• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM HUKUM PIDANA POSITIF

C. Alasan Pengahapusan Pidana

1. Alasan Pemaaf

Dalam ketentuan Umum KUHPidana Alasan penghapus pidana ini di rumuskan dalam buku kesatu, yaitu terdapat dalam Bab III Buku Kesatu

KUHPidana yang terdiri dari pasal 44, pasal 48 sampai dengan pasal 51.86

86

Sedangkan pasal Pasal 45 sampai dengan Pasal 47 KUHPidana telah di cabut berdasarkan Pasal 67 Undang-undang N0.3Tahun 1997 ( undang-undang peradilan anak). M. Hamdan, Pembaharuan Hukum Tentang Alasan Penghapusan Pidana, ( Medan Desember :2008), hlm. 43

58

a. Pasal 44 ( pelaku yang sakit / terganggu jiwanya ) pasal 44 KUHPidana berbunyi :

1. Barangsiapa mengerjakan sesuatu perbuatan, yang tidak dapat di

pertanggungjawabkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya atau karena sakit berubah akal tidak boleh di hukum.

2. Jika nyata perbuatan itu tidak dapat di pertanggungjawabkan

kepadanya karena kurang sempurna akalanya atau karena sakit berubah akal maka hakim boleh memerintahkan dia di rumah sakit gila selama-lamanya satu tahun untuk di perikasa.

3. Yang di tentukan dalam ayat yang di atas ini hanya berlaku bagi

mahkamah Agung, pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri.

Dalam pasal 44 KUHPidana ini tampaknya pembentuk undang-undang membuat peraturan khusus bagi pelaku yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatanya, karena sakit jiwa atau kurang sempurna akalnya pada saat perbuatan itu di lakukan.

Di samping itu berdasarkan ayat 3 dari pasal ini kewenangan untuk tidak di menghukum pelaku berdasarkan sakit jiwa ini hanya pada hakim( kewenangan ini tidak ada pada polisi maupun jaksa penuntut umum). Akan tetapi dalam menentukan apakah pelaku menderita sakit jiwa atau sakit berubah akal, hakim harus menggunakan saksi ahli dalam bidang ilmu kejiwaan ( psikiatri ). Psikiatrilah yang menetukan apakah pelaku memang menderita sakit jiwa yang memang mempunyai hubungan kausal/keterkaitan dengan apa yang telah di

59

lakukanya itu. Meskipun demikian hakim dalam memberikan putusanya tidaklah terkait dengan keterangan yang di berikan oleh psikiatri, hakim dapat menerima ataupun menolak keterangan yang di berikan psikiatri tersebut. Penerimaan maupun penolakan hakim ini tentunya harus di uji berdasarkan kapatutan atau

kepantasan.87

Pasal 48 KUHPidana ini tidak merumuskan apa yang di maksudkan dengan “ paksaan” tersebut. Akan tetapi menurut memorie van toelechting, maka

yang di maksud dengan paksan itu adalah “ee kracht, een drang, een dwang

waaraan men geen weerstand kan bieden” ( suatu kekuatan, suatu dorongan, suatu paksaan yang tidak dapat di lawan tidak dapat di tahan).

b.Pasal 48 KUHPidana( perbuatan yang di lakukan dalam keadaan terpaksa) berbunyi :

“Barangsiapa melakukan perbuatan karena terpaksa oleh sesuatu kekuasaan yang tidak dapat di hindarkan, tidak boleh di hukum”

88

Dengan demikian tidak setiap paksaan itu dapat di jadikan alasan penghapus pidana, akan tetapi hanya paksaan yang benar-benar tidak dapat di lawan atau di elakkan lagi oleh pelaku, sehingga oleh sebab adanya paksaan itulah ia melakuakan tindak pidana. Paksaan mana ; biasa di kenal dengan istilah pakasaan yang absolute, misalnya seseorang yang di paksa untuk menandatangani suatu pernyataan yang tidak benar, dalam keadaan tangannya yang di pegang oleh orang lain yang lebih kuat.

87

R. Soesilo. Op.cit, hlm 61, Utrecht .Op.cit, hlm.299 88

60

c. Pasal 49 ayat 1 KUHPidana ( perbuatan yang di lakukan untuk mebela diri )

berbunyi :

“ Barangsiapa melakukan perbuatan yang terpaksa di lakakuanya untuk memeprtahankan dirinya, atau diri orang lain, mempertahankan kehormatan atau harta benda sendiri atau kepunyaan orang lain, dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh di hukum

Dari bunyi pasal ini, maka penghapusan pidana dapat di jadikan alasan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Perbuatan itu di lakukan karena untuk membela /tubuh, kehormatan

atau harta benda sendiri atau pun orang lain.

