• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: KONSEP PEMBUKTIAN DALAM UPAYA KEBERATAN

D. Pembuktian Perkara Persaingan Usaha di KPPU

1.5. Bukti

Dalam menilai terjadi atau tidaknya pelanggaran, Majelis Komisi menggunakan alat-alat bukti berupa:

a. Keterangan Saksi; Adapun saksi yang tidak dapat didengar keterangannya apabila ia memiliki pertalian darah dengan pihak dalam persidangan, tidak cakap hukum, atau bahkan mengalami sakit ingatan. Namun terdapat pula pengecualian apabila dipandang perlu, Ketua Majelis Komisi dapat meminta pihak-pihak diatas untuk didengar keterangannya.134

b. Pendapat Ahli; Pendapat Ahli yang dianggap sebagai bukti merupakan pendapat yang dikemukaan dalam Sidang Majelis. Orang yang dapat menjadi Ahli wajib memenuhi syarat pengalaman dan keahlian khusus yang dibuktikan dengan sertifikat. Penentuan lama pengalaman sesuai dengan

133 Pasal 72.

134 Hyronimus Rhiti, Filsafat Hukum (Dari Klasik Sampai Postmodernisme), (Yogyakarta:

Universitas Atma Jaya press, 2011), hlm. 211.

keyakinan Majelis Komisi. Dalam hal seorang yang tidak boleh didengar sebagai Saksi seperti ketentuan diatas tidak juga boleh memberikan pendapat sebagai Ahli.135

c. Surat dan/atau dokumen; Surat atau dokumen sebagai alat bukti terdiri dari:

(a) akta autentik, yaitu surat yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum, yang menurut peraturan perundang-undangan berwenang membuat surat itu dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya; (b) akta di bawah tangan yaitu surat yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya; (c) surat keputusan atau surat ketetapan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang;

(d) data yang memuat mengenai kegiatan usaha Terlapor, antara lain: data produksi, data penjualan, data pembelian, dan laporan keuangan; (e) surat-surat lain atau dokumen yang tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c yang ada kaitannya dengan perkara; (f) atas permintaan, majelis komisi dapat menyatakan data sebagaimana dimaksud dalam huruf e sebagai rahasia dan tidak diperlihatkan dalam Pemeriksaan.

d. Petunjuk; merupakan pengetahuan Majelis Komisi yang olehnya diketahui dan diyakini kebenarannya.

e. Keterangan Terlapor; keterangan ini tidak dapat ditarik kembali, kecuali berdasarkan alasan yang kuat dan dapat diterima oleh Majelis Komisi.

Hal pentingnya adalah bahwa Majelis Komisi menentukan sah atau tidak sahnya

135 Isharyanto, Hukum Acara Persaingan Usaha, (Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009), hlm. 62.

suatu alat bukti. Namun yang juga perlu diketahui bahwa sebelum diatur oleh Perkom No. 1 Tahun 2010 yang kemudian diganti oleh Perkom No. 1 tahun 2019, jenis alat bukti dalam persaingan usaha terlebih dahulu termaktub dalam Pasal 42 UU No. 5 Tahun 1999. Pada dasarnya keduanya, baik Perkom dan Undang-undang memiliki substansi dan poin yang sama, namun hanya dibedakan poin keterangan terlapor pada Perkom No. 1 Tahun 2010 dan Perkom No. 1 Tahun 2019 sedangkan pada UU No. 5 Tahun 1999 disebut sebagai keterangan pelaku usaha. Dapat dilihat bahwa Perkom hadir untuk memberikan penjelasan norma yang lebih spesifik.

Keterangan pelaku usaha yang kemudian semakin konkret dengan keterangan terlapor.

1.6 Tabel Perbedaan Perkom No. 1 Tahun 2010 dengan Perkom No. 1 Tahun 2019

No Pembeda Perkom No. 1 Tahun 2010 Perkom No. 1 Tahun 2019 DEFENISI

1 Perubahan perilaku - komitmen pelaku usaha dan/atau

pihak lain dalam bentuk Pakta Integritas Perubahan Perilaku.

2 Pakta Integritas Perubahan Perilaku

- dokumen yang menyatakan

perubahan perilaku yang dibuat oleh pelaku usaha dan/atau pihak lain yang diduga melakukan pelanggaran Undang-Undang dan berkomitmen tidak melakukan pelanggaran lagi yang ditandatangani oleh pelaku usaha dan disetujui Komisi.

