborsi Dsi Dalaalam Ism Islamlam B.

B. AkAkibibat Hat Hukukum Aum Aboborsrsii C.

C. AborsAborsi dalam Si dalam Spektpektrum Hukrum Hukum Posum Positif dan itif dan HukuHukum Islamm Islam Bagian Ke-empat

Bagian Ke-empat

Telaah Hukum Aborsi

Telaah Hukum Aborsi

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka

Biografi Penulis

Biografi Penulis

(5)

PENGANTAR 

PARADIGMA PORNOGRAFI, PORNOAKSI DAN ABORSI DI INDONESIA

Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA

"Persoalan media dan pornografi, pornoaksi adalah persoalan yang sangat delematis, terutama delima antara kebebasan dan moralitas, pertumbuhan dan tradisi, kreatifitas dan norma. Sementara dimasa depan, peran negara tidak lagi diharapkan dalam mengatur dan

mengendalikan sebagai aspek-aspek kehidupan sosial, termasuk media [internet, telivisi

 global, ataupun pengintaian satelit]". [Yastraf Amir Peiling ]

Menjamurnya pose seronok, aksi sensual, dan film-film porno di berbagai media [cetak atau elektronik], seakan menyentak kesadaran kita bahwa kebebasan pers yang telah digulirkan oleh pemerintah, telah membawa dampak kebebasan yang lain yakni prilaku yang sangat mengabaikan budaya malu, norma agama, dan nilai moral bangsa. Munculnya era reformasi, ternyata sebahagian besar tidak ditanggapi dengan positif oleh banyak media, tapi  justru ditanggapi dengan kebebasan tanpa batas. Realitas tersebut berakses pada kebebasan

dalam etika dan norma. Media lebih mengedepankan " profit orientied" , sebagai dampaknya  banyak literatur, film, gambar atau pose yang

"

 panas dalam adegan

"

tetapi "tidak panas

dalam ide, tema dan kritik" . Boleh jadi ini yang merupakan salah satu bentuk penyesatan umat dan sekaligus dapat dibilang masuk dalam kategori " kekerasan informasi".

Pada tataran tersebut kondisi Indonesia sudah dalam keadaan memprihatinkan dan dalam taraf membahayakan, khususnya pada anak-anak dan generasi mudanya. Sebagai bahan acuan hasil survay Ely Risman [Psikolog] menunjukkan sekitar 98 persen anak-anak 

Indonesia terbiasa mengakses media-media yang menampilkan pornografi [ Republika 8 Maret 2006 ]. Fakta ini juga diperkuat oleh "Jejak Kaki Internet Protection" yang mencatat 97  persen anak usia 9-14 tahun ternyata pernah mengakses situs porno [ Republika 8 Maret 

2006 ].

Sekedar pengingat, mungkin memori di otak kita belum hilang dengan kasus-kasus pose seronoknya artis-artis kita mulai Shopia Latcuba, Nafa Urbah, Dewi Rezer, Sarah Azhari, Anjasmara, dan sederet artis lainnya yang diabadikan oleh majalah RHA yang konon juga telah beredar di manca negara [prestasi atau bencana!]. Dan kalau ditanya pasti alasan yang disampaikan dan digulirkan oleh mereka tetap sama sebagai sebuah "prodak seni" yang harus dinikmati dan disyukuri. Dan mungkin akan ditambah semarak lagi dengan munculnya

majalah "Play Boy" di negeri ini yang akan menambah daftar panjang parade pornografi dan  pornoaksi.

Itulah sisi lain wajah moral yang sama-sama dapat kita saksikan setiap saat di negeri kita tercinta ini, yang konon merupakan negeri yang sangat agamis dan selalu menjunjung tinggi norma, etika, unggah-ungguh [sopan santun] dan seterusnya. Ironis memang, ketika sebagian masyarakat Muslim menentang dan mengutuk polah aksi pornografi, pornoaksi dan hal

sejenisnya adalah "haram", justru mendapat kecaman yang luarbiasa dari masyarakat lainnya yang mendukung polah tersebut sebagai produk seni tinggi [upaya membelenggu kreatifitas]. Tidak main-main kasus-kasus tersebut sempat juga sampai kemeja para anggota MPR RI sebagai materi rapat dan acuan kebijakan pemerintah dalam upaya membuat RUU anti

(6)

 pornografi dan pornoaksi atau yang ramai diberdebatkan RUU APP [Anti Pornografi dan Pornoaksi], tetapi ternyata faktanya sampai sekarang masih dalam wacana yang terus bergulir  tampa adanya penyelesaian.

MUI [Majelis Ulama' Indonesia] sendiri sebagai kontrol masyarakat yang sudah mengelurkan fatwa "haram" terhadap hal-hal yang berbau pornografi, dan pornoaksi tidak  terkecuali kasus-kasus sejenis yang mencuat tersebut sama sekali tidak diperhatikan. Faktanya hingga saat ini, pornografisasi dan pornoaksisasi telah banyak melahirkan kader-kader baru  bahkan lebih panas dari sebelumnya dan ironisnya mendapatkan tempat tersendiri dalam

masyarakat dan media kita.

Mengapa Fenomena tersebut dapat berlarut-larut dan bahkan akan selalu menjadi

fenomena "gunung es" di negeri ini? Bisa jadi karena selama ini, batasan mengenai pornografi dan pornoaksi di negeri Indonesia semakin tidak jelas, tidak menentu, bahkan menjadi kabur  disebabkan pandangan masyarakat yang dipengaruhi oleh derasnya arus sekularisasi dan globalisasi. Kreterianya pun belum jelas–apakah melanggar bartasan kesopanan, merangsang ataupun melanggar budaya Timur--tampak kabur dan bisa berubah-ubah. Semuanya

mengandung interpretasi yang sangat mudah diperdebatkan bahkan disangkal. Bagi yang menganggap bikini itu sopan, maka pose artis tersebut dianggap "masih sopan dan wajar', dan kireteria merangsang yang menjadi tolak ukur pornografi dan pornoaksi dari berbagai

 pendapat juga masih mengandung kontroversi. Sebab bagi para phothografer atau pekerja seni yang sejenis yang akrab dengan para artis dan dunia entertaiment, tontonan tersebut bukan merupakan sesuatu yang merangsang akan tetapi dianggap sebagai produk "seni".

Bila pornografi dan pornoaksi diserahkan batasan dan kreterianya kepada kita terutama  pada kalangan pendidik, politisi, budayawan, dan seniman, semuanya akan memberikan

rumusan yang berbeda bahkan bertolak belakang. Dalam hal ini, Islam telah memberikan arahan untuk memecahkan masalah-masalah manusia, termasuk masalah yang terkait dengan seksualitas manusia. Yaitu Islam memberikan syariat kehidupan khusus [kehidupan keluarga] dan kehidupan umum [kehidupan sosial].

Di dalam kehidupan khusus tersebut, Islam membolehkan bagi wanita menampakkan anggota bagian tubuhnya dihadapan anggota keluarga [muhrim]. Dalam hal ini seorang wanita muslimah dibolehkan membuka jilbab dan kerudungnya dihadapan para muhrimnya dan orang-orang yang diberi hak oleh syariat untuk melihat aurat yang biasa terlihat

manakala wanita tersebut berada dalam rumahnya [

QS. An-Nûr ayat 31

].

Sementara itu seorang perempuan diperbolehkan memperlihatkan sebagian aurat-nya kepada para medis dalam hal ini dokter, perawat dan penyelidik. Melalui muhrimnya,

gambaran tentang sebahagian "aurat " perempuan, seperti rambutnya, tangannya, dan kakinya, dapat diinformasikan kepada seorang pria yang melamarnya untuk dijadikan istrinya. Hal yang berkaitan dengan seksualitas, Islam membolehkannya melalui apa yang dinamakan pintu "pernikahan". Artinya hanya kepada orang yang terikat dengan tali pernikahan yang sah saja diperkenankan melakukan aktifitas seksual.

Akan halnya dalam kehidupan umum, seorang tidak dibenarkan menampakkan aurat -nya. Dan bagi seorang wanita bagian tubuh yang terbilang sebagai ”aurat" adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Oleh karena itu seorang wanita yang sudah  baligh manakala keluar [masuk dalam kehidupan umum] dari rumah harus mengenakan jilbab

yakni pakaian luar yang menutup tubuhnya hingga sejengkal dibawah mata kaki [

QS.

al-Ahzâb 59

], dan mengenakan kerudung yang menutupi kepala, leher dan dadanya [

QS.

An-Nûr 31

].

