• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PERANCANGAN ARSITEKTUR

ANALISA PERANCANGAN ARSITEKTUR

Analisis Peruntukkan Tanah

Dalam analisa peruntukan tanah akan membahas mengenai peraturan pemerintah dalam lingkup peruntukkan tanah berdasarkan RTRW dan RDTR, fungsi sekitar, penggunaan lahan sekitar tapak dan potensi sekitar tapak.

Peraturan Pemerintah untuk Peruntukkan Tanah Berdasarkan RTRW dan RDTR

Pengadaan sebuah community center ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Medan Labuhan sebagai titik transit oriented development. Perancangan Medan Labuhan community center ini juga sesuai dengan RTRW Kota Medan Tahun 2011-2031, BAB IV, Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota, Pasal 55 Ayat 6, kawasan stasiun Kereta Api Medan Labuhan telah ditetapkan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD) (gambar 5.1).

Gambar 5.1 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi Kota Medan Tahun 2015-2035

SITE

AREA TOD

SITE

Fungsi Sekitar dan Penggunaan Lahan Sekitar Tapak

Persebaran dan penggunaan lahan pada sekitaran site perancangan pada radius 800-1.600 m meliputi fungsi komersil, fungsi pendidikan dan permukiman serta fungsi preservasi.

7. Fungsi Komersil a. Radius 800 m

Gambar 5.2 Fungsi Komersil Radius 800 m

Pada radius 800m terdapat bangunan fungsi komersil sebagai berikut :

x Pajak Pagi Shopping Mall x RSUD Pekan Labuhan x CV. Garuda Artha EXP x Rival Jaya Convenience Store x AXA Mandiri Insurance x Swalayan RR

x AJ Doorsmeer

b. Radius 1.600 m

Gambar 5.3 Fungsi Komersil Radius 1.600 m

Pada radius 1600m terdapat bangunan fungsi komersil sebagai berikut :

x J&T Labuhan

x Limited Things Shop x Alfamidi Yos Sudarso x Den Bagus Indonesian x Pasar Pekong Labuhan x Mabar IV Poultry Shop x Toko Pancing Fitrah

8. Fungsi Pendidikan dan Permukiman a. Pendidikan Radius 800 m

Gambar 5.4. Fungsi Pendidikan Radius 800 m

Pada radius 800m terdapat bangunan fungsi pendidikan sebagai berikut :

x SMAN 19 Medan x SMAN 39 Medan x SMKN 13 Medan

x YASPI Private Islamic High School

b. Pendidikan Radius 1.600 m

Gambar 5.5 Fungsi Pendidikan Radius 1.600 m

Pada radius 1600m terdapat bangunan fungsi pendidikan sebagai berikut :

x PAUD Melati Harum x SMP Dr. Wahidin x SDN 065092 Medan x SDN 069050 Medan x SDN 060948 Medan c. Permukiman Radius 1.600 m

Gambar 5.6 Fungsi Permukiman Radius 1.600 m

Pada radius 1600m terdapat bangunan fungsi permukiman sebagai berikut :

x Rusunawa Belawan x Komplek jade center

x Komplek perumahan pegawai distrik navigasi

9. Preservasi a. Radius 800 m

Medan Labuhan merupakan salah satu kawasan yang memiliki sejarah besar di Medan.

Berikut adalah beberapa bangunan bersejarah yang masih dapat ditemukan:

Gambar 5.7 Lokasi Bersejarah di Medan Labuhan

x Masjid Al-Osmani

Masjid Raya Al Osmani ini terletak di kawasan Jalan Yos Sudarso KM 17.5 Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Medan, didirikan oleh Sultan Deli VII Osman Perkasa Alam, bukan hanya merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Tetapi pada dasarnya Masjid Raya Al- Osmani merupakan perpaduan kebudayaan antara etnis Cina, Timur Tengah, India, Spanyol dan etnis lokal yang ada di kota Medan yaitu etnis Melayu.

x Vihara Siu San Keng

Vihara Siu San Keng termasuk Vihara tertua di kota Medan yang berdiri pada masa kejayaan Tjong bersaudara yaitu Tjong Yong Hian danTjong A Fie di tahun 1890. Pada masa itu Tjong bersaudara merupakan tokoh terpenting dalam pembangunan kota medan dan Vihara Siu San Keng berikut merupakan bentuk sumbangsih dari Tjong Yong Hian yangmasih ada sampai sekarang. Vihara ini berada di Jl. KL Yos Sudarso Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan. Vihara ini dibangun oleh masyarakat Tionghoa setempat karena pada masanya, wilayah ini merupakan salah satu dari sekian tempat pemukiman etnisTionghoa di kota Medan pada abad ke-19.

