• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anak-Anak Malang

Dalam dokumen BAKTI SEORANG ANAK. Oleh: S. Dhammasiri (Halaman 50-61)

“Betapa malang nasibku, semenjak kuditinggal ibu…” begitulah lirik awal lagu “Anak Tiri”. Lagu tersebut menceritakan keluh kesah dan penderitaan seorang anak tiri. Sayangnya, saya sudah tidak ingat sepenuhnya lagu itu karena lagu itu saya hafalkan sepuluh tahun yang silam tepat saat saya masih berada di kelas dua SLTP. Saat itu, kami sempat membuat drama atas lagu tersebut.

Drama tersebut kami atur sesedih mungkin dan benar-benar manggambarkan bahwa anak tiri adalah anak yang tersisihkan, anak yang selalu menelan pil pahit setiap saat. Padahal dalam kenyataannya, tidak semua orangtua tiri adalah orang yang kejam, orang yang tidak mengerti kasih sayang. Pernah saya menemui seorang anak tiri yang hidupnya benar-benar bahagia. Ayah tirinya menyayanginya sama seperti anak kandungnya sendiri. Ayah tirinya tidak pernah memukulnya. Bahkan, anak itu enggan hidup bersama dengan ayah kandungnya. Tapi, mungkin cerita semacam ini adalah cerita nan langka.

Lagu “Anak Tiri” memang lebih banyak menggambarkan kehidupan anak-anak tiri yang sesunguhnya. Lagu itu menceritakan bahwa seorang anak ditinggal ibunya, kini ia mempunyai seorang ibu tiri. Ibu tirinya hanya mencintai ayahnya saja dan tidak mencintai dirinya. Ibu tirinya memuji dirinya ketika sang ayah berada di hadapannya tapi begitu ayah tiada hancurlah hidupnya, hari-hari penuh dengan siksaan dan deraan.

Salah seorang senior saya dan juga teman sekelas saya mengalami nasib yang hampir tidak ada bedanya. Saya melihat mereka adalah

anak-anak yang kekurangan kasih sayang. Sebagai akibatnya, teman sekelas saya sering tidur di rumah teman yang mau memberikan perhatian dan kasih sayang. Sementara senior saya tetap tidur di rumah karena orangtuanya menerapkan peraturan yang lebih ketat. Hanya saja, ia mempunyai prilaku yang aneh atau lebih layak dikatakan tidak normal.

Ketika duduk di bangku SMU, ia mencintai salah seorang temannya. Ia kemudian mengirimkan surat kepada temannya tersebut melalui teman dekatnya. Teman dekatnya menghianatinya. Ia membalas surat tersebut bahwa wanita yang ia cintai mencintainya juga. Tidak hanya respon yang bersifat afirmatif tapi lengkap dengan foto wanita tersebut. Betapa senangnya laki-laki tersebut mendapatkan balasan surat tersebut.

Beberapa saat kemudian keadaan berbalik 180 derajat.

Kebahagiaan berubah menjadi penderitaan yang tiada berkesudahan mana kala ia mengetahui bahwa wanita yang ia cintai tidak mencintainya. Anak itu akhirnya menjadi gila. Orantuanya kalang kabut, mengupayakan kesembuhannya. Karena anak tersebut tidak sembuh, mereka menjual seluruh tanahnya dan kembali ke Pulau Jawa dengan harapan anaknya bisa sembuh di Pulau Jawa.

Sopāka adalah seorang anak miskin. Ketika ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang pria. Sayangnya, ayahnya sangat kejam. Ia mudah main pukul, mencaci dan kata-katanya amat kasar.

Ia benar-benar berbeda dengan ibunya yang sangat menyayanginya.

Sang ayah tiri merasa bahwa Sopāka telah menjadi batu sandungan, tapi ia tidak dapat berbuat banyak karena ibunya sangat mencintai Sopāka. Suatu sore, ia berkata kepada Sopāka, “Anakku sayang yuk

kita jalan-jalan ke luar.” Sopāka merasa ada suatu perubahan yang amat drastik dalam diri ayah tirinya. Ia berpikir bahwa ibunya telah meminta ayahnya untuk berbaik hati kepadanya. Dengan perasaan antusias, ia menuruti ayahnya.

