Bilangan 19:19; 1 Tawarikh 16:34; 2 Tawarikh 5:13; 5:41; 7:3; Ezra 3:11; Mazmur 25:8; 34:9; 69:17; 73:1; 86:5; 100:5; 135:3; 145:9; Yeremia 33:11; Matius 5:45; 19:17; Markus 10:18; Lukas 18:19. ‘Baik’ adalah suatu sifat yang menyenangkan dan disenangi oleh semua orang karena dilatar-belakangi oleh kebajikan atau perbuatan baik. Oleh karenanya, ‘baik’ itupun merupakan bagian utama dalam sistem nilai: “. . . tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”, Galatia 5:23.
Allah itu memang baik. Bila segala kebaikan manusia direndengkan dengan kebaikan Allah, maka nyata benar bedanya: Lukas 18:19 mencatat: “Jawab Yesus, mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari Allah saja . . .” Memang banyak manusia yang mempunyai nilai-nilai baik, Lukas 7:4-5; Kisah 10:1-2. Tetapi kebaikan manusia tidak lengkap dan sempurna, dengan kata lain, kebaikan manusia itu terbatas sebagaimana sifat keterbatasan manusia itu sendiri. Kebaikan Allah itu lengkap dan sempurna serta tidak terbatas: “Bersyukurlah kepada TUHAN sebab Ia baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”, Mazmur 136.
Dari pemahaman yang didapat melalui Firman Allah maka kebaikan Allah itu: Pertama, berlaku umum untuk semua ciptaanNya. Kedua, terbaik untuk semua
ciptaanNya. Ketiga, lengkap. Keempat, kekal. Banyak hal yang dapat disebut kebaikan Allah, tetapi ada tiga pokok terpenting yang menjadi inti di dalamnya, yakni: Kasih; Kasih karunia (anugerah); Kasih setia.
1. Kasih.
Istilah kasih dalam kitab Perjanjian Baru ditulis dengan tiga kata yang paling terkenal, yakni: agape, phileo dan eros; serta masih ada dua lagi yang jarang disebut-sebut yakni: thelo dan storge. Walaupun demikian, standar arti kata kasih itu ada dalam kata ‘agape’ itu. Untuk memahami isi kasih Paulus menulisnya dalam 1 Korintus 13:4-8, juga ia mengekspresikan penerapan kasih itu, Roma 13:8-10; 15:2; Kolose 3:12- 14. Kasih itu nampak dalam aksi atau penerapannya, bukan sekedar kata- kata atau konsepnya, 1 Yohanes 3:18. Tidak heran jika seluruh hukum Taurat hanya dapat disimpulkan menjadi dua bagian besar hukum, yakni: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia, Matius 22:36-40; Markus 12:28-31. Tidak heran pula, tindakan kasih adalah memberikan nyawa bagi mereka yang dikasihi, Yohanes 10:11; 15:13; 1 Yohanes 3:16.
Allah itu adalah kasih, 1 Yohanes 4:16; dan kasih Allah itu adalah dasar tindakan Allah menyelamatkan manusia, Yohanes 3:16. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih Allah. Kasih itu menutupi dosa yang banyak, tetapi bukannya mengampuni dosa. Pengampunan dosa itu harus melalui proses hukum keselamatan. Allah memang tidak mengingini seorang manusia pun binasa karena kasihNya, tetapi keselamatan manusia
itu ditentukan lewat proses hukum keselamatan itu, Yehezkiel 18:23; 33:11; 1 Tesalonika 5:9; 2 Petrus 3:9.
Jelas sekali, Allah itu Maha Kasih, dan penerapan kasih Allah itu dialami langsung oleh manusia. Kasih itu selalu ‘dua arah’. Arah pertama, adalah Allah yang menyatakan kasihNya kepada manusia. Oleh kasihNya, Allah menyediakan keselamatan bagi manusia – yang tidak secara langsung diberikan kepada manusia – tetapi lewat Yesus Kristus. Jelas sekali, bahwa orang percaya diselamatkan lewat jalan satu-satunya yakni Yesus Kristus. Penentuan pilihan (predestinasi) Allah bagi keselamatan manusia ada dalam Yesus Kristus. Arah kedua, adalah manusia yang memberi respons terhadap tindakan Allah dengan menyatakan kasih kepada Allah. Tetapi kasih manusia kepada Allah itu menjadi benar bila manusia mentaati hukum-hukum Allah, Yohanes 14:15, 23; Roma 13:10. Semua hukum Allah itu menunjuk kepada Yesus. Dari pemahaman ini menjadi lebih jelas bahwa ‘pernyataan kasih Allah kepada manusia’ itu lewat Yesus Kristus. Sedangkan ‘respon manusia untuk mengasihi Allah’ itu harus lewat Yesus Kristus.
b. Kasih Karunia (Anugerah).
Kasih karunia atau anugerah; Grace (Inggris); Gratia (Latin); Kharis (Grika), adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma kepada manusia lewat iman, Roma 4:16. Kasih karunia ini merupakan bagian dari kebaikan Allah, Efesus 2:7. Kitab Perjanjian Lama lah yang meletakkan dasar pemahaman kasih karunia itu, walaupun ayat-ayatnya sedikit. Kasih
karunia; Khen (Ibrani) adalah pemberian pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Kasih karunia Allah kepada manusia, Kejadian 6:8; Keluaran 33:12cf; Bilangan 6:25; Hakim-hakim 6:17; Mazmur 77:10; 84:12; Yeremia 31:2. Ada pula kasih karunia manusia kepada manusia, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata ‘kasih’; ‘kasihan’; ‘belas kasih’; ‘suka’ atau ‘murah hati – kemurahan’; Kejadian 32:5; 33:8cf; 39:4; 50:4; Bilangan 32:5; Rut 2:2, 10; 1 Samuel 20:3; 27:5; 2 Samuel 14:22; 16:4; Ester 2:17. Prinsip ini dutulis dalam Ibrani 7:7.
Dari dasar pemahaman ini, jelas bahwa ‘perjanjian-perjanjian’ (testaments) Allah bagi umat manusia, berdasarkan prinsip kasih karunia ini. Di satu sisi, Allah itu sebagai pihak yang superior; di sisi lain, orang percaya itu sebagai pihak yang inferior. Allah memberi kasih karunia dalam sifat baikNya itu, manusia hanya menerima dan menerima. Manusia tidak ada ‘tegen prestitie’ (Belanda) – ‘suatu perbuatan atau materi yang diberikan sebagai balas jasa’ – untuk diberikan kepada Allah, selain percaya dan setia melaksanakan hukum-hukum Allah, Kejadian 17:4, 9. Kitab Perjanjian Baru mengulas kasih karunia itu begitu rinci. Ternyata kebaikan Allah itu bersifat umum kepada semua mahluk. Walaupun kehidupan semua manusia itu adalah kasih karunia Allah juga, 1 Petrus 3:7; dan kasih karunia juga untuk semua manusia, Roma 5:15cf; Ibrani 2:9, tetapi ada kasih karunia Allah yang lebih spesifik, yang lebih diprioritaskan untuk orang-orang percaya. Di dalam Yesus Kristuslah ada segala kepenuhan kasih karunia dan kebenaran Allah, Lukas 2:40; Yohanes
Kristus, kasih karunia itu dialirkan, Yohanes 1:17; Roma 16:20; 2 Korintus 8:9; Galatia 1:6; Efesus 2:7. Ada ‘Injil kasih karunia’, Kisah 20:24; ‘firman kasih karunia’, Kisah 20:32; ‘tahta kasih karunia’, Ibrani 4:16; dan ‘roh kasih karunia’, Ibrani 10:29.
Keselamatan adalah kasih karunia, Titus 2:11; 1 Petrus 1:10, karena Yesus mengalami maut oleh kasih karunia Allah bagi semua manusia, Ibrani 2:9. Penebusan oleh darahNya adalah kasih karunia, Efesus 1:7; pembenaran adalah oleh kasih karunia, Titus 3:7. Tetapi keselamatan sebagai kasih karunia itu harus diterima dengan iman dan percaya, Roma 5:1-2; 11:5cf; Efesus 2:5-8; Kisah 14:3; 15:11. Iman dan percaya itu bukan ‘tegen prestatie’ (Belanda), melainkan ‘prestasi’ – keputusan pribadi untuk menerima semua pembenaran Firman Allah dan setia melakukan segala perintah Allah. Bila tidak demikian maka salib Yesus Kristus itu akan menjadi ‘batu sandungan’ , Galatia 5:11.
Bagi mereka yang sudah menerima keselamatan itu, Allah memberi kasih karunia yang lebih spesifik. Ada kasih karunia untuk orang banyak, yang dalam hal ini adalah Jemaat Allah, Kisah 4:33; 11:23; 13:43; 1 Korintus 1:4; 2 Korintus 1:15; 4:15; 8:1. Ada juga kasih karunia bagi pribadi-pribadi, tetapi jenisnya berbeda-beda menurut ukuran pemberian Kristus, Roma 12:3-6; Efesus 4:7; 1 Petrus 4:10; 1 Korintus 3:10; 2 Korintus 12:9; Galatia 1:15; 2-9; Efesus 3:2; Filipi 1:7; 1 Timotius 1:14; Ibrani 4:16; 1 Petrus 1:13. Tetapi jangan lupa; kasih karunia itu dapat ditolak; disia-siakan ; atau disalah-gunakan, Roma 6:1cf; 1 Korintus
Yahudi itupun menolak kasih karunia Allah karena menolak Yesus, Galatia 2:21. Berarti keselamatan yang Allah anugerahkan dapat hilang karena menolak, menyia-nyiakan atau menyalahgunakan kasih karunia Allah itu. Sungguh keliru pandangan Calvinisme yang mengajar berdasarkan ‘doktrin pilihan’ bahwa kasih karunia itu hanya untuk sebagian manusia dan kasih karunia itu tidak dapat ditolak. Dari penerjemahan kata ini dalam kitab Perjanjian Lama, jelas kelihatan bahwa kasih karunia ini merupakan bentuk ‘kebaikan Allah’ atau ‘kemurahan Allah’ bagi manusia, sebagai pihak superior kepada pihak inferior.
c. Kasih Setia.
Kalau kata kasih karunia ditulis begitu banyak dalam kitab Perjanjian Baru, kata ‘kasih setia’ ditulis begitu banyak dalam kitab Perjanjian Lama; sekitar 250 kali disebutkan. Sebenarnya dalam bahasa aslinya kata kasih setia itu ditulis dengan ‘khesed’ (Ibrani) atau ‘eleos’ (Grika). Kata ‘khesed’ ini tidak dapat diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa-bahasa lain. Dalam bahasa Inggris saja kata ini diterjemahkan dengan kata ‘mercy’ atau dengan frasa ‘loving kindness’ atau ‘steadfast love’. Frasa terakhir yang dipakai adalah untuk menunjuk kepada kasih Allah yang setia terhadap perjanjian-perjanjianNya. Selain itu ada variasi arti yang cukup luas, yakni: kemurahan; kebaikan dan panjang sabarnya Allah, yang amat berlimpah. Dipakainya kata kasih setia yang begitu banyak dalam kitab Perjanjian Lama, ditambah dengan arti yang begitu luas, menunjuk pada kebaikan Allah yang luar biasa, dibanding dengan
Dalam kitab Perjanjian Lama, hanya beberapa ayat yang menunjukkan kata kasih setia dari manusia kepada manusia. Pada umumnya ayat-ayat itu adalah ungkapan kasih setia Allah kepada manusia. Pengungkapan kata kasih setia yang terbanyak ada dalam kitab Mazmur. Dengan kata ‘khesed’ ini pemazmur mengungkapkan keyakinannya yang teguh atas kebaikan TUHAN yang menjadi sumber pertolongan, kekuatan, penghiburan, kemenangan. Semua hal baik ini dialami oleh si pemazmur bila ia juga taat dan setia melakukan segala hukum Allah.
Sifat kasih setia Allah itu seimbang. Di satu pihak Allah menunjukkan kasihNya yang setia terhadap perjanjian-perjanjianNya. Di pihak lain, orang-orang percaya yang menerima perjanjian Allah itu harus taat dan setia melakukan segala hukum Allah, Kejadian 17:4, 9. Bila orang percaya itu tidak setia, Allah tetap setia, 2 Timotius 2:13. Tetapi kesetiaan Allah itu dinyatakan dalam menghukum orang-orang percaya yang tidak setia itu sampai mereka bertobat. Bila mereka yang tidak setia itu sudah bertobat, kembalilah Allah menunjukkan kebaikanNya itu. Bila tidak bertobat, mereka akan binasa, Keluaran 20:5-6; Bilangan 14:8-9; Ulangan 5:9-10; 7:9-11, 12-26; 2 Samuel 7:15; 1 Raja-raja 3:16; 8:23; 1 Tawarikh 17:13; 2 Tawarikh 6:14; Nehemiah 1:5; 9:32-37; Ayub 37:13; Mazmur 36:6-8; 52; 62:13; 66:16-20; 89:15; 90:13-17; 101; 103:6-14; 15-18; 106:7; 119:124; Amsal 14:22; Yesaya 16:5; Ratapan 3:22, 32; Daniel 9:4; Hosea 10:12; Mikha 6:8; Zakharia 7:9; Matius 9:13; 12:7cf; 23:23; Lukas 1:50; Galatia 6:16; Titus 3:5; 1 Petrus 1:3.
Itulah sebabnya, kata ‘kasih setia’ itu dipasangkan dengan ‘kebenaran – the truth’, yang berarti : ‘pengajaran yang benar – yang berlawanan dengan pengajaran yang salah atau kesesatan’, Amsal 3:3; 14:22; 16:6; 20:28; Yesaya 16:5; Hosea 4:1; 6:4-6; 12:7cf.