• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

2. Amar Makruf Nahi Munkar dalam Sejarah Islam

a. Amar Makruf Nahi Munkar dalam Kehidupan Salaf as-Shalih

Aktivitas amar makruf nahi munkar merupakan aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, terutama pada generasi salaf as-shalih, generasi yang menjadi model penerapan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kitab-kitab tafsir dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan salaf adalah al-lati sabaqat (yang telah lewat), maqaddamat (yang terdahulu), dalam kamus Lisan al-Arab karya Ibnu Manzur disebutkan bahwa salaf artinya generasi terdahulu, baik perjalanan hidup, usia maupun keutamaannya.31 Makna salaf as-shalih ini berkaitan dengan firman Allah SWT:



















































31 Kementrian Agama RI, Amar Makruf Nahi Munkar (Tafsir al-Qur‟an Tematik), 115.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Berdasarkan penjelasan dan makna ayat diatas, maka yang dimaksud dengan as-salaf as-shalih adalah generasi terdahulu yang saleh, mereka adalah para sahabat dan para tabi‟in dan orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat.

Kehidupan dan aktivitas para sahabat seringkali menjadi menjadi penyebab ataupun latar belakang turunnya ayat al-Qur‟an, sehingga secara tidak langsung al-Qur‟an telah memotret kehidupan para sahabat, termasuk prinsip-prinsip yang mereka pegang dalam beramar makruf nahi munkar, adapun prinsip-prinsip tersebut, yaitu:

1. Disertai dengan ilmu pengetahuan, dalam melakukan amar makruf nahi munkar para sahabat memiliki pengetahuan yang sangat mendalam terhadap apa yang hendak dilakukannya.

Amar makruf nahi munkar adalah merubah seseorang, ada sebuah transformasi didalamnya yang tentunya membutuhkan pengetahuan yang mendalam untuk melakukannya. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwasannya para sahabat mempunyai tradisi mendengarkan bacaan Qur‟an dari Rosulullah dan bila mereka mempelejari 10 ayat mereka tidak akan meninggalkannya

hingga mengamalkan isinya. Mereka mempelajari al-Qur‟an dan mengamalkannya secara keseluruhan.32

2. Menghindari kekerasan, berdakwah dengan lemah lembut melupakan salah satu karakter amar makruf nahi munkar pada masa salaf as-shalih. Hal ini telah diisyaratkan dalam al-Qur‟an:



















































 









Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran: 159)

Sabab an-Nuzul dari ayat tersebut adalah saat Rosulullah dan para sahabat mengalami kekalahan dalam perang Uhud.

Kekalahan ini disebabkan karena kesalahan dan kelalaian para

32 Al-Qurtubiy, al-Jami‟ li Ahkam al-Qur‟an (Riyadh: Dar Alam al-Kutub, 2003), jilid I, 39.

sahabat. Akan tetapi Rosulullah tidak lantas memarahi para sahabat tersebut, akan tetapi beliau menasihati mereka dengan lembut. Seperti itulah karakteristik dakwah yang dipraktekkan Rosulullah yang kemudian juga dilakukan oleh generasi salaf as-shalih. Dalam sejarah, tercatat sudah banyak sekali bukti-bukti yang menyatakan bahwa dakwah salaf as-shalih dilakukan dengan kelembutan dan tidak mengedepankan kekerasan, seperti pelaksanaan perjanjian Hudaibiyyah, kemudian banyaknya pasukan-pasukan perang non-muslim yang awalnya memusuhi Islam, kemudian setelah melihat dan mempelajari kemuliaan ajaran Islam, banyak dari mereka yang kemudian masuk Islam.

Sebagai contoh adalah kaum kafir Quraisy, pasukan Salib, pasukan Mongol, dan lain-lain.

3. Konsisten, kemudian karakteristik amar makruf nahi munkar pada generasi salaf as-shalih konsisten. Generasi salaf as-shalih senantiasa beristiqomah dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan Rosul-Nya. Generasi salaf as-shalih tidak hanya sekedar mengajak orang lain dalam kebaikan tetapi sebelum itu, mereka terlebih dahulu beristiqomah dalam mengamalkannya.

b. Institusi Amar Makruf Nahi Munkar dalam Sejarah

Dalam al-Qur‟an, salah satu ciri masyarakat Islam adalah masyarakat yang selalu mengajak kepada makruf dan mencegah dari yang munkar. Kewajiban inilah yang kemudian melahirkan institusi atau lembaga peradilan yang disebut dengan hisbah. Hisbah secara

etimologi berasal dari kata hasaba yang berarti menghitung.

