PANDANGAN AL-QUR’AN TENTANG LAUT
PENGUNGKAPAN LAUT DALAM PANDANGAN SAINS
B. Gambaran Aspek Fisik Konsep Geologi Laut
4. Analisa Menurut Al-Quran dan Sains tentang Dua Laut, Batasan Laut, serta Pertemuannya
Ada suatu fenomena yang menarik ketika al-Quran berbicara tentang Laut (khususnya surat-surat yang sedang penulis analisa), ayat-ayat dalam surat-surat yang penulis analisa ini. Semua esensi dari ayat-ayat tersebut mempunyai persamaan yaitu membahas mengenai “batasan laut”, “dua laut” dan “pertemuannya”.
Pada bab inilah penulis akan menjelaskan tentang ungkapan “dua laut”, “pertemuannya”, dan “batas antara kedua laut” menurut tafsiran al-Quran dan ilmu pengetahuan yang khusus membahas tentang laut (ilmu kelautan).
Kata (maraja) dalam kamus-kamus bahasa arab mempunyai dua arti, yaitu pertama berarti bercampur dan kedua berarti kepergian dan kepulangan,
keterombang-ambingan, dan kegelisahan.95 Demikian Ibn Faris dalam bukunya,
Mu’jam Maqayis al-Lughah, dan Al-Raghib Al-isfahani dalam Mufradat fi Gharib Al-Quran. Sedangkan kata hijr dalam kamus-kamus bahasa diartikan sebagai larangan, halangan atau penyempitan. Sementara kata mahjura berarti sesuatu yang terhalang. Jika demikian (hijran mahjura) adalah suatu halangan yang menjadikan apa yang terdapat di sana (makhluk hidup) terhalang untuk dapat keluar dan hidup di dalan lokasi yang sempit (terhalang) itu dibanding dengan luasnya samudra.96
Dapat dipahami dari penjelasan ini bahwa dalam kata
جﺮ
(maraja) ada unsur yang dinamis pada tempat bertemunya dua laut atau al-Bahraini. Mungkin saja kedatangan satu laut dan kepergian laut lainnya, dalam posisi yang bersebelahan (dibatasi secara vertikal) atau bertumpang tindih (dibatasi secara horizontal), melibatkan suatu pergerakan, sesuatu yang dinamis. Namun, “tempat pertemuan itu berupa suatu kawasan “perbatasan” yang menghalangi kedua laut tadi dari menjadi “satu’ laut yang tanpa karakteristik fisika dan kimia yang khas. Karakter masing-masing laut tetap terpertahankan.97Akibat adanya (hijran mahjura) ini, menjadikan laut yang satu mempunyai karakter yang berbeda yaitu dalam suhu, kadar keasinan (salinitas), berat jenis, dan tekanan, dengan laut yang berdampingan tadi di atas/di bawah atau di sampingnya. Oleh karena itu, makhluk hidup berupa ikan, ganggang, terumbu karang, sebagainya yang ada di dua
95
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran. Vol. VI, h. 498-499
96
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1999), h. 177 97
Agus S. Djamil, Al-Qur’an dan Lautan, (Bandung: Arasy Mizan Pustaka, 2004), h. 118
kawasan laut itu juga mempunyai karakter yang berbeda pula, ikan yang hidup di lauta sebelah dalam yang bersuhu rendah dan bertekanan tinggi terbatasi habitat hidupnya di situ dan tidak akan melampaui batas ke kawasan laut dangkal yang bersuhu hangat dan bertekanan rendah.
Kebanyakan para penafsir menyatakan dinding pembatas (barzakh) dua laut ( ) yang menghalangi dan tidak dilampaui oleh masing-masing (hijran mahjura) ini memisahkan dua laut atau kumpulan air yang posisinya berdampingan, misalnya penafsiran terusanSuez sebagai yang membatasi Laut Merah dengan Lautan Mediterania (Laut Tengah), seperti dalam catatan kaki/penafsiran dalam surat al-Rahman: 20, Allah Swt berfirman:
☺
“Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
Pada kitab al-Quran dan Terjemahannya oleh Departemen Agama Republik Indonesia (1999). Misalnya dipahami sebagai dinding batas antara air sungai Amazon yang masuk ke laut Atlantik pada bagian muaranya, seperti di jelaskan oleh Dr. Quraish Shihab.98 Sebagaimana beliau menafsirkan dalam ayat ini bahwa:
“Ini berarti adanya pemisah yang diciptakan Allah Swt pada lokasi-lokasi tempat bertemunya laut dan sungai.”
