PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI GENDER PENGARUHNYA TERHADAP KOMITMEN MENYEKOLAHKAN ANAK
PEREMPUAN
( Studi Kasus Desa Mejobo Kudus)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Saijana Pendidikan Islam (S.Pd. I)
Dalam Ilmu Tarbiyah
JU R U SA N TAR BIY A H
SEK O LA H TING G I A G A M A ISLA M N EG ERI ( STAIN )
Jl. Tentara Pelajar 02 Telp. (0298) 323706, 323433 Fax. 323433 Salatiga 50721 Website : www.stainsalatiga.acid Email: [email protected]
DEKLARASI
Bismilahirrahmunirrahim '' "*
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Apabila di kemudian hari ternyata materi atau pikiran-pikran orang lain diluar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan keaslian skripsi ini di hadapan bidang munaqasah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.
Salatiga, Februari 2005
NURUL 1NAYAH 11101 037
Dra. Siti Asdiqoh
Dosen STAIN Salatiga
J l Stadion N o.02 Salatiga Telp. (0298) 323706, Faks. 323444, Salatiga, 50712
NOTA PEMBIMBING Lamp : 3 eksemplar Hal : Naskah Skripsi
Sdri.Nurul Inayah Kepada
Yth. Ketua STAIN Salatiga Di Salatiga
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Setelah kami mengadakan pengarahan, bimbingan, dan perbaikan seperlunya, maka naskah skripsi saudara :
Nama : NURUL INAYAH NIM : 111 01 037
Jurusan : TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Judul : PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI GENDER
PENGARUHNYA TERHADAP KOMITMEN
MENYEKOLAHKAN ANAK PEREMPUAN
( Studi Kasus Desa Mejobo)
Dengan ini kami mohon agar naskah skripsi tersebut dapat segera dimunaqosahkan. Demikian harap menjadikan periksa dan akhirnya kami sampaikan terima kasih.
(STAIN) SALATIGA
JL Stadion No. 03 Phone. (0298) 323433,323706 Salatiga 50721
P E N G E S A H A N
Skripsi Saudara: NURUL IN AYAH dengan Nomor Induk Mahasiswa 111 01 037
yang beijudul “PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI GENDER PENGARUHNYA TERHADAP KOMITMEN MENYEKOLAHKAN ANAK PEREMPUAN”. Telah dimunaqosahkan dalam sidang panitia ujian, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, pada hari Selasa, 28 Februari 2006 M yang bertepatan dengan tanggal 29 Muharrom 1427 H, dan telah diterima sebagai bagian dan syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.
Salatiga,
28 Februari 2006 M 29 Muharrom 1427 H
PA N IT IA UJIAN
NIP.150 267 134 268 212
'f/jm
Dra. Sii» Asdigoh NIP. 150 267 136
MOTTO
B e tte r la te than never (lebih baik terlam b at dari
pada tidak sam a sekali).
Dur\iq m em buat jalan bagi m ereka yang tahu kemana « ' • m
m ereka akan pergi (Ralph. W. Emerson)
W h ere th e r e is will th e r e is a way ( Dimana ada
Karya Sederh an a Ini Kupersembahkan
♦ Kepada bapak Saba'un dan ibu Pasi nah yang selalu berdo'a untuk
keberhasilan studiku
*
♦ Kepada kakakku mas Suryani Thoha, mbak Saidatun, mbak Sunarti, mas
Romli, Mbak Kholis yang selalu mengharapkan keberhasilanku
♦ Teruntuk mas Rinto sekeluarga yang selalu mengasuh dan
membimbing penulis selam a di Salatiga.
♦ Teruntuk ibu S iti Asdiqoh sekeluarga yang selalu membatu mencari
jalan keluar d isa a t penulis mengalami kebingungan.
♦ Spesial teruntuk Hani yang selalu memberikan m otivasi kepada
penulis hingga te r se le sa in y a skripsi ini
♦ Teruntuk tem an-tem an rental A lfa a fa teru tam a "A/a/s/'yang telah
m em beri banyak masukan dan bantuannya dalam m enyelesaikan skripsi.
♦ Teman-temanku yang membantu penyelesaian skripsi ini yaitu linta
sekalian, Uun, Y ati, Wiwik, dan sem ua tem an-tem an PAI A.
♦ My b e s t frien d Wakhidah dan Rumisih yang selalu menemani penulis
dalam pencarian bahan skripsi
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat petunjuknya penulis panjatkan skripsi ini dengan lancar. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing manusia ke jalan yang lurus dan dirindhoi Allah SWT.
* . .
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan- kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas segala bentuk bantuannya, penulis sampaikan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Drs. Badwan. M, Ag. Selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga yang telah memberi restu dalam penulisan skripsi ini.
2. Ibu Dra. Siti Asdiqoh selaku pembimbing yang dengan ikhlas, tekun dan sabar dalam membimbing penulis ketika skripsi ini penulis susun
3. Bapak dan Ibu dosen yang tulus mendidik penulis sehingga penulis dapat belajar dengan baik.
4. Seluruh staf dan civitas akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
5. Seluruh aparat desa Desa Mejobo Kudus yang telah memberikan kesempatan untuk mengadakan penelitian.
6. Berbagai pihak yang telah banyak membantu dan tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu
serta Saudara sekalian mendapatkan imbaian yang berlipat ganda dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Salatiga, Februari 2006 Penulis
Nurul Inavah
11101037
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
DEKLARASI... ii
NOTA PEMBIMBING...iii
PENGESAHAN... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR... vii
DAFTAR IS I... ix
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Penjelasan Istilah... 8
C. Rumusan Masalah...9
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian... 9
E. Hipotesa... 10
F. Metodelogi Penelitian... 11
G. Sistematika Penulisan Skripsi... 15
BAB n : LANDASAN TEORI A. Pengertian Gender Secara Luas...18
B. Pentingnya Pendidikan Bagi Manusia... 26
Bersekolah...35
BAB III: LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Desa Mejobo...52
1. Letak dan Batas Desa Mejobo... 52
2. Keadaan Penduduk Desa Mejobo...52
3. Keadaan Ekonomi...53
4. Sarana Fisik...54
5. Jumlah Penduduk Pemeluk Agama...55
B. Penyajiaan D ata...55
BAB IV : ANALISIS DATA A. Analisis Pendahuluan...67
1. Persepsi Orang Tua Mengenai Gender... 67
2. Komitment Menyekolahkan anak perempuan... 75
B. Analisis Uji Hipotesis...82
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan... 87
B. Saran... 88 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN-LAMPIRAN
BABI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai yang akan menjadi *
penolong serta pemenuhan‘dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia.1 Dengan demikian tanpa pendidikan, generasi manusia sekarang tidak akan berbeda dengan generasi masa lampau, dan generasi yang akan datang (anak keturunan kita) tidak akan berbeda dengan generasi kita sekarang, bahkan mungkin saja akan lebih rendah atau lebih jelek kualitasnya 2 Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama. Keluarga merupakan unit terkecil yang terdiri atas kepala keluarga, ibu dan anak. Dengan demikian, keluarga juga dapat dikatakan sebagai masyarakat dalam lingkup mikro.
Keluarga sebagai lingkup terkecil dalam masyarakat memiliki peran-1’ yang sangat penting dalam pemenuhan pendidikan anak, hal ini merupakan kewajiban dari orang tua untuk dapat memberikan pendidikan bagi anak,
him. 1
1 Mansur, D iskursus Pendidikan Islam , (Yogyakarta, Global Pusaka Utama, 2001),
2 Ib id ,
seorang anak akan diarahkan oleh kedua orang tua agar mampu menjadi seorang anak yang sholeh dan sholehah.
Dalam upaya penciptaan anak yang memiliki budi pekerti luhur oleh sebab itu orang tua harus mempunyai andil yang sangat besar untuk menyekolahkan anaknya. Oleh karena itu persepsi orang tua akan pentingnya pendidikan perlu ditanamkan dalam setiap jiwa anak agar teijadi kesepahaman bersama antara orang tua dan anak tentang pentingnya pendidikan.
3
anak.3 Oleh karena itu konsep pendidian Islam perlu diterapkan terutama dalam pendidikan keluarga karena pendidikan keluarga sebagai fondasi terhadap lembaga pendidikan sekolah dan luar.
