METODE KISAH DALAM AL QUR’AN
DANAPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi kewajiban dan melengkapi syarat Guna memperoleh Gelar Saijana Strata I
Dalam Ilmu Tarbiyah
Disusun O le h :
A H M A D K H A E R U D IN
N IM :111 02 059JU R U SA N T A R B IY A H
PRO G RAM STUDI PE N D ID IK A N A G A M A ISLA M
SEK O LAH T IN G G I A G A M A ISLA M NEG ERI (ST A IN )
Dra. Siti Asdiqoh
Setelah kami teliti dan kami adakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudara:
DEPARTEMEN AGAMA RI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
S A L A T I G A
M. Tentara Pelajar No. 02 Salatiga 50721 Telp. (0298) 323433, 323706
P E N G E S A H A N
Skripsi Saudara: Ahmad Khaerudin dengan Nomor Induk Mahasiswa 111 02 059 yang berjudul: METODE KISAH DALAM AL QUR’AN DAN
APLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM telah
dimunaqosyahkan pada Sidang Panitia Ujian Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri pada hari: Senin, 1 Oktober 2007 M. yang bertepatan dengan tanggal 19 Ramadhan 1428 H dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Saijana dalam Ilmu Tarbiyah
1 Oktober 2007 M. Salatiga,
---19 Ramadhan 1428 H.
PANITIA UJIAN
DEKLARASI
B ism illahirrahm aanirrahim
Dengan penuh kejujuran dan tanggungjawab, peneliti menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah
diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran orang lain,
kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran orang
lain di luar refemsi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempertanggungjawabkan kembali keaslian kripsi ini dihadapan sidang
munaqasyah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.
Salatiga, 5 September 2007
Ahmad K hoim din 111 02 059
MOTTO
“Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang berakal
”Skripsi ini kupersembahkan kepada :
1. Almamater tercinta STAIN Salatiga
2. Bapak, Ibu tercinta^ dan kakak, adik yang kusayangi yang selalu memberi
motivasi dan selalu mendukungku dalam menuntuy ilmu.
3. Seseorang yang kusayangi dan keluarga, yang selalu menyayangiku dan
memberikan motivasi serta dukungannya kepada saya sehingga skripsi ini
dapat selesai.
4. Teman-teman MAP ALA MITAPASA serta temen-temen UKM STAIN
Salatiga.
KATA PENGANTAR
M aha suci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada Tuhan selain Dia. D ia lah
yang menabur hikmah benih-benih kehidupan, Dial ah yang memiliki nama-nama
yang indah, dan hanya Dial ah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Salawat
serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasul allah Muhammad Saw, teladan
utama bagi manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Rasa syukur Alhamdulillah
kami panjatkan kehadirat Nya yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya
sehingga dapat menyelesaikan tulisan yang sederhana ini.
Alhamdulillah dengan penuh rasa syukur, skripsi dengan judul “
METODE KISAH DALAM AL QUR’AN DAN APLIKASINYA PADA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM “ ini telah selesai. Skripsi ini merupakan salah
satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga. Kami haturkan terima ksih yang setinggi-
tingginya kepada pihak-pihak yang telah membantu terwujudnya skripsi ini.
Penulis yakin tulisan ini tidak akan terwujud tanpa ada pertolongan dari
Allah SWT serta bantuan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi. Maka
dengan segala kerendahan hati, kami menghaturkan terima kasih kepada :
1. Ketua STAIN Salatiga, Drs. Imam Sutomo, M , Ag.
2. Ketua Jurusan Tarbiyah, Drs. Sa’adi, M, Ag.
3. Ketua Program Studi PAI SATIN Salatiga, Fatchurrahman, M. Pd.
5. Segenap Dosen STAIN Salatiga yang telah memberi motivasi sehingga
skripsi dapat selesai.
6. Segenap karyawan perpustakaan STAIN Salatiga, yang memberikan
pelayanan yang baik kepada kami.
7. Teman-teman aktivis UKM di STAIN Salatiga, yang telah memberi
dukungan, saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat selesai.
Penulis yakin, skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan terdapat
banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan dari siapa saja. Besar harapan kami, skripsi ini bisa bermanfaat kepada
pihak-pihak terkait secara khusus,dan bagi semua pembaca secara umum.
AAMIIN.
Sj’ " ‘ b e r 2007
Ahmad Khoirudin
D A FT A R ISI
Halam J u d u l... i
Nota Pembimbing ... ii
Lembar Pengesahan ... iii
D ek larasi... iv
Motto ... v
Persembahan ... vi
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi ... ix
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang M asalah ... 1
B. Alasan Pemilihan J u d u l... 7
C. Penegasan Istilah ... 7
D. Rumusan M asalah ... 9
E. Tujuan Penulisan S k rip si... 9
F. Metode Penelitian ... 10
G. Telaah Pustaka ... 11
H. Sistematika Penulisan Skripsi ... 12
BAB II Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam A. Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam L Pengertian K is a h ... 15
2. M etode Kisah Dalam Pendidikan Agama Is la m ... 16
1. Pengertian Pendidikan Agama Is la m ... 21
2. Macam-macam M etode dalam Pendidikan Agama Is la m ... 24
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan Agama
Islam ...32
BAB III Ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-nilai
Pendidikan Agama Islam serta Hadisi Rosulallah yang mengandung
kisah atau cerita
A. Ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-nilai
Pendidikan Agama I s la m ... 43
B. Hadist Rosulallah yang mengandung kisah atau c e rita ... 52
BAB IV M etode kisah dalam Al Qur’an dan Aplikasinya pada Pendidikan Agama
Islam.
A. M ateri Pendidikan Agama Is la m ... ... 57
B. Aplikasi M etode kisah dalam Al Qur’an pada Pendidikan Agama Islam
1. Metode Kisah dalam Al Q ur’a n ... 65
2. Aplikasi M etode Kisah pada M ateri Pendidikan Agama Islam .. 68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 74
B. S aran -saran ... 75
BA BI PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pendidikan yang ideal adalah “proses pendidikan yang dikemas
dengan memperhatikan adanya berbagai aspek baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotor”1. Hal ini berarti bahwa dalam melaksanakan pendidikan, harus tetap
mengupayakan terpenuhinya berbagai aspek baik itu koqnitif, afektif maupun psikomotor. Dengan terpenuhinya ketiga aspek tersebut diharapkan akan
terbentuk manusia yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia inilah kunci
utama dalanj keberhasilan pembangunan dimasa mendatang.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya dapat menjadi sarana
efektif bagi terciptanya pemahaman yang kritis dan kreatif, menjadi tempat bagi anak didiknya dalam upaya pengembangan dan mengarahkan potensinya agar mampu menjadi generasi mandiri, sehingga mereka tidak selalu tergantung pada
orang lain dalam memahami dan memecahkan persoalan atau masalah yang
dihadapinya.
Pada realitasnya pendidikan selama ini masih sangat memprihatinkan. Menurut Suyanto “proses pendidikan kita saat ini terlalu mementingkan
perkembangan aspek kognitif pada tataran pengetahua* dengan mengabaikan persoalan kreativitas. Proses pengajaran disekolah lebih mementingkan target
1 Suyamto dan Djihad Hasyim, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III, Yogyakarta, Adicita Karya Nusa, 2000, him. 147.
pencapaian kurikulum dibanding penghayatan isi kurikulum secara imajinatif dan kreatif’.2
Hal senada disampaikan oleh H.A.R. Tilaar, bahwa “pendidikan yang beijalan lebih sebagai proses domestifikasi atau penjinakan, yaitu membunuh
kreativitas dan menjadikan manusia sebagai robot-robot yang sekedar menerima
transmisi nilai-nilai kebudayaan yang ada” .3 Karena anak merupakan modal dasar sumber daya manusia yang memiliki berbagai potensi, sehingga anak sebagai salah satu aset bangsa harus diberdayakan sedemikian rupa agar kelak mampu
memunculkan ide-ide kreatif yang dapat dipergunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat.