2. Perbuatan itu di lakukan atas serangan yang melawan hukum yang

terjadi pada saat itu juga. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan setelah adanya serangan mengacam, bukan perbuatan yang di ujukan untuk mempersiapkan sebelum adanya atau terjadinya serangan dan bukan pula terhadap serangan yang telah berakhir.

3. Perbuatan sebagai perlawanan yang di lakukan itu harus benar-benar

terpaksa atau dalam kedaan darurat ; tidak ada pilihan lain ( perlawanan itu memang suatu keharusan ) untuk menghindari dari serangan yang melawan hukum terebut. Dengan kata lain perbuatan pelaku dalam hal ini di perlukan adalah untuk membela hak terhadap keadilan, namun harus pula di lakukan secara proporsional /seimbang. Dengan demikian tidaklah dapat di benarkan untuk melakukan perlawanan dengan menggunakan

61

pistol terhadap serangan melawan hukum yang hanya menggunakan

tangan kosong.89

Pasal 49 ayat (2) KUHPidana ( pembelaan diri yang melampaui batas ) yang berbunyi :

Melampaui batas pertahanan yang sangat perlu, jika perbutan dengan sekonyong-konyong di lakukan karena perasaan tergoncang dengan segera pada saat itu juga, tidak boleh di hukum.

Dalam hal ini hakimlah yang berperan dalam menentukan apakah benar terdapat hubungan kausal antara suatu peristiwa yang mengakibatkan kegoncangan jiwa pelaku sehingga ia melakukan suatu pembelaan yang melampaui batas, sedangkan perbuatan itu sesunggunhnya merupakan tindak pidana. Jadi sebenarnya perbuatan itu tetap merupakan perbuatan yang melawan hukum , akan tetapi pelakunya di nyatakan tidak bersalah, keselahan nya di

hapuskan .90

d. Pasal 50 KUHPidana ( melaksankan peraturan perundang-undangan )

yang berbunyi :

“Barang siapa yang melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan undang-undang tidak boleh di hukum.”

89

Remmelink. Op.cit. hlm .239-245. Lihat juga Soesilo. Op.cit. hlm 64-65. Utrecht I.

Op.cit .hlm .366-372 90

Remmelink. Op.cit. hlm 246-248, lihat juga Soesilo. Op.cit. hlm 65-66. Utrecht I.

62

Dalam penjelasan pasal ini menentukan pada prinsipnya orang yang melakukan suatu perbuatan meskipun itu merupakan tindak pidana, akan tetapi karena di lakukan berdasarkan perintah undang-undang maka si pelaku tidak boleh di hukum. Asalkan perbuatanya itu memang di lakukan untuk kepentingan umum, bukan untuk kekpentingan pribadi pelaku. Masalahnya adalah apakah yang di maksud dengan undang-undang tersebut, dan apakah juga termasuk perturan perundang-undangan yang sebenarnya tidak sah karena bertentangan

dengan undang-undang yang diatasnya ( secara hirarkhis).91

demikian pula, dalam hal menjalankan perintah undang-udnag ini harus di lakukan secara proporsional /seimbang misalnya seorang Polisi yang menembak seorang penjahat ( kambuhan ) dapat di benarkan dari pada ia menembak seorang yang hanya untuk mengehentikan orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas

yang melarikan diri.92

e. Pasal 51 ayat (1) KUHPidana ( melakukan perintah jabatan yang

syah) yang berbunyi :

“Barangsiapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah jabatan yang di berikan oleh kuasa yang berhak akan tidak boleh di hukum.”

