BAB VII PERANCANGAN ARSITEKTUR
2. Arsitektur Melayu
Menurut data statistik kependudukan kota medan tahun 2001 tentang jumlah etnis di lokasi perancangan pada kecamatan pekan labuhan bahwa Etnis Melayu merupakan etnis minoritas pada lokasi perancangan hanya 40 % dan lainnya pendatang. Oleh Karena itu, penerapan arsitektur Melayu pada Labuhan Community Center merupakan hal yang tepat dalam upaya memperkenalkan kebudayaan asli kota Medan yang diterapkan dalam sebuah desain fasilitas umum pemerintah.
Sebelum menerapkan sebuah karya arsitektur ke dalam sebuah langgam neo-vernacular , terlebih dahulu sang arsitek atau pun calon arsitek harus paham benar akan pentingnya menelaah lebih dalam apa itu arsitektur Melayu, seperti apa bentuk arsitektur melayu, elemen-elemen apa saja yang ada pada arsitektur melayu, serta penggunaan warna atau ornament apa saja yang muncul pada sebuah arsitektur tradisional Melayu.
Pengertian Arsitektur Melayu
Menurut Hans- Dieter ever dalam bukunya Sosiologi Perkotaan (1979) Masyarakat Melayu merupakan masyarakat yang multirasial sehingga masyarakat Melayu terkonsentrasi di daerah-daerah pedalaman yang menunjukan ciri “desa”. Dan ketika memasuki desa Melayu atau biasa disebut kampung Melayu kita dihadapkan pada masalah orientasi. Di mana biasanya tidak ada plaza atau lapangan utama, dan tidak ada jalan utama. Rumah- rumah orang Melayu dibangun dengan pola yang jelas di mana ada beranda (serambi), ruang utama (ibu rumah), ada kamar tidur dapat disekat, serta sebuah dapur yang selalu terletak di belakang. Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) arsitektur Melayu merupakan bangunan yang dirancang berbentuk rumah tempat kediaman atau rumah tinggal. Rumah merupakan hasil cara hidup masyarakat Melayu yang berpegang pada nilai keluarga, adat, agama dan masyarakat banyak. Umri (2010) mengatakan bahwa dalam mendirikan rumah masyarakat Melayu juga mempunyai kaidah-kaidah yang berlandaskan pada adat, iklim dan syariat islam sehingga segalanya harus diperhatikan, misalnya dalam segi religious, kesehatan, rezeki, dan lain- lain. Pengaruh iklim dimanifestasikan dalam bentuk rumah berkolong/panggung dan bertiang tinggi dengan banyak jendela yang ukurannya hampir sama tinggi dengan pintu, banyaknya jendela dan lubang angin tujuannya untuk memberi udara dan cahaya yang cukup bagi penghuninya. Hal itu juga di ungkapkan oleh Amanati (2010), semua bangunan Melayu selalu memiliki tiang panggung, memiliki atap miring yang lebar atapnya selalu lebih besar dari luas bangunan sehingga interior menjadi lebih teduh dan nyaman, memiliki beranda atau teras, dan bukaan besar di hampir seluruh dinding.
