BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Multidimensional Model of Sport Psychology Provision
Zakrajsek dan Martin (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) mengembangkan Multidimensional Model of Sport Psychology Provison (M2SP2) yang merupakan kerangka konseptual untuk menguji hubungan antara sikap dan perilaku atlet terhadap penggunaan layanan psikologi olahraga. M2SP2 terdiri dari latar belakang (antecedents) yang dapat mempengaruhi sikap dan keyakinan (attitudes & beliefs), dimana kemudian menghasilkan konsekuensi (consequences) seperti intensi menggunakan layanan psikologi olahraga, keterbukaan terhadap pelayanan dan kepuasan dengan pelayanan yang disediakan. Konsekuensi (consequences) ini dapat kembali mempengaruhi sikap dan keyakinan (attitudes &
beliefs) yang kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan intensi di masa depan selanjutnya. Hal ini menggambarkan adanya siklus dan hubungan antara konsekuensi (consequences) dan sikap serta keyakinan (attitudes and beliefs) (Martin et al., 2012). Dipilihnya variabel sikap oleh peneliti karena sikap atlet dapat mempengaruhi intensi mereka dalam melatih kemampuan psikologi/mental dalam olahraga (Harmison, 2000). Gambar 1 adalah alur dari M2SP2 :
Gambar 1
Multidimensional Model of Sport Psychology Service Provision
→
B.1 Latar Belacedent)
Latar Belakang Sikap & Keyakinan Konsekuensi Karakteristik situasional Karakteristik konsultan Karakteristik atlet Karakteristik pelatih Toleransi stigma Kepercayaan Keterbukaan diri Preferensi budaya Harapan Norma subjektif Kontrol perilaku yang
dipersepsikan Niat Perilaku Kepuasan Karakteristik significance others
B.1 Latar Belakang (Antecedent)
Seperti pada tabel 1 menunjukkan bahwa latar belakang terdiri dari karakteristik situasional, karakteristik konsultan, karakteristik atlet, karakteristik atlet dan karakteristik significant other akan mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap psikologi olahraga.
Karakteristik situasional seperti jenis olahraga, tingkat kompetisi dan budaya dalam olahraga dapat mempengaruhi sikap, dan minat dalam menggunakan pelayanan. Sebagai contoh atlet pada olahraga kontak fisik atau olahraga dimana suatu budaya menekankan sifat maskulin (American football, tinju, bela diri, rugby, sepakbola dan gulat) akan memiliki sikap ragu terhadap pelayanan psikologi olahraga. Kompetisi pada tingkat yang rendah juga akan mempengaruhi dimana mereka akan kurang terbuka terhadap pelayanan psikologi olahraga (Martin et al., 2012). Selain itu ditemukan juga perbedaan antara atlet pada olahraga tim dan olahraga individual. Menurut Wrisberg, Lind, Simpson, Loberg dan Reed (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) yang membedakan adalah atlet pada olahraga tim lebih memiliki minat menggunakan pelayanan psikologi olahraga sebagai upaya untuk mengembangkan keterampilan komunikasi. Sedangkan pada olahraga individual, atlet akan lebih tertarik pada pelayanan yang dapat membantu mereka meningkatkan performansi ketika berkompetisi.
Karakteristik atlet seperti usia, gender, ras/etnis, komitmen pribadi, pengalaman sebelumnya dalam psikologi olahraga dapat mempengaruhi sikap dan kepercayaan atlet terhadap layanan psikologi olahraga. Penelitian yang dilakukan oleh Johnson (seperti dikutip dalam Anderson et al., 2004)
menunjukkan bahwa wanita lebih berminat untuk menggunakan layanan psikologi dibandingkan dengan atlet laki-laki. Atlet pada usia remaja memiliki stigma yang lebih besar terhadap layanan psikologi olahraga jika dibandingkan dengan usia dewasa (Martin, 2005). Ras yang tergolong minoritas (atlet berkulit hitam dan Hispanic) juga cenderung enggan dalam menggunakan layanan psikologi olahraga dibandingkan dengan atlet berkulit putih. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa atlet berkulit putih lebih terbuka terhadap layanan psikologi olahraga dibandingkan dengan atlet berkulit hitam.
Karakteristik konsultan dapat mempengaruhi sikap atlet terhadap psikologi olahraga dan keterbukaan dalam pelayanan. Dari beberapa penelitian sebelumnya, konsultan yang efektif menurut atlet diantaranya adalah : menarik, ramah, dapat dipercaya, empati, memiliki kemampuan professional, cocok dengan tim, fleksibel, percaya diri, memiliki pengalaman yang memadai tentang psikologi olahraga (Anderson et al., 2004).
Karakteristik pelatih pada beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor seperti gender, umur, pengalaman melatih, pengalaman menggunakan psikologi olahraga adalah faktor yang paling konsisten dalam mempengaruhi sikap pelatih terhadap pelayanan (Nelson, 2008; Zakrajsek & Zizzi, 2007).
Karakteristik significant other (direktur atlet, orang tua atlet) pada penelitian Wrisberg et al. (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) menunjukkan bahwa sikap mereka dipengaruhi oleh persepsi tentang nilai dari pelayanan psikologi olahraga, akses pelayanan dan biaya yang dibutuhkan untuk menyewa konsultan psikologi olahraga.