Gambar 5.8 Vihara Siu San Keng

x Pajak Pagi Pekan Labuhan/Pasar Pekong Labuhan

Pasar ini merupakan pasar tradisional yang berdiri lebih dari 30 tahun. Dan belum pernah mengalami pembangunaan kembali sehingga membuat kondisi pasar sangat memprihatinkan. Kawasan Pasar Pekong Labuhan ini terletak di Jl. Syahbuddin Yatim Medan Labuhan, letaknya berdekatan dengan Vihara Siu San Keng.

Potensi Sekitar Tapak

Kecamatan Medan Labuhan memiliki potensi besar dalam perancangan community center. Hal ini dikarenakan fungsi fungsi komersil, fungsi pendidikan dan permukiman serta fungsi preservasi yang mendominasi fungsi di sekitar lokasi perancangan yang telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya. Hal ini menjadikan fungsi community center sebagai generator dan wadah aktivitas masyarakat setempat dapat berjalan lebih optimal yang akan dijelaskan dalam table 5.1.

Tabel 5.1 Respon Terhadap Potensi Sekitar Lahan

No Fungsi Sekitar Lahan Banguan Radius

800-1600 Respon

- AXA Mandiri Insurance - Swalayan RR

- Doorsmeer - J&T Labuhan - Limited Things Shop - Alfamidi Yos Sudarso

Bangunan Komersil pada sekitar lahan menunjukkan aktivitas yang padat, hal ini akan dimanfaatkan dengan merancang lahan agar lebih banyak memaksimalkan ruang luanya.

- Den Bagus Indonesian - Pasar Pekong Labuhan - Mabar IV Poultry Shop - Toko Pancing Fitrah

2. Pendidikan - SMAN 19 Medan

- SMAN 39 Medan - SMKN 13 Medan

- YASPI Private Islamic High School

Fungsi pendidikan pada area sekitar lahan menunjukkan aktivitas yang seimbang antara

SMA-SD yang akan

dimanfaatkan dengan merancang ruang luar community center agar lebih bersahabat dengan membuat area bermain juga untuk komunitas dengan range usia SD-SMP. perumahan akan berdampak pada pengadaan ruang-ruang untuk keluarga yang bermukim di sekitar area lahan.

4. Preservasi - Masjid Al-Osmani - Vihara Siu San Keng - Pajak Pagi Pekan

Labuhan/Pasar Pekong Labuhan

Fungsi preservasi akan memberikan keuntungan yang bagus dalam mendatangkan pengunjung, karena community center ini akan menjadi pelengkap bukan sebagai saingan dalam hal pengembangan Medan Labuhan

Sumber : Penulis, 2021 Analisis Fungsional

Analisis Kebutuhan Ruang

Berikut dilakukan analisis kebutuhan ruang yang diperlukan pengguna berdasarkan klasifikasi pengguna untuk dapat mengetahui kebutuhan ruang yang selanjutnya diakomodasi saat melakukan perancangan community center di Medan Labuhan.

Tabel 5.2 kegiatan dan kebutuhan ruang

Jenis

di dalam bangunan (indoor)

Edukatif Belajar dan melihat budaya melayu

x Bermain di taman

Semua Kalangan

Sumber : Penulis, 2021 Analisis Kebutuhan Parkir

Berdasarkan kebutuhan parkir, dapat diperoleh prediksi pengunjung community center ssebagai berikut.