a. Sejarah Kebudayaan Melayu di Kota Medan
Jhon Anderson seorang kebangsaan Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera (terbitan Edinburg 1826) Sebelum dikenal seperti saat ini dengan sebutan Sumatera Utara, pada awalnya daerah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Sumatera Timur. Sumatera Timur memang nama daerah yang terdengar asing di telinga masyarakat
Indonesia baik di pulau Sumatera maupun di luar pulau Sumatera, terutama bagi para generasi baru. Di masa jayanya dulu, daerah ini (Sumatera Timur) adalah salah satu daerah yang menegaskan betapa kayanya Bumi Nusantara. Daerah yang sangat maju dan ramai aktivitas perdagangannya, kaya akan sumber daya alam, tak heran Sumatera Timur juga disebut sebagai Bumi Bertuah. Disini pula, lahir para pujangga-pujangga Melayu yang mumpuni, para ulama terkenal, raja-raja bijaksana, dan para patriot dan negarawan yang turut serta dalam menopang, mendukung, dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sumatera Timur, sebuah daerah yang dihuni oleh mayoritas Suku Melayu, berdampingan dengan serumpun lainnya seperti Minangkabau, Aceh, Batak Simalungun, Karo, Mandailing, dan pendatang dari berbagai bangsa seperti Tionghoa, Arab, Tamil dan lainnya. Awalnya daerah ini merupakan wilayah "jajahan" dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Siak. Wilayah ini terdiri dari beberapa monarki Melayu, yaitu Kesultanan Langkat, Kesultanan Deli, Kesultanan Serdang, dan Kesultanan Asahan. ada abad ke 18, wilayah ini merdeka dari Aceh maupun Siak, dan para penguasa monarki-monarki tersebut berhak menyandang gelar "Sultan".
Pada abad ke 19, wilayah ini akhirnya ditaklukkan oleh penjajah Belanda, dan pada 1 Maret 1887, wilayah Sumatera Timur resmi menjadi wilayah administrasi Hindia Belanda sebagai sebuah karesidenan yang dipimpin oleh seorang residen yang berkedudukan di Medan.
Dalam pengertian luas, kawasan Sumatera Timur sebenarnya juga mencakup wilayah-wilayah yang dihuni Suku Melayu di pantai timur Pulau Sumatera dalam hal ini Kerajaan Tamiang, Kesultanan Siak, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan Indragiri, dan Kesultanan Riau Lingga. Kemakmuran wilayah ini secara luar biasa terjadi setelah berkembangnya perkebunan tembakau dan penemuan sejumlah ladang minyak. Pada abad ke 18-19, Langkat, Deli, dan Siak, adalah salah satu wilayah terkaya di Hindia Belanda.
Istana-istana dengan megah dibangun, begitu pula pusat bisnis, masjid-masjid, sekolah, pelabuhan, dan rumah sakit. Perdagangan Kesultanan Serdang dengan Pulau Penang juga sangat ramai. Johan Anderson, seorang utusan dari Inggris ketika mengunjungi Serdang pada tahun 1823, melaporkan bahwa Sultan Thaf Sinar Basyar Syah (1822-1851) memerintah dengan lemah lembut dan bijaksana, bahkan Baginda memiliki sebuah kapal dagang sendiri.
Baginda juga sangat terbuka terhadap orang-orang Batak dari pedalaman yang berdagang di Serdang.
b. Bentuk Arsitektur Melayu
Menurut Umri (2010) mengatakan bahwa bentuk arsitektur Melayu adalah rumah yang memakai kolong. Rumah seperti ini menurut Umri (2010) rumah panggung.
Pembangunan model rumah seperti ini , dapatlah dipahami bahwa rumah suku Melayu biasanya terletak di tepi pantai yang tidak jauh dari laut. Menurut Umri (2010) mengatakan bahwa rumah Melayu pada umumnya mempunyai bentuk yang sama. Seandainya ada perbedaan, hanyalah dalam hal besar kecilnya rumah tersebut, sesuai dengan kedudukan dan martabat si empunya. Umri (2010) menambahkan bahwa fungsi dari kolong rumah tersebut yang pertama adalah penyelamat dari air pasang dan bahaya banjir. Di samping itu sebagai pengaman dari ancaman binatang buas, sebagai tempat penyimpanan perkakas-perkakas untuk bekerja. Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) rumah tinggal Melayu biasanya terdiri dari tiga bagian yaitu lantai, dinding, dan atap.
