• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Ssfl "Loj (Jjli 3 I ajj ! 3] (JlS

A. Materi Pendidikan Agama Islam

2. Aplikasi Metode Kisah Pada Materi Pendidikan Agama Islam

Dalam penerapannya metode kisah pada materi Pendidikan Agama Islam tentunya tidak semua materi dan pokok bahasan serta sub pokok bahasan bisa menggunakan metode kisah. Berikut ini akan dijelaskan tentang materi-materi pendidikan Agama Islam yang dalam penyampaiannya dapat dengan menggunakan metode kisah, diantaranya ialah :

69

1. Aqidah Akhlaq.

Dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak agar lebih mudah dipahami bisa disampaikan dengan metode kisah. Sebagai contoh materi Aqidah Akhlaq kelas III MTs semester I dengan pokok bahasan “Akhlaq Terhadap sesama” dan sub pokok bahasan “Akhlaq terhadap sesama manusia” dan sub pokok bahasan “Akhlaq terhadap orang tua” . Dalam materi ini bisa disampaikan dengan memberi contoh saebuah kisah yang berkaitan dengan surat Luqman ayat 1 4 - 1 5 tentang jerih payah kedua orang tua. Ayat tersebut ialah :

a* * J . i i u , , ' i ' * | -*9 , ' ■t . » 1 ' t \ * t t ' I o \ + >3 p i t U L ^ ^5oc>-3^ l} \J»-» O* ( \ o - \ t : ^ U I ) Artinya:

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua arang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kepada kedua orang Ibu bapakmu, hftnya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika suatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergamlah keduanya di dunia dengan bodk (QS.Luqman : 14-15)70

Berdasarkan ayat tersebut diatas kemudian diambil suatu kesimpulan, kemudian diambilkan sebuah cerita tentang jerih payah dan kesusahan kedua orang tua mulai dari seorang Ibu yang mengandung selama 9 tahun dan merawatnya hingga dewasa, dan jerih payah seorang Bapak sebagai kepala keluarga didalam mencari nafkah dan kebutuhan hidup keluarga dan cerita-cerita lain yang mendukungnya.

Dan cerita itulah kemudian ditekankan kepada peserta didik dengan melihat jerih payah kedua orang tua yang juga disarankan dengan melihat tetangga orang tua dalam merawat dan mendidik anak-anaknya, kemudian baru ditekankan tentang kewajiban menghormati dan berbuat baik terhadap kedua orang tua.

2. Sejarah kebudayaan Islam.

Pada mata pelajaran ini sebagian besar menggunakan metode kisah, namun yang paling utama dalam metode ini adalah setelah kisah atau cerita disampaikan oleh seorang pendidik kemudian harus diupayakan bagaimana agar peserta didik bisa memahami dan mengambil inti dari kisah tersebut sebagai teladan dalam kehidupannya. Contoh materi sejarah kebudayaan islam kelas II B MTs Semester I dengan Pokok bahasan “Proses timbulnya kerajaan besar" dan sub pokok bahasan “Runtuhnya kerajaan Abbasiyah” setelah menyampaikan sejarah berdirinya, masa

71

keemasannya hingga masa runtuhnya yang sebab-sebab dari internal (dalamnya) adalah :71

a. Mayoritas Khalifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kwajiban mereka terhadap negara. Mereka hidup bermewah-mewahan , menghabiskan waktunya dengan minum-minuman keras, wanita dan musik. Bahkan mereka kehilangan semangat perjuangan menegakkan kekuasaan tatkala datang serbuan pihak asing.

b. Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

c. Semakin kuatnya keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gerakan penglepasan diri sejumlah kerajaan. d. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah

kepada mereka sangat tinggi.

e. Permusuhan antara kelompok suku dan kelompok agama.

f. Negara menetapkan beban pajak yang tinggi untuk kepentingan kalangan atas istana.

g. Merajalelanya korupsi dikalangan kerajaan.