Sedangkan secara istilah hisbah adalah sebuah lembaga yang secara khusus dibentuk oleh pemerintah yang tugasnya untuk menegakkan amar makruf nahi munkar.33

Sedangkan dalam institusi hisbah tentunya harus ada orang-orang yang menggerakkan institusi tersebut, orang-orang-orang-orang ini disebut muhtasib. Muhtasib adalah petugas resmi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menjamin ketaatan masyarakat kepada peraturan-peraturan dan moralitas keagamaan.34

Pada zaman Rasulullah, tradisi hisbah diletakkan langsung fondasinya oleh Rasulullah, beliaulah muhtasib pertama dalam sejarah Islam. Setelah terbentuknya pemerintahan Islam di kota Madinah, salah satu tugas nabi adalah membentuk kembali lembaga-lembaga negara, meletakkan norma-norma perilaku dan menetapkan keputusan-keputusan untuk melindungi dan menegakkan norma-norma tersebut.

Setelah Rosulullah wafat, peranan lembaga hisbah diteruskan oleh Khulafa‟ ar-Rasyidin. Pada periode ini lembaga hisbah lebih agresif lagi. Hal ini dikarenaka populasi muslim yang bertambah semakin banyak.

Sebagai contoh pada zaman Khalifah „Umar bin Khattab. Pada masa pemerintahan beliau, beliau sendirilah yang bertindak sebagai

33 Kementrian Agama RI, Amar Makruf Nahi Munkar (Tafsir al-Qur‟an Tematik), 218.

34 Ibid, 219.

muhtasib yang mengawasi umat siang malam, membawa tongkat dan berkeliling untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku dan kegiatan masyarakat pasar. Khalifah „Umar selalu melakukan pengawasan untuk mengetahui keadaan rakyatnya, memantau kondisi mereka, membantu orang-orang yang membutuhkan dan teraniaya, mempunyai masalah, mencegah segala jenis kejahatan dan lain sebagainya.35

Kemudian institusi hisbah lebih berkembang lagi pada peiode dinasti-dinasti Islam (abad pertengahan). Pada periode ini, intitusi hisbah sudah dijadikan sebagai departemen yang terpisah dengan dijabat oleh staf-staf muhtasib yang berkompeten (arif, jujur, dan bijaksana). Sistem ini mulai diterapkan sejak zaman Bani Umayyah, kemudian dilanjutkan Bani Abbasiyah, Turki Usmani sampai akhirnya institusi ini menjadi lembaga yang pasti ada di setiap negara mayoritas Muslim, meskipun sistem dan penerapannya tentu berbeda di tiap-tiap negara.

Sabagai contoh, institusi hisbah pada zaman Khalifah Abu Ja‟far al-Mansur pada tahun 157 H pada masa pemerintahannya beliau menunjuk Abu Zakaria Yahya sebagai muhtasib. Dengan bertambah luasnya wilayah Khalifah, kantor muhtasib juga diperluas dan memegang sejumlah fungsi yang terus bertambah. Lembaga hisbah turut meluas bersama dengan meluasnya umat Islam di

35 Jaribah bin Ahmad al-Harisi, Fiqih Ekonomi Umar bin Khattab, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 2006), 588.

provinsi-provinsi barat, di Spanyol dan Afrika Utara dan masih menjadi bagian integral dari negara. Bahkan setelah terpecahnya kekhalifahan Baghdad. Demikian pula, menjadi departemen penting selama kekuasaan Fatimiyyah, Ayyub dan Usmaniyyah.

3. Tujuan Amar Makruf Nahi Munkar

Para ulama Islam dari dulu hingga sekarang dari dulu sepakat kalau amar makruf nahi munkar merupakan kewajiban agama yang wajib ditegakkan. Bahkan menurut Imam as-Syaukani, amar makruf nahi munkar termasuk kewajiban yang sangat utama dan menjadi salah satu pokok ajaran agama yang dengannya system dan tatanan Islam dapat Berjaya.36 Kewajiban ini bukan hanya dibebankan kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat-umat terdahulu, sebagaimana yang telah diabadikan dalam al-Quran melalui wasiat bijak Luqman kepada anaknya:



































Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang penting (Q.S. Luqman: 17)

Amar ma‟ruf nahi munkar merupakan upaya mempersiapkan dan menciptakan suasana yang kondusif untuk terwujudnya tujuan-tujuan

36 Muhammad bin „Aliy bin Muhammad al-Syaukani, Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Ma‟rifah, 2007), 237.

pokok ajaran al-Qur‟an, tujuan-tujuan inilah yang menjadi tujuan utama dalam ber-amar makruf nahi munkar,adapun tujuan-tujuan tersebut adalah:37