Seorang anak yang berada pada tahun-tahun pertama tingkat Taman Kanak- kanak dan Sekolah Dasar tentunya belum mampu membaca (kisah) sendiri
dengan baik dan benar, karena ketrampilan mereka yang pertama anak-anak
adalah mendengarkan dan menyimak, dan dari situlah mereka menyerap informasi. Menurut hemat penulis, sepatutnyalah penggunaan metode kisah tetap dipertahankan, bahkan bila perlu ditambah porsinya. Dengan metode kisah juga
anak akan terhindar dari beberapa kisah yang negatif.
Untuk menghindari asumsi bahwa pendidikan hanya sebagai proses
domestifikasi atau penjinakan, maka penulis akan mencoba memasukkan metode
kisah sebagai salah satu media untuk mengembangkan imajinasi anak agar tidak
2 Ibid, him. 161
3
hanya menjadi robot-robot yang tanpa kreasi tapi sebaliknya dengan kisah anak
akan lebih kreatif dan penuh kreasi tanpa mengenyampingkan nilai-nilai yang terkandung dalam kisah tersebut. Karena metode kisah sebagai bagian dari
metode-metode pendidikan, sering dilupakan atau tidak banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan alasan tuntutan pencapaian target kurikulum
yang sarat dengan materi, sehingga metode kisah dianggap kurang relevan lagi
untuk digunakan.
Metode Pendidikan Agama Islam telah diletakan dasar-dasarnya oleh Al Qur'an berkenaan dengan tujuan Pendidikan Islam dan materi yang harus diajarkan dalam Pendidikan Agama Islam, adapun salah satu metode dalam
pendidikan Islam adalah menggunakan metode kisah atau cerita, metode kisah dalam Al Qur'an adalah untuk memberi dorongan psikologis bagi anak didik.4
Satu sisi, hal ini terlihat wajar, namun bila ditelusuri lebih jauh,
ditinggalkanya metode kisah dapat berpengaruh pada kreativitas dan proses
pengekspresian diri anak, walaupun pada prinsipnya tidak satupun metode mengajar yang dapat dipandang sempurna dan cocok dengan semua pokok
bahasan yang ada dalam semua bidang studi, karena setiap metode mengajar pasti mempunyai keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan tertentu.
Metode kisah memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif,
afektif maupun psikomotor anak. Di samping itu, metode kisah merupakan
metode yang sangat digemari oleh anak-anak pada usia Taman Kanak-kanak
sampai Sekolah Dasar, kisah (edukatif) juga dapat memotivasi anak untuk
mengubah perilakunya sesuai dengan tuntutan dan arahan kisah itu. Melalui dialog tokoh-tokoh yang ditampilkan, seorang anak dapat menyerap berbagai
nilai-nilai yang diajarkan, dari situlah budi pekerti dapat tercapai. Bahkan pelajaran matematika yang dianggap sulitpun butuh kisah, karena hal ini akan
membuat soal-soal matematika lebih mudah dicerna oleh anak.
Relevansi metode cerita di lingkungan sekolah seolah-olah seperti benar-
benar teijadi dengan sesungguhnya. Cerita-cerita yang dimaksudkan merupakan metode yang sangat bermanfaat untuk meyampaikan informasi pelajaran. Maka
kewajiban pendidik muslim adalah berkehendak merealisasikan peranannya untuk
membentuk sikap-sikap yang merupakan bagian dari tujuan Pendidikan Islam. Mengenai perlunya metode kisah ini, Muhammad Said Mursi menyatakan
bahwa, dengan berkisah dapat merangsang dan menumbuhkan motivasi yang paling tinggi bagi anak. Karena kisah yang disampaikan akan bertahan didalam
otak, tidak mudah terlupakan dan dapat menjadikan sebab untuk mengingatkan
masalah yang diceritakan, dapat menumbuhkan perasaan senang kepada yang menceritakannya, dan kepada tempat di mana kisah itu disampaikan.5
5 Muhammad Sa’id Mursi, Melahirkan Anak Masya Allah: Sebuah Terobosan Baru Dunia Pendidikan M odem, terj, Muhammad Ali Yahya, Jakarta, CV. Cendekia Sentra Muslim, 2001, him.
5
Bahkan Al-Qur’an sendiri memuat berbagai kisah yang mengandung
hikmah bagi para pembacanya. Di dalamnya terdapat cerita-cerita tentang
kebajikan dan terdapat pula cerita-cerita tentang keburukan/kejahatan. Dari cerita - cerita tersebut umat manusia diharapkan mampu menangkap nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, sehingga dapat meningkatkan iman, mempersiapkan
moral dan spiritual untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal. Al-Our'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:
i n f
Ayat di atas mengandung pengertian bahwa salah satu media yang
digunakan Al-Qur’an untuk membangkitkan dorongan berfikir manusia adalah
dengan kisah.
Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman dalam surat Al A'raaf ayat 176
yang berbunyi 6
6 R.H.A Soenaijo, dkk. A l-Q ur’an dan Terjemahnya, Semarang, PT.Kumudasmoro Grafindo, 1994, him. 366.
' ' S . ' ' i Z* f
Aj j-* £ o l j ^ J ^ b j^ l j ! jj2»-l jA J^ .J j b jLi. j Jj
^
j
i* tiiJ'i C-^L
^d=>j6
jl c^L
a
II
p
^J_*_k- o! s-^==^^
A rtinya:
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajal)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS.AI-A'raaf: 176)'
Sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) Nabi Muhammad SAW,
juga menggunakan metode kisah dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan
terhadap ummatnya. Seringkah Rosulallah memberikan pelajaran kepada para
sahabat beliau dengan cara berkisah tentang kehidupan dan kejadian-kejadian di
masa lalu, karena menurut beliau metode yang demikian dianggap lebih membekas dalam jiwa-jiwa orang-orang yang mendengarkanya, serta lebih
S menarik perhatian mereka.
Kisah dijadikan oleh beliau sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah, karena sungguh pada kisah- kisah banyak terkandung pengarahan dan hikmah yang sangat dalam 7 8
7 Al Qur’an MS For Word.
7
menumbuhkembangkan semangat berbuat baik dan peringatan, serta tidak lagi
memerlukan penjelasan dan keterangan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis termotivasi untuk mengkaji lebih
jauh tentang Metode Kisah dalam Al-Qur’an dan Aplikasinya pada Pendidikan
Agama Islam.
B. Alasan Pemilihan Judul
1. Semakin ditinggalkannya metode kisah dalam lembaga pendidikan dengan
dalih tuntutan perkembangan zaman.
2. Respek anak terhadap sebuah cerita harus dimanfa’atkan secara optimal
sebagai media pendidikan.
3. Metode kisah merupakan sebuah metode yang tidak kalah penting dengan metode-metode pendidikan yang lain dalam meningkatkan kreativitas anak.
C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul skripsi Metode
Kisah Dalam Al-Qur’an dan aplikasinya pada Pendidikan Agama Islam ini,
ada baiknya penulis mempertegas beberapa istilah yang terdapat di dalamnya,
1. Metode kisah dalam Al Qur'an
Metode kisah ialah suatu penyampaian materi pelajaran dengan cara
mengkisahkan kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau
terbentuk fiktif saja.9
Metode kisah di sini ialah suatu cara untuk melaksanakan kegiatan
kependidikan khususnya penyajian materi pelajaran melalui sebuah kisah. Jadi yang dimaksud metode kisah dalam Al Qur'an adalah bagaimana cara Al
Qur'an untuk menjelaskan makna yang tersirat dalam kisah tersebut.
2. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam yaitu segala usaha untuk memelihara dan
mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya
menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.10 Jadi yang kami maksudkan Pendidikan Agama Islam dalam skripsi
ini adalah bagaimana memasukkan nilai-nilai Islam dalam pendidikan dengan
cara melalui kisah-kisah dalam Al Qur'an.
3. Al Qur’an
Al Qur'an menurut bahasa, ialah : bacaan atau yang dibaca. Al Qur'an adalah " mashdar" yang diartikan dengan arti isim m aful, yaitu " maqm = yang dibaca."11
,1 9 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta, Ciputat Pers, 2002, him. 163
'° Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta, Aditya Media, 1992, him. 20.
9
Ringkasnya dapat dikatakan, bahwa: Al Qur'an itu wahyu Ulahi yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad s. a. w., yang telah disampaikan kepada kita
umatnya dengan jalan mutawatir, yang dihukum kafir bagi orang yang
• * l')
mengingkarinya. .
Jadi yang dimaksud dengan judul skripsi “Metode kisah dalam Al-Qur’an
dan Aplikasinya pada Pendidikan Agama Islam” ini, adalah penelitian untuk
mendalami dan menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung metode kisah
yang dapat diaplikasikan pada Pendidikan Agama Islam serta nilai-nilai penting
metode kisah terhadap Pendidikan Agama Islam.
D. Rumusan Masalah
Atas dasar pemikiran tersebut di atas, maka rumusan masalah yang menjadi
pokok penelitian ini adalah :
1. Ayat-ayat apa saja dalam Al Qur’an yang mengandung metode kisah ?
2. Nilai-nilai pendidikan apa dalam ayat Al Qur’an yang mengandung kisah ?
3. Bagaimana aplikasi metode Kisah dalam Al-Qur’an pada Pendidikan Agama
Islam ?
E. Tujuan Penulisan Skripsi.
Tujuan yang penulis harapkan dalam penulisan skripsi ini, adalah :
1. Untuk mengetahui ayat-ayat dalam Al Qur'an yang mengandung kisah.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam ayat-ayat Al
Qur'an yang mengandung kisah. 12
3. Untuk mengetahui aplikasi metode kisah dalam Al-Qur’an pada Pendidikan
Agama Islam.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pustaka, untuk dapat mengambil kesimpulan
dari pokok-pokok permasalahan yang penulis analisa, maka penulis
mengadakan penelitian kepustakaan (library research)13. Yaitu dengan
meneliti kitab-kitab tafsir Al-qur’an dan buku lain yang menunjang pengayaan
data penelitian.
2. Teknik Analisis
a. Metode Tafsir / maudlu’i.
Tafsir Maudlu’i yaitu tafsir yang dikenalkan oleh Quraish Shihab dari
Abdul hay Al Farmawi sebagai metode mempelajari Al-Qur’an. Metode
ini digunakan dalam mencari pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mendapatkan masalah yang akan dibahas (topik).
2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
3) Menyusun runtutan ayat yang sesuai dengan masa turunnya, disertai
dengan pengetahuan tentang asbabun nuzul.
4) Memahami korelasi ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
11
5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna.
6) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan
menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang
14 sama .
b . Metode pemahaman dan reflektif kontekstual.
Metode ini oleh Noeng Muhadjir dimaksudkan sebagai “cara mencari
sesuatu yang tersirat” .14 15 Hal ini digunakan sebagai upaya untuk mendekati
maksud nash Al-Qur’an dan hadist. Sedangkan menurut kami metode ini
penulis gunakan sebagai perbandingan dalam pengajaran Pendidikan
Agama Islam.
G. Telaah Pustaka.
Kajian-kajian tentang metode kisah dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari
pendidikan anak dalam Islam sebenarnya telah banyak dibahas, misalnya :
Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Prinsip-prinsip dan Metode
Pendidikan Islam dalam keluarga, di sekolah dan di Masyarakat, menyatakan
bahwa, salah satu metode yang paling penting dan menonjol dalam pendidikan
Islam adalah melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.
Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan peran
Wahyu dalam kehidupan Masyarakat menyatakan bahwa Tujuan yang; ingin
dicapai oleh Al-Qur’an adalah membina manusia guna mampu menjalankan
fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.16 17
Dalam buku ini Quraish Shihab banyak mengupas tentang pembinaan
manusia, dengan kata lain pendidikan Al-Qur’an terhadap anak didiknya
dilakukan secara bersamaan baik itu dari unsur jasmani, akal, maupun jiwa.
Muhammad Said Mursi, dalam bukunya Melahirkan Anak Masya Allah,
Sebuah terobosan Baru Dunia Pendidikan Modem, bahwa metode kisah
merupakan salah satu metode mengasyikkan, dan dapat merangsang dan
menumbuhkan motivasi, menarik perhatian, pemikiran dan akal anak.17
Hal senada disampaikan oleh Abdul Azis Abdul Majid dalam bukunya
Mendidik Anak Lewat Cerita menyatakan bahwa “Eksistensi sebuah cerita di
sekolah-sekolah dasar merupakan bagian dari masalah pendidikan yang tidak
boleh diabaikan” .18
H. Sistematika Penulisan Sekripsi
Untuk mempermudah dan mendapatkan gambaran tentang bahasan yang
dilakukan dalam tulisan ini maka akan disampaikan garis-garis besar yang terdiri
dari lima bab.
16 Quraish Shihab, Membumikan A l-Q ur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung, Mizan, 1994, him. 173
17 Muhammad Said Mursi, op.cit., him. 116
13
Bab I : Pendahuluan
Bab ini meliputi : Latar belakang masalah, alasan pemilihan judul,
penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi,
metode penelitian, telaah pustaka dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II : Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam.
A. Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama
1. Pengertian Kisah.
2. Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam.
3. Macam-macam bentuk Kisah dan manfaat metode Kisah
dalam mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.
B. Pendidikan Agama Islam.
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam.
2. Macam-macam metode dalam Pendidikan Agama Islam.
3. Faktor-fakor yang mempengaruhi keberhasilan Pendidikan
Agama Islam.
Bab III . Ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-
nilai Pendidikan Agama Islam serta Hadist Rosulallah yang
mengandung kisah atau cerita.
1. Ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-
nilai Pendidikan Agama Islam.
Bab IV : Materi Pendidikan Agama Islam dan Aplikasi metode kisah dalam
Al Qur’an pada Pendidikan Agama Islam.
1. Materi Pendidikan Agama Islam.
2. Aplikasi metode kisah dalam Al Qur’an pada Pendidikan
Agama Islam.
Bab V : Penutup
Bab ini memuat kesimpulan, saran-saran dan kata penutup dari
BAB II
Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam
A. Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam. 1. Pengertian Kisah
Menurut Shalah al-Khalidy istilah kisah yang dalam bahasa Arabnya
adalah “Al-Qashash ” mengandung beberapa a rti.19
a. Kisah berarti jejak (atsar) Seperti disebutkan dalam firman A lah SWT
( i i • i ^ \ J c. ...
“...Lalu keduanya kembali mengikuti jeja k mereka semula”.20 (QS. Al-kahfi: 64)
b. Kisah (al-Qashash) berarti cerita-cerita yang dituturkan (kisah).
Seperti disebutkan dalam firman Allah SWT :
j i W ^ ^ ( 3 ^ I A ii o !
JL 5 y >jt
A rtinya:
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . (QS. Ali-'lmran : 62)
Kemudian dalam bahasa arab cerita sama dengan bentuk
jamak dari yang berarti kisah (cerita)21.