(7)

Dengan batasan yang jelas tersebut, maka seorang wanita muslimah secara jelas mengetahui bahwa mengumbar aurat tubuhnya dihadapan orang yang tidak berhak dan ditempat yang tidak tepat adalah dosa yang harus dijauhi. Sehingga dengan demikian

 pornografi dan pornoaksi tergolong dengan tindakan yang kriminial dan pelakukanya patut dijatuhi hukuman. Zakiah Daradjat mengatakan pornografi termasuk pekerjaan mungkar, tidak diridhai oleh Allah SWT dan dilarang dengan sangsi dunia dan akhirat bagi

 pelanggarnya. "….. pornografi itu setara kejinya dengan judi, minuman keras, merampok, dan  pekerjaan mungkar lainnya. Karena pornografi yang sifatnya dapat menggoda, mendorong 

orang untuk mendekati zina".

Sebaliknya Islam melarang kehidupan seksual diluar nikah dan berbagai bentuk seks  bebas [ free sexs] untuk menjaga kejelasan jalur keturunan manusia dan mencegah terjadinya

konflik serta tindak anarki akibat hubungan lawan jenis yang tidak teratur. Hubungan seks diluar nikah dalam pandangan Islam disebut dengan "zina" dan merupakan salah satu tindak  kriminal [ jarimah]. Secara tegas menghukum pelakunya bila masih gadis atau bujang, dengan 100 kali pukulan atau cambukan [

an-Nûr ayat 2

].

Tidak dapat dikesampingkan juga salah satu tindakan yang terkait dengan akses

 pornografi dan pornoaksi terkait dengan seksualitas manusia adalah tindak aborsi. Walaupun secara makna antara pornografi, pornoaksi dan aborsi memiliki arti yang jauh berbeda akan tetapi jika ditelisik akan menemukan sebuah benang merah. Yaitu sama-sama terkait dengan seksualitas manusia dan normasusila. Kasus-kasus aborsi yang mencuat, dalam publik juga tak kalah ramai dengan kasus pornografi dan pornoaksi. Bisa dicatat dalam sebulan pasti ada dua sampai tiga kali dalam seminggu kasus yang muncul dan tragisnya lagi pasti akan

menimbulkan korban baik dari pihak ibu maupun anak. Dalam setahun saja aborsi telah menewaskan 100.000 ibu di seluruh dunia sebuah angka yang cukup fantastis sebagai mesin  pembunuh. [ Jawa Pos 6 November 2006 ] Walaupun dalam berbagi kasus aborsi tersebut

memiliki latar belakang yang berbeda, akan tetapi yang sering mencuat adalah akibat tindakan amoral. Dan parahnya para korban tidak menyadari akan perbuatan dan konsekwensi

hukumnya baik secara duniawi maupun akhirat.

Terkait dengan aborsi, berdasarkan latar belakang yang terjadi dalam pandangan Islam terdapat ketentuan dan hukum tersendiri. Untuk itulah buku ini hadir untuk anda para

 pembaca. Buku ini merupakan salah satu buku yang akan membongkar hal-hal yang terkait dengan aborsi yang sebelumnya didahului dengan memperbincangkan tentang pornografi dan  pornokasi tentunya dalam perspektif Islam.

Pada bagian pertama, sebagai pembuka anda akan digiring pada hal-hal yang terkait dengan pornografi dan pornoakasi [sebuah disain yang lengkap] yang kemudian sebagai  puncaknya masalah hukum yang terkait dengannya. Agar lebih hidup pembaca juga akan

disuguhi dengan beberapa kontroversi mengenai kententuan hukum pornografi dan pornoaksi dalam mayarakat, lengkap dengan paparan-paparan data yang mendukung. Sementara itu  pada bagian kedua, adalah menggali dan memperbincangkan tentang ruang lingkup aborsi,

yang kemudian diteruskan dengan hukum-hukum dan ketentuan yang terkait dengan aborsi. Dan sebagai pengantar buku "Menimbang Hukum Pornografi, Pornoaksi dan Aborsi  Dalam Perspektif Islam" saya ucapkan selamat kepada penulis; Prof. Dr Hj.. Istibsjaroh, SH,

MA, semoga karya anda menjadi karya yang selalu bermanfaat bagi kebeningan umat. Dan untuk pembaca budiman, selamat membaca! semoga buku ini dapat memberi pencerahan dan inspirasi bagi anda.[]

(8)

Surabaya, Maret, 2007

Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya

Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA

NIP. 150203743

I

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

BAGIAN PERTAMA

RUANG LINGKUP PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

A.

Hakekat Pornografi dan Pornoaksi

Konsep mengenai porno pada dasarnya bersifat intra subyektif dan bahkan inter  subyektif dimana subyektifitas individu satu dengan lainnya membentuk seks normatif, walaupun akhirnya konsep ini selalu berubah berdasarkan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Gambaran mengenai pornografi dan pornoaksi pada masyarakat secara luas

 bukan merupakan sesuatu yang menetap, khususnya ketika ia berhadapan dengan petumbuhan yang terjadi dalam bidang, budaya, sosial, ekonomi dan politik. Dalam kondisi seperti ini  batasan mengenai pornografi dan pornoaksi menjadi suatu entitas yang dapat mengalami  perubahan, sesuai dengan latar belakang sosial cultural yang ada.

Secara umum pengertian pornografi dan pornoaksi di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sebagai berikut; Pertama, Pembagian penduduk berdasarkan tempat tinggal  perkotaan dan pedesaan,  Kedua, Pembagian penduduk berdasarkan agama yang dianut, dan

(9)

 Ketiga, pembagian penduduk berdasarkan masyarakat adat yang berada antara satu dan lainnya.1

Jika ditelusuri pornografi dari bahasa Yunani "πορνογραφία" pornographia — secara harafiah tulisan tentang atau gambar tentang pelacur  kadang kala juga disingkat menjadi "

porn

," "

pron

," atau "

porno

" adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia dengan tujuan membangkitkan rangsangan seksual, mirip, namun berbeda dengan erotika, meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian. Kata " porne" yaitu "perempuan jalang" dan graphein "menulis atau ungkapan". Pornographos; diartikan sebagai writing abaut prostitutes tulisan atau gambaran mengenai pelacur.2Sementara itu dalam

kamus Ilmu Popular pornografi diartikan sebagai bacaan atau gambar cabul.3

Dalam pengertian aslinya, pornografi secara harafiah berarti "tulisan tentang pelacur ", dari akar kata Yunani klasik πορνη dan γραφειν. mulanya adalah sebuah eufemisme dan

secara harafiah berarti 'sesuatu yang dijual.' Kata ini berkaitan dengan kata kerja yang artinya menjual . Kata ini berasal dari dari istilah Yunani untuk orang-orang yang mencatat "pornoai", atau pelacur-pelacur terkenal atau yang mempunyai kecakapan tertentu dari Yunani kuno. Pada masa modern, istilah ini diambil oleh para ilmuwan sosial untuk menggambarkan

 pekerjaan orang-orang seperti Nicholas Restif dan William Acton, yang pada abad ke-18 dan 19 menerbitkan risalat-risalat yang mempelajari pelacuran dan mengajukan usul-usul untuk  mengaturnya. Istilah ini tetap digunakan dengan makna ini dalam "Oxford English

Dictionary" hingga 1905.

Akan tetapi, belakangan istilah pornografi dan pornoaksi digunakan untuk publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, khususnya yang dianggap berselera rendah atau tidak   bermoral, apabila pembuatan, penyajian atau konsumsi bahan tersebut dimaksudkan hanya untuk membangkitkan rangsangan seksual. Sekarang istilah ini digunakan untuk merujuk  secara seksual segala jenis bahan tertulis maupun grafis. Istilah "pornografi" seringkali

mengandung konotasi negatif dan bernilai seni yang rendahan, dibandingkan dengan erotika yang sifatnya lebih terhormat. Istilah eufemistis seperti misalnya film dewasa dan video dewasa biasanya lebih disukai oleh kalangan yang memproduksi materi-materi ini.

Sementara itu menurut istilah beberapa para ahli pornografi dapat didefinisikan sebagai berikut;

 Abu Al-Ghifari; Pornografi adalah tulisan, gambar, lukisan, tayangan audiovisual,

 pembicaraan, dan gerakan-gerakan tubuh yang membuka tubuh tertentu secara vulgar yang semata-mata untuk menarik perghatian lawan jenis.4

1 Neng Djubaidah, Pornografi Pornoaksi Ditinjau Dari Hukum Islam, [Jakarta; Prenada Media, 2003]

h. 137

2 Tjipta Lesmana, Pornografi Dalam Media Massa, [Jakarta; Puspa Swara, 1995], Cet ke I, h. 69. Lih.

A. Hamzah, Pornografi dalam Hukum Pidana, Studi Dalam Hukum Perbandingan, Cet ke I, [Jakarta; Bina Mulia 1987], h. 7.

3 Tim Penyusun Kamus Besar Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

[Jakarta; Balai Pustaka, 1988]. h. 354.