Disini meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, ada ayat lain yang sama pemahamannya dengan berbatasan secara berdampingan yang banyak diterima ini
98
dipengaruhi sedikit banyak oleh pemahaman yaitu dari Surah al-Kahfi: 60, sebagaimana Allah Swt berfirman:
⌧
⌧
☺
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Di sinilah Pertemuan “dua laut” dalam konteks perjalanan Nabi Musa as yang berada di kawasan Gunung Sinai dan Mesir diperkirakan sebagai tempat pertemuan Teluk Aqabah denagn laut merah, atau pertemuan antara Teluk Aqabah di timur atau Teluk Suez di barat semenanjung Sinai, atau antara Teluk Suez dengan “danau laut” di selatan terusan Suez, atau juga pertemuan antara Sungai Nil dengan Laut Mediterania, Wallahu a’lam.
Untuk melihat ke arah lautan, seandainya ada pertemuan air laut dari dua lokasi yang berbeda, yang satu dari laut lain sedangkan satunya lagi dari laut yang lain lagi. Kedua air laut tersebut bertemu di suatu tempat. Seandainya masing-masing dari dua air laut tersebut memiliki salinitas (kadar garam) yang berbeda atau temperature yang berbeda, apakah keduanya akan bercampur ketika bertemu di satu tempat sehingga keadaan awal dari masing-masing (salinitas maupun temperature) berubah menjadi satu keadaan salinitas dan temperature yang baru?
Akan tetapi kesemuanya dalam pengertian batas dua laut berupa batas vertikal, memisahkan dua tubuh air yang berdampingan. (perhatikan pemahaman 4-2)
Gambar pemahaman 4-2 : Ilustrasi batas Dua laut yang dapat diartikan sebagai batas vertikal (gambar kiri) atau sebagai batas horizontal (gambar kanan). Pengertian batas dua laut sebenarnya bisa membujur secara horizontal membatasi laut yang berdampingan antara laut bagian atas dan laut bagian bawah. Batas ini bias berarti membatasi laut bagian atas yang mempunya suhu hangat dan laut bagian bawah yang mempunyai suhu rendah, Atau laut bagian atas yang mempunyain salinitas rendah dengan laut bagian bawah yang mempunyai salinitas tinggi. Lapisan laut bagian atas yang arusnya bergerak kearah barat dengan lapisan bagian bawah yang arusnya mengalir ke timur atau kondisi apa saja yang membatasi antara laut bagian atas dan laut bagian bawah yang mempunyai sifat fisika dan kimia yang berbeda satu sama lainnya.
Bertemunya “dua laut” atau oleh Dr. Quraish Shihab menafsirkan sebagai bertemuanya “laut” dan “sungai” seperti di ungkapkan di atas dan dalam menjelaskan adzbun furat, yang tawar lagi segar, sebagaiman Allah berfirman dalam surat al-Furqan ayat 53:
⌧
⌧
⌧
☺
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara
Jadi menurut beliau dalam ayat ini, bukan kedua-duanya berupa laut, tetapi yang satu laut dan yang satu lagi sungai. Dari bunyi di atas, surat al-Furqan ayat 53, sudah di ketahui bahwa adanya sungai yang (adzbun furat), (Adzb) berarti tawar dan (furat) berarti amat segar. Jika diperhatikan bahwa ayat diatas tidak menyatakan adzbun wa furat (tawar dan segar) tetapi menghubungkan keduanya tanpa kata penghubung dan sehingga airnya benar-benar sangat tawar lagi segar. Ini berarti bahwa air yang tidak terlalu asin, atau tidak terlalu tawar, tidak termasuk dalam pembicaraan ayat ini.99
Sungai yang berair tawar ataupun tawar lagi segar, penulis rasa kondisi yang lumrah. Jika dicermati dari air laut ternyata adanya air tawar maka inilah suatu fenomena terjadi yang sangat luar biasa.