Berdasarkan stancart jumlah parkir (Ir. Jimmy S Juwana, MSAE, 2004), kebutuhan pada Labuhan Community Center adalah :

1. Mobil

Kebutuhan 1 mobil = 6 orang = (total seluruh pengunjung : jumlah penumpang dalam 1 mobil) = 78 mobil

1 mobil membutuhkan 12,5 m2, sehingga memerlukan lahan 78 x 12,5 = 973,3 m2 Sirkulasi 20% = 973,3 x 20/100 = 194,6 m2 Total 973,3 + 194,6 = 1168 m2

2. Sepeda Motor

Jumlah 1 sepeda motor = 2 orang = (total seluruh pengunjung : jumlah penumpang dalam 1 motor) = 467 motor

1 sepeda motor membutuhkan 2 m2 , sehingga memerlukan lahan 467 x 2 = 934 m2 Sirkulasi 20% = 937 x 20/100 = 186,88 m2

Total 186,88 + 934 = 1121,3 m2 3. Sepeda

Jumlah 1 sepeda = 1 orang = (total seluruh pengunjung : jumlah penumpang dalam 1 sepeda motor) = 934 sepeda motor

1 sepeda membutuhkan 0,75 m2, sehingga memerlukan lahan 934 x 0,75 = 700,8

Sirkulasi 20% = 700,8 x 20/100 = 140,16 m2 Total 186,88 + 934 = 840,36 m2

Dari perhitungan di atas, disimpulkan bahwa total kebutuhan parkir pada bangunan Labuhan Community Center adalah 1168 m2 + 1121,3 m2 + 840,36 m2 = 3130,2 m2. Dengan demikian, area parkir dikonsepkan (Gambar 5.9) berada tepat di depan bangunan utama untuk parkiran sepeda motor karena aktivitas pesepedamotor yang tinggi, dilanjutkan dengan samping kanan bangunan yang akan diperuntukkan sebagai area parkiran mobil agar mempermudah akses menuju Gedung serbaguna dan area olahraga, dan terakhir pada area belakang bangunan bertepatan pada jl. Tol Belmera akan di letakkan parkiran pengelola maupun pekerja service lainnya..

Gambar 5.9 Konsep Area Parkir

Analisa Aksesbilitas

Dalam analisa aksesbilitas akan membahas pencapaian ke bangunan dan ruang dalam mendesain bangunan community center yang dapat diakses oleh semua pengguna pada berbagai aspek. Penciptaan pencapaian menuju bangunan dan akses ke dalam bangunan harus memudahkan pengguna untuk mengetahui langsung lokasi serta aspek-aspek yang digunakan untuk menuju community center ini. Aksesibilitas ini terintegrasi dengan oranganisasi ruang dan program ruang.

Analisis Akses Pencapaian

Pencapaian ke stasiun Medan Labuhan dari pusat Kota medan menurut Google Maps adalah 18,2 Km dengan jarak tempuh 31 menit (Gambar 5.10).

Gambar 5.10 Aksesbilitas Dari Medan-Medan Labuhan Pencapaian dari Medan Kota ke Medan Labuhan

Pencapaian ke stasiun Medan Labuhan dari Belawan menurut Google Maps adalah 6,8 Km dengan jarak tempuh 13 sampai dengan 15 menit (Gambar 5.11).

Gambar 5.11 Aksesbilitas dari Belawan - Medan Labuhan

Pada analisa aksesbilitas ke stasiun Medan Labuhan dari pusat Kota medan (Gambar 5.10) dan ke stasiun Medan Labuhan dari Belawan (Gambar 5.11) tergolong lancar dengan intensitas kemacetan yang rendah, itu menjadi faktor penunjang yang baik dalam mendirikan community center.

Sirkulasi

Akses utama (primer) menuju dan/atau keluar site berada pada jalan Kol. Yos Sudarso yang dimana jalan ini dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda 4 hingga kendaraan roda 2 dengan kapasitas kendaraan jalan dua arah (Gambar 5.12). Akses untuk memasuki site ditandai dengan panah berwarna merah, sedangkan akses untuk menjauhi atau meninggalkan site ditandai dengan panah berwarna biru.

Gambar 5.12 Analisa Sirkulasi

(Sumber : Olah Data Pribadi 2020) Pencapaian dari Belawan ke Medan Labuhan

Pedestrian

Pedestrian berikut akan memperngaruhi perancangan community center untuk meneruskan pedestrian yang ada ke dalam bangunan community center.

