• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: KONSEP PEMBUKTIAN DALAM UPAYA KEBERATAN

D. Pembuktian Perkara Persaingan Usaha di KPPU

3. Analisa Hukum Pembuktian

3.3. Analisa Hukum Pembuktian di Pengadilan Negeri

Setelah mempelajari pembuktian yang riil dalam kasus tender yang menjadi kajian penulis dalam skripsi ini, terdapat pula yang menjadi sorotan penulis terkait hal-hal teknis dan normatif terkait pembuktian di Pengadilan Negeri itu sendiri sebagai upaya keberatan atas putusan KPPU. Yang penulis maksudkan dengan hal teknis salah satunya bahwasanya pertimbangan putusan KPPU atas adanya pelanggaran Undang-Undang persaingan usaha tidak sehat sarat dengan pertimbangan dan perhitungan aspek ekonomi, yang mana hal ini tidak dimiliki oleh para hakim yang berlatar belakang pendidikan hukum. Maka sebenarnya diperlukan syarat keahlian dan pengalaman khusus baik dibidang hukum maupun ekonomi. Kemudian, yang penulis maksudkan dengan hal normatif adalah bahwa pada pemeriksaan/mekanisme pembuktian keberatan terhadap putusan KPPU, Pengadilan Negeri tampaknya tidak benar-benar bertindak sebagai judex factie.

Pembuktian keberatan di Pengadilan Negeri hanya berdasarkan kepada putusan

173 Ibid.

KPPU beserta berkas perkara yang disampaikan KPPU kepada Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Hal tersebut tentunya sangat merugikan pelaku usaha karena eksistensi asas “due process of law” menjadi dipertanyakan di Pengadilan Negeri.

Hal tersebut juga menjadi sejalan dengan bukti tidak langsung yang juga sudah dibahas dalam bab sebelumnya. Bahwa dalam perkara persaingan usaha dimungkinkan adanya bukti tidak langsung (indirect evidence) yang mungkin saja baru ditemukan pasca putusan KPPU dan tidak termasuk dalam berkas perkara ataupun bagian dari putusan KPPU tersebut.

Permasalahan tersebut juga kemudian berkaitan dengan jangka waktu 30 hari untuk melakukan pemeriksaan atas perkara keberatan yang diajukan. Mungkin dapat diterima jika dikatakan bahwa pemilihan jangka waktu yang singkat ini pada awalnya lebih didasari agar Pengadilan Negeri dalam memeriksa perkara persaingan usaha lebih efektif dan tidak berlarut-larut.174 Namun sebagai konteks judex factie juga harus disadari bahwa perkara persaingan usaha adalah perkara yang rumit, kompleks, dan membutuhkan pandangan yang luas. Sehingga menurut penulis, akses untuk memberikan bukti dalam mekanisme pembuktiannya harus dibuka seluas-luasnya. Disisi lain, memang benar bahwa Perkom No. 1 Tahun 2010 mengatur apabila Pengadilan Negeri merasa perlu bahwa berkas-berkas perkara tersebut kurang lengkap dan dipandang perlu untuk dilengkapi dapat dilakukan melalui proses pemeriksaan tambahan. Namun yang perlu dicatat pula bahwa pemeriksaan tambahan tersebut tidak diperiksa oleh Pengadilan Negeri secara langsung sebagai judex factie, melainkan hanya memerintahkan melalui putusan sela dan kemudian KPPU juga yang akan melakukan pemeriksaan tambahan.175

174 Ibid, hlm. 626.

175 Pasal 6 ayat 1 Perma Nomor 3 Tahun 2005.

Namun untungnya kekurangan tersebut telah disadari oleh Mahkamah Agung dan pada Perma yang baru yakni Perma No. 3 Tahun 2019 tidak ada lagi pemeriksaan tambahan176

Maka sebagai kesimpulan, jelas bahwa peran Pengadilan Negeri sebagai pengadilan atas upaya keberatan terkait putusan KPPU hanya sebatas putusan KPPU itu sendiri, antara lain:177

1. Me-review seluruh proses pemeriksaan komisi dalam mengambil putusan, tetapi tidak mempertimbangkan bukti baru (no-vum).

