15. Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka Telah memberi persaksian, Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya26.
D. Penanggulangan Jarimah Menurut Hukum Islam
Menanggulangi kejahatan mencakup kegiatan mencegah sebelum terjadi dan memperbaki pelaku yang dinyatakan bersalah dan dihukum penjara atau lembaga pemasyarakatan27. Upaya membina dan mendidik untuk memasyarakatkan kembali, pada hakekatnya bermasud untuk pencegahan atau preventif, secara lebih umum upaya penanggulangan kriminalitas dlakukan dengan apa yang dinamakan metode moralistick dan metode abolisionistk.
26Zainuddin Ali, Lop Cit, hal 38
27Soedjono Dirdjosiswono, Ruang Lingkup Kriminologi, Remadja Karya, Bandung, 1984, hal 19-20
1. Moralistik, yakni dilakukan dengan cara membina mental spiritual yang isa dilakukan oleh para ulama, para pendidk dan lain-lain.
2. Abolisionistik, yakni penanggulangan bersifat konsepsional yang harus direncanakan dengan dasar penelitian kriminologi, dan menggali dasar sebab musababnya dari berbagai faktor yang berhbungan.
Cara yang umum konsepsional, dilakukan dengan memadukan berbagai unsur yang berhubungan dengan mekanisme peradilan pidana serta partisipasi masyarakat, yaitu metode yang diketengahkan oleh Reckles dalam The crime problem, yang secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Peningkatan dan pemantapan aparatur penegak hukum, meliputi pemantapan organisasi, personel dan sarana prasarana untuk penyelesaian perkara pidana.
2. Perundang-rundangan yang dapat berfungsi mengkanalisir dan membendung kejahatan dan mempunyai jangkauan kemasa depan.
3. Mekanisme peradilan pidana yang efektif dan memenuhi syarat cepat, tepat, murah dan sederhana.
4. Koordinasi antar aparatur penegak hukum dan aparatur pemerintahan yang lainnya yang berhubungan untuk meningkatkan daya guna dalam penanggulangan kriminalitas.
5. Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran penanggulangan kriminalitas.
Dalam membangun masyarakat, Allah telah meletakkan rambu-rambu yang menjaga masyarakat dari ketercerai-beraian dan kelemahan sehingga
manusia akan merasa aman terhadap jiwa, kehormatan, dan hartanya didalam masyarakat muslim itu sendiri28. Berhubungan dengan kehatan jarimah sebagaimana tersebut pada butir ke tiga uraian diatas, tentang peradilan, maka semua kejahatan yang berhubungan dengan tindak pidana khalwat/mesum atau
jarimah maka Mahkamah Syar’iyah yang ada di Aceh baik di tingkat kabupaten atau kota maupun provinsi berkewajiban dan berwenang mengadili, memeriksa serta memutuskan tentang hal pidana yang terjadi di Aceh, sebagaimana ketentuannya dalam Pasal 128 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006, tetang Pemerintahan Aceh, yang berbunyi :
Pasal 128 ayat (3), Mahkamah Syar’iyah berwenang memeriksa,
mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara yang meliputi bidang ahwal-ashsykshiyah (hukum keluarga), mu’amalah (hukum perdata) dan
jinayah (hukum pidana) yang berdasarkan atas Syariat Islam.
Dalam Qanun Nomor 14 tahun 2003 tentang Khalwat/Mesum, di jelaskan bahwa dalam menanggulangi tindak Pidana Khalwat/Mesum, maka peran serta larangan masyarakat dan pemerintah berkewajiban melakukanpembinaan, sebagai dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan (2), dalam peran serta masyarakat, dan Pasal 13 ayat (1) dan (2) tentang pengawasan dan pembinaan berbunyi :
Pasal 8 :
(1). Masyarakat berperan serta dalam membantu upaya pencegahan dan pemberantasan perbuatan Khalwat/Mesum.
(2). Masyarakat wajib melapor kepada pejabat yang berwenang baik lisan maupun tulisan apabila mengetahui adanya pelanggaran terhadap larangan Khalwat/Mesum.
Pasal 13 :
(1). Gubernur, Bupati/Walikota, Imum mukim dan keuchik berkewajiban melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap penerapan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6.
28 Abdurrahman dan Abdussalam Hasan Washil, Gejolak sexk akibat dan Solusinya, Daarusy-Syuruuq-Bairut 1986, hal 78
(2). Untuk melakukan penngawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan Qanun ini, Gubernur, Bupati/Walikota membentuk Wilayatul Hisbah.
Untuk lebih lanjut dalam hal penanggulangan kejahatan pidana khalwat/mesum atau jarimah adalah selain melakukan pembinaan, juga harus dujatuhkan sanksi yang tegas bagi pelaku pidana, dan tujuan untuk menagulangi kejahatan terserbut karena29:
1. Mengembalikan kawum Muslimin kepada pimpinan Al-qur’an dan hadist.
2. Menghidupkan ruh jihad dan ijtihat dalam kalangan ummat Islam.
3. Membasmi bid’ah khurgat dan takhayal, tahlid dan syirik dalam kalangan ummat Islam
4. Memperlus tersiarnya tablig dan dakwah kepada segenap lapisan masyarakat.
5. Mendirikan madrasah/pesantren untuk mendidik putera/puteri muslim dengan dasar Al-qur’an dan hadist.
Konsepsi yang rasional empiris, untuk menjawab, bagaimana kejahatan itu dapat ditanggulangi secara efektif, juga merupakan suatu persoalan besar dan rumit.Karena, apa bila rumusan “apa sebenarnya kejahatan”, masih subyektif dan
relatif. Para fuqaha30, membagi cara pemberantasan kemungkaran kepada tujuh bagian yaitu :
1. Penjelasan, apabila seseorang melakukan sesuatu keburukan (kemungkaran) sedang ia tidak mengetahui bahwa pebuatannya adalah salah, cara yang baik untk mencegahnya yaitu dengan memberi penjelasan
29Hasbullah, Kapita Selekta Hukum Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada 1999, hal 140
kepadanya denga sikap yang halus dan lemah lembut, bahwa perbuatan itu adalah perbuatan mungkar.
