• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : Bab ini adalah penutup dari penulisan penelitian yang menguraikan secara singkat mengenai kesimpulan dari

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG HASIL TINDAK PIDANA NARKOTIKA ( STUDI

5. Analisa Kasus

Surat dakwaan yang diajukan Penuntut Umum terhadap terdakwa pada Putusan no.311/Pid.Sus/2018/PN.Mdn disusun secara Alternatif. Dalam dakwaan ini walaupun terdiri dari beberapa dakwaan, hanya mengambil satu dakwaan saja yang paling kuat relevansinya dalam pembuktian di persidangan. Oleh karena itu Majelis memiliki kebebasan untuk memilih salah satu dakwaan yang menurut Hakim paling tepat diterapkan kepada perbuatan terdakwa.

Terdakwa dalam persidangan telah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencucian uang sesuai Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang merupakan dakwaan I yang diajukan penuntut umum.

Sehingga dakwaan ke-II dan ke-III yang diajukan oleh Penuntut Umum tidak perlu dibuktikan lagi karena dakwaan disusun secara alternatif.

Berdasarkan fakta-fakta yang telah terungkap dipersidangan, penulis berpendapat bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dengan unsur-unsur sebagai berikut:

1) Unsur setiap orang

Bahwa yang dimaksud dengan “setiap orang” dalam ketentuan ini adalah semua subjek hukum penyandang hak dan kewajiban, subjek hukum tersebut dapat berupa orang (Naturelijk Persoon) dan badan hukum (Rechts Persoon) dan sebagai subjek hukum dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana; menimbang bahwa terdakwa Syaiful alias Juned Bin Alm Hazbi adalah subjek hukum berupa individu sebagai penyandang hak dan kewajiban, sebab selama proses pemeriksaan atas diri terdakwa di persidangan, terdakwa Syaiful alias Juned Bin Alm Hazbi selaku terdakwa dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Penuntut Umum dan Majelis Hakim, termasuk menjawab pertanyaan Hakim Ketua bahwa dia adalah terdakwa Syaiful alias Juned Bin Alm Hazbi sebagaimana identitas terdakwa tersebut termaktub dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum, dan sedemikian adalah benar dan tidak terdapat kekeliruan mengenai orangnya bahwa orang yang dihadapkan kedepan persidangan adalah benar terdakwa Syaiful alias Juned Bin Alm Hazbidan Syaiful alias Juned Bin Alm Hazbiadalah orang yang sehat akal dan pikirannya sehingga dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana, maka 1 (satu) Unsur : “Setiap Orang”, telah terpenuhi.

2) Unsur : “menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,

membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan

Bahwa maksud dan tujuan unsur ini adalah dalam hal menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) yang diperoleh dari tindak pidana narkotika dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan, haruslah dilakukan secara tanpa hak atau melawan hukum.

Bahwa yang dimaksud dengan melawan hukum secara formal adalah melakukan hal-hal yang dilarang oleh hukum tertulis/undang-undang, sedangkan melawan hukum material adalah melanggar larangan menurut norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Bahwa fakta yang terungkap di dalam persidangan yaitu berdasarkan keterangan para saksi, terdakwa, petunjuk dan dikuatkan dengan barang bukti diperoleh fakta yang menyatakan bahwa benar rekening BCA Nomer 8645006352 a.n terdakwa Syaiful; rekening Bank BCA norek. 8075153011, atas nama Syaiful;dan nomer rekening Bank Mandiri norek. 1060010837980 atas nama Syaiful telah digunakan untuk mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, mengubah bentuk uang atau kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana narkotika. Dengan demikian unsur

sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

3) Unsur yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dalam hal ini kasus narkotika