Dari cerita inilah seorang pendidik memberikan kesimpulan dan pelajaran akibat dari seorang pemimpin yang suka hidup mewah dan hanya mementingkan kepentingan pribadinya diatas kepentingan umum meka akhirnya sebuah kerajaan yang sangat besarpun bisa runtuh dan hancur meskipun disamping sebab-sebab yang tersebut diatas tentunya masih ada sebab-sebab yang lain yang tidak penulis sebutkan.

3. Fiqih.

Pada umumnya materi pelajaran Fiqih dalam penyampaiannya menggunakan metode ceramah dan demonstrasi, namun ada juga menggunakan metode kisah dalam penjelasannya. Contoh pada pokok bahasan “Khitan” dengan sub bahasan “asal mula khitan” dalam pembahasannya bisa dengan menceritakan bahwa Nabi Ibrahim pada usia 80 tahun dan dengan kapak, seperti yang tersebut dalam sebuah hadits yang berbunyi:

i j 4-iic. (J y * J ( jl O°

6

j j

^ /jjlk lj Q

jj

L

oj

(jjlk! Jla

(

“Ibrahim Khalilurrahman (Kekasih Allah) telah berkhitan setelah ia berumur 80 tahun, ia berkhitan dengan menggunakan Oadum (semacam Kapak) ”. (HR.Bukhari dari Abu hurairah).

73

Dengan kisah ini diharapkan siswa bisa semakin meyakini sunah- sunah Rasulullah SAW khususnya khitan dan secara umum menanamkan rasa fanatisme pada agamanya.

4. Qur’an Hadits.

Sedangkan dalam materi Qur’an hadits juga dapat menggunakan metode kisah terutama dalam pemahaman makna dari sebuah ayat al- Qur’an atau Al-Hadits. Contoh pada pokok bahasan “pelajaran hadits” dengan sub pokok bahasan “Hadits tentang taat kepada Allah, rasul dan pemimpin” . Dalam pemahamannya bisa dengan menceritakan kisahnya Nabi Nuh as dan kaumnya yang tidak patuh dengan perintah Allah, Rasul dan pemimpinnya yang tak lain Nabi Nuh sendiri maka akhirnya kaumnya diditenggelamkan oleh Allah.

Dari beberapa contoh tersebut diatas dapat diambil pengertian bahwa metode kisah dapat diterapkan pada beberapa materi Pendidikan Agama Islam yang tentunya menyesuaikan dengan masing-masing materi dan pokok bahasan. Dengan kata lain tidak semua materi Pendidikan Agama Islam dapat menggunakan metode Kisah.

Al Qur’an adalah Kalamu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril dengan cara mutawatir atau bertahap. Kandungan Al Qur’an sendiri mencakup semua tata kehidupan yang ada di dunia, mulai dari pendidikan, sampai ilmu pengetahuan.

Al Qur’an juga menunjukkan beberapa metode dalam pendidikan, diantaranya adalah metode kisah atau cerita. Banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan tentang kisah-kisah kehidupan terdahulu, mulai dari proses penciptaan manusia atau Kholifah pertama dimuka bumi yaitu Nabi Adam As sampai Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW, kaum-kaum terdahulu dan lain sebagainya. Adapun beberapa kesimpulan dari tulisan kami adalah:

1. Metode kisah Al Qur'an adalah salah satu metode dalam Pendidikan Agama Islam yang tersurat dalam Al Qur'an. Metode kisah dalam Al Qur'an dan metode-metode lainya, sesuai dengan misi Al Qur'an sendiri yaitu sebagai petunjuk bagi umat manusia, yang metode-metode tersebut banyak memungkinkan untuk dikembangkan dan di aplikasikan dalam pendidikan sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi peserta didik khususnya untuk materi Pendidikan Agama Islam.