1. Menegakkan prinsip ajaran tauhid dan akidah yang benar.

2. Menjaga kemuliaan dan hak-hak mendasar manusia.

3. Membimbing manusia untuk beribadah dan bertaqwa secara berkualitas.

4. Mengajak manusia untuk mensucikan jiwanya.

5. Membangun keluarga bahagia.

6. Membangun masyarakat yang dapat dibanggakan oleh manusia.

7. Mengajak manusia kepada kehidupan yang harmonis.

4. Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Para Ulama sepakat, bahwasannya amar ma‟ruf nahi munkar merupakan kewajiban agama yang wajib ditegakkan. Amar makruf nahi munkar adalah prinsip yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur‟an:































Artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah

37 Yusuf al-Qardhawi, Kaifa Nata‟amal ma‟a al-Qur‟an (Kairo: Dar as-Syuruq, 1999), 237.

dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran: 104).

Ayat ini menunjukkan perintah Allah untuk menegakkan amar ma‟ruf nahi munkar. Akan tetapi apabila melihat makna teks dari ayat tersebut, kewajiban ini tidak berlaku bagi seluruh mukmin akan tetapi berlaku kepada sebagian umat mukmin saja. Sehingga apabila ada sebagian ummat mukmin yang melaksanakan amar makruf nahi munkar, maka gugurlah kewajiban amar makruf nahi munkar bagi mukmin yang lain. Sehingga hukum dari amar makruf nahi munkar adalah fardu kifayah.38

Dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur‟an, Sayyid Quthb berpandangan bahwa haruslah ada segolongan orang mukmin atau satu kekuasaan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma‟ruf, dan mencegah dari yang munkar. Oleh karena itu pemerintah dan pihak-pihak yang terkait harus berperan aktif untuk memerintah dan melarang, melaksanakan seruan kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, bersatu-padu unsur-unsurnya dan saling terikat dalam tali ukhuwah fillah.39

Jumhur ulama fiqih, termasuk diantaranya Imam al-Ghazali, ulama fikih madzhab Syafi‟I, berpendapat bahwa hukum melakukan amar makruf nahi munkar bagi setiap muslim adalah adalah fardu kifayah (kewajiban kolektif umat islam). Maksudnya, jika amar makruf nahi

38 Imam al-Ghazali, Ihya‟ Ulumuddin. Terj, (Semarang: CV. Faizan, 1978), 454.

39 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilal al-Qur‟an. Terj, (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), 124.

munkar itu telah dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa umat Islam, maka kewajiban umat Islam secara keseluruhan telah lunas. Imam al-Ghazali menafsirkan lafadz min pada QS Ali Imran ayat 104 mengandung makna ta‟bid (sebagian). Dengan demikian menurut beliau, kewajiban amar makruf nahi munkar adalah bersifat fardu kifayah.40 Disamping itu menurut beliau amar makruf nahi munkar dalam kerangka wilayah al-hisbah harus memenuhi empat rukun, yakni:

a. Al-Muhtasib, petugas khusus yang ditunjuk untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar.

b. Al-Muhtasab fih, perbuatan yang menjadi sasaran amar makruf nahi munkar.

c. Al-Muhtasab „alaih, orang yang menjadi sasaran amar makruf nahi munkar.

d. Nafs al-muhtasib, pelaksanaan amar makruf nahi munkar.

Sedangkan menurut Ibnu Taimiiyah, ulama Fiqih madzhab Hambali, perintah amar makruf nahi munkar bagi al-muhtasib (penegak hukum) adalah bersifat fardu kifayah (kewajiban individu), hal ini berdasar pada sabda Rosulullah SAW:

هم ىار مكىم اركىم يريغيلف

،يديب نإف مل عطتسي

،ًواسلبف نإف

مل عطتسي

،ًبلقبف

كلذو فعضأ ناميلإا

Artinya:

40 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, 105.

Barang siapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah dia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Said al-Khudriy)

Menurut Ibnu Taimiyyah dalam menafsirkan kandungan hadits ini beliau berpandangan, kata “hendaklah mengubah dengan tangannya”

dimaknai dengan kekuasaan. Dengan begitu dapat diartikan, bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan yang dalam hal ini adalah al-muhtasib (penegak hukum) mempunyai kewajiban yang berifat individual dalam amar makruf nahi munkar.41

Sedangkan menurut ulama muktazilah (aliran teologi Islam yang rasional dan liberal) menjadikan amar makruf nahi munkar sebagai salah satu prinsip dasar mereka yang dikenal dengan al-usul al-khamsah (prinsip-prinsip yang lima). Atas dasar itu, mereka menyatakan bahwa amar makruf nahi munkar merupakan fardu ain bagi setiap muslimin, tanpa membedakan apakah dia itu seorang muhtasib maupun bukan.