91

Tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia menurut Pasal 7 Undang-undang No.10 /2004 adalah :

1. Undang-undang Dasar 1945 2. Undang-undang

3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) 4. Peraturan Pemerintah

5. Keputusan Presiden 6. Peraturan Daerah

92

Remmelink, Op.cit hlm. 250-252. Lihat juga Soesilo. Op.cit. hlm.66 Utrecht I.Op.cit.hlm .377-378

63

Dengan kata lain yang memberikan perintah adalah orang yang berwenang/berhak ( perintah yang sah dari yang berwenang) dan yang di perintah melaksanakanya karena sesuai dengan atau berhubungan dengan pekerjaanya. Suatu hal yang tidak boleh di lupakan bahwa dalam hal melaksanakan perintah jabatan ini, juga harus di perhatikan asas keseimbangan, kepatutan, kelayakan dan

tidak boleh melampaui dari batas keputusan dari orang yang memerintah.93

1. Perintah itu di pandangnya sebagai perintah yang syah

Pasal 51 ayat (2) ( melakukan perintah jabatan yang tidak syah di anggap syah ) berbunyi :

“ Perintah jabatan yang di berikan oleh kuasa yang tidak berhak tidak membebaskan dari hukuman, kecuali jika pegawai yang di bawahnya atas kepercayaan memandang bahwa perintah itu seakan-akan di berikan oleh kuasa yang berhak dengan sah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang di bawah pemerintah tadi.”

Dalam hal ini ada alasan pemaaf dapat menghapuskan kesalahnnya ( kesalahan yang di bebankan kepada orang yang memberi perintah). Dengan kata lain pelaku yang melaksanakan perintah yang tidak sah, dapat di hapuskan pidananya apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

2. Di lakukan dengan itikad baik

3. Pelaksanaanya dalam ruang lingkup tugas-tugasnya (yang biasanya ia

lakukan).

93

Remmelink. Op.cit.hlm 253-254, lihat juga Soesilo. Op.cit. hlm 66-67. Utrecht I.Op.cit.hlm 379-380

64

Sebaliknya jika perintah itu tidak meliputi ruang lingkup tugas-tugasnya yang biasa ia lakukan ,maka itikad baiknya dalam melakukan perintah itu di ragukan . jadi dalam hal ini ( pembuat) undang-undang menjaga “kepatutan buta” dari orang yang mendapatkan tugas atau yang menerima perintah yang dapat membawa akibat pemidanaan terhadap dirinya sendiri. dengan kata lain seseorang

menerima perintah atau tugas dari seorang atasan haruslah waspada dan teliti.94

2. Alasan Pembenar

Di dalam bagian kedua, terdapat juga bagian Khusus yang terdapat dalam buku kedua ( Tentang pengaturanKhusus ) secara keseluruhan membahas tentang adanya alasan penghapusan pidana yaitu sebagai berikut :

a. Pasal 166

“Ketentuan pasal 164 dan 165 tidak berlaku bagi orang jika pemberitahuan itu akan mendatangkan bahaya jika pemberitahuan itu akan medatangkan bahaya penuntutan bagi dirinya, bagi salah seorang kaum keluarganya sedarah atau keluarganya karena perkawinan dalam keturunan yang lurus atau derajat kedua atau ketiga dari keturunan menyimpang bagi suaminya ( isterinya ) atau bekas suaminya ( isterinya) atau bagi orang lain, yang kalau di tuntut, boleh ia meminta supaya tidak usah memberi keterangan sebagai saksi, berhubung dengan jabatan atau pekerjaanya.”

Pasal 166 ini berkaitan dengan pasal 164 dan pasal 165 yang memberikan ancaman pidana kepada seseorang yang meskipun mengetahui akan terjadinya

94

Remmelink. Op.cit.hlm .252-257, lihat juag Soesilo . Op.cit Hlm.67. Utrecht .Hlm .381-382

65

beberapa kejahatan tertentu yang sangat sifatnya, tidak melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib pada waktu tindak-tindak pidana itu masih dapat di hindarkan atau di cegah. Sanksi pidana ini baru dapat di jatuhkan apabila kemudian ternyata tidak pidana yang bersangkutan benar-benar terjadi.

Jadi menurut paal 166, kedua pasal tersebut ( pasal 164 dan 165 ) tidak berlaku apabila si pelaku melakukan tindak-tindak pidana itu untuk menghindarkan dari penuntutan pidana terhadap dirinya sendiri, atau terhadap sanak keluarga dalam keturunan lurus dan kesamping samai derajat ketiga, atau terhadap suami atau isteri, atau terhadap seseorang yang dalam perkaranya ia dapat di bebaskan dari kewajiban memberi kesaksian di muka sidang

pengadilan.95

b. Pasal 186 ayat (1)

“ Saksi dan tabib yang menghadiri perkelahian satu lawan satu tidak dapat di hukum”