19 Shalah al-Khalidy, Kisah-kisah Al-Qur ’an; Pelajaran dari Orang-orang terdahulu (
Jakarta. Gema Insani Press, 1999), him 22 20 R.H. A Soenarjo, dkk, Op Cit hlm:454.
Secara etimologi cerita adalah “tuturan yang membentangkan
bagaimana teijadinya sesuatu hal (peristiwa, kejadian dsb)” atau
“karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan
orang dsb (baik yang sungguh-sungguh teijadi ataupun yang hanya rekaan
belaka)”22.
Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa kisah
adalah jejak, peristiwa, dongeng , atau cerita yang mengandung ajaran
atau pelajaran yang baik, anjuran, teguran, atau peringatan yang baik.
2. Metode Kisah Dalam Pendidikan Agama Islam.
Kisah tentang kejadian, terutama peristiwa sejarah, merupakan metode
yang banyak ditemukan di dalam Al Qur’an. Banyak bagian-bagian Al Qur’an berisi cerita kesejarahan atau peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, atau setidak-tidaknya merupakan bagian yang dianggap cerita.
Metode cerita mengandung arti suatu cara dalam penyampaian materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana
terjadinya suatu hal yang baik yang sebenarnya tetjadi atau rekaan saja.
Oleh karena itu Islam sebagai agama yang berpedoman pada Al Qur'an dan Hadist menepis anggapan adanya kisah bohong, karena Islam selalu 21 22
21 H. Mahmud junus, Kamus Arab Indonesia. ( Jakarta YPPP al-Qur’an) him: 343
17
berpedoman dari kedua sumber tersebut yang sangat dapat dipercaya,
sehingga cerita yang disodorkan terjamin kesahehan dan kebenaranya.23
Dalam Pendidikan Agama Islam, metode cerita banyak digunakanya
pada lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam penyampaian materi atau
dalam proses belajar mengajar (PBM), karena metode cerita dianggap
metode yang paling mudah disampaikan serta materi akan mudah diserap
oleh peserta didik ketika suatu penyampaian materi di ikuti dengan cerita,
akan tetapi tidak semua materi pelajaran dapat di sertai dengan kisah.
3. Macam-macam Bentuk Kisah dan Manfaat Metode Kisah dalam mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan isinya, kisah dibedakan menjadi dua, yaitu fiksi dan
non fiksi. Kisah fiksi merupakan kisah rekaan atau khayalan (tidak nyata),
seperti roman, novel, cerita pendek dan dongeng. Sedangkan kisah non fiksi
merupakan kisah yang benar-benar nyata, misalnya sejarah, baik yang
menonjolkan tempat, orang atau peristiwa tertentu.
Lebih khusus lagi Abdurrahman An-Nahlawi menggolongkan kisah
menjadi dua, yaitu : Kisah Qur’ani dan Kisah Nabawi.
a) Kisah Qur’ani. Yaitu kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an ditampilkan seluruh tokoh secara wajar dan
obyektif, tanpa dicampuri sikap keji dan dosa, seperti yang dilakukan oleh para penulis cerita. Kisah Qur’ani tidaklah menjauhkan diri dari
tabiat manusia, tidak pula melayang-layang di alam malakut saja
(khayal) karena kisah itu disajikan sebagai terapi bagi manusia,
b) Kisah Nabawi, kisah ini tidak berbeda dengan kisah Qur’ani, akan tetapi kisah Nabawi lebih banyak berbicara tentang aspek tertentu dari
kehidupan susila, sebagai contoh :
1) Menjelaskan pentingnya ikhlas beramal shaleh karena Allah dan bertawasul melalui amal shaleh kepada Allah agar melapangkan
berbagai kemelut.
2) Pertama tujuan tak lengkap yaitu tujuan yang masih perlu
penjelasan dan penjabaran yang lebih lengkap.
3) Menganjurkan supaya bersedekah dan mensyukuri nikmat Allah. 4) Kisah riwayat Nabawi, dalam hal ini terdapat perbedaan antara
ketiga bentuk kisah historis Rasul :
-Pertama, sebagian kisah-kisah riwayat Nabawi merupakan pelengkap, penjelas, dan penjabar apa yang terdapat dalam Al-Qur’an.
-Kedua, sebagian kisah itu tidak seluruhnya memperkatakan Rasulullah SAW, akan tetapi menyangkut aneka peristiwa yang
menonjol dari kehidupan sebagian para sahabat pada masa Rasulullah dan ada kalanya peristiwa itu dicatat dalam Al-Qur’an sebagai sebuah
19
-Ketiga, peristiwa bersejarah dan peperangan Rasulullah SAW adalah
kisah yang berkesinambungan dan berkaitan antara bagian yang satu
dengan bagian yang lainnya.24
Kontribusi kisah dalam pembelajaran dapat membantu guru pada
penjelasan, penafsiran, dan memudahkan berbagai kesulitan dalam memahami
sebuah ilmu pengetahuan serta menambah wawasan siswa. Banyak hakikat (ilmu
pengetahuan) yang diketahui anak didik, sehingga seorang guru harus mampu
menjelaskan kepada anak didiknya melalui cerita-cerita, hikayat-hikayat untuk
memperoleh berbagai hakikat dalam aktivitas kehidupannya.
Menurut Sholeh Abdul Azis, Kisah dapat digunakan sebagai salah satu
metode dalam pembelajaran lebih dikarenakan :
1. Mampu menyampaikan informasi dan data-data dengan cara yang enak
dan dapat dipercaya.
2. Pendidikan anak merupakan pendidikan yang mendidik perilaku secara
benar, yaitu memberi contoh di depan mereka dan membimbing
24 Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, (Bandung : CV.Diponegoro, 1989), hlm.331-349.
kecenderungan mereka untuk mengikuti, menggerakkan dua sisi keinginan
mereka (jasmani dan rohani).
3. Menyebarkan semangat kehidupan dan kreativitas yang stagnan dan
baku.25
Di samping itu ada beberapa nilai penting kisah bagi anak, diantaranya :
a. Kisah bermanfaat bagi perkembangan pengamatan, ingatan, fantasi dan
fikir anak.
b. Bahan kisah yang baik dan terpilih berguna sekali untuk pembentukan budi pekerti anak
c. Bentuk kisah yang tersusun baik dan cara penyajiannya juga baik, akan
dapat menambah pengetahuan umum dan perbendaharaan bahasa.26 27 Dalam hal yang sama, menurut Moeslichatoen berkisah mempunyai arti penting bagi perkembangan anak-anak, karena melalui kisah kita d a p at:
1. Mengkomunikasikan nilai-nilai budaya.
2. Mengkomunikasikan nilai-nilai sosial. 3. Mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan
4. Menanamkan etos keija, etos waktu, etos alam. 5. Membantu mengembangkan fantasi anak.
21
Adapun manfaat metode kisah dalam Pendidikan Agama Islam
diantaranya:
a. Dapat memberikan sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral dan
keagamaan
b. Dapat memberikan pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan,
sehingga anak memperoleh informasi tentang pengetahuan, nilai dan sikap
untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif, afektif,
maupun psikomotor anak.
28 d. Memungkinkan pengembangan dimensi perasaan anak.
Sesuai dengan manfaat diatas, berkisah mempunyai tujuan untuk
memberikan informasi, menanamkan nilai-nilai sosial, moral, keagamaan,
pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
B. Pendidikan Agama Islam.
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan terhadap
anak didik, agar kelak setelah, selesai pendidikannya dapat memahami dan
mengamalkan ajaran-ajaran Islam serta menjadikannya way of live (jalan
kehidupan).28 29
28 Ibid, him 168
Untuk membahas tentang pengertian Pendidikan Agama Islam secara
tepat maka akan dibahas terlebih dahulu pengertian pendidikan secara umum.
a. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) nomor
20 Tahun 2003 adalah sebagai berikut:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara ”.30
b. George F.Kneller mendefinisikan pengertian pendidikan adalah :
“Education is the process of self-realization, in which the self realizes and
developing all it’s potentialities”.31
A rtinya:
“Pendidikan ialah suatu proses realisasi diri, dimana seorang individu
merealisasikan dan mengembangkan semua potensinya ”.
Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) ialah usaha sadar untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan
mengamalkan agama Islam, melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan
latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam
30 Redaksi sainar Grafika Undang-Undang Sisdiknas no 20 tahun 2003, Jakarta, Sinar Grafika, C e t l . h a l :2
23
hubungan antara kerukunan umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional.32
Dalam hal ini Pendidikan Agama Islam sebagai Pelajaran tidak
sekedar mengajar atau mentransfer ilmu-ilmu tentang agama kepada peserta
didik, tetapi juga berupaya agar ajaran tersebut diyakini dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari sehingga mereka mempunyai keyakinan dan bertingkah
- laku sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam pedoman umum Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah
Atas, bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana
untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran serta
latihan. Pendidikan Agama Islam yang hakikatnya merupakan sebuah proses
itu, dalam perkembanganya juga dimaksudkan sebagai rumpun mata pelajaran
yang diajarkan dalam sekolah umum. Jadi Pendidikan Agama Islam dapat
dimaknai dalam dua pengertian, yakni: (l)Sebagai sebuah proses penanaman
ajaran agama Islam, (2)Sebagai bahan kajian yang menjadi materi proses itu
sendiri.33
Implikasi dari pengertain ini adalah bahwa Pendidikan Agama Islam
merupakan komponen yang tidak dapat terpisahkan dari Pendidikan Islam.
32 Zuharini, dkk, M ethodik khusus pendidikan Agam a, Ket. Ke 7. Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang 1981, hal.21.
Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pendidikan Agama Islam
berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan Islam dengan bidang-bidang
studi ( Pendidikan ) yang lain. Implikasinya lebih lanjut, Pendidikan Agama
harus sudah dilaksanakan sejak dini sebelum anak memperoleh pendidikan
atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain.
2. Macam-macam metode dalam Pendidikan Agama Islam.
Telah diletakkan dasar-dasar Al Qur’an berkenaan dengan tujuan
Pendidikan Agama Islam dan materi yang harus diajarkan dalam Pendidikan
Agama Islam. Peranan metode pendidikan berasal dari kenyataan yang
menunjukkan bahwa materi Pendidikan Agama Islam tidak mungkin akan diajarkan, melainkan diberikan dengan cara khusus. Ketidak tepatan dalam
penerapan metode ini kiranya akan menghambat proses belajar mengajar yang akan membuang waktu dan tenaga yang tidak perlu34
Dalam dunia proses belajar mengajar yang disingkat menjadi PBM,
sebuah ungkapan populer ldta kenal dengan :"metode lebih penting daripada materi". Demikian urgenya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran,
sebuah proses belajar mengajar (PBM) bisa dikatakan tidak berhasil bila
dalam proses tersebut tidak mengunakan metode. Karena metode menempati
34 Abdullah Saleh Abdurarahman, Teor-teori Pendidikan Berdasarkan A l Q ur'an,
25
posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen
pembelajaran: tujuan, metode, mated» media dan evaluasi.35
Penjelasan tentang metod^metode yang dapat dipakai dalam
Pendidikan dan pengajaran Pendidikan Agama Islam, sebagai berikut:
1. Metode Pembiasaan.
Dalam Pendidikan Agama Islam, metode pembiasaan merupakan
sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik
berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama
Islam.
Dalam Al Qur'an Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan...(Q.S. An Nissa : 43)
Meminum khamer adalah perbuatan dan kebiasaan yang tidak terpuji. Sebagian diantara kaum muslimin telah menyadari dan membiasakan diri untuk tidak lagi meminum minuman yang
memabukkan. Namun masih ditemukan juga sebagian yang lain yang
sulit merubah kebiasaan tersebut, sampai-sampai ingin melakukan
salatpun mereka melakukan kebiasaan tersebut.36
Oleh karena itu, pendekatan pembiasaan sesungguhya sangat efektif
dalam penanaman nilai-nilai positif kedalam diri anak didik, baik pada
aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembiasaan dianggap sangat
efektif jika penerapanya dilakukan terhadap pesrta didik diusia kecil.
Karena memiliki rekaman atau ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian
yang belum matang, sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-
kebiasaan yang mereka lakukan sehai-hari. Oleh karena itu, sebagai awal
dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang paling efektif
dalam menanamkan nilai-nilai moral kedalam jiw a anak. Nilai-nilai yang
tertanam dalam dirinya itu kemudian akan termanifestasikan dalam
kehidupanya semenjak ia mulai melangkah keusia remaja dan dewasa.
2. Metode Keteladanan.
Metode keteladanan memiliki peranan yang sangat sigifikan dalam
upaya mencapai keberhasilan pendidikan. Karena secara psikologi, anak
didik banyak meniru dan mencontoh perilaku sesosok figurnya termasuk
diantaranya adalah pendidik. Oleh karena itu, keteladanan banyak
kaitanya dengan perilaku, dan perilaku yang baik adalah tolok ukur
keberhasilan pendidikan. Suatu bangsa dikatakan baik jika akhlaq
pemimpinya baik.
27
3. Metode Pemberian Ganjaran
Ganjaran adalah penghargaan yang diberikan kepada anak didik, atas
prestasi dan tingkah laku positif dari anak didik. Ganjaran dapat
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap jiw a anak didik untuk
melakukan perbuatan yang positif dan bersikap progrsif. Disamping itu juga dapat menjadi pendorong bagi anak-anak didik lainya untuk
mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya, bak dalam tingkah laku, sopan santun, ataupun semangat dan motivasinya dalam
berbuat yang lebih baik. 4. Metode Ceramah.
Metode ceramah masih banyak dilakukan oleh para pendidik dalam proses belajar mengajar. Metode ceramah ini dapat diartikan sebaai suatu metode di dal am proses belajar mengajar, di mana cara menyampaikan
materi pelajara kepada anak didik adalah dengan lisan/penuturan. Metode ceramah memiliki kelebihan dan juga kekurangan, adapun klebihan dari
metode ceramah adalah suasana kelas akan lebih tenang karena anak didik
focus terhadap guru, sedangkan kekuranganya adalah guru lebih aktif sedangkan murid bersifat pasif.
5. Metode Tanya Jawab.
jenis pertanyaan, teknik mengajukan pertanyaan, dan memperhatikan
syarat-syarat penggunaan metode Tanya jawab sehingga dapat dirumuskan
langkah-langkah yang benar.
6. Metode Diskusi.
Metode diskusi dapat diartikan sebagai jalan untuk memecahkan
suatu permasalahan yang memerlukan beberapa jawaban alternatif yang
mendekati kebenaran dalam proses belajar mengajar. Metode ini bila di
gunakan dalam PBM akan dapat merangsang murid berfikir sistematis,
kritis dan bersikap demokatis dalam menyumbangkan pikiran-pikiranya
imtuk memecahkan sebuah masalah.
Namun metode ini tidak selalu tepat digunakan pada setiap
pelajaran, karena metode ini juga memiliki nilai positif dan negatif. Oleh
karena itu pendidik hendaknya mampu menggunakan metode ini sesuai
dengan situasi dan kondisi yang kondusif.
7. Metode Kisah atau Cerita.
Metode kisah adalah suatu penyampaian materi pelajaraaa dengan
cara menceritakan kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau
berbentk fiktif saja.