(10)

 Feminis dan Moralis Konservatif mendefinisikan pornografi sebagai " Penggambaran

material seksual yang mendorong pelecehan seksual dengan kekerasan dan  pemaksaan".5

 Menurut RUU Anti Pornografi, " Pornografi adalah bentuk ekspresi visual berupa

 gambar, lukisan, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film, video, terawang, tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk  memperlihatkan secara terang-terangan atau tersamar kepada publik alat vital dan bagian-bagian tubuh serta gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitas dan atau seksualitas, serta segala bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia  yang patut diduga menimbulkan rangsangan nafsu berahi pada orang lain. "6  MUI atau Departemen Agama; " Pornografi adalah ungkapan visualisasi dan

verbalisasi melalui media komunikasi massa tentang perlakuan/perbuatan laki-laki dan/atau perempuan dalam keadaan memberi kesan telanjang bulat, dilihat dari depan, samping, atau belakang. Penonjolan close up alat-alat vital, payudara atau  pinggul, baik dengan atau tanpa penutup, ciuman merangsang antara pasangan  sejenis ataupun berlainan jenis, gerakan atau bunyi suara dan/atau desah yang 

memberi kesan persenggamaan, gerakan masturbasi, lesbian, homo, atau oral seks  yang bertujuan untuk membangkitkan nafsu seksual".

Beralih ke pengertian pornoaksi itu sebenarnya tidak jauh dengen pengertiannya

dengan pornografi yaitu penekanannya pada pornoaksi lebih pada penggambaran aksi gerakan lenggokan dan liukan tubuh yang disengaja atau tidak sengaja untuk memancing bangkitnya nafsu seksual laki-laki. Dengan demikian secara garis besar dalam wacana pornografi atau dalam tindak pencabulan konteporer dan beberapa bentuk porno, yaitu meliputi porno teks,  pornografi, pornosuara dan pornoaksi. Dalam kasus tertentu semua katogori ini dapat menjadi

sajian dalam satu media, sehingga konsepnya menjadi pornomedia.7

B. Sejarah Pornografi dan Pornoaksi

Pornografi dan pornoaksi mempunyai sejarah yang panjang. Karya seni yang secara seksual bersifat sugestif dan eksplisit sama tuanya dengan karya seni yang menampilkan

gambar-gambar yang lainnya. Foto-foto yang eksplisit muncul tak lama setelah ditemukannya fotografi. Karya-karya film yang paling tuapun sudah menampilkan gambar-gambar telanjang maupun gambaran lainnya yang secara seksual bersifat eksplisit.

Sementara itu, sejarah munculnya pornografi da pornoaksi ini bermula dari keberadaan seorang perempuan cantik jelita, yang hidup di Negara Yunani yaitu sekitar abad ke-empat sebelum Masehi. Wanita tersebut bernama Phyerne dari Thespie. Ia seorang hitaerai yaitu  perempuan yang hidupnya hanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki.  Hitearai berbeda

5Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme, [Jakarta; ----, 1998], h. 231.

6 Pikiran Rakyat Cyber Media, Kaburnya Batasan Pornografi., htm, Kamis, 01 Mei 2003.

7Burhan Bungin, Pornomedia Kontruksi Sosial Tehnologi Telematika dan Perayaan Seks di Media

Massa, Ibid ., h. 152. Pornoteks yaitu karya pencabulan yang mengangkat cerita berbagai fersi hubungan seksual dalam bentuk narasi, testimonial, atau pengalaman pribadi secara detail dan vulgar, sehingga pembaca merasa ia merasa menyaksikan sendiri, mengalami atau mengalami sendiri peristiwa atau hubungan seks itu.

Penggambaran yang detail secara narasi terhadap hubungan seks itu kemudian menimbulkan terciptanya teatre of mind pembaca, sehingga fantasi seksual pembaca menjadi menggebu-gebu terhadap hubungan seks yang digambarkan tersebut. Pornosuara yaitu tuturan atau kalimat-kalimat yang diucapkan seoarang yang langsung atau tidak langsung bahkan secara halus atau vulgar tentang aktivitas seksual atau obyek sekual.

(11)

dengan porne, yaitu perempuan pelacur yang digunakan dan dibayar setiap hari dan berbeda  pula dengan istri yang dipercayakan untuk memelihara rumah tangga dan keturunan yang

dapat dipercaya.8

 Pheyrne pernah dituduh sebagai perempuan yang mengkorupsi para jejaka Athena. Ketika hukum hendak menjatuhkan hukuman terhadap  Phryne pembela Phryne yang bernama  Hyperdes mengajukan pembelaan dengan cara meminta Phryne berdiri disuatu tempat di

depan sidang dengan posisi yang dapat dilihat oleh semua hadirin.  Phryne menampakkan  pakaiannya satu persatu hingga tubuh indahnya tampak oleh hakim dan seluruh yang hadir 

dan hasilnya Phryne dibebasakan dari tuduhan dan hukuman. Dan pertunjukan Phryne itulah kemudian merupakan awal dari adegan pornografi yang kemudian berkembang menjadi  strip-tease show.

Strip-tease show yang dilakukan oleh seorang Hetaerai tersebut tidak berkaitan dengan  porne yang berarti pelacur. Namun pada perkembangan selanjutnya seperti yang terdapat

dalam Kamus Bahasa Indonesia kata porne yang berasal dari kata porne yang berarti cabul.9

Sedangkan kata pornografi menurut kamus tersebut adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan tujuan untuk membangkitkan nafsu birahi, sedangkan kata  strip-tease menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pertunjukan tarian yang dilakukan oleh perempuan dengan gerakan antara lain dengan menanggalkan pakaiannya satu persatu dihadapan

 penonton, atau dapat juga berarti tarian telanjang.10 Meskipun rumusan strip-tease tersebut

tidak disertakan tujuan tarian telanjang adalah untuk merangsang nafsu birahi seperti halnya dengan rumusan pornografi namun akibat dari stip-tease ini juga sama-sama dapat

membangkitkan nafsu birahi. Berdasarkan pengertian diatas sebenarnya akibat dari  strip-tease dan pornografi sebenarnya tidak berbeda baik yang ditampilkan secara langsung atau melalui media komunikasi yaitu sama-sama membangkitkan nafsu birahi bagi orang yang melihat atau menontonnya. Dalam perkembangan selanjutnya strip-tease baik yang dilakukan secara langsung disebut dengan pornoaksi, sementara strip-tease yang ditampilkan melalui lewat media maka dikatagorikan sebagai pornografi.11

 strip-tease yang dilakkan secara langsung, atau tampa melalui media komunikasi, saat ini bias disebut pornoaksi. Sementara itu jika strip-tease ditampilkan melalui media

dikategorikan sebagai pornografi.

C.

Kreteria dan Batasan Pornografi dan Pornoaksi

Berdasarkan kedudukannya pornografi dan pornoaksi dapat kita tinjau dari dua sudut yaitu pertama; sudut social cultural bahwa ketika membahas mengenai pornografi maka yang harus diperhatikan adalah masalah perbedaan sosio budaya, kurun waktu dan tahapan

kedewasaan etis dari orang-orang secara individual dan seluruh masyarakat. Sementara itu dalam realitasnya terjadi perbedaan yang sangat mencolok antara belahan Barat dan Timur. Perbedaan yang mencolok tersebut antara Barat dan Timur dari segi kehidupan sosial adalah Barat khususnya Benua Eropa mengalami kemajuan yang sangat menonjol. Sementara Timur  masyarakatnya identik dengan memegang teguh tradisi, adat istiadat, dan kultur

masing-masing, terutama yang diwarisi dari para leluhurnya.  Kedua, adalah penilaian yang lebih menyoroti pada aspek etika. Untuk itu perlu adanya kreteria mengenai indah, kreteria baik 

8 Alex A. Rachim, Pornografi Dalam Pers Sebuah Orentasi, [Jakarta; Dewan Pers 1987], h. 10-11. 9 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ibid .,

h. 696.

10Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ibid .,

h. 696.

(12)

yang lebih mencakup pada masalah etis walaupun tekanannya bisa berbeda. Dalam ilmu  penghetahuan tekanan yang benar, dalam arti seni tekanannya pada arti yang indah estetika,

dan dalam bidang etis tekannanya pada yang baik. Penilaian yang bijaksana mengenai masalah seksualitas, kreteria benar dan indah harus diikutsertakan sebagai landasan dasar  untuk menggapai suatu penilaian yang bijaksana. Pengalaman manusia dan kebenaran agama, ilmu pengetahuan dapat sangat membantu manusia dalam membuat penilaian etis yang

 bertanggung-jawab tampa terjebak membuat larangan-larangan moral yang irrasional. Sementara itu berdasarkan tingkatan elsistensi dan pengaruh yang ditimbulkannya secara umum pornografi dan pornoaksi dibedakan menjadi dua yaitu pornografi dan  pornoaksi normal, pornografi dan pornoaksi biasa dan pornografi dan pornoaksi keras

sadistis.12 Secara garis besar perbedaan tersebut lebih mengacu pada pengaruh yang

diakibatakan dua macam katogari pornografi tersebut. Pornografi dan pornoaksi keras dapat merangsang orang bersangkutan untuk sampai melampiaskan dorongan seksualnya secara  brutal kepada orang lain. Pornografi dan pornoaksi ringan umumnya merujuk kepada bahan- bahan yang menampilkan ketelanjangan, adegan-adegan yang secara sugestif bersifat seksual,

atau menirukan adegan seks, sementara pornografi dan pornoaksi berat mengandung gambar-gambar alat kelamin dalam keadaan terangsang dan kegiatan seksual termasuk  penetrasi. Di dalam industrinya sendiri dilakukan klasifikasi lebih jauh secara informal. Pembedaan- pembedaan ini mungkin tampaknya tidak berarti bagi banyak orang, namun definisi hukum

yang tidak pasti dan standar yang berbeda-beda pada penyalur-penyalur yang berbeda pula menyebabkan produser membuat pengambilan gambar dan penyuntingannya dengan cara yang berbeda-beda pula. Mereka pun terlebih dulu mengkonsultasikan film-film mereka dalam versi yang berbeda-beda kepada tim hukum mereka.

Dalam kreteria pornografi dan pornoaksi ada keterkaitan dengan teori yang

dikemukakan oleh Talcott Person melalui konsep sibernetik bahwa ada keterkaitan sistem  budaya, sistem sosial, sistem kepribadian, dan sistem organis.13 Dengan demikian perubahan

 pada nilai atau sistem budaya akan berakibat pada perubahan sistem sosial. Perubahan pada tingkat ini akan berakibat tingkatnya sistem kepribadian dan organisme aksi masyarakat. Melihat pergeseran tersebut terjadi perbedaan yang sangat signifikan antara masyarakat Barat dan masyarkat Timur dalam memandang konsep seks dan pornografi dan pornoaksi.

Menurut Johan Suban sesuatu dinilai porno jika;

  Isolasi seks,14 seksualitas diciutkan pada, hanya alat kelamin genital untuk merangsang

nafsu birahi terlepas dari nilai personal seperti cinta kasih dan kemesraan. Daya-daya seksual yang menyeluruh tidak diceritakan sebagai sarana ungkapan cinta dalam  perkawinan dan cara untuk melanjutkan keturunan dalam keluarga. Seks dilepaskan

dari aspek yang lain seperti aspek psikologis, sosial dan moral.

  Perangsangan nafsu birahi,15 pornografi dan pornoaksi menonjolkan kelamin genital

untuk merangsang nafsu birahi yang brutal dan menunjukkan kelemahlembutan

12Johan Suban Tukau, Etika Seksual dan Perkawinan, Ibid ., h. 75-76.

13Burhan Bungin, Kontruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan Seks Di Media Massa,

[Jakarta; Prenada, 2003], h. 99.

14Johan Suban Tukau, Etika Seksual Dan Perkawinan , Ibid ., h. 76.

15Tim Kajian LBH APIK Jakarta, Tanggapan atas RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi Sebuah

(13)

emosional yang psikis dan seksualitas. Seolah-olah pria dan wanita adalah obyek yang harus dinikmati. Orang lain adalah alat untuk melampiaskan nafsu birahi yang

irasional. Tidak dilihat bahwa dorongan seksual dapat dibudidayakan dan

disumblimasi. Bahwa manusia juga memiliki akal budi, kehendak dan cita-cita yang luhur.

 Tiadanya hormat terhadap lingkungan intim16 , manusia membutuhkan lingkungan

intim, khususnya dalam perkawinan. Hubungan seksual personal yang intim antara suami istri dalam keseluruhan hidup berkeluarga disajikan secara terbuka dalam  pornografi dan pornoaksi tampa hormat sama sekali. Itu berarti perendahan atau  pelecehan nilai suci perkawinan dan keluarga. Pornografi dan pornoaksi tidak 

menghargai privacy dibidang seksualitas manusiawi.

 Membangkitkan dunia khayalan,17 pornografi dan pornoaksi mempertontonkan

gambar telanjang bagi remaja dan kalangan lainnya dengan tujuan tidak menjelaskan secara benar fungsi alat kelamin, tetapi lebih untuk membuat mereka berkhayal, bagi remaja akan menjerumuskan mereka ke dunia fantasi dan bukan pada dunia nyata. Adegan seks dipertontonkan secara berlebihan, sehingga orang akan cenderung melupakan adat mengabaikan nilai persahabatan dan pergaulan.

D.

Media dan Akses Pornografi dan Pornoaksi

Perkembangan media dalam balutan pornografi dan pornoaksi bekembang dengan  pesat. Mencari media kategori 'X' ini bukan pekerjaan sulit. Hampir di setiap sudut kota, di

agen-agen koran, kios, dan berbagai tempat lain, cukup mudah untuk menemukan media kategori ini. Media dengan tema seksualitas memang tumbuh dan berkembang luar biasa. Daya tarik media kategori ini di mata konsumen barangkali terletak pada tampilan gambarnya yang vulgar dan memancing birahi, serta isi pemberitaannya yang berputar pada wilayah seksualitas. Sehingga wajar, bila dibandingkan dengan media lainnya, media jenis 'X' ini sangat laris manis di pasaran. Jika media dengan tema politik, atau sosial, atau tema lain sudah banyak yang gulung tikar, media berlabel 'X' ini ternyata masih berjaya di pasaran.

1. Perkembangan Pornografi dan pornoaksi dalam Bentuk Media

Pornografi dan pornoaksi dapat menggunakan berbagai media — teks tertulis maupun lisan, foto-foto, ukiran, gambar , gambar bergerak termasuk animasi, dan suara seperti

misalnya suara orang yang bernapas tersengal-sengal. Film porno menggabungkan gambar  yang bergerak, teks erotik yang diucapkan dan/atau suara-suara erotik lainnya, sementara majalah seringkali menggabungkan foto dan teks tertulis. Novel dan cerita pendek 

menyajikan teks tertulis, kadang-kadang dengan ilustrasi. Suatu  pertunjukan hidup pun dapat disebut porno.

a. Relief Klasik 

Sementara itu pada manusia telanjang dan aktivitas-aktivitas seksual ditampilkan dalam sejumlah karya seni paleolitik misalnya pada patung Venus, namun tidak jelas apakah

tujuannya adalah membangkitkan rangsangan seksual. Sebaliknya, gambar-gambar itu mungkin mempunyai makna spiritual. Ada sejumlah lukisan porno di tembok-tembok  reruntuhan bangunan Romawi di Pompeii. Salah satu contoh yang menonjol adalah gambar  tentang sebuah bordil yang mengiklankan berbagai pelayanan seksual di dinding di atas

16Johan Suban Tukau, Etika Seksual Dan Perkawinan, Ibid., h. 76. 17Johan Suban Tukau, Etika Seksual Dan Perkawinan Ibid., h. 76.

(14)

masing-masing pintu. Di Pompeii orang pun dapat menjumpai gambaran zakar dan buah zakar yang ditoreh di sisi jalan, menunjukkan jalan ke wilayah pelacuran dan hiburan, untuk  menunjukkan jalan kepada para pengunjung. Para arkeolog di Jerman melaporkan pada April 2005 bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai sebuah gambaran tentang adegan porno yang berusia 7.200 tahun yang melukiskan "seorang laki-laki yang sedang membungkuk di atas seorang perempuan" dalam cara yang memberikan kesan suatu hubungan seksual. Gambaran laki-laki itu kemudian diberi nama " Adonis von Zschernitz".

2. Media Cetak 

Pornografi dan pornoaksi yang diedarkan secara massal sama tuanya dengan mesin cetak sendiri. Hampir bersamaan dengan penemuan fotografi, teknik ini pun digunakan untuk  membuat foto-foto porno. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa pornografi dan

 pornoaksi telah menjadi kekuatan yang mendorong yang mendorong teknologi dari mesin cetak, melalui fotografi foto dan gambar hidup hingga video, TV satelit dan internet. Seruan-seruan untuk mengatur atau melarang teknologi-teknologi ini telah sering menyebutkan  pornografi dan pornoaksi sebagai dasar keprihatinannya.

Buku-buku komik porno yang dikenal sebagai kitab suci Tijuana mulai muncul di AS  pada tahun 1920-an. Pada paruhan kedua abad ke-20, pornografi dan pornoaksi di Amerika

Serikat berkembang dari apa yang disebut "majalah pria" seperti Playboy dan Modern Man  pada 1950-an. Majalah-majalah ini menampilkan perempuan yang telanjang atau setengah

telanjang perempuan, kadang-kadang seolah-olah sedang melakukan masturbasi, meskipun alat kelamin mereka ataupun bagian-bagiannya tidak benar-benar diperlihatkan. Namun pada akhir 1960-an, majalah-majalah ini, yang pada masa itu juga termasuk majalah  Penthouse, mulai menampilkan gambar-gambar yang lebih eksplisit, dan pada akhirnya pada 1990-an, menampilkan penetrasi seksual, lesbianisme dan homoseksualitas, seks kelompok,

masturbasi, dan fetishes.

3

. Audio Visual Film

Film-film porno juga hampir sama usianya dengan media itu sendiri. Menurut buku Patrick  Robertson, Film Facts, "film porno yang paling awal, yang dapat diketahui tanggal

 pembuatannya adalah  A L'Ecu d'Or ou la bonne auberge", yang dibuat di Prancis pada 1908. Jalan ceritanya menggambarkan seorang tentara yang kelelahan yang menjalin hubungan dengan seorang perempuan pelayan di sebuah penginapan.  El Satario dari Argentina mungkin malah lebih tua lagi. Film ini kemungkinan dibuat antara 1907 dan 1912. Robertson mencatat  bahwa "film-film porno tertua yang masih ada tersimpan dalam Kinsey Collection di

Amerika. Sebuah film menunjukkan bagaimana konvensi-konvensi porno mula-mula

ditetapkan. Film Jerman Am Abend sekitar 1910 adalah, demikian tulis Robertson, "sebuah film pendek sepuluh menit yang dimulai dengan seorang perempuan yang memuaskan dirinya sendiri di kamarnya dan kemudian beralih dengan menampilkan dirinya sedang berhubungan seks dengan seorang laki-laki, melakukan fellatio dan penetrasi anal." Robertson, hlm. 66

Banyak film porno seperti itu yang dibuat dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, namun karena sifat pembuatannya dan distribusinya yang biasanya sembunyi-sembunyi,

keterangan dari film-film seperti itu seringkali sulit diperoleh.18 Sementara itu, pornografi dan

18 Mona [juga dikenal sebagai Mona the Virgin Nymph], sebuah film 59-menit 1970

umumnya diakui sebagai film porno pertama yang eksplisit dan mempunyai plot, yang diedarkan di bioskop-bioskop di AS. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm, yang kemudian membuat film porno berat (atau ringan, tergantung versi yang diedarkan],

(15)

 pornoaksi, pornoaksi, dunia Sex telah menjadi bahan pembicaraan dan sudah ada selama  bertahun-tahun lalu. Siapakah yg mem-populerkan hal ini, lalu siapa pula yg mulai

menyebarkanya dan membuat pornografi dan pornoaksi menjadi komersil dan bahkan ditentang seperti sekarang?

Ide tentang penyebaran pornografi dan pornoaksi dimulai dari banyak hal. Seperti Majalah, Film Porno, dll. Internet telah membuka mata dunia dan menjadikannya dunia tanpa  batas yang bisa dijangkau dengan mudah. Siapa pula yang pertama kali membuat situs xxx

dewasa? Siapa pula yang memulai membayar dan menjadikan pornografi dan pornoaksi ini ajang bisnis luar biasa.

Keterangan dan beberapa catatan berikut mungkin untuk melihat sejarah pornografi dan pornoaksi yang ada di dunia, meski kita semua tahu bahwa Manusia pasti tak luput dari Dunia Sex sejak jaman Adam dan Hawa. Sejak jaman Video Betamax sampai Internet tanpa  batas ini.

Berikut ini adalah catatan sejarah singkat pornografi dan pornoaksi yg dimulai pada abad pertama sebelum Masehi:

 Abad pertama sebelum masehi - Kama Sutra diciptakan  1440 - Surat Kabar Gutenberg ditemukan

 1928 - Dr. Ruth lahir.

 1953 - Hugh Hefner memulai majalah Playboy  1965 - Bob Guccione membuat Penthouse  1968 - Al Goldstein mendirikan Screw

 1969- Film mainstream pertama kali menampilkan gaya Swinger pertukaran pasangan

- Bob & Carol & Ted & Alice, yg disutradarai oleh Paul Mazursky

 1970 - Penthouse memperkenalkan ke publik untuk pertama kali.  1970 - Catatan Film Porno - Cycle Studs - Le Salon Gay

 1971 - Catatan Film Porno - The Boys in the Sand - Wakefield Poole Gay  1971 - Kondom pertama kali muncul dalam sebuah film - Carnal Knowledge,

disutradarai oleh Mike Nichols

 1972 - Film Porno tercatat - Deep Throat - Gerard Damiano Straight

 1972 - Film Porno tercatat - Behind the Green Door - The Mitchell Brothers Straight  1972 - Film Porno tercatat - Fritz the Cat - Ralph Bakshi Anime

dengan anggaran yang relatif tinggi, yaitu film Flesh Gordon. Film tahun 1971 The Boys in the Sand dapat disebutkan sebagai yang "pertama" dalam sejumlah hal yang menyangkut  pornografi. Film ini umumnya dianggap sebagai film pertama yang menggambarkan adegan  porno homoseksual. Film ini juga merupakan film porno pertama yang mencantumkan

nama-nama pemain dan krunya di layar (meskipun umumnya menggunakan nama-nama samaran). Ini  juga film porno pertama yang membuat parodi terhadap judul film biasa [judul film ini The  Boys in the Band ]. Dan ini adalah film porno kelas X pertama yang dibuat tinjauannya oleh  New York Time

(16)

 1974 - Larry Flynt starts Hustler.  1975 - Betamax Video diperkenalkan

 1975 - Iklan Kondom pertama kali tampil di TV  1976 - VHS Video diperkenalkan

 1981 - HIV/AIDS menjadi topik hangat

 1983 - Name server Domain Host dikembangkan di University of Wisconsin

 1984 - Majalah Penthouse menampilkan gambar Vanessa Williams telanjang. Dia lalu

mundur dari Miss Amerika.

 1984 - Domain Name Systems DNS diperkenalkan

 1985 - Symbolics.com adalah domain yang pertama kali didaftarkan

 1985 - Domain yang bisa didaftarkan pada mulanya - cmu.edu, purdue.edu, rice.edu,

 berkeley.edu, ucla.edu, rutgers.edu, bbn.com, mit.edu, think.com, css.gov, mitre.org

 1986 - Pengacara Amerika Jendral Edwin Meese publish 1,960 halaman reportase dan

interogasi pornografi dan pornoaksi atas perintah President Ronald Reagan.

 1990 - Ikln komersial pertama tentang provider Internet dial-up - world.std.com  1992 - Arti dari “Surfing the Internet” pertama kali kita dengar browsing

 1993 - World Wide Web www tercipta

 1994 - Sex.com didaftarkan oleh Gary Kremen

 1995 - Konfirmasi pertama blowjob di White House.  1995 - Sex.com dicuri oleh Stephen Cohen

 1996 - Domain name tv.com dijual seharga $15,000  1997 - DVD diperkenalkan

 1997 - Domain name business.com dijual $150,000

 1997 - Pamela Anderson dan Tommy Lee video porno bocor   1998 - Viagra diperkenalkan

 1998 - Al Goldstein memasang “Fuck You Finger” jari tengah dihalaman belakang

rumahnya di Florida.

 1999 - Domain name business.com dijual $7,500,000

 2000 - Sex.com dikembalikan ke Gary Kremen setelah melalui proses hukum.  2000 - AEBN meluncurkan situs VOD Video On Demand - Video atas permintaan  2000 - American Express menghentikan transaksi pornografi dan pornoaksi

 2001 - Yahoo membuang iklan pornografi dan pornoaksi dari mesin pencarinya  2003 - Paypal menolak transaksi dewasa

 2003 - Penthouse bangkrut

 2005 - Pencuri Sex.com, Stephen Cohen ditahan  2005 - Video iPod diperkenalkan

(17)

 2006 - Sex.com dijual $12,000,000

 2006 - Google berurusan dengan pengadilan gara-gara hasil pencarian porno19

Oleh karena itu, besarnya pengaruh media massa menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini. Media massa dalam berbagai bentuknya,

merupakan pilar keempat dalam proses pendidikan. Kehadirannya telah membentuk perilaku, sikap, dan pola pikir anak didik. Inilah yang belakangan dikenal sebagai hidden curriculum kurikulum yang tersembunyi, yakni beragam bentuk media yang mempengaruhi berjalannya  proses pendidikan dan perkembangan psikologis anak didik.

