4.9 Analisa Bangunan
4.9.4 Analisa Konsep Ekterior
Konsep dari bangunan komunal tersebut adalah Organic Architecture, dimana Organic Architecture merupakan prinsip-prinsip desain yang dikembangkan oleh Frank yaitu dengan mengharmonikan antara habitat dengan alam sekitar yang dicapai dari integrasi bangunan dengan sekitarnya sehingga terjadi komposisi yang saling berhubungan.
Dikarekan sebagian sisi bangunan menghadap kearah barat maka digunakan secondary skin serta perencaan pengaplikasian roof garden pada lantai dua dan tiga yang digabungkan lantainya. Secondary skin dengan aplikasi vertical garden dapat berperan dalam mengurangi efek panas langsung yang berasal dari matahari barat dan juga berfungsi sebagai pengganti ruang hijau kota secara vertikal, serta dapat mengurangi efek polusi udara. Vertical garden juga sekaligus menjadi trend arsitektur kota masa kini untuk dapat sebagai estetika bangunan. Namun vertical garden memerlukan perawatan khusus.
Sistem yang dapat digunakan yaitu sistem karpet dimana vertical garden tersebut dalam bentuk yang besar dan modular. Bagian dari sistem ini terdiri dari sistem bingkai yang dapat dibuat dari metal atau kayu yang tahan aliran air. Lembaran penyokong terbuat dari bahan plastic (PVC) adalah pilihan yang dianjurkan sebagai penahan tanah.
Penggunaan tirai pada area semi outdoor dan roof garden pada lantai 2-3 sebagai penghalang silaunya sinar matahari serta tampiasnya air hujan.
4.9.5
Analisa Konsep Interior
Warna merupakan bagian penting dalam perencanaan arsitektur dan interior, namun tidak jarang unsur warna dipertimbangkan dan direncanakan setelah bentuk fisik ruang arsitektur atau ruang interior selesai. Ruang,
Gambar 4.58 Contoh Bangunan Berkonsep Organic Building Sumber : Olahan Peneliti
Gambar 4.59 Contoh Vertical Garden Sumber : Olahan Peneliti
Gambar 4.60 Contoh Tirai Sumber : Olahan Peneliti
bentuk, struktur, cahaya, tekstur dan warna merupakan elemen penting dalam setiap rancangan bangunan, dan apabila dapat bersinergi sesuai dengan porsinya, akan menciptaka desain yang nyaman, fungsional dan indah.
Psikologi warna :
Tabel 4.8 Psikologi warna
Warna Positif Negatif
Merah hidup, cerah, pemimpin, gairah, kuat
Panas, bahaya, emosi yang meledak, agresif, brutal Jingga Muda, kreatif, keakraban,
dinamis, persahabatan
Dominan, arogan
Kuning Segar, cepat, jujur, adil, tajam, cerdas
Sinis, murah/ tidak ekslusif, kritis
Hijau Sensitive, stabil, formal, toleran, harmonis, keberuntungan
pahit
Biru Kebenaran, kontemplatif, intelegansi tinggi, damai, meditatif
Emosional, egosentris, racun
Ungu Artistik, personal, mistis, spiritual
Angkuh, sombong, diktaktor
Pink Romantic, soft, feminism, menyenangkan, trendi
Sensitif, rentan
Coklat Dekat dengan lingkungan, hangat, netral, alamiah, eksotik
Tidak cerah, tidak bersih, tidak steril,gelap,
membosankan Putih Murni, bersih, segar, jujur,
higienis
Monoton, kaku, tidak terkontrol
Hitam Kuat, kreativitas, magis, misterius, idealis, fokus
Terlalu kuat, superior, merusak, menekan Sumber : Imelda Akmal, 2006
Mahasiswa Binus menginginkan warna yang netral dan sedikit kontras pada ruang komunal Binus nantinya. Ruang Komunal Binus memiliki karakter informal, sehingga penerapan warna pada desain interior dapat menggunakan komposisi warna yang lebih dinamis. Misalnya warna skema analog, skema monokromatik dipadukan warna cerah, skema komplemeter,
skema triad dan skema tetrad. Menurut Imelda Akmal (2006) dijelaskan bahwa :
Skema warna analog kombinasi warna yang menggunakan warna-warna yang bersebelahan atau berdekatan di dalam lingkaran warna-warna. Misalnya skema warna kuning, kuning jingga dan kuning. Dapat pula yang berdekatan secara dalam jarak yang sama, misalnya merah dengan jingga dan kuning.