Pendidikan adalah sebuah aktivitas, yang memiliki maksud tertentu, yang diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya.4 Pendidikan adalah hak sangat penting yang harus dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan pendidikan, sampai pendidikan wajib yang dilaksanakan sampai 9 tahun. Disamping itu dalam UUD’45 juga menjelaskan khususnya pada pasal 31 dinyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pengajaran (pendidikan), pendidikan berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di pedesaan. Tetapi realitasnya, demokratisasi pendidikan di Indonesia masih belum terwujud masih banyak penduduk Indonesia yang belum mengeyam bangku pendidikan terutama pendidikan formal. Hal tersebut disebabkan oleh taktor kemiskinan, faktor keluarga maupun faktor lingkungan. Tapi fenomena sekarang orang tua lebih memilih anak laki-lakinya untuk melanjutkan sekolah setingi-tinggi sedangkan untuk anak perempuan mereka batasi hanya SD saja atau SMP saja, alasan mereka bahwa tugas anak perempuan itu hanya dibelakang, maka sangat mubadir kalau harus disekolahkan setinggi-tingginya
? Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Pendidikan Aherna tif Masa Depan,
(Jakarta,: Gema Insani Press, 1997), him. 23
Alangkah ironisnya kalau perempuan yang hanya mendapatkan kesempatan di belakang layar padahal kalau kita lihat bahwa anak dalam keluarga adalah buah hati sibiran tulang. Anak adalah amanah Allah yang perlu dipelihara dengan sebaik-baiknya. Demikianlah beberapa ungkapan masyarakat tersebar luas dalam mendudukan anak pada tempat yang cukup mulia dan
berharga.5 ,
• *?•
Dipedesaan, masalah pendidikan merupakan masalah yang serius dan perlu dilakukan rekonstruksi-modemisasi yang telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat pedesaan, tidak di imbangi dengan kemajuan dalam pendidikan, perkembangan kultur yang semakin pesat, belum dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat pedesaan terhadap pentingnya pendidikan mereka belum menganggap pendidikan sebagai suatu faktor penting. Pendidikan diyakini tidak dapat melahirkan perubahan tapi menjadi beban yang sulit dihilangkan.6
Dampak dan pola pikir masyarakat pedesan yang kurang baik tersebut, banyak anak-anak sekolah yang hanya lulus SD / SMP banyak masyarakat pedesaan yang lebih mementingkan anaknya bekeija untuk mencari uang dan pada belajar menuntut ilmu, khususnya bagi anak perempuan. Demikian pula dalam hal belajar para orang tua sangat perlu meninjau dan memperbaiki sikap dan perlakuannya terhadap anak sehingga tidak akan menimbulkan penyesalan dan disalahkan oleh mereka dimasa yang akan datang. Orang tua sangat perlu memberikan bantuan seperlunya dalam rangka mengantarkan mereka kepada
5 Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agam a (Yogyakarta, Pustaka
Pelajar), him. 104
5
sikap belajar yang benar dan efektif sehingga sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan keluhuran budi. Permasalahan fundamental yang perlu juga kita renungkan kembali, walaupun kadang-kadang masih ada sementara warga masyarakat mengabaikannya yaitu tentang persepsi orang tua mengenai gender terhadap komitmen menyekolahkan anak. Tersadar sebelum terlambat menurut hemat kita lebih baik daripada menangisi kesalahan dimasa yang akan datang.
* ‘Tm
Memang masa depan anak sangat erat hubungannya dengan apa dan bagaimana kehidupan belajar yang mereka biasakan dan jalani pada masa kini. Orang tua yang baik dan bijaksana selalu memikirkan dan berbuat sesuatu yang baik bagi kehidupan anak-anaknya di masa yang akan datang.7
Gender diatas yang ingin penulis kaji dalam skripsi ini adalah masalah perempuan. Karena kita tidak bisa menafikan bahwa kaum perempuan sering ditindas, kebebasannya untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dibatasi oleh budaya, dan masih banyak lagi ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan.
Penjelasan diatas adalah sebuah relaita yang sering dihadap kaum perempuan dimana dia menjadi the second person, menjadi kaum yang tertindas dan tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Padahal secara ideal, Islam memiliki pandangan kesetaraan yang cukup tegas mengenai hubungan tugas suami dan istri, laki-laki dan perempuan. Pandangan kesetaraan itu dapat dilihat dalam sejumlah ayat al-Qur'an yang pada dasarnya semua manusia dari kedua jenis kelamin itu memiliki
o Kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat keberagamaan yang tinggi.
Setiap amal perbuatan tergantung pada niat, syarat, rukun, serta tata caranya. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Al Ahzab : 35 yang berbunyi:
o C U lj jpU ilj
jcujUj
j\
o l * — ol i i l yal i j
jv^— C>\— j uj L-yaSij 0 13
L -iaP *yjx* p-A <0^1
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
Lebih penting lagi, Maulana ustmani berpendapat bahwa Al Qur'an tidak melebihkan laki-laki atas perempuan. Kalimat bimafadhalah ba 'duhum
‘ala ba 'din (Allah telah melebihkan sebagianemreka atas yang lain). Sama sekali tidak menunjukkan superioritas laki-laki atas perempuan. Seandainya memang demikian, Allah tentu telah berfirman bimafadhalahum ‘alaihinna Dia melebihkan mereka (laki-laki) atas mereka (perempuan), tetapi dalam ayat ini kata maskulin dan feminim, yang akan menunjukkan superioritas laki-laki atas perempuan tidak benar. 8 9
8Fuadudin, Pengasuhan A nak dalam K andungan Islam , (The Foundation, Jakarta,
1999) , him. 11
9Ashgar ali Engineer, H ak-hak Perem puan dalam H ukum Islam , (LSPPA, Yogyakarta,
7
Pandangan keagamaan klasik diatas kini berhadapan dengan ruas, modernitas yang terbuka lebar. Keterbukaan ruang bagi perempuan untuk mengikuti pendidikan sampai setinggi-tingginya dan menikmati kebebasan yang telah lama terbelenggu telah terbuka dan melahirkan kemampuan meraka dalam segi hal urusan yang sebelumnya di klaim hanya milik laki-laki semata. Persepsi yang menganggap bahwa kaum perempuan kurang rasional, lebih
• 4Xm
emosional dan kurang kompeten menangani urusan domestik dan publik dibanding kaum laki-laki telah gugur dan tidak lagi populer di jaman sekarang ini.10 Kaum perempuan kini tengah bergerak merengkuh masa depannya dan mengubur masa lalu yang suram dan menikmati kebebasannya, demi sebuah cita-cita, meskipun belum begitu cukup proporsional tetapi cita-cita untuk membangun masa depannya semaki terbuka lebar.
Dari penjelasan diatas penulis tertarik ingin memberikan sedikit masukan kepada para orang tua bahwa anak perempuan itu tidak hanya masak, macak dan manak. Tetapi kaum perempuan juga perlu mendapatkan pendidikan, oleh karena itu penulis termotivasi untuk meneliti seberapa jauh kesadaran orang tua terhadap pentingnya menyekolahkan anak paerempuannya, dengan mengambil judul PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI GENDER PENGARUHNYA TERHADAP KOMITMEN MENYEKOLAHKAN ANAK PEREMPUAN. ( Studi Kasus Pada Komunitas Agraris Desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus Tahun 2005) .
170
B. Penegasan Istilah
Agar tidak teijadi kesalah pahaman dalam memahami judul penelitian ini, maka penulis perlu menegaskan beberapa istilah dalam skripsi ini. Adapun istilah-istilah yang perlu penegasan disini adalah :
1. Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, atau proses seseorang mengetahui beberapa hal malalui pecaindera.11 Maksudnya bahwa seseorang yang mempunyai pancaindera mereka akan dapat menanggapi atau merespon terhadap sesuatu.
2. Orang tua yaitu ayah ibu kandung. 12 Maksudnya seseorang yang langsung melahirkan anak-anak mereka.
3. Gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang di konstruksi secara sosial maupun kultur. 13
4. Komitmen yaitu perjanjian (keterkaitan) untuk melakukan sesuatu 14 Maksudnya bahwa seseorang yang memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan.
