Pendapat serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI Rachmat Pambudi. Menurut Rachmat, peringatan Hari Tani Nasional masih relevan karena bersamaan waktunya dengan lahirnya UUPA. Apalagi lahan merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi petani dan dunia pertanian. Petani bisa bekerja jika mereka memiliki tanah. Karena petani yang tidak memiliki tanah namanya buruh tani.
Pada saat yang sama petani juga terancam dengan alih fungi lahan yang terus terjadi dan bahkan semakin menggerus keberadaan lahan pertanian. Kalau tidak dihentikan niscaya usaha dunia pertanian akan terancam eksistensinya.
“Karena itu memperingati Hari Tani pada
24 September menjadi sangat urgen. Apalagi saat sekarang, ketika pucuk pemerintah pusat bakal terjadi pergantian. Jokowi Jusuf Kalla harus bisa membuktikan janji kampanyenya. Mereka bilang bakal memajukan ekonomi kerakyatan. Itu artinya mereka juga siap meningkatkan kesejahteraan petani”, kata Rachmat menambahkan.
Ke depan, Rachmat berharap, pemerintah lebih serius membantu petani mendapatkan
kesejahteraannya. Kalau itu dilakukan, niscaya cita-cita terjadinya kedaulatan pangan bukan hanya jargon, tapi benar- benar menjadi kenyataan.
“Untuk bisa swasembada pangan, khususnya beras, tidaklah sulit. Karena kita hanya membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk memanen. Karena itu, kalau benar-benar mau berdaulat dalam pangan, semua itu bisa dilakukan hanya dalam waktu yang singkat”, kata Rahmat Pambudi lagi.
Seperti halnya Rachmat Pambudi, ketua
Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) tingkat Nasional Winarno Tohir juga berpendapat bahwa peringatan Hari Tani Nasional masih sangat penting untuk dilakukan. Bukan untuk melakukan upacara, atau kegiatan ceremonial, tapi untuk melihat berbagai persoalan yang dihadapi petani. Dan, untuk merenungkan kembali nasib petani serta mencarikan jalan keluar bagi petani guna memperoleh kesejahteraan.
Kedaulatan pangan, menurut Winarno, bukan sesuatu yang mustahil dicapai.
Karena segala persoalan yang menimpa petani dan pertanian Indonesia sudah dimengerti benar oleh pemerintah. Bahkan jalan keluarnya pun sudah diketahui. Tinggal bagaimana pemerintah benar-benar mau memecahkan persoalan pertanian ini. “Pesoalan yang dihadapi para petani memang tidak sedikit. Namun, semua permasalahan itu sudah diketahui sumber dan pemecahannya”, kata Winarno menambahkan.
Salah satu persoalannya adalah berkurangnya lahan pertanian. Pengurangan terjadi akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi industri, perumahan, jalan raya, atau lainnya. Tak tanggung-tanggung setiap tahun terjadi penyusutan lahan pertanian mencapai 100.000 hektar.
Mesuji
Sayangnya, alih fungsi lahan yang terjadi selama ini tak selamanya berjalan damai. Bahkan, sebagian besar menempatkan petani sebagai pihak yang dirugikan. Mereka kehilangan lahan yang sudah bertahun- tahun digarap dan menjadi mata pencahariannya.
Peristiwa paling anyar terkait perebutan lahan ini terjadi pada Jumat (12/9). Bentrokan antara aparatur kepolisian dan warga Pandang Raya terkait eksekusi lahan seluas 4.000 meter persegi. Ratusan warga dibantu mahasiswa mencoba mempertahankan
lahan yang akan dieksekusi oleh PN Makassar. Ratusan aparatur kepolisian Brimob Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar menerobos palang bamboo yang dipasang warga di Jalan Pandang Raya menggunakan kendaraan taktis (Rantis) APC dan water cannon.
Sempat terjadi perlawanan dari warga dengan cara melempari petugas menggunakan batu dan bom molotov.