Gambar 5.13 Pedestrian Penjelasan dari gambar 5.13, adalah sebagai berikut : x Jl. Kol Yos Sudarso

Pedestrian memiliki jalur sendiri, materialnya adalah tanah x Tidak memiliki nama jalan

Pedestrian memiliki jalur sendiri, materialnya adalah tanah x Jl. Kol Yos Sudarso

Pedestrian memiliki jalur sendiri, materialnya adalah tanah.

Pedestrian untuk pejalan kaki pada sekitar site kurang diperhatikan karena tidak adanya jalur tersendiri atau pembatas yang pasti untuk membedakan antara jalan aspal dengan pedestrian pejalan kaki. Material pada pedestriannya juga tidak diperhatikan, hanya material alami tanah yang memang sudah terdapat pada sekitar site tanpa di ekspose lagi.

Konsep Dasar Aksesbilitas

Aksesbilitas yang ada pada site akan dimaksimalkan dari berbagai arah karena community center tidak akan menutup kemungkina orang bersosialisasi dari semua arah, hanya saja akan di buat entrance utamanya yaitu melalui jalan Kol. Yos. Sudarso atau dari arah barat karena dari arah ini tingkat kemacetan rendah dan merupakan persimpangan antara jalan yang mengelilingi site (Gambar 5.14).

Gambar 5.14 Konsep Dasar Aksesbilitas

Untuk akses pejalan kaki, solusi yang dihadirkan adalah dengan merancang ruang luar pada lahan agar lebih bersahabat dengan para pejalan kaki, yaitu dengan menempatkan pavingblock disetiap ruas jalan yang mengelilingi bangunan utama dan diberikan elevasi yang berbeda agar kendaraan yang melintas tidak mengganggu pengguna dengan berjalan kaki.

Analisis Intensitas Bangunan Intensitas Kepadatan Bangunan

Pembahasan mengenai kepadatan bangunan berkenaan dengan intensitas pemanfaatan ruang. intensitas kepadatan bangunan dipengaruhi oleh permukiman disekitar site yaitu, Rusunawa Belawan, Komplek jade center, Komplek perumahan pegawai distrik navigasi (Gambar 5.15).

Gambar 5.15 Titik Lokasi Pemukiman

BANGUNAN UTAMA

PARKIR

FOODCOURT

FOODCOURT

BANGUNA N OLAHRAG

A

Pada gambar 5.15 dijelaskan bahwa perumahan yang ada di titik-titik lokasi yang telah di survey menunjukkan intensitas kepadatan yang sedang, tidak terlalu padat sehingga tidak terlalu mempengaruhi sirkulasi aksesbilitas, kebisingan atau polusi lainnya dan hal tersebut sangat mendukung didirikannya community center ini.

Intensitas Ketinggian Bangunan

Dalam memutuskan tinggi bangunan utama community center, Penelitii terlebih dahulu melakukan observasi terhadap fakta eksisting tinggi bangunan di lokasi proyek dan kawasan sekitarnya. Analisis perancangan mengenai tinggi bangunan pada lokasi proyek dan sekitarnya meliputi fakta jumlah lantai rata- rata untuk setiap area riset. Pada stasiun Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, Penelitii menemukan bahwa tinggi bangunan sekitar yang berfungsi sebagai pemukiman berkisar antara 1-2 lantai atau sama dengan 8 meter (A). Untuk bangunan eksisting yang berada 100 -150 meter arah utara lokasi proyek yang berfungsi sebagai rumah ibadah memiliki tinggi 10-12 meter dengan tipologi bangunan bentang lebar (B).

Gambar 5.16 Pembagian Zona Sekitar Site Berdasarkan Ketinggian Bangunan 8 m

ϭϴŵ 8 m

Konsep Dasar Massa Bangunan

Berdasarkan kajian yang dilaksanakan Penelitii dalam sub bab 5.4.1-5.4.2, maka Penelitii menentukan konsep dasar massa bangunan-bangunan di Kawasan tersebut merupakan transformasi dari persegi dan segitiga. Dapat dilihat pada gambar 5.17

Gambar 5.17 Konsep Bentuk Gubahan Awal

Konsep Dasar Wajah Bangunan

Dengan judul arsitektur neo-vernacular pada Labuhan Community Center artinya penerapan massa dan perwajahan dari pusat komunitas yang akan di buat harus bisa merepresentasikan dengan baik penerapan arsitektur neo-vernacular.