5. Syarat dan Etika Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar makruf nahi munkar dapat dilakukan dengan cara berdakwah, karena dakwah adalah mengajak umat ke jalan Allah dan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh agama dengan cara yang bijaksana serta member nasihat yang baik.

a. Syarat Melakukan Amar Ma‟ruf Nahi Munkar

41 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, 106.

Menurut bahasa syarat adalah janji (suatu tuntutan, atau permintaan yang harus dipenuhi). Selain itu, syarat juga berarti peraturan/ketentuan yang harus diindahkan dan dilakukan.42

Dari pengertian yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa syarat adalah suatu ketentuan yang harus dipenuhi dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian, maka pengertian dari syarat amar ma‟ruf nahi munkar adalah sesuatu yang harus dipenuhi atau dimiliki oleh seseorang yang hendak melakukan amar ma‟ruf nahi munkar.

Dalam melakukan amar ma‟ruf nahi munkar, hendaknya orang tersebut terlebih dahulu memenuhi dan memiliki persyaratan dan etika dalam ber-amar ma‟ruf nahi munkar agar dapat terlaksana dengan baik dan dapat memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Adapun syarat-syarat tersebut, yaitu:43

1. Beriman, karena tidak mungkin orang yang menganjurkan orang lain berbuat baik dan mencegahnya berbuat jahat, sementara dirinya sendiri menjadi penentang dan musuh agama

2. Mukalaf, yaitu orang islam yang telah dibebani tanggung jawab keagamaan, yakni apabila dia sudah sampai usia baligh dan berakal.

3. Lemah lembut dalam melakukan amar ma‟ruf nahi munkar.

42 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 878.

43 Kementrian Agama RI, Amar Makruf Nahi Munkar (Tafsir al-Qur‟an Tematik), 131.

4. Bijaksana dalam melakukan amar ma‟ruf nahi munkar, seorang da‟i harus bijaksana dalam menyampaikan dakwahnya agar dakwahnya sukses, bijaksana yang dimaksud adalah menggunakan metode yang tepat, Allah SWT berfirman:















































Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam amar makruf nahi munkar hikmah mempunyai posisi yang sangat penting, karena dapat menentukan sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi masyarakat beragam tingkat pendidikan, sosial dan latar belakang budayanya para peleku amar makruf nahi munkar memerlukan hikmah, sehingga ajaran Islam mampu memasuki relung hati para pendengarnya dengan tepat, oleh karena itu, para mubaligh/da‟I dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar

belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima, dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya.44

Adapun pengertian mau‟izah hasanah adalah pengajaran yang baik, lemah lembut dan menyejukkan sehingga dapat diterima dengan baik dan memberikan ketentraman.

Sedangkan definisi dari al-mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua belah pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.

5. Memahami karakter dan kondisi manusia serta lingkungan yang dijadikan objek amar ma‟ruf nahi munkar.

6. Memiiki kepribadian yang baik, setiap muslim yang hendak menyampaikan dakwah, khususnya juru dakwah professional yang menkhususkan diri di bidang dakwah, seyogyanya memiliki kepribadian yang baik untuk menunjang keberhasilan dakwah, apakah yang bersifat psikologis (rohaniah), atau yang bersifat fisik.45

Kemudian untuk orang yang menjadi sasaran amar makruf nahi munkar (muhtasib „alaih) mencakup segenap manusia mencakup segala bentuk pekerjaan dan profesinya, baik mukallaf

44 Munzier Saputra, Metode Dakwah, (Jakarta: Pranada Media, 2006), 11.

45 M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur‟an (Bandung: Mizan, 1994), 35.

atau bukan, pria atau wanita dan hal ini mencakup segenap lapisan sosial.

b. Etika Melakukan Amar Ma‟ruf Nahi Munkar

Secara Umum etika dalam melakukan amar ma‟ruf nahi munkar mengikuti etika yang telah digariskan dalam al-Qur‟an dan Hadits, yakni melakukan tindakan-tindakan yang terpuji serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Namun secara khusus terdapat etika yang menjadi rambu-rambu etis bagi seorang juru dakwah, etika-etika tersebut antara lain:

1. Satu Kata dengan Perbuatan, Pelaku amar ma‟ruf nahi munkar hendaklah satu kata dengan perbuatannya, yakni apa saja yang dia perintahkan dan dikatakan harus dilakukannya juga dan kemunkaran apa saja yang dia perintah untuk dia tinggalkan, harus dia tinggalkan juga. Sebagai contoh, sungguh sangat aneh apabila ada seseorang yang mengajak orang lain untuk menjauhi narkoba, ternyata dia sendiri adalah pemakai narkoba. Allah SWT berfirman:







































Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar

kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. as-Shaf)

Ayat tersebut mengisyaratkan bahawa pelaku amar ma‟ruf nahi munkar hendaklah menjadi seorang musim yang baik terlebih dahulu. Oleh karena itu, seorang da‟i hendaknya memperbaiki akhlaknya sendiri terlebih dahulu sebelum memperbaiki akhlak orang lain.

2. Tidak Kompromi dalam Masalah Akidah, di dalam Islam dianjurkan untuk toleransi dalam batas-batas tertentu selama itu tidak menyangkut masalah akidah, jadi seorang pelaku amar ma‟ruf nahi munkar harus teguh dan tegas dalam mempertahankan prinsip akidahnya dan tidak memaksa orang lain untuk mengikuti akidahnya, hal ini sesui dengan firman Allah dalam surat al-Kahfi ayat 29:

























































Artinya:

Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang

zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Dalam surat al-Baqarah ayat 256 disebutkan pula:



















































Artinya:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Dari keterangan ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasannya prinsip ajaran Islam tidak memaksakan seseorang untuk mengikuti akidahnya, tetapi memberikan kebebasan penuh kepada umat manusia untuk beriman dan mengikutiya.

Akan tetapi jika sudah memeluk Islam, wajib bagi seorang da‟i

pelaku amar ma‟ruf nahi munkar untuk meluruskan dan menjaga akidah orang-orang disekitarnya dari hal-hal yang menyesatkan.

3. Tidak Membedakan Status sosial, seorang pelaku amar ma‟ruf nahi munkar janganlah membeda-bedakan status sosial bagi sasaran dakwahnya baik itu orang kaya ataupun orang miskin.

Atau membeda-bedakan orang yang memberikan imbalan banyak dengan yang yang memberi imbalan sedikit karena hal itu dapat menimbulkan rasa ketidakadilan dan kecemburuan sosial.

4. Menjauhi kemaksiatan, bagi seorang pelaku amar makruf nahi munkar mendekati kemaksiatan merupakan suatu pantangan yang harus dijauhi, apalagi sampai melakukannya. Karena sangatlah tidak etis apabila pelaku amar makruf nahi munkar menjerumuskan dirinya ke dalam kemaksiatan.

5. Tidak Menghina Tuhan/Sesembahan agama Lain, dalam perkara ini, al-Qur‟an menjelaskan:



















































Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah

Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.

kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Q.S. al-An‟am: 108)

Adapun sabab an-Nuzul dari ayat ini yakni pada suatu ketika orang-orang Islam mencaci maki berhala sesembahan orang kafir, setelah itu turunlah ayat tesebut yang berisi tentang larangan menghina dan mencaci maki sesembahan kaum non-Muslim. Dari uraian ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam ber-amar makruf nahi munkar jangan sampai seseorang menghina sesembahan orang kafir, karena selain sebagai larangan Allah, perbuatan ini juga dapat merusak kerukunan dan menimbulkan perpecahan antar umat manusia.46

6. Tidak menyampaikan Hal-Hal Yang belum dan Diluar Kemampuan, dalam beramar makruf nahi munkar jangan sekali-sekali menyampaikan hal-hal yang belum diketahuinya dengan baik, yang dapat menyesatkan umat. Misalnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang agama, hanya dijawab tanpa ada penjelasan yang kuat dari al-Qur‟an dan Hadits, perkataan ulama atau berdasarkan maqasid as-asyari‟ah, tetapi hanya berdasar pada pemikiran dan seleranya saja. Oleh karena itu sebelum menyampaikan dakwahnya, pelaku amar makruf nahi munkar haruslah memiliki bekal ilmu yang cukup dan juga memiliki

46 Kementrian Agama RI, Amar Makruf Nahi Munkar (Tafsir al-Qur‟an Tematik), 144.

wawasan yang luas agar dapat merespon dan menangani berbagai masalah yang terjadi pada umat.

7. Tidak menetapkan imbalan tarif dan honor, bukanlah suatu perilaku yang etis apabila pelaku amar makruf nahi munkar menetapkan tariff atau honor dalam dakwahnya, kan tetapi apabila yang berinisiatif memberi adalah masyrakat sendiri secara sukarela maka tidaklah apa-apa.47

Dokumen terkait