5. Menyekolahkan yaitu memasukkan kesekolah; mengirim kesekolah (untuk belajar), atau menyuruh belajar kesekolah.15 Maksudnya memasukkan anaknya ke pendidikan formal.
11 Wjs. Poerwadarminto, K am us Umum Bahasa Indonesia, (PN Balai Pustaka, Jakarta,
1982), him 675
12 Ibid., him. 629
13 Mansur Fakih, A nalisis Gender dan Transform asi Sosial, (Yogyakarta, Pustaka
pelajar, 1997), him. 8
14 Wjs. Poerwadarminto, O p.C it, him. 359
9
6. Anak yaitu menusia yang masih kecil. 16 Seseorang yang masih pada usia sekolah yaitu usia 7 sampai 19 tahun.
Jadi yang di maksud dengan judul skripsi ini adalah tanggapan seorang Ayah / Ibu untuk tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam memasukkan anaknya kebangku sekolah. Sehingga orang tua mempunyai komitmen untuk menyolaljkan anak perempuannya.
* **.•
C. Rumusan Masalah
Sebagai basic question atau pokok pcimasalahan daiam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana persepsi orang tua mengenai gender di desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus?
2. Bagaimana tingkat komitmen menyekolahkan anak perempuan di desa Mejobo Kacamatan Mejobo Kabupaten Kudus?
3. Adakah pengaruh antara persepsi orang tua mengenai gender terhadap komitmen menyekolahkan anak di desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui persepsi orang tua mengenai gender pada masyarakat desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus.
2. Untuk mengetahui tingkat komitmen menyekolahkan anak perempuan di desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus.
3. Untuk mengetahui pengaruh antara persepsi orang tua mengenai gender terhadap komitmen menyekolahkan anak di desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
Hasil penelitian ini dapat membantu memberikan penjelasan, pengertian dan ragam variasi kepada orang tua dalam memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anak perempuan. Agar orang tua mempunyai komitmen yang tinggi dalam menyekolahkan anak perempuannya. Sehingga
seorang anak perempuan tidak hanya duduk di belakang layar, melainkan juga bisa memberikan pengaruh dalam pembangunan bangsa.
r*
E. Hipotesa
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.17 Berdasarkan pokok permasalahan diatas, penulis menyampaikan hipotesa yang akan diuji kebenarannya melalui data yang diperoleh. Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
11
“Ada pengaruh yang signifikan antara persepsi orang tua mengenai gender
dengan komitmen menyekolahkan anak perempuan. Maksudnya semakin tinggi
persepsi orang tua mengenai gender maka semakin tinggi pula komitmen
menyekolahkan anak perempuan ”
F. Metodologi Penelitian « , , 1. Populasi dan Sample
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi merupakan batas jumlah subjek atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat sama. Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Penulis melakukan penelitian lapangan, dalam menentukan populasi dan sampel sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto, bahwa apabila subjeknya kurang dari seratus orang lebih baik diambil semua, sedangkan apabila lebih dan seratus orang lebih, maka diambil sampel antara 10 - 25 % atau 2 0 - 25 % atau lebih sesuai kemampuan peneliti iv
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua di desa Mejobo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus tahun 2005 adalah 200 keluarga, maka penulis mengambil sampel 25 % yaitu 50 keluarga yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan usia sekolah. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proposional random sampling agar setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
n Ib 'uL, him. 108-109
2.Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yang menjadi fokus penelitian, yaitu: a. Variabel independent (variabel bebas yang mempengaruhi) yaitu persepsi
orang tua mengenai gender, sebagai variabel bebas atau pengaruh dengan indikator sebagai:
- Pandangan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam hal pendidikan. - Persepsi tentang kesamaan hak dalam rumah tangga.
- Persepsi tentang pola pendidikan yang adil gender (pendidikan non
seksis)
- Pandangan perlunya pendidikan yang adil gender yang tidak bertujuan menyamakan hal-hal yang bersifat alamiah (biologis antara laki-laki
dan perempuan).
b. Variabel dependent (variabel yang dipengaruhi) yaitu komitmen menyekolahkan anak. Sebagai variabel terpengaruh dan dependent. Adapun indikator menyekolahkan anak adalah sebagai berikut:
- Mendorong anak perempuan untuk sekolah - Membiayai anak perempuan dalam bersekolah
- Memperlakukan anak perempuan secara sama dengan anak laki-laki dalam memperoleh pendidikan
- Menerapkan sistem pola asuh yang tidak membedakan antara anak
13
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penelitian, penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
a. Angket, menurut pendapat Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh inforrpasi dari responden dalam arti laporan tentang
• * T •
pribadinya atau hal-hal lain yang ia ketahui.20 Penerapan metode ini adalah dengan cara menyediakan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Metode ini sebagai metode pokok yang dimaksudkan untuk memperoleh data tentang pengaruh tingkat persepsi orang tua mengenai gender dan komitmen menyekolahkan anak perempuan dengan cara memberikan daftar pertanyaan untuk di jawab oleh responden.
b. Interview
Adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikenakan dengan sistematika dan berdasarkan pada tujuan penelitian.21 Metode ini sebagai alat bantu yang digunakan untuk memperoleh data yang bersumber orang tua/responden.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah penyelidikan yang ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber dokumen.22 Metode ini
20 Suharsimi Arikunto, Prosedur Pendekatan Praktek, (Renika Cipta, Edisi Revisi Lima,
Jakarta, 2002) him. 128
21 Sutrisno Hadi, M etodologi Reseach II, (Andi Ofset, Yogyakarta, 1989), him 193
22 Winamo Surahmad, Pengantar Penelitian Ilm iah, Dasar Metodik Teknik, (Tarsito,
digunakan untuk memperoleh keterangan atau data yang bersifat dokumentasi untuk mencari data dengan gambaran lokasi penelitian. Misalnya : arsif, surat-surat, catatan-catatan yang diperlukan penulis. 4.Metode Analisis data
Untuk menganalisa data yang telah terkumpul dalam penelitian ini. penulis menggunakan .analisis data statistik.23 Selanjutnya menganalisa prosentase data tentang persepsi orang tua, menganalisa data tentang komitmen orang tua, mencari prosentase komitment orang tua menyekolahkan anak dengan menggunakan rumus product moment sebagai berikut:
Keterangan :
rxy = Koefisien antara variabel x dan variabel y xy = Perlakuan antara x dan y
x = Variabel pertama, yaitu kecenderungan belajar pada lembaga pendidikan non Islam
15
y - Variabel kedua, yaitu tingkat religiusitas remaja N = Jumlah sampel
I = Sigma
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Skripsi ini disusun dalam lima bab, yang secara sistematis, dapat dijalankan sebagai berikut:
BABI : PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metode penlitian serta sistematika penulisan skripsi.
BABII : LANDASAN TEORI
BAB III: LAPORAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan dilaporkan hasil pengumpulan data yang berkaitan dengan variabel penelitian, yaitu keadaan daerah penelitian, sarana, dan prasarana, serta laporan penelitian.
BAB IV :ANALISIS DATA
Pada bab analysis data, akan dilakukan analisis terhadap data yang terkumpul dengan tehnik prosentase untuk menjawab pokok permasalahan. Masalah pertama dan kedua. Sementara untuk menjawab masalah yang ketiga yaitu adanya persepsi orang tua mengenai gender pengaruhnya terhadap komitmen menyekolahkan anak perempuan, digunakan analisis statistik dengan menggunakan product moment.
BAB V : PENUTUP
Mengakhiri penulisan skripsi pada bab kelima ini, akan diuraikan mengenai kesimpulan akhir hasil penelitian, saran-saran yang berhubungan dengan pihak-pihak terkait dari subyek penelitian.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
B A B U
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Gender Secara Luas
Kata “gender" berasal dan bahasa Inggris, gender berarti “jenis kelamin". Dalam Webster’s New World dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.