Ada beberapa point penting yang menjadi tolak ukur dalam merancang sebuah pusat komunitas yang berlandaskan tema Arsitektur neo-vernacular Melayu, diantaranya dengan mengetahui dengan baik bentuk arsitektur Melayu ( khususnya Melayu deli) yang diterapkan pada Rumah Adat Melayu deli merupakan poin penting dalam menciptakan massa dan perwajahan bangunan yang sesuai(gambar 5.18).

Bentuk dasar yang digunakan adalah persegi agar memudahkan mobilitas didalamnya dan mengikuti bentuk biasanya rumah adat

Selanjutnya persegi di transformasikan aditif dengan penambahan segitiga dalam pembentukan atapnya

Atap segitiga ditransformasi substraktif agar mendapatkan bentuk yang lebih atraktif dan tidak kaku

Terakhir, bangunan akan di berikan panggung agar lebih mencerminkan arsitektur neo-vernacular melayu

Gambar 5.18 Berbagai rumah tradisional Melayu di Sumatera Utara

(Sumber: M. Fachri B. Z., 2016)

Mengetahui elemen-elemen apa saja yang mendasari dalam terciptanya sebuah rumah adat Melayu menjadi hal penting dalam memahami arsitektur Melayu seperti halnya:

1. Penerapan ornamen pada rumah adat melayu

2. Bagaimana konsep penghawaan yang tercipta dari sebuah rumah adat melayu , lihat (Gambar 5.19)

Gambar 5.19 Rumah adat Melayu

(Sumber: http://download.portalgaruda.org/) 3. Material apa saja yang di gunakan

4. Hirarki ruang seperti apa yang tercipta

5. Filosofi seperti apa yang di gunakan masyarakat melayu 6. Bentuk seperti apa yang tercipta

7. Bagaimana sequence rumah adat melayu

Hingga kepada aktifitas seperti apa yang berlangsung di dalam rumah sehingga hal tersebut yang menjadi tradisi masyarakat suku Melayu Deli di kota Medan.

Wajah bangunan utama pada community center ini akan di desain mengikuti gaya arsitektur neo-vernacular yang dalam hal ini akan menerapkan konsep-konsep pada kebudayaan Melayu Deli. Wajah bangunan yang menghadap jalan Kol. Yos Sudarso (barat) ditetapkan dengan konsep ukiran ukiran khas Melayu. Berikut merupakan fasad depan bangunan utama (Gambar 5.20).

Gambar 5.20 Konsep Awal Fasad

Sumber : Penulis, 2021

Analisa View

View dari dalam site ke arah utara, barat dan selatan menghadap langsung ke permukiman warga. View ke arah timur menghadap langsung ke arah jalan Tol Belmera, dengan view adalah terbaik pepohonan dan rumput hijau disepanjang luasan arah timur jalan Tol Belmera.

Sedangkan view dari luar menuju site dengan view terbaik berada pada seluruh arah karena ada jarak yang cukup untuk menikmati bangunan di dalam site(Gambar 5.22).

Penggunaan material baja dan kaca pada fasad yang memberikan kesan modernitas

Gambar 5.21 Analisa View

(Sumber : Olah Data Pribadi 2020)

Pada bagian dengan view tergolong positif akan di maksimalkan bukaan kaca yang akan mendapatkan view terbaik yaitu pepohonan pada arah timur, sebaliknya pada arah barat akan diminimalkan bukaannya dan akan maksimalkan permainan material dan ukiran-ukiran khas melayu karena pada area ini adalah area dengan view perumahan dan entrance utama (Gambar 5.23).

Gambar 5.22 Konsep View

Analisa iklim Arah Angin

Arah angin pada site cenderung datang dari arah angin berhembus dari barat daya ke timur laut dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knots (9-37 km per jam). Hal ini bisa menjadi potensi jika dapat manfaatkan dengan baik (Gambar 5.24).