Ternyata, salintas atau kadar keasinan air laut memang berkisar antara 33-37 ppt, namun pada tempat tertentu terjadi kadar yang ekstrim, misalnya ekstrim tinggi di laut Merah yang hingga mencapai salinitas melebihi 40 ppt, belum lagi salinitas yang sangat tinggi di Laut Mati di Yordania. Laut yang tawar dengan salinitas antara 20-30 ppt terdapat di Lautan Artik di kutub utara, salinitas serendah ini mendekati salinitas dari air tawar, terutama sepanjang pesisiran sebelah utara pada laut Baltik antara Swedia dan Finlandia (perhatikan gambar 4-3),
99
Gambar 4-3 : Peta Laut Baltik antara batasan Swedia dan Finlandia, di sini laut yang tawar dengan salinitas antara 20-30 ppt terdapat di Lautan Artik di kutub utara, salinitas serendah ini mendekati salinitas dari air tawar, terutama sepanjang pesisiran sebelah utara pada laut Baltik antara Swedia dan Finlandia.
Salinitas yang rendah ini di mungkinkan karena evaporasi atau penguapan di dekat kutub utara sangatlah rendah karena suhu yang rendah, curah hujan yang tinggi, dan influks aliran air tawar dari lempengan es yang mencair.
Air segar mungkin maksudnya tidak terlampaui dingin dan tidak terlalu hangat, mungkin seperti air mineral sejuk yang di ambil dari kulkas. Dalam ayat ini tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang manfaat dari adzbun furat ataupun
inilhun ujaj (asin lagi pahit) maupun keberadaan barzakh atau batasan.
Seperti halnya dalam surat al-Naml: 61, meski secara spesifik tidak menunjuk adanya karunia, ayat-ayat tersebut memberikan ekslamasi akan keberadaannya di muka bumi ini dan ayat ini merupakan pernyataan sekaligus menunjukan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini.
Perthatikan ayat dalam surat al-Naml yang dengan tegas menuliskan kata
Bukankah ini bisa bermakna bahwa dua laut yang terpisah ini bisa berdampingan satu di samping lainya, ataupun bertindihan satu di atas lainnya.
Pada surat al-Furqan: 53 dan al-Naml: 61 sekali lagi disebutkan kata
ﺮ
(Bahraini), Kata ini ‘berdampingan’ penafsiran dalam surat al-Furqan: 53 yakni, bukankah dapat pula bermakna ‘bertumpang tindih, kalau kita memahaminya dalam pengertian ‘ruang’ (spatial) dan bukannya pengertian ‘bidang’ (planar). Di dalam ayat ini semakin dijelaskan bahwa kedua laut tersebut terpisahkan dengan adanya dinding (barzakh) dan batas (hijran). Artinya, kedua laut tersebut tetap mempunyai dan mempertahankan karakter atau sifat-sifat fisika (suhu, tekanan, dll) dan kimianya (senyawa, salinitas, dll) sendiri-sendiri, sehingga antara kedua macam lautan tersebut akan mempunyai jenis ikan dan tumbuhan yang berlainan.100Pemahaman bahwa batas itu secara horizontal, dengan memisahkan laut bagian atas dan laut bagian bawah.
Jarang sekali dijumpai pada hal-hal penemuan manusia mengenai fenomena seperti pemahaman dalam diagram diatas juga banyak dan menarik, terutama bila dikaitkan dengan adanya karunia yang di janjikan Allah karena adanya dinding pembatas antara dua laut tersebut, hal ini juga termaktub dalam surat Ar-Rahman: 22,
☺
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan”.
100
Artikel ini diakses pada tanggal 11 Agustus 2010 di www.alhabib.info/review.alhtml, pukul 11.03 WIB
Dinding yang membatasi tersebut memisahkan dua lautan yang mempunyai sifat fisika dan kimia yang berbeda. Muhammad Ibrahim al-Sumaih adalah seorang guru besar pada fakultas Sains jurusan Ilmu Kelautan Universitas Qatar pada penelitiannya di teluk Persia dan Teluk Oman (1984-1988), seperti di kutip oleh Dr. Quraish Shihab dalam buku yang sama, menemukan batas yang melintang horizontal ini yaitu pada kawasan di antara dua teluk tersebut terdapat pemisahan antara air laut bagian atas yang berasal dari Oman dan air laut bagian bawah yang berasal dari teluk Persia. Hal ini seperti yang banyak dikemukakan oleh para pakar kelautan tentang adanya batas-batas antara laut bagian atas dan bagian bawah, misalnya di Selat Gibraltar antara laut Mediterania dengan laut Atlantik (perhatikan gambar 4-4) atau di Selat Boporus antara Laut Hitam dan Laut Marmara atau disebut juga Laut Aegean (perhatikan gambar 4-5).