c. Elemen Arsitektur Melayu
x Pintu, adalah salah satu elemen yang sangat penting dalam suatu rumah tinggal ataupun bangunan. Pintu dalam rumah Melayu sangatlah penting peletakannya dan biasanya mempunyai ornamen–ornamen yang memiliki arti. Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) pintu rumah Melayu biasanya terletak didepan rumah dan arahnya menyerong karena letak seperti itu dinyakini lebih sopan. Pintu rumah Melayu dihadapkan ke arah matahari terbit dan matahari terbenam. Posisi ini dipercaya guna memohon rezeki dari Allah SWT.
x Jendela, Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) jendela dalam asli kata Melayu disebut sebagai tingkap atau kauri. Jendela pada bangunan Melayu biasanya memanjang ke atas dan berukuran sama tinggi dari pintu. Jendela dalam arsitektur Melayu sangat penting dan memiliki ukiran-ukiran. biasanya ukiran-ukiran dalam jendela Melayu bermotif sinar matahari dan tumbuhan. Hal ini dijelaskan oleh
Julaihi Wahid dan Bhakti Alamsyah mengatakan jendela dibuat angin-angin dari papan yang diukir dengan motif sinar matahari atau tumbuhan bunga dan daun.
x Dinding, dalam suatu bangunan adalah sebuah pemisah antara ruang satu dengan ruang yang lain dan dinding juga berfungsi sebagai stuktur pemikul beban yang diteruskan dari atap bangunan. Dinding dalam arsitektur Melayu biasanya terbuat dari kayu. Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) dinding pada rumah Melayu bukan hanya sebagai unsur struktur bangunan saja namun juga mengedepankan fungsi pelindung dan simbolik.
x Lantai, Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) lantai rumah Melayu asli mempunyai paras yang bertingkat-tingkat yang menunjukkan keutamaan fungsi kegunaan ruang. Tingkat paling tinggi adalah rumah induk.
x Atap, adalah penutup bangunan yang fungsi utamanya melindungi bagian dalam bangunan dari panas sinar matahari maupun air hujan. Menurut Aziz (2009) atap adalah penutup bagian atas dari bangunan, termasuk rangka yang mendukungnya.
Menurut Umri (2010) Dahulu atap Melayu bahan utamanya adalah daun rumbia, yang dianyam dan kebanyakan mempunyai dalam arsitektur Melayu sangat penting dan memiliki ukiran-ukiran. biasanya ukiran-ukiran dalam jendela Melayu bermotif sinar matahari dan tumbuhan. Hal ini dijelaskan oleh Julaihi Wahid dan Bhakti Alamsyah mengatakan jendela dibuat angin-angin dari papan yang diukir dengan motif sinar matahari atau tumbuhan bunga dan daun.
d. Penggunaan Warna Pada Arsitektur Melayu
Menurut Mahyudin Al Mudra (2004) penggunaan warna dalam Arsitektur Melayu menggunakan 4 warna yaitu kuning, hijau, putih, dan coklat.
x Kuning, dalam keyakinan masyarakat Melayu adalah melambangkan kemegahan dan kesuburan serta kemakmuran dalam suatu kehidupan.Warna kuning sering digunakan pada bangunan- bangunan Melayu seperti Istana, Masjid, dan juga rumah penduduk.
x Hijau, Pada umumnya warna hijau identik dengan agama islam. Sehingga warna ini banyak digunakan oleh masyarakat Melayu pada bangunan Masjid contohnya bisa dilihat dari Masjid Al Osmani di Belawan.
x Putih, dalam karakteristik melayu menurut Amini Padilla (2015) melambangkan kesucian, dan dalam menjalankan suatu tugas sangat dibutuhkan kejujuran agar terhindar dari kekerasan Coklat
x Coklat, biasanya digunakan pada ornamen seperti ukiran pada kayu dan digunakan juga pada lubang angin pada bangunan.