Bahwa berdasarkan keterangan saksi ahli Ardhian Dwiyoenanto, S.H., M.H., bahwa terdakwa ditangkap oleh Penyidik BNN dalam kasus penyalahgunaan narkotika, yang mana terdakwa saat itu bertugas sebagai orang yang mencarikan kapal untuk mengambil narkotika jenis sabu seberat 39.221,46 (tiga puluh sembilan ribu dua ratus dua puluh satu koma empat puluh enam) gram, atau + 39 kilogram dari Malaysia untuk dibawa ke Aceh sekaligus mencari orang yang dapat membawa narkotika jenis sabu tersebut setelah tiba di Aceh untuk dibawa ke Medan dan dalam melakukan peredaran narkotika tersebut terdakwa telah menerima dan mengirimkan transferan uang atas jual-beli narkotika tersebut diantaranya dari Janti (narapidana kasus pencucian uang hasil penjualan narkotika), DR.H. Muzakkir (narapidana kasus tindak pidana pencucian uang narkotika) dengan menggunakan beberapa nomer rekening yaitu antara lain rekening Bank BCA norek. 8300104267 atas nama sdri. Janti, rekening Bank BCA norek. 8000463842 atas nama DR.H. Muzakkir.

Dengan demikian unsur patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana yang dimuat dalam Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang telah terpenuhi yaitu transaksi-transaksi dalam rekening terdakwa Syaiful merupakan hasil jual-beli narkotika.

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan dan pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut maka seluruh unsur dakwaan kesatu Penuntut Umum telah terpenuhi dalam perbuatan terdakwa.

Dari uraian tersebut diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa putusan dari Hakim Pengadilan Negeri Medan telah sesuai dengan analisa penulis yaitu dengan mengenakan Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Karena berdasarkan fakta-fakta dalam persidangan terdakwa Syaiful telah terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan dengan cara mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, mengubah bentuk uang atau kekayaan uang hasil jual beli narkotika yang dilakukan oleh terdakwa bersama dengan kelompoknya. Namun meskipun penulis sependapat dengan penerapan pasal yang dikenakan oleh hakim kepada terdakwa, akan tetapi penulis tidak sependapat terhadap sanksi yang diberikan kepada terdakwa yaitu pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dan denda sebesar Rp.

2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan. Meskipun pada dasarnya hakim memiliki wewenang untuk menetapkan vonis hukuman terdakwa akan tetapi putusan hakim tersebut juga harus dengan alasan yang tepat.

Dari sudut pandang dan analisa penulis, penulis berpendapat bahwa seharusnya hakim dapat menjatuhkan hukuman pidana lebih dari 7 tahun atau bahkan 10 tahun penjara sesuai dengan nota tuntutan yang disampaikan oleh penuntut umum karena :

1. Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan yaitu keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, petunjuk dan dikuatkan dengan barang bukti diperoleh fakta terdakwa secara jelas melakukan tindak pidana Pencucian Uang sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

2. Terdakwa dalam keadaan sehat sehingga mampu untuk menjalani pidana tersebut.

3. Tidak adanya alasan penghapus atau peniadaan pidana baik alasan pemaaf maupun alasan pembenar, sehingga terdakwa harus mempertanggungjawabkan akibat dari tindakannya.

4. Hal lainnya ialah terdakwa juga tidak dapat membawa saksi dan alat bukti yang dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan tindak pidana sesuai yang di dakwakan padanya.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dalam bab ini akan diuraikan beberapa kesimpulan dari penelitian dan pembahasan materi yang dilakukan. Adapun kesimpulan dari pembahasan di atas adalah:

1. Pencucian uang mempunyai dampak yang begitu besar bagi sistem keuangan negara. Upaya untuk mengurangi pelaku pencucian uang ialah dengan cara menjerat para pelakunya sebanyak mungkin, upaya ini dilakukan pemerintah dengan cara menambahkan ketentuan-ketentuan baru dalam Undang-undang No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang mana diharapkan dengan ditambahkannya ketentuan-ketentuan baru tersebut membuat ruang gerak para pelaku pencucian uang semakin sempit dan semakin mudah terjerat dalam hukum dengan adanya perluasan ruang lingkup tindak pidana pencucian uang. Hal inilah yang kemudian diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menjerat para pelaku tindak pidana pencucian uang dalam upaya mengurangi jumlah pelakunya dimasyarakat.