Di area dengan view negative akan ditanami vegetasi untuk meminimalisir pandangan pengguna langsung kea rah view negatif

Gambar 5.23 analisa angin

(Sumber : Olah Data Pribadi 2020) Matahari

Arah pergerakan matahari pada site akan langsung mendapatkannya sepanjang tahun, hal ini akan berpengaruh terhadap orientasi bangunan terhadap lintasan matahari dan karakteristik material bangunan serta pencahayaan interior dan eksterior bangunan. Pada lokasi perancangan, durasi penyinaran matahari berkisar antara 37-63% per tahun (Gambar 5.25).

Gambar 5.24 Analisa Matahari

(Sumber : Olah Data Pribadi 2020)

PAGI 06.00 WIB SIANG

12.00 WIB

SORE 18.00 WIB

Konsep Dasar Pengaruh Iklim dalam Perancangan Bangunan Neo-Vernacular Konsep dasar pengaruh iklim terhadap bangunan utama community center ini akan memanfaatkan sinar matahari sebagai pencahayaan alami dengan mengikuti konsep rumah adat melayu yang memaksimalkan bukaan pada arah utara-selatan. Hal ini juga dikarenakan arah bukaan utara selatan memiliki daerah yang terkena radiasi relatif kecil sehingga mendapatkan cahaya alami secara tidak langsung. Rumah panggung yang di maksudkan selain sebagai struktur efisien untuk meminimalisir gempa juga sebagai penyalur udara yang baik dari bukaan atas menuju bukaan di rumah panggungnya sehingga orientasi udara pada ruangan akan mengaliri setiap sudut dalam bangunan. Atap yang dilebihkan sebagai kanopi akan meminimalisir intensitas hujan dan cahaya matahari yang berlebihan sehingga yang masuk keruangan hanya secukupnya (Gambar 5.26).

Gambar 5.25 Konsep Iklim Pada Rumah Tradisional

Analisa tata ruang dalam

Analisis Hubungan Antar Ruang

Analisis hubungan antar ruang merupakan suatu cara mengelola ruang- ruang berdasarkan potensi permasalahan dan keterkaitan ruang dengan ruang-ruang di sekitarnya dalam perancangan bangunan. Hubungan antara ruang dalam bangunan dapat berupa pergerakan manusia, barang Analisa tata ruang dalam tidak lain merupakan menganalisa pen zoningan dari beberapa fungsi yang ada dan mengetahui hubungan antar ruang di Labuhan Community Center. Analisa ini dilakukan dengan mengelompokkan kegiatan yang sama terhadap kondisi tapak. Zona penzoningan terdiri atas:

a. Publik, merupakan zona yang berhubungan secara langsung dengan pengunjung.

b. Semi publik, merupakan peralihan antara zona pengelola dan pengunjung.

c. Privat, merupakan zona yang digunakan unutk kepentinganpengelola.

d. Servis, merupakan zona yang berhubungan erat dengan kegiatan pelayanan.

Berikut adalah penzoningan tiap ruang berdasarkan zona yang dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.3 Penzoningan Tiap Ruang

No FASILITAS NAMA RUANG PUBLIK SEMI

PUBLIK PRIVATE SERVICE 1. GEDUNG

PENGELOLA RUANG TAMU RUANG KARYAWAN

3. SERVICE RUANG KARYAWAN RUANG GENSET RUANG TRAFO RUANG POMPA

RUANG KONTROL CCTV 4. FOODCOURT STAND/RETAIL JUALAN

AREA MAKAN LAV WANITA/PRIA 5. LAPANGAN

OLAHRAGA LAPANGAN FUTSAL LAPANGAN

BADMINTON 6. AREA

BERMAIN PLAY GROUND

Dari table kedekatan ruang diatas, di dapatkan konsep kedekatan ruang dengan konsep dasar yang di jelaskan dalam bubble diagram berikut :

Sumber : Penulis, 2021

Program Ruang

Berikut ini merupakan program ruang yang direncanakan sebagai acuan dasar dalam mendesain besaran ruang yang akan ada di dalam pusat komunitas lengkap dengan standarisasi yang berlaku dari beberapa sumber (Tabel 5.3).

Toilet

Service Semi privat Dekat, Tidak Berkaitan

Publik Privat Jauh, Tidak Berkaitan

Semi public Dekat, Berkaitan

Sumber : Penulis, 2021

Tabel 5.4 konsep dasar besaran ruang

Sirkulasi 20% 12.52

Total 75.12

Sirkulasi 20% 169.7

Total Total 1,018.2 1

No.