29
Artinya:
“Kami ceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan
A l Q ur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami
wahyukan )nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
( Q.S. Yusuf :3) 7,1
Kandungan ayat ini mencerminkan bahwa kisah yang ada dalam Al
Qur’an merupakan kisah-kisah pilihan yang mengandung nilai paedagogis.
Ayat diatas didukung oleh ayat yang lain yang berbunyi :
Sesunguuhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal (O. S. Yusuf. 111). 38
Metode kisah atau cerita dalam dunia Pendidikan Agama Islam
menggunakan paradigma Al Qur'an dan Hadist Nabi.SAW. Sehingga
dikenal dengan kisah Qur’ani dan kisah Nabawi. Kedua sumber tersebut
Namun perlu kita ketahui secara subtansial keduanya tidak diragukan,
akan tetapi penyampain metode kisah adalah manusia biasa yang tidak
luput dari kekurangan serta ketidak sempumaan.
8. Metode Pemberian Tugas.
Metode pemberian tugas adalah guru memberikan tugas untuk
mempelajari mata pelajaran tertentu kemudian dimintai pertanggung
jawabanya.
Metode pemberian tugas dapat diberikan disemua mata pelajaran,
namun demikian tidak harus setiap kali pertemuan menggunkan metode
ini. Oleh karena itu dibutuhkan profesionalisme guru dalam
mengaplikasikan metode pemberian tugas yang sesuai dengan situasi dan
kondisi.
9. Metode Karya Wisata.
Metode kaarya wisata adalah suatu cara pengajaran yang
dilaksanakan dengan cara mengajak anak didik keluar kelas untuk
memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubunganya dengan
bahan pelajaran.
Metode karya wisata merupakan metode yang lebih menekankan
pembinaan pada aspek psikomotorik karena dalam metode ini siswa lebih
dituntut kearifanya dalam setiap kegiatan sedangkan untuk pembinaan
31
tercapainya elaborasi dari teori-teori yang telah didapatkan oleh anak
didik.
10. Metode Latihan.
Metode latihan.adalah suatu metode dalam menyampaikan pelajaran
dengan menggunakan latihan secara terus menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan yang diharapkan.
Yang perlu diperhatikan oleh guru sebelum memberikan latihan,
baik secara teori qiaupun praktek yaitu hendaknya latihan tidak dilakukan
secara spontanitas, sehingga dapat melihat kemajuan setiap anak didik baik dari segi daya tangkap, ketrampilan dan kecepatan berfikir.
11. Metode Kerja Lapangan.
Metode keija lapangan adalah suaatu metode penyampaian pelajaran
dengan jalan mengajak anak didik kelapangan sambil memegang bahan yang dimaksud sehingga anak didik faham benar tentang bahan terebut.
Metede ini akan lebih efektif bila;(a) siswa mampu baik dari segi ekonomis thattpun kemampuan berfikir;(b) bahan pelajaran yang
disampaikan didukung oleh kekayaan lingkungan disekitar siswa yang
y
memberikan plehiang seluas-luasnya bagi keikut sertaan siswa;(c) bahan
pelajaran yang dapat ditranformasikan dalam bentuk kegiatan.
12. Metode Kerja Kelompok.
didik. Metode ini dilakukan dengan cara membagi siswa kedalam
beberapa kelompok baik kelompok kecil maupun kelompok besar.
Setiap kelompok diberikan tugas yang harus mereka selesaikan,
sementara guru tetap melakukan pengawasan agar setiap kelompok
beijalan sebagaimana mestinya, sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Namun demikian, suatu hal yang pasti bahwa setiap metode pembelajaran melebihi dan kekurangan, demikian halnya dengan metode
kerja kelompok. Oleh karena itu setiap guru hendaknya berusaha semaksimal mugkin untuk memilih metode mana yang paling tepat untuk digunakan dalam setiap proses belajar mengajar.
3. Faktor-fakor yang mempengaruhi keberhasilan Pendidikan Agama Islam.
Dalam melaksanakan Agama Islam, perlu diperhatiakan beberapa
faktor yang ikut mempengaruhi keberhasilannya. Zuharaini
mengemukakan beberapa faktor yang ikut berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan yaitu : Anak didik, pendidik, tujuan pendidikan, alat-alat pendidikan dan lingkungan. Kelima faktor tersebut ikut
menentukan terhadap berhasil atan tidaknya pendidikan Agama Islam
tersebut.39
Beberapa faktor pendidikan tersebut diatas akan diuraikan dalam penjelasan berikut ini :
33
1. Anak Didik ( peserta D idik)
Menurut Undang-undang Sisdiknas No: 20 tahun 2003,
menyebutkan sebagai b erik u t:
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya, melalui proses pendidikan pada ja lu r jenjang
pendidikan tertentu ” 40
Anak didik ialah orang menerima pengetahuan, bimbingan petunjuk
dalam mempelajari ilmu-ilmu Agama Islam. Anak didik dalam istilah lain
disebut juga dengan “siswa”, “murid”, “Thalb”, “Santri” dan lain-lain.
Menurut Lengeveld, anak manusia itu memerlukan pendidikan
karena dilahirkan dalam keadaan lemah tidak berdaya.
Omar Muhammad Al-Tomy AS, Memandang manusia manusia
secara kodrati mempunyai dua sifat yaitu sifat baik ( Taqwa )dan jelek
(Fujur ) . Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, badan dan ruh,
mempunyai mativasi dan kebutuhan. Dari situlah manusia mempunyai
pendidikan agama Islam, guna membimbing dan mengarahkan
perkembangan sifat dan perilaku agar tidak menyimpaaang dari ajaran
Islam.41
40 Redaksi Sinar Grafika..Undang-undang Sisdiknas no.20 Tahun 2003, Jakarta, Sinar Grafika,CetI, hlm:3
Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari
orang dewasa. Dasar kodrati dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan
dasar yang dimiliki setiap manusia yang hidup di dunia. Dalam Islam
manusia dipandang sebagai obyek sekaligus subyek dalam pendidikan,
mereka diwajibkan untuk melakukan kegiatan pendidikan seumur hidup.
2. Pendidik
Pendidik Agama Islam ialah orang yang memberikan bimbingan,
Pengajaran dan memberikan petunjuk tentang Ilmu-ilmu keislamankepada
para peserta didik. Sinonom dari kata pendidik ialah kata guru, Mudaris,
Ustadz, Kyai dan lain-lain.
Moh. Atthiyah Al-Abrasi mengklasifikasikan pendidikan kedalam
tiga kelompok y a itu :
a. pendidik Kuttab, ialah pendidik yang pada umumnya mengajarkan
kepada anak-anak didiknya di kuttab.
b. Pendidik Umum, ialah pendidik pada umumnya yang mengajar di lembaga-lembaga pendidikan dan mengelola atau melaksanakan
Pendidikan Agama Islam (PAI), seperti pada madrasah, pondok
pesantren, pendidikan dimasjid, surau atau pendidikan informal yaitu
orang tua.
35
pembesar, pemimpin dan lainnya yang biasanya dilaksanakan
dirumah-rumah42
Tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh para pendidik agama
Islam sangatlah berat, karena ia bertanggung jawab dalam pembentukan
pribadi manusia agar sesuai dengan ajaran Islam. Setelah itu ia juga harus
bertanggung jawab dihadapan Allah SWT.