Di dalam women 's studies encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan atau distinction dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosi antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Sedangkan Hilary M. lips dalam bukunya yang terkenal seks dan gender
introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki- laki dan perempuan {cultural expectations fo r women and men). Pendapat ini
sejalan dengan pendapat umumnya kaum feminis seperti Linda L lindsey, yang mengangap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender {what a given
society definies a mesculine or feminim is a component o f gender).1
1 Nasurudin Umar, A rgum en Kesetaraan Gender dalam P erspektif A lq u r ’an, Paramadina, Jakarta, 1999, him. 35
Meski kata gender belum masuk dalam perbendaharaan kamus besar Indonesia istilah tersebut sudah lazim digunakan khususnya dikantor menteri negara urusan peranan wanita dengan ejaan “'je n d e rJender diartikannya sebagai “interprestasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan”. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian keija
yang dianggap ketat bagi laki-laki dan perempuan.
Hal itu diperkuat oleh pendapatnya Mansyour Fakih, yang menyatakan bahwa gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang di konstruksi secara sosial maupun kultural, misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki diangggap kuat, rasional, jantan, perkasa, ciri dan sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Maksudnya bahwa ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara ada juga perempuan yang kuat,
rasional, dan perkasa.2 Tapi jika kita amati bahwa sifat tersebut bisa berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ketempat yang lain. Misalnya zaman dahulu disuatu suku tertentu perempuan lebih kuat dari pada laki-laki tetapi pada zaman yang lain dan ditempat yang berbeda laki-laki yang lebih kuat.
Perubahan bisa teijadi dari kelas ke kelas masyarakat yang berbeda. Di suatu suku tertentu, perempuan kelas bawah dipedesaan lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki. Semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan
19
perempuan, yang bisa berubah dari waktu kewaktu sangat berbeda dari tempat ketempat lainnya maupun dari kelas kekelas lainnya yang lain itulah yang dikenal
dengan konsep gender.
Dari berbagai jenis definisi diatas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut non biologis.
1. Stereotipe Ketidakadilan Gender
Pada era globalisasi sekarang ini perempuan masih manghadapi tingkat kekerasan yang semakin tinggi dikarenakan gender (dibaca jender) mereka, dimana isu gender memang sangat komplek yang berlaku ditingkat lokal, nasional dan internasional.3 Bahkan dalam kehidupan di masyarakat masih teijadi perdebatan teori nature dan nurture. Dalam kaitannya dengan soal jenis kelamin, masih teijadi perdebatan tentang perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki.
Dari uraian dan analisis pada bagian-bagian sebelumnya, kita juga telah menyadari bahwa perbedaan gender atau gender differences telah melahirkan ketidakadilan gender atau gender inequalities setelah kita telaah secara mendalam, perbedaan gender ini ternyata telah mengakibatkan lahirnya sifat dan stereotipe yang oleh masyarakat dianggap sebagai ketentuan kodrati atau bahkan ketentuan Tuhan. Sifat dan stereotipe yang sebelumnya merupakan
3 Man sour Fakih, Gender dan Pem bangunan, Pustaka Pelajar Opset, Yogyakarta, Cet I, 1996,
konstruksi atau rekayasa sosial dan akhirnya dikukuhkan menjadi kodrat kultural, dalam proses yang panjang akhirnya telah mengakibatkan terkondisikannya beberapa perempuan, antara lain:
a. Perbedaan dan pembagian gender yang mengakibatkan, termamfestasi dalam posisi subordinasi kaum perempuan dihadapan laki-laki.
b. Secara ekonomis, perbedaan dan pembagian gender juga melahirkan proses marginalisasi perempuan.
c. Perbedaan dan pembagian gender juga membentuk penandaan atau
stereotipe terhadap kaum perempuan yang mengakibatkan pada penindasan terhadap perempuan.
d. Perbedaan dan pembagian gender juga membuat kaum perempuan bekeija lebih keras dengan memeras keringat jauh lebih panjang.
e. Perbedaan gender tersebut juga melahirkan kekerasan dan penyiksaan
(violance) terhadap kaum perempuan, baik secara fisik maupun mental. f. Perbedaan dan pembagian gender dengan segenap manifestasinya diatas,
mengakibatkan tersosialisasinya citra posisi, kodrat dan penerimaan nasib perempuan yang ada.4
2. Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam
Dewasa ini agama mendapat ujian baru, karena agama sering dianggap biang masalah bahkan dijadikan kambing hitam atas terjadinya pelanggaran
21
ketidakadilan gender. Hal yang sangat mengganggu misalnya tentang penggambaran bahwa Tuhan seolah-olah adalah laki-laki, penggambaran semacam ini terjadi hampir di semua agama.
Namun setelah Islam datang, perempuan lebih dihargai, karena Islam mengajarkan kesamaan hak atau keselamatan antara laki-laki dan perempuan apabila laki-laki berperan dalam dunia publik, perempuan juga tidak ada larangan untuk berperan pada medan yang sama memiliki martabat yang sama.
Prinsip Islam terhadap hak kaum laki-laki dan perempuan adalah sama, prinsip inilah yang mendasari mengapa Islam memiliki pandanganyang sangat revolusioner terhadap hubugnan kemanusiaan yang memberikan keadilan hak antara laki-laki dan perempuan.
Al Qur'an sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam, pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan adalah sama.
U l
Artinya : Sesungguhnya kaum wanita adalah setara (patner) dengan kaum p ria 5
Keduanya diciptakan dari satu nafs (living entity) dimana yang satu tidak memiliki keunggulan terhadap yang lain. Bahkan Al Qur'an tidak menjelaskan secara tegas bahwa Hawa diciptakan dan tulang rusuk Nabi Adam sehingga
kedudukan dan statusnya lebih rendah. Atas dasar itu, prinsip Al-Qur’an terhadap kaum laki-laki dan perempuan adalah sama, dimana hak isteri diakui sederajat dengan hak suami. Dengan kata lain, laki-laki memiliki hak dan kewajiban terhadap perempuan dan sebaliknya perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap laki-laki, apalagi jika dikaitkan dengan konteks
masyarakat pra-Islam yang transformasikannya.
23
Kultur semacam itu disebagian masyarakat Islam masih dipertahankan, namun diberbagai masyarakat muslim sudah tidak berlaku lagi. Dalam kasus tersebut kultur patriarkhi benar-benar ikut andil melanggengkan ketidakadilan gender. Lebih dari persoalan tersebut, tafsir keagamaan tetap memegang peranan penting dalam melegitimasi dominasi atas kaum perempuan. Persoalan disini adalah mengapa Al-Qur’an seolah-olah menempatkan kedudukan laki-
laki diatas perempuan.
Untuk memahami bagaimana kedudukan kaum perempuan, kita dianjurkan untuk memahami konteks ayat ini diriwayatkan pada suatu hari seorang sahabat Nabi bernama Saad bin Rabi menampar isterinya Habibah bin Zaid karena suatu persoalan. Habibah tidak terima dan mengadukan peristiwa tersebut kepada ayahnya lantas ayahnya pergi mengadu ke Nabi. Keputusan Nabi adalah meminta Habibah untuk membalasnya. Atas keputusan Nabi tersebut kaum laki-laki di Madinah saat itu protes, kalau ditarik makna dari peristiwa tersebut, jelas bahwa Nabi telah memperhitungkan dua paham betul akan ada akibatnya, yaitu pasti menghebohkan masyarakat yang didominasi oleh laki-laki. Jadi surat An-Nisa ayat 35 yang menganjurkan untuk mengangkat hakim dalam menyelesaikan perselisihan tersebut diturunkan dengan semangat untuk mengurangi kekerasan terhadap kaum perempuan dan bukan menegaskan superioritas laki-laki atas perempuan, namun kenyataan banyak tafsiran justru tidak mencerminkan, mengungkapkan kondisi sosial dan kekerasan yang pada saat itu dituntut oleh kaum perempuan agar diperhentikan.
25
tugasnya6 Dari proses belajar ini kemudian menyebabkan munculnya teori gender yang dijadikan landasan berfikir dan falsafah hidup sehingga menjelma
menjadi idiologi.
Bisakah seorang perempuan menjadi kepala negara, pemimpin kepala keluarga. Kalau kita telah melalui Al-Qur’an, tidak ada alasan yang tegas untuk melarang perempuan memiliki posisi seperti itu, kecuali sebuah hadis Ahad riwayat Abu Bakar yang menjadi dasar pendukung pandangan ini. Hadis tersebut sangat berlawanan dengan peristiwa perang Unta dimana Aisyah isteri Nabi memimpin komando perang, peristiwa yang justru terjadi setelah hadis itu diriwayatkan. Mengapa Abu Bakar sebagai periwayat hadis tersebut tidak memberontak atau desersi atas kepemimpinan Aisyah? Kalau beliau memang percaya bahwa perempuan menurut Nabi sendiri justru tidak membedakan peran laki-laki dan perempuan.