3 Pemeriksaan

- Majelis Komisi memberikan

kesempatan kepada Terlapor

Dalam hal Terlapor atau Para Terlapor pada persidangan yang telah ditentukan tetap tidak hadir walaupun telah dipanggil secara patut, maka sidang diteruskan tanpa kehadiran Terlapor atau Para Terlapor. (Pasal 30 ayat 8)

6 Alat bukti Bukti yang cukup adalah

pemenuhan sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah (Pasal 1 ayat 13)

7 Petunjuk Petunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan pengetahuan satu dengan yang lain, maupun dengan perjanjian dan/atau pada ayat (1) dapat berupa bukti ekonomi dan/atau bukti

komunikasi yang oleh Majelis Komisi diyakini kebenarannya.

(Pasal 57 ayat 2)

8 Keterangan saksi Keterangan Saksi dianggap

sebagai alat bukti apabila keterangan itu berkenaan dengan hal yang dialami, dilihat, atau didengar oleh Saksi

dalam pelaksanaan ayat (1), sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Pasal 67 ayat 2) Langkah-langkah hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a. sita perdata; dan/atau b. penagihan melalui pihak ketiga. (Pasal 67 ayat 3) Komisi paling lama 60 (enam puluh) hari sejak dimulainya Penyelidikan. (2) Komisi dapat menghentikan Penyelidikan atau memperpanjang waktu Penyelidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (Pasal 38)

Penyelidikan dugaan

pelanggaran Undang-Undang dilakukan oleh unit kerja yang menangani penyelidikan dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari dan dapat diperpanjang berdasarkan keputusan Rapat

Koordinasi.(Pasal 16)

Dari semua data yang telah dirangkum diatas, terdapat beberapa hal yang pada dasarnya dapat disebutkan sebagai perubahan baru dalam Perkom No. 1 tahun 2019 ini, yakni:

1. Perubahan Perilaku136; KPPU dapat menghentikan sebuah perkara pada tahap Pemeriksaan Pendahuluan apabila Terlapor mengakui dan menerima tuduhan dalam Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP) yang diajukan oleh tim Investigator KPPU, dan Terlapor berkomitmen untuk menghentikan perilaku anti persaingan. Apabila selama masa pengawasan (maksimal 60 hari) tidak ditemukan adanya penyimpangan, maka KPPU akan menghentikan perkara.

2. Bukti Tidak Langsung (Indirect Evidence); Salah satu jenis alat bukti yang dikenal dalam peraturan ini adalah petunjuk, namun apakah petunjuk dapat disamakan dengan bukti tidak langsung? Dalam Pasal 57, KPPU menegaskan definisi petunjuk sebagai bukti tidak langsung yang dapat digunakan dalam membuktikan perkara persaingan usaha. Bukti tidak langsung tersebut terdiri dari: Bukti Ekonomi dan Bukti Komunikasi.137

3. KPPU dapat memutus perkara lebih cepat; Melalui prosedur ini, maka KPPU tidak perlu melakukan Pemeriksaan Lanjutan. Pertama, pada tahap Pemeriksaan Pendahuluan, dalam hal seluruh Terlapor mengakui dan menerima Laporan Dugaan Pelanggaran dan tidak mengajukan alat-alat bukti bantahan, maka proses pemeriksaan langsung dilanjutkan ke tahap Musyawarah Majelis Komisi untuk KPPU menjatuhkan Putusan. Kedua, apabila seluruh Terlapor tidak hadir dalam Pemeriksaan Pendahuluan meskipun sudah dipanggil secara patut, maka KPPU dapat langsung mengeluarkan putusan.

136 Pasal 33 – Pasal 35 Perkom No. 1 Tahun 2019.

137 Pasal 57 Perkom No. 1 Tahun 2019

4. Pelaksanaan Putusan

Untuk menjamin efektivitas pelaksanaan Putusan KPPU yang telah berkekuatan hukum tetap, maka KPPU dapat mengambil langkah-langkah berupa: sita perdata, penagihan melalui pihak ketiga; dan tindakan lain berupa: upaya persuasif, teguran tertulis, dan/atau daftar hitam pelaku usaha.138

2. Bukti Tidak Langsung (Organisation for Economic Co-operation and