2. Memeriksa apakah dasar kesimpulan yang diambil oleh komisi berdasarkan fakta yang sudah benar, wajar, dan rasional.

3. Me-review kesimpulan putusan komisi terhadap penerapan hukum.

4. Menguatkan putusan komisi bahwa putusan itu tepat dan rasional.

4. Tabel Matriks Putusan KPPU yang Diajukan Keberatan dan Inkracht Van Gewijsde178 di Pengadilan Negeri Tahun 2011 sampai 2017

No Hal Terlapor

Putusan KPPU Putusan Pengadilan Negeri

Nomor Amar Nomor Amar https://www.kamusbesar.com/inkracht-van-gewijsde pada 1 September 2020.

Sanggau,

5 Pekerjaan

Jalan Nasional Wilayah I Propinsi Sumatera Utara

Berdasarkan beberapa kasus persaingan usaha diatas yang diajukan keberatan dan kemudian hingga berkekuatan hukum tetap di Pengadilan Negeri, menunjukkan bahwa peran Pengadilan Negeri pada dasarnya sangat penting dalam hal sebuah kasus persaingan usaha. Putusan yang awalnya telah diberikan oleh KPPU sebagai lembaga yang diamanahkan oleh UU kemudian dapat diuji lagi oleh Pengadilan Negeri. Dalam hal ini Pengadilan Negeri179 dapat: (1) Menguatkan putusan KPPU, (2) Membatalkan putusan KPPU, bahkan (3) Membuat putusan sendiri. Hal tersebut kemudian tampak nyata dalam beberapa kasus di tabel diatas bahwa terdapat putusan KPPU yang tidak diterima, dikuatkan, bahkan terdapat perubahan terhadap beberapa poin putusannya. Hal tersebut tentunya semakin menunjukkan pentingnya mencermati lebih dalam terkait proses penyelesaian kasus persaingan usaha di Pengadilan Negeri itu sendiri. Dalam hal ini yang menjadi topik utama dalam kajian skripsi ini yakni perihal pembuktian. Maka dari itu poin ini pun sejalan dengan dengan seluruh rangkaian pembahasan sebelumnya bahwa pembuktian di Pengadilan Negeri sebagai upaya keberatan atas putusan KPPU harus dijamin pelaksanaannya berdasarkan due proccess of law.

Sehingga dari seluruh penjelasan diatas terkait analisa hukum pembuktian dalam putusan Pengadilan Negeri No. 708/PDT.SUS-KPPU/2016/PN MDN

179 Osgar S. Matompo, Op. Cit.

sebagai upaya keberatan terhadap putusan KPPU terkait perkara persaingan usaha bahwa perkara ini berawal dari tingkat KPPU yang membuktikan dalam putusannya adanya pelanggaran atas Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999. Dalam hal pembuktian di KPPU juga perlu diperhatikan secara spesifik bahwa laporan dalam kasus ini adalah laporan biasa tanpa tuntutan ganti rugi. Sehingga Komisi wajib merahasiakan identitas pelapor. Namun dalam proses pembuktiannya tetap berdasarkan alat bukti sah yang diakui oleh Undang-Undang, meliputi: keterangan saksi; keterangan ahli, surat dan atau dokumen, petunjuk, dan keterangan pelaku usaha. Dan keseluruhan alat bukti tersebut juga terdapat dalam kasus ini di tingkat pemeriksaan KPPU dimulai dari pemeriksaan pendahuluan, pemeriksaan lanjutan hingga pada akhirnya dijatuhkan putusan oleh KPPU. Hingga kemudian sampai kepada Pembuktian di Pengadilan Negeri atas Putusan Nomor 708/Pdt.Sus-KPPU/2016/PN-Mdn sebagai Upaya Keberatan terhadap Putusan KPPU. Pada tingkatan Pengadilan Negeri dalam putusannya juga semakin dipertegas bahwa unsur-unsur Pasal 22 telah terpenuhi dalam kasus ini. Hal yang juga sangat penting bahwa dalam kasus ini, pembuktian sudah dapat tercapai dengan menggunakan alat bukti langsung.

