• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: KONSEP PEMBUKTIAN DALAM UPAYA KEBERATAN

D. Pembuktian Perkara Persaingan Usaha di KPPU

3. Analisa Hukum Pembuktian

3.2. Analisa Pembuktian atas Keberatan Para Pemohon

3.2.1 Tata Cara Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU

3.2.1.1 Tidak Dimungkinkan Lagi Pengajuan Bukti Baru dan/atau Bukti Tambahan.

Perma 3 Tahun 2005 dalam Pasal 5 ayat (4) (dahulu Pasal 5 ayat (2) Perma No. 1

Tahun 2003) menyebutkan bahwa tidak menerima adanya bukti baru dalam upaya kebaratan. Hal tersebut telah dibenarkan dan dikuatkan pula oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Putusannya No. 01K/KPPU/2004 tanggal 5 September 2005 dalam Perkara antara KPPU melawan PT Garuda Indonesia. Dengan demikian telah jelas kaidah hukum yang berlaku bahwa Pengadilan Negeri sebagai Judex Factie dalam memeriksa perkara keberatan a quo tidak diperkenankan lagi untuk menerima bukti-bukti baru dan/atau saksi-saksi dari Pemohon Keberatan dengan alasan apapun.

3.2.1.2 Putusan Sela dan Pemeriksaan Tambahan

Secara normatif, Majelis Hakim Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara keberatan, setelah mempelajari Putusan KPPU dan berkas perkaranya dapat memerintahkan Termohon Keberatan untuk melakukan Pemeriksaan Tambahan melalui Putusan Sela.167 Bahwa hal tersebut juga telah dibenarkan dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Putusan Perkara No. 01 K/KPPU/2004 tertanggal 5 September 2005 dalam perkara antara KPPU melawan PT Garuda Indonesia. Adapun tujuannya adalah demi jelasnya permasalahan menurut pendapat Majelis Hakim setelah mempelajari putusan dan berkas perkara dari KPPU tersebut, dan bukannya untuk pengajuan bukti-bukti baru atas permintaan Pemohon. Dengan demikian, apabila Putusan Sela dalam perkara a quo ditetapkan dan/atau dikeluarkan oleh Majelis Hakim judex factie, maka hal tersebut semata-mata karena atas dasar kebutuhan Majelis Hakim judex factie setelah mempelajari Putusan KPPU dan berkas perkaranya, dan bukan karena adanya permintaan/tuntutan dari pihak-pihak Pemohon Keberatan.

167 Pasal 6 ayat (1) dan (2) Perma No. 3 Tahun 2005 (dahulu Pasal 6 ayat (1) Perma 1 Tahun 2003).

3.2.1.3 Jaminan Adanya Prinsip “Due Process Of Law”.

Dalam setiap proses pemeriksaan perkara, Termohon Keberatan (KPPU) selalu berpegang dan berpedoman pada kaidah-kaidah dasar hukum acara, yaitu meliputi : (1) Membacakan hak-hak Terperiksa sebelum pemeriksaan dimulai; (2) Memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk didampingi Penasehat Hukum;

(3) Menanyakan kesehatan dan kesediaan Terperiksa untuk diperiksa; (4) Menanyakan ada tidaknya tekanan yang dialami Terperiksa selama dilakukan pemeriksaan; (5) Memberikan kesempatan kepada Terperiksa untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap perlu termasuk yang bersifat pembelaan; (6) memeriksa dan mengkoreksi Berita Acara Pemeriksaan sebelum ditandatangani.

Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka Termohon Keberatan telah melakukan pemeriksaan sesuai dengan prinsip due process of law yang sesuai dengan tugas dan kewenangan Termohon Keberatan168

3.2.1.4 Terlapor VI, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X, Terlapor XI, Terlapor XII, Terlapor XIII, Terlapor XIV, Terlapor XV, Terlapor XVI, Terlapor XVII, Terlapor XVIII Dan Terlapor XIX Tidak Mengajukan Keberatan Terhadap Putusan KPPU a quo

Bahwa beberapa Terlapor dalam perkara a quo telah menerima Putusan KPPU a quo.169 Hal tersebut dapat dilihat bahwa Para Terlapor tersebut tidak mengajukan upaya hukum keberatan terhadap Putusan KPPU No. 18/KPPU-L/2015 ke Pengadilan Negeri sampai dengan 14 (empat belas) hari setelah menerima pemberitahuan putusan.