Di Negara Indonesia perbuatan seperti ini di atur dalam Bab VI KUHPidana kita, yaitu tentang “ perkelahian satu lawan satu,” yang terdapat dalam pasal-pasal 182 sampai dengan pasal 186. Akan tetapi saksi –saksi atau medis yang menghadiri atau yang menyaksikan perang tanding ini ( misalnya dalam olah raga tinju, karate, dan lain sebagainya) tidak boleh di hukum

berdasarkan pasal 186 ayat (1) ini.96

95

Prodjodikoro, Wirjono. Tindak-tindak Piadana tertentu di Indonesia. Bandung : Refika Aditama 2002. Hlm 224-225

96

66

c. Pasal 314 ayat (1)

“ Kalau orang yang di hinakan, dengan keputusan hakim yang sudah tetap, telah di persalahkan melakukan perbuatan yang di tuduhkan itu, maka tidak boleh di jatuhkan hukuman karena memfitnah.”

Dalam hal ini ada satu hal yang dapat menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan itu, yaitu apabila ternyata apa yang di lakukan ( yang di tuduhkan/di hinakan) kepada orang itu, terbukti benar sesuai dengan keputusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengan kata lain orang yang di hinakan/di cemarkan nama baiknya ini telah di jatuhi pidana terhadap perbuatan yang di hinakan/ dituduhkan kepadanya. Oleh karena itu sifat melawan hukum yang di lakukan oleh si penghina atu pencemar nama baik tersebut di hapuskan (

hilang).97

Pasal ini berkaitan dengan tindak pidana “penganiayaan ringan” pasal 352 ayat (1), yang pelaku di ancam dengan pidana. Akan tetapi dengan adanya ayat (2) pasal ini, maka percobaan melakukan penganiayaan ringan tidak dapat di pidana; merupakan alasan penghapus pidana. seharusnya sesuai dengan peraturan umum, yaitu pasal 53 tentang percobaan melakukan kejahatan, perbuatan penganiayaan ringan ini juga harus di pidana. Akan tetapi sanyangnya pembuat undang-undang D.Pasal 352 ayat (2)

“ Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat di hukum”

97

67

tiak merumuskan atas dasar apa percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat di

pidana. 98

98

Ibid, hlm.57

9

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tidak ada yang dapat menafikan bahwa anak adalah aset bangsa. Sebagai bagian dari generasi muda, anak berperan sangat strategis, yakni sebagai pewaris (successor) bangsa, penerus cita-cita perjuangan bangsa sekaligus potensi sumber

daya manusia bagi pembangunan nasional ( National Development).1

Oleh karenanya, Anak sebagai generasi muda merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak merupakan modal pembangunan yang akan memelihara, mempertahankan, dan mengembangkan hasil pembangunan yang ada. Oleh karena itu anak memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh, serasi, dan

seimbang.2

Masalah perlindungan hukum bagi anak merupakan salah satu sisi pendekatan untuk melindungi anak-anak Indonesia. Abdul Hakim Garuda Nusantara mengatakan bahwa, masalahnya tidak semata-semata bisa didekati secara juridis, tetapi perlu pendekatan yang lebih luas, yaitu ekonomi, sosial dan

budaya.3

1

El Muhtaj, Majda, “Memahami Integritas Hak-hak Anak dan Impelementasinya,” dalam sulaiman Zuhdi Manik (Ed.), kekerasan Terhadap Anak, dalam Wacana dan Realitas ( Medan: PKPA 1999), hlm. 19

2

Darwan Prinst, Hukum Anak di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hlm. 2

3

Nusantara, Abulk Hakim Garuda, “ Prospek Perlindungan Anak” dalam mulyana W.Kusumah ( Peny.), Hukum dan Hak-hak anak ( Jakarta : YLBHI: Bekerjasama dengan CV.Rajawali ,1986), hlm. 22

10

merupakan satu usaha yang mengadakan kondisi di mana setiap anak dalam

melaksanakan Hak dan kewajiban. 4

Memang dalam pergaulan sehari-hari, masalah batas umur antara kata dewasa dan kata anak cukup menjadi problema yang rumit. Klasifikasi umur akan menentukan dapat tidaknya seseorang dijatuhi hukuman serta dapat tidaknya suatu tindak pidana dipertanggungjawabkan kepadanya dalam lapangan kepidanaan. Secara umum klasifikasi yang ingin ditonjolkan sebagai inti dalam persoalan ini adalah kedewasaan, walaupun kedewasaan seseorang dengan orang lain tidak disamakan, namun dalam peristiwa hukum klasifikasi ini akan selalu sama untuk

suatu lapangan tertentu,5 karena menyangkut titik akhir yang ingin dicapai oleh

para hakim dalam memutuskan suatu perkara dalam perasaan keadilan yang

sebenarnya. Sebagai motto para ahli kriminologi yang berbunyi: “ Fight crime,

help delinquent, love humanity. ”6

4

Dellyana, Shanti, Wanita dan Anak di Mata Hukum ( Yogyakarta : Liberty,1988), hlm. 18-19

5

E. Sumaryono, Kejahatan Anak: Suatu Tinjauan dari Psikologi dan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1985), hlm. 19.