Dari petikan kejadian itu, penulis hanya ingin menandaskan bahwa tafsir, interpretasi terhadap ajaran agama sangat dipengaruhi oleh kacamata pandang yang digunakan oleh penafsirnya, yang sering kali juga berkaitan dengan seberapa jauh keuntungan spiritual dan material yang bisa di peroleh, artinya tafsir agama, erat kaitannya dengan aspek ekonomi, politik, kultural dan juga ideologi. Seluruh itu saling tergantung dan terkait satu sama lain.
6 Nani Zulminami, Gender dan Pem bangunan M asyarakat Sebuah Tinjauan Konseptual,
dikutip Mansour Fakih, dalam Merekonstruksi Realitas dengan Perspektif Gender, SBPY,
Di perlukan kajian kritis guna mengakhiri bias dan dominasi dalam penafsiran agama. Maka di perlukan suatu proses kolektif yang mengombinasikan studi, investigasi, analisis sosial, pendidikan serta aksi untuk membahas isu Perempuan. Hal ini termasuk memberikan semangat dan kesempatan perlawanan kepada kaum perempuan guna mengembangkan tafsiran ajaran agama yang tidak menempatkan perempuan sebagai pusat perubahan. Proses ini termasuk menciptakan kemungkinan bagi kaum perempuan untuk membuat, mengontrol dan menggunakan pengetahuannya sendiri. Usaha inilah yang memungkinkan tumbuhnya kesadaran kritis menuju
• -r
transformasi kaum perempuan. Gerakan transformasi gender ini mempercepat transformasi sosial secara luas dan menyeluruh.
Persoalan mendasar dalam membahas posisi kaum perempuan (muslimat) dalam Islam adalah apakah kondisi dan posisi kaum muslimat dimasyarakat dewasa ini telah merefleksikan inspirasi posisi normatif kaum perempuan menurut ajaran Islam. Respon umat Islam tentang pernyataan ini umumnya dapat dikategorikan menjadi 2 golongan utama.
27
dasar Islam. Kaum muslimat dianggap sebagai korban ketidakadilan dalam berbagai bentuk dan aspek kehidupan yang dilegitimasi oleh suatu tafsiran sepihak dan dikonstruksi melalui budaya syariat. Mereka menganggap bahwa posisi kaum muslimat dalam kenyataan dimasyarakat saat ini, tertindas oleh suatu sistem dan struktur gender dan karenanya ketidakadilan tersebut harus dihentikan. Disebabkan proses ketidakadilan tersebut berakar pada ideologi yang didasarkan pada keyakinan agama, maka upaya perjuangan ideologis adalah melakukan upaya dekonstruksi terhadap tafsir agama yang tidak adil.7
B. Pentingnya Pendidikan bagi Manusia
Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil, kaum perempuan, dan anak-anak ataupun mereka yang tertindas, diskriminasi, untuk menciptakan sistem relasi sosial baru yang lebih adil. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia atau membebaskan manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.8 Pendidikan kritis diusung oleh Paulo Freire dimana dia menghendaki adanya “penyadaran”
(consaentizacao) bagi manusia. Sebagai pelaku aktif atau unsur yang sadar (cognitive) dari kehidupannya sendiri. Konsep consaentizacao (penyadaran) ini
7 Mansur Fakih, M em bincang F em inism e diskursus gender p ersp ektif Islam , Risalah Gusti, Surabaya, 1996, him. 37-38
8 Mansour Fakih dalam pengantar, Moh. Roqib, Pendidikan Perempuan, Gema Media dan
Paulo Freire mengembangkannya dalam sebuah agenda yang disebut pembebasan {freedom) 9
Kehidupan yang akan datang harus dimulai dari sekarang. Dan hal itu hanyalah mungkin di capai dengan ilmu. Sehingga Islam menganjurkan dan mendorong mencari ilmu bahkan dikatakan bahwa semua hasil ilmu pengetahuan modem telah ada dalam Al-Qur’an untuk membekali ilmu bagi umat, yang efektif adalah melalui dengan pendidikan. Kita tidak bisa mencapai suatu cita-cita nasional kecuali dengan pendidikan.
Sungguh tepatlah beberapa ahli mengatakan bahwa maju dan mundurnya suatu kaum tergantung sebagian besar kepada pendidikan yang berlaku dalam lingkungan mereka. Tidak ada suatu kaum ataupun bangsa yang dapat mempertahankan hidupnya melainkan sesudah mengadakan dan memperbaiki pendidikan anak dan pemuda mereka. Memang demikianlah halnya, dengan pendidikan kita dapat memiliki masa depan generasi yang akan datang.
Pendidikan dapat diusahakan oleh manusia tetapi penilai tertinggi mengenai hasilnya adalah Allah SWT. Sesungguhnya tujuan pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap orang muslim.10 Dibalik pernyataan diatas sesungguhnya terkandung makna kesetaraan manusia dihadapan hukum
9 Untuk lebih jelasnya tentang konsep conscientizacao (penyadaran) Paulo Freire dapat dikaji
lebih jauh dalam buku, William A. Smith, Conscientizacao Tujuan Pendidikan PauJo Freire, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2001 Cet 1
29
Allah SWT.11 Tiada kecuali manusia itu laki-laki ataupun perempuan, untuk itulah dalam menuntut ilmupun sama-sama diwajibkan atas keduanya.
Tidak pelak bagi pendidikan berperan besar akan tumbuh dan berkembangnya masyarakat industri lengkap dengan model hubungan yang semakin digital. Individu dan kelompok yang semakin tinggi tingkat kemampuan mengakses sumber informasi komunikasi merasa semakin berkurang memerlukan bantuan orang lain dan semakin industri yang kapitalis dan materialistis besar kontribusinya pada proses alienasi atau keterkucilan. Padahal, pendidikan ditujukan untuk menumbuh kembangkan perilaku / kepribadian demokratis lengkap dengan kebersamaan yang manusiawi jauh dari keterkucilan.12
Mengubah dan mengembangkan paradigma lama menjadi paradigma baru, tinggalkan yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan era informasi dan demokrasi. Kembangkan nilai-nilai lama yang sekiranya masih dapat
dimanfaatkan dan diciptakan pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan / tantangan zamannya untuk itu, berikut ini ditawarkan gagasan-gagasan yang sebenarnya merupakan kesimpulan atau butiran-butiran menata ulang pemikiran sistem pendidikan nasional abad mendatang. Sebenarnya konssep dari pendidikan tersebut adalah:
UK.H. Husen Muhammad, Islam Agam a Ramah Perempuan Pembelaan Kyai Pesantren,
Fahmi Institute dan LKJS, Yogyakarta, Cet.I, 2004, him.9
12 Mastuhu, M enata Ulang Pem ikiran Sistem Pendidikan N asional dalam A bad 21, Safira
1. Pendidikan satu yaitu “memanusiakan manusia” meskipun “pendidikan” memiliki banyak nama dan wajah, seperti pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, ponpes, madrasah, program diploma, sekolah tinggi, institusi universitas dan sebagainya, namun pada hakekatnya pendidikan adalah satu, yaitu mengemban suatu potensi daya manusia dalam kehidupan bersama yang lebih baik sesuai dengan tantangan atau kebutuhan zamannya. Atau dengan kata lain, hakikat pendidikan adalah mengemban “human dignity ” yaitu harkat dan martabat manusia atau humanizing human, yaitu memanusiakan manusia sehingga benar-benar mampu menjadi kholifah di muka bumi.
2. Bidang pendidikan adalah panglima pambangunan nasional. Dalam era pembangunan diabad 21, diusulkan agar bidang pendidikan menjadi “panglima” program pembangunan nasional dalam menuju Indonesia baru, karena pendidikan adalah jumlah utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan kembangkan kehidupan yang berkeadaban.
3. Pemerintahan sipil, civil society butir kedua diatas hanya dapat dilaksanakan jika bangsa Indonesia mampu menyelenggarakan pemerintahan yang benar- benar demokrasi, terbuka, adil, jujur dan dengan pengaturan tahanan kehidupan nasional benar-benar berada dalam tangan rakyat.