Skema monokromatik adalah komposisi yang berasal dari sebuah hue atau warna dengan dalam intensitas value yang berbeda-beda. Dengan kata lain warna tersebut diberikan tint, tone dan shade yang berbeda. Misalnya komposisi terdiri dari merah, merah muda pucat (dengan tint) dengan warna gelap (dengan shade).
Skema warna komplemeter adalah komposisi warna yang menggunakan warna-warna yang berhadapan langsung dalam lingkaran warna. Perpaduan warna-warna komplemeter ini memiliki kekuatan warna yang seimbang sehingga kombinasi komplemeter akan saing memperkuat karakter warna satu dengan lainnya.
Skema split komplemeter (komplemeter terbelah) adalah komposisi yang terdiri atas satu warna ditambah dua warna yang mengapit warna komplemeternya (warna yang bersebrangan dalam lingkaran warna).
Skema dobel komplemeter adalah skema warna dua pasang warna komplemeter yang bersebelahan. Misalnya merah dan ungu dengan kuning dan hijau atau dapat juga merah dan jingga berhadapan dengan biru dan hijau.
Skema triad adalah tiga warna yang memiliki jarak yang sama antar masing-masing dalam lingkaran warna. Jingga, hijau dan ungu adalah warna-warna triad.
Skema tetrad adalah komposisi empat warna yang jaraknya sama satu sama lain dalam lingkaran warna, misalnya merah, kuning-jingga, hijau dan biru-ungu.
Skema Analog Skema Monokromatik Skema Komplemeter Skema Split Komplemeter Skema Double Komplemeter Skema Triad Skema Tetrad
Sumber : Imelda Akmal, 2006
Gambar 4.61 Warna yang Digunakan Sumber : Olahan Peneliti
Warna yang digunakan yaitu warna netral dan warna kontras sesuai apa yang diinginkan mahasiswa Binus pada eksterior dan interior Ruang Komunal Binus. Warna netral yang digunakan yaitu putih, hitam dan abu-abu, sebagai warna dasar dan dominan. Sedangkan warna kontras yang digunakan yaitu ungu, kuning, orange, tosca, merah dan hijau muda. Warna kontras tersebut digunakan untuk mengalihkan dan memusatkan perhatian sebagai aksen ruang.
Warna dominan sebagai aksen yaitu warna orange, dimana warna orange melambangkan warna Universitas Bina Nusantara. Warna yang digunakan tidak terlalu banyak dikarenakan fungsi dari bangunan tersebut adalah ruang komunal yang pengguna utamanya mahasiswa.
Artwork
Artwork juga diinginkan oleh mahasiswa Binus sebagai pelengkap atau hiasan pada interior ruang komunal Binus. Artwork dapat berupa lukisan, patung, serta karya-karya seni lainnya juga dapat memberi warna di dalam ruang. Lukisan atau foto yang berwarna mencolok akan menghidupkan suasana ruang.
Material
Mahasiswa Binus menginginkan penggunaan material kombinasi yaitu material alami dan material buatan. Ragam material bangunan juga merupakan sumber warna. Bila diperlihatkan, material mempengaruhi warna interior atau eksterior. Tiap bidang bahan alami ini tidak hanya terdiri atassatu warna melainkan beragam warna, meskipun hadir dalam nuansa senada. Adanya tekstur dan serat tertentu sebuah bahan memperkaya tampilan warna bahan tersebut.
Kayu adalah salah satu material yang sering dijumpai dalam desain arsitektur dan interior. Sebagian kayu memiliki warna dominan coklat. Berbagai gradasi warna coklat , dari coklat klasik kayu jati, coklat kemerahan mahoni yang elegan, sampai coklat kehitaman yang mewah pada kayu besi.
Batu adalah material alam yang sangat banyak jenis dan variasinya. Setiap jenis batu memiliki bentuk, ukuran, warna dan tekstur yang berbeda.
Batu marmer dan granit adalah dua jenis batu yang dapat dipoles licin mengkilat yang membuat kedua batu ini berkesan mewah.
Keramik dan mozaik adalah material buatan yang diminati penggunanya. Kedua material tersebut memberikan kesan yang indah dan juga estetik.
