• Tidak ada hasil yang ditemukan

Allah itu Maha Adil

Dalam dokumen PELAJARAN TENTANG ALLAH edit docx (Halaman 83-89)

H. Allah itu Maha Kudus

I. Allah itu Maha Adil

Dapat dibayangkan bila kekuasaan itu identik dengan keadilan (kasihpun dapat ditafsirkan menjadi kekuasaan). Maka apa yang ditetapkan oleh penguasa itu adalah keadilan, itulah tirani. Tetapi yang benar adalah, unsur keadilan dapat dipahami tersendiri di samping kekuasaan.

Alkitablah yang memberi patokan keadilan bagi umat manusia. Dalam menerapkan segala kedaulatanNya, Allah memberi hukum kepada semua ciptaanNya. Di dalam hukumNya nampak dengan jelas ke-Maha AdilanNya. Oleh keadilanNya, maka alam ciptaanNya yakni alam tak nampak dan alam nampak berada dalam keadaan harmoni. Hukum-hukum alam yang berlaku di bumi ini dalam keadaan harmonis. Planet bumi ini juga ada dalam keadaan harmoni dalam sistim tata surya yang ada. Sedang tata surya (galaxy) kita ini juga ada dalam harmoni, dalam sistim bima sakti – universe – melky way sistim atau alam raya yang ada.

Bagi mahluk-mahluk termulia ciptaan Allah; malaikat dan manusia, Allah menempatkan mereka secara khusus dalam sistim hukumNya, sehingga mahluk- mahluk ini mempunyai hak dan kewajiban, Kolose 1:16; Kejadian 2:15-17. Sayang sekali mahluk-mahluk ciptaan itu melawan hukum Allah, Yudas 1:6;

 Allah menjatuhkan hukuman bagi malaikat-malaikat yang berdosa, Matius 8:29; Ibrani 2:16.

 Allah memberi hukum keselamatan bagi manusia yang berdosa, Kejadian 3:15.

Allah menguduskan surga yang sudah sempat tercemar oleh dosa, setan dan malaikat-malaikat lain yang melawan Allah, Ibrani 9:23.

 Allah menyiapkan tempat penghukuman bagi malaikat-malaikat yang berdosa dan bagi manusia yang tidak taat pada hukum keselamatan yang Allah anugerahkan, Matius 25:41.

 Allah menyiapkan langit dan bumi baru.

Harus dijelaskan bagaimana keadilan Allah dalam hukum keselamatan Allah itu. Akibat dosa ialah kematian, Kejadian 2:17; 3:19; Roma 6:23; Ibrani 9:27. Keadilan Allah yang diungkapkan dalam ToratNya, menegaskan adanya hukum pembalasan, yakni: kematian harus dibayar dengan kematian, Keluaran 21:23-25; Imamat 24:20; Ulangan 19:21; itulah keadilan yang seadil-adilnya. Upaya Allah menyelamatkan manusia dilakukan sesuai dengan prinsip keadilan hukum Allah, yakni: Yesus yang tidak berdosa harus mati menebus manusia yang berdosa. Dengan kematianNya di kayu salib maka Yesus menggenapkan hukut Taurat, Matius 5:17; Yohanes 19:30.

Jadi jelas sekali bahwa keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia itu bukan diberikan langsung, berdasarkan ‘ke-Maha Kuasaan’, ‘ke-

Maha Tahuan’, dan ‘ke-Maha Kasihan’ Allah saja, melainkan dianugerahkan berdasarkan ‘ke-Maha Adilan’ Allah lewat Yesus Kristus:

 Keselamatan oleh Allah kepada manusia itu, lewat Yesus Kristus dalam keadilan hukum Allah.

 Keselamatan itu untuk semua orang, bukan hanya kepada beberapa orang yang ditentukan berdasarkan pilihan saja (menihilkan Calvinisme/Hyper Calvinisme – doktrin tentang takdir).

 Keselamatan itu hanya dapat diterima manusia dengan dasar percaya lewat hukum keselamatan.

 Dalam ke-Maha AdilanNya, orang-orang yang tidak percaya akan menerima penghukuman. Kepada manusia, Allah meminta pertanggung jawaban.

 Keselamatan Allah, ternyata tidak begitu saja dianugerahkan kepada manusia karena kasih Allah, melainkan lewat hukum keselamatan itu (menihilkan Calvinis Unversalisme; doktrin yang mengajarkan bahwa semua manusia itu selamat oleh kasih Allah).

1. Allah itu tidak dapat mengingkari diriNya sendiri;

Sifat-sifat Allah harus dilihat dari satu kesatuan. Pernyataan 2 Timotius 2:13 yang berbunyi : “. . . karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya”, merupakan gambaran awal supaya manusia harus berupaya memahami sifat Allah sebagai suatu kesatuan. Bila sifat-sifat Allah itu dilihat secara terpisah-pisah tanpa melihat pada sifat-sifat Allah yang lain,

maka manusia akan melihat secara sepihak atau ekstrim, 1 Korintus 4:6; dan kesimpulannya pasti tidak sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya, 1 Korintus 2:13-16. Beberapa contoh cara pandang yang sepihak atau ekstrim, yakni antara lain: Bila orang melihat secara ekstrim pada sifat kebaikan Allah, ia pasti akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada neraka, sebab Allah tidak tega menghukum manusia karena kasihNya – itulah Universalisme. Tetapi ternyata, ada sifat Allah yang lain, yakni: keadilan Allah yang berdasarkan pada kebenaran dan kekudusan Allah, sehingga Allah menyiapkan penghukuman bagi mereka yang tetap melawan FirmanNya. “Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri”.