168 Pasal 35 dan 36 UU No. 5 Tahun 1999.

169 Pasal 44 ayat (3) dan Pasal 46 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1999.

3.2.2 Tanggapan Terhadap Materi Keberatan Dari Pemohon Keberatan 3.2.2.1 Termohon Keberatan Telah Tepat dan Benar Melaksanakan Proses Pemeriksaan Persidangan Perkara A Quo Berdasarkan Due Process of Law

Bahwa dalam hal ini Termohon Keberatan selama masa pemeriksaan perkara a quo telah beritikad baik sesuai due process of law namun para Pemohon keberatan yang justru tidak hadir dalam persidangan walaupun sudah dipanggil secara patut. Artinya Pemohon Keberatan telah melepaskan haknya untuk menyampaikan pembelaan dan bukti dalam pemeriksaan KPPU. Perlu diingat pula bawa pemeriksaan di KPPU juga memiliki jangka waktu pemeriksaan.170 Dimana Majelis Komisi wajib melakukan Pemeriksaan Pendahuluan paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkannya Keputusan Komisi. Dan wajib menyelesaikan pemeriksaan lanjutan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak dilakukan pemeriksaan lanjutan serta dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari.

Kemudian Komisi wajib memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran terhadap Undang-undang dalam suatu sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum.

3.2.2.2 Termohon Keberatan Telah Tepat dan Benar dalam Melakukan Penanganan Perkara a quo berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 j.o Perkom No.

1 Tahun 2010

Bahwa memang benar dalam perkara a quo Termohon Keberatan telah menerima laporan tentang adanya dugaan pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 dan Pelapor telah dipanggil oleh Termohon Keberatan pada tahap Klarifikasi dan Penyelidikan untuk memberikan keterangan terkait dengan dugaan pelanggaran

170 Pasal 43 UU No. 5 Tahun 1999, Pasal 49 dan Pasal 57 Peraturan KPPU No. 1 Tahun 2010.

tersebut. Perlu dicatat bahwa laporan yang diterima oleh Termohon Keberatan dalam perkara a quo adalah laporan biasa sehingga Termohon Keberatan memiliki kewajiban untuk merahasiakan identitas Pelapor.171 Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka telah jelas Termohon Keberatan melakukan proses penanganan perkara a quo berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.2.2.3 Termohon Keberatan Menggunakan Fakta dan Bukti yang Sah sebagai Dasar Memutus Perkara A Quo

Bahwa di dalam pertimbangan hukum dalam Putusan KPPU telah menggunakan fakta dan bukti yang sah, yaitu:

1. adanya hubungan antara peserta tender,

2. adanya praktek pinjam meminjam perusahaan di dalam proses tender a quo, 3. adanya persaingan semu,

4. adanya kerjasama penyusunan dokumen penawaran dalam proses tender a quo,

5. adanya ijazah dan personal inti yang dipalsukan dalam proses tender a quo, Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka telah jelas Termohon Keberatan telah menggunakan fakta dan bukti yang sah sebagai dasar memutus perkara a quo.

3.2.2.4 Termohon Keberatan Telah Tepat dan Benar dalam Memberikan Amar Putusan terkait Sanksi berdasarkan Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999

Bahwa Termohon Keberatan dalam memberikan sanksi berupa denda dan pelarangan mengikuti tender adalah sesuai dengan norma dalam UU No. 5 Tahun 1999. Dinyatakan dengan tegas bahwa denda merupakan salah satu bentuk dari sanksi administratif.172 Secara filosofis, sanksi denda merupakan bentuk efek jera

171 Pasal 38 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1999.

172 Pasal 47 (2) UU No. 5 tahun 1999.

dan perampasan atas keuntungan yang diperoleh secara tidak sah, melawan hukum, atau atas tindakan anti persaingan. Adapun tujuannya untuk mendorong agar pelaku usaha yang terbukti melanggar tidak mengulangi perbuatannya, dan bukan untuk mematikan usahanya. Sehingga pengenaan sanksi denda secara proporsional dapat dibenarkan sesuai ketentuan UU No. 5 Tahun 19999. Sama halnya dengan sanksi larangan untuk mengikuti tender173 adalah sebagai efek jera kepada para pelaku usaha yang terbukti melanggar ketentuan UU No. 5 Tahun 1999 untuk tidak mengulangi kegiatan/tindakan yang dilakukan sehingga tercipta persaingan usaha yang sehat.