e. Penggunaan Ornamen pada Arsitektur Melayu
Penggunaan ornamen pada bangunan Melayu adalah hal yang wajib bagi masyarakat Melayu karena ornamen merupakan ukiran-ukiran yang mempunyai arti dan dipercayai oleh masyarakat Melayu. sirkulasi pertukaran udaranya cukup baik dan sempurna. Menurut Wahid dan Alamsyah (2013) ornamen pada bangunan dapat ditemukan pada bangunan rumah ibadah, rumah rakyat, dan hiasan alat senjata seperti keris, pedang dan alat pakai sehari-hari (tempat sirih, kain tenunan dsb). Jenis ornamen Melayu umumnya terdapat pada bagian rumah sebagai berikut
x Ornamen pada tudung angin
x Ornamen pada lubang hawa (angin- angin) x Ornamen pada terali
x Ornamen pada singab dalam dan penyekat
Makna selengkapnya pada ornamen Melayu dapat terlihat pada table berikut.
Tabel 2.2 Tabel jenis-jenis ornament Melayu dan kejenis-jenis ornament Melayu dan ketangannya
No Ornamen Keterangan
1. Ditempatkan pada bidang memanjang,
seperti pada papan tutup kaki dinding, daun pintu, lis dinding, tiang dan lis ventilasi. Yang termasuk kedalam kelompok ini adalah semua bentuk bermotif daun-daunan dan akar-akaran.
2. Berbentuk tumbuhan bersulur dan
bergambar burung. Makna yang terkandung adalah bahwa sesusah-susahnya manusia menjalani hidup, pasti ada batasnya karenanya diharapkan manusia untuk selalu bersabar dan tawakkal. Fungsi ornament ini adalah sebagai ventilasi bagian dalam.
3. Motif ini diambil dari bentuk bunga
kundru (sejenis sayuran). Makna dari bunga kundru adalah melambangkan ketabahan dalam hidup.
4. Motif ini diambil dari bunga melati.
Makna dari bunga melati ini adalah melambangkan kesucian dan selalu dipergunakan di berbagai upacara sebagai alat upacara.
5. Bunga manggis disebut juga tampuk
kelapa. Bunga cina ini mempunyai makna keikhlasan hati.
9. Motif ini diambil dari pucuk bamboo yang
baru tumbuh. Motif ini melambangkan kesuburan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia.
(Sumber: Wahid dan Alamsyah (2013)
Untuk menghasilkan suatu bentuk arsitektural, maka dalam mengimplementasikan tema ke dalam proses desain diperlukan suatu kajian arsitektural yang dapat dijadikan sebagai pendekatan untuk mengaplikasikan tema menjadi produk desain arsitektural dengan pendekatan tema neo-vernakuler.
x Denah; Penggunaan tipologi denah dari bangunan khas Sumatera Utara x Warna; Tema menggunakan ciri-ciri warna yang kontras dan mencolok x Fasade; Menggunakan atap khas daerah Sumatera Utara
x Lansekap; Menggunakan beberapa tanaman asli khas sumatera utara sebagai penghias dan peneduh pada ruang luar, seperti pohon kelapa dll.
Kajian Program Kegiatan Pengguna
Sistem kegiatan pada Labuhan Community Center ini didasari pada fasilitas yang ada di dalamnya, yaitu fasilitas untuk mewadahi kegiatan masyarakat diantaranya Gedung serba guna, lapangan olahraga, dan fasilitas penunjang seperti foodcourt, dan pendopo. Di mana kegiatan yang berlangsung di dalamnya mampu meningkatkan interaksi sosial masyarakat, mendukung nilai-nilai budaya yang ada di lingkungan sekitar. Kegiatan yang berlangsung pada Labuhan Community Center ini terbagi 2 diantaranya kegiatan indoor dan kegiatan outdoor. Dapat dilihat dari gambar 2.19 berikut.
Gambar 2.19 Kegiatan Pengguna
Urutan Aktivitas merupakan alur dari gegiatan pengunjung, pengelola, penyewa, bahkan service pada Labuhan Community Center.