Sehingga dalam pertimbangannya bahkan dalam putusannya, baik KPPU dan Pengadilan Negeri tidak menyinggung adanya bukti tidak langsung (indirect evidence). Karena jika dilihat pula pada Perkom No. 1 Tahun 2010 yang menjadi dasar saat putusan ini diputuskan belum diadopsi bukti tidak langsung. Bukti tidak langsung ini baru diadopsi dalam Perkom No. 1 Tahun 2019 sebagai turunan dari OECD atas dasar kebutuhan hukum persaingan usaha.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik 3 kesimpulan, yakni sebagai berikut:

1. Konsep pembuktian dalam konsep negara hukum adalah pembuktian dengan mengedepankan prinsip due process of law yang menjamin adanya keadilan dan keseimbangan bagi para pihak melalui mekanisme pembuktiannya baik dalam hukum pidana maupun perdata. Pada dasarnya dalam penerapan pembuktian sesuai due process of law juga harus memperhatikan mekanisme pembuktian tersebut dalam konteks peradilan di Indonesia, yakni: judex factie yang berwenang memeriksa bukti-bukti dari suatu perkara dan menentukan fakta-fakta dari perkara serta judex juris yang berwenang memeriksa penerapan hukum dari suatu perkara yang telah dilakukan oleh judex factie.

2. Konsep pembuktian dalam upaya keberatan dalam perkara persaingan usaha berlangsung dari tahap KPPU yang mempunyai wewenang berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 untuk melakukan penegakan hukum persaingan usaha dimulai dari laporan hingga putusan. Kemudian berlanjut kepada upaya keberatan di Pengadilan Negeri yang berlangsung dari pengajuan melalui kepaniteraan. Kemudian berlanjut lagi pada tahapan pemeriksaan atas dasar putusan KPPU dan berkas perkaranya. Adapun yang juga perlu diperhatikan dalam hal pembuktian adalah penggunaan alat bukti yang sah sesuai dengan

hukum persaingan usaha yang diatur dalam UU No. 5 tahun 1999 yang meliputi alat bukti langsung: keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan atau dokumen, petunjuk, dan keterangan pelaku usaha. Sedangkan pengaturan alat bukti tidak langsung belum diatur secara eksplisit dalam Undang-undang, namun dalam Perkom No. 1 Tahun 2019 sebagai turunan dari pengaturan bukti tidak langsung oleh OECD.

3. Dalam hal Hukum Pembuktian dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor 708/Pdt.Sus-KPPU/2016/PN-Mdn sebagai upaya keberatan terhadap putusan KPPU atas perkara No. 18/KPPU-L/2015 dipertegas bahwa unsur-unsur Pasal 22 telah terpenuhi, yang terdiri atas: unsur-unsur pelaku usaha, unsur-unsur bersekongkol, unsur pihak lain, unsur mengatur/menentukan pemenang tender, dan unsur persaingan usaha tidak sehat. Lebih jauh lagi, yang harus diperhatikan dalam hal pembuktiannya adalah: tidak dimungkinkan lagi pengajuan bukti baru dan/atau bukti tambahan, tidak dilakukannya pemeriksaan dalam hal pembuktian secara langsung in persoon namun hanya menjatuhkan putusan sela untuk pemeriksaan tambahan oleh KPPU, jaminan prinsip “Due Process of Law” sesuai UU No. 5 Tahun 1999 j.o Perkom No. 1 Tahun 2010, penggunaan fakta dan bukti yang sah sebagai dasar memutus perkara a quo, dan pemberian sanksi berdasarkan Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999.