31
Tampaknya potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia di peruntukkan bagi tujuan agar ia dapat memahamai ayat-ayat Allah SWT bersumber dari tiga indera utama ini, yakni mata, telinga, hati nurani. Ayat-ayat verbal berupa pedoman dan tuntutan wahyu bagi manusia untuk mengembangkan dirinya. Sedangkan ayat-ayat non-verbal merupakan perangkat ciptaan Allah SWT, yang di dalamnya sudah ada tata tutur yang baku, yang disebut sunat Allah SWT dan takdir Allah SWT. Dalam pendekatan filsafat ilmu barat dikenal dengan hukum alam. 13
Berangkat dari kondisi manusia ini, terlihat betapa eratnya hubungan antara manusia dengan pengaruh lingkungannya yaitu pendidikan. Dalam hal ini terlihat betapa manusia demikian tergantungnya kepada pendidikan / bagaimana pola pendidikan yang diberikan kepadanya, akan ikut memberi pengaruh yang bahkan hingga pada pandangan hidupnya. Semuanya menunjukkan bahwa berdasarkan hakikat penciptaanya, manusia adalah mahkluk yang berpotensi mengembangkan diri melalui pendidikan, dengan menempatkan fungsi dan peran orang tua sebagai tempat yang strategi dan menentukan orang tua dinilai berperan penting dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan anak.
Maka kemudian para pemikir konservatif berangkat dari asumsi bahwa ketidak sederajatan antara anak, orang dewasa antara lelaki dan perempuan, merupakan suatu keharusan alami (Tuhan), suatu hal yang mustahil bisa
dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Perubahan relasi bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan karena perubahan relasi sosial, termasuk relasi kelas dan relasi gender hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial.14
Perhatian para pendidikan semakin meningkat terhadap perubahan yang teijadi dengan cepat hampir dalam segenap segi kehidupan. Dalam bidang sosial budaya telah teijadi perubahan seperti pertumbuhan penduduk yang besar, meningkatnya mobilisasi sosial dan meluasnya pertisipasi masyarakat dalam aktifitas politik dan busana. Salah satu efek dari penebahan yang telah di kemukakan, meningkatnya tuntutan akan persamaan pendidikan, dalam masyarakat dan juga bangsa yang berbeda perkembangan kekayaan dan teknologinya. Tidak hanya itu, betapa perubahan juga dapat dilihat dalam bidang komunikasi, science dan terkonologi. Pada akhirnya, terjadi perubahan ekstensif dalam bidang persediaan dan penawaran barang yang diperlukan konsumen serta organisasi alat produksi. Akibatnya dalam lapangan keija lenyap ketika pekeijaan baru muncul serta memerlukan ketrampilan yang baru pula.
Pembaharu-pembaharu pendidikan mulai menekankan perlunya perumusan tujuan pendidikan baru, pendidikan untuk dunia yang sedang
14 Mansour Fakih dalam pengantar, Moh. Roqib, Pendidikan Perempuan, Gema Media dan
33
berubah. Tujuan pendidikan baru merupakan implikasi dari sifat kejiwaan dan juga berimplikasi menjadi masalah utama yang disoroti dalam pembahasan ini. tujuan pendidikan baru, pendidikan untuk menghadapi perubahan menyatakan bahwa ketrampilan nilai-nilai dan sikap yang diperoleh dan dipergunakan pada masa kanak-kanak tidak akan sesuai dengan kehidupan ketika mereka dewasa. Ketrampilan nilai dan sikap yang tidak sesuai itu seperti pengetahuan, hubungan antar perorangan perkembangan diri, kepribadian dan sebagainya.
Teori pendidikan sekarang berubah pendekatannya dari mementingkan ketrampilan peningkatkan tuntutan, bahwa pendidikan secara sadar sepenuhnya membantu dan melicin pertumbuhan diri dan meningkatkan usaha aktualisasi diri. Pendidikan harus mengembangkan individu sebagai bagian proses pertumbuhan menuju kematangan. Dan pendidikan secara kejiwaan mempersiapkan individu untuk menanggulangi ketegangan pribadi sebagai akibat perubahan ekonomi yang cepat, pekerjaan, sosial, dan budaya pertanian. Untuk sekolah harus memungkinkan mereka memperoleh, tidak hanya teknologi dan ketrampilan kerja yang berorientasi pada kota, tetapi juga teknologi dan ketrampilan untuk memperoleh kepuasan hidup di dalam pekerja mereka. 15
Pada satu lagi pendidikan di pandang sebagai suatu variabel modernisasi. Dalam konteks ini pendidikan dianggap merupakan prasyarat dan kondisi yang mutlak bagi masyarakat untuk menjalankan program dan mencapai
15 A.J Cropley, Pendidikan Seum ur H idup Suatu A nalisis Psikologis, Usaha Nasional,
tujuan-tujuan modernisasi. Dalam konteks ini pendidikan dianggap merupakan prasyarat dan kondisi yang mutlak bagi masyakat untuk menjalankan program- program dan mencapai tujuan modernisasi / pembangunan. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat manapun untuk mencapai kemajuan. Karena itu banyak ahb pendidikan yang berpandangan bahwa pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi”
Tetapi pada segi lain, pendidikan sering dianggap sebagai obyek
modernisasi. Dalam konteks ini pendidikan dinegara-negara yang tengah menyalahkan program modernisasi pada umumnya dipandang masih terbelakang dalam berbagai hal dan karena itu sulit diharapkan bisa memenuhi dan mendukung program modernisasi, sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang di pikulkan kepadanya.
Pendidikan dalam masyarakat modem atau masyarakat yang tengah bergerak kearah modem (moJerizing) pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan antara anak didik dan lingkungan sosio kulturalnya yang terus berubah. Dalam banyak hal pendidikan secara sadar digunakan sebagai instrumen untuk pembahan dalam sistem politik dan ekonomi.16
1<’ Azyurmardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan M odernisasi M enuju M illenium Baru,
35 C. Peran Orang Tua dalam Memberi Semangat Terhadap Anak dalam Bersekolah
Perlakuan orang tua yang baik pada anak-anak mereka di maksudkan agar anak-anak berbakti dan taat kepada mereka dengan bertindak bijaksana dalam mengasuh dan mendidik mereka serta menyuruh mereka sesuai dengan kemampuannnya. Perhatian orang tua kepada anak-anak di wujudkan dengan mendidik dan mengajari mereka:
Anak di didik bukanlah dipersiapkan untuk masa kini, melainkan untuk masa depan. Karena mereka bakal menjadi generasi yang hidup dan dewasa di masa mendatang. Rasullah SAW bersabda:
1 ^ ' j ^ ^j ^
Artinya : didiklah anak-anak kalian, sesungguhnya mereka diciptakan menjadi generasi yang berbeda dengan generasi zaman kalian.
Orang tua memiliki kewajiban dalam mendampingi anak dan memberi pengarahan serta pendidikan yang benar.
Agama mengajarkan untuk berlaku adil terhadap semua anak laki-laki maupun perempuan, termasuk adil dalam memberi kesempatan belajarb sesuai dengan potensi, kemampuan, bakat dan minat masing-masing.
Menyuruhnya mengerjakan sholat dan puasa, serta berkata benar dan menyerahkan dirinya dari kejelekan, juga seorang
ayah mestilah mengetahui bahwa kehormatannya tergantung pada kehormatan putrinya dan nama baiknya tergantung pada nama baik putrinya. Hendaklah ia memilih suami yang salih bagi purinya dan menyegerakan perkawinannya bila ia sudah mendapatkan jodoh. Hendaklah sang ayah juga memudahkan maharnya sesuai dengan
kemampuan calon menantunya dan menyelediki agama dan akhlaknya sebelum menyelidiki kedudukan dan hartanya. Itulah kebiasaan orang-orang salih dan cara hidup mereka yang terdahulu.