Penelitian modern di masa sekarang telah menemukan adanya gejala yaitu bahwa ada batas di antara dua air laut yang bertemu di satu tempat, sehingga masing-masing air laut tersebut tetap memiliki (mempertahankan) temperature,
salinitas (kadar garam) maupun densitas (kekentalan) yang berbeda. Dengan makna yang setara yaitu keadaan air laut yang satu dengan lainnya tidak saling mempengaruhi, walaupun keduanya bertemu di satu tempat, karena adanya batas di antara pertemuan dari dua air laut tersebut.101
Penegasan Al Quran dan pembuktian ilmiah ini dapat ditemukan yaitu pada peristiwa air laut dari Mediteranian yang masuk ke wilayah perairan laut Atlantik sampai ke kedalaman sekitar 1000 m dari permukaan laut. Ternyata derajat
101
“Modern Science has discovered that in the places where two different seas meet, there is a barrier between them. This barrier divides the two seas so that each sea has its own temperature, salinity and density” (Davis, Principles of Oceanography, Page: 92) dan Harun Yahya, Al-Qur’an Mengungkap Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Wacana Ilmiah Press, 2004), h. 59
kehangatan (suhu) sekitar 11,5° maupun kadar garam sekitar di atas 36,5% dari air laut Mediteranian yang telah berada di kedalaman air laut Atlantik, tetap tidak terpengaruh oleh suhu maupun salinitas (kadar garam) dari air laut Atlantik yang mengelilinginya. Dimana air laut Atlantik di kedalaman sekitar 1000 m yang mengelilingi air laut (yang tadinya berasal dari) Mediteranian juga memiliki suhu dan salinitas (kadar garam) sendiri berbeda, yaitu bersuhu sekitar 10° dan dengan salinitas sebesar di bawah 36,0%, berbeda dengan air laut Mediteranian yang dikelilinginya. Padahal kedua air
laut tersebut (air laut Mediterranean dan air laut Atlantik) bertemu di satu tempat di kedalaman sektiar 1000 m, tetapi keadaan masing-masing kedua air laut tersebut tidak saling mempengaruhi. Ini terjadi karena ada batas yang memisahkan di antara pertemuan dua air laut tersebut.102
102
“Modern Science has discovered that in estuaries, where fresh (sweet) and salt water meet, the situation is somewhat different from what is found in places where two seas meet. It has been discovered that what distinguishes fresh water from salt water in estuaries is a “pycnocline zone with a marked density discontinuity separating the two layers.” (Gross, Oceanography, page: 242)
Kadar garam yang tinggi selalu berada di kolam air laut sebelah dalam tempat-tempat yang suhunya dingin dan berlintang tinggi seperti kutub. Sebaliknya di kawasan khatulistiwa, salinitas tinggi berada di permukaan dan salinitas akan semakin rendah seiring dengan semakin dalam kolam air. Kondisi ini menunjukan kita bahwa air laut tidaklah seragam dari atas kebawah, sama halnya tidak sama antara air laut yang hangat dan air laut yang dingin. Setidaknya secara umum ada dua laut yang dibatasi oleh ‘dinding' yang berupa sifat
fisika dan kimia yang berbeda.103
Gambar 4-4 : Selat Giblatar yang menjadi batasan pada laut mediterania dan Laut Atlantik. derajat kehangatan (suhu) sekitar 11,5° maupun kadar garam sekitar di atas 36,5% dari air laut Mediteranian yang telah berada di kedalaman air laut Atlantik, tetap tidak terpengaruh oleh suhu maupun salinitas (kadar garam) dari air laut Atlantik yang mengelilinginya. Dimana air laut Atlantik di kedalaman sekitar 1000 m yang mengelilingi air laut (yang tadinya berasal dari) Mediteranian juga memiliki suhu dan salinitas (kadar garam) sendiri berbeda, yaitu bersuhu
103
Ahmad As Showwy, Mukjizat al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, (Jakarta:
sekitar 10° dan dengan salinitas sebesar di bawah 36,0%, berbeda dengan air laut Mediteranian yang dikelilinginya.104
Gambar 4.5 : Peta Selat Boporus batasan antara laut hitam dan Laut Marmara dimana menemukan batas yang melintang horizontal ini yaitu pada kawasan di antara dua teluk tersebut terdapat pemisahan antara air laut bagian atas yang berasal dari laut hitam dan laut marmara. Di selat inilah banyak dikemukakan oleh para pakar kelautan tentang adanya batas-batas antara laut bagian atas dan bagian bawah.105
Dahulu orang mengira bahwa air laut permukaannya mengalir ke arah barat maka demikian pula dengan aliran arus dibawahnya. Tetapi data penelitian yang diperoleh dan apa yang telah dialami oleh para penyelam ternyata menunjukan hal yang berbeda. Aliran arus yang mengalir di permukaan laut membawa air laut hangat dari kawasan tropis di bawah garis katulistiwa menjauh menuju dua kutub diantaranya kutub utara dan kutub selatan.