Pendidik Agama Islam mempunyai beberapa tugas penting yaitu :
1. Mengajarkan pengetahuan agama Islam.
2. Menanamkam keimanan ke dalam jiw a anak.
3. Mendidik anak agar tetap taat menjalankan agama.
4. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia.43
Sesuai dengan beratnya tugas yang harus diemban oleh seorang guru
Pendidikan Agama Islam maka diperlukan beberapa syarat agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam hal ini derektorat jendral
Pembinaan Agama Islam menetapkan Syarat-syarat yang harus dimiliki sebagai seorang guru agama ialah :
a. Memiliki pribadi yang mukmin.
b. Taat menjalankan agama (menjalankan syariat Islam, dapat memberi
contoh tauladan yang baik bagi anak didiknya)
42 Ibid, hal. 78
c. Memiliki jiw a pendidik dan memiliki rasa kasih sayang kepada anak
didiknya dan ikhlas jiwanya.
d. Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan,
terutama didaktik metodik.
e. Menguasai ilmu pengetahuan agama (Islam)
f. Tidak mempunyai cacat Rohaniah dan cacat jasmaniah.44
Demikian beberapa syarat yang diperlukan sebagai seorang guru
agama Islam dengan tujuan agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik dan dapat mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Diantara syarat
yang terpenting dari syarat diatas adalah hendaknya ia dapat menjadi
suritauladan yang baik dalam segala tingkah lakunya dengan akhlak yang
mulia serta sesuai dengan ajaran agama islam. Beberapa syarat yang harus dimiliki yang bersifat umum ( bukan Pendidikan Agama Islam ), syarat
yang harus dipenuhi lebih diperhatiak hanya pada aspek pengajaran harus seorang yang muslim atau mukmin.
3. Tujuan
Faktor tujuan dalam Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena sebagai sasaran, arahan dan pedoman dalam menentukan langkah dan kebajikan Pendidikan Agama Islam.
Secara garis besar tujuan Pendidikan Agama Islam ialah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa
37
tentang ajaran islam. Sehingga mereka menjadi manusia yuang beriman
dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Tujuan pendidikan dapat digambarkan sebagai tujuan dari hasil
perhatian yang dituju, merupakan hasil akhir yang final, para ahli
pendidikan cenderung berhenti pada tujuan-tujuan yang lebih khusus yang
dapat tercapai secara terpisah-pisah dalam suatu langkah tertantu. Apapun
ketundukan secara total kepada Allah.
Dalam Al Qur'an tujuan pendidikan mengacu pada eksistensi
manusia didunia, manusia diciptakan didunia oleh Allah sebagai makhluq
yang paling sempurna dengan makhluq yang lainya. Kesempurnaan
manusia dalam segala aspeknya, baik jasmani, rohani dan unsur-unsur
lain yang ada dalam diri manusia. Tujuan pendidikan harus diarahkan
demi terwujudnya kesempatan unsur jasmani-rohani dan unsur-unsur yang
ada didalamnya.
Sayyid Quthb mengatakan, bahwa perbuatan khalifah dimulai
dilukiskan sebaga ibadah. Tugas akhir yang harus diselesaikan oleh
manusia adalah tujuan yang sesungguhnya dalam Pendidikan Islam yang
dapat dicapai melalui pengabdianya kepada Allah SWT secara total.
Usaha yang dicapai untuk mencapai tujuan umum Pendidikan Islam
ini oleh sebagian pakar Pendidikan Islam dibeda-bedakan. Mereka
katakan, bahwa ketidak singgungan tujuan umum dari kondisi kekinian
dan waktu sekarang memberi peranan kecil bagi alasan tidak diakuinya
tujuan umum tersebut. Sikap ini sebagaimana di ungkapkan oleh Badman
katanya, pembahasan pada sasaran ini paling membosankan dan paling
tidak menghasilkan apa-apa dari penyelidikan manusia. Adapun tujuan
umum dari pendidikan yang ideal pasti tidak akan dicapai dilembaga
pendidikan.
Oleh karena itu tujuan Pendidikan Agama Islam harus dirumuskan
secara jelas, baik itu tujuan yang bersifat umum atau yang bersifat khusus.
4. Alat pendidikan
Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam
usaha mencapai tujuan pendidikan, dalam hal ini yang dimaksud adalah
pendidikan Agama Islam. Adapun jenis alat atau peraga dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Media Kriteria.
Ini terdiri dari gambar-bambar, peta-peta dan objek-objek sebenarnya,
39
diidentifikasi oleh siswa untuk dapat menunjukkan bahwa ia telah
menguasai bahannya. Dengan kata lain media ini merupakan bagian
dari kriteria. Tujuan belajar bisa dirumuskan sebagai berikut: “Siswa
dapat membuat diagram untuk menggambarkan hubungan antara
,y!5
b. Media Perantara.
Ini terdiri dari alat Bantu yang bukan merupakan merupakan bagian
dari situasi criteria. Dengan kata lain, siswa tidak dituntut untuk
menggambarkan, merekonstruksi, menginterpretasi, atau
mengidentifikasikannya. Fungsi satu-satunya ialah untuk membantu
siswa untuk mendapatkan pengertian tentang suatu gejala atau
kejadian. Jika kegiatan belajar telah teijadi, alat Bantu tersebut harus
dilupakan atau “hilang” secepat mungkin. Sebagai contoh ialah grafik.
Siswa tidak akan diminta membuat gambar statistik dari suatu posisi
ekonomi suatu negara, tetapi mereka sangat diharapkan dapat menggambarkan posisi itu sendiri. Dalam situasi semacam ini, grafik
merupakan cara untuk mencapai tujuan.
5. Lingkungan.
Keberhasilan dalam pendidikan Agama islam selain dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa faktor di atas juga ditentukan pula oleh 45
lingkungan ( miliu ) dimana PAI itu dilaksanakan. Lingkungan dapat
memberikan pengaruh kepada seseorang, baik yang bersifat positif dan
negatif. Pengaruh ini merasup atau mewarnai kedalam perkembangan
jiwa, akhlak, sikap dan perasaan agama seseorang. 46
Suatu lingkungan dikatakan positif apabila dapat memberikan
rangsangan dan motivasi pada anak untuk dapat berbuat yang sesuai
dengan jaran Islam. Dan lingkungan dikatakan negatif apabila
lingkungannya tidak dapat dilaksanakan ajaran-ajaran islam, atau bahkan
memberikan pengaruh yang jelas merusak moralitas, akhlak dan sikap
seseorang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.47
6. Materi.
Pendidikan Agama Islam sebagai penddidikan yang berdasarkan Al
Qur'an dan As Sunnah sangat luas jangkauanya. Karena Islam mendorong setiap umatnya atau pemeluknya memperoleh pendidikan tanpa kenal batas.
Ada beberapa pendapat Ulama tentang materi yang harus diberikan
terhadap peserta didik :
a. Menurut Umar Bin Khatab, seorang anak hendaknya diajarkan berenag, berkuda, pepatah yang berlaku dan sajak-sajak yang terbaik. Semua ini diajarkan setelah anak-anak mengetahui
prinsip-46 Zuhairini,dkkO p C/7,hlm:51
41
prinsip Agama Islam, menghafal Al Qur'an dan mempelajari Al
Hadist.
b. Ibnu Sina mengemukakan, bahwa pendidikan anak hendaknya
dumulai dengan pelajaran Al Qur'an kemudian diajarkan syair-syair
pendek yang berisi tentang kesopanan setelah anak selesai
c. Abu Thawam berpendapat, setelah anak hafal Al Qur’an hendaknya
anak di ajarkan menulis, berhitung, dan berenamng.
d. Al Ghazali mengemukakan, bahwa sebaiknya anak-anak diajarkan
Al Qur’an, sejarah kehidupan orang-orang besar, hukum-hukum
agama dan sajak-sajak yang tidak menyebut soal cinta serta palaku-
pelakunya.48
Pendapat para Ulama diatas, dapat dipahami bahwa materi
Pendidikan Agama Islam yang paling utama adalah Al Qur’an, baik
ketrampilan membaca, menghafal, menganalisa sekaligus mnegamalkan
ajaran-ajaranya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar
ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an tertanam dalam jiw a anak didik
sejak dini.