B.2 Sikap dan Kepercayaan (Attitudes & Beliefs)
Variabel sikap seperti toleransi stigma (stigma tolerance), kepercayaan (confidence in consulting), keterbukaan diri (personal openness), dan preferensi budaya (cultural preference) diidentifikasi sebagai faktor yang berhubungan dengan minat atlet dalam pelayanan psikologi olahraga. Martin et al. (2002) melakukan analisis eksplorasi dan konfirmatori pada lebih dari 1500 atlet di Amerika Serikat, Britania Raya dan Jerman yang menghasilkan toleransi stigma (stigma tolerance), kepercayaan (confidence in consulting),
keterbukaan diri (personal openness) dan preferensi budaya (cultural preference). Konsistensi internal dan reliabilitas test-retest pada alat ukur SPA-R memperlihatkan hasil yang bagus dan menggambarkan bahwa SPA-SPA-R menjadi alat yang stabil untuk mengukur sikap atlet terhadap konsultasi Psikologi Olahraga.
Harapan (expectation) mengenai proses konsultasi dapat mempengaruhi intensi atlet dalam menggunakan pelayanan psikologi olahraga, khususnya ketika harapan mereka lebih realistis (Martin, Akers, Jackson, Wrisberg, Nelson, Leslie, & Leidig., 2001; Zakrajsek & Zizzi, 2007). Sebagai contoh atlet yang belum pernah mendapatkan pengalaman konsultasi dengan psikolog olahraga akan memiliki harapan yang tidak relastis dibandingkan dengan mereka yang pernah berpengalaman sebelumnya (Martin et al., 2001).
Norma subjektif (subjective norms) menjadi hal penting dalam menggunakan pelayanan psikologi olahraga. Sebagai contoh meskipun atlet memahami proses dan percaya bahwa menggunakan pelatihan mental dapat bermanfaat, mereka tidak akan menggunakannya apabila mereka percaya
bahwa pelatih mereka akan tidak menyetujui dan menganggap mereka lemah bila menggunakan pelayanan psikologis (Martin, Wrisberg, Beitel & Lounsbury., 1997)
Kontrol perilaku yang dipersepsikan (perceived behavioral control) menjadi faktor penting yang mempengaruhi atlet menggunakan layanan psikologi olahraga (Anderson et al., 2004). Aspek di dalam lingkungan olahraga yang berpotensi menghambat Kontrol perilaku yang dipersepsikan (perceived behavioral control) dan penggunaan layanan diantaranya adalah adanya batasan waktu, kurangnya biaya dan akses kepada konsultan psikologi olahraga (Gould, Medbery, Darajian, & Lauer., 1999; Pain & Harwood, 2004)
B.3 Konsekuensi (Consequences)
Secara teoritis, M2SP2 berpijak pada theory of reasoned action (TRA) oleh Ajzen dan Fishbein (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) dan theory of planned behavior (TPB; Ajzen, 2002). TRA dan TPB memberi arti bahwa
behavioral beliefs, normative beliefs dan perceived control beliefs dapat mempengaruhi behavioral intentions seseorang (Ajzen, 2002). Teori ini memiliki rumus bahwa semakin tinggi attitude dan subjective norm seseorang ke arah favorable dan semakin besarnya perceived control beliefs seseorang maka akan semakin kuat juga intensi seseorang dan kesiapan dalam menggunakan pelayanan (Martin et al., 2012). Sikap atlet terhadap psikologi olahraga akan mempengaruhi intensi mereka dalam menggunakan layanan psikologi olahraga (Anderson et al., 2004)
Intentions menurut Fishbein dan Ajzen (1975) merupakan komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Bandura (2001) menyatakan bahwa intensi merupakan suatu kebulatan tekad untuk melakukan aktivitas tertentu atau menghasilkan suatu keadaan tertentu di masa depan. Lebih lanjut, intentions dalam menggunakan layanan psikologi olahraga dapat mengarahkan pada tingkah laku seseorang. Sebagai contoh Leffingwell et al., (2001) mendapatkan hasil bahwa atlet pada
action stage, paling banyak untuk memulai inisiatif untuk konsultasi psikologi olahraga secara individu dibandingkan dengan mereka yang berada pada tingkat lebih awal. Penelitian lain pada atlet rugby (Keeler & Watson, 2011) menemukan bahwa 54.6% atlet yang berinisiatif melakukan konsultasi psikologi olahraga berada pada tingkat action stages of readiness dibandingkan dengan 45.5% lain yang berada pada tingkat contemplation stage (berpikir mengenai penggunaan layanan psikologi olahraga)
Behaviors berhubungan dengan belajar dan menggunakan kemampuan mental, dapat meningkatkan kemungkinan bahwa atlet olahraga akan mulai menggunakan psikologi olahraga. Zakrajsek dan Zizi (seperti dikutip dalam Martin et al., 2012) menemukan efek workshop psikologi olahraga dimana pelatih mendapatkan perubahan positif dalam sikap, intention dan perilakunya secara cepat dan satu bulan setelah workshop.
Satisfication terhadap proses belajar kemampuan mental akan menjadi hal mendasar untuk masa depan dalam penggunaan psikologi olahraga oleh atlet olahraga. Dampak positif psikologi olahraga dapat mempengaruhi
beberapa aspek mental pada atlet seperti fokus yang meningkat, kontrol emosi, kepercayaan diri dan komunikasi dengan yang lain (Lazarus, 2000).