• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ir Fary Djemi Francis, MMA.

Dalam dokumen no 09th viiiseptember 2014 (Halaman 47-49)

Sekretaris Jenderal Pemuda Tani

Impor Lagi, Lagi-Lagi Impor

sumber agraria (khususnya tanah). Dalam pasal 2 TAP MPR RI Nomor IX/MPR/2001 dijelaskan bahwa “Pembaruan agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agraria. Semua itu dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan

perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia”. Karena tingginya manfaat yang hendak dicapai melalui Pembaruan Agraria, persoalan redistribusi tanah ini akan selalu diingat dan dikenang masyarakat. Apalagi, terdapat sederet aturan yang memberikan mandat bagi berlangsungnya reforma agraria. Yaitu: UUD 1945 Pasal 33 ayat 3

amandemen ke-empat, Tap MPR Nomor IX/ MPR/ 2001, Keputusan MPR Nomor 5/MPR/ 2003, Undang-Undang Pokok Agraria 1960 (UUPA 1960), hingga Perpres No. 10 Tahun 2006. Semua itu diharapkan bisa menjadi landasan hukum bagi berlangsungnya redistribusi tanah yang berkeadilan dan menyejahterakan.

menghadapi berkurangnya lahan pertanian, baik untuk perumahan, industri atau yang lainnya. Itu berarti posisi petani, termasuk dari sisi luasan lahan, menjadi semakin sulit. Selain itu ada juga persoalan menyangkut kebijakan pangan. Hingga kini kebijakan pangan kita, salah satunya sudah berimbas pada ketimpangan ketersediaan dan kebutuhan pangan. Sayangnya, dari tahun ke tahun, kebijakan itu berlaku dan membuat persediaan pangan kita jomplang. Terutama jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang terus bertambah.

Sekarang ini, kebutuhan pangan kita harus bisa mencukupi untuk 250 juta jiwa. Faktanya, pemerintah dengan kebijakan dan segala upayanya hanya bisa mencukupi sekitar 100

juta jiwa saja. Artinya, sebanyak 150 juta yang lain, dipenuhi dengan mekanisme impor. Jadi memang bicara Hari Tani tak cukup hanya pada saat peringatannya saja.

Hari tani diperingati untuk mengingat lahirnya UU Pokok Agraria. Bagaimana Anda melihat persoalan agraria sekarang ini?

Di samping sumber daya petaninya memang terus berkurang, kita juga menghadapi persoalan lahan yang harus segera diatasi. Seperti, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan hunian, industri, jalan raya, pabrik, dan lainnya. Bahkan ada beberapa kasus yang kita lihat dan dengar, seperti peristiwa pencaplokan lahan, baik itu oleh pemerintah maupun pengusaha- pengusaha besar. Permasalahan seperti ini

tidak bisa diatasi petani sendiri.

Meski secara hukum sudah diatur dalam UU Agraria, tapi lagi-lagi yang memiliki akses ke persoalan hukum itu adalah para pengusaha besar. Sementara petani tidak memiliki akses hukum sama sekali, sehingga mereka kerap dirugikan. Mereka juga bisa kehilangan lahan yang telah diolah selama berpuluh tahun.

Bagaiman Anda melihat upaya revitalisasi pertanian yang sempat disuarakan pemerintahan SBY?

Untuk menciptakan swasembada pangan terlebih dulu harus tersedia sumber daya air, termasuk irigasi. Ditarget sampai 2019 irigasi kita harus bisa memenuhi kecukupan air untuk kegiatan sawah, sebesar 20% dari

lahan yang ada. Sementara sekarang ini baru mencapai sekitar 11%. Karena itu, menurut saya, tantangannya adalah ada pada ketersediaan air, melalui pembangunan waduk dan bendungan. Agar, waduk dan bendungan itu bisa melakukan kegiatan irigasi sampai ke sawah-sawah petani.

Selain itu anggaran dari APBN yang dikucurkan untuk dunia pertanian terhitung sangat kecil, belum mencapai 3% APBN. Pada 2014 ini anggaran pertanian di APBN hanya sekitar Rp 15 triliun saja. Karena itu, kita berharap pada 2015 Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang selalu bicara mengenai kerakyatan, mudah-mudahan pertanian bisa menjadi ujung tombak. Karena kalau tidak, maka orang akan bilang omong kosong, bicara soal kerakyatan. Apalagi

60% penduduk Indonesia mencari kehidupan dari sektor pertanian.

Artinya upaya pemerintahan SBY memang kurang maksimal melak- sanakan revitalisasi yang dicanangkan- nya itu?