Pencahayaan
Mahasiswa Binus menginginkan pencahayaan fungsional dan sedikit kontras pada ruang komunal nanti. Sehingga pencahayaan tidak berlebihan disetiap ruang. Namun ada beberapa ruang yang memiliki pencahayaan dekoratif seperti lobby, café, food court, ruang tunggu dan lain-lain. Dikarenakan sifat ruang yang memiliki kegiatan informal dan konsep dekorasi yang berbeda. Pencahayaan setempat digunakan untuk mempermudah penggunaanya.
Image Ruang yang Diinginkan Lobby
Dari gambar menjelaskan bahwa kesan ruang yang diinginkan pada lobby ruang komunal Binus yaitu megah yang disebabkan ketinggian ruang, dekorasi lampu sebagai nilai estetika ruang, dengan menggunakan warna netral pada dinding dan menggunakan warna terang pada furniture sebagai point ruangan. Serta penggunaan aksesoris ruang yang digantung pada plafon sebagai aksen serta sebagai pengaruh kenyamanan akan ketinggian ruang.
Gambar 4.62 Image ruang pada Lobby Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014
Ruang Tunggu
Kesan ruang yang diinginkan pada ruang tunggu ruang komunal Binus yaitu ruang yang menarik perhatian dan tidak membosankan, dengan skala ruang normal yang membuat kehangatan pada ruang. Yaitu penggunaan warna yang sedikit kontras dan bentuk unik pada furniture, pencahayaan dekoratif fungsional. Dan perpaduan material buatan dan alami seperti kayu dan lain-lain.
Café/ Resto
Kesan ruang yang diinginkan pada café dan resto ruang komunal Binus yaitu menarik dengan beranekaragam konsep. Permainan pencahayaan dengan lampu dekorasi, skala ruang normal untuk mengahasilkan kehangatan ruang, warna netral yang sedikit kontras dengan perpaduan furniture yang berbeda material dan bentuk. Konsep komtemporer modern yang akan menyatukan setiap café dan resto. Konsep yang diterapkan pada keseluruhan menghindari konsep ekslusif dikarenakan pengguna café dan resto tersebut
Gambar 4.63 Image ruang pada Ruang Tunggu Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014
Gambar 4.64 Image ruang pada Café dan Resto Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014
adalah mahasiswa Binus, namun tetap mengedepankan konsep yang menarik dan memiliki nilai estetika.
Food Court
Kesan ruang yang ingin didapatkan pada foodcourt ruang komunal Binus nantinyaa yaitu menarik, nyaman, luas serta mempertahankan image pedagang kaki lima yang direlokasikan dengan penggunaan gerobak asli yang masih layak digunakan. Penataan gerobak yang lebih dinamis akan membuat kesan ruang menjadi lebih menarik dan terlihat sedikit etnik. Dengan pencahayaan fungsional dan sedikit dekoratif, penggunaan warna yang lebih netral serta penggunaan material buatan dan material alami. Dengan penerapan seperti itu maka para mahasiswa Binus sebagai penggunanya akan tertarik untuk menggunakan foodcourt tersebut dan tidak merasa sungkan atau terlihat berbeda dengan café.
Perpustakaan Informal
Gambar 4.65 Image ruang pada Food Court Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014
Gambar 4.66 Image Ruang Perpustakaan Informal Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014
Kesan ruang yang ingin didapatkan pada perpustakaan informal Binus yaitu menarik dengan dekorasi ruang serta penataan rak buku dan majalah yang lebih dinamis dan memiliki nilai estetika. Nyaman digunakan dalam waktu yang lama dengan penggunaan furniture yang lebih dinamis, perpaduan warna kontras dan netral dan pencahayaan sedikit dekoratif. Material lantai dapat menggunakan parquet dengan perpaduan karpet pada beberapa area.
Fitness Center
Kesan ruang yang diinginkan pada fitness center untuk mahasiswa Binus yaitu bersih, terang dan luas dengan penggunaan cermin, penggunaan motif di beberapa sisi dinding sebagai dekoratif dan penggunaan pencahayaan fungsional serta sedikit dekoratif dengan pencahayaan hiding lamp. Material lantai dapat menggunakan parquet ataupun karpet dikarenakan pada fitness center material lantai harus aman (tidak licin).
Gambar 4.67 Image Ruang Fitness Center Sumber : www.pinterest.com, diakses Mei 2014