Ayah tirinya membawa Sopāka ke kuburan. Sesampainya di kuburan, ayahnya mengikat erat-erat Sopāka pada mayat yang ada dengan harapan agar dimakan oleh srigala yang datang. Sama seperti jutaan manusia yang ada di bumi ini yang takut dan merasa jijik melihat mayat yang berserakan penuh dengan belatung dan bau yang memuakan, Sopāka juga takut dan merasa jijik terhadap mayat-mayat tersebut. Ia menjerit-jerit minta tolong. Tapi ayah tirinya yang bengis tidak mau menggubrisnya.

Malam semakin larut, srigala melolong memecah kesunyian malam. Sopāka semakin ketakutan. Seluruh badannya kuyup dengan keringat tapi tak seorang pun yang mendengar jeritannya. Ia menangis sejadi-jadinya, dan minta tolong. Namun, hanya mayat yang telah tak bernyawa yang ada di sana. Tidak ada manusia lain.

Sang Buddha yang berada di vihāra dengan kemampuan-Nya melihat Sopāka nan malang di tengah senyapnya kuburan.

Ia menampakkan diri di hadapan Sopāka dan secara spontan tali yang mengikat Sopāka pada mayat itu terlepas. Dengan spontan pula, Sopāka langsung berada di vihāra yang letaknya amat jauh dari kuburan tersebut. Sang Buddha memandikan sendiri Sopāka, memberinya pakaian, dan memberikan makanan. Sang Buddha kemudian menahbiskan Sopāka menjadi sāmaṇera.

Di satu sisi, Sopāka memang menjadi anak yang malang. Ia menderita karena kekejaman ayah tirinya. Tapi karena kekejaman itu,

ia menjadi sāmaṇera di bawah bimbingan Sang Buddha. Ia akhirnya menjadi orang suci dan mencapai kebahagiaan sejati, Nibbāna.

Ternyata cerita anak tiri hanyalah sepenggal cerita tentang anak-anak yang kurang mujur. Masih banyak anak-anak-anak-anak yang lain yang hidupnya terlunta-lunta. Tentu ada banyak alasan mengapa mereka bisa sampai pada jenjang yang demikian.

Fifi yang berusia hampir 20 tahun menceritakan kehidupannya yang amat getir dirasakan kepada Sarinah.11 Ia menjadi anak jalanan semenjak berusia 14 tahun. Tidak hanya itu, ia juga terjebak dalam hubungan seks bebas dan menjadi pengonsumsi minuman keras murahan. Ia bisa menjadi anak jalanan berawal dari kematian ibunya.

Setahu Fifi, ia adalah anak tunggal dari pasangan yang tampak harmonis. Ibunya adalah mantan pramugari dan ayahnya adalah seorang sopir. Hari-hari Fifi selalu hidup dalam pelukan kasih sayang ibunya dan banyak teman-teman yang merasa iri atas dirinya. Ketika ia berusia 10 tahun, ibunya terserang lever dan meninggal tiga tahun kemudian. Fifi benar-benar merasa kehilangan sebab ibunyalah yang selama ini lebih dekat dengannya.

Tepat dua hari setelah kematian ibunya, ayahnya mengatakan bahwa sebenarnya dia hanyalah anak angkat dan bukan anak mereka.

Ayahnya pun menyodorkan surat pengangkatan dirinya. Hari terasa gelap, masa depan menjadi buram tak menentu, adalah yang dirasakan oleh Fifi saat itu. Air matanya yang belum kering karena menangisi kepergian sang ibu, kini mengucur kembali sederas-derasnya melihat kenyataan bahwa ia hanyalah anak pungut.