104
Artikel ini diakses pada tanggal 11 Agustus 2010 di www.wikipedia.com, pukul 11.03 WIB
105
Artikel ini diakses pada tanggal 20 oktober 2010 di petadunia.wordpress, pukul 11.03 WIB
Penggeraknya adalah faktor iklim (suhu, tekanan udara, dan angin) lokasi laut terhadap benua, dan efek Coriolis.106 Pergerakan arus permukaan laut ini hanya melibatkan sekitar 10% dari keseluruhannya volume air laut.107 Namun pergerakan volume aliran arus air yang lebih besar di bagian kolam air yang dalam lebih ditentukan oleh perbedaan densitas air laut, suhu, dan perbedaan salinitasnya. Gerakan aliran arus bawah ini dikenali dengan suatu pola sirkulasi thermohaline.108 Air dingin, atau air asin, bergerak naik turun, berputar-putar dan mungkin berbeda sama sekali dengan aliran yang ada di permukaan, mengikutilah yang pasti kedalaman laut.
Batas Pertemuan Dua Laut (Kumpulan Air) Tempat Pertemuan
Dua Laut
Laut Sungai
Laut di sebelahnya Terusan, Kanal, Batas paparan (Shelf Margin)
Delta, Muara
Laut yang sama di bagian yang lebih dalam
Lapisan-Lapisan yang mempunyai sifat kimia dan fisika yang berbeda
Ngarai Bawah Laut (Submarine Canyon)
106
Efek Coriolis adalah defleksi yang jelas dari benda yang bergerak bila mereka dilihat dari kerangka acuan yang berputar dimana bumi adalah stasioner, di dalam ilmu kelautan efek Coriolis ini sangat berpengaruh dalam dinamika skala laut maupun dalam atmosfer. Efek Coriolis
ini ditemukan oleh seorang ilmuwan dari Perancis yang bernama Gaspard Gustave Coriolis
dengan rumus yang terkenalnya adalah . (Artikel ini di akses pada tanggal 01
Agustus 2010 dari www.wikipedia.com, pukul 13.00 WIB) 107
Davis, Richard A., Principles of Oceanography, (Addison: Wesley Publishing), Hlm. 92-93
108
Sirkulasi Thermohaline adalah berasal dari kata sifat thermo yang mengacu kepada temperature dan haline mengacu pada yang bersifat garam, jadi disini yang menjadi titik fokus adalah kembali lagi kepada densitas air laut. (Artikel ini di akses pada tanggal 03 Agustus 2010 dari www.wikipedia.com, pukul 13.00 WIB)
Tepat di bawah garis khatulistiwa di lutan pasifik, Atlantik, dan juga Lautan Hindia, terdapat arus laut yang bergerak melawan arah arus permukaannya. Arus Pasific Equatorial Undercuren, yang juga dikenal dengan sebutan Crowmwell Current,109 bergerak ke arah timur tidak digambarkan dalam peta-peta arus dipermukaan laut. Arus ini berada ditengah-tengah arus pacific South Equatorial Current, yang mengalir ke barat. Bagian atas dari arus Cromwell ini berada pada kedalaman laut antara 46-91 m. Air laut yang bergerak di dalam sebuah kolom imajiner yang tidak tercampur dengan air laut sekitarnya. Ketebalan arus ini hanya 150 m dan lebar rentangnya hanya 402 km.110 Tidak seperti umumnya arus laut yang sering berpindah lokasi, arus Cromwell ini selalu berada tepat di bawah garis khatulistiwa. Perhatikan bahwa antara dua aliran arus laut yang ke barat dan ke timur ini, terdapat suatu batas yang tidak saling terlampaui. Antara kolom arus kolom arus Cromwell yang bergerak ke timur ini dengan lapisan air laut di atas (yang bergerak ke barat) dan di bawahnya terdapat suatu dinding pemisah yang tidak di lampaui oleh masing-masing air laut.111
