• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alasan Peneyelesaian Melalui Hukum Syariat Islam Berdasarkan Qanun Nomor 14 tahun 2003 :

Dalam dokumen TINDAK PIDANA MESUM DALAM SISTIM HUKUM N (Halaman 65-74)

TINDAK PIDANA KHALWAT/MESUM DAN PENYELESAIANNYA DI MAHKAMAH SYAR’IYAH KOTA BANDA ACEH

C. Upaya yang di Tempuh Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Khalwat/Mesum

2. Alasan Peneyelesaian Melalui Hukum Syariat Islam Berdasarkan Qanun Nomor 14 tahun 2003 :

a. Proses penyidikan melalui oleh kepolisian b. Tuntutan oleh jaksa penuntut umum.

c. Putusan hukuman oleh hakim Mahakamh Syar’iyah

Upaya penanggulangan terhadap pelaku Khalwat/Mesum, Dinas Syariat Islam dan Keluarga Sejahtera Kota Banda Aceh dengan segala keterbatasan terus membenahi dan memaksimalkan fungsinya dan kewenangan yang di milikinya. Sesuai dengan Qanun Kota Banda Aceh Nomor 9 tahun 2004. Dinas Syariat Islam dan Keluarga Sejahtera diberikan kewenangan untuk malaksanakan

54Wawancara dengan Radja Radan. mewakili Ketua Dinas Syariat Islam selaku Kasubdin Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, pada tanggal 21 April 2008

bimbingan dan penyuluhan Syariat Islam yang meliputi aspek aqidah, ibadah,

mua’amalah dan akhlak. Untuk menjalankan dan memaksimalkan pengawasan

pelaksanaan Syariat Islam maka dengan keputusan Wali Kota Nomor 195 tahun 2005 di bentuklah lembaga Wilayatul Hisbah yang bertugas melakukan pengawasan, pembinaan, penyuluhan dan advokasi spiritual terhadap setiap orang/badan yang berdasarkan bukti permulaan patut di duga telah melakukan pelanggaran terhadap Qanun dan atau peraturan perundang-rundangan lain di bidang Syariat Islam. Dinas Syariat Islam berdasarkan keterangan Radja Radan55, telah melakukan berbagai terobosan untuk mensukseskan pelaksanaan Syariat Islam, antara lain :

1. Siaran jum’at keliling termasuk operasi jum’at untuk mengarahkan kaum laki-laki melaksanakan shalat jum’at dan menutup tempat-tempat usaha. 2. Malalui Radio RRI, melakukan dialog interaktif Syariat Islam, nuansa

Islami dan siraman Qalbu.

3. Melalui Radio Toss, melakukan dialog interaktif Syariat Islam, nuansa Islami, dan iklan layanan masyarakat.

4. Melalui Radio swasta (megah FM), iklan layanan masyarakat. 5. Melalui TVRI, talk show Syariat Islam.

6. Melalui media cetak-media cetak.

7. Melalui brosur, selebaran, sticker, seruan bersama, maklumat, spanduk, billboard.

55Wawancara dengan Radja Radan, mewakili Ketua Dinas Syariat Islam selaku Kasubdin Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh pada tanggal 21 april 2008

8. Melalui ceramah kemasjid dan mushalla-mushalla dan juga kesekolah-kesekolah dalam Wilayah hukum Kota Banda Aceh.

9. Pembekalan /penyuluhan Qanun-qanun Syariat Islam.

Petugas Wilayatul Hisbah telah berusaha semaksimal sesuai dengan kewenangannya pada tahun 2006/2007 petugas Wilayatul Hisbah telah menangani kasus sebagai berikut :

a. Qanun, No, 11 tahun 2003 tentang aqidah, ibadah, dan Syiar Islam sebanyak 2034 orang/pelanggar.

b. Qanun No, 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum sebannyak 590 pasang/pelanggar.

Pelaksanaan Syariat Islam yang sedang di galakkan di NAD pada umumnya dan khususnya Kota Banda Aceh akan tegak dan sukses apabila mendapat dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu, semua stake holder (sesuai dengan kapasitasnya masing-masing) harus ambil bagian dan berpartisipasi aktif

demi kelangsungan Syariat Islam yang rahmatan lil’alamin.

Lebih lanjut sebagaimana hasil wawancara dengan Abdul Halim56, mengenai tidak seriusnya dari aparat penegak hukum dalam memberantas Khalwat/Mesum, karena dalam sistem penerapan hukuman cambuk yang sekarang berlaku di Kota Banda Aceh hanyalah berlaku bagi golongan bawah saja atau bagi masyarakat biasa, disini berarti masih adanya sistem mendiskriminasi bagi aparat penagak hukum dan kurangnya keseriusan dari para Eksekutif, Legislatif dan

Yudikatif dalam melaksanakan Syariat Islam yang kaffah di NAD khsususnya Kota Bnada Aceh.