75

2. Ayat-ayat yang mengandung kisah dalam Al Qur'an adalah ayat-ayat yang didalamnya terdapat tujuan dari Al Qur'an mengungkapkan sesuatu makna dengan cara dikisahkan, seperti dalam surat Yusuf ayat 111, bahwa ayat tersebut mengandung pengertian bahwa salah satu media yang digunakan dalam Al Qur'an untuk membangkitkan dorongan berfikir manusia adalah dengan kisah.

3. Aplikasi metode kisah dalam Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

a. Kisah-kisah tokoh yang terdapat dalam Al Qur'an ditampilkan secara wajar dan objektif tanpa dicampuri sikap keji dan dosa, seperti yang dilakukan oleh penulis cerita.

b. Teknik penyampaian bisa menggunakan ilustrasi gambar, papan flannel, membaca langsung dari buku, media boneka, dramatisasi dan pemutaran video.

c. Beberapa metode yang bisa di gunakan dalam Pendidikan Agama Islam diantaranya : metode pembiasaan, metode keteladanan, metode pemberian ganjara, metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode kisah atau cerita, metode pemberian tugas, metode karya wisata, metode latihan, metode kerja lapangan, metode keija kelompok.

d. Penerapan metode kisah dalam Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat tercapai tujuan pendidikan dengan hasil yang mencakup tiga

aspek yaitu ( kognitif, afektif dan psikomotorik ). Sehingga anak didik menggunakan ajaran Agama Islam dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

B. SARAN-SARAN

1. Untuk Pendidik atau Guru

a. Persoalan metode dalam Pendidikan Agama Islam sangat beragam, maka dalam pencapaian tujuan pendidikan maka hendaknya pendidik memperhatikan bagaimana ia mengajar sehingga dapat mendorong peserta didik untuk belajar dengan lebih baik.

b. Guru hendaknya mencari dan mengembangkan metode-metode pendidikan yang ada, lebih-lebih menggalali metode yang berasal dari Al Qur’an dan Sunah-sunah yang dipraktekkan oleh Rosulallah SAW, sehingga pendidikan sebagai proses pendidikan agama akan lebih Islami dan berkembang sesuai dengan tuntutan pencapaian tujuan.

c. Begitu pula hendaknya diadakan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua murid, karena dengan adanya kerjasama yang terpadu akan dapat saling memberikan dorongan atau bimbingan pada anak, sihingga metode yang sudah diterapkan di sekolah dapat berkesinambungan dan selaras dengan kondisi lingkungannya di rumah.

77

2. Untuk Orang Tua Murid

a. Hendaknya orang tua murid lebih memahami isi Al Qur’an, sehingga dapat mengambil pelajaran ataupun hikmah yang terkandung di dalamnya, terutama yang berkaitan dengan metode- metode dalam pendidikan, misalnya dapat memahami salah satu metode pendidikan dalam Al Qur’an yaitu metode kisah, karena pendidikan dalam Pendidikan Agama Islam tidak terbatas.

b. Peran orang tua dalam masyarakat lebih di tekankan pada dukungan dan dorongan untuk memotivasi anaknya dalam proses pendidikan yang selaras dengan kondisi lingkungan yang Islami.

C. PENUTUP

Tidak ada kekuatan dan kemampuan yang baik kecuali yang dating dari petunjuk Allah SWT. Untuk itu puji dan syukur selalu kita panjatkan kepada Allah yang telah melimpahkan Rahmat-Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai dengan baik. Meskipun masih banyak kekurangan dalam data, sumber data, maupun dalam analisisnya.

Berangkat dari kekurangan itulah penulis mengharapkan saran dan kritik serta koreksi yang membangun guna menyempurnakan lebih lanjut, lebih-lebih bagi penerapan dalam realitas pembelajaran dan pendidikan.

Akhirnya kepada Allah juga penulis mengharap semoga karya yang sangat sederhana ini dapat berguna bagi usaha dalam mengamalkan ajaran Al Qur'an dalam kehidupan dan dapat memberikan kemanfaatan, khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT Tuhan Semesta Alam.