• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pendidikan Agama Islam

1. Anak Didik ( peserta D idik)

Menurut Undang-undang Sisdiknas No: 20 tahun 2003, menyebutkan sebagai b erik u t:

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya, melalui proses pendidikan pada ja lu r jenjang pendidikan tertentu ” 40

Anak didik ialah orang menerima pengetahuan, bimbingan petunjuk dalam mempelajari ilmu-ilmu Agama Islam. Anak didik dalam istilah lain disebut juga dengan “siswa”, “murid”, “Thalb”, “Santri” dan lain-lain.

Menurut Lengeveld, anak manusia itu memerlukan pendidikan karena dilahirkan dalam keadaan lemah tidak berdaya.

Omar Muhammad Al-Tomy AS, Memandang manusia manusia

secara kodrati mempunyai dua sifat yaitu sifat baik ( Taqwa )dan jelek (Fujur ) . Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, badan dan ruh, mempunyai mativasi dan kebutuhan. Dari situlah manusia mempunyai

pendidikan agama Islam, guna membimbing dan mengarahkan

perkembangan sifat dan perilaku agar tidak menyimpaaang dari ajaran Islam.41

40 Redaksi Sinar Grafika..Undang-undang Sisdiknas no.20 Tahun 2003, Jakarta, Sinar Grafika,CetI, hlm:3

41 Oemar Muhammad Al-Tomy Al-Asyaibani, F ilsafat Pendidikan Islam (teijemah) Dr. Hasa Langgulung, Bulan Bintang, 1979. hal 130 -135

Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki setiap manusia yang hidup di dunia. Dalam Islam manusia dipandang sebagai obyek sekaligus subyek dalam pendidikan, mereka diwajibkan untuk melakukan kegiatan pendidikan seumur hidup. 2. Pendidik

Pendidik Agama Islam ialah orang yang memberikan bimbingan, Pengajaran dan memberikan petunjuk tentang Ilmu-ilmu keislamankepada para peserta didik. Sinonom dari kata pendidik ialah kata guru, Mudaris, Ustadz, Kyai dan lain-lain.

Moh. Atthiyah Al-Abrasi mengklasifikasikan pendidikan kedalam tiga kelompok y a itu :

a. pendidik Kuttab, ialah pendidik yang pada umumnya mengajarkan kepada anak-anak didiknya di kuttab.

b. Pendidik Umum, ialah pendidik pada umumnya yang mengajar di lembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan Pendidikan Agama Islam (PAI), seperti pada madrasah, pondok pesantren, pendidikan dimasjid, surau atau pendidikan informal yaitu orang tua.

c. Pendidikan khusus (muadib), yaitu pendidik yang memberikan pelajaran khusus kepada seseorang atau lebih, dari seorang anak

35

pembesar, pemimpin dan lainnya yang biasanya dilaksanakan dirumah-rumah42

Tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh para pendidik agama Islam sangatlah berat, karena ia bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi manusia agar sesuai dengan ajaran Islam. Setelah itu ia juga harus bertanggung jawab dihadapan Allah SWT.

Pendidik Agama Islam mempunyai beberapa tugas penting yaitu : 1. Mengajarkan pengetahuan agama Islam.

2. Menanamkam keimanan ke dalam jiw a anak. 3. Mendidik anak agar tetap taat menjalankan agama. 4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.43

Sesuai dengan beratnya tugas yang harus diemban oleh seorang guru Pendidikan Agama Islam maka diperlukan beberapa syarat agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam hal ini derektorat jendral Pembinaan Agama Islam menetapkan Syarat-syarat yang harus dimiliki sebagai seorang guru agama ialah :

a. Memiliki pribadi yang mukmin.

b. Taat menjalankan agama (menjalankan syariat Islam, dapat memberi contoh tauladan yang baik bagi anak didiknya)

42 Ibid, hal. 78

c. Memiliki jiw a pendidik dan memiliki rasa kasih sayang kepada anak didiknya dan ikhlas jiwanya.

d. Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan, terutama didaktik metodik.

e. Menguasai ilmu pengetahuan agama (Islam)

f. Tidak mempunyai cacat Rohaniah dan cacat jasmaniah.44

Demikian beberapa syarat yang diperlukan sebagai seorang guru agama Islam dengan tujuan agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan dapat mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Diantara syarat yang terpenting dari syarat diatas adalah hendaknya ia dapat menjadi suritauladan yang baik dalam segala tingkah lakunya dengan akhlak yang mulia serta sesuai dengan ajaran agama islam. Beberapa syarat yang harus dimiliki yang bersifat umum ( bukan Pendidikan Agama Islam ), syarat yang harus dipenuhi lebih diperhatiak hanya pada aspek pengajaran harus seorang yang muslim atau mukmin.