2. Pencucian uang ialah merupakan suatu tindak pidana luar biasa, hal ini dikarenakan selain dampak dari tindak pidana pencucian uang yang memberikan dampak pada keuangan negara, tindak pidana pencucian uang juga merupakan tindak pidana yang mempunyai ruang lingkup yang luas dimana tindak pidana asalnya terdiri dari beberapa tindak pidana asal

diantaranya korupsi, penyuapan, narkotika, psikotropika, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migran, dibidang perbankan, dibidang pasar modal, dibidang perasuransian, kepabeanan, cukai, perdagangan orang, perdagangan senjata gelap, terorisme, penculikan, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan uang, perjudian, prostitusi, dibidang perpajakan, dibidang kehutanan, dibidang lingkungan hidup, dibidang kelautan dan perikanan dan tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau diluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. Sebagaimana disebutkan diatas, tindak pidana pencucian uang mempunyai beberapa tindak pidana asal dimana narkotika ialah salah satu tindak asalnya, hal ini jelas diatur dalam pasal 2 ayat (1) huruf c Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang mana dengan diaturnya narkotika sebagai tindak pidana asal dari tindak pidana pencucian uang, maka sanksi yang dikenakan bagi tindak pidana pencucian uang hasil tindak pidana narkotika ialah sanksi sama yang diterapkan juga pada pencucian uang dengan tindak pidana asal lainnya selain narkotika, hal ini dikarenakan dalam Undang-undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang tidak diatur sanksi secara terkhusus untuk tiap jenis tindak pidana asalnya.

3. Penerapan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang hasil

Tindak Pidana Narkotika (Studi Putusan Nomor.

311/Pid.SUS/2018/PN.Mdn) , terdakwa Syaiful telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah turut serta melakukan tindak pidana: “pencucian uang” sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan kesatu yang diatur dalam pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan oleh karena perbuatannya tersebut maka Hakim menjatuhkan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dan denda sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan.

Dari segi penerapan sanksi pidana, penulis merasa sanksi yang diberikan Hakim kurang tepat dimana pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun, walaupun memang keputusan vonis di dalam suatu persidanan sepenuhnya berada ditangan para hakim. Vonis yang diterima terdakwa tersebut lebih ringan dari tuntutan Penuntut Umum yaitu 10 tahun penjara. Dalam kasus ini, terdakwa Syaiful telah terbukti secara kuat bersalah melakukan tindak pidana pencucian uang dan ia juga dalam keadaan sehat sehingga mampu untuk menjalani pidana dalam tahanan, akan tetapi Hakim hanya menjatuhkan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dan denda sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan.

B. Saran

1. Semakin banyaknya pelaku tindak pidana pencucian uang dan semakin pintarnya para pelaku pencucian uang ini dalam melakukan aksinya

membuat pemerintah harus lebih berupaya keras lagi dalam menanganinya, upaya tersebut bisa pemerintah lakukan dengan lebih menyempurnakan lagi perangkat peraturan mengenai pencucian uang dan lebih serius mengerahkan aparat penegak hukumnya dalam menjerat para pelaku pencucian uang.

2. Upaya mengurangi tindak pidana pencucian uang juga sebaiknya pemerintah lakukan dengan juga lebih serius menekan laju tindak pidana asalnya seperti contohnya narkotika, dengan semakin sulitnya para pelaku melakukan tindak pidana maka akan berdampak juga pada semakin sedikitnya pelaku tindak pidana pencucian uang.

3. Dalam penerapan hukum terhadap pelaku pencucian uang penegak hukum sebaiknya lebih mengutamakan keadilan, sehingga dalam penerapan hukumnya nanti yang bersalah akan mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatannya, penerapan hukum yang tepat inilah yang nantinya diharapkan dapat membuat efek jera bagi pelaku tindak pidana pencucian uang serta rasa takut bagi masyarakat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang.