A. Dasar Hukum Islam
Hukum Islam merupakan sistem hukum yang dinilai penting di dunia selain sistem hukum Romawi Jerman, sistem hukum sosialis dan common law di dunia. Menurut David62
jika urgensitas ketiga sistem terakhir lebih disebabkan oleh perkembangannya yang pesat dan sekaligus pengaruhnya yang signifikan terhadap perkembangan peradaban Barat, namun hukum Islam lebih dilatarbelakangi oleh kaitannya yang amat erat dengan agama semit di samping oleh sumber-sumber hukumnya yang orisinil.
59Roland Robertson, ed., Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis terj. dari Sociology of Religion oleh Ahmad Fedyani Saifuddin, [ Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995], h. 9
60W. Mongomery Watt, Islamic Political Thought , [Edindurgh: Edinburgh University, 1987], h. 51
61Hans Kung, Theology of The Third Millenium, [New York: Doubleday, 1988]
Islam menurut Lewis63 memiliki dua pengertian yang saling berhubungan, namun dalam beberapa kasus justeru menghasilkan serangkaian paradoks yang pada akhirnya mengaburkan makna Islam itu sendiri. Dalam satu pengertian, Islam menunjukkan sebuah agama, sistem keyakinan, ibadah, pemikiran dan etika, dan dalam pengertian lain Islam berarti peradaban yang tumbuh dan berkembang di bawah pengawasan agama Islam [Islam
secara sejarah].
Dalam suatu ceramahnya, Lewis64 memaparkan lebih lanjut, bahwa Islam mempunyai tiga persepsi, pertama, Islam sebagai konsep terwujud dalam al-Qur’an dan Sunnah, karena itu Islam secara konsepsional dinilai sebagai yang tidak berubah, kedua, Islam sebagai yang disistematisasikan melalui interpretasi oleh para ulama berdasarkan konteks sosial budaya masyarakat, dan atas dasar itu interpretasi Islam selalu berkembang dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, dan ketiga, Islam sebagai Islam sejarah yang diimplementasi dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat, hukum, negara dan kebudayaan.
Islam as such sebagai sistem kepercayaan, dengan demikian, merupakan agama Tuhan yang bersifat transenden, abadi, samawi dan mutlak. Sakralitas Islam disebabkan oleh transendensitas sumber-sumber agama yang berbasis wahyu divinitas al-Qur’an dan Sunnah [revealed religion] dan yang tidak dapat diamandemen. Kendati demikian, sakralitas Islam tersebut tidak lantas menjadikan Islam sebagai agama yang tidak berdimensi sosial, karena Islam merupakan agama yang disampaikan oleh [Nabi] Muhammad dan untuk umat manusia.
Wahyu dari Allah sebagaimana yang tersurat dalam al-Qur’an dan Sunnah selalu bersinggungan dengan berbagai aspek sosial, seperti toleransi, pendidikan dan lain-lain.
Konsepsi al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman manusia untuk mencapai kesalehan individual dan sosial dipastikan selalu bersinergi dengan realitas sosial.
Dalam hal ini, legal rulings [hukum-hukum] menjadi pointer penting dalam konstruksi teks-teks keagamaan karena objek hukum menyambung mata rantai keterkaitan manusia secara vertikal dengan Tuhan, dan secara horisontal dengan sesama manusia dan makhluk lainnya.
Al-Qur’an, menurut Syalthut,65 menegaskan bahwa Islam memiliki dua pilar fundamental yang harus diobyektivasi dan lantas diinternalisasi dalam akal, hati dan hidup, yaitu pertama, aqidah dan kedua, syariah. Al-Qur’an melekatkan ‘lem’ terminologi iman untuk menjelaskan aqidah dan amal shalih untuk syariah.66 Lebih lanjut, aqidah merupakan teoritasi yang menuntut individu meyakininya lebih dahulu secara holistik dan tanpa ragu. Syariah adalah peraturan-peraturan yang dilegislasikan oleh Allah untuk diimplementasikan dalam kerangka menciptakan harmoni dalam hubungan manusia secara vertikal dengan Allah dan horizontal dengan manusia dan alam.67 Bertolak dari struktur ayat qur’aniyah, Syalthut
63Bernard Lewis, Islam dalam Krisis: Antara Perang Suci dan Teror Kotor , terj. Dari The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror, CET. 1, [Surabaya, Jawa Pos Press: 2004].
64Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Suci, CET. 2, [Jakarta: Penerbit PARAMADINA, 2002].
65Mahmud Syalthut, Al-Islâm: ‘Aqîdah wa Syarîah, [Kairo: Dâr al-Syurûq, 2001].
66Konstruksi aqidah dan amal shaleh dalam bingkai unifikasi dalam Qur’an dapat dilihat dalam surat al- Kahfi/18: 107-108, dan an-Nahl /16: 97.
menyatakan bahwa aqidah menjadi basis fundamental dan poros dari syariat, dan syariat merupakan implikasi dan konsekuensi serta pencabangan dari aqidah.
Syariah, dengan demikian, merupakan seluruh peraturan [ syara’ ] yang bersumber dari Allah [ syâri’ ] dan disampaikan oleh Rasul kepada manusia,
Syariat merupakan program implementasi dari aqidah. Konsekuensi logisnya adalah aqidah hanya satu dan seragam, dan sementara itu, implementasinya dapat berbeda-beda sepanjang sejarah kemanusiaan. Sejarah menuliskan bahwa setiap rasul membawa syariatnya masing-masing.
Karena aqidah menjadi sentral dari dan [serba] meliputi seluruh segi kehidupan, maka ramifikasi dari itu ialah syariat sebagai program pelaksanaannya juga meliputi seluruh segi kehidupan meski dalam berbagai paparan dan penyelesaian terhadap problematika kemanusiannnya tidak disebutkan dalam preseden terperinci. Salah satu di antaranya adalah segi hukum, segi peraturan-peraturan hidup dalam masyarakat yang mengatur perbuatan manusia terhadap manusia lain dalam masyarakat.
Substansi al-Qur’an dan Sunnah yang ditujukan bagi manusia paripurna di seluruh alam dan merupakan reaksi aktif dari serangkaian persoalan masyarakat menuntut sistematisasi interpretasi terstruktur sebagai upaya aktualisasi teks sekaligus hukumnya dalam dialektika hubungan teks dan realitas.
Paradigma ini memunculkan persepsi Islam sebagai yang ditafsirkan oleh ulama namun tetap berporos pada syariah. Dalam hal ini, Islam sebagai hasil interpretasi ini disebut dengan fiqh. Dengan demikian, Syariah merupakan wahyu Tuhan yang mengatur kehidupan manusia secara universal, mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Syariah menjadi sumber primer seluruh akitivitas manusia dan hanya berasal dari Tuhan. Sedangkan fiqh merupakan keputusan-keputusan-keputusan yang disimplifikasikan dari syariah oleh ulama. Atas dasar itu, fiqh yang merupakan ciptaan manusia bersifat temporal dan tunduk pada determinan sosiologis. Sebaliknya syariah bersifat absolut dan tidak dapat dirubah.
Akhirnya, syariah, secara umum, mencakup konsep-konsep dasar yang transenden dan eternal karena bersumber secara ontologis dari legislator tertinggi, sedangkan fiqh lebih mengkristal pada hasil pemahaman manusia yang cenderung bersifat temporal sesuai dengan dan mengikuti perkembangan budaya manusia dan perubahan sosial masyarakat. Dengan demikian, dari sudut historisnya, syariah mendahului fiqh, karena syariah merupakan pelembagaan kehendak Tuhan yang belum dimasuki oleh aktivitas akal interpreter, sedangkan
fiqh merupakan hasil analisa manusia terhadap syariah.
Di Indonesia, pengertian hukum Islam jika dialihbahasakan dengan menselaraskan pengalihbahasaan dari bahasa Inggris [ Islam law dan Islamic yurisprudence] yang lumrah di
kalangan muslim di atas menciptakan ambiguitas. Ambivalensi ini terjadi apabila ditelusuri dari dan dikaitkan dengan pandangan bahwa atom dari syariah terkandung dalam al-Qur’an, Sunnah, ijma [konsensus masyarakat Islam] dan qiyas [analogi]. Bahwa sinonimitas terdapat pada term Islamic law dengan syariah [obyek analisa manusia] dan Islamic yurisprudence
dengan fiqh [hasil analisa manusia] berdampak pada ambiguitas tentang lahan syariah dan fiqh. Banyak pakar Islam mengafirmasikan bahwa syariah ialah fiqh, dan fiqh ialah syariah.
Bahkan mayoritas cendekiawan muslim, seperti Zahrah68 mendefinisikan hukum Islam sebagai seperangkat peraturan berbasis al-Qur’an dan Sunnah Rasul mengenai tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat semua umat yang
beragama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas ulama muslim berpendapat bahwa hukum Islam mencakup hukum syariah dan hukum fiqh.
Ambiguitas mengenai term hukum Islam ini dapat dipahami, karena istilah hukum Islam tidak termuat dan ditemukan dalam al-Qur’an, Sunnah dan literatur fiqh klasik. Al-Qur’an, Sunnah dan literatur fiqh klasik menggunakan istilah syariah, fiqh dan derivasinya untuk menyebut hukum Islam. Lebih lanjut, Al-Qur’an hanya menyebutkan hukum Allah dan tidak hukum Islam.
Di kalangan masyarakat Indonesia berkembang berbagai macam istilah hukum Islam yang satu dengan yang lain mempunyai persamaan dan sekaligus juga perbedaan. Istilah-istilah tersebut adalah syariat, syariat Islam, fiqh, fiqh Islam dan hukum Islam. Kendati istilah-istilah tersebut memiliki pengertian beragam, tetapi secara subtansial merujuk pada sistem hukum yang terdiri atas dan bersumber dari kaedah hukum berbasis divinitas [al-Qur’an dan Sunnah] dan kaedah hukum bersumber dari al-ra’yu.
Tidak jauh berbeda dengan itu, hukum Islam menurut teori ulama muslim zaman pertengahan Islam ialah hukum yang terstruktur dari dan dibangun secara hiraerkis di atas
empat komponen sumber hukum, pertama, al-Qur’an, kedua, Sunnah, ketiga, ijma’ [konsensus], dan keempat , qiyas [penalaran analogis].
Menurut Muslehuddin69 sebagaimana yang dikutip dari Oxford English Dictionary bahwa hukum adalah kumpulan aturan, baik dari produk atauran formal maupun adat, yang
diakui oleh masyarakat atau bangsa tertentu sehingga mengikat [individu]nya sebagai anggota atau subyeknya.
Dengan demikian, hukum Islam adalah suatu kaedah hukum yang bersifat konkrit, dan yang terkait dengan proses turunnya wahyu dari Tuhan, serta yang merupakan jawaban atas persoalan yang terjadi masa [Nabi] Muhammad. Bahwa hukum Islam yang bersumber dari
wahyu merupakan suatu sistem yang mengandung norma hukum baik yang bersifat haram, wâjib, sunnah, makrûh, dan mubâh, dapat disebut sebagai norma hukum atau dalam bahasa Islam al-ahkâm yang pada tahap selanjutnya disebut dengan hukum Islam. Hukum Islam itu juga dapat dikaitkan dengan aturan formal atau nonformal dari pemahaman berbasis
sosiologis empiris dan normatif terhadap teks-teks divinitas pasca masa hayat [Nabi] Muhammad. Kendati tidak sedikit materi hukum Islam yang merupakan hasil ijtihad, tetapi karena secara konseptual membentuk garis hirarki dari ideal makna hukum Islam yang pertama, maka hasil ijtihad tersebut juga dinilai sebagai hukum yang memiliki nilai
religiusitas dan sanksi keagamaan.
Eksistensi hukum Islam yang pada prinsipnya mencakup dimensi sosial menjadikan pelaksanaan hukumnya selain sebagai kewajiban religius juga menjadi rujukan pengambilan kebijakan utama terhadap kepentingan umum [ good public] masyarakat dan parameter etikanya.
Konsep bahwa teks ilahiyah mempunyai permanensi mutlak dan pelaksanaannya memiliki fleksibilitas sejalan dengan good public menunjukkan bahwa hukum Islam selain merupakan instrumen yang konstan juga meliputi prinsip dasar hukum yaitu kebebasan. Kebebasan ini terartikulasikan dalam aktivitas para pakar hukum. Secara spesifik, akitivitas ini menampakkan adanya variasi-variasi, seperti istishlâh dengan tetap merujuk pada satu sumber primer yaitu al-Qur’an dan Sunnah.
Akhirnya, hukum Islam merupakan hukum agama dan hukum moralitas. Hal ini pada tataran implementasinya mengkonsekuensikan balasan di dunia dan di akherat. Oleh karena
69Muslehuddin, Muhammad, Philosophy of Islamic Law and The Orientalist: A Comparative Study of Islamic Legal System, [Lahore: Islamic Publications Ltd, 1980], h. 17
itu, hukum Islam melembaga dan menginternalisasi menjadi kebiasaan dalam kehidupan setiap muslim guna meraih ketertiban, kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akherat.