• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasih Sayang atau Kemelakatan?

Dalam dokumen BAKTI SEORANG ANAK. Oleh: S. Dhammasiri (Halaman 61-67)

S

etiap anak yang lahir di bumi ini membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya. Tanpa kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtua kehidupan seorang anak akan terasa ganjil. Ada sesuatu yang kurang bila kasih sayang dan perhatian dari kedua oarangtua tidak hadir.

Kasih sayang dan perhatian yang diberikan orangtua kepada anak, di satu sisi akan membuat anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang normal. Di sisi lain, bila tanpa dilandasi kebijaksanaan, kasih sayang akan berubah menjadi kemelekatan dan akan cukup sulit membedakan antara kemelekatan dan kasih sayang.

“Ini kasih sayang atau kemelekatan?” itulah salah satu pertanyaan yang ada dalam benak saya selama ini. Saya mempertanyakan hal tersebut karena saya sendiri bersama anggota keluarga yang lain mempunyai pengalaman yang tidak jauh berbeda. Pengalaman itu sering terjadi tetapi sulit untuk menentukannya, apakah itu adalah akibat kekuatan kemelekatan atau kasih sayang.

Seperti telah saya jelaskan di bagian awal buku ini, orangtua kami mempunyai anak karena keinginan. Selain adik saya yang merupakan anak bungsu, semua jenis kelamin dan hari kelahiran adalah hasil keinginan ayah. Lalu siapakah yang menjadi anak-anak orangtua kami? Apakah kami memang punya hubungan kekeluargaan semenjak dalam kehidupan-kehidupan yang lampau sehingga begitu ayah mempunyai keinginan kemudian kami lahir ke muka bumi ini sesuai dengan keinginan tersebut?

Menurut Professor Galmagoda Sumanaphala—yang

notabenenya adalah Professor Abhidhamma dan mempunyai kemampuan menghipnotis seseorang untuk berbagai tujuan termasuk untuk mengetahui kelahiran kembali, orang-orang yang ada dalam keluarga kita pada umumnya adalah saudara-saudara kita juga dalam kehidupan masa lalu. Saudara-saudara kita bisa berkumpul kembali dalam kehidupan sekarang ini karena adanya kekuatan kemelekatan.

Dalam keluarga saya, ada suatu kepercayaan dan keyakinan bahwa saya adalah kelahiran kembali dari paman saya. Paman tersebut meninggal setelah menikah dengan seorang wanita yang konon kabarnya tidak berdasarkan restu dari kakek. Tepat sesaat sebelum meninggal, paman mengatakan semua ciri-cirinya dalam kelahiran yang akan datang termasuk hari kelahirannya. Apa yang ia sebutkan benar-benar ada dalam diri saya baik hari kelahiran maupun ciri fisik yang ia sebutkan.

Semenjak saya dilahirkan—menurut cerita ayah—bibi, janda paman, tidak pernah menyentuh saya. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan bibi tesebut sehingga saya tidak pernah tahu apa alasannya mengapa ia tidak berani menyentuh saya. Kalau saya menangis, kemudian bibi mengetahuinya, bibi hanya bilang dari kejauhan, “Sudah diam mama ke pasar, sebentar lagi juga pulang.”

Setelah saya menjadi sāmaṇera, saya menyadari bahwa hobi saya ketika masih menjadi umat awam juga hampir tidak ada bedanya dengan kebiasaan dan hobi paman. Tapi, apakah saya percaya begitu saja bahwa saya adalah tumimbal lahir dari paman saya? Jawabannya adalah tidak. Hingga buku ini saya tulis, Professor Galmagoda Sumanaphala belum memiliki waktu untuk menghipnotis saya untuk membuktikan apakah benar cerita dan keyakinan keluarga saya tersebut atau tidak.

Selain itu, kami bisa saling merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain atau lebih tepat kami dapat firasat bila yang lain sedang mengalami sesuatu. Ayah dan Mama adalah yang cukup sensitif dalam hal ini.

Bila ayah sedang berada dalam perjalanan atau sedang bepergian jauh dari rumah kemudian tanpa ada alasan ayah menangis, itu tandanya kakak saya yang nomor empat sedang sakit. Oleh karena itu, ketika ayah mengalami hal semacam itu ayah akan segera pulang dan menunda perjalanan tersebut atau sesegera mungkin menyelesaikan urusannya. Semenjak kecil, kakak memang agak sulit untuk ditinggal ayah. Biasanya kalau anak-anak yang lain sedang sakit atau mengalami kesulitan yang ada dalam pikiran ayah hanyalah anak tersebut.

Selama di Indonesia, saya sempat mengabdi di beberapa tempat.