37
Dari penjelasan diatas kita tahu bahwa rasul telah mencontohkan untuk berlaku adil terhadap anak perempuan kita dan juga anak laki-laki kita, jadi sangat di sayangkan jika seorang ayah dan ibu merasa bahwa anak perempuan merupakan beban bagi keluarga. Apapun bentuknya bahwa anak adalah amanat dari Allah SWT yang harus dijaga dan diberi pendidikan. Hal tersebut diatas sesuai dengan hadis HR. Imam Muslim dan Abu Hurairah berpendapat bahwa bertaqwalah kepada Allah SWT wahai hamba- hamba Allah SWT! Janganlah kalian mengetahui anak-anak kalian! Doakanlah mereka dengan kebaikan! ketahuilah bahwa Allah SWT memberikan manfaat kepada kalian dengan anak-anak kalian baik semasa kalian masih hidup dan sesudah kalian mati.17
Mendidik anak baik laki-laki maupun perempuan dengan pendidikan yang baik, diselamatkan dari siksaan api neraka. Isteri adalah kemuliaan bagi sang suami, tempat menumpahkan kebaikan dan
kasih sayang. Menjalani hubungan kekeluargaan dengan kerabat atau sanak famili dibalas dengan pahala yang berlimpah, memerlakukan pembantu rumah tangga dengan baik.
17 Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Surga Bersama Keluarga, Pustaka Hidayah,
Demikianlah Islam telah menumbuhkan kasih sayang, saling menolong dan keikhlasan dalam keluarga untuk mengatur masyarakat dan
18
mengantarkannya kepada kebaikan, keadilan, kesucian, dan persaudaraan. Keluarga adalah lembaga yang sangat penting proses pengasuhan anak. Meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor, keluarga merupakan unsur yang sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian dan kemampuan anak.
Secara teoritis dapat di pastikan bahwa dalam keluarga yang baik, anak memiliki dasar-dasar pertumbuhan dan perkembangan yang cukup kuat untuk menjadi manusia dewasa.18 19 Nabi Muhammad SAW dalam salah satu Hadist menganjurkan (mewajibkan) agar orang tua berlaku adil dalam mendidik anak. Bahkan kata-kata “secara adil” di ulangnya sampai 3 kali. Ajaran Rasul tersebut merupakan jawaban terhadap struktur sosial dan kultural masyarakat Arab sebelum kedatangan Rasul yang sangat diskriminatif terhadap perempuan. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah pendidikan yang adil bagi anak? Kearah manakah sang anak sebaiknya berkembang? Siapa yang berperan dalam menangani pendidikan sang anak itu, ayah atau Ibu? Kapan masa pengasuhan bagi anak dalam lingkungan keluarga? Adakah hak anak untuk menentukan sendiri tujuan dan proses pendidikannya? Jawaban atas pertanyaan itu bisa di telusuri mulai dari pengertian dasar mengenai pendidikan Islam.
18 Ibid, him 37
19 Drs Fuaduddin Tm, Pengasuhan A nak dalam Keluarga Islam, Lembaga Kajian Agama
39
Istilah yang bisa digunakan untuk menunjukkan pendidikan dalam Islam adalah tarbiyah. Penjelasan yang umum terhadap istilah ini adalah pengasuhan dan pengajaran bagi anak-anak sehingga mencapai tingkat kedewasaan yang optimal. Dalam konsep Islam setiap anak yang terlahir dalam keadaan fitri yaitu potensi bawaan yang dibawa sejak lahir. Potensi tersebut meliputi potensi
* \ »
religius dan rasional (akal). Proses pendidikan pada- dasarnya membantu
mengembangkan potensi yang dimiliki (fitrah) anak agar berkembang secara optimal, sehingga ia mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai kholifah di muka bumi.20
Atas dasar persamaan dan kesetaraan tersebut, maka anak laki-laki sebaiknya tidak hanya diarahkan kepada pendidikan yang sifatnya “maskulin” semata tetapi juga di beri kesempatan memperoleh pendidikan yang bersifat “feminim” seperti kesenian dan sebagainya. Sebaiknya anak perempuan juga tidak hanya diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang sifatnya “feminim”, tetapi juga bersifat “maskulin”. Dalam sistem pendidikan formal anak laki-laki diberi kesempatan memasuki sekolah yang selama ini hanya terbatas perempuan, sebaliknya perempuan juga diberi kesempatan untuk memasuki pendidikan yang selama ini terbatas untuk pria. Dengan upaya demikian diharapkan teijadi keseimbangan antara pendidikan “olah rasio” dengan pendidikan “olah rasa” baik dikalangan anak laki-laki maupun perempuan.
Pendidikan adil orang tua terhadap anak-anaknya dalam pendidikan, berarti terbukanya kesempatan anak untuk mendialogkan jenis dan program pendidikan yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat masing-masing. Artinya sebaiknya secara demokratis setiap anak berkesempatan untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya, kultur yang berkembang selama
% 'T •
ini orang tua memiliki kekuasan sepenuhnya untuk menentukan pendidikan anaknya / lebih ironis lagi. Bila ternyata dalam pemberian kesempatan belajar tersebut bersifat diskriminatii, lebih mementingkan antara laki-laki dan perempuan.
Rasullah SAW menekankan agar berlaku adil, tidak diskriminatif antara laki-laki dan perempuan dalam memberikan berbagai jenis pendidikan dan keterampilan.
Pendidikan dimaksud tidak hanya berlangsung dalam lingkungan
41
Pentingnya pendidikan orang tua kepada anak-anak sering kali digambarkan oleh Nabi bukan hanya dalam konteks keteladanan dan kasih sayang (akhlak dan moral) tetapi juga oleh rasio.
Anak lahir dalam keadaan fitrah keluarga dan lingkungan anaklah yang mempengaruhi dan membentuk kepribadian perilaku dan kecenderungannya
'. M.
sesuai dengan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi pengaruh yang kuat dan cukup langgeng adalah kejadian dan pengalaman pada masa kecil sang anak yang tumbuh disuasana keluarga yang ia tempati.
Pada masa sekarang ini, pengaruh keluarga melemah dikarenakan perubahan sosial, politik dan budaya yang teijadi. Keadaan ini memiliki andil yang besar terhadap terbebasnya anak dalam kekuasaan orang tua. Keluarga telah kehilangan fungsinya dalam pendidikan sebagai tanggung jawab keluarga beralih kepada orang tua yang menggeluti profesi tertentu.21
Keluarga memiliki peranan yang besar dalam mendidik dan mempengaruhi anak-anaknya.
Dari sinilah kita menyimpulkan bahwa kesuksesan atau kegagalan seorang kembali pada pendidikan dimana anak mendapatkan pada masa kecilnya dan ini merupakan tanggung jawab keluarga pendidikan anak bertanggung jawab sejauh mana keija sama antara sekolah dan keluarga, guru dan orang tua. Disamping itu adalah kewajiban negara untuk mengangkut standar kehidupan
21 M a’aruf Zurayk, Bim bingan Praktis M endidik A nak M enuju Rem aja A ku dan A nakku,
keluarga pada umunya. Islam mengajarkan agar anak perempuan dan laki-laki diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi, bakat dan minat masing-masing. Mereka harus diperlakukan dengan adil dan tidak diskriminatif. Nabi secara tegas mewajibkan setiap muslim laki-laki dan perempuan menuntut ilmu.22
4. Komitmen Menyekolahkan Anak
Keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga teijadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri.
Keluarga dikatakan “utuh”, apabila lengkap anggotanya, juga dirasakan
lengkap oleh anggotanya terutama anak-anaknya jika dalam keluarga terjadi kesengajaan hubungan, perlu diimbangi dengan kualitas dan intensitas hubungan sehingga ketidakadaan ayah dan ibu dirumah tetap dirasakan kehadirannya dan dihayati secara spikologis ini diperlukan agar pengaruh, arahan, bimbingan dan sistem nilai yang direalisasikan orang tua senantiasa tetap dihormati mewarnai sikap dan pula perilaku anaknya. Dengan perkataan lain, setiap pendidikan yang diupayakan orang tua harus senantiasa dipertautkan dengan dunia anak. Dengan demikian setiap peristiwa yang teijadi tidak boleh dilihat sepihak dari sudut pendidikan, tetapi harus dipandang sebagai “pertemuan” antara pendidikan dan anak didik dalam situasi pendidikan. Disamping itu orang tua perlu mendasarkan
22
43
diri pada sikap saling mempercayai dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri atas dasar sikap saling mempercayai mereka akan merasa memiliki kebebasan berkreatifitas guna mengembangkan diri masing-masing.23
a). Tanggung Jawab Orang tua Terhadap Lingkungan Anak
Pada hakekatnya, para orangtua mempunyai harapan agar anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, dapat membedakan apa yang baik dan yang tidak baik, tidak mudah terjerumus dalam perbuatan- perbuatan yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun merugikan orang lain. Harapan-harapan ini kiranya akan lebih mudah terwujud apabila sejak semula, orang tua telah menyadari akan peranan mereka sebagai orang tua yang besar
pengaruhnya terjadap perkembangan moral anak.