Ya, faktanya memang ada target-target yang tidak tercapai, dan itu bisa dikatakan bahwa pekerjaan ke depan masih berat. Namun demikian kita juga tidak bisa tutup mata bahwa ada capaian-capaian besar yang dasarnya sudah diletakkan oleh SBY. Misalnya saja, pencapaian swasembada pangan, yang harus menyediakan kebutuhan air bagi 20% lahan pertanian yang ada.

Saat ini sudah ada 11% lahan yang bisa diairi. Ini sebuah peningkatan, karena sebelumnya paling hanya sekitar 7% saja yang bisa diairi. Karena itu agar mencapai 20% maka pemerintah harus berusaha lebih keras lagi.

Dengan lahan sebesar 20% yang bisa diairi itu berarti sudah bisa dianggap mencukupi bagi upaya penyediaan pangan kita, khususnya beras. Apalagi ditambah dengan lahan-lahan yang bergantung dengan sumber air yang lain. Baik air tanah, air hujan atau dari sungai dan seterusnya. Kalau melihat keberhasilan Soeharto, apa yang bisa ditiru dari model pertanian masa lalu dan cocok untuk masas depan?

Kita tidak bisa menutup mata bahwa Soeharto memang berhasil mencapai swasembada. Di berbagai kesempatan saya juga sampaikan keberhasilan itu. Bagaimana waktu itu ada Instruksi Presiden (Inpres) untuk swasembada pangan, sehingga semua komponen satu pikiran dan satu aksi dalam rangka mencapai swasembada pangan itu.

Sementara sekarang, memang pada program yang dilaksanakan, tetapi masing- masing kementerian dan lembaga tidak bersinergi dalam menunjang program tersebut. Inilah pembelajaran yang bisa diambil dari era Soeharto. Programnya ada, pemimpin kuat, tetapi harus ada kekuatan untuk menggerakkan orang di lapangan. Jadi, kalau mau bekerja dalam rangka pemenuhan pangan, kita harus belajar seperti Soeharto. Dan, itu meliputi seluruh komponen. Bahkan TNI juga turun tangan. ❏

B

AKSO Malang mas Min basement atau bakso Malang mas Min parkiran. Celetukan-celetukan tersebut sering terdengar dan membuat penasaran, apa sih yang membuatnya menjadi istimewa. Berkunjung ke lokasi warung bakso tersebut jangan dikira berbentuk kafe atau kios ekslusif. Gerobak bakso Malang mas Min terletak di basement parkiran mobil anggota parlemen di bawah gedung Nusantara I, di dalam kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta.

Majelis sengaja datang agak siang setelah jam makan siang, sebab menurut kabar warung bakso Malang mas Min sangat ramai pada saat jam makan siang. Warungnya sangat sederhana, hanya terdapat satu gerobak tempat mas Min meracik bakso. Di belakang gerobak berjejer deretan kursi plus satu meja panjang untuk pelanggan.

View-nya pun sangat istimewa, deretan mobil-mobil terparkir, di atas berderet berbagai instalasi listrik, air sampai sambungan- sambungan telepon. Namun, entah kenapa terasa nyaman saja santap siang di sana. Harga satu porsinya pun terbilang sangat murah meriah. Satu porsi lengkap bakso, bakwan garing, mie, bihun plus satu botol air mineral ukuran sedang hanya Rp 15 ribu.

Mas Katimin atau mas Min sangat bersyukur dagangan baksonya banyak yang menyukai. “Saya ndak tau juga kenapa banyak yang suka. Saya cuma berusaha meracik dagangan saya sebaik-baiknya sesuai pengetahuan saya meracik bakso yang telah saya lakoni sejak lama,” ujar mas Min, tanpa membuka rahasia racikan baksonya.

Mas Min mengungkapkan, banyak pelanggannya dari kalangan pegawai di seputaran MPR, DPR, dan DPD sampai mas Min lupa naman-namanya. “ Tapi saya akan ingat kalau melihat wajahnya, ada juga tamu, wartawan bahkan anggota yang makan di sini,” ujarnya.

Mas Min sangat bersyukur bisa diberi kesempatan berjualan di lingkungan gedung parlemen dan akan berusaha sebaik- baiknya menjaga kepercayaan tersebut. Ketika Majelis menyanyakan apakah bisa delivery service atau layanan antar, mas Min mengangguk. “Tapi, minimal pesen lima porsi ya mas,” selorohnya, seraya memberikan uang kembalian. ❏

Dry

Dalam dokumen no 09th viiiseptember 2014 (Halaman 47-49)