Kedua orangtuanya sepakat mengambil Fifi sebagai anak angkat

11 Sarinah Edisi 13 Agustus 1990

karena mereka tidak pernah memiliki anak. Terlebih lagi ibunya telah menikah hingga tiga kali dan ayahnya telah menikah lima kali. Selama pernikahan itu, mereka tidak pernah mendapatkan keturunan. Oleh sebab itu, kehadiran Fifi ibarat permata yang tak ternilai harganya.

Di tengah kegalauan dan kesedihan, Fifi mencoba menemui orangtua kandungnya. Sesampainya di rumah itu, orangtuanya mengatakan bahwa ia telah diberikan kepada orang lain. Karenanya, sejak detik itu ia bukan anaknya lagi. Sungguh suatu pengalaman yang amat sangat getir untuk dirasakan. Fifi yang statusnya masih bocah, belum mampu melangkah dengan kokoh, dihantam tiga badai kehidupan sekaligus—kehilangan ibu, mengetahui kenyataan ia hanyalah anak angkat, dan tidak dianggap sebagai anak lagi oleh orangtua kandungnya.

Fifi berusaha sharing dengan teman-temannya yang ia anggap dekat. Satu dua kali mereka memang mau mendengarkan keluh kesah Fifi. Tapi setelah berulang kali teman-temannya menjadi bosan mendengar pengaduan Fifi. Fifi akhirnya mengadukan hidupnya kepada siapa pun. Memang ada orang-orang yang baik mau mendengar keluh kesahnya. Tapi sayangnya, mereka hanyalah orang-orang pengangguran, jagoan begadang. Dari situlah Fifi memulai kariernya dalam dunia yang amat mesum, mabuk-mabukan, melakukan hubungn seks sebebas-bebasnya.

Dalam petualangannya di dunia liar, Fifi bertemu dengan wanita-wanita sebayanya. Mereka merasa senasib dan seperjuangan. Mereka bisa hidup rukun dan penuh solidaritas. Siapakah mereka semua?

Mereka ternyata adalah anak-anak yang kekurangan kasih sayang.

Umumnya, orangtua mereka mengalami broken-home.

Memang banyak alasan mengapa kehidupan rumah tangga seseorang menjadi berantakan ibarat kapal pecah berkeping-keping.

Ada yang rumah tangganya hancur karena suami istri merasa sudah tidak seideologi lagi. Ada yang broken-home karena anggapan bahwa pasangannya sudah tidak sayang lagi dan masih ada setumpuk gunung alasan mengapa rumah tangga bisa menjadi berantakan.

Ketika rumah tangga menjadi berantakan cukup sulit bagi sang anak untuk mendapatkan kasih sayang secara sempurna dari kedua orangtuanya. Kekurangan kasih sayang pada akhirnya dapat menjadi sumber anak-anak menjadi brutal, terjun ke lembah hitam dan sebagainya.

Sebut saja A, adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang secara ekonomi berkecukupan. Ayahnya bekerja di perusahaan yang dapat memberikan penghasilan yang lumayan. Ibunya menjadi kasir di sebuah super market. Keluarga A adalah keluarga kecil sebab kedua orangtuanya hanya memiliki dua anak yaitu A dan kakaknya seorang wanita.

Setelah A tumbuh besar, kedua orangtuanya sering bertengkar.

Sebabnya adalah mereka saling mencurigai bahwa pasangannya berpacaran dengan orang lain. Suami mencurigai istrinya berpacaran dengan temannya. Sebagai akibatnya ia pun membalas dengan cara berpacaran dengan wanita lain. Sang istri juga sama. Ia mencurigai suaminya berpacaran dengan sekretarisnya. Sebagai balasannya, ia pun berpacaran dengan pria lain.

Kondisi bahtera kehidupan yang oleng membuat A kekurangan kasih sayang dan merasa kesepian. Ia berusaha menghibur diri dengan cara menonton film-film action yang merupakan film favoritnya.

Bosan nonton film action, ia mulai mencoba untuk menyewa film-film porno. Film-film-film porno membangkitkan gelora nafsu seksual A yang kebetulan saat itu sedang tumbuh menjadi remaja.