2. Memberi nasehat dan petunjuk, cara ini ditujukan kepada orang yang memulai suatu perbuatan dan ia menyadari bahwa perbuatannya adalah mungkar.
3. Menggunakan kekerasan, cara ini dilakukan apa bila jalan yang halus dengan nasehat dan petunjuk tidak dapat teratasi, cara ini dilakukan pada saat darurat, tapi harus dengan cara yang sopan, baik dan benar.
4. Mengadakan tindakan dengan tangan, ini tindakan yang langsung terhadap barang dan jenis kemngkarannya, seperti merusak barang-barang yang digunakan untuk melakukan maksiat.
5. Menggunakan ancaman pukulan dan pembunuhan, ini baru pada tahap ancaman bukan tindakan, ancaman tersebut harus dapat diwujudkan bukan ancaman tidak boleh diwujudkan, misalnya nant kamu saya dera atau saya pukul tengkukmu.
6. Menggunakan pemukulan dan pembunuhan, ini digunakan pada saat darurat dan digunakan secara bertahapsesuai dengan keperluan.
7. Meminta bantuan orang lain, ini apa bila dirinya sendiri tidak mampu untuk memberantas kemungkaran dan ia memerlukan bantuan orang lain dengan kekuatan dan senjatanya maka para fuqaha berbeda pendapat. Sebagian para fuqaha meminta bantuan orang lain untuk memberantas kemungkaran tidak dibolehkan31.
Disamping fenomena kejahatan sukar dirumuskan sehubungan dengan sifat kriminalitas itu sendiri, maka dengan demikian sukar pula untuk menemukan sebab-musabab kejahatan. Beberapa filsuf berkesimpulan bahwa nada moral dari masyarakat telah menurun, dan belakangna ini perbuatan kriminalitas telah dimulai sejak masa kanak-kanak dan pemuda-pemuda kita telah semakin bertambah saja yang harus menghadap kepengadilan.
Dalam hal pelaksanaan ‘uqubat cambuk maka pelaksanaannya menjadi
tanggung jawab jaksa dan sebelum pelaksanaan hukuman cambuk dilakukan atas terhakum perlu diperhatikan tentang kesehatannya terlebih dahulu, sebagaimana peraturannya dalam peraturan Gubernur Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Nomor 10 tahun 2005, tentang teknis pelaksanaan ‘uqubat cambuk Pasal 2 ayat
(1) dan ayat (2), dan Pasal 5 ayat (1) berbuyi : Pasal 2 :
Ayat (1), Pelaksanaan ‘uqubat cambuk adalah kewenangan dan tanggung
jawab jaksa.
Ayat (2), Dalam melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab tersebut pada ayat (1) jaksa menunjuk pencambuk.
Pasal 5 :
Ayat (1), Sebelum pelaksanaan pencambukan terhukum terlebih dahulu diperiksa kesehatannya oleh dokter.
Dengan ketentuan sebagaimana tersebut ayat diatas, setelah pelaksanaan pencambukan maka jaksa wajib membuat dan menandatangani berita acara sesuai dengan apa yang telah dituangkankan dalam Pasal 14 ayat (1) dan ayat (3) tentang Peraturan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10 tahun 2005 sebagai berikut :
Ayat (1)
a. Jaksa membuat dan menandatangani berita acara pelaksanaan pencambukan.
b. Dokter ikut menandatangani berita acara pelaksanaan pencambukan sebagai saksi.
c. Jaksa membawa terhukum keruangan yang telah disediakan untuk seterusnya dibebaskan dan/atau dikembalikan kepada keluarganya. Ayat (3) Satu lembar salinan berita acara diserahkan kepada terhukum
atau keluarganya sebagai bukti bahwa telah menjalani seluruh atau sebagian hukuman.
Berdasarkan uraian diatas, tentang penanggulangan Khalwat/Mesum atau jarimah pada intinya adalah untuk mewujudkan pelaksanaan Syariat Islam yang kaffah dengan sendi-sendi ajaran Islam sebagaimana Intruksi Gubernur Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 05/INSTR/2002, tentang tata Pergaulan/Khalwat antara pria dan wanita dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, guna untuk melaksanakan penbinaan kehidupan beragama secara intensif guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seta aklhak umat dalam bentuk pelarangan terhadap setiap orang yang bukan mahramnya untuk berdua-duaan (berkhalwat) pada tempat-tempat yang sunyi dan terhalang dari pandangan umum. Dan mengintruksikan kepada pemilik tempat atau penanggung jawab tempat-tempat rekreasi, panggung hiburan dan upacara-upacara bai keagamaan ataupun lainnya yang dihadiri oleh massa pria dan wanita, harus menjaga tata karma pergaulan sesuai dengan tuntutan Syariat Islam.
BAB III
TINDAK PIDANA KHALWAT/MESUM DAN PENYELESAIANNYA DI