3. Tujuan

Faktor tujuan dalam Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena sebagai sasaran, arahan dan pedoman dalam menentukan langkah dan kebajikan Pendidikan Agama Islam.

Secara garis besar tujuan Pendidikan Agama Islam ialah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa Ibid, hal 34

37

tentang ajaran islam. Sehingga mereka menjadi manusia yuang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Tujuan pendidikan dapat digambarkan sebagai tujuan dari hasil perhatian yang dituju, merupakan hasil akhir yang final, para ahli pendidikan cenderung berhenti pada tujuan-tujuan yang lebih khusus yang dapat tercapai secara terpisah-pisah dalam suatu langkah tertantu. Apapun yang tercapaidalam langkah tertentu ini ditentukan oleh nuansa kelayakanya menuju kearah tujuan akhir yang sesungguhnya. Dalam pendidikan Islam, tujuan umumnya adalah membentuk kepribadian sebagai kholifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir manusia. Tujuan utama khalifah adalah beriman kepada Allah dan tunduk patuh secara total kepada-Nya. Adapun tujuan akhir yang harus diselesaikan oleh manusia adalah tujuan yang sesungguhnya kepada Allah SWT secara total, bahwa tugas manusia yang harus diselesaikan itu tidak dapat dipisahkan dari tujuan utamanya, yakni ketundukan secara total kepada Allah.

Dalam Al Qur'an tujuan pendidikan mengacu pada eksistensi manusia didunia, manusia diciptakan didunia oleh Allah sebagai makhluq yang paling sempurna dengan makhluq yang lainya. Kesempurnaan manusia dalam segala aspeknya, baik jasmani, rohani dan unsur-unsur lain yang ada dalam diri manusia. Tujuan pendidikan harus diarahkan demi terwujudnya kesempatan unsur jasmani-rohani dan unsur-unsur yang ada didalamnya.

Sayyid Quthb mengatakan, bahwa perbuatan khalifah dimulai dengan amal ibadah dan pengabdian serta penyembahan yang secara pasti

dilukiskan sebaga ibadah. Tugas akhir yang harus diselesaikan oleh manusia adalah tujuan yang sesungguhnya dalam Pendidikan Islam yang dapat dicapai melalui pengabdianya kepada Allah SWT secara total.

Usaha yang dicapai untuk mencapai tujuan umum Pendidikan Islam ini oleh sebagian pakar Pendidikan Islam dibeda-bedakan. Mereka katakan, bahwa ketidak singgungan tujuan umum dari kondisi kekinian dan waktu sekarang memberi peranan kecil bagi alasan tidak diakuinya tujuan umum tersebut. Sikap ini sebagaimana di ungkapkan oleh Badman katanya, pembahasan pada sasaran ini paling membosankan dan paling tidak menghasilkan apa-apa dari penyelidikan manusia. Adapun tujuan umum dari pendidikan yang ideal pasti tidak akan dicapai dilembaga pendidikan.

Oleh karena itu tujuan Pendidikan Agama Islam harus dirumuskan secara jelas, baik itu tujuan yang bersifat umum atau yang bersifat khusus. 4. Alat pendidikan

Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan, dalam hal ini yang dimaksud adalah pendidikan Agama Islam. Adapun jenis alat atau peraga dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

a. Media Kriteria.

Ini terdiri dari gambar-bambar, peta-peta dan objek-objek sebenarnya, yang akan digambarkan, direkonstruksi, diinterpretasi, atau

39

diidentifikasi oleh siswa untuk dapat menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahannya. Dengan kata lain media ini merupakan bagian dari kriteria. Tujuan belajar bisa dirumuskan sebagai berikut: “Siswa dapat membuat diagram untuk menggambarkan hubungan antara

,y!5

b. Media Perantara.