7. Metode.
Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani
“metodos Kata ini berasal dari dua suku kata yaitu “metha ’’yang berarti melalui serta “hodos” yang berarti jalan atau cara. Dengan kata lain
metode berarti jalan atau cara untuk mencapai tujuan 49 50 Dalam kamus
besar bahasa Indonesia “ metode ialah cara yang teratur dan terpikir baik-
baik untuk mencapai maksud”. Sehingga dapat dipahami metode berarti
cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai
tujuan pengajaran.
Oleh karena itu, yang dimaksud metode Pendidikan Agama Islam
adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan
Pendidikan Agama Islam.
8. Sistem Evaluasi.
Evaluasi dalam Pendidikan Agama Islam merupakan teknik atau
cara penilaian terhadap tingkah laku peserta didik berdasarkan standar
perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual religius peserta didik. Karena sosok pribadi yang diinginkan oleh Pendidikan Agama Islam bukan hanya
pribadi yang bersikap religius, tetapi juga memiliki ilmu dan ketrampilan
yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakat.30
49 A rief Armai. O p-Cit.hal40
BAB III
Ayat-ayat dalam Al Qur'an dan Hadist mengandung kisah
A. Ayat-ayat dalam Al Qur'an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-nilai Pendidikan Agama Islam.
Ayat-ayat dalam Al Qur’an yang mengandung kisah serta terdapat nilai-
nilai pendidikan Agama Islam, menurut penulis semua ayat yang telah
penulis sebutkan diatas terdapat nilai-nilai pendidikan Agama Islam. Karena
ayat di atas semua menerangkan atau mengkisahkan para Rosul, Nabi serta
para Sahabat Rosul.
Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kisah-kisah yang diabadikan dalam
nama-nama suratnya menurut tema kisah di dalamnya, misalnya surat yu su f,
Nuh, al-Kahfi, an-naml, al-fil, dan lain sebagainya. Sebagian besar kisah-
kisah yang dikisahkan Al-Qur’an bersifat pengulangan atau repetitive, untuk
menunjukkan bahwa kisah tersebut amat besar artinya bagi manusia sebagai
bahan pelajaran dan peringatan agar dapat diambil hikmahnya.
Kisah ataupun yang sepadannya banyak diketemukan dalam kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an, namun dalam pelitian ini hanya penulis membatasi pada ayat-ayat Al Qur’an yang penulis anggap mengandung unsur pendidikan diantaranya:
Seperti firman Allah SWT :
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan A l-Q ur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Ingatlah) ketika yu su f berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi m elihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semua sujud kepdaku”. Ayahnya berkata “Hai anakku janganlah kamu ceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu. Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia ” (Q S.Y usuf: 3 -5 ).51
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Berhubungan dengan sebab turunnya ayat ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa Ibnu Abbas berkata : Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikan engkau bercerita kepada
45
kami, maka turunkan ayat, Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling b a ik” (HR.Ibnu Jarir)52
Adapun asbab nuzul ayat tersebut adalah dalam suatu riwayat
dikemukakan bahwa setelah sekian lama turun ayat-ayat Al-Qur’an kepada
Nabi SAW, dan dibacakan kepada para sahabat, mereka berkata “ Ya
Rasulullah bagaimana jika tuan bercerita kepada kami ?” maka Allah
menurunkan; “Allahu nazzala ahsanal hadits” sampai pada akhir ayat
menegaskan bahwa Allah telah menurunkan sebaik-baik cerita.
Dalam ayat lain Allah juga berfirman :
(jiL^T ^ 3 \j ^ j r & j^__JI l^. aix* 3 3J3
I j L c ^ - L 4_^=>jo j ! aI Ip o l i
Dan kalau kami menghendaki, tentulah kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. M aka perumpamaannya seperti anjing, jik a kamu menghalaunya, dia ulurkan lidahnya dan jik a kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. M aka ceritakanlah (kepada umatmu) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS.Al-A’r a f : 176)53
Al-Maraghi menafsirkan :
1^1 u * L J U y (u jJ Q < 4 ^ 0 ^ 2 1 ) "
Aj c” [\y U aJ (Jl_2k A_Il_k. Aj j jJJ ci i l i
^ \ \ f,jjuJ Aj3 y i L j CjiISjII CjIjV!
p U V I > l l ! j J ^ i ^ l l i ^ j V J t ^ J L ta i « I L I
^ l l 4 >u V O ^ -a J l a £ j
A rtin ya :
M aka kisahkanlah (kepada umatmu kisah-kisah itu agar mereka berfikir) yakni ceritakanlah hai rasul-rasul yang mulia, kisah-kisah tentang orang-orang yang menyerupai keadaannya dengan keadaan mereka yang mendustakan ayat-ayat yang terang yang kamu bawa. Dengan kiasah-kisah itu mereka diharapkan mau memikirkannya, sehingga keadaan mereka yang buruk dan perumpamaan mereka yang jelek akan menyebabkan mereka mau berlama-lama memperhatikan dan berfikir dengan fikiran yang jernih tentang keadaan diri mereka sendiri, dan mau memandang ayat-ayat Allah dengan mata hatinya, bukan dengan mata nafsunya dan sikapnya yang berm usuhan54
Ayat diatas mengkisahkan tentang pendidikan yang menggunakan
kisah dan perumpamaan, agar mereka mau memikirkannya, sebab
pengaruhnya lebih kuat dari pada sekedar memberi alasan-alasan, bukti-bukti
tanpa dibarengi dengan perumpamaan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkannya ”(Q.S.An-Nahl :29)55
Kemudian dalam surat Yusuf Allah juga berfirman :
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Q ur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
(Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal). Qashsha al-khabara berarti “ menyampaikan berita dalam bentuk yang sebenarnya ” . Kata ini diambil dari perkataan Qashsha al-atsara wa iqtashahu yang berarti “menuturkan cerita secara lengkap dan benar-benar mengetahui” Yakni kisah Yusuf as. Beserta kedua orang tua dan saudara-saudaranya.57
Letak pengambilan pelajaran dari kisah ini adalah bahwa Allah telah
kuasa untuk menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan kedalam sumur,
mengangkat kedudukannya setelah dipenjarakan, menjadikannya berkuasa di
mesir setelah dijualnya dengan harga murah, mengokohkan kedudukannya di
muka bumi setelah lama ditawan, memenangkannya atas saudara-saudaranya
yang berbuat jahat kepadanya, menyatukan kekuatannya dengan
mengumpulkan kedua orang tua dan saudara-saudaranya setelah perpisahan
56 Ibid, him. 366
yang sekian lama, dan mendatangkan mereka dari belahan bumi yang sangat
jauh.
Sesungguhnya Allah yang telah kuasa untuk melakukan itu semua
terhadap Yusuf, kuasa pula untuk menjayakan Muhammad SAW.
Meninggikan kalimat-Nya, menampakkan agama-Nya, maka dia
mengeluarkannya dari tengah-tengah mereka, kemudian memenangkannya
atas mereka, mengokohkan kedudukannya di dalam negeri, dan
menguatkannya dengan bala tentara, para pembesar, pengikut serta penolong,
mesti dia melalui berbagai rintangan dan peristiwa berat.
Ayat diatas menceritakan tentang betapa besar kekuasaan Allah yang
telah diberikan kepada manusia. Kemudian ada perintah untuk mengambil
pelajaran yang terdapat dalam kisah tersebut bagi orang-orang yang
mengetahui sedangkan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya akan
terpedaya dan lengah. Ini merupakan perbuatan yang dilanggar oleh mereka
sendiri karena mengabaikan perintah Allah tersebut.
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman :
1 Ssfl
"Loj
(Jjli 3
I
ajj! 3]
(JlS
(Cjp) ^ jO £)i