Ada beberapa paham yang ikut serta dalam media-media yang ditonton oleh anak-anak, yaitu paganisme, hedonisme, brutalisme, dan pornografi dan pornoaksi. Paham-paham tersebut secara nyata berbahaya terhadap berjalannya pendidikan dan pengajaran di sekolah, karena adanya nilai-nilai yang saling bertubrukan. Dari sini jelas betapa berbahayanya

 pornografi dan pornoaksi di tinjau dari dimensi pendidikan.

Perkembangan pesat pornografi dan pornoaksi terjadi seiring reformasi. Kalau kita cermati, media-media berkategori 'X' tersebut sebenarnya sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah media. Selain penuh dengan gambar-gambar seronok dan merangsang, isi tulisannya  pun jauh dari kaidah-kaidah jurnalistik. Apa yang dipaparkan tidak lebih dari cerita-cerita  perangsang nafsu seksual.

Kehadiran media-media semacam ini telah memberikan dampak destruktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, terutama di kalangan anak-anak. Merebaknya kasus-kasus amoral sebagian besar dipengaruhi oleh media bernuansa pornografi dan pornoaksi. Protes terhadap persoalan pornografi dan pornoaksi sebenarnya sudah banyak disuarakan oleh  berbagai elemen masyarakat. Namun sayang, tidak banyak tindakan nyata yang dilakukan

oleh pemerintah. Bahkan, setiap kali protes dilakukan, yang berkembang justru perdebatan antara moralitas, seni, dan kebebasan. Mereka yang bergerak dalam industri media semacam ini tampaknya kurang menyadari bahwa produk pers memiliki tangung jawab sosial. Ketika ekspose produk pers telah melampaui batas moralitas, maka kita harus melakukan tindakan secara nyata untuk menggugat dan mencegahnya. Karena media memiliki pengaruh secara signifikan terhadap realitas sosial.

Dampak dari kehadiran media bisa berwujud dampak kognitif dan dampak emosional. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, sedangkan dampak emosional berhubungan dengan perasaan. Dampak kognitif juga mencakup aspek niat, tekad, upaya, dan usaha yang  berkecenderungan untuk diwujudkan menjadi kegiatan. Jika pengaruh negatif berdampak   pada taraf kognitif dari kesadaran masyarakat, maka pada titik inilah perilaku dan moralitas  permisif akan semakin meluas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

4. Video: Betamax, VHS, DVD, dan Format-Format Masa Depan

Selama sejarahnya, kamera film juga telah digunakan untuk membuat pornografi dan  pornoaksi, dan dengan munculnya  perekam kaset video rumahan, industri film porno pun

mengalami perkembangan besar-besaran dan melahirkan bintang-bintang "film dewasa"

seperti Ginger Lynn, Christy Canyon, dan Traci Lords belakangan diketahui usianya di bawah usia legal, yaitu 18 tahun, pada saat membuat sebagian besar dari film-filmnya. Orang kini

(18)

dapat menonton film porno dengan leluasa dalam privasi rumahnya sendiri, ditambah dengan  pilihan yang lebih banyak untuk memuaskan fantasi dan fetishnya.

Ditambah dengan hadirnya kamera video yang murah, orang kini mempunyai sarana untuk membuat filmnya sendiri, untuk dinikmati sendiri atau bahkan untuk dijual dan

memperoleh keuntungan.

Ada yang berpendapat bahwa Sony Betamax kalah dalam perang format dari VHS dalam menjadi sistem rekam/tonton video di rumah karena industri video film biru memilih VHS ketimbang sistem Sony yang secara teknis lebih unggul. Upaya-upaya inovasi lainnya muncul dalam bentuk video interaktif yang memungkinkan pengguna memilih variabel-variabel seperti sudut kamera berganda, penutup berganda mis. "Devil in the Flesh", 1999, dan isi DVD untuk komputer saja.

Para produsen film erotik diramalkan akan memainkan peranan penting dalam menentukan standar DVD yang akan dating. Kelengkapan outfit yang besar cenderung

mendukung Cakram cahaya biru yang memiliki kapasitas tinggi, sementara kelengkapan yang kecil umumnya lebih mendukung HD-DVD yang tidak begitu mahal. Menurut sebuah artikel Reuter 2004 "Industri bermilyar-milyar dolar ini menerbitkan sekitar 11.000 judul dalam  bentuk DVD setiap tahunnya, memberikannya kekuatan yang sangat besar untuk 

mempengaruhi pertempuran antara kedua kelompok studio dan perusahaan teknologi yang saling bersaing untuk menetapkan standar untuk generasi berikutnya" 5.

Sementara itu banyak juga, sejumlah pornografi dan pornoaksi dihasilkan melalui manipulasi digital dalam program-program editor gambar seperti Adobe Photoshop. Praktik  ini dilakukan dengan membuat perubahan-perubahan kecil terhadap foto-foto untuk 

memperbiaki penampilan para modelnya, seperti misalnya menyingkirkan cacat pada kulit, memperbaiki cahaya dan kontras fotonya, hingga perubahan-perubahan besar dalam bentuk  membuat photomorph dari makhluk-makhluk yang tidak pernah ada seperti misalnya gadis kucing atau gambar-gambar dari para selebriti yang bahkan mungkin tidak pernah

memberikan persetujuannya untuk ditampilkan menjadi film porno.

Manipulasi digital membutuhkan foto-foto sumber, tetapi sejumlah pornografi dan  pornoaksi dihasilkan tanpa aktor manusia sama sekali. Gagasan tentang pornografi dan  pornoaksi yang sepenuhnya dihasilkan oleh komputer sudah dipikirkan sejak dini sebagai

salah satu daerah aplikasi yang paling jelas untuk grafik komputer dan pembuatan gambar tiga dimensi.

Pembuatan gambar-gambar lewat komputer yang sangat realistik menciptakan dilema-dilema etika baru. Ketika gambar-gambar khayal tentang penyiksaan atau pemerkosaan

disebarkan secara luas, para penegak hukum menghadapi kesulitan-kesulitan tambahan untuk  menuntut gambar-gambar otentik yang menampilkan perbuatan kriminal, karena

kemungkinan gambar-gambar itu hanyalah gambar sintetik. Keberadaan foto-foto porno palsu dari para selebriti memperlihatkan kemungkinan untuk menggunakan gambar-gambar palsu untuk melakukan pemerasan atau mempermalukan siapapun yang difoto atau difilmkan, meskipun ketika kasus-kasus itu menjadi semakin lazim, pengaruhnya kemungkinan akan  berkurang. Akhirnya, generasi gambar-gambar yang sama sekali bersifat sintetik, yang tidak 

merekam peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya, menantang kritik-kritik konvensional terhadap pornografi dan pornoaksi.

(19)

Hingga akhir 1990-an pornografi dan pornoaksi yang dihasilkan melalui manipulasi digital belum dapat dihasilkan dengan murah. Pada awal 2000-an kegiatan ini semakin  berkembang, ketika perangkat lunak untuk pembuatan model dan animasi semakin maju dan

menghasilkan kemampuan-kemampuan yang semakin tinggi pada komputer. Pada tahun

2004, pornografi dan pornoaksi yang dihasilkan lewat komputer gambarnya melibatkan anak-anak dan hubungan seks dengan tokoh fiksi seperti misalnya Lara Croft sudah dihasilkan pada tingkat yang terbatas. Terbitan Playboy pada Oktober 2004 menampilkan foto-foto telanjang dada dari tokoh permainan video BloodRayne.

5. Internet

Dengan munculnya internet, pornografi dan pornoaksi pun semakin mudah didapat. Sebagian dari pengusaha wiraswasta internet yang paling berhasil adalah mereka yang

mengoperasikan situs-situs porno di internet. Demikian pula foto-foto konvensional ataupun video porno, sebagian situs hiburan permainan video "interaktif". Karena sifatnya

internasional, internet memberikan sarana yang mudah kepada konsumen yang tinggal di negara-negara di mana keberadaan pornografi dan pornoaksi dilarang sama sekali oleh hukum, atau setidak-tidaknya mereka yang tidak perlu memperlihatkan bukti usia, dapat dengan mudah mendapatkan bahan-bahan seperti itu dari negara-negara lain di mana

 pornografi dan pornoaksi legal atau tidak mengakibatkan tuntutan hukum. Lihat  pornografi dan pornoaksi internet.

Biaya yang murah dalam penggandaan dan penyebaran data digital meningkatkan terbentuknya kalangan pribadi orang-orang yang tukar-menukar pornografi dan pornoaksi. Dengan munculnya aplikasi berbagi file peer-to-peer seperti Kazaa, tukar-menukar pornografi dan pornoaksi telah mencapai rekor yang baru. Pornografi dan pornoaksi gratis tersedia secara  besar-besaran dari para pengguna lainnya dan tidak lagi terbatas pada kelompok-kelompok   pribadi. Pornografi dan pornoaksi gratis dalam jumlah besar di internet juga disebarkan

dengan tujuan-tujuan pemasaran, untuk menggalakkan para pelanggan yang membeli program  bayaran.