B. Saran

Sehubungan dengan penulisan skripsi ini, terdapat 3 saran yang dapat penulis sampaikan, yakni sebagai berikut:

1. Dalam hal mewujudkan konsep pembuktian sesuai dengan konsep negara hukum, penulis menyarankan agar konsep pembuktian dalam konsep negara hukum tersebut harus menjadi landasan utama dalam konsiderasi pembentukan konsep pembuktian dalam berbagai peraturan perundang-undangan, termasuk dalam peraturan perundang-undangan terkait hukum persaingan usaha. Sehingga pada akhirnya kosep pembuktian dalam hukum persaingan usaha tetap mencerminkan konsep pembuktian dalam konsep negara hukum. Maka dari itu, baik para legislator yang akan membuat Undang-undang, Mahkamah Agung yang akan membuat Peraturan Mahkamah Agung, bahkan KPPU dalam membuat Peraturan Komisi yang terkait dengan pembuktian hukum persaingan usaha harus menjaga eksistensi asas due process of law sebagai negara hukum.

2. Konsep pembuktian dalam upaya keberatan di Pengadilan Negeri dalam perkara persaingan usaha pada dasarnya harus mencerminkan asas due process of law. Dalam mencapai hal tersebut tentunya dalam hal pembuktian sudah seharusnya diberikan akses pembuktian yang seluas-luasnya sesuai dengan kedudukan Pengadilan Negeri sebagai judex factie. Maka dari itu penulis menyarankan agar Mahkamah Agung dalam peraturannya mengatur dengan jelas Pengadilan Negeri dalam hal menangani upaya keberatan atas putusan KPPU mengakomodasi bukti baru selain putusan KPPU dan berkas perkaranya, termasuk indirect evidence demi terangnya pembuktian sebuah perkara tersebut. Konkretnya dapat dilakukan dengen merevisi Perma No. 1 Tahun 2019 saat ini dan memasukkan norma tersebut dalam Perma yang baru nantinya.

3. Dalam hal pembuktian di Pengadilan Negeri terkait upaya keberatan atas putusan KPPU diperlukan mekanisme yang menyeluruh sehingga dapat menghasilkan putusan yang mengakomodasi keadilan, kepastian, dan kemanfaatan hukum. Maka dalam konteks ini penulis menyarankan untuk menguatkan eksistensi hakim Pengadilan Negeri untuk memeriksa secara langsung perkara persaingan usaha dalam upaya keberatan yang dihadapkan kepadanya. Hal tersebut tentunya juga sejalan sebagai konsekuensi logis atas posisinya sebagai judex factie. Adapun pemeriksaan secara langsung yang penulis maksudkan adalah dalam hal Majelis Hakim berpendapat perlu pemeriksaan lebih lanjut terkait perkara persaingan usaha yang sedang ditangani yang tidak dapat dipenuhi hanya atas dasar putusan KPPU dan berkas perkaranya. Secara konkret hal tersebut dapat diatur melalui Peraturan Mahkamah Agung dengan merevisi Perma No. 3 Tahun 2019 yang ada saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Ali, Achmad, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, Jakarta: Kencana, 2012.

Arto, H. A. Mukti, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2008.

Asnawi, Natsir, Hukum Acara Perdata: Teori, Praktik dan Permasalahannya di Peradilan Umum dan Peradilan Agama, Yogtakarta: UII Press, 2016.

Asshiddiqie, Jimly, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Jakarta: Konpress, 2006.

Assidiqie, Jimly, Konstitusi dan Konstitusinalisme, Jakarta: Konstitusi Press, 2005.

Bakhri, Syaiful, Dinamika Hukum Pembuktian dalam Capaian Keadilan, Depok:

Raja Grafindo Persada, 2018.

Bakhri, Syaiful, Hukum Pembuktian Dalam Praktik Peradilan Pidana, Yogyakarta:

Total Media, bekerja sama dengan P3IH Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2009.

Bakker, Anton, Metode–metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984.

Chazawi, Adami, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Bandung: Alumni, 2006.

Chazawi, Adami, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Bandung: P.T Alumni, 2008.

Diantha dan Pasek I Made , Batas Kekuasaan Kehakiman, Jakarta: Kertha Patrika, 2000.

Effendie Bahtiar, Masdari Tasmin, dan A. Chodari, Surat Gugat Dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.

Effendie, Bahtiar, Masdari Tasmin, dan A.Chodari, Surat Gugat Dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.

