• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.12. Analisa Dan Pembahasan

Setiap produk memiliki karakteristik kualitas yang berbeda – beda sesuai dengan standart tertentu yang telah ditetapkan. Produk Health Matras Motif yang diproduksi oleh PT. HILON yang menjadi fokus penelitian tugas akhir ini, tentunya juga mempunyai karakteristik kualitas tersendiri. Karakteristik kualitas (CTQ) ini merupakan atribut yang paling penting bagi perusahaan guna peningkatan kualitas lebih lanjut. Karakteristik kualitas (CTQ) yang didapat pada penelitian ada 6 jenis yaitu jahitan tidak rata, dimensi matras tidak sesuai, kain kotor, motif sablon buram / luntur, logo tidak simetris, isi matras / padding tidak merata.

Dari tabel 4.3 pada penelitian ini diketahui jumlah cacat dari jenis defect pada Health Matras Motif selama periode 3 bulan adalah Jahitan tidak rata terdapat 14 dengan prosentase sebesar 30.43 %, Dimensi matras tidak sesuai terdapat 7 dengan prosentase sebesar 15.22%, Kain kotor terdapat 8 dengan prosentase sebesar 17.39%, Motif sablon buram / luntur terdapat 8 dengan

prosentase sebesar 17.39 %, Logo tidak simetris terdapat 5 dengan prosentase sebesar 10.87 %, dan Isi matras / padding tidak merata terdapat 4 dengan prosentase sebesar 8.70 %. Jenis kecacatan yang terbesar pada produksi Health Matras Motif ini adalah pada jenis kecacatan Jahitan tidak rata dari total cacat selama periode 3 bulan dengan jumlah cacat sebesar 14 dengan prosentase sebesar 30.43 %.

Berdasarkan hasil identifikasi dengan menggunakan Fishbone diagram penyebab defect pada produksi Health Matras Motif didapatkan sumber dan akar penyebab masalah sebagai berikut :

1. Manusia

Skill dan pengalaman operator sangat penting dalam melaksanakan tugasnya. Karena dengan skill dan pengalaman yang dimiliki oleh operator atau pekerja tersebut, maka secara otomatis kesalahan terhadap pengerjaan suatu produk akan berkurang dan jumlah cacat yang timbul dapat diminimalkan. Operator harus memiliki kedisiplinan, ketelitian yang tinggi, dan kepekaan / kecepat tanggapan terhadap suatu masalah agar hasil yang didapat bisa optimal. Mengadakan pelatihan untuk operator merupakan langkah yang tepat dalam upaya meningkatkan skill dan kemampuan mereka. Dari beberapa hal diatas amat sangat berperan dalam meningkatkan produktifitas para operator atau pekerja secara tidak langsung. Skill manusia yang dibutuhkan disini dalam kaitannya dengan setting mesin serta penggunaan material yang harus dipahami oleh operator. Kecerobohan serta kurangnya konsentrasi juga dapat menimbulkan operator tidak fokus pada pekerjaan yang dijalankannya yang nantinya akan berpengaruh dalam kualitas produk.

2. Mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan merupakan hal yang paling utama dalam proses produksi. Set up mesin, Keausan mesin, masa ketahanan komponen-komponen mesin seperti jarum, pisau potong, dll, kurangnya perawatan mesin, adanya kotoran yang terdapat pada mesin, serta hal – hal lain yang dapat menghambat berjalannya proses produksi maupun pada tiap tahapan proses mengakibatkan timbulnya defect pada produk. seperti misalnya pada jarum jahit yang patah akan menyebabkan jahitan tidak merata dan pisau yang sudah tidak tajam akan mengakibatkan pemotongan tidak presisi / tidak sesuai ukuran yang ditentukan. Begitu pula dengan kondisi peralatan yang tidak dirawat juga dapat menghambat proses produksi yang memungkinkan akan terjadinya kemacetan mesin sehingga menyebabkan defect produk, oleh karena itu diharapkan mesin dan peralatan yang digunakan harus dirawat dan diperbaiki secara berkala. 3. Metode

Metode kerja yang dapat menyebabkan kecacatan matras adalah penggunaan material yang tidak sesuai prosedur (pada bagian gudang), maupun kesalahan prosedur kerja harus diperhatikan oleh operator agar didapatkan matras yang memiliki mutu yang baik.

4. Material

Jenis bahan baku yang mempunyai kualitas berbeda dapat mempengaruhi produk yang dihasilkan. Bahan baku yang kurang baik akan menyebabkan produk memiliki kualitas yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. dan dalam pencampuran bahan baku dalam membuat suatu produk

komposisi atau takaran tiap bahan harus sesuai agar dapat menghasilkan produk dengan mutu yang baik.

5. Lingkungan Kerja

Ruangan yang tidak bersih, panas dan kurang cahaya membuat karyawan atau pekerja kurang nyaman dalam bekerja, cepat menimbulkan kelelahan atau penurunan kondisi fisik yang akan mengurangi ketelitian dalam bekerja.

Berdasarkan perhitungan pada tabel 4.17. yang merupakan tabel perbandingan kecacatan Health Matras Motif sebelum dan sesudah usulan perbaikan. Terdapat 3 jenis kecacatan yang telah mengalami penurunan, yakni pada jahitan tidak merata sebesar 0.19% , kain kotor sebesar 0.06% dan motif sablon buram atau luntur sebesar 0.06%. Untuk dimensi matras yang tidak sesuai masih tidak mengalami perubahan. Untuk cacat pada logo tidak simetris mengalami kenaikan sebesar 0.07% dan isi matras / padding tidak merata 0.07%. dan kenaikkan ini terjadi karena masih kurang optimalnya perbaikan dalam menurunkan tingkat kecacatan produk yang ada pada bagian mesin, material dan manusia / operatornya. Namun tetap ada peningkatan dalam meminimalisasi kecacatan produk health matras motif tersebut.