Dalam putusan hukuman atau vonis yang dijatuhkan oleh hakim terhadap pelaku Khalwat/Mesum, yang terjadi di Wilaayah hukum Kota Banda Aceh, maka hakim melihat pada kasus-kasusnya yang di hadapkan ke persidangannya untuk di putuskan, karena yang sangat menjadi kendala bagi hakim adalah karena belum adanya hukum acara bagi Qanun Khalwat/Mesum jadi hakim berpedoman pada hukum acara Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dan hakim tidak bisa menahan terdakwa karena dasar hukum untuk menahan para pelaku Khalwat/Mesum tidak diatur dalam Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum. Berdasarkan hasil wawancara dengan Salahuddin, maka yang sangat menjadi kendala bagi hakim adalah disini masih kurangnya keseriusan para elit, atau Eksekutif dan Legislatif yang sampai sekarang belum bisa melahirkan hukum acara terhadap Qanun Khlawat/Mesum.

Terhadap putusan hukuman atau vonis yang dijatuhkan oleh hakim terhadap pelaku Khalwat/Mesum, menurut Salahuddin57, yang kadang-kadang relatif

sedikit terhadap ‘uqubat ta’zir dan tidak sesuai dengan apa yang telah di tentukan

dalam Qanun, karena dalam proses persidangan hakim melihat pada kasusnya, apakah kasus Khalwat/Mesum yang terjadi bersifat ringan, sedang atau beratnya pelanggaran dalam Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum. Jadi hakim dalam memutuskan perkara Pidana Khalwat/Mesum maka akan menilai beberapa hal antara lain :

57 Wawancara dengan Salahuddin. Sebagai Wakil Ketua dan Hakim Mahkamah

a. Dalam persidangan tidak terbukti telah melakukan hubungan intim dan hanya berdua-duan, seperti di dalam sebuah rumah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya yang akan di duga melakukan Khalwat/Mesum, ini di sebut jenis Khalwat/Mesum ringan.

a. Setelah di pereiksa oleh hakim ternyata pelanggaran yang di lakukan oleh pelaku Khalwat/Mesum hanya bersifat sedang, seperti berciuman antara laki-laki dan perempuan contohnya di café-café, tempat-tempat rekreasi atau didalam sebuah rumah yang tidak ada orang ini disebut jenis Khalwat/Mesum sedang.

b. Selama dalam persidanga berkelakuan baik dan tidak pernah melakukan pelanggaran sebelumnya.

b. Telah terbukti dalam persidangan dan patut di duga bahwa seseorang atau telah melakukan hubungan intim dengan yang bukam mahramnya. Ini di sebut jenis Khalwat/Mesum yang sifatnya berat.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Idris Abdullah58. Pada tahun 2006/2007 terdapat 5 (lima) jenis Khalwat/Mesum yang diputuskan oleh hakim

Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh, mengenai putusan hakim dalam

menjatuhkan hukuman terhadap pelaku Khalwat/Mesum tidak mencapai batas maksimal, seperti dalam putusan hakim dalam perkara khasus Khalwat/Mesum, dengan Nomor perkara 01/JN/2006/MASY/BNA, maka hakim memutuskan 5 (lima) kali cambuk bagi laki-laki dan 3 (tiga) kali cambuk bagi perempuan, dan Nomor perkara 01/JN/2007/MASY/BNA, dengan hukuman cambuk bagi laki-laki

58

Wawancara dengan Idris Abdullah, Hakim Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh

8 (delapan) kali dan perempuan 6 (enam) kali, itu karena semata-mata hakim menilai bahwa jenis Khalwat/Mesum yang dilakukan oleh pelaku bersifat sedang dan berat. Akan tetatpi begitu pula apabila dalam hal terjadinya pengulangan jarimah. Dalam hal terjadi pengulangan jarimah dalam istilah hukum positif adalah dikerjakannya suatu jarimah oleh seseorang , setelah ia melakukan jarimah lain yang telah mendapatkan putasan terakhir. Pengulangan berbeda dengan gabungan jarimah. Dalam gabungan jarimah, pelaku melakukan jarimah untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya, namun jarimah sebelumnya belum mendapat keputusan terakhir. Maka hakim dapat menjatuhkan hukuman kepada pelaku sebagaimana ketentuannya dalam Pasal 24 Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum yang berbunyi : Pengulangan pelanggaran terhadap ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, ‘uqubatnya dapat ditambah 1/3 (sepertiga) dan ‘uqubat maksimal.

Dalam Bab II telah di uraikan tentang penggulangan jarimah yang

ketentuan ‘uqubat ini dapat ditambah apa bila orang yang sama melakukan

pengulangan pelanggaran yang sama, maksud pengulangan pelanggaran yaitu pelanggaran yang tersebut dalam Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2) sebagaimana bunyinya:

(1). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

pasal 4, diancam dengan ‘uqubat ta’zir berupa dicambuk paling tinggi9

(sembilan) kali, paling rendah 3 (tiga) kali dan/atau denda paling banya Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), paling sedikit Rp. 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah).