Sejak akhir tahun 1990-an, "porno dari masyarakat untuk masyarakat" tampaknya telah menjadi kecenderungan baru. Kamera digital yang murah, perangkat lunak yang kian  berdaya dan mudah digunakan, serta akses yang mudah ke sumber-sumber bahan porno telah

memungkinkan pribadi-pribadi untuk membuat dan menyebarkan bahan-bahan porno yang dibuat sendiri atau dimodifikasi dengan biaya yang sangat murah dan bahkan gratis. []

(20)

BAGIAN KE-DUA

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI PERPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Teks Al-Qur'an

Islam memberikan definisi yang jelas dan tidak mengambang tentang pornografi dan  pornoaksi. Berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi, laki-laki dan perempuan dalam agama

Islam terdapat aturan tentang cara berpakaian dan kode tingkah laku yang Islami, yang secara umum berlandasakan pada surah al-Nûr ayat 30-31 dan al-Ahzâb 59 yaitu;

كلذنهبياج

نمنهي 

عني 

دنيمؤل

ءاسوكتا 

وكجوزألق‚بلاه‚ا 

ايحررفغلا 

ون 

ذؤان

ى

59

"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak  diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang." 20

 An Nûr 30-31

لإهل ى

ز

كلذهجوظف 

وراصنم‚ض

نيمؤلق

ص

ا›يبخ

30

م امو

نهئاسو

نهتخو

نهخإو

ى عوهظ

لنلف¡طلو

اج¡ل

نمةرللوي

غنيالونها

لىلإت

ونه 

زنمنيف 

اميلنهجرأنض 

الوءاس¡لرع

فتل 

مؤلاه‚

ايج

31

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,

kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain

(21)

kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau  putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera  saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau

wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang  tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti

tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui

 perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. " 21

Dari ayat diatas terlihat dengan jelas bahwa Islam menghubungkan prilaku sosiomoral, ruang sakral dan ajaran tentang pakaian.22 Dua poin yang dapat diambil dari teks diatas

adalah: Pertama, konsep ghadhdh al-bashâr  menundukkan pandangan dan hifzh al-furûj menjaga atau menutupi organ genital merupakan sesuatu yang sentral dalam kode tersebut .  Kedua, laki-laki disebut terlebih dahulu agar mematuhi perintah-perintah ini yaitu

mengendalikan tatapan mereka pada wanita dan menekan hasrat mereka pada saat berinteraksi dengan wanita yang bukan muhrimnya. Selanjutnya dalam teks tersebut juga memerintahkan hal yang sama pada wanita untuk menundukkan pandangan mereka dan menyembunyikan genital mereka.

Dalam ayat tersebut signifikasi ajaran khusus yang disampaikan dalam teks diatas terdapat pada konteks rasionalnya yang ditunjukkan pada laki-laki dan perempuan. Dimana dalam hal ini konsep seksualitas merupakan suatu aspek yang normatif baik dalam kehidupan  biasa dan dalam kehidupan religius.23 Disitu dengan jelas tidak kontradiksi antara menjadi

makhluk religius sekaligus menjadi makhluk sosial. Atau dalam pengertian lain

mengakomodasi dua kualitas manusia yaitu secara seksualitas dan religius sebagai suatu yang normatif sementara disisi lain berusaha untuk memenuhi ideal tertinggi dari prilaku

sesiomoral.24

Aspek lainnya dalam ayat diatas adalah berkaitan dengan konteks heteroseksualitas,  privasi, dan erotisme. Dalam ayat tersebut memerintahkan agar wanita untuk tidak 

menampakkan kecantikan dan perhiasan mereka, kecuali dengan orang-orang yang telah sah untuk berhubungan seksual dengannya suami, atau pada orang yang dilarang untuk itu famili yang telah ditentukan, atau yang tidak mungkin untuk itu.

21 An Nûr; 30-1

22Al-Qur'an paling tidak menggunakan tiga istilah untuk pakaian yaitu libâs, tsiyâb, dan sarabîl . Kata

libâs ditemukan sebanyak sepuluh kali, tsiyâb ditemukan sebanyak delapan kali, sedangkan sarabîl ditemukan sebanyak tiga kali dalam dua ayat. Kata libâs merujuk pada fungsi pakaian sebagai penutup. Sementara itu kata-kata tsiyâb ide dasar adanya pakaian adalah untuk dipakai, yang terdapat dalam diri manusia yaitu tertutupnya aurata. Lihat. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an; Tafsir Maudhu'i atas Palbagai Persoalan Umat , [Bandung; Mizan, 2000], h. 155-156.

23Fedwa El Guindi, Jilbab; Antara Kesalehan, Kesopanan Dan Perlawanan, [Jakarta; Serambi Ilmu

Semesta, 2003], h. 221.

(22)

Terkait hal tersebut kata-kata jilbab25 diatas merujuk pada pakaian yang panjang dan

longgar. Yaitu pakaian yang tidak menonjolkan bentuk lekuk tubuh dari si pemakai. Dan pada  perkembangan selanjutnya,  jilbab ini kemudian memiliki posisi yang penting yaitu sebagai

simbul identitas sekaligus resistensi.26Sementara itu istilah jilbab diterjemahkan untuk wanita

muslimah di Indonesia lebih umum digunakan untuk corak pakaian Islam tertentu, walaupun maknanya tidak konsisten ada yang mengatakan sebagai tutup kepala .27Brenner menemukan

 bahwa " pakaian ini sudah umum diketahui sebagai corak baru pakaian Islam yang di Impor  dari Timur Tengah dan dikenakan oleh wanita muda sebagai kebalikan dari pakaian

tradisional sarung, kebaya, dan selendang kepala longgar yang dipakai oleh wanita tua di  Indonesia" .28

Hal yang terpenting dalam menyoroti tentang pornografi dan pornoaksi dan menjadi intinya dalam dunia Islam adalah mengenai konsep aurat . Dan inilah yang kemudian menjadi titi sentral dalam pembahasan tentang pornografi dan pornoaksi dalam perspektif Islam. Aurat   berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti celah, kekurangan, sesuatu yang

memalukan atau sesuatu yang dipandang buruk dari anggota tubuh manusia dan yang membuat malu jika dipandang.29Dalam al-Qur'an lafal aurat disebut empat kali, dua kali

dalam bentuk tunggal mufrad dan dua kali dalam bentuk plural jama'. Bentuk tunggal disebut dalam surah QS. al-Ahzâb 13;

بلهم›

ذأ 

سوجرالام الث

اهم

›ةفئا

لاقذإو

رالإو

دإ

¯رامو

›ر 

عاتيإل 

13

" Dan ingatlah ketika segolongan di antara mereka berkata : "Hai penduduk Yatsrib Madinah, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi untuk kembali pulang dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka tidak ada penjaga". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak  terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari ." 30

Dan dalam bentuk jamak disebut dalam surat QS. an-Nûr 31 dan 58;

25Kata "jilbab" yang secara leksikal diartikan sebagai "penutup" dalam arti menutupi" atau

menyembunyikan atau menyamarkan. Sebagai kata benda, kata ini digunakan untuk empat ungkapan, Pertama, kain panjang yang dipakai wanita untuk menutup kepala, bahu dan kadang-kadang muka; Kedua, rajutan

 panjang yang ditempelkan pada topi atau tutup kepala wanita, yang dipakai untuk memperindah atau untuk  menutupi kepala; Ketiga, bagian tutup kepala yang melingkari wajah terus sampai kebahu, Keempat , secarik  testil tipis yang digantung untuk memisahkan atau menyembunyikan sesuatu yang ada di baliknya; sebuah gorden.

26Echols dan Shadily, Kamus Indonesia-Inggris, Cet II, [Jakarta; Gramedia Pustaka, 1994], h. 692. 27Lih. Kamus Indonesia Ingrris, [Cet ke-3], ed Echols dan Shadily, 1988, h. 24.

28Brenner, Suzanne, Reconstructing Self and Society, Javanese Muslim Women and "The Veil",

[Amirican Ethnologis, 1996], h. 97.

29Muhammad bin Abi Bakar ar-Râzi, Muhtar ash-shilhah, [Homes, Al-Irsyad, 1989], h. 345, Lihat pula

Ibrahim Anis dkk, Al-Mu'jam al Wasith, Juz II, h. 636.