Sementara warga yang lain terlihat menenteng senjata tajam berupa parang, badik, dan panah. Beruntung bentrokan tersebut tidak sampai memakan korban jiwa setelah petugas berhasil memukul mundur warga. Perkara sengketa lahan itu melibatkan Goman Wisan dengan H. Hafid dan kawan-kawan. “Berdasarkan putusan kasasi 2006, PN sudah tiga kali melakukan eksekusi dan gagal terus lantaran bentrokan fisik terus terjadi.
Sebelumnya, di Karawang, Jawa Barat, ratusan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Karawang (Sepetak) berdemonstrasi di depan Mabes Polri pada Senin, 30 Juni 2014. Mereka meminta polisi mengusut tuntas perampasan tanah petani di Kabupaten Karawang. Menurut salah
seorang demonstran, PN Karawang yang hendak mengeksekusi lahan pada 24 Juni 2014 itu memiliki cacat prosedur hukum. Karena dalam proses eksekusi, PN Karawang tidak memiliki batas-batas areal yang akan dieksekusi.
Upaya penyerobotan lahan tersebut, kata Hilal, mengakibatkan 420 kepala keluarga tidak dapat bertani. Padahal selama konflik berlangsung tidak ada satu pun bukti
kepemilikan atas tanah tersebut oleh PT Samp. Mereka hanya menunjukkan bukti surat pelepasan Hak dan Peta Global yang dikeluarkan BPN Kanwil Jawa Barat.
Sebelumnya, pada 24 Juni 2014 terjadi eksekusi lahan sejumlah petani di Karawang yang dilakukan Pengadilan Negeri Karawang dengan dikawal oleh 7 ribu aparat kepolisian. Lahan seluas 350 hektar yang sebelumnya milik petani Karawang dinyatakan oleh PN Karawang menjadi milik PT SAMP yang telah diakuisisi oleh PT Agung Podomoro Land.
Menurut Ketua Pengadilan Negeri Karawang, Marsudin Nainggolan, sengketa lahan di wilayah Telukjambe, Kabupaten Karawang, antara warga dengan PT Samp sudah dimenangkan perusahaan dari grup PT Agung Podomoro sejak 2007. Perkara
perdata tersebut membuat 48 warga kehilangan mata pencarian. “PT Samp sendiri telah memenangkan perkara tersebut mulai dari pengadilan tingkat pertama, banding, hingga kasasi.
Sebelumnya, beberapa kasus menyangkut sengketa lahan juga sempat muncul dan menyita perhatian masyarakat. Antara lain terjadi di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Sengketa lahan yang terjadi pada 21 April 2011 itu berujung bentrokan antar warga yang mengakibatkan dua warga dan lima karyawan perusahaan
sawit tewas.
Kasus yang lain juga terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung, pada November 2010. Kasus yang dipicu s e n g k e t a l a h a n i n i m e n y e b a b k a n b e b e r a p a o r a n g d i s a n d e r a o l e h sekelompok masyarakat. Saat polisi datang untuk mengevakuasi masyarakat m a l a h w a r g a m e n c e g a t n y a . P o l i s i terpaksa mengeluar-kan tembakan karena warga melakukan perlawanan. A k i b a t b e n t r o k i n i s e o r a n g w a r g a dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa tersebut kemudian meluas dan sempat
ramai diperbincangkan anggota DPR RI. Pada awal 2014, tepatnya pada Januari lalu, bentrok berdarah akibat sengketa lahan kembali terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung. Dua kelompok warga di Desa Tulung Gunung, Mesuji, terlibat bentrok dengan melibatkan senjata api. Peritiwa tersebut terjadi pada Sabtu (4/1) malam di lahan perambah Register 45 Mesuji. Peristiwa tersebut disulut oleh perilaku seorang warga bernama Potdin. Bersama tiga rekannya, Potdin menyerang kediaman warga setempat. Tak dinyana, serangan tersebut mendapat perlawanan warga. Potdin tertembak, tapi dia mampu selamat dan bersama kelompoknya terus melakukan penyerangan. Mendapat serangan itu, salah seorang warga bernama Indra meminta bantuan mertuanya, Ali Cobra, yang juga dikenal sebagai preman setempat. Nah, bersama kelompok mertuanya, Indra menyarang balik kelompok Potdin. Akibatnya, semua anggota kelompok Potdin terluka, bahkan salah satu di antaranya tewas.