(2). Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud

dalam pasal 5 diancam dengan ‘uqubat ta’zir berupa kurungan paling

lama 6 (enam) bulan, paling singkat 2 (dua) bulan dan/atau paling banyak Rp. 15.000.000-(lima belas juta upiah), paling sedikit Rp. 5000.000-(lima juta rupiah).

Dengan demikian Salahuddin, mengtakan bahwa apa bila terjadi pengulangan jarimah maka berdasarkan Pasal 22 Qanun Nomor 14 tahun 2003 maka hukumana dapat ditambah 1/3 (sepertiga) dan ‘uqubat sebelumnya.

Salahuddin, berharap kepada seluruh pihak aparat penegak hukum dan seluruh lapisan masyarakat harus benar-benar melaksanakan Syariat Islam, yang sekarang diterapkan di Nanggroe Aceh Darussalam khususnya Kota Banda Aceh, dan dalam pelaksanaannya semua pihak tidak boleh ada mendiskriminasi siapun dia, guna mewujudkan syariat Islam yang Kaffah dan perlu dengan cepat pihak Eksekutif, Legislatif untuk segera membuat atau mengesahkan Qanun Acara tentang Qanun Khalwat/Mesum.

Salahuddin59, juga juga berharap kepada aparat penegak hukum dan masyarakat untuk mengamalkan syariat Islam yang sekarang di terapkan Di Nanggroe Aceh Darussalam, guna mewujudkan hukum Islam yang benar dan di ridhai Allah swt.

59Wawancara dengan Saluhuddin, Wakil Ketua danHakim Mahkamah Syar’iyah Kota

BAB IV PENUTUP

Berdasarkan uraian bab-bab pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut :

A. Kesimpulan

1. Faktor-faktor penyebab terjadinya Khalwat/Mesum karena terjadinya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan dan tersedianya tempat-tempat rekreasi serta café-café sehingga dapat memudahkan untuk terjadinya Khalwat/Mesum dan salah satu factor yang sangat mendasar adalah karena faktor hawa nafsu dan kurangnya iman, meskipun perbuatan tersebut sudah di atur dalam Qanun Nomor 14 tahun 2003 dalam Pasal 4 dan Pasal 5 bahwa hukumnya haram dan diancam dengan hukuman cambuk bagi pelanggarnya, akan tetapi di Kota Banda Aceh masih banyak terjadi pelanggaran Jarimah Khalwat/Mesum meskipun perbuatan terssebut dilarang dan bertentangan dengan Syariat Islam. 2. Alasan tidak semuanya kasus tindak Pidana Khalwat/Mesum tidak

dilimpahkan ke Mahkamah Syar’iyah karena banyak di antara

pelaanggaran Jarimah Khalwat/Mesum yang dilakukan bersifat ringan dan sedang dan cukup di berikan bimbingan oleh pihak Wilayatul Hisbah dan diiselesaikan berdasarkan hukum adat secara kekeluargaan.

3. Upaya yang ditempuh dalam meenanggulangi tindak Pidana Khalwat/Mesum adalah dengan cara melakukan operasi rutin dan operasi terpadu yang dilakukan oleh pihak Wilayatul Hisbah.

B. Saran

1. Untuk menunjukkan bahwa Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum berjalan dengan sempurna maka perlu adanya Qanun Acara jinayah dan dilakukan revisi terhadap Qanun Khalwat/Mesum mengenai hal-hal yang belum sempurna peraturannya, seperti masalah panahanan, dan penyelesaian perkara secara hukum adat.

2. Sebelum adanya Qanun Acara tentang Qanun Khalwat/Mesum maka pemerintah harus membuat suatu lembaga yang dapat menampung para pelaku Khalwat/Mesum sebelum terdakwa di hadapkan kepersidangan, bukan berarti pelaku di ”TAHAN” tetapi di lembaga tersebut pelaku di berikan bimbingan atau nasehat.

3. Hal lain yang perlu di tanggapi dengan serius adalah kesadaran akan hukum oleh setiap masyarakat, baik penegak hukum maupun orang asing yang berdomisili di Aceh. Dan bagaimana cara mensosialisasikan Syariat Islam kepada masyarakat, hal ini masih lambat, karena sosialiosasi ini Cuma melibatkan petugas Wilayatul Hisbah saja sedangkan pihak lain baik aparat penegak hukum maupun masyarakat kurang serius dalam melaksanakan Syariat Islam.

Dalam dokumen TINDAK PIDANA MESUM DALAM SISTIM HUKUM N (Halaman 65-74)