6

Ibid., hlm. 42.

Dalam masa ini seorang anak banyak mengalami keragu-raguan dan menimbulkan kesulita-kesulitan yang tidak hanya terjadi pada dirinya tapi juga pada keluarga, lingkungan dan lain sebagainya. Jelaslah bahwa sifat individu manusia dalam suatu masyarakat khususnya bagi seorang anak selalu merasa tidak puas terhadap apa yang di dapatkanya, bahkan ingin kaidah-kaidah hidup dan peraturan-peraturan hukum yang ada di langgarnya.

11

Paul A. Samuelson berpendapat bahwa “kepentingan atau kebutuhan manusia pada dasarnya tidak terbatas, sedangkan alat untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan itu sangat terbatas sehingga manusia cenderung

untuk selalu berusaha apa yang di perlukanya itu.” 7

Pidana atau tidak pelaku bukanlah bergantung pada apakah ada perbuatan pidana atau tidak, melainkan apakah pelaku tercela atau tidak karena telah melakukan perbuatan pidana itu. Oleh karena itu, dapat di katakan bahwa dasar dari adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, yakni asas yang menentukan bahwa sesuatu perbuatan adalah terlarang dan di ancam dengan pidana barang siapa yang melakukanya, sedangkan dasar dari pada di pidananya si pelaku tidak di pidana jika tidak ada kesalahan.

Sudah lazim apabila setiap perbuatan pasti akan melahirkan pertanggung jawaban dari si pelaku. Tanggung Jawab itu akan selalu ada, meskipun belum tentu akan dituntut oleh pihak yang berkepentingan. Pada umumnya seseorang bertangungjawab atas perbuatanya sendiri.

Betapapun demikian, aturan undang-undang lah yang menetapkan siapa- siapa saja yang di pandang sebagai pelaku yang bertanggungjawab itu. Walaupun telah di tegaskan bahwa seseorang harus mempertanggungjawabkan perbuatan pidana yang terjadi, namun langkah selajutnya adalah menegaskan apakah ia juga memenuhi syarat yang di perlukan untuk sebuah nama pertanggungjawaban itu.

8

7

Rais, Moch Lukman Fathullah, Tindak Pidana Perkelahian Pelajar ( Jakarta : Pustaka Sianar Harapan , 1997), hlm.2

8

Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana ( Jakarta: Aksara Baru,1983 ), hlm.76

12

Dengan kata lain, orang tidak mungkin di pertanggungjawabkan dan di jatuhi pidana kalau tidak melakukan perbuatan pidana. tetapi meskipun ia melakukan perbuatan pidana, tidaklah selalu dapat di pidana. Jadi, adanya kesalahan yang mengakibatkan di pidananya seseorang, maka ia harus : (a) melakukan kesalahan; (b) mampu bertanggungjawab; (c) dengan kesengajaan

atau kealpaan ;dan (d) tidak adanya alasan pemaaf.9

Di dalam memori penjelasan KUHP tahun 1881, para perencana telah

menyatakan bahwa toerekenhaarheid ( hal dapat di pertanggungjawabkannya

suatu tindakan ) itu dapat menjadi tidak ada karena hal-hal yang terdapat dari

pelakunya sendiri, yaitu : (1) keadaan yang tidak normal dari geestvermogens

atau kemampuan jiwa si pelaku; (2) usia yang sangat masih muda.