Dan standart yang ditetapkan berdasarkan penelitian ini yaitu prosentase kecacatan tidak lebih dari 2.9%. Dan untuk bisa memenuhi standart yang ditetapkan berdasarkan penelitian ini atau setidak - tidaknya dapat menurunkan defect produk seminimal mungkin, maka harus dilakukan perbaikan secara terus menerus (continous) dengan pengaplikasian metode QCC (Quality Control Circle).

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini guna mencapai tujuan perbaikan dari permasalahan yang ada, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Faktor – faktor penyebab kecacatan atau defect produk health matras motif berdasarkan fishbone diagram jenis kecacatan yaitu:

1) Jahitan tidak rata : disebabkan oleh mesin, manusia, dan lingkungan. 2) Dimensi matras tidak sesuai : disebabkan oleh mesin, manusia, dan

material.

3) Kain kotor : disebabkan oleh material, manusia, lingkungan dan metode. 4) Motif sablon buram / luntur : disebabkan oleh mesin, material, dan

manusia.

5) Logo tidak simetris : disebabkan oleh manusia, mesin, lingkungan.

6) Isi matras / padding tidak merata : disebabkan oleh manusia, mesin, material, dan lingkungan.

2. Hasil Analisa Dan Usulan Perbaikan Kecacatan Produk Health Matras Motif. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan adanya penurunan persentase cacat sebesar 0,12% yang terjadi sebelum dan sesudah perbaikan Health Matras Motif. Jenis kecacatan yang mengalami penurunan yakni pada jahitan tidak merata sebesar 0.19% , kain kotor sebesar 0.06% dan motif sablon buram atau luntur sebesar 0.06%. Untuk dimensi matras yang

simetris mengalami kenaikan sebesar 0.07% dan isi matras / padding tidak merata 0.07%. Kenaikkan ini menunjukkan masih adanya hal yang kurang optimal dalam menrunkan tingkat kecacatan produk yang ada. Namun tetap ada peningkatan dalam meminimalisasi kecacatan produk health matras motif tersebut.

5.2 Sar an

Untuk mencapai target defect yang sekecil mungkin, maka perusahaan sebaiknya selalu memperhatikan dan perlu terus melakukan evaluasi. Dan berdasarkan hasil dari penelitian ini maka peneliti memberikan suatu usulan perbaikan ditujukan pada bagian mesin, operator, material, metode, dan lingkungan sebagai berikut :

1. Mesin : kontrol mesin, penggantian spare part, membuat schedule maintenance dan melakukan perawatan berkala. Setting mesin sesuai prosedur dan check mesin sebelum berjalan.

2. Material : menempatkan staff khusus bagian quality control untuk mengontrol dan memperketat pemilihan bahan baku.

3. Manusia / Operator : mengadakan pelatihan untuk operator , memberikan peringatan/sanksi/punisment kepada operator yang melakukan kesalahan serta memberikan reward yang ditentukan oleh pihak management guna memotivasi karyawan dalam bekerja, dan mengadakan check up kesehatan berkala terutama pada operator produksi.

4. Metode : pengarahan tentang prosedur kerja yang baik yaitu dengan menentukan dan menetapkan prosedur operasional kerja lebih baik dan

lebih jelas (terperinci) dengan memberikan print out akan petunjuk kerja (SOP) pada masing-masing mesin

5. Lingkungan : membuat tempat khusus yang lebih terang, nyaman, tidak bising, dan bersih yaitu dengan melakukan penambahan lampu, penambah blower, ekhaust agar sirkulasi udara lebih lancer (tidak pengap), merawat mesin untuk menurunkan getaran yang menimbulkan kebisingan, jadwal rutin membersihkan ruangan dan mesin.

Cavanagh, Peter S. Pande, Robert P.Neuman, The Six Sigma Way”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002

Crocker, Olga L. Gugus Kendali Mutu (Pedoman, Partisipasi dan Produktivitas), Bumi Aksara, Jakarta, 2004

Deny Kristiawan; NIM : 1.03.00.067, Pencapaian kualitas, Team QCC, Siklus PDCA, Tujuh Alat Bantu. Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, UNIKOM.2004-10-07

Fajar, Primadi Achmad ; NIM : 1.03.00.103, Pencapaian kualitas, Team QCC, Siklus PDCA, Tujuh Alat Bantu. Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, UNIKOM.2005-09-05

Gaspersz Vincent, Pedoman Implementasi Six Sigma, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2002

Montgomery, Douglas C. (1995), Pengendalian Kualitas Statistik, Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Nasution Drs. M. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management)”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002

Purnama, Nursya’bani, Manajemen Kualitas Perspektif Global, Bumi Aksara, Jakarta

Soejanto, Irwan. Rekayasa Kualitas “Eksperimen dengan Teknik Taguchi”, Yayasan Humaniora, Surabaya, 2007

Sudjana, Metode Statistika, Tarsito, Bandung, 2002

Tjiptono, F., dan A. Diana (2001), Total Quality Management, Edisi Revisi, Yogyakarta : Andi Yogyakarta

Wignjoesoebroto, Sritomo. Pengantar Taknik dan manajemen Industri, Guna Widya, Jakarta, 2003

Dokumen terkait