Ketika mengabdi di Lampung, saya sempat menjadi penghuni rumah sakit selama enam hari. Biasanya setiap saya pindah ke vihara baru, saya selalu kirim surat dan memberitahu bahwa saya sedang berada di vihāra yang baru. Begitu pula ketika saya berada di Lampung. Ketika saya sedang dirawat di rumah sakit, saya memang tidak memberitahu mereka. Namun apakah yang ada dalam pikiran ayah? Ayah ternyata selalu ingat saya. Yang ada dalam pikirannya hanya saya. Ia pun merasa kuatir kalau saya lepas jubah. “Jangan-jangan sāmaṇera setelah pindah ke Lampung tidak betah melihat dunia di sana. Ah semoga saja sāmaṇera selamat.” Begitulah pikir ayah. Ayah menjadi lega setelah membaca surat yang saya kirimkan ketika saya telah sembuh.

Selama saya menjadi sāmaṇera, sudah dua kali saya menjenguk keluarga saya di rumah. Setiap kali akan pulang saya tidak pernah memberitahu mereka. Beberapa hari menjelang kedatangan saya, ayah, mama, kakak dan adik seakan-akan selalu melihat saya.

Bayangan tentang saya selalu muncul dalam pikiran mereka. Tapi mereka tidak mengerti apa yang akan terjadi. Dalam kebiasaan keluarga setelah salah satu anggota keluarga datang, kami berkumpul dan menceritakan pengalaman kami. Oleh karena itu, biasanya yang ada di rumah menceritakan apa yang mereka alami selama beberapa hari terakhir.

Sebagai salah satu anggota keluarga, kalau di rumah sedang terjadi sesuatu yang serius saya pun merasakan sesuatu. Ambil saja contohnya ketika saya berada di Makassar.

Saat itu, saya baru beberapa hari berada di Makassar. Saya merasa kangen banget dengan keluarga saya. Yang ada dalam benak saya hanya pulang dan pulang. Tidak bisa ditunda. Namun saat itu saya tidak bisa pulang karena saya adalah pendatang baru. Ketika saya berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah, saya menceritakan kepada keluarga saya, “Bulan Agustus yang lalu saya kangen banget dengan rumah. Saya mau pulang tapi tidak bisa.” Apa jawab ayah, “Ya, saat itu saya sedang sakit.”

Tepat satu tahun saya berada di Sri Lanka dan beberapa hari menjelang bencana tsunami yang menggemparkan dunia itu, saya sedang ulangan akhir tahun. Saat itu, benar-benar celaka. Saya kangen banget dengan mama. Saya merasa belum mau berpisah dengan mama, saya ingin mama selalu berada di samping saya dan selalu menemani saya. Makan tidak enak, tidur sulit, belajar pun sulit untuk berkonsentrasi. Yang ada dalam pikiran hanya mama, mama dan mama, kangen, kangen dan kangen………... Perasaan semacam itu saya rasakan hingga lebih dari dua minggu.

Setelah selesai ulangan, saya langsung tulis surat ke rumah. Saya

tanyakan apakah mama sedang sakit atau terlalu banyak memikirkan saya karena biasanya kalau saya lagi kangen mama sedang sakit atau terlalu memikirkan saya. Tepat tanggal 10 Maret 2005 saat saya baru pulang dari forest meditation center, saya dapatkan jawaban dari kakak. Kakak mengatakan:

“Memang benar yang bhante katakan dalam surat itu bahwa mama sedang sakit. Hanya saja bukan sakit yang sebenarnya melainkan Mama Agung (adik saya maksudnya) yang sedang sakit. Ia mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor.”

Keluarga saya tidak memberitahu saya yang sedang berada di Sri Lanka karena mereka tidak ingin mambuat saya terlalu memikirkan rumah. Mereka hanya berharap agar saya dapat menjalankan tugas dengan baik.

Saudara-saudara saya yang lain juga merasakan sesuatu yang ganjil bila ayah dan mama sedang mengalami sakit. Kakak saya yang nomor tiga sangat menyayangi mama. Gayanya yang agak manja membuat dia sangat dekat dengan mama. Suatu ketika ia bekerja di tempat yang cukup jauh dari rumah. Ia sempat tinggal di tempat tersebut hingga beberapa tahun dan hanya pulang pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Ketika ia berada di tempat tersebut, mama jatuh sakit yang cukup parah. Pada saat mama sedang sakit, kakak pun merasa kangen dengan rumah. Ia tidak bisa tidur dengan baik, duduk sulit, berbaring juga tidak bisa. Akhirnya, ia minum obat tidur hingga kelewat dosis.

Sebagai akibatnya, ia tertidur selama dua hari tanpa bergerak.

Demikian hubungan kami antara orangtua dan anak serta sebaliknya. Saya pun tidak tahu kekuatan apa yang ada di antara kami.

Apakah ini kekuatan kasih sayang atau kekuatan kemelekatan. Kalau memang itu adalah kekuatan kemelekatan, kondisi untuk terlahir secara berulang-ulang terus ada. Kondisi untuk saling merindukan tak akan pernah berhenti. Dengan demikian, roda saṁsara akan terus berputar dan berputar.

Dalam dokumen BAKTI SEORANG ANAK. Oleh: S. Dhammasiri (Halaman 61-67)

Dokumen terkait