Seorang anak kecil sulit diharapkan untuk dengan sendirinya bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku, mengerti apa yang dituntut lingkungan terhadap dirinya dan sebagainya. Aspek moral seorang anak merupakan sesuatu yang berkembang dan dikembangkan. Artinya bagaimana anak itu akan bertingkah laku sesuai atau tidak sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku semua itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan anak sehingga ikut memperkembangkan secara langsung ataupun tidak langsung, aspek moral ini. Karena faktor lingkungan besar sekali pengaruhnya terhadap
23 Moh. Shochib, Pola A suh Orangtua dalam M embantu A nak mengem bangkan Disiplin
perkembangan moral anak, namun karena lingkungan pertama yang dikenal anak
/
dalam kehidupannya adalah orangtuanya, maka peran orangtualah yang dirasa paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan moral anak, disamping pengaruhnya lingkungan lainnya seperti sekolah dan masyarakat.
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup tanpa masyarakat (lingkungan), kepribadian seorang individu tidak dapat berkembang : demikian pula halnya dengan aspek moral pada anak. Nilai-nilai moral yang dimiliki seorang anak lebih merupakan sesuatu yang diperoleh anak dari luar. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik dan tingkah laku sehingga bagaimana yang dikatakan salah atau tidak baik. Lingkungan ini dapat berarti orangtua, saudara-saudara, teman-teman, guru-guru dan sebagainya.
Adapun beberapa sikap orangtua yang perlu mendapatkan perhatian, guna perkembangan moral anaknya adalah :
1. Konsistensi dalam Mendidik dan Mengajar Anak-anak.
Suatu tingkahlaku anak yang dilarang oleh orangtua pada suatu waktu harus pula dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu yang lain. Harus ada konsistensi dalam h a l: apa yang mendatangkan pujian atau hukuman anak.
45
Sikap ayah terhadap ibu atau sikap ibu terhadap ayah, bagaimana sikap orangtua saudara dan terhadap orang-orang disekeliling merupakan contoh nyata yang dapat dilihat anak setiap hari.
3. Penghayatan Orang Tua Akan Agama Yang Dianutnya.
Orang tua yang sungguh-sungguh menghayati kepercayaannya kepada Tuhan akan mempengaruhi sikap dan tindakan mereka sehari-hari.
4. Sikap Konsekuan Dari Orang Tua Dalam Mendisiplin Anaknya.
Orang yang tidak menghendaki anaknya untuk berbuat, bersikap tidak jujur harus pula ditunjukkan dalam sikap orangtua sendiri dalam kehidupan
sehari-hari.24
Kita harus memandang anak sebagai makhluk sosial dengan segala sesuatu yang mereka lakukan bertujuan untuk mendapatkan tempat dalam kelompok-kelompok yang penting bagi mereka. Keinginan untuk ikut berperan- serta, untuk dapat diterima dalam kelompoknya adalah motivasi pokok yang berada dibelakang perilakunya.
Anak-anak tidak berkembang secara tepi sah dari anggota komunitas yang lain. Seluruh perilakunya, ungkapan bahasanya pola bermainnya, emosinya dan keterampilannya dipelajari dan dikembangkan dalam situasi sosial yang melingkupinya: rumah, sekolah, dan masyarakat sekitarnya.
24 Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan A nak dan
Tidak ada sesuatu yang lebih penting dalam hidup ini selain keluarga yang asli, karena disinilah dasar kepribadian anak di bentuk. Menurut transaksi yang berlaku didalam keluarga, anak-anak membentuk gagasan-gagasan (pikiran) tentang kehidupan bagi dirinya sendiri untuk berhubungan dengan orang lain, suatu cita-cita yang akan membentuk prinsip-prinsip yang menuntun hidup mereka sepanjang hayat.23
Anak pada usia 0-3 tahun, anak belum mampu berfikir mengapa suatu tingkah laku itu dikatakan baik atau tidak baik, benar atau salah.
Pada masa ini, anak melihat orangtua sebagai otoritas yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Apa yang ditentukan oleh orangtua harus dituntut oleh anak menyadari hal ini, orangtua berperan besar dalam membimbing dan mengarahkan tingkah laku anak. Pada masa anak usia 3-6 tahun, anak sudah memiliki dasar-dasar dari sikap-sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya. Peran orangtua sangat besar dalam mendisiplin anak untuk berbuat baik pada usia 5-6 tahun, penanaman konsep-konsep moralitas pada anak-anak.
Ini mungkin mengalami kesulitan disebabkan kama sifat-sifat egoisme anak yang sedang menonjol pada masa ini.
Pada anak usia 6 tahun sampai remaja, anak sudah memasuki sekolah yang berarti bahwa lingkungan kehidupan anak juga bertambah luas. Anak mulai mengenal adanya kelompok sosial yang lain disamping keluarganya. Baik anak 25
25 Maurice Balson, Bagaim ana O rangtua yang Baik, Terjemah Hm. Arifin, Bumi Aksara,
47
laki-laki maupun perempuan, belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.26 27
Disiplin diri anak merupakan prosduk disiplin kepemilikan disiplin memerlukan proses belajar pada awal proses belajar perlu ada upaya orangtua. Hal ini dapat dilakukan dengan cara.
1. Melatih
2. Membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai berdasarkan acuan moral. Jika anak telah berlatih dan terbiasa berperilaku sesuai dengan nilai- nilai moral
3. Perlu adanya kontrol orangtua untuk mengembangkannya.
Ketiga upaya ini dinamakan kontrol eksternal kontrol yang berkonsumsi
demokrasi dan keterbukaan ini memudahkan anak yuang diutamakan dan bagaimana nilai tersebut menjadi fondasi terhadap nilai moral lainnya.2
Kemampuan untuk mengarahkan dirinya dan kemampuan untuk merealisasi sesuai kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan sehingga ia dapat menikmati hidup dengan bahagia,
b). Upaya Pemberdayaan Anak kehal-hal yang Positif
Anak adalah karunia Allah SWT sebagai hasil perkawinan antara ayah dan ibu. dalam kondisi normal ia adalah buah hati belahan jantung tempat bergantung dihari tua, generasi penerus cita-cita orangtua.
26 Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Op Cit, him 66-69
Pada sisi lain anak juga merupakan amanat untuk diasuh, dibesarkan dan di didik sesuai tujuan kejadiannya yaitu “mengabdi kepada sang pencipta”. Bila orang tua tidak melaksanakan kewajibannya, kemungkinan anak akan menjadi fitnah. Kata “fitnah” memiliki makna sangat negatif seperti : beban orangtuanya, beban masyarakat, sumber kejahatan, permusuhan, perkelahian dan
* • • • sebagainya.28
Pengasuh anak orang tua menurut pesan Rasul sebaiknya dilakukan dengan berbagai bentuk permainan yang positif orangtua dapat membangun kedekatan hubungan dengan anak dan secara bersamaan itu sendiri bukanlah akhir dari tujuan pengasuhan, melainkan hanya pendekatan agar anak memiliki gairah
dalam mengikuti proses pengasuhan menuju kepribadian yang saleh.29
Keteladanan yang baik memiliki pengaruh yang cukup besar ada diri seorang anak. Anak akan selalu meniru tabiat orangtuanya hingga orangtualah yang akan pertama kali mencetak menjadi apa saja yang diajarkan orangtuanya melalui perilaku diri mereka sendiri. Pengaruh ini akan sangat kuat berkesan dalam diri anak. Seperti hadis Nabi Muhammad
Artinya : Maka orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Majusi, atau Nasrani.
2X Fuadudin, Op.Cit, him. 25