Bila orang melihat secara ekstrim pada sifat ke-Maha Kuasaan Allah, apalagi ditambah dengan ke-Maha Tahuan Allah, maka ia akan tiba pada pandangan Fatalisme (Fatum – Latin) berarti nasib. Manusia akan menganggp segala sesuatu yang menimpa dia adalah nasib yang berdasarkan penentuan oleh kedaulatan Allah, termasuk selamat atau tidaknya ia – itulah Calvinisme. Tetapi ternyata ada sifat-sifat Allah yang lain, yang tidak boleh diabaikan. Sifat-sifat itu yakni: kebaikan Allah, berupa kasih, kemurahan, kesabaran, 2 Petrus 3:9 yang tidak mengingini manusia binasa. Masih ada lagi sifat Allah yang lain, yakni: kudus. Bila Allah yang menentukan manusia itu masuk ke dalam neraka, dengan menyediakan neraka serta penderitaan yang maha dahsyat itu, hal itu berarti Allah tidak kudus karena menjadi penyebab dosa dan merancang kematian kekal serta sengsaranya itu bagi manusia. Ingat baik-baik, bahwa

hal serupa itu tidaklah mungkin, karena: “Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri”.

Untuk mendapatkan pemahaman yang seimbang dan benar tentang Allah, hendaklah sifat-sifatNya dilihat dari semua sudut pandang. Jangan melebih-lebihkan yang satu sehingga manusia berkesimpulan secara extra biblika, sekaligus jangan mengurangi yang lain sehingga manusia meremehkan sifat itu, 1 Korintus 4:6.

2. Rahasia keselamatan manusia terungkap dalam sifat-sifat Allah.

Sebenarnya, dengan memahami sifat-sifat Allah, rahasia keselamatan dari Allah itu terungkap. Manusia menjadi tahu menempatkan dirinya pada posisi sebenarnya dihadapan Allah. Beberapa contoh dapat dijelaskan:

Sifat Kudusnya Allah.

Alkitab mencatat bahwa Allah itu kudus. Tetapi Alkitab juga menulis ucapan Allah: “Kuduslah kamu, karena Aku kudus”, Imamat 11:44-45; 19:2; 1 Petrus 1:16. Dengan demikian, dalam sifat kudusNya itu, Allah menginginkan manusia hidup sesuai sifatNya, yakni kudus. Dengan tegas Alkitab mencatat : ” . . . tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”, Ibrani 12:14. Itu berarti manusia diperintahkan Allah untuk mencari tahu rahasia hidup kudus; dan rahasia hidup kudus itu diajarkan oleh Alkitab.

Alkitab mencatat bahwa Allah itu baik, Bilangan 10:19; Mazmur 25:8; 34:9; 69:17; 73:1; 86:5; 100:5; 135:3; 145:9; Matius 5:45. Di dalam kebaikanNya itu ada: Kasih; Kasih Setia (Panjang sabar dan Kebaikan); Kasih Karunia (Anugerah) dan lain-lain lagi. Oleh kebaikan Tuhan, maka Ia mengampuni dosa manusia dan menganugerahkan keselamatan. Tetapi apakah dengan kebaikan Tuhan itu manusia boleh bermanja-manja, berbuat apa saja sekehendak hatinya?, Roma 6:1cf. Jangan salah tafsir! Paulus menulis panjang lebar dalam Roma 5:20; 6:14. Justru oleh kebaikan Allah itu, maka orang percaya dapat hidup dalam hidup baru (Roma 6:4); mati bagi dosa, hidup bagi Allah (Roma 6:11); tidak hidup dalam kuasa dosa (Roma 6:14). Petrus menulis dengan tegas : “. . . Ia sabar terhadap kamu, . . . supaya semua orang berbalik dan bertobat’, 2 Petrus 3:9.

Sifat ke-Maha Kuasaan Allah.

Alkitab mencatat bahwa Allah itu maha kuasa dan maha tahu. Ia berdaulat penuh dalam setiap tindakanNya. Apakah dengan demikian manusia pasrah saja pada keadaan apa adanya dalam dosanya menunggu nasib? Matius 25:24-25; Lukas 19:20-21. Sebenarnya maksud Allah memperlihatkan ke-maha kuasaan dan kedaulatanNya itu supaya: “Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang kepada segala perintahKu”, Ulangan 5:29cf. Penulis Ibrani lebih menegaskan: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang menyampaikan Firman Allah di bumi, tidak luput, apalagi kita, jika kita

Dalam dokumen PELAJARAN TENTANG ALLAH edit docx (Halaman 83-89)

Dokumen terkait