(23)

030. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan  pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi

mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". 031. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan

 pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan  perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka

menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau  putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka,

atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui  perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai

orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung Surat QS. Nûr ayat 58;

مل

بل

نلوام

نل 

ذأسيلمءن 

لاه‚ا 

دنم

ويهظل

نماي

ضتنيح

وفلا

بقنم¯م

ا 



ند 

›اجهي 

عالوي 

عيلل¯رعا

ءاشلا 

يح›ي 

علواآلللن¡يب 

كل ¯ 

ىعض

يع

58

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak lelaki dan wanita yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali dalam satu hari yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan

(24)

kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu ada keperluan kepada sebahagian yang lain. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu ada keperluan kepada sebahagian yang lain.  Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi  Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi

Maha Bijaksana."  Maha Bijaksana." 3131

Kata

Kata aurat aurat dalam surah al-Ahzâb ayat 13dalam surah al-Ahzâb ayat 133232 diartikan oleh mayoritas ulama' tafsir dengandiartikan oleh mayoritas ulama' tafsir dengan

celah yang terbuka terhadap musuh, atau celah yang memungkinkan orang lain untuk  celah yang terbuka terhadap musuh, atau celah yang memungkinkan orang lain untuk  menyerang.

menyerang.3333 SedangkanSedangkan aurat aurat dalam surah an-Nûr 31 dan dalam surah an-Nûr 31 dan 58 diartikan sebagai sesuatu58 diartikan sebagai sesuatu

anggota tubuh manusia yang membuat malu jika dipandang, atau dipandang buruk untuk  anggota tubuh manusia yang membuat malu jika dipandang, atau dipandang buruk untuk  diperlihatkan.

diperlihatkan.3434

Untuk itu syariat Islam

Untuk itu syariat Islam mewajibkan perempuamewajibkan perempuan agar menutupn agar menutup aurat aurat al-sitr al-sitr dan melarangdan melarang al-tabarruj

al-tabarruj dan memperlihatakan perhisan didepan laki-laki dan memperlihatakan perhisan didepan laki-laki yang bukan muihrim.yang bukan muihrim. Sebagaimana menutup

Sebagaimana menutup aurat aurat merupakan kuawajiban yang di khususkan bagi merupakan kuawajiban yang di khususkan bagi perempuan,perempuan, maka juga dijadikan prilaku

maka juga dijadikan prilaku menundukkan pandamenundukkan pandangan sebagai tanggung jawab kolektif ngan sebagai tanggung jawab kolektif  diantara perempuan dan laki-laki. Namun tanggung jawab laki-laki dalam menutup

diantara perempuan dan laki-laki. Namun tanggung jawab laki-laki dalam menutup aurat aurat  lebih kecil daripada tanggung jawab perempuan. Sementara itu tanggung jawab laki-laki lebih kecil daripada tanggung jawab perempuan. Sementara itu tanggung jawab laki-laki dalam menundukkan pandangan lebih besar daripada tanggung jawab perempuan.

dalam menundukkan pandangan lebih besar daripada tanggung jawab perempuan. Manusia sebagaimana dibuktikan oleh fakta sejarah, terlebih

Manusia sebagaimana dibuktikan oleh fakta sejarah, terlebih dahulu untuk mencaridahulu untuk mencari  pakaian untuk menutup

 pakaian untuk menutup aurat aurat dan tubuh. Kemudian ia mengambil peralatan untuk berhiasdan tubuh. Kemudian ia mengambil peralatan untuk berhias setelah melampoi masa yang

setelah melampoi masa yang panjang dalam peradabannypanjang dalam peradabannya ta terutama di lingkungan masyarakaterutama di lingkungan masyarakat moderen-matrealistik yang mengarahkan pakaian perempuan pada tujuan lain

moderen-matrealistik yang mengarahkan pakaian perempuan pada tujuan lain hinggahingga menjadikan senjata yang dapat

menjadikan senjata yang dapat merobohkan pagar-pagar kehidupan dan kesopanan.merobohkan pagar-pagar kehidupan dan kesopanan. Berpakaian memiliki dua fungsi dalam kehidupan manusia yaitu, menutup

Berpakaian memiliki dua fungsi dalam kehidupan manusia yaitu, menutup aurat aurat dandan sebagai perhiasan. Al-Qur'an telah menunjukkan arti

sebagai perhiasan. Al-Qur'an telah menunjukkan arti penting dalam berpakaian dalampenting dalam berpakaian dalam mewujudkan dua fungsi tersebut. Hal itu dapat

mewujudkan dua fungsi tersebut. Hal itu dapat kita temukan dalam teks surah QS. kita temukan dalam teks surah QS. Thahâ ayatThahâ ayat 118;

118;

إإ





تتااللووااههيي

 

تتاالل

 

ك

كلل



إإ

""Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang" Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang" ..3535

Menutup

Menutup aurat aurat dan memperlihatkandan memperlihatkan aurat aurat memilki sisi memilki sisi psikologis yang mempengaruhipsikologis yang mempengaruhi kepribadian laki-laki yang memandang dan

kepribadian laki-laki yang memandang dan perempuan yang dipandang. Dengan menutupperempuan yang dipandang. Dengan menutup aurat 

aurat dapat menumbuhkan kondisi yang dapat menumbuhkan kondisi yang harmonis keselarasan diantara aspek-aspek harmonis keselarasan diantara aspek-aspek  kepribadian. Sementara itu,

kepribadian. Sementara itu, al-tabrrujal-tabrruj adalah keadaan yang disertai berbagai gejala adalah keadaan yang disertai berbagai gejala prilakuprilaku yang neurosis

yang neurosis al-sulûk al'ishãbî al-sulûk al'ishãbî ..3636

Sementara itu menutup t

Sementara itu menutup tubuh perempuan Muslim bukan hanya merupakan gerakanubuh perempuan Muslim bukan hanya merupakan gerakan eksoteris yang tidak bermakna. Melainkan, pada hakikatnya adalah simbul kecintaan batin eksoteris yang tidak bermakna. Melainkan, pada hakikatnya adalah simbul kecintaan batin

31

31QS. Nûr ayat; 58QS. Nûr ayat; 58 32

32Ayat tersebut berbicara mengenai beberapa orang yang enggan meninggalkan tempat tinggal untuk Ayat tersebut berbicara mengenai beberapa orang yang enggan meninggalkan tempat tinggal untuk 

 berperang, karena merasa tempat tinggalmereka tidak

 berperang, karena merasa tempat tinggalmereka tidak aman untuk ditinggalkan. Kata mereka aman untuk ditinggalkan. Kata mereka adalah celah [aurat]adalah celah [aurat] yang memungkinkan musuh untuk menyerang orang-orang yang tinggal ditempat itu, sehingga mereka untuk  yang memungkinkan musuh untuk menyerang orang-orang yang tinggal ditempat itu, sehingga mereka untuk  tinggal disitu untuk menjaga celah tersebut, sehingga mereka perlu tinggal disitu untuk menjaga celah itu dan tinggal disitu untuk menjaga celah tersebut, sehingga mereka perlu tinggal disitu untuk menjaga celah itu dan tidak perlu pergi berperang.

tidak perlu pergi berperang.

33

33Al-Quthubi,Al-Quthubi, Al-Jami'li-ahkâm al-Qur'ân Al-Jami'li-ahkâm al-Qur'ân, [Bairut; Dar al-Kutub al-"Ilmiyah, 1993], Juz XIV, h. 97-98., [Bairut; Dar al-Kutub al-"Ilmiyah, 1993], Juz XIV, h. 97-98. 34

34Lihat, Al-Quthubi,Lihat, Al-Quthubi, Al-Jami'li-ahkâm al-Qur'ân Al-Jami'li-ahkâm al-Qur'ân, Juz XII, h. 157 dan 201., Juz XII, h. 157 dan 201. 35

35QS. Thahâ ayat 118QS. Thahâ ayat 118 36

36Yusuf Madan,Yusuf Madan, Sex Edication Teens; Pendidikan Sex Remaja Dalam IslamSex Edication Teens; Pendidikan Sex Remaja Dalam Islam, [Jakarta; Hikmah, 2004], h., [Jakarta; Hikmah, 2004], h.

103. 103.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

c) generic teaching institutions, which will offer quality undergraduate education in a wide range of subjects to prepare students to meet unpredictable regional needs,

Rumah singgah Rumah Kasih Serambi Salomo melalui Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) menjangkau anak-anak jalanan dengan ekonomi lemah atau keluarga tidak

Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan sumber protein yang disebut juga asam amino

Dalam drama karya Shakespeare, peran Juliet merupakan peran yang menjadi pusat perhatian penonton dalam suatu kisah yang disebut dengan..... Apresiasi berasal dari bahasa

perilaku atau tindakan yang terjadi dalam masyarakat tidak sesuai dengan norma-.. norma masyarakat tersebut, maka ia

Temuan Simon tentang impilikasi-implikasi kompleksitas teknologi dalam batch kecil adalah tentang adanya pengurangan biaya tenaga kerja ketika tehnologi makin