1. Pengunjung
Pengunjung di Labuhan Community Center ini terbagi atas 2 tipe pengunjung.
Pertama adalah pengunjung yang menggunakan kendaraan dan kedua adalah pengunjung yang berjalan kaki. Pengunjung yang menggunakan kendaraan ketika datang kemudian langsung ke area parkir atau memberhentikan kendraannya di drop off dan langsung menikmati fasilitas outdoor maupun indoor kemudian pulang. Sedangkan pengunjung yang berjalan kaki, Pada saat datang bisa langsung ke entrance utama dan langsung menikmati fasilitas outdoor maupun indoor yang terlihat pada gambar skema 2.20.
Kegiatan Labuhan
Olahraga Bersosialisasi Bermain
x Lari
Sumber: penulis, 2021 2. Pengelola
Pengelola dalam hal ini adalah orang yang mengelola Labuhan Community Center.
Yang merupakan pekerja kantor seperti manager, kepala kantor, sekertaris maupun bidang lainnya yang memiliki bekerja di kantor pengelola. Pekerjaan yang biasa mereka lakukan seperti halnya maintenance tiap gedung, peminjaman gedung untuk acara, serta pengelolaan kegiatan yang berlangsung di Labuhan Community Center.
Kegiatan yang berlangsung (gambar 2.21) adalah Ketika datang para pekerja bisa langsung parkir di area parkir, kemudian masuk dari entrance utama sama seperti pengunjung, kemudian berjalan menuju gedung kantor pengelola, kerja, istirahat, kemudian kembali bekerja lagi dan pulang. Kegiatan pengelola gedung berlangsung setiap senin sampai dengan jum’at dari jam 08.00 pagi sampai 16.00 sore. Hal yang mereka kerjakan adalah mengatur pengelolaan setiap bangunan, landscape dan apapun kegiatan yang ada di Labuhan Community Center. Contoh dari pekerjaan pengelola ialah pinjam-meminjam bangunan gedung serba guna, mendata setiap kerusakan pada bangunan sebagai perawatan bangunan,serta mempromosikan kepada masyarakat untuk datang serta ikut menjaga Labuhan Community Center agar fasilitas pemerintah ini bisa bertahan lama.
Entrance Utama Kegiatan outdoor di :
1. Bermain di taman
2. Olahrga : lapangan futsal, lapangan bulu tangkis, dan jogging track
Pulang Kegiatan indoor di :
1. Pesta pernikahan,
Gambar 2.21 skema pengelola Sumber : penulis 2021
3. Penyewa foodcourt dan Gedung Serba guna
Penyewa dalam hal ini terbagi dua, yaitu penyewa foodcourt dan penyewa gedung serba guna. Penyewa foodcourt adalah orang yang menyewa stan makanan yang selanjutnya mereka akan menjualkan dagangan mereka disana. Penyewa foodcourt biasanya menyewa stan tersebut dengan tenggang waktu perbulan dengan tarif yang sudah di tentukan.
Sedangkan penyewa gedung serba guna biasanya hanya menyewakan gedung pada saat acara-acara tertentu saja seperti pernikahan, selamatan, atau acara lainnya dengan tenggang waktu 1-2 hari saja dengan tariff yang sudah ditentukan.
Aktifitas yang berlangsung oleh penyewa foodcourt biasanya ketika datang kemudian langsung ke area parkir. Atau langsung menuju ke stan mereka untuk menyusun barang dagangan mereka. Sedangkan penyewa gedung serba guna akan langsung ke gedung untuk menata dan mendekor ruangan sedemikian rupa untuk acara yang akan berangsung keesokan harinya. Dan jadwal dari penyewaan gedung serbaguna berlangsung di hari sabtu dan minggu saja. Beda halnya dengan penyewaan foodcourt yang berlangsung perbulan dan bisa di pakai setiap hari. Berikut aktivitas penyewa yang terlihat pada gambar skema 2.22.