Dalam Hukum Positif, yaitu ketentuan Pasal 44 ayat 1 KUHP telah di nyatakan bahwa tidak dapat di hukum barang siapa melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dapat di pertanggungjawabkan padanya, oleh karena pertumbuhan akal sehatnya yang tidak sempurna atau karena gangguan penyakit pada kemampuan akal sehatnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa menurut ketentuan tersebut seseorang dapat di sebut sebagai “ tidak dapat di pertanggungjawabkan” atas tindakanya apabila orang tersebut ternyata memenuhi salah satu syarat, yaitu apakah ia mempunyai “pertumbuhan yang tidak sempurna dari kemampuan akal sehatnya” atau adanya gangguan suatu”gangguan penyakit pada kemampuan akal sehatnya”

10

9

Ibid. hlm.78

10

Lamintang ,P.A.F, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia ( Bandung : Citra Aditya Bakti, 1997 ), hlm. 395

13

Menurut Jonkers, orang yang tidak mampu bertanggungjawab itu bukan

saja karena pertumbuhan jiwanya yang cacat atau karena gangguan penyakit, tetapi juga karena umurnya masih sangat muda, terkena hypnose dan sebagainya.Walaupun anak yang masih di bawah umur dalam keadaan tertentu di anggap tidak mampu bertanggungjawab, namun bila mereka melakukan kejahatan, hukum pidana telah mengaturnya sedemikian rupa, sehingga di dalam pengaturan pelaksanaanya di tuntut kejelian seorang hakim di dalam menentukan hukumannya.

Sejak keluarnya UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang mulai berlaku sejak tanggal 3 Januari 1997, maka ketentuan mengenai penyelanggaraan pengadilan anak di lakukan secara khusus. Salah satu tolak ukur pertanggungjawaban pidana bagi anak adalah usia atau umur. Dalam hal ini masalah umur merupakan masalah yang urgen bagi terdakwa untuk dapat di ajukan dalam sidang anak.

Hukum pidana Islam mengatur tentang pertanggungjawaban pidana, Sebagai ajaran universal dan relavan dengan watak interistik manusia, Islam hadir dengan seperangkat ajaran yang komprihensif. Tidak saja mengatur persoalan tauhid dan ibadah, Islam juga mengatur berbagai prinsip umum mengenai hidup kemasyarakatan seperti ekonomi, politik, dan hukum. Meskipun proliferasi terma hukum Islam sedemikian variatif, namun patut di tegaskan bahwa terma-terma hukum Islam, agaknya berada dalam sebuah konsensus bahwa hukum Islam merupakan terma baru dalam khazanah keilmuan Islam itu sendiri.

14

Hukum Islam di pandang sebagai bagian integral dengan prinsip-prinsip ketauhidan dalam Islam. Salah satu bagian hukum Islam (baca:fikih) yang mengatur hak-hak individu dan publik tertuang dalam fikih jinayat ( hukum pidana Islam ).

Hukum Pidana Islam membincangkan berbagai hal seputar pelanggaran dan tindak pidana. Dalam hubungan itu, diatur tidak saja prosedur penghukuman dan materi hukuman, tetapi juga di atur kemungkinan terjadi pengecualian, pengurangan dan pengahapusan hukuman, yang di lihat dari perspektif pelaku

tindak pidana.11

12

Seorang anak tidak akan dikenakan hukuman had karena kejahatan yang dilakukannya, karena tidak ada beban tanggung jawab hukum atas seorang anak atas usia berapapun sampai dia mencapai usia puber, qadhi hanya akan berhak untuk menegur kesalahannya atau menetapkan beberapa pembatasan baginya

11

Lihat Santoso,Topo, Membumikan Hukum Pidan islam;Penegakan Syariat dalam wacana dan Agenda ( Jakarta : Gema Insani Press,2003) , hlm.7

12

15

yang akan membantu memperbaikinya dan menghentikannya dari membuat kesalahan di masa yang akan datang.

Tidak terkecuali juga dalam aturan pidana Islam, bagi seorang pelaku pidana yang masih dalam kapasitas anak-anak di bedakan hukumanya dengan pelaku dewasa. Pembedaan ini erat kaitanya dengan asas pertanggungjawaban pidana. Hal ini sesuai dengan hadis:

13

Dalam literature hukum pidana Islam, di kenal juga tiga istilah yang

berhubungan dengan tindak pidana yakni Jinayat, Jarimah dan Uqubat.14 Yang

pertama adalah perbuatan yang mengenai jiwa atau harta benda atau pun lainya.

Yang kedua di pahami sebagai larangan-larangan syara’ yang di ancamkan oleh

Allah SWT dengan hukuman had atau takzir. Meskipun kelihatan memiliki stressing point yang berbeda, namun para ulama kelihatan sering mengidentikan jarimah dan jinayah.15

Pengidentikan ini kemudian membuahkan sebuah pengertian bahwa baik Jarimah maupun Jinayah sebagai perbuatan pidana yang di ancam dengan

Dokumen terkait