Fuady, Munir, “Teori Negara Hukum Modern (Rehctstaat)”, Padang:

Refika Aditama, 2009.

Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2005.

Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Usaha Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta:

Kencana, 2008.

Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Usaha Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta:

Kencana, 2008.

Isharyanto, Hukum Acara Persaingan Usaha, Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009.

L, Bernard, Tanya Hukum Dalam Ruang Sosial, Yogyakarta: Genta Publishing, 2010.

Lubis, Andi Fahmi, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks & Konteks, Jakarta:

Creative Media, 2009.

Mamuji, Sri, Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, Depok: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.

Manan, Bagir, Hukum Positif Indonesia: Suatu Kajian Teoritik, Yogyakarta: FH UII Press, 2004.

Margono, Suyud, Hukum Anti Monopoli, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

Marpaung, Leden, Proses Penanganan Perkara Pidana, Jakarta: Sinar Gafika, 1995.

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008.

Marzuki, Suparman, Tragedi Politik Hukum dan HAM, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Matompo, Osgar S., Hakikat Hukum Sistem Persaingan Usaha yang Sehat, Kompetitif dan Berkeadilan, Yogyakarta: Genta, 2015.

Mertokusumo, Sudikno, dalam Hendar Soetarna, Hukum Pembuktian Dalam Acara Pidana, Bandung: Alumni, 2017.

Mertokusumo, Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 2002.

Muhammad, Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004.

Nadapdap, Binoto, Hukum Acara Persaingan Usaha, Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009.

Nazil, M, Metode Penelitian Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010.

Poerwadarminta, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976.

Prasetyo, Teguh, dan Abdul Halim Barakatullah, Filsafat, Teori & ilmu Hukum, Pemikiran Menuju Masyarakat yang Berkeadilan dan Bermartabat, Jakarta PT Raja Grafindo Persada, 2016.

Qamar, Nurul, Pengantar Hukum Ekonomi, Makassar: Pustaka Refleksi, 2009.

Rahardjo, Satjipto, Satya Arinanto, dan Ninuk Triyanti, Memahami Hukum Dari Konstruksi Sampai Implementasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.

Rhiti, Hyronimus, Filsafat Hukum (Dari Klasik Sampai Postmodernisme), Yogyakarta: Universitas Atma Jaya press, 2011.

Ridwan, Tiga Dimensi Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi Negara, Yogyakarta: FH UII Press, 2009.

Rifai, Ahmad, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Rokan, Mustafa, Kamal, Hukum Persaingan Usaha, Jakarta : PT Grafindo Persada, 2010.

Saleh, Wantjik, Tindak Pidana Korupsi Dan Suap, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983.

Salman Otje, dan Anthon F Susanto, Tinjauan Filsafat Hukum Tentang Penegakan Hukum Di Indonesia Dalam Kapita Selekta Hukum Tim Penulis Pakar Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009.

Samudra, Teguh, Hukum Pembuktian Dalam Acara Perdata, Bandung: Alumni, 2014.

Sarjana, I Made, Prinsip Pembuktian Dalam Hukum Acara Persaingan Usaha, Siduarjo: Zifataman, 2014.

Sasangka, Hari, dan Lily, Rosita, Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana, Bandung: Mandar Maju, 2000.

Sidabalok, Janus, Pengantar Hukum Ekonomi, Medan: Bina Media, 2006.

Sidharta, Filsafat Hukum: Refleksi Kristis terhadap Hukum dan Hukum Indonesia (dalam Dimensi Ide dan Aplikasi), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015.

Soekanto, Soerjono, Tata Cara Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bidang Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983.

Soeparno, R, Keterangan Ahli & Visum Et Repertum dalam Aspek Hukum Acara Pidana Edisi Revisi, Bandung: Mandar Maju, 2016.

Subekti, Hukum Pembuktian, Jakarta: Pradnya Paramita, 1991.

Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2011.

Susanti, dan Adi Nugroho, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta:

Kencana, 2012.

Sutiantio, Retnowulan, dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Bandung: Mandar Maju, 1995.