Entrance 3. Promosi bangunan :
Kantor pengelola Parkir
Datang
Sumber : penulis 2021 4. service
Service adalah orang–orang yang bekerja di bagian merawat gedung di ruang mekanikal elektrikal. Di mana aktifitas mereka ketika datang kemudian parkir dan langsung menuju ruangan kemudian bekerja dan istirahat setelahnya dan pulang pada jam yang telah di tentukan yang terlihat pada gambar skema 2.23.
Sumber : penulis 2021 Gambar 2.22 Skema penyewa foodcourt dan gedung serbaguna
Gambar 2.23 Skema Alur Service
Kajian Kebutuhan Ruang
Analisa kebutuhan ruang (Tabel 2.3) di bawah ini yang menerangkan jenis kegiatan di Labuhan Community Center, kegiatan yang berlangsung, penjelasan kegiatan, pengguna serta kebutuhan ruang yang ada.
Tabel 2.3 Analisa Kebutuhan Ruang Jenis
Edukatif Belajar dan melihat budaya melayu
- Perpustakaan dan ruang baca
x Bermain di taman
Semua Kalangan x duduk, menikmati
pemandangan
BAB III METODOLOGI
Metodologi Pemilihan Lokasi
Lokasi perancangan yang diambil harus dapat mendukung fungsi bangunan sebagai community center. Sehingga Dalam penentuan dan pemilihan tapak pada lokasi terpilih di kecamatan Medan Labuhan didasarkan pada pertimbangan :
1. Merupakan kawasan yang akan dijadikan TOD (Transit Oriented Development) 2. Land uses atau rencana peruntukan lahan kawasan yang sesuai dengan RTRW
sebagai fasilitas sosial dan fasilitas umum.
3. Berada dekat dengan permukiman atau masyarakat umum
4. Luasan dan kondisi tapak yang dapat memenuhi fungsi bangunan 5. Sarana transportasi yang memadai
6. Sarana utilitas kota yang tersedia
Gambar 3.1 Peta Sumatera Utara (kiri), Peta Kecamatan Medan Labuhan (tengah), Peta Stasiun Labuhan (kanan)
(Sumber google.com)
Lokasi tapak terletak di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Kecamatan Medan Labuhan, Medan, Sumatera Utara. Akses jalan utama melalui Jl.Yos Sudarso (gambar 3.1).
Luas area yang akan digunakan sebagai tapak memiliki luas ± 1 hektar , lokasi tapak dipilih menjadi lokasi pembangunan perpustakaan umum dikarenakan:
1. Tata guna kawasan sebagai kawasan TOD yang berpusat di Stasiun Labuhan
2. Aksebilitas yang mendukung transportasi yang dapat mengakses lokasi maupun kawasan disekitar
3. Masih cukup banyak lahan kosong di kecamatan tersebut 4. Tingkat mobilitas yang cukup tinggi
Metode Penyelesaian Masalah Perancangan Arsitektur
Proses perancangan diperlukan metode yang dapat memudahkan untuk rancangan agar dapat menjadi penunjang dalam pengembangan ide dan juga pemikiran. Metode ini mengacu kepada proses desain IAI (American Institute of Architects,1993) secara umum dengan pendekatan smart building pada masa sekarang agar dapat menghasilkan suatu perancangan yang sesuai.
(Sumber : AIA,1993)
Dari gambar skema diatas (skema 3.1), menjelaskan bahwa proses perancangan dimulai dari mengumpulkan data, kemudian data yang telah diperoleh di analisa untuk mendapatkan konsep perancangan dan terakhir akan menghasilkan skema penerapan perancangan.
Perancangan ini dengan mengkaji data dan isu yang berkaitan dengan latar belakang, permasalahan yang ada, pengumpulan data primer dan data sekunder. Setelah mendapatkan hasil, maka dapat melakukan Analisa data yang dapat menghasilkan konsep perancangan dan hasil akhir.