Adanya batas dua lautan ini ternyata tidak hanya di situ saja, pada perairan di Selat Giblatar ternyata terdapat aliran arus laut yang berlawanan arahnya. Arus permukaan mengalir masuk ke laut Mediterania sedangkan aliran arus dalamnya keluar menuju laut Atlantik. Adanya perbedaan arah aliran ini ternyata dipengaruhi oleh perbedaan salinitas atau kadar keasinan air laut. Air laut di selat Giblatar yang memiliki salinitas tinggi, berat jenisnya lebih besar daripada air laut
109
Crowmwell Curent disebut juga Pasifik Khatulistiwa terpendam atau hanya Equatorial terpendam) adalah timur-mengalir arus bawah permukaan yang memperpanjang panjang khatulistiwa di Samudra Pasifik, ditemukan pada tahun 1952 oleh Townsend Cromwell , seorang peneliti dengan Laboratorium Honolulu dalam meneliti sungai Mississippi. (Artikel ini di akses pada tanggal 17 Agustus dari www.wikipedia.com, pukul 10.00 WIB).
110
Agus S. Djamil, Al-Qur’an dan Lautan, h. 118 111
di dekat permukaan yang salinitasnya rendah, Oleh sebab itu berada di bawah (perhatiakan gambar 4-6).
Gambar 4-6: Air Laut Mediterania ketika memasuki Atlantik melalui selat Jibraltar dengan tetap membawa sifatnya yang lebih hangat berkadar garam lebih tinggi dan lebih pekat karena adanya yang membatasi antara kedua lautan tersebut, suhu dan derajat celcius.
Sumber : Kuenen, Marine Geology, h. 43
Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan bahwa pada tempat-tempat di mana dua lautan yang berlainan bertemu ada batas di antara keduanya. Batas ini membagi kedua lautan sehingga setiap laut memiliki suhu, kadar garam dan kepekatan tersendiri. Sebagai contoh, laut Mediterania memiliki air yang hangat, berkadar garam tinggi dan lebih pekat dibandingkan dengan lautan Atlantik. Ketika laut Mediterania memasuki Atlantik melalui selat Jibraltar, airnya bergerak beberapa ratus kilometer ke wilayah Atlantik pada kedalaman 1000 meter dengan tetap mempertahankan sifatnya yang hangat, berkadar garam tinggi dan lebih pekat.112 Pada kedalaman ini, air laut Mediterania berada dalam keadaan stabil. Meskipun ada ombak besar, arus dan pasang surut yang kuat, seolah-olah ada batas yang menghalangi pencampuran air dari ke dua lautan ini. Jadi, Arus yang
112
Artikel ini diakses pada tanggal 11 Agustus 2010 dari seremonia.wordpress.com, pukul 10.00 WIB
masuk ke laut tengah atau laut Mediterania mempunyai salinitas yang rendah atau dengan kata lain tidak seasin air laut yang mengalir di bawahnya. Dengan adanya dua aliran yang berbeda arah mengalirnya padahal terjadi pada lokasi yang sama, selat Gibraltar, tentu di situ terdapat batas antara dua aliran air laut pada kedalaman tertentu. Inilah satu contoh bagaimana bisa terjadinya dua laut dengan batas yang tidak saling melampaui.113
Di Ujung Afrika Selatanpun, dalam kawasan laut di paparan agulhas