Tak mampu membendung nafsu, A langsung menyergap pembantunya ketika pembantunya mengantarkan minuman ke kamarnya. Pembantunya bukannya menolak tapi justru melayani A karena pembantu tersebut adalah seorang janda yang belum lama ditinggal suaminya. Semenjak saat itu, mereka sering melakukan hubungan seksual ketika rumah sedang ditinggal oleh penghuni yang lain. Hubungan tersebut mengakibatkan sang pembantu menjadi hamil.

Masalah tidak berhenti di situ saja. Kakak A juga dihamili oleh kekasihnya. Tapi untunglah, kekasihnya mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Begitulah satu masalah menghasilkan masalah yang lain.

Ketidakmapanan dan ketidakharmonisan kehidupan rumah tangga menghasilkan masalah-masalah yang lain. Karena dipicu oleh rasa curiga dan cemburu, suami istri saling mencari pasangan lain.

Ketidakharmonisan tersebut membuat anak-anak terlantar dan kekurangan kasih sayang. Mereka akhirnya mencari alternatif lain yang dapat membuat mereka sejenak terpuaskan dan merasa mendapatkan kasih sayang. Cara yang salah membuat kedua anak tersebut terjebak dalam masalah baru.

A benar-benar menjadi anak yang malang sebab kedua orangtuanya hidup dalam ketidakharmonisan. Ia semakin menjadi anak malang setelah ia menghamili pembantunya. Tidak ada orang yang tahu bahwa sang pembantu hamil karena ulah A. Sang ibu justru

mencurigai suaminya yang telah melakukan semua itu. Setelah sampai waktunya, sang ibu minta pembantu tersebut pulang dan melahirkan anaknya. Timbullah kebahagiaan dalam diri A. Tapi taklama kemudian sang pembantu datang lagi.

Ketika sang pembantu datang lagi, masalah baru muncul kembali.

Sang pembantu tampak ramah kepada A ketika kedua orangtuanya berada di rumah. Tapi apakah yang terjadi ketika mereka tidak ada?

Sang pembantu berusaha mengontrol si A dengan berbagai cara bahkan berusaha menghalanginya berpacaran dengan wanita lain.

Bahkan suatu ketika saat A marah-marah pada pembantunya, sang pembantu justru dengan santai mengatakan, “Apakah Engkau tidak ingin melihat anakmu?”

Begitulah suatu masalah menimbulkan masalah baru yang berkepanjangan. Kehancuran rumah tangga orangtua A telah membuat A terjerumus ke dalam masalah dan masalah itu menciptakan mata rantai masalah yang tidak berkesudahan serta tidak mudah untuk dicarikan solusinya.

Saya yakin masih ada banyak kasus yang dapat dijadikan contoh tentang anak-anak yang malang karena kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Semoga saja Anda sebagai pembaca buku ini adalah orang-orang yang beruntung karena kuyup kasih sayang dari orangtua. Semoga Anda selalu berbahagia karena mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari ibu dan ayah Anda. Tapi kalau kenyataan harus terjadi sebaliknya, bersabarlah dan ambillah sisi positifnya.

Apakah yang dapat kita lakukan manakala kita menjadi anak-anak yang malang, kekurangan kasih sayang dari kedua orangtua kita?

Berdasarkan riset, orang-orang yang kekurangan kasih sayang akan berusaha mencari kasih sayang dan perhatian dari luar. Mereka akan merasa bahagia, tenang, tentram dan damai ketika ada orang yang mau memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepada mereka.

Lihatlah beberapa contoh yang telah saya paparkan di atas.

Saat seseorang mendapatkan kasih sayang dari luar secara penuh, sedikit banyak ia akan mencela orangtuanya yang tidak mampu memberikan kasih sayang secara penuh. Akan tetapi, janganlah Anda melakukan hal ini. Ketika Anda harus menjalani dan merasakan pengalaman pahit, sekali lagi pesan saya, bersabar dan ambillah sisi positifnya. Dari setiap apa yang kita alami pasti ada hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil.