Usaman, Rachmadi, Hukum Acara Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

Usman, Rachmadi, Hukum Acara Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.

Wasitaatmaja, Fokky, Fuad, Filsafat Hukum Akar Religiositas Hukum, Jakarta:

Prenada Media Group, 2015.

Wibowo, Destivano, dan Harjon Sinaga, Hukum Acara Persaingan Usaha, Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2005.

Yunas, Didi Nazmi, Konsepsi Negara Hukum, Padang: Angkasa Raya, 1992.

B. Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

KPPU, Putusan KPPU Nomor 18/KPPU-L/2015.

Mahkamah Konstitusi, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XIV/2016.

Pengadilan Negeri, Putusan Pengadilan Negeri Nomor 708/Pdt.Sus-KPPU/2016/PN Mdn.

Republik Indonesia, Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara.

Republik Indonesia, Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Republik Indonesia, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Republik Indonesia, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

Republik Indonesia, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Keberatan Terhadap Putusan KPPU.

Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

C. Jurnal

Alhumami, Khunaifi, “Peran Lembaga Pemeriksaan Tambahan Dalam Penyelesaian Perkara-Perkara Mengambang”, Jurnal Bina Adhyaksa, Volume 3, 2012.

Kagramanto, Budi L., “Implementasi UU No. 5 Tahun 1999 oleh KPPU”, Jurnal Ilmu Hukum Yustisia, 2007.

Mahkamah Agung, “Himpunan Tanya Jawab Tentang KUHAP”, Jakarta, 1984.

Modul Hukum Pembuktian, “Pendidikan Dan Pelatihan Pembentukan Jaksa 2019”, Jakarta: Badan Diklat Kejaksaan R.I., 2019.

OECD, Prosecuting Cartels Without Direct Evidence of Agreement. June 2006.

Prasetyo, Eko Surya, dkk, “Implikasi Yuridis Kebijakan Formulasi Alat Bukti Elektronik”, Jurnal Lentera Hukum, Volume 5, Issue 2, 2018.

Risnain, Muhammad, “Konsep Penguatan Kewenangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Sebagai Lembaga Quasi-Peradilan Dalam Membangun Perekonomian Nasional Yang Sehat dan Adil”, Jurnal IUS, Volume 6, Nomor 2, 2018.

Sari, Milya, “Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian”, Jurnal Natural Science, Volume 2, No. 2, 2020.

D. Website

__________, “Konflik Kepentinngan” dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_kepentingan, (1 September 2020).

Abd. Rasyid As’ad, “Akta Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Perdata”, dikutip dari http://fakultashukumdarussalam.com/2012/11/akta-elektronik-sebagaialatbukti.html, (5 Mei 2020).

Hukum Online, “Arti Notoire Feiten Notorious dalam Hukum Acara Pidana“, https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5c639a84b815b/arti-notoire-feiten-notorious-dalam-hukum-acara-pidana/, (1 September 2020).

Kamus Besar, “Arti Kata” dikutip dari https://www.kamusbesar.com/inkracht-van-gewijsde, (1 September 2020).

Risnain Muhammad, “Eksistensi Lembaga quasi yudicial dalam Sistem Kekuasaan Kehakiman di Indonesia”, dikutip dari http://oaji.net/articles/2016/3905-1473404648.pdf, (1 September 2020).

Suhendra, “Penyelidikan KPPU Masih Terbentur Masalah Antar Instansi”, dikutip dari http://www.detikfinance. com/read/2008/03/12/135149/907246/4/, (12 Mei 2020).

The Law Dictionary, “Featuring Black's Law Dictionary Free Online Legal Dictionary 2nd Ed”, dikutip dari https://thelawdictionary.org/, (1 September 2020).

Trex, “Terjemahan Bahasa Indonesia”, dikutip dari https://tr-ex.me/terjemahan/bahasa+inggris-bahasa+indonesia/in+person#gref, (1 September 2020).

Yuris.id, “Sumber Informasi Hukum”, dikutip dari https://yuridis.id/seputar-tentang-judex-facti-dan-judex-juris/, (1 September 2020).