Lapangan

Total Keseluruhan 3.318.632

Analisa dan konsep sistem struktur/ konstruksi

Bangunan Labuhan Community Center ini merupakan fasilitas yang mewadahi interaksi sosial masyarakat dalam bersosialisasi maupun beraktivitas. Penerapan tema neo- vernacular Melayu menjadi patokan dalam menerapkan sistem struktur dan konstruksi bangunan yang sesuai pada pusat komunitas ini dikarenakan struktur yang di gunakan juga mempengaruhi aktivitas di bangunan. Struktur yang menjadi patokan disini adala sistem struktur rumah panggung pada rumah adat Melayu Deli.

Sistem struktur rumah panggung

Sistem rumah panggung adalah sistem struktur yang mempunyai bidang lantai yang terangkat dari permukaan tanah, dengan tiang-tiang pada penopangnya. Sistem struktur ini banyak dijumpai pada arsitektur tradisional Indonesia. Penggunaan material kayu menjadi material utama pada struktur rumah panggung tradisional.

Alasan penggunaan struktur rumah panggung bermacam- macam, tetapi terutama adalah mengantisipasi timbulnya bahaya yang berasal dari alam, misalnya banjir dan binatang buas.

Pada Labuhan Community Center sistem struktur rumah tradisional melayu menjadi patokannya seperti yang terlihat pada gambar 5.27.

Sumber : Penulis, 2021

Gambar 5.26 Struktur Rumah Panggung Tradisional Melayu

(Sumber : http://indonetwork.co.id/ rumahkayu_co/profile/rumah- kayu.htm, 2011) Hal tersebut dikarenakan tema dari pusat komunitas ini sendiri adalah neo-vernacular Melayu. Sehingga struktur dari rumah tradisional Melayu yang lebih modern dengan penggantian material seperti material kayu di gantikan dengan material beton maupun baja ringan menjadi sistem yang di gunakan pada tiap bangunan pusat komunitas ini. Agar disain dari pusat komunitas ini bisa terlihat lebih baru tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya seperti contoh pada disain bangunan pada gambar 5.28.

Gambar 5.27 Sistem Rumah Panggung Modern

(Sumber : http://buildingindonesia.biz/

2011/03/28/rumah-panggung-di-bantaran-sungai/, 2011 Material struktur

Dikarenakan tema yang di gunakan pada Labuhan Community Center ini adalah arsitektur neo-vernacular Melayu. Unsur-unsur vernacular pada materialnya juga harus di tekankan pada bangunan Labuhan Community Center ini. Seperti halnya penggabungan antara unsur material lokal seperti kayu dan batu bata yang di gabungkan atau beberapa

struktuurnya di gantikan dengan material beton atau baja. Namun dalam menentukan material- material tersebut dibutuhkan pengetahuan yang luas akan sifat – sifat mekanisnya.

Diantara sifat – sifat ini yang paling penting adalah kekuatan, kekakuan dan elastisitas.

Secara umum ada 4 bahan struktur utama, yaitu : pasangan bata, kayu, baja, dan beton bertulang. Berikut ini akan dijelaskan kelebihan dan kekurangan masing – masing material struktur :

1. Bata

Kelebihannya adalah memiliki kekuatan tekan yang cukup, dapat digunakan pada bangunan dalam dan luar bangunan, mudah didapat dan harganya relatif murah. Kekurangan adalah biasanya sangat rapuh atau getas, berat dan tidak punya daktilitas, kekuatan tarik dan geser relatif rendah, ketika momen lentur yang besar terjadi akibat tekanan angin pada dinding luar, maka tingkat tegangan lentur tarik harus dipertahankan supaya tetap rendah sehingga dibutuhakan ketebalan dinding yang besar.

2. Kayu

Kelebihannnya adalah kemunduran terjadi sedikit pada suhu kamar, bisa digunakandalam bentuk alamiahnya, hanya perlu diolah menjadi bentuk yang sesuai untuk penggunaan praktis

Kekurangan adalah mudah rusak karena pembusukan, pengrusakan akibat jamur

Kekurangan adalah mudah rusak karena pembusukan, pengrusakan akibat jamur

Dokumen terkait