Ini terdiri dari alat Bantu yang bukan merupakan merupakan bagian dari situasi criteria. Dengan kata lain, siswa tidak dituntut untuk menggambarkan, merekonstruksi, menginterpretasi, atau mengidentifikasikannya. Fungsi satu-satunya ialah untuk membantu siswa untuk mendapatkan pengertian tentang suatu gejala atau kejadian. Jika kegiatan belajar telah teijadi, alat Bantu tersebut harus dilupakan atau “hilang” secepat mungkin. Sebagai contoh ialah grafik. Siswa tidak akan diminta membuat gambar statistik dari suatu posisi ekonomi suatu negara, tetapi mereka sangat diharapkan dapat menggambarkan posisi itu sendiri. Dalam situasi semacam ini, grafik merupakan cara untuk mencapai tujuan.

5. Lingkungan.

Keberhasilan dalam pendidikan Agama islam selain dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa faktor di atas juga ditentukan pula oleh 45

45 Setijadi. Pengelolaan Belajar. Seri pustaka Teknologi Pendidikan no.8. Cv.Rajawali. Jakarta. Th.1970. him: 153

lingkungan ( miliu ) dimana PAI itu dilaksanakan. Lingkungan dapat memberikan pengaruh kepada seseorang, baik yang bersifat positif dan negatif. Pengaruh ini merasup atau mewarnai kedalam perkembangan jiwa, akhlak, sikap dan perasaan agama seseorang. 46

Suatu lingkungan dikatakan positif apabila dapat memberikan rangsangan dan motivasi pada anak untuk dapat berbuat yang sesuai dengan jaran Islam. Dan lingkungan dikatakan negatif apabila lingkungannya tidak dapat dilaksanakan ajaran-ajaran islam, atau bahkan memberikan pengaruh yang jelas merusak moralitas, akhlak dan sikap seseorang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.47

6. Materi.

Pendidikan Agama Islam sebagai penddidikan yang berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah sangat luas jangkauanya. Karena Islam mendorong setiap umatnya atau pemeluknya memperoleh pendidikan tanpa kenal batas.

Ada beberapa pendapat Ulama tentang materi yang harus diberikan terhadap peserta didik :

a. Menurut Umar Bin Khatab, seorang anak hendaknya diajarkan berenag, berkuda, pepatah yang berlaku dan sajak-sajak yang terbaik. Semua ini diajarkan setelah anak-anak mengetahui

prinsip-46 Zuhairini,dkkO p C/7,hlm:51

41

prinsip Agama Islam, menghafal Al Qur'an dan mempelajari Al Hadist.

b. Ibnu Sina mengemukakan, bahwa pendidikan anak hendaknya dumulai dengan pelajaran Al Qur'an kemudian diajarkan syair-syair pendek yang berisi tentang kesopanan setelah anak selesai

c. Abu Thawam berpendapat, setelah anak hafal Al Qur’an hendaknya anak di ajarkan menulis, berhitung, dan berenamng.

d. Al Ghazali mengemukakan, bahwa sebaiknya anak-anak diajarkan Al Qur’an, sejarah kehidupan orang-orang besar, hukum-hukum agama dan sajak-sajak yang tidak menyebut soal cinta serta palaku- pelakunya.48

Pendapat para Ulama diatas, dapat dipahami bahwa materi

Pendidikan Agama Islam yang paling utama adalah Al Qur’an, baik ketrampilan membaca, menghafal, menganalisa sekaligus mnegamalkan ajaran-ajaranya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an tertanam dalam jiw a anak didik sejak dini.

7. Metode.

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani

“metodos Kata ini berasal dari dua suku kata yaitu “metha ’’yang berarti melalui serta “hodos” yang berarti jalan atau cara. Dengan kata lain

metode berarti jalan atau cara untuk mencapai tujuan 49 50 Dalam kamus besar bahasa Indonesia “ metode ialah cara yang teratur dan terpikir baik- baik untuk mencapai maksud”. Sehingga dapat dipahami metode berarti cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.

Oleh karena itu, yang dimaksud metode Pendidikan Agama Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.