Metode Mengumpulkan Data
Teknik pengumpulan dan pengolahan data menggunakan metode deskriptif yang mana mengumpulkan data, menguraikan, menyajikan dengan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapat dengan secara langsung dengan melakukan observasi secara langsung, stusi banding, dan dengan dokumentasi.
a. Survey Langsung
Survey yang dilakukan langsung di jalan Kol Yos Sudarso, Kec Medan Labuhan digunakan untuk mencari dan mengetahui fakta yang ada di lokasi yang akan dijadikan lokasi perancangan. Adapun hasil dari survey langsung ini adalah :
Skema 3.1 Alur Perancangan
x Bentuk dan ukuran tapak x Topografi tapak
x Batas-batas tapak
x Vegetasi sekitar kawasan x Akses menuju lokasi tapak
x Sarana dan prasarana yang ada di sekitar lokasi
x Aspek sosial budaya masyarakat disekitar kawasan tapak
b. Studi Banding
Studi banding terkait dengan community center dengan pengamatan meliputi bentuk dan desain bangunan, ukuran tiap ruang, pola penataan ruang, pola sirkulasi luar maupun dalam bangunan, fasilitas yang tersedia, pemanfaatan ruang terbuka dan aktifitas pengguna.
c. Wawancara
Wawancara sudah dilakukan dengan 2 kelompok narasumber, yaitu : Kelompok narasumber dengan wawancara online :
x Kepala Dinas Perumahan Kawasan Perumahan dan Penataan Ruang (PKPPR) Kota Medan yaitu Benny Iskandar.
x Perwakilan dari pihak Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Medan Labuhan yaitu Ruth dan Willy.
Kelompok narasumber dengan wawancara langsung : x Masyarakat Setempat
d. Dokumentasi
Mengumpulkan data berupa gambar di sekatar lokasi tapak yang digunakan untuk dianalisa terkait dengan perpustakaan umum.
e. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah ada sebelumnya yang dijadikan acuan dari sumber yang terpercaya. Data sekunder berupa studi literatur yang dapat di ambil dari internet, majala, buku dll.
f. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk memperoleh data dan teori yang memiliki kaitan dengan perpustakaan umum, teori dan juga penerapan dalam tema perancangan yang dipilih.
Metode Analisa
Analisa data ini berguna untuk memproses pengolahan data yang telah didapat guna mendapatkan konsep yang akan digunakan dalam merancang community center di Kecamatan Medan Labuhan. Analisa yang di lakukan meliputi:
1. Analisa Ruang
Analisa ruang merupakan Analisa yang pertama kali dilakukan, bertujuan agar dapat mengetahui kebutuhan dan besaran ruang yang di butuhkan. Analisa ruang ini terbagi dalam beberapa bagian seperti Analisa fungsi, Analisa aktivitas, Analisa pengguna, Analisa kebutuhan ruang dan dimensi ruang, Analisa persyaratan ruang, dan Analisa kedekatan ruang.
Metode yang dipakai dalam analisa ruang adalah dengan mengambil sample dari studi banding yang telah dikaji, jurnal maupun buku yang tekait ruang, serta eksplorasi website-website yang merampung informasi tentang pembentukan ruang community center.
2. Analisa Tapak
Setelah melakukan analisa ruang di lanjutkan dengan analisa tapak yang digunakan agar dapat menemukan permasalahan dan solusi pada tapak yang akan di rancang. analisa tapak terbagi menjadi beberapa bagian seperti batas wilayah, topografi, sirkulasi, kebisingan,
Setelah melakukan analisa ruang di lanjutkan dengan analisa tapak yang digunakan agar dapat menemukan permasalahan dan solusi pada tapak yang akan di rancang. analisa tapak terbagi menjadi beberapa bagian seperti batas wilayah, topografi, sirkulasi, kebisingan,