Bila kedua orangtua tidak memberikan kasih sayang yang cukup, Anda sudah selayaknya bersyukur dan berterima kasih kepada mereka karena mereka telah menjadi kondisi dan faktor Anda dapat dilahirkan sebagai manusia di bumi ini. Kita harus ingat bahwa untuk bisa melahirkan atau memunculkan seorang manusia di bumi ini dibutuhkan tiga syarat yaitu:

1. Adanya gandhabba (gandhabbo ca paccupaṭṭhito hoti);

2. Adanya hubungan seksual suami dan istri (mātāpitaro ca sannipatitā honti),

3. Masa subur di pihak wanita (mātā ca utunī hoti).12

Bila tiga syarat ini tidak terpenuhi, adalah hal yang muskil akan terjadi kelahiran terkecuali dalam kasus-kasus yang sangat spesial.

12 Yato ca kho, bhikkhave, mātāpitaro ca sannipatitā honti, mātā ca utunī hoti, gandhabbo ca paccupaṭṭhita hoti –evaṁ tiṇṇaṁ sannipātā gabbhassāvakkhanti hoti: M. I, 266.

Oleh karena itu, bagaimana pun kondisi kedua orangtua kita, kita mau tidak mau harus berterima kasih atas jasa yang telah diberikan, mau menjadi fasilitator bagi kita untuk terlahir sebagai manusia.

Kitab Dhammapada dengan jelas mengatakan bahwa tidak mudah terlahir sebagai manusia (kiccho manussapaṭilābho: Dhp. 182).

Ini menandakan bahwa untuk terlahir sebagai manusia diperlukan suatu perjuangan dan kumpulan kebajikan yang luar biasa. Di bagian lain, sulitnya terlahir sebagai manusia digambarkan seperti seseorang yang melempar gelang yang ukurannya hanya pas seukuran kepala penyu ke kepala penyu yang berada di tengah lautan. Penyu tersebut hanya muncul seratus tahun sekali dan orang tersebut melemparkan gelang tersebut juga hanya seratus tahun sekali pula. Kalau kita sukses memasukkan gelang ke kepala penyu, itu sama artinya kita sukses terlahir sebagai manusia. Dengan analogi ini, kita bisa melihat dengan jelas bahwa untuk terlahir sebagai manusia bukanlah hal yang gampang seperti membalikkan telapak tangan.

Francis Story dalam bukunya berjudul Rebirth as Doctrine and Experience, menjelaskan bahwa pada umumnya kita dilahirkan oleh kedua orangtua kita sekarang ini karena kita suka kepadanya dan merasa cocok dengannya. Berdasarkan risetnya melalui hipnotis dan penuturan banyak orang yang mampu mengingat kelahirannya di masa lampau dan terutama saat sebelum dilahirkan dalam kehidupan sekarang ini, banyak gandhabba yang terus mengikuti orang yang dia sukai dan setelah ada kesempatan mereka “masuk” dalam rahim orang yang ia sukai.

Kalau memang benar bahwa kita bisa menjadi anak dari kedua orangtua kita karena kita suka kepadanya saat kita masih menjadi gandhabba, apakah merupakan kesalahan kedua orangtua kita bila

mereka tidak dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya? Tentu kesalahan tidak dapat kita limpahkan kepada kedua orangtua kita sepenuhnya. Karena kita telah memutuskan untuk bertumimbal lahir di keluarga tersebut, kita juga turut bertanggung atas semua yang terjadi dan yang akan terjadi. Mengapa kita memilih mereka menjadi orangtua kita? Mengapa kita tidak memilih orang lain yang mempunyai kelebihan dalam kasih sayang? Itulah pertanyaan yang harus kita pertanyakan kepada diri kita kalau memang teori yang dikemukakan oleh Francis Story adalah benar.

Dalam dokumen BAKTI SEORANG ANAK. Oleh: S. Dhammasiri (Halaman 50-61)

Dokumen terkait