• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alternatif-alternatif ideal yang digunakan dalam mitigasi risiko

2.3. Manajemen Risiko

2.3.5. Alternatif-alternatif ideal yang digunakan dalam mitigasi risiko

Menurut Kambiz Mokhtari (2011), terdapat 8 alternatif ideal yang digunakan dalam mitigasi risiko pelabuhan. Alternatif-alternatif merupakan standarisasi yang diimplematisikan dengan pendekatan sistem yang berkelanjutan yang sering disebut dengan PDCA (Planing, Do, Chek, Action). Dengan pendekatan ini,

diharapkan mitigasi akan menurunkan tingkat risiko ke tingkat yang dapat diterima. Alternatif-alternatif ideal tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1. Deregulasi (deregulation) dan privatisasi (privatisation).

Pelabuhan harus mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi yang dapat mengurangi biaya-biaya yang ada untuk dapat menjawab tantangan global. secara umum, operasional pelabuhan sangat banyak dikendalikan oleh adanya peraturan pemerintah. Peraturan pemerintah yang membuat pasar monopoli terhadap pengelolaan pelabuhan sering membuat pelabuhan kurang efisien dan tidak kompetitif.

Deregulasi merupakan suatu tindakan untuk mereduksi peraturan yang dianggap dapat menghambat kinerja pelabuhan. Privatisasi merupakan tindakan mengurangi pengaruh pemerintah dalam pengelolaan pelabuhan. Privatisasi telah terbukti memberikan prospek besar dalam mengurangi biaya dan memberikan pelayanan terbaik.

2. Quality standart (ISO 9001, ISO 14000, ISO 18000 dan ISO 20000)

Perusahaan pelabuhan harus efisien untuk dapat meningkatkan profitabilitas dan integritas perusahaan. Berbagai standart formal yang sering digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan antara lain adalah implementasi ISO, seperti ISO 9001 terkait sistem manajemen mutu, ISO 1400 terkait sistem manajemen lingkungan, ISO 18000 terkait sistem manajemen integrasi dan juga ISO 20000 yang menolong berbagai perusahaan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi operasionalnya.

3. Safety cases dan safety report

Menurut wilson et al, (1995), “(the purpose of a safety case is to present a clear, comprehensive and defensible argument supported by calculation and procedure that a system or installation will be acceptably safe throughout its life (and decommissioning)". Untuk pelabuhan, khsusunya petrochemical yang banyak bongkar muat kapal yang mengangkut LNG, laporan keselamatan dan kesehatan menjadi standart yang penting.

4. Health, safety and environment Management Systems (HSE-MS)

Untuk menangai masalah HSE, Pemertintah Indonesia telah menetapakan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012 tentang Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Menurut WG dan BP (2011), di sebagian besar negara terdapat struktur hukum inklusif yang ada mengharuskan perusahaan untuk menangani masalah HSE sedemikian rupa untuk mengantisipasi, menghindari dan membatasi kecelakaan kerja, kesehatan yang buruk dan bahaya terhadap lingkungan.

5. Internal audit and inspections

APB (1995) dan OCIMF (2004) menyatakan bahwa sistem pengawasan internal termasuk dalam pengawasan lingkungan dan prosedur. Ini berisi semua kebijakan dan prosedur (internal kontrol) yang diadopsi oleh direksi dan manajemen untuk membantu dalam mencapai tujuan dan memastikan sejauh mungkin cara bisnis yang rapi dan kompeten, termasuk ketaatan pada kebijakan internal, perlindungan aset, identifikasi kecurangan dan kesalahan, ketepatan dan kesatuan catatan akuntansi dan mempersiapkan informasi keuangan yang tepat dan konsisten.

6. Vessel Traffic Management Systems (VTMS)

VTMS adalah sistem yang mengintegrasikan dan menghubungkan semua aset relevan untuk pengelolaan operasioanal laut yang aman dan terjamin terhadap lingkungan laut,pengelolaan lalu lintas laut, penegakan hukum dan keamanan di laut. Kemampuan sistem utama meliputi; pemantauan dan kontrol sensor jarak jauh, pengarsipan data real-time dan off-line , pembuatan dan pengelolaan gambar global, dukungan untuk operator terkait pengambilan keputusan dalam situasi kritis, serta penyajian navigasi lalu lintas dan informasi kapal.

7. ISPS Code

ISPS code merupakan aturan yang menyeluruh mengenai langkah-langkah untuk meningkatkan keamanan terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan, aturan ini dikembangkan sebagai tanggapan terhadap ancaman yang dirasakan dapat terjadi terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan pasca serangan 11 september di Amerika Serikat.

Pada dasarnya, ISPS Code tersebut menggunakan pendekatan manajemen resiko untuk menjamin keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan dan, untuk menentukan langkah-langkah keamanan apa yang tepat, penilaian risiko harus dilakukan dalam setiap kasus tertentu. ISPS Code bertujuan untuk menyediakan standar, kerangka kerja yang konsisten untuk mengevaluasi risiko, memungkinkan pemerintah untuk mengimbangi apabila terjadi perubahan ancaman dengan merubah nilai kerentanan pada kapal dan fasilitas pelabuhan melalui penentuan tingkat keamanan yang sesuai dan langkah-langkah keamanan yang sesuai.

8. Port Risk Manager (PRM)

Manajemen risiko pelabuhan mempunyai peranan penting dalam proses pengambilan keputusan dalam perencanaan strategis. Berbagai standar acuan yang dapat digunakan dalam melakukan manajemen risiko pelabuhan antara lain ISO 3100 Risk Management Standart dan COSO Entrepise Risk Management.

Pada pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelindo I Cabang Belawan terdapat beberapa sistem dan standart yang telah diimplemtasikan dalam operasional pelabuhan. Beberapa sistem masih pada tahap pengembangan dan yang lainnya telah pada tahap implementasi sepenuhnya. Berbagai sistem dan standart yang telah diiimplementasikan di PT Pelindo I Cabang Belawan antara lain :

1. Quality Standart (Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2015, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 1401 : 2018)

2. ISPS Code

3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berdasarkan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manjemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

4. Manajemen Surat Elektronik

5. Enterprise Resource Planning (ERP) 6. Port Risk Manager (PRM)

7. Aplikasi Front End

2.4. TOPSIS (Technique For Orders Reference by Similarity to Ideal Solution)

Menurut (Cheng, 2000) TOPSIS (Technique For Orders Reference by Similarity to Ideal Solution) didasarkan pada konsep dimana alternatif terpilih yang terbaik tidak hanya memilki jarak terpendek dari solusi ideal positif, melainkan juga harus memilki jarak terpanjang dari solusi ideal negatif.

Secara umum prosedur TOPSIS mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Menghitung matriks ternormalisasi Topsis membutuhkan rating pada setiap kriteria atau subkriteria yang ternormalisasi.

Matriks ternormalisasi terbentuk dari persamaan di bawah ini : 𝑟𝑖𝑗 = 𝑥𝑖𝑗

√∑𝑚𝑖=1𝑥𝑦2 (2.1) Keterangan :

 rij adalah nilai normalisasi dari tiap alternatif(i) terhadap kriteria(j) dengan i=1,2,...,m; dan j=1,2,...,n.

 Xij adalah nilai dari suatu alternatif (i) terhadap kriteria(j) dengan i=1,2,..,m; dan j=1,2,...n.

2. Menghitung matriks ternormalisasi terbobot.

Setelah menghitung nilai ternormalisasi, tahap selanjutnya adalah menghitung nilai normalisasi terbobot dengan mengalikan nilai pada setiap alternatif dari matrik ternormalisasi dengan bobot yang diberikan pengambil keputusan.

Persamaan yang di gunakan adalah : Yij =Wi rij (2.2) Keterangan :

Wi adalah bobot masing-masing kriteria

rij adalah nilai ternormalisasi masing-masing alternatif dimana rij adalah nilai normalisasi dari tiap alternative (i) terhadap kriteria (j) dengan i=1,2,...,m;

dan j=1,2,...,n.

3. Mengidentifikasi solusi ideal positif dan solusi ideal negatif

Solusi ideal positif dan solusi ideal negatif dapat dihitung berdasakan nilai normalisasi terbobot sebagai berikut :

𝐴 + = (𝑦1 +, 𝑦2 +, … 𝑦𝑛+); (2.3) 𝐴 − = (𝑦1 −, 𝑦2 −, … 𝑦𝑛−); (2.4) dimana :

yj- = {min yij; jika ij adalah atribut keuntungan (benefit) max yij; jika ij adalah atribut biaya (cost)

yj+ = {max yij; jika ij adalah atribut keuntungan (benefit) min yij; jika ij adalah atribut biaya (cost)

j = 1,2,....,n

Keterangan simbol :

 Solusi Ideal positif (A+ ) diperoleh dengan mencari nilai maksimal dari nilai normalisasi terbobot (yij) jika atributnya adalah atribut keuntungan dan mencari nilai minimal dari nilai normalisasi terbobot (yij) jika atributnya adalah atribut biaya.

 Solusi Ideal negatif (A- ) diperoleh dengan mencari nilai minimal dari nilai normalisasi terbobot (yij) jika atributnya adalah atribut keuntungan dan menjadi nilai maksimal dari nilai normalisasi terbobot (yij) jika atributnya adalah atribut biaya.

4. Menghitung jarak antara nilai setiap alternatif dengan matriks solusi ideal positif dan matriks solusi ideal negatif.

Jarak antara alternatif Ai dengan solusi ideal positif dirumuskan sebagai berikut :

𝐷𝑖 + = √∑ (𝑦𝑖 +𝑛 𝑗=1 − 𝑦𝑖𝑗)2 (2.7) i= 1,2,...,m.

Jarak antara alternatif Ai dengan solusi ideal negatif di rumuskan sebagai : 𝐷𝑖 − = √∑ (𝑦𝑖𝑗 𝑛 𝑗=1 − 𝑦𝑖 − )2 (2.8)

i= 1,2,...,m.

Keterangan simbol :

 Jarak antar alternatif Ai dengan solusi ideal positif (yj+) yang dinyatakan dalam simbol Di+ diperoleh dari nilai akar dari jumlah nilai tiap alternatif yang diperoleh dengan solusi ideal positif (yi+) dikurangi nilai normalisasi terbobot untuk setiap laterntif (yij) kemudian di pangkat dua.

 Jarak antar alternatif Ai dengan solusi ideal positif (yj-) yang dinyatakan dalam simbol Di- diperoleh dari nilai akar dari jumlah nilai tiap alternatif yang diperoleh dengan nilai normalisasi terbobot untuk setiap laterntif (yij) dikurangi solusi ideal positif (yi-) kemudian dipangkat dua.

5. Menentukan nilai kedekatan setiap alternatif terhadap solusi ideal (preferensi). Nilai Prefensi untuk setiap alternatif (Vi) sebagai berikut:

𝑣 𝑖 = 𝐷𝑖 / 𝐷𝑖- + 𝐷𝑖+ (2.9) Keterangan simbol :

Vi ( nilai preferensi untuk setiap alternatif) di peroleh dari nilai jarak solusi ideal negatif (Di-) dibagi dengan jumlah nilai jarak solusi ideal negatif (Di) di tambah jumlah nilai jarak solusi ideal negatif (Di+).