• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

C. Alat Ukur Sport Psychology Attitudes – Revised (SPA-R) Form

Peneliti menggunakan alat ukur SPA-R Form sebagai instrumen penelitian karena sesuai dengan Multidimensional Model of Sport Psychology Provison (M2SP2) yaitu kerangka konseptual untuk menguji hubungan antara sikap dan perilaku atlet terhadap penggunaan layanan psikologi olahraga dan pelatihan mental. Martin mengembangkan 25 item kuesioner Sport Psychology Attitude-Revised (SPA-R) untuk mendapatkan pengetahuan mengenai persepsi atlet terhadap psikologi olahraga. Terdapat empat faktor dalam SPA-R yakni toleransi stigma (stigma tolerance), kepercayaan (confidence in sport psychology consulting), keterbukaan diri (personal openness) dan preferensi budaya (cultural preference). Peneliti menggunakan alat ini karena berdasarkan analisis psikometrik yang pernah dilakukan Martin (2002) menunjukkan bahwa alat ukur SPA-R memiliki reliabilitas dan validitas yang cukup pada berbagai macam sampel.

Stigma menurut Green (seperti dikutip dalam Cholil, 1997) adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Sedangkan menurut Goffman (seperti dikutip dalam Heatherton, 2003) mendefinisikan stigma sebagai suatu isyarat atau pertanda yang dianggap sebagai

“gangguan” dan karenanya dinilai kurang dibanding orang-orang normal. Skala toleransi stigma (stigma tolerance) pada SPA-R mengukur apakah atlet percaya bahwa orang lain akan memberi label khusus memiliki masalah psikologis apabila

olahraga adalah hal buruk untuk reputasi atlet”. Skor tinggi dalam skala ini

mengindikasi bahwa atlet memiliki stigma terhadap psikolog olahraga. Penelitian oleh Yambor dan Conelly (seperti dikutip dalam Martin et al., 2004) menyebutkan bahwa atlet laki-laki cenderung menolak konsultasi psikologi olahraga dibandingkan dengan atlet wanita karena mereka tidak ingin disebut lemah dalam penggunaan layanan tersebut. Penelitian oleh Van Raalte, Brewer, Linder, & DeLange (seperti dikutip dalam Martin et al., 2004) menyatakan bahwa beberapa kelompok memberi stigma terhadap atlet yang menggunakan psikolog olahraga karena kelompok ini mengasosiasikan perilaku tersebut sama seperti dengan individu yang menggunakan layanan kesehatan mental.

Tabel 1

Item Pada Skala Toleransi Stigma (Stigma Tolerance)

No. Item

1. Saya tidak akan menemui pelatih mental/psikolog olahraga sebab rekan-rekan tim akan mengolok-olok saya

2. Saya akan merasa khawatir jika pergi ke pelatih mental/psikolog olahraga sebab beberapa orang akan mencela saya

3. Menemui pelatih mental/psikolog olahraga akan memberikan dampak buruk bagi reputasi atlet sepak bola

4. Saya tidak ingin ada yang tahu bahwa saya meminta bantuan dari pelatih mental/psikolog olahraga

5. Jika saya menemui pelatih mental/psikolog olahraga, saya tidak ingin pelatih saya mengetahui tentang hal itu

6. Jika saya menemui pelatih mental/psikolog olahraga, saya tidak ingin ada atlet sepak bola lain yang mengetahuinya

7. Pelatih akan memandang rendah diri saya jika saya menemui pelatih mental/psikolog olahraga

Skala kepercayaan (Confidence in Sport Psychology Consulting) mengukur kepercayaan atlet tentang kegunaan pelayanan psikologi olahraga dan pelatihan mental. Menurut Bull (seperti dikutip dalam Martin et al., 2004) kepercayaan (Confidence in Sport Psychology Consulting) adalah karakteristik penting dalam pribadi seseorang yang dapat mempengaruhi kesetiaan terhadap program latihan kemampuan mental. Contohnya

”Konsultan psikologi olahraga dapat membantuku memperbaiki performa

olahragaku”. Skor tinggi dalam skala ini mengindikasikan kepercayaan yang

tinggi terhadap pentingnya psikologi olahraga. Pada penelitian Wilson dan Deane (seperti dikutip dalam Martin, 2005) beberapa hambatan yang dapat mengganggu terhadap perilaku help-seeking pada remaja diidentifikasi. Hambatan tersebut diantaranya takut bahwa kerahasiaan akan terbongkar, kepercayaan bahwa akan terjadi distress psikologis dan kecurigaan terhadap konseling yang tidak akan berguna.

Tabel 2

Item Pada Skala Confidence in Sport Psychology Consulting

No. Item

1. Pelatih mental/psikolog olahraga mampu meningkatkan ketangguhan mental atlet sepak bola

2.

Jika seorang atlet sepak bola meminta saran tentang perasaan gagal yang berhubungan dengan olahraga, saya akan menyarankan dia untuk bertemu dengan pelatih mental/psikolog olahraga

3. Saya membutuhkan jasa pelatih mental/psikolog olahraga untuk lebih bisa memahami diri saya sebagai seorang atlet sepak bola

No. Item

4.

Atlet sepak bola yang memiliki masalah dengan emosinya akan merasa lebih tenang dengan bantuan dari pelatih mental/psikolog olahraga ketika berolahraga.

5. Saya akan menemui pelatih mental/psikolog olahraga jika saya jengkel atau khawatir dengan prestasi olahraga saya.

6. Bagi saya, pelatih mental/psikolog olahraga akan membantu saya bermain lebih baik ketika berada di bawah tekanan.

7. Pelatih mental/psikolog olahraga dapat membantu saya dalam meningkatkan kemampuan olahraga saya.

8.

Ketika saya merasa gagal, saya akan mencari nasihat tentang permasalahan pribadi dan emosional dari orang-orang profesional.

Skala keterbukaan diri (personal openness) mengukur keterbukaan interpersonal dalam menggunakan pelayanan psikologi olahraga. Pengertian keterbukaan interpersonal adalah kondisi dimana individual memiliki keinginan untuk mendiskusikan permasalahan terhadap orang lain (Martin et al., 1997). Menurut Widjaja (2000) sifat keterbukaan menunjukkan paling tidak dua aspek tentang komunikasi interpersonal. Aspek pertama yaitu bahwa kita harus terbuka pada orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Dari sini orang lain akan mengetahui pendapat, pikiran dan gagasan kita sehingga komunikasi akan mudah dilakukan. Aspek kedua dari keterbukaan merujuk pada minat kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain dengan jujur dan terus terang segala sesuatu yang dikatakannya, demikian

tahu mengenai permasalahan pribadiku”. Skor yang tinggi dalam skala ini

mengindikasikan kurangnya keterbukaan diri (personal openness). Dari penelitian Donohue (seperti dikutip dalam Anderson et al., 2004) bila atlet tidak mau untuk membagikan informasi personal maka akan menjadi hambatan dalam menggunakan layanan psikologi olahraga. Praktisi lain menyatakan bahwa jika atlet tidak bersedia membagikan informasi pribadi akan menghambat penggunaan layanan psikologi olahraga.

Tabel 3

Item Pada Skala Keterbukaan Diri (Personal Openness)

No. Item

1. Ada beberapa masalah yang seharusnya tidak diceritakan pada orang lain kecuali keluarga dekat.

2. Ide baik untuk menghindari rasa khawatir adalah dengan fokus pada pekerjaan.

3.

Sesuatu hal yang terhormat pada sikap atlet sepak bola yang memiliki minat untuk mengatasi konflik dan ketakuannya sendiri tanpa membutuhkan bantuan dari seorang professional.

4. Ada beberapa pengalaman dalam hidup saya yang tidak akan saya diskusikan pada orang lain.

5. Permasalahan emosional cenderung akan selesai dengan sendirinya.

6. Atlet sepak bola dengan karakter yang kuat mampu menyelesaikan urusannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Skala preferensi budaya (cultural preference) mengukur tingkat dimana atlet mengindentifikasi budaya mereka dan lebih memilih bekerja

dengan konsultan yang memiliki latar belakang budaya sama. Contoh ”Aku

lebih nyaman terhadap konsultan psikologi olahraga jika budaya mereka sama

denganku”. Skor tinggi dalam skala ini berhubungan dengan kuatnya

preferensi budaya. Penelitian oleh Anshel (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) menunjukkan bahwa beberapa individu lebih memilih instruktur, konselor dan pelatih yang memiliki etnis dan ras yang mirip dengan identitas mereka). Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian bahwa atlet berkulit putih lebih terbuka terhadap konsultan psikologi olahraga yang berkulit putih dibandingkan atlet berkulit hitam (Martin et al., 1997). Salah satu penyebabnya adalah karena atlet berkulit hitam memiliki rasa tidak percaya terhadap konsultan psikologi olahraga yang berkulit putih (Martin et al., 1997). Wade dan Bernstein (1991) menyatakan bahwa atlet berkulit hitam akan lebih sering menemui konselor berkulit hitam dibandingkan dengan konselor berkulit putih. Kesimpulan yang dapat diambil yakni sikap dan persepsi atlet terhadap layanan psikologi olahraga adalah hasil dari kepercayaan masyarakat umum dan budaya mereka (Martin et al., 2012)

Tabel 4

Item Pada Skala Preferensi Budaya (Cultural Preference)

No. Item

1. Saya menghargai pendapat dari rekan dengan budaya yang sama daripada rekan dengan budaya yang beda dengan saya.

2. Atlet yang menjadi rekan saya berasal dari ras yang sama dengan saya.

D. Penelitian Sport Psychology Attitudes – Revised (